daily life

youtube

this is the best Shrek related purchase- maybe even the best purchase hands down- I or anyone else has ever made in the history of the known and unknown universe

Menjadi Tidak Terkenal Adalah Kehidupan

Pekerjaan saya saat ini mengharuskan saya untuk punya kebiasaan memantau tren dan mode yang sedang berkembang. Mulai dari melihat artis – artis yang saat ini sedang di gandrungi, selebgram yang sedang diminati, youtuber yang subscribe nya gila gilaan. Semua itu mesti dilakukan supaya saya bisa mendefinisikan desain – desain baju yang cocok bareng teman teman. Membuat brand yang kuat. Serta menyusun strategi marketing yang tepat sesuai situasi dan kondisi pasar.

Kadang kala saat melihat kehidupan orang yang sedang saya pelajari lewat media sosialnya itu, membuat saya tertegun kok bisa ya punya follower ig sampe 18 juta orang (sambil geleng – geleng kepala). Saya menemukan mereka – mereka yang terkenal di media sosial umumnya memiliki kemampuan yang baik dalam menampilkan sebuah sisi kehidupan mereka. Sambil memperhatikan dan mempelajari itu semua, saya suka istighfar banyak – banyak karena seperti yang dipublikasikan oleh United Kingdom’s Royal Society for Public Health beberapa media sosial terutama instagram merupakan media sosial paling buruk bagi kesehatan mental. Bagaimana tidak home kita sering kali disajikan secara gratis kehidupan teman – teman kita yang menyenangkan (karena tentu sebagian besar orang lebih suka membagi sisi menyenangkan hidupnya). Melihat teman – teman kita jalan – jalan sementara kita terkurung di depan laptop ngerjain segudang kerjaan. Kita melihat banyak orang memiliki pencapaian di usia yang sama, sementara kita masih berjuang dengan mimpi – mimpi kecil kita. Kita sejenak dibuat lupa, bahwa yang kita lihat ibarat bagian depan purnama yang cemerlang, bagian gelapnya kita sama sekali tidak tahu. Kita terlanjur membanding – bandingkan diri kita mungkin hanya karena jumlah likers dan komen yang tidak sebanyak si anu. Kita melihat teman – teman kita melakukan banyak hal berarti, sementara kita karena sibuk membandingkan jadi lupa melakukan hal berarti. Sering kali saya istighfar saat mulai membandingkan diri dengan orang – orang terkenal itu, lebih sulit lagi kalau godaannya adalah keterkenalan teman yang kita kenal.

Sejak media sosial menjadi sebuah kebiasaan dalam kehidupan kita, kita mungkin sedikit atau banyak terobsesi untuk menunjukkan diri kita. Menampilkan apa – apa yang kita punya. Menunjukkan kita telah melakukan ini itu. Tapi hal – hal seperti itu takkan memberikan kebahagiaan permanen, seperti permen yang terasa selama ia tak mencair sepenuhnya di mulut.

Saya jadi ingat perkataan abang di suatu hari, “biarlah abang hidup di dunia nyata”. Dan benar, sedikit sekali waktu yang abang habiskan untuk media sosial. Abang cuma punya facebook itupun jarang disentuhnya.  Kehidupan nyata yang membuat kita lupa untuk ingin terlihat, untuk ingin terkenal, untuk ingin diketahui eksistensinya. Kerjaan abang baca buku, belajar, melakukan kegiatan – kegiatan bermakna yang tak perlu diketahui orang lain. Tahu – tahu ngasi kabar kalau semua nilai – nilainya A+ mumtaz, dapet IPK di atas 4,9 dari skala 5,00. Sepertinya kehidupannya baik – baik saja tanpa keterkenalan, bahkan saya baru tahu bahwa di kalangan mahasiswa madinah dari berbagai negara abang terkenal sebagai  seorang cendekiawan. Dan yah, kehidupan abang baik – baik saja tanpa lampu sorot mengarah ke arahnya. Abang hanya melakukan hal biasa dengan cara terbaik, kualitasnya yang membuatnya bersinar dengan sendirinya tanpa perlu diminta. Karena menjadi tidak terkenal justru kehidupan yang sesungguhnya.

Seperti kehidupan yang dijalani oleh salah seorang ulama besar generasi tabiut tabi’in, Abdullah bin al-Mubarak. Beliau mengatakan tidak dikenal dan tidak disanjung adalah kehidupan. Menjadi biasa di mata manusia adalah harapan. Salah seorang murid beliau, Hasan bin Rabi’, bercerita, “Suatu hari, aku bersama Ibnul Mubarak menuju tempat minum umum. Orang-orang (mengantri) minum dari tempat tersebut. Lalu Ibnul Mubarak mendekat ke tempat peminuman umum itu, tidak ada orang yang mengenalinya. Mereka memepet-mepet bahkan mendorong-dorongnya.

Ketika keluar dari desak-desakan tersebut, Ibnul Mubarak berkata, ‘Yang seperti inilah baru namanya hidup. Ketika orang tidak mengenalmu dan tidak mengagung-agungkanmu’.” (Shifatu Shafwah, 4/135).

Terkenal ataupun tidak yang terpenting kita mestilah bahagia menjalani hidup yang hanya sekali ini, tak perlu membanding - bandingkan cukup bergerak dengan sekuat tenaga. Tak perlu merasa rendah diri disadari ataupun tidak eksistensinya sebagai manusia, sebab kita itu sama istimewanya dengan manusia manapun di muka bumi. Sebab, sama sama di perhatikan Allah sampai ditugaskan dua malaikat untuk memperhatikan kita raqib dan atid. :)

  ©Alizeti