dan balis

10 Hal Yang Saya Pelajari dari Buku The Airbnb Story

Saya baru selesai membaca buku The Airbnb Story yang ditulis editor Fortune, Leigh Gallagher.

Judul lengkapnya The Airbnb Story: How three ordinary guys disrupted an industry, made billions, and created plenty of controversy.

Buku ini menceritakan perjalanan Airbnb, sebuah platform digital yang menghubungkan jutaan tempat tinggal dengan para traveler. Airbnb memfasilitasi orang-orang yang memiliki apartemen, rumah, bahkan kamar untuk disewakan kepada orang lain; dan memfasilitasi traveler untuk bisa tinggal di berbagai tempat di berbagai kota di seluruh dunia.

Airbnb memudahkan traveler untuk mencari tempat menginap dengan harga termurah atau sesuai preferensi, dan pengalaman yang lebih menarik karena tinggal seperti orang lokal. Saya sendiri pernah menggunakan Airbnb di Bandung, Bali, dan Kuala Lumpur.

Buku ini bercerita tentang perjalanan Airbnb dari sejak trio co-founders memulai di San Fransisco hingga tumbuh menjadi perusahaan global dengan valuasi lebih dari 31 Milyar USD.

Ada banyak cerita menarik dan lessons learned dari cerita Airbnb, dan saya ingin membagikan beberapa diantaranya.

Ini dia 10 poin yang saya pelajari dari The Airbnb Story.

1. Just Start and Grow

Brian Chesky, Joe Gebbia, dan Nathan Blecharzyk. Trio co-founders ini memulai ide Airbnb bukan dari passion; tapi karena kepepet.

Berawal dari kepepet karena tidak bisa membayar kos-kosan (sebenarnya apartemen, tapi ya kurang lebih sama lah), mereka melihat kesempatan saat mengetahui banyak peserta konferensi desain di San Fransisco yang kehabisan hotel. Akhirnya mereka menyediakan air bed dan menyewakan kamar kosan mereka.

Dari sana, baru mereka melihat peluang penyewaan properti seperti rumah dan apartemen sebagai bisnis. Mereka terus belajar dan mengembangkan platformnya dari sekadar blog biasa (bahkan di awal namanya airbedandbreakfast.com) hingga dikembangkan sebagai platform dengan teknologi kompleks.

So if you have an idea, it’s not gonna be something big when you just start. Just start and grow.

2. The Cofounders: Perfect Triangle

Dalam perjalanan panjang Airbnb sebagai perusahaan, salah satu yang paling mengagumkan dan jarang sekali dimiliki perusahaan lain adalah komposisi unik cofoundernya.

Chesky, Gebbia, dan Blecharzyk adalah tiga orang dengan karakter dan personaliti yang berbeda, dan saling melengkapi satu sama lain. Diantara mereka bertiga; Chesky adalah pemimpin natural, Gebbia adalah otak kreatif + desain, dan Blecharzyk adalah engineer dengan mindset analitik.

Perbedaan karakter ini membuat Airbnb berkembang pesat karena semua pilar diisi expert di bidangnya masing-masing, dan membuat mereka komprehensif dalam menyelesaikan masalah karena punya berbagai sudut pandang.

Salah satu kesalahan umum orang yang memulai startup: tim dibuat dari lingkaran pertemanan. Akibatnya, seringkali tim tidak efektif karena diisi oleh orang-orang dengan karakter dan keahlian yang sama.

Cofounder Airbnb justru menunjukkan sebaliknya; perbedaan karakter akan membuat tim sangat solid dan cepat berkembang.

3. Shameless in Learning

Ketiga cofounder Airbnb adalah pemula saat memulai. Apalagi sang CEO, Brian Chesky, yang saat memulai Airbnb bisa dibilang belum punya pengalaman kerja yang mumpuni.

Tapi kekurangan itu justru diakuinya sebagai keuntungan terbesarnya.

“Karena saya banyak tidak tahu, saya jadi tidak tahu malu saat belajar”, kata Chesky. Dia tidak malu untuk datang ke berbagai sumber; membaca buku, mendatangi mentor dan pengusaha senior, dan menghabiskan waktu berjam-jam untuk ngobrol dan bertanya apapun yang harus dia pelajari.

4. Learning Fast By Going to One Source

Airbnb tumbuh sebagai perusahaan dengan sangat cepat, yang berarti Chesky sebagai pemimpin juga harus belajar dan bertumbuh dengan sangat cepat.

Dalam dunia startup dan bisnis pada umumnya, salah satu metode belajar adalah mendatangi pebisnis senior yang sudah berpengalaman.

Dalam hal ini, Chesky mengembangkan metode belajarnya sendiri yang disebut Going to The Source: alih-alih datang ke 10 sumber dan menyimpulkan nasihat mereka semua, lebih baik habiskan setengah waktu untuk mencari satu orang yang paling relevan, dan hanya datang ke orang itu.

Chesky belajar dari banyak pebisnis; bisnis global dari Warren Buffet, desain dari Johy Ive (Apple), manajemen dari Bob Iger (Disney), ekspansi internasional dari Sheryl Sandberg, dan masih banyak lagi.

Find your most revelant mentor, and go ask for his/her advice.

5. Go With Mission

Airbnb adalah salah satu bisnis yang bergerak dengan misi. Misi Airbnb tercetak jelas dalam logo dan slogan mereka: Belong Anywhere.

Mereka ingin menciptakan dunia dimana semua orang bisa merasakan menjadi bagian dari masyarakat, tempat, dan cinta, dimanapun mereka berada.

Meski bisnisnya bergerak di bidang properti, tapi misi belong anywhere menggerakkan semua orang yang terlibat dalam Airbnb untuk bergerak lebih dari sekadar motif uang. This makes them go extramile, and create an extraordinary impacts.

6. To Scale, Do The Unscalable

Menumbuhkan skala bisnis (to scale) adalah tantangan besar sebuah bisnis.

Airbnb sempat mentok pertumbuhannya. Saat Chesky dkk. melakukan analisis, ternyata pengguna mereka pada saat itu tidak bertumbuh karena foto-foto properti yang ada di listing mereka tidak menarik.

Chesky turun sendiri mendatangi rumah-rumah yang disewakan dan memberikan jasa fotografi gratis. Beberapa orang bahkan tidak tahu bahwa Chesky yang saat itu turun sendiri adalah CEO nya. Setelah list itu memiliki foto-foto yang bagus, barulah pengguna Airbnb bertumbuh pesat.

Untuk bertumbuh, terkadang kita harus melakukan hal-hal yang unscalable alias merepotkan dan butuh effort besar, tapi tetap harus dilakukan.

7. Recruit The Best Talent

Di dunia startup, tim adalah koentji.

Chesky punya concern besar terhadap tim, apalagi anggota tim di awal perusahaan. “Tim di awal seperti menanamkan DNA perusahaan”, kata Chesky.

Karenanya, dia juga memastikan 300 karyawan pertama diwawancara secara langsung oleh Chesky, untuk meyakinkan bahwa semua anggota tim memiliki visi dan value yang sama.

Hasilnya, tim dengan visi yang sama membawa Airbnb melesat dengan cepat.

8. Disruption Always Get Rejection

Inovasi besar selalu mendapatkan perlawanan. Setidaknya di awal.

Hal ini mudah dipahami mengingat inovasi selalu merupakan perlawanan pada status quo, sehingga orang-orang yang sudah berada di zona itu pasti terganggu.

Dalam kasus Airbnb, model bisnisnya “mengganggu” jaringan hotel besar, pengelola apartemen, dan tentu saja pemerintah sebagai regulator.

Airbnb mendapat penolakan di banyak kota, bahkan di kota besar seperti New York dan tempat asalnya sendiri, San Fransisco.

Jika kamu punya ide yang tertolak, mungkin perlu berbaik sangka karena semua inovasi besar selalu dapat penolakan. Tinggal bagaimana kita terus maju dan meyakinkan bahwa inovasi kita membawa manfaat dan dampak.

9. Bigger Size = Bigger Problems

Ukuran yang membesar tidak membuat Airbnb selesai dengan masalah.

Justru semakin besar ukurannya, semakin besar pula tantangan dan masalah yang mereka hadapi.

Di awal, Airbnb berjuang dengan masalah bagaimana caranya menumbuhkan pengguna. Setelah membesar, mereka berkutat dengan ekspansi dan adaptasi ide Airbnb ke berbagai kota. Lalu mereka mendapatkan masalah besar dari pemerintah dan jaringan pengusaha properti di New York. Belum selesai dari itu, mereka juga mendapatkan isu negatif tentang rasisme di platform Airbnb.

Chesky pernah bilang, semakin besar perusahaan mereka, semakin banyak pula yang terlibat dan semakin besar pula tantangan mereka.

Bersiap hadapi tantangan yang lebih besar seiring pertumbuhan perusahaan/ide kita yang semakin membesar.

10. Be A Cockroach

Salah satu cerita paling legendaris dari Airbnb adalah saat mereka menjual sereal Obama O’s dan Cap’n McCains.

Tahun 2008 saat pemilu Amerika berlangsung, Chesky dkk. yang saat itu masih kesulitan menumbuhkan Airbnb dan hampir kehabisan uang justru memiliki ide gila. Mereka belum bisa mendapatkan banyak uang dari penyewaan properti, jadi mereka bertaruh di hal lain; mereka menjual sereal dengan gimmick politik.

Mereka membeli seral kiloan, lalu dibungkus dengan packaging berjudul Obama O’s dan Cap’n McCains yang dijual seharga 40$. Ide ini viral dan habis terjual, hingga mereka berhasil mengumpulkan 30.000$ yang memberi mereka nyawa lebih untuk mengembangkan Airbnb. Meskipun yang mereka lakukan justru tidak ada hubungan langsung dengan model bisnis mereka.

Saat Paul Graham (Y Combinator, inkubator yang memberi pendanaan awal untuk Airbnb) mendengar cerita ini, dia langsung yakin pada Chesky dkk.

“You guys are cockroaches”, kata Graham. “You just won’t die”.

So lessons learned: pertahankan ide dan bertahan hidup dengan cara apapun. 

Jadilah kecoa.



Itu dia 10 hal yang saya pelajari dari The Airbnb Story.

Masih banyak cerita menarik lain di bukunya. Dan juga banyak video cerita Airbnb di berbagai talks di Youtube. Berikut beberapa diantaranya:

  1. The Airbnb Story - Startup Founder Biography
  2. Brian Chesky - Launching Airbnb and the Challenges of Scale
  3. Joe Gebbia - How Airbnb Design for Trust
  4. Nathan Blecharczyk - The real story about how Airbnb was founded

Semoga menginspirasi.

Salam kreatif!

#Kita Sama-sama Suka Berterima Kasih

Bag I

Kita semua tentu punya ukuran masing-masing dalam menilai “keberhasilan”. Itu berlaku di bidang apapun, termasuk dalam musik. Apa yang membuat suatu album layak disebut berhasil? Ada yang baru puas jika album itu berhasil terjual ribuan kopi. Ada yang baru puas jika album menuai banyak pujian dari kritikus-kritikus skena setempat. Ada juga yang sekadar mampu merilis saja sudah sangat puas, tak terlampau peduli dengan pendapat siapapun mengenai kualitas musik yang ada dalam album itu. Semua orang punya ukurannya masing-masing dan kita tak perlu saling mengganggu gugat.

Jauh-jauh hari sebelum saya dan @rarasekar memulai proses rekaman, saya sering gembar-gemborkan ini ke teman-teman dekat, terutama mereka yang terlibat jauh dalam pembuatan album Yang Patah Tumbuh, yang Hilang Berganti. Kalau ada satu saja orang yang menangis mendengarkan satu atau dua lagu di dalam album itu, maka album itu saya nyatakan berhasil.

Saya tidak peduli apakah album ini nanti laku atau tidak, biar itu jadi urusan Sorge Records saja. Tak begitu peduli apakah akan mendapat ulasan-ulasan baik. Saya hanya ingin bikin orang nangis. Satu orang saja, cukup. Keinginan itu juga saya beritahu pada Rara, disampaikan dengan nada bercanda tentunya, dan seingat saya ditanggapi dengan ketawa-ketawa oleh Rara. Tapi saya tidak bercanda pada saat menyatakan itu. Saya benar-benar serius dan benar-benar berharap keinginan itu tercapai.

Melihat ke belakang sambil menyusuri kembali proses pembuatan dan rilisnya album kami, saya agaknya merasa sedikit takabur dalam berkeinginan. Saya termakan oleh keinginan sendiri. Memang kelak setelah rilis, ada sejumlah kawan datang pada saya dan mengaku ia berkaca-kaca ketika mendengarkan ini, ia menangis ketika mendengarkan itu. Dalam hati saya puas karena apa yang diinginkan tercapai. Tapi lebih sering album ini jadi senjata makan tuan. Perkenankan saya menjelaskan. Ceritanya agak panjang, begini kira-kira setelah diringkas:

Orang pertama di luar tim produksi yang diperdengarkan hasil rekaman kami adalah Oma saya, Eva Henriette Alma Koroh-Badudu. Pada saat kami rekaman di Yogyakarta medio Januari 2016 lalu, Oma saya -yang oleh keluarga biasa dipanggil Mom- masuk rumah sakit.

Mom adalah figur sentral dalam keluarga kami. Ia dekat dengan anak-anak dan cucu-cucu. Ia pula yang jadi alasan kami sering kumpul-kumpul keluarga merayakan apa saja yang bisa dirayakan. Tradisi kumpul-kumpul itu sepertinya berakar dari budaya orang Manado.

Orang Manado terkenal suka memestakan apa saja. Ada yang lulus kuliah, makan-makan. Naik kelas, makan-makan. Apa saja asal ada yang bisa dirayakan, kalau bisa ya makan-makan. Tanpa disadari budaya kumpul-kumpul dan makan-makan itulah yang membuat keluarga besar Badudu yang kalau dikumpulkan semua jumlahnya sampai hampir 40 orang bisa akrab dari kecil sampai sekarang.

Saat dirawat, Mom tak menunjukkan tanda-tanda akan membaik. Malah keluarga diminta bersiap menghadapi segala kemungkinan. Ini pertanda buruk. Saat itu tak ada yang siap kehilangan Mom. Terlebih pada saat masuk Rumah Sakit kami tak menduga ada sesuatu yang serius akan terjadi. Biasanya tiap masuk rumah sakit, setelah dirawat beberapa hari, ia akan keluar, pulang ke rumah, dan kembali menjalani hari-hari seperti biasa.

Namun kesehatan Mom ternyata terus memburuk. Oleh Rumah Sakit, keluarga dipersilakan secara bergiliran menyampaikan kata-kata terakhir selagi Mom masih bersama kami. Bahasa kasarnya, Mom sebentar lagi akan berpulang. Inilah kesempatan terakhir bertemu dengannya. Akhirnya tiba giliran saya menemui Mom di sebuah ruangan di ICU. Ruang itu, katanya, setingkat lebih tinggi dari ICU. Itu adalah ruang tempat menangani orang yang berada di ambang hidup dan mati.

Itu kali pertama saya melihat orang menghadapi sakratul maut. Sulit rasanya untuk tegar, mengingat yang terbaring di sana adalah orang yang sangat saya sayangi. Bersama dengan sepupu-sepuepu lain, kami memasangkan headphone pada telinga Mom dan memperdengarkan padanya lagu Sampai Jadi Debu. Ini seharusnya diperdengarkan di rumah Mom pada acara kumpul-kumpul keluarga, bukan di ruang ICU seperti ini.

Saya memberi tahu padanya bahwa lagu itu terinspirasi dari perjalan hidup dan kisah cinta Moma dan Popa. Tangannya yang semula bergetar terus sejenak terdiam. Saya tak tahu apakah itu pertanda ia menyimak dan mendengarkan. Mom yang sudah tak mampu membuka mata hanya diam. Sesekali ia mengangguk-angguk kecil. Sesekali juga ia mengerang pelan, sepertinya menahan sakit. Saya yang berdiri di depannya menangis sesenggukan. Dua atau tiga jam setelah itu, Mom yang semasa hidup dua kali sembuh dari kanker dan bergulat dengan diabetes, mengakhiri pertarungannya. Ia berpulang.

Kali kedua lagu dalam album diperdengarkan adalah di rumah duka, saat Mom disemayamkan. Kurang dari sepekan setelah kami selesai rekaman di Yogyakarta, Mom berpulang. Keluarga diperbolehkan menyampaikan persembahan terakhir sebelum Mom dikebumikan. Saat tiba giliran cucu-cucu menyampaikan salam perpisahan, lagu itu kembali diperdengarkan. Di samping peti, saya dan sepupu-sepupu lain, juga mereka yang datang dalam ibadah perpisahan, menangis sesenggukan.

Memang ada keinginan saya membuat orang menangis lewat album itu, tapi bukan seperti ini maksudnya. Tak seserius ini. Dalam bayangan saya adalah menangis haru yang bertahan sebentar saja sehabis itu langsung berlalu. Bukan nangis menghadapi kehilangan yang amat besar. Seolah album ini memang disiapkan untuk menghadapi ekses-ekses kehilangan yang terjadi sebelum maupun setelah semua album selesai digarap. Tiga bulan setelah berpulangnya Mom, Popa menyusul. Satu lagi kehilangan besar yang terjadi di tahun 2016. Saya hampir tak pernah mendengarkan lagu-lagu Banda Neira lagi setelah melalui banyak kehilangan itu.

Bag II

Bubarnya Banda Neira seolah jadi puncak dari segala kehilangan yang terjadi di tahun ini. Skalanya tentu beda dengan kehilangan anggota keluarga yang berpulang. Tapi sedih ya tetap sedih. Nyesek ya tetap nyesek. Beruntung ada waktu lumayan panjang untuk mempersiapkan diri, hampir setahun lamanya. Dalam proses diskusi dan tarik-ulur pendapat itu kami bisa mencicil kesedihan, hingga di hari pengumuman kesedihan itu telah lunas terbayar. Dari sana kami boleh beroleh suatu sikap ikhlas melepaskan.

Oleh seorang teman, setelah pengumuman bubar, saya sempat ditanya apa arti Banda Neira bagi saya. Saya jawab, Banda Neira itu memulihkan. Tapi tak saya jelaskan terlampau panjang. Saya yang sekarang sama sekali berbeda dengan saya empat tahun lalu, sebelum adanya Banda Neira. Dulu saya luar biasa tidak komunikatif. Sulit bicara. Serba tak percaya diri. Belakangan saya setelah membaca informasi di sana sini saya menyimpulkan saya mengidap semacam inferiority complex, perasaan rendah diri yang berlebihan, yang irasional, yang menghambat kekaryaan, dan mengganggu kehidupan sehari-hari.

Hanya Ada satu hal yang bisa dibanggakan dari masalah itu. Saya baru tahu bahwa Pramoedya Ananta Toer ternyata pernah mengalami hal serupa, semasa muda ia mengidap inferiority complex. Dalam sebuah artikel wawancara ia ungkapkan satu peristiwa yang membuatnya mampu menaklukan perasaan rendah diri yang berlebihan itu: ia meniduri seorang perempuan Eropa. Peristiwa itu jadi tonggak kemenangan Pram mengatasi masalah psikis yang ia hadapi. Agak banyol memang tapi begitulah adanya yang disampaikan Pram di wawancara itu.

Bukan maksud menyanding-nyandingkan diri dengan Pram. Siapalah saya di hadapan Pram. Tapi saya senang mendengar ada orang lain pernah punya masalah sama kemudian berhasil menaklukannya. Semacam memberi optimisme bahwa masalah ini bisa juga ditaklukan sepanjang kita tidak menyerah.

Dalam bermusik, perasaan rendah diri itu barangkali tak terlampau kelihatan. Tapi itu sangat terlihat dalam aspek hidup saya yang lain, yaitu kehidupan di dunia tulis menulis. Selama enam tahun bekerja di Tempo, hampir tak pernah saya membagikan hasil kerja pada khalayak. Membagi link tulisan paling-paling hanya lima sampai enam kali sepanjang enam tahun berkecimpung di dunia jurnalistik. Ada teman-teman yang meminta tulisan yang saya bikin, saya baru kirim dua-tiga pekan setelah diminta. Seringkali saya ngeles dan tak mengirimkannya sama sekali. Sangat tidak rasional.

Dan sepanjang enam tahun itu pula, selama bekerja di media, saya berusaha menaklukan perasaan rendah diri itu. Puncaknya di tahun ini, saya bisa dibilang setengah undur diri dari dunia jurnalistik, dari dunia tulis-menulis. Kerja saya enam bulan belakangan hanya merenung dan merenung saja. Jelas bukan satu kegiatan yang asyik.

Namun dalam hal bermusik, usaha menaklukkan perasaan rendah diri itu mengalir begitu saja dan sangat menyenangkan. Itu karena saya berada dalam posisi “terjerumus” sehingga “mau tak mau” harus maju terus. Tak mungkin ada cerita kami menolak manggung, bisa-bisa didenda oleh penyelenggara acara jika kami batal datang memenuhi undangan manggung. Ketika bertemu Rara dan mulai menggarap lagu-lagu bersama pada 2012 lalu, sama sekali kami tak pernah membayangkan musik Banda Neira akan didengar banyak orang. Apalagi sampai kami bertandang ke banyak kota, tampil di hadapan kalian para pendengar.

Kami tak mungkin keliling manggung di mana-mana jika tak ada kalian yang mendengarkan Banda Neira. Tak mungkin kami manggung di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Makassar, Surabaya, Semarang, Malang, Balikpapan, Garut, Bogor, Kiluan, Bali, dan kota-kota lain yang pernah kami sambangi sepanjang usia Banda Neira yang singkat ini. Dan semua pengalaman yang amat menyenangkan itu masih terekam jelas di kepala.

Banda Neira banyak sekali membantu usaha saya menaklukkan perasaan rendah diri yang berlebih itu. Karena banyak manggung, mau tak mau saya harus belajar public speaking agar tak canggung di hadapan penonton. Juga belajar mengelola kegugupan. Juga menjadi berani menampilkan karya. Sulit membayangkan apa jadinya sekarang jika kemarin Tuhan tak mempertemukan saya dengan Rara, dengan teman-teman Sorge Records yang banyak membantu tumbuh kembang Banda Neira, teman bermusik bersama di Yogyakarta, juga dengan teman-teman sesama musisi yang kami temui di sepanjang perjalanan.

Dan yang teratas dari semua itu adalah Banda Neira tak akan jadi seperti itu tanpa kalian para pendengar Banda Neira. Jika empat tahun belakangan tak bertemu kalian semua, mungkin lagu-lagu Banda Neira hari ini masih nganggur begitu saja ngejentrung di harddisk laptop. Atau bahkan tak akan pernah tercipta sama sekali. Mungkin saya masih berkubang di lumpur yang itu-itu juga, termakan perasaan rendah diri yang tak henti-hentinya bercokol di kepala.

Bag III

Yang amat tak diduga-duga dari semua pengalaman ini adalah rentetan peristiwa yang terjadi setelah kami mengumumkan bubar 23 Desember 2016 lalu. Pada hari itu saya sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan-kemungkinan buruk. Menyiapkan diri kalau saja ada yang menghujat keputusan kami. Jika ada yang marah-marah karena kami tak bisa mempertanggungjawabkan karya. Tapi respon yang kami terima malah kebalikan dari segala bayangan-bayangan buruk itu.

Sungguh sampai saat ini tak bisa saya mengerti, teman-teman sekalian malah banyak mengucapkan terima kasih ketimbang marah-marah kepada kami. Sampai-sampai di media sosial banyak bertebaran tagar #terimakasihbandaneira. Tak pernah saya bayangkan lagu-lagu yang kami buat bisa begitu menyentuh teman-teman sekalian, bahkan tak sedikit yang mengatakan jadi soundtrack fase-fase dalam hidup teman-teman sekalian.

Agak sulit membayangkannya karena saya tahu persis bagaimana proses lagu-lagu itu dibuat. Ada yang melodinya muncul tiba-tiba ketika sedang bermacet-macet ria menunggang motor di Jakarta, seperti lagu Kisah Tanpa Cerita. Lagu Rindu, misalnya, diselesaikan saat listrik di rumah sepupu saya di Jakarta padam. Kebetulan saya sedang menginap di sana, dan dalam suasana gelap gulita, panas, dan pengap karena listrik padam lumayan lama, saya ambil gitar, genjrang-genjreng tak disangka-sangka menemukan melodi lengkap lagu Rindu.

Sampai sekarang kadang saya masih tak habis pikir bagaimana lagu-lagu Banda Neira bisa bekerja dan punya arti dalam diri dan hidup teman-teman.

Menulis pesan terima kasih itu barangkali suatu hal yang ringan saja buat teman-teman. Kalian barangkali tak akan pernah tahu seberapa besar dampak ucapan-ucapan itu pada diri saya. Atau pada diri Rara. Sulit juga menjelaskannya. Kalau boleh berlebay-lebay kata, rasanya seperti orang terlahir kembali, dibangkitkan kembali setelah mengalami keterpurukan yang teramat dalam.

Seperti Pram yang berhasil beroleh tonggak kemenangan melawan perasaan rendah diri yang berlebih itu, saya pun merasa sama. Satu per satu saya baca semua ucapan terima kasih teman-teman, saya merasa hari bubarnya Banda Neira 23 Desember lalu itu adalah hari saya beroleh kemenangan menaklukkan inferiority complex. Merasa terbebas dar masalah yang menghantui bertahun-tahun belakangan.

Kebebasan itu rasanya seperti mendadak terlempar ke hutan pinus Alaska setelah bertahun-tahun hidup di gurun Sahara. Pergulatan bertahun-tahun itu akhirnya selesai juga –atau setidaknya saya nyatakan selesai. Tak ada gunanya berkubang berlama-lama dalam perasaan rendah diri. Keluar dan berkaryalah. Banyak terima kasih saya ucapkan kepada kalian yang sadar tak sadar membantu saya keluar dari masalah itu. Saya berutang banyak sekali pada teman-teman sekalian.

Bag IV

Rupanya ada untungnya juga kami tak pernah memberi nama bagi pendengar Banda Neira. Tak membuat semacam fans club atau sejenisnya. Juga ada hikmahnya kalau kami enggan menyebut Banda Neira sebagai duo walau hikmahnya baru diketahui sekarang-sekarang ini.

Setelah bubar, Banda Neira bukan lagi saya dan Rara Sekar. Namun itu justru membuka kemungkinan lebih besar. Dulu, sering kami katakan bahwa separuh, sebagian, atau sebagian besar Banda Neira adalah Rara Sekar. Atau separuh, sebagian, atau sebagian besar Banda Neira adalah Ananda Badudu. Sekarang itu tak lagi berlaku karena kami sudah berpisah jalan.

Sekarang, siapapun boleh menyebut mereka adalah Banda Neira. Hmm, terdengar aneh, tapi rasanya tak salah. Kini separuh, sebagian, atau sebagian besar dari Banda Neira adalah kalian juga. Kalian yang terus memberi nyawa dan kehidupan  pada lagu-lagu itu. Perjalanan sepanjang empat tahun itu perlahan mengubah kami menjadi kita. Lagu-lagu itu kini jadi punya mu juga.

Terima kasih untuk pengalaman yang begitu mengubah hidup. Semoga kalian pun beroleh kebaikan, sebagaimana kami banyak beroleh kebaikan dari kalian semua. Akhir kata, izinkan saya merangkai-rangkai judul album sendiri menjadikannya penutup tulisan ini. Agar yang patah lekas tumbuh dan yang hilang kelak berganti, kita mesti senantiasa berjalan dan berjalan lebih jauh.

Juga perkenankan saya untuk membalas tagar #terimakasihbandaneira dengan #terimakasihpadakaliansemua. Atau kalau itu kurang cocok, bolehlah kita coba tagar yang ini: #KitaSamasamaSukaBerterimaKasih.

Maaf kalau terlalu personal. Maaf juga kalau terlampau sentimentil. Semoga dimaklumi. Gapapa lah ya, sekali-sekali :)

Sekian. Selamat menyongsong tahun baru 2017. A luta continua.

Salam,
Ananda Badudu
Bandung, 31 Desember 2016

 

ps:/��x�(��

Momen : Jelajah Dongeng di Surabaya

Tepat 1 Oktober kemarin, Surabaya yang pas sedang hangat-hangatnya kedatangan tamu dari Jogja. Didatangi oleh @sundarirespati dan Nadin , kedua perempuan ini adalah tokoh sentral dari sebuah pagelaran akbar, yang bertadjoek : Jelajah Dongeng. Yang berlangsung di tiga tempat di Indonesia, Bali, Semarang dan Surabaya. Beberapa hari sebelumnya kami juga sempat berdiskusi tentang komunitas-komunitas dan tempat yang sekiranya bisa berkolaborasi. Dan ternyata ada komunitas dongeng juga di Surabaya. Kumpul Dongeng namanya.

Di siang hari itu, yang cukup mengagetkan, yang didapuk sebagai sopir mobil mereka siang itu adalah Iqbal. Yang notabene merupakan kolega saya di kampus ITS. Disini, dunia mulai terasa semakin sempit. Setelah ditelusuri singkat, ternyata yang mengamanahi sopir tersebut adalah saudari @valinakhiarinnisa, selaku pihak pertama yang mengenal Hana. Dan ditelusuri sedikit lagi, Valina ternyata juga merupakan lingkaran teman dekat seseorang bernama Rahman, yang beliau adalah pengurus satu kabinet dengan saya di BEM Fakultas. Dan bumi ini menjadi sempit kembali.

Ternyata malam harinya, dua pesohor pendongeng ini, Hana dan Nadin, mempunyai agenda mendongeng di sebuah rumah baca di daerah Barat Surabaya. Taman Baca Kawan Kita namanya.

Meskipun dimulai agak malam, ternyata adik-adik kecil ini masih sangat antusias menyimak dongeng dari kakak-kakaknya. Alhamdulillah, nilai-nilai yang ada di setiap ceritanya bisa mereka ingat dengan baik, tidak lepas dari pembawaan @wandaroxanne yang apik. Setelah itu acara ditutup dengan berfoto bersama. 

Disisi lain, @imeldafurqoni tersasar saat mencari lokasi taman baca, alhasil langsung menyusul Hana dkk ke hotel tempat mereka beristirahat. Dan tidak lupa, Imel ternyata juga merupakan lingkaran pertemanan Rahman yang disebutkan diatas. Sama hal nya dengan Valina. Bumi semakin sempit lagi, bukan?

Esok harinya adalah agenda utama dari tur nasional Jelajah Dongeng ini. Lokasi yang ternyata cukup membentangkan jarak, membuat saya sedikit terlambat. Turut disayangkan, meski saya hanya berperan sebagai tim hore. Lokasinya di SD Khodijah 2, dengan adik-adik kelas satu yang sangat ceria, juga ramai.

 Secara keseluruhan, bisa dibilang acara inti kali ini cukup lancar. Hanya ada hal-hal kecil diluar perhitungan yang membuat adik-adik tadi kehilangan fokus di sesi pertengahan. Alhamdulillah masih bisa dikondisikan kembali setelahnya.

Di sesi terakhir hari itu, ditutup dengan makan siang bersama di Sambal Bu Rudy. Tentunya disertai dengan obrolan kesana kemari, dari evaluasi kegiatan sampai hal-hal yang tidak penting, bercandaan khas usia 23++ Dan tidak lupa cerita-cerita tentang Kirana dan adik barunya, Rumasya. Dan akhirnya, hari itu kami tutup dengan cara yang klasik, berfoto bersama.

Dan, memang ada suatu magnet dalam diri kita. Jika itu baik, yang mendekat adalah orang-orang yang senada, yang tidak jauh berbeda. Jaring-jaring pertemanan yang ikut menyempit, seiring dengan silaturahmi yang kita perluas. Semoga akan ada kebaikan-kebaikan lain yang bisa dilakukan lagi bersama-sama.  Surabaya Panas, Orang-Orangnya Hangat - Hana 2017

Danny Dzul Fikri - 5 November 2017

3

BCS 2x06 / BrBa 5x07: Cradock Marine Bank was used by Dan Wachsberger to deposit hazard pay for the families of Mike’s “nine guys” and Kaylee Ehrmantraut. Cradock Marine Bank also appears as Fox Mulder’s bank in several episodes of The X-Files.

Di dalam perantauan,

(Jakarta,Bali,Garut dan seterusnya)






Kenyataannya manusia di ciptakan bebas dalam memilih setiap jalan yang akan di tempuh dalam kehidupannya.apapun itu hal yang baik atau buruknya itu hanyalah pilihan sendiri,namun untuk beberapa orang yang mengerti di dalam roda kehidupan ini hanyalah agama dan ilmu yang menjadi arah dalam penentu jalan yang lebih tepat.


Dan ini adalah yang pertama untuk di ia kan, sesuatu yang memang menurutku pantas untuk aku tuliskan, beberapa cerita dengan kesan dan pesan ,dalam perjalanan yang selalu aku libatkan segala perasaan ini, ini tentang hal yang memang harus aku lewati, sesuatu yang harus aku nikmati ,sebuah resiko yang harus aku pertanggungjawaban suatu saat nanti,untuk menyiapkan segala kondisi hati dalam keberanian, mengalahkan segala ketakutan.

Dalam setiap perjalanan akan ada satu hal yang harus di pertimbangkan sebuah keputusan yang tidak semuanya baik dan tidak semuanya buruk,tapi bijaklah dalam mengembara pilihlah satu tempat yang akan membuat hidup ini selaras bisa memastikan bahwa hidup dalam keadaan baik-baik saja,satu hal yang harus di ingat adalah tujuan d mana bisa di terima dan menerima untuk segala hal yang harus di temui kedepannya nanti.


Aku tahu makna sebuah perjalanan itu ,dari beberapa cerita teman-temanku yang mengabadikan momen dalam setiap perjalannya.

kesan indah yang akan di kenang selamanya,sejarah yang akan di ceritakan di kehidupan barunya.memang Seperti itu perjalanan lebih bermakna dari hasil jepretan lensa kameranya, dari sekedar kenangan yang bernilai harganya.

Ini adalah tentang media berkomunikasi, menemukan seseorang yang baru, menentukan makna hidup, dan merindukan sebuah arti kepulangan adalah hal yang paling tepat untuk memaknai sebuah perjalanan.


Destinasi manapun yang akan di tuju, arah jalan untuk pulang berbanding lurus dengan rumah yang di rindukan,

Perjalanan bukan sebuah perlombaan untuk siapa duluan yang sampai dalam tujuan,karena setiap langkah kaki yang di pijakan itu berbeda melangkah dengan kaki masing-masing,ada waktu yang sudah di tentukannya.


Dalam perjalanan kali ini waktu serasa tak pernah memberikan jeda , semuanya serasa menghakimiku sendiri.Bukan aku tak mampu atau tak ingin ini hanya bagaimana aku menyesuaikan diri di tempat yang baru aku datangi ini.dan ini menjadi sebuah kenyataan bahwa pepatah untuk seorang lelakipun kini aku yang akan memakainya seorang perempuan.

“Perempuan harus kuat” pundakmu tidak untuk di ciptakan menahan beban-beban maslahamu sendiri masih ada keluargamu sekarang atau di masa yang akan datang, lebih kuat dan kuat lagi"


Dan itu semuanya menyadarkanku tak setiap hal tentang ku harus berkaitan denga mereka ada di sana,akan ada masanya hidup ini kehilangan beberapa orang tersayang, dan setidaknya jika aku sudah tahu dan lebih berani aku terjatuhpun akan bisa bangkit lagi sendiri.



Karena semuanya itu aku di hadirkan di sini.

2017 Bali ,dengan segala bentuknya.

Yang panasnya selalu menjadi tujuan wisatawan,malam harinya dengan musik-musik yang mengalun, club-club yang baris sepanjang pantai, pantai-pantai yang bersih , cafe-cafe yang berderetan, pura-pura yang indah,nasi campur yang murah meriah, Seminyak yang ramai, Kuta yang berkebudayaan,Legian yang mahal,Uluwatu yang mewah,Nusa dua yang istimewa,Canggu yang sederhana, jalanan yang tak ada matinya,makanan yang tak ada habisnya, nilai-nilai lokalnya, kemewahan yang selalu aku dapatkan, keistimewaan yang selalu aku temukan, bartender yang ramah,barista yang sopan,untuk gelato masimo yang manisnya Seperti kenangan, baju-baju Krisna di sunset road,dinginnya udara Bedugul, Uluwatu yang romantis,semua melekat terikat dekat dan sampai saat ini aku di sini,hadir dan menyukai segala yang ada di dalamnya.



Kota ini memang hal yang aku senangi namun aku sampai lupa bahwa sebuah perantauan membuat aku tak mengenali tanah kelahiran ku sendiri,aku lebih memilih hidup dalam keasingan dan ini nyatanya adalah sebuah hal yang tak ingin aku sesali,meski tetap rumah adalah hal yang berakhir setelah perjalanan ini selesai.

jika tentang ini ku jadikan beban ini semua hanya akan memperlambat perjalanan ,beban itu hadir dari keinginan yang berlebihan,dari perasaan yang keterlaluan, dari harapan-harapan kosong,dari ego luka benci.maka sekarang ini adalah waktuku untuk memperbaikinya,untuk melepaskan semuanya teruntuk hal yang tak pantas di hadirkan dalam sebuah genggaman.



Inilah kehidupan ,cerita indahnya suka dukanya,naik turunnya, pahit manisnya,semuanya beriringan.Sebenarnya ini semua hanyalah tentang hal yang harus banyak aku syukuri banyaknya pelajaran, pengalaman,serata kesan pesannya.Kemanapun dimanapun merantau adalah hijrah yang nikmat, nikmat yang secara tidak langsung menyadarkan aku bahwa menemukan hal yang baru ada di tempat yang di tuju, berpindah-pindah kota ,melewati beberapa tempat ini hanyalah awal sebelum aku benar-benar menetap di satu tempat.





Beranjaklah,merangkai sesuatu yang bisa kau rangkai,temui sesuatu yang ingin kau temui,saat disana sakit menangislah,saat di sana sehat tersenyumlah,di sana ada jutaan hal indah yang menanti,segeralah lalu pulang,jadilah manusia selaras kembali.




Onyee17

Baik-baik Saja

Ini adalah cerita tentang diriku sendiri. Kalau kamu juga ikut merasakannya, itu mungkin karena kita hidup di dunia yang sama. Kalau ada kalimat-kalimat di dalam cerita ini yang terkesan menyindir, aku sebenarnya sedang menyindir diriku sendiri. Jika ada kata-kata yang terasa seperti menggurui, aku sejatinya sedang mendidik diriku yang kurang ajar ini.

Aku sebut diriku kurang ajar karena aku sering tak tau diuntung.

Air liurku hampir selalu menetes setiap kali melihat peluncuran gadget-gadget terbaru, yang hadir dengan fitur-fitur yang juga baru. Fitur-fitur baru itu, sebagian aku mengerti sebagian tidak. Dan aku tak pernah benar-benar tau apakah aku benar-benar membutuhkan fitur-fitur itu atau tidak, yang jelas aku begitu menginginkannya. Keinginan itu, entah bagaimana caranya membuatku berharap dan kadang-kadang disertai rasa khawatir. Intinya, membuatku merasa kurang bahagia, padahal dengan gadget yang sudah kupunya hidupku berjalan baik-baik saja.

Pada beberapa kesempatan, aku juga sering mengutuk diriku yang sampai hari ini belum mampu membeli rumah sendiri. Sementara semakin hari rumah-rumah dibanderol dengan harga yang semakin tinggi, tentu saja disempurnakan dengan embel-embel ‘harga naik besok’ atau apapun itu yang membuatku merasa tak lagi punya waktu untuk menunda. Harga-harga rumah yang melambung tinggi dan belum juga berjodoh dengan tabunganku itu, membuatku merasa seperti orang paling miskin di dunia. Padahal di rumah kontrakan dua kamar yang selama ini kami tinggali, aku dan istriku hidup baik-baik saja.

Ketidaktaudiuntunganku tidak hanya sampai di sana. Aku juga kerap iri pada para selebriti atau teman-temanku sendiri yang bisa kapan saja bepergian ke mana saja mengunjungi tempat-tempat yang indah dan terkenal, mulai dari Bali sampai Pulau Nami, lalu berfoto di sana sambil tersenyum dengan senyum manusia paling bahagia di dunia. Lalu diam-diam aku kesal pada diriku sendiri dan mulai tak percaya diri, sebabnya itu tadi: aku merasa kurang gaul. Padahal dalam kekuranggaulan itu, setiap hari aku selalu punya alasan utuk tersenyum dengan senyum manusia paling bahagia di dunia—hidupku juga baik-baik saja.

Kebahagiaan, sepertinya memang bukan milik mereka yang tak tau diri.

Dan hidup manusia, barangkali akan selalu baik-baik saja selama dijalani dengan rasa syukur. Entahlah.

Depok, 6 Oktober 2015

You Make Me A Better Man: Teori Baru Perkawinan

Cara mencari kebahagiaan dalam era posmo?

Oleh: Andi Mallarangeng

Sejak berada dalam tahanan KPK, Andi Mallarangeng punya lebih banyak waktu luang. Sambil menunggu pengadilan, ia mencoba memanfaatkan waktunya secara produktif dengan membaca dan menulis. Aturan KPK tak membolehkan penggunaan laptop, iPad dan semacamnya oleh para tahanan. Andi menulis artikel ini dengan tulisan tangan, dan kemudian disalin kembali oleh Redaksi VIVAnews agar bisa dinikmati oleh pembaca. Andi berusaha menulis di rubrik “Analisis” sekali seminggu. 

—-

Masih ingat teori Abraham Maslow yang tersohor itu? Teori ini, yang mulai dikenal pada tahun 1940an, adalah teori tentang hierarki lima tingkat kebutuhan manusia yang berlaku universal, the five-level hierarchy of needs. Kebutuhan untuk makan dan minum, kebutuhan akan keamanan fisik, kebutuhan pada kasih sayang, penghargaan serta keterlibatan sosial. Jenjang tertinggi dan terakhir dalam susunan ini ditempati oleh kebutuhan manusia untuk melakukan aktualisasi diri. 

Teori Maslow, dalam ilmu politik, mendatangkan banyak perdebatan tajam dan menarik. Tapi kali ini saya tidak akan menulis soal politik. Saya menyinggung teori ini karena beberapa saat lalu saya membaca ulasan Prof. Eli Finkel, seorang psikolog terkemuka dari Northwestern University, AS, yang menggunakan teori tersebut dalam mengulas soal perkawinan. Dengan judul yang mencuri perhatian, “The All-or-Nothing Marriage,” ulasan ini diterbitkan sehalaman penuh oleh koran The International New York Times untuk menyambut datangnya Hari Cinta, the Valentine’s Day, yang dirayakan oleh kaum muda di berbagai belahan dunia pada 14 Februari yang silam. 

Saya tertarik sebab Prof. Finkel memberikan sebuah pandangan baru. Walaupun cukup sederhana, di dalamnya ada beberapa pelajaran yang dapat dipetik, setidaknya sebagai bahan pertimbangan oleh pasangan muda yang telah menikah dan kaum muda lainnya yang suatu waktu kelak akan mengikatkan diri dalam bahtera perkawinan. 

Selama ini, dalam studi mengenai perkawinan, ada dua pandangan yang berseberangan. Yang pertama adalah pandangan yang berkata bahwa lembaga perkawinan telah menyusut, surut dan mencair dalam masyarakat yang semakin modern. Buktinya, hampir setengah dari perkawinan (di Amerika Serikat) berakhir dengan perceraian dan kegagalan rumah tangga. Prof. Finkel menyebut kaum yang mengusung pendapat ini sebagai the marital decline camp.      

Pandangan lain adalah pandangan dari the marital resilience camp. Angka perceraian yang tinggi, menurut pandangan ini, memang tidak diingkari, tetapi ia tidak otomatis buruk. Perceraian hanyalah sebuah akibat dari tumbuhnya semangat otonomi individual, khususnya di kalangan kaum perempuan. Adalah hal yang lebih negatif, menurut pandangan ini, jika perkawinan terus dipertahankan dengan memaksakan kaum perempuan untuk menerima nasib begitu saja, termasuk menerima kenyataan pahit dari perkawinan yang kering dan tidak lagi diikat oleh cinta dan suasana saling menghargai. Bukankah berpisah secara baik-baik jauh lebih sehat ketimbang bertahan dalam ikatan yang saling menyakiti perasaan masing-masing? 

Teori baru Prof. Finkel ingin menjembatani kedua pandangan yang bertentangan tersebut. Baginya, kedua pandangan di atas bisa benar dan bisa salah secara bersamaan. Nasib lembaga perkawinan dalam kecenderungan masyarakat post-modern sekarang adalah “lebih baik” dan sekaligus “lebih buruk.”

Maksudnya apa? Prof. Finkel mengakui bahwa secara umum pasangan yang berusaha bertahan saat ini menemui lebih banyak dilema dan kesulitan. Karena itulah angka perceraian cenderung meninggi dan keluarga yang berantakan sudah menjadi gejala umum. Tapi bagi mereka yang sanggup melewatinya, terbentang potensi kebahagiaan yang secara kualitatif jauh lebih baik dan lebih substansial dari sebelumnya. Yang gagal semakin terkapar, sementara yang berhasil semakin bahagia dan menemukan pemenuhan diri yang hakiki. 

Bagi Prof. Finkel, kesenjangan antara keduanya, yaitu mereka yang menderita dan mereka yang berbahagia, kini semakin menganga. Itulah ciri khas lembaga perkawinan saat ini. All-or-nothing marriage: kalau gagal, perkawinan terpuruk dalam jurang yang dalam; sebaliknya, kalau berhasil, ia akan menjadi sumber pengembangan dua sejoli, beserta anak-anak mereka, dalam suasana yang saling mengisi, penuh cinta, kemesraan, dan kepuasan pribadi. 

Tapi apa yang menyebabkan satu pasangan terpuruk dan yang satu lagi beruntung melanggengkan perkawinan? Apa rahasia di baliknya? Di sinilah teori Maslow mulai relevan. Untuk menjelaskannya, Prof. Finkel menggunakan jalan yang agak sedikit melingkar.

Mengikuti tipologi yang telah dirumuskan sebelumnya oleh sosiolog Andrew Cherlin dan sejarawan Stephanie Coontz, Prof. Finkel menjelaskan tiga tahap perkembangan lembaga perkawinan yang telah terjadi di Amerika Serikat. Model perkawinan tahap pertama adalah institutional marriage yang menjadi ciri khas di abad ke-19. Saat itu, AS masih merupakan masyarakat pertanian. Perkawinan lebih banyak dilakukan untuk memenuhi kebutuhan yang paling dasar, yaitu kecukupan pangan, papan, reproduksi, dan keamanan. Cinta dan kasih sayang tentu saja merupakan faktor penting, tetapi ia lebih dianggap sebagai bonus perkawinan, bukan tujuan utamanya.  

Tahap berikutnya adalah model companionate marriage di abad ke-20. Perkembangan ini terjadi saat masyarakat AS sudah berubah menjadi masyarakat industri. Kaum pria berubah, dari kaum petani menjadi kaum pekerja, sementara kaum perempuan mulai meniti karir di luar rumah. Kebutuhan material dan persamaan hak telah tercapai, sebuah ciri masyarakat yang oleh ekonom John Kenneth Galbraith disebut sebagai the affluent society. Dengan perkembangan baru ini, tidak heran jika tujuan perkawinan juga turut berubah. Perkawinan bukan lagi melulu soal social security dan pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi lebih dianggap sebagai lembaga perpaduan cinta, pemenuhan kebutuhan romantika seksual, serta pencariancompanionship.

Evolusi berikutnya yang terus menguat sampai sekarang adalah model self-expressive marriage. Model ini kira-kira mulai berkembang sejak pertengahan dekade 1960, seiring dengan semangat counter-culture yang merebak saat itu, khususnya di kalangan kaum muda. Tujuan dan motivasi perkawinan mengalami perubahan: ia lebih dipandang sebagai pilihan pribadi untuk mencapai pemenuhan diri, personal fulfillment

You make me a better man.” Itulah ungkapan yang dikatakan oleh Jack Nicholson kepada pasangan mainnya, Helen Hunt, dalam film Hollywood “As Good As It Gets” (1997), karya sutradara James Brooks. Bagi Prof. Finkel, di balik ungkapan itulah terkandung esensi dari model perkawinan baru ini. Perkawinan bukan sekadar cinta, seks, dan pembentukan keluarga. Ia adalah sebuah eksplorasi untuk menjadi diri-yang-lebih-baik, lebih aktual, lebih bergairah. Untuk lebih memperjelasnya, Prof. Finkel juga menyitir ucapan sosiolog kenamaan, Robert N. Bellah, bahwa “love has become, in good part, the mutual exploration of infinitely rich, complex and exciting selves.”

Walaupun Prof. Finkel tidak menyinggungnya, mungkin bisa ditambahkan bahwa salah satu contoh terbaik dari model terakhir ini bisa ditemukan pada memoar perjalanan dan pencarian kehidupan yang menjadibest-seller sedunia, “Eat, Pray, Love” (2006). Penulisnya adalah seorang novelis muda, wanita yang cerdas dan empatik, Elizabeth Gilbert (buku ini pada 2010 dinaikkan ke layar lebar dengan judul yang sama, diperankan oleh bintang Hollywood ternama, Julia Roberts). 

Di dalamnya bertebaran potongan cerita dan pengalaman pribadi penulisnya yang menarik, sedih, empatik, dan terkadang lucu sekaligus. Intinya, pada usia 31 tahun, Elizabeth Gilbert mengakhiri perkawinan yang hanya berisi kepedihan. Kemudian ia memutuskan untuk mencari dan menemukan dirinya, dengan melakukan perjalanan serta tinggal beberapa lama di Italia, India, dan Indonesia (Bali). Setelah melewati proses aktualisasi diri hampir setahun, ia berhasil berdamai dengan dirinya, dan di Pulau Dewata, menemukan cintanya yang abadi. A story with a happy ending, sebuah buku yang sangat layak dibaca oleh kaum muda dan pasangan muda di mana pun. 

Singkatnya, buku Elizabeth Gilbert menunjukkan, tanpa sepenuhnya disadari oleh penulisnya, bahwa fondasi kebahagiaan hidup, termasuk dalam menemukan cinta sejati, adalah jika kita telah terlebih dahulu berdamai dengan diri kita sendiri. Dengan itulah kita kemudian bisa lebih leluasa untuk berkembang, baik sebagai pribadi, maupun sebagai pasangan hidup dari individu lainnya.
 
Kembali ke Prof. Finkel, dapat dikatakan bahwa baginya, motif dan tujuan perkawinan model terbaru sangat berkaitan dengan teori Abraham Maslow, khususnya pada hirarkhi yang tertinggi, yaitu kebutuhan akan aktualisasi diri. Berbeda dengan jenis kebutuhan yang lainnya, aktualisasi diri adalah kebutuhan manusia yang lebih subtil, berada di wilayah kedalaman batin yang sangat bersifat subyektif.

Bagi Prof. Finkel, di situlah terletak rahasia jatuh bangunnya perkawinan di zaman ini. Mencapai pemenuhan kebutuhan material, mengejar kepuasan seksual, atau mengikuti tuntutan sosial: semua ini tentu bukan hal yang mudah, namun, seperti yang implisit terkandung dalam teori Maslow, pasti tidak serumit pencarian kepuasan aktualisasi diri (itu sebabnya angka perceraian cenderung meninggi). We are our worst enemy: ungkapan ini mungkin bisa menggambarkan problematika yang ada dalam model perkawinan terbaru ini. 

Namun di situ pula terletak potensi terbesarnya. Kalau puncak gunung berhasil dicapai, maka panorama yang terbentang tak terperi indahnya: kalau problematika tersebut dapat diatasi, seperti yang telah dikatakan Prof. Finkel di atas, maka lebih dari masa-masa sebelumnya, perkawinan yang terjadi betul-betul membahagiakan dan produktif. 

Bagaimana cara mencapainya? Adakah resep jitu untuk sukses dalam model perkawinan tipe terakhir ini? Dalam menjawab pertanyaan ini, Prof. Finkel tidak memberi formula yang aneh-aneh. 

Teorinya memang baru, tetapi pada akhirnya kita harus kembali pada kearifan lama: spend more time with your spouse. Luangkan lebih banyak waktu bersama pasangan anda. Berusahalah mengerti satu sama lain. Tumbuh bersama, berkembang bersama, dalam suasana yang saling menghargai. Cinta bukanlah sebuah kata benda, tetapi sebuah kata kerja: kita harus terus belajar dan melakukan hal positif untuk semakin terlibat di dalamnya.

Itulah barangkali pelajaran paling berharga yang dapat dipetik oleh keluarga muda dan kaum muda kita yang akan memutuskan untuk mengikatkan diri dalam bahtera perkawinan. Prof. Finkel memang meneliti dan menulis tentang perkawinan di Amerika Serikat. Tetapi bukankah cinta dan perkawinan mengandung unsur-unsur yang universal? Lagi pula, tidak ada ruginya untuk belajar dari negeri lain, bukan?

Bagaimana Indonesia?

Kalau memang kita ingin membandingkan uraian Prof. Finkel dengan situasi dan model perkawinan di Indonesia, mungkin beberapa hal dapat dikatakan. Model pertama tadi, yaitu institutional marriage, dalam masyarakat kita lebih banyak dipengaruhi oleh adat dan pilihan orang tua, persis seperti dalam novel “Siti Nurbaya: Kasih Tak Sampai” karya Marah Rusli (1922). Sebuah ungkapan Jawa, yaitu bibit, bebet, bobot, juga bisa dianggap sebagai kredo yang menandai semangat zaman itu, khususnya dalam pilihan dan penentuan pasangan hidup. Model semacam ini berlangsung cukup lama, dan mungkin masih terasa sisanya sampai sekarang, terutama di daerah yang masih sarat dengan kultur agraris.

Konvergensi dengan dua model berikutnya sebagaimana yang terjadi di AS mungkin bermula pada dekade 1970, di mana pengaruh film dan counter-culture dari AS semakin merasuk dalam kebudayaan pop Indonesia. Sejumlah film pencarian cinta dan kehidupan anak muda adalah beberapa tonggaknya, seperti “Pengantin Remaja” (1971) yang diperankan oleh Sophan Sophian (Romy) dan Widyawati (Julie). Berturut-turut film lainnya adalah “Ali Topan Anak Jalanan” (1977) dan “Gita Cinta dari SMA” (1979). Masih banyak lagi film dengan genre yang sama, tetapi dasar ceritanya hampir serupa: perlawanan cinta kaum muda terhadap otoritas orang tua, dan hampir semuanya berakhir dengan happy ending. Keluarga mengalah, cinta berjaya.

Setelah itu, walau terjadi belakangan ketimbang transformasi di AS, perubahan yang sama terjadi juga di Indonesia. Urbanisasi, tumbuhnya kelas menengah dan kaum profesional muda, kaum perempuan yang lebih terdidik dan mulai meniti karir di luar rumah, serta, sejak akhir dekade 1990,  reformasi dan tumbuhnya kebebasan serta tuntutan persamaan di depan hukum. Seperti penjelasan Prof. Finkel tadi, semua perubahan ini tentu membawa dampak terhadap lembaga perkawinan. 

Buat Indonesia, mungkin salah satu persoalan yang unik adalah dekatnya perimpitan antara model yang satu dengan yang lainnya. Di Negeri Paman Sam, perubahan lembaga perkawinan berlangsung dalam rentang waktu yang cukup panjang, sementara di Indonesia perubahan tersebut terjadi agak berdekatan, dalam skala historis. 

Akibatnya, dengan mudah kita temukan berbagai dilema yang berbaur dalam persoalan yang dialami oleh keluarga muda dan kalangan muda di masyarakat kita: kadang persoalan tersebut berhubungan dengan problematika aktualisasi diri sebagaimana yang menjadi ciri persoalan model perkawinan ketiga, tetapi terkadang pula urusannya lebih menyangkut dengan keluarga pasangan, dengan mertua, adik atau kakak kandung serta saudara lainnya dari keluarga besar (extended family) di sekitar mereka, suatu persoalan yang masih berada para lingkup model pertama yang berakar pada kultur agraris. Kalau menggunakan teori Maslow, susunan kebutuhan yang harus dipenuhi dalam masyarakat kita tidak sepenuhnya berderet dan bertingkat secara rapih, tetapi kadang menumpuk, bahkan mungkin pula terbolak-balik. 

Jadi dalam hal tertentu beban bagi keluarga muda dan kaum muda kita sebenarnya lebih rumit dan bercabang ketimbang counterpart mereka di negara maju seperti AS. Tapi apapun persoalannya, tentu kita semua berharap bahwa keluarga muda dan kaum muda Indonesia dapat mengarungi perjalanan kehidupan dengan baik, tabah, dan tak mudah patah dalam upaya merebut sukses masa depan, baik dalam karir maupun dalam kehidupan cinta serta keluarga.

Tidak mudah memang. Tapi, seperti yang telah dikatakan Prof. Finkel, tantangan yang lebih besar juga menjanjikan kepuasan dan kebahagiaan yang lebih dalam. Perkawinan mungkin hanya terjadi sekali dalam hidup kita. Make the best of it. Jangan cepat putus asa. God bless you all.

Sumber: http://analisis.news.viva.co.id/news/read/486029-you-make-me-a-better-man–teori-baru-perkawinan

Q: Breaking Bad was such a unique looking show and you part of the group responsible for setting so much of that template. Can you quantify how Saul is aesthetically different from Breaking Bad?

A - Michael Slovis: “Absolutely! If you look at the formal frames of Saul, you look at the fact that the camera is on the dolly 90 percent of the time, you look at how we’re using zoom lenses to do slow zooms in, we’re not afraid of those onSaul. Hand-held, which was what I called the “white noise” of Breaking Bad, is used only for effect on Saul and even more than on Breaking Bad, Vince [Gilligan] and Peter [Gould] have really embraced the ideas of “less is more” when it comes to cutting. So you saw my episode, so you saw the one-r where Jonathan [Banks] walks into the house and we go through the entire house and I made a point of seeing almost every wall of that house, so that you would never guess what was going to happen in that house happens. Or the walk with Harry and Kim through the law office, which goes on for a minute-and-a-half or whatever. Vince and Peter were very clear at the beginning that if you want to do things like that, they’re behind you 100 percent. I’m somebody who believes that cutting should serve the purpose of relaying new information to the audience, because a cut is disruptive and the old school way of telling stories when television was in its infancy or developing in the ‘60s or '70s, of turning in five different-sized shots for every scene and then the producer goes and cuts it into a scene later on, it just doesn’t work anymore. So the whole cinematic approach that we were part of developing and contributing to on Breaking Bad has now developed an audience that is very sophisticated in terms of what they watch. And they get it. Whether they are aware of it, consciously or not, they can feel and see the difference between shows that are really well choreographed and well blocked with the camera and shows that aren’t.”

– from ‘Breaking Bad’ Grad Michael Slovis Talks 'Better Call Saul’ “Homecoming” and Helping Shape 'Preacher’ by Daniel Fienberg, THR

Di sebuah sesi perkuliahan di Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM pada awal tahun 2013, Prof. Samsuridjal Djauzi bertanya kepada seisi kelas siapa di antara kami yang akan berniat mengabdi di daerah selepas lulus. Banyak yang mengangkat tangan, sisanya diam saja, termasuk saya. Saya tidak mengangkat tangan karena bimbang.

Saya adalah produk kota besar. Saya lahir dan besar di Jakarta. Saya memperoleh seluruh pendidikan di Jakarta. Pendidikan kedokteran yang saya tempuh selama 5 tahun juga berlangsung di Jakarta. Hingga saat saya mengucapkan sumpah dokter, saya mungkin masih belum mengenal benar Indonesia. Saya hanya mengenal Jawa dan Bali. Bagaimana saya bisa berperan bagi bangsa Indonesia jika saya sendiri belum mengenal Indonesia? Padahal kata Soe Hok Gie, mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Rakyat Indonesia, bukan rakyat Jakarta.

Saat menerima medali di acara pelantikan lulusan dokter, sekali lagi muncul pertanyaan tentang pengabdian di daerah luar Jawa. Kali ini pertanyaan tersebut berasal dari dekan FKUI, dr. Ratna Sitompul. “Bersediakah Saudara mengabdi di daerah selepas lulus kuliah?” tanya beliau kepada saya. Saat itu saya tidak lagi bimbang, tetapi menjawab dengan tegas, “Saya bersedia.”

Saya merasa berhutang kepada rakyat Indonesia. Selama ini saya memperoleh pendidikan berkualitas dari universitas yang menyandang nama Indonesia. Sehari-hari dalam praktik klinik, saya belajar dari tubuh-tubuh pasien miskin dari seluruh Indonesia mengingat RSCM, rumah sakit pendidikan tempat saya belajar, adalah rumah sakit pusat rujukan nasional. Jadi rasanya tidak adil jika setelah lulus saya masih juga harus bekerja di kota besar dan daerah-daerah lain di Indonesia bagian barat. Saya pun menanamkan di dalam dada bahwa selepas lulus saya akan ke tengah dan timur Indonesia.

Dan di sinilah saya sekarang, Kabupaten Dompu, 1 dari 183 kabupaten tertinggal di Indonesia. Saya memilih Kabupaten Dompu sebagai lokasi pengabdian saya sebagai dokter internship. Tidak ada gedung bertingkat, tidak ada kemacetan, mati listrik terjadi hampir setiap hari dengan durasi berjam-jam, tidak ada fasilitas dan kenyamanan yang bisa saya dapatkan seperti ketika saya berada di pulau Jawa. Tapi inilah kenyataannya, inilah Indonesia yang sesungguhnya. Di Kabupaten Dompu inilah saya bekerja sebagai seorang dokter baru.

Kabupaten Dompu sangat kekurangan dokter. “Tidak banyak yang mau jadi dokter di sini karena ini kan daerah tertinggal,” ujar salah seorang sejawat di rumah sakit. Hal ini bisa dibuktikan dengan sudah dikenalnya saya oleh seluruh warga Dompu bahwa saya adalah seorang dokter sejak hari pertama saya berada di Dompu tanpa saya perlu memperkenalkan diri. Untuk satu kabupaten hanya ada 5 dokter spesialis sehingga tidak jarang pasien dirujuk ke ibukota provinsi ketika ada dokter yang sedang tidak bertugas, terutama pasien-pasien dengan kasus bedah dan kebidanan.

Di Kabupaten Dompu saya bertugas sebagai dokter umum di RSUD Dompu dan Puskesmas Soriutu. Saya bekerja di ruang rawat inap, ruang rawat jalan, IGD, hingga ICU. Seringkali menjadi dokter di sini adalah sebuah pekerjaan yang berat karena ada begitu banyak pasien yang harus diperiksa dengan sangat terbatasnya fasilitas kesehatan dan kemampuan petugas paramedik yang ada, tetapi harus tetap memberikan layanan yang prima bagi setiap pasien. Belum lagi dokter juga harus meyakinkan pasien untuk tidak berobat ke dukun dan paranormal, sebuah hal yang masih lazim dilakukan oleh warga di sini. Tetapi di balik itu semua, menjadi dokter di sini adalah sebuah kepuasan batin bahwa saya telah mengaplikasikan pengetahuan yang saya miliki bagi sebenar-benarnya rakyat Indonesia.

Saya selalu ingat kata-kata yang dituliskan Pramoedya Ananta Toer dalam novel Jejak Langkah. “Berjanjilah kau akan menjadi dokter untuk sebangsamu yang melarat dalam kehinaannya. Sembuhkan badannya, sehatkan jiwanya, tegakkan ragangan kehidupannya, bangkitkan mereka.“ Saya berjanji, demi seluruh pengetahuan dan kemampuan yang saya miliki, saya menjadi dokter Indonesia yang bekerja untuk bangsa Indonesia.

I wrote this record with Dan. We were in Bali Indonesia. We were uh just messing around backstage and came up with this beautiful song I think we were both away from our girls at the time. Things get pretty lonely you know when you get on the road and away from the person that you love, and I think we can all relate to this song. And it goes like this.
—  Justin Bieber Intro before Be Alright August 23 The Hot 100 Billboard Festival

Kalau orang di seluruh dunia mendambakan surga, kita sudah memilikinya. Kalau orang bilang Indonesia kumuh dan padat, mungkin yang mereka maksud Jakarta. Kalau orang Jakarta mencari oase hingga ke Maladewa, bisa jadi mereka hanya tau Bali dan Jawa, bukan Papua atau Nusa Tenggara. Foto: Pulau Nisa, Kabupaten Dompu, NTB.

Selamat petang teman-teman kelaspuisi! Ada yang baru lho. Kelas puisi open member regional. Bagi kalian yang ingin bergabung bersama kelaspuisi dan berdomisili di wilayah Nusa Tenggara, Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Barat, Jakarta serta sekitarnya bisa ikutan gabung.

Yuk daftar, jangan sampai terlewat. Silakan hubungi contact person di LINE untuk masing-masing regional.
Bila kalian mau tanya-tanya melalui contact person di Tumblr juga bisa lho.
- Jabar, Jakarta dan sekitarnya: @menatapmu
- Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara: @es-kacang-merah
- Yogyakarta dan Jawa Tengah: @pemudabiasa

Oh ya, ada tambahan nih, writing project kota sudah bisa teman-teman ikuti mulai hari ini 😋. Salam

Kakanda dan Adinda

The Saka New Year, which falls on March 31 this year, is celebrated with a day of silence, fasting, and meditation, also known as Nyepi.

This Hindu holiday is observed throughout the Bali province, and is a national holiday in Indonesia. Nyepi is a day reserved for self-reflection, and anything that might interfere such as work, entertainment, and other activities are restricted. The only people to be seen outdoors are Pecalang, who are traditional security men who patrol the streets to ensure the prohibitions are followed. 

——————–

Tahun Baru Saka, yang tahun ini jatuh pada tanggal 31 Maret, dirayakan dengan hari keheningan, puasa dan meditasi, juga dikenal sebagai hari Nyepi.

Hari Raya agama Hindu ini dirayakan di seluruh provinsi Bali, dan merupakan hari libur nasional di Indonesia. Hari Nyepi adalah hari untuk refleksi diri, dan apa pun yang mungkin mengganggu seperti perkerjaan, hiburan, dan kegiatan lainnya dibatasi. Satu-satunya orang yang berada di jalanan adalah Pecalang, seorang petugas keamanan tradisional yang berpatroli untuk memastikan larangan-larangan tersebut sedang diikuti.