daaane

just i love dan and phil's little tweets, like their little pictures they take of eachother, even if it's a stalker photo or a dan telling phil photo- "phiww take a picture of me by this wall" or a phil telling dan photo "daaan can you take a photo of me with this sushi?" just ugh love it

wow ranting 101

Terkadang ada yang lebih menantang dari pada manajemen waktu, yaitu manajemen energi.

What should we do? Tidur berkualitas, usahakan makan jangan terlambat, jangan jajan sembarangan, be happy supaya sistem limbik di otak terbuka, positive thinking, fokus penuh hadir utuh, daaan jangan lupa senyum :“)

Patience

prompt: 

“Dan, I swear to go-“

“I’ll do it if daddy asks nicely.”

Fuck.”

genre: smutty smut smut, little fluff at the end if you squint, but it’s mostly smut

warnings: swearing, anal, blowjobs, edging, daddy!kink

word count: 1973

read on ao3!

a/n: after many nights of unmotivated rolling around, i have created this masterpiece! i don’t have much to say other than thank you for following me and being patient because i know i haven’t been writing as much. i definitely want to change that this year, so don’t forget to send me prompts! this fic was beta’ed by the lovely holly (@dark-days-dark-nights-xx) and tom (@theotheristhedoctor).  i hope you enjoy <3

Keep reading

2

In addition to the odd Premium Bandai goodie for Another Ending, we also get the transformation for the God Maximum Mighty X Gashat. And it’s Kuroto at his peak. 

Instead of “Level Max!” it says “Immortal!” (不滅! / Fumetsu)

Standby:

  • 最上級の神の才能!クロトダーン!クロトダーン!
  • Saijōkyū no kami no sainō! Kuroto Dān! Kuroto Dān! 
  • The biggest and godliest intellect! KUROTO DAAAN, KUROTO DAAAN~!

Transformation:

  • ゴッドマキシマームX!
  • Goddo Makishimāmu Ekkusu!
  • God Maximum… X~!

And the finisher is God Maximum Critial Blessing. Yes, really.

dinahkiki  asked:

Ka, gimana cara kaka ngebagi waktunya ka biar produktif gitu?

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, Dinah! Salam kenal, ya. Terima kasih sudah bertanya. Ayo kita diskusi cantik. InsyaAllah ini juga adalah cara saya untuk kembali mengingatkan diri sendiri :”)

Persepsi Tentang Manajemen Waktu

Sejak dulu, saya percaya bahwa manajemen waktu seseorang akan semakin baik seiring dengan semakin banyaknya kegiatan atau amanah yang perlu ditunaikan. Mengapa? Karena waktu-waktu dalam sehari yang sebagian besar diisi dengan produktivitas akan membuat kita merasa tidak punya banyak waktu luang, sehingga, suatu pekerjaan akan dikerjakan dengan lebih cepat dan efektif karena setelahnya perlu mengganti fokus untuk mengerjakan yang lainnya, dan begitulah seterusnya. Tak heran kiranya jika orang-orang yang berprestasi, baik di akademis maupun non-akademis, biasanya adalah orang-orang yang produktif memanfaatkan waktunya.

Bagaimana Saya Membagi Waktu?

Pertama, sebenarnya saya bukan tipe orang yang perfeksionis dalam memperlakukan waktu hingga terperinci menit demi menitnya saya perlu melakukan apa. Meskipun demikian, saya terbiasa mengelompokkan semua kegiatan yang perlu saya lakukan dalam kelompok penting atau genting. Ya, bagi saya semua penting, hal ini dilakukan supaya saya tidak melalaikan hal-hal kecil yang padahal sebenarnya perlu diselesaikan juga. Oleh karena itu, prioritas biasanya tidak terletak pada hal penting, tapi hal genting.

Kedua, menghadirkan fokus yang utuh setiap kali sedang mengerjakan sesuatu. Dengan alasan ini, saya seringkali menolak untuk mengerjakan pekerjaan kantor yang dibawa ke rumah, atau sebaliknya; kecuali memang sangat genting dan tidak bisa ditunda lagi, tapi sebisa mungkin saya mengupayakan agar hal-hal semacam ini tidak terjadi. Begitu juga dengan amanah-amanah dari luar yang bukan urusan kantor dan bukan juga urusan rumah, sebisa mungkin dikerjakan di waktu yang tidak menganggu satu sama lain.

Ketiga, jangan tunda-tunda tugas/pekerjaan/amanah yang bisa disegerakan. Bagi saya, dan mungkin juga bagi kita semua, ini adalah hal yang sulit. Tapi, penundaan atau prokrastinasi ini, jika tidak dihindari, maka akan berdampak banyak (dan biasanya buruk) bagi banyak hal: pekerjaan tidak selesai dengan optimal, amanah berceceran, rasa terburu-buru, daaan tanpa sadar membuat kita jadi malas.

Keempat, tidur dan makan yang cukup dan sehat. Korelasinya mungkin agak berjarak dengan manajemen waktu. Tapi, bagi saya ini penting, terutama untuk menjaga agar energi saya cukup untuk melakukan banyak hal dalam sehari. Saya hampir tidak pernah begadang, masih bangun sampai jam 12 malam adalah prestasi, hehe, karena kalau jam tidur terganggu tapi terbuang percuma, biasanya besok paginya saya moody dan uring-uringan. Saya juga hampir tidak pernah malas makan, karena kalau belum makan saya sulit fokus dan apa yang sedang dikerjakan biasanya jadi berantakan.

Kelima, bergerak dan teruslah bergerak melakukan sesuatu: belajar, berbagi, berdiskusi, berkarya, atau apa saja yang membuatmu positif dan produktif. Ini penting juga, karena kalau terlalu banyak diam nanti malah jadi malas.

Keenam, sesekali me-time itu boleh. Iya, meski seringnya banyak berkegiatan, paling tidak sekali dalam seminggu saya punya waktu sendiri (terutama jika sebelumnya habis bertemu dengan banyak orang). Apa yang dilakukan? Bebas, apapun yang menyenangkan: tidur, baca buku, nonton film kartun, lettering, atau lainnya. Hal ini biasanya bisa membangkitkan kesiapan supaya besoknya bisa produktif lagi.

Lalu, terakhir tapi utama, saya termotivasi oleh pembahasan dalam Al-Qur’an soal waktu, bahwa sebenarnya jika kita gagal mengelola waktu maka kita akan merugi karena waktu tidak akan pernah bisa kembali. Semenit berlalu, selamanya ia telah berlalu. Dan, penyesalan kita tidak pernah bisa mengembalikan apapun yang telah berlalu.

Begitu kira-kira yang bisa saya ceritakan. Ambil baiknya, buruknya jangan, ya. Semoga kita termasuk pada orang-orang yang percaya bahwa waktu adalah milik-Nya dan tugas kita adalah memanfaatkannya dengan baik; bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain.

[Ask]

Apakah seorang yang pendiam bisa menjadi guru?

Jawabannya sangat bisa. Saya boleh yaa cerita, barangkali bisa memotivasi. Ehe

Saya dulu anak yang sangat pendiam sekali. Pada saat SMP, saya hanya mengenal teman sebangku saya. Selebihnya saya gak peduli. Saya lebih senang sendirian. Sampai suatu hari, saya mendapat sindiran dari teman sekelas saya yang lain “hmm ya sih, Ukhti mah kenalnya cuma sama teman sebangkunya aja.” Padahal sebenernya gak gitu, haha. Saya hanya tidak pandai bergaul, tidak suka banyak berbicara. Tapi teguran itu yang mulai menyadarkan kalo ternyata aku harus bisa lebih ramah sama orang lain, hal kecil yang perlu dilakukan adalah menyapa mereka ketika berpapasan.

Saya mulai banyak berubah ketika memasuki SMA. Masih dengan ke-introvert-an saya yang dominan, saya tidak cukup percaya diri untuk maju ke depan kelas. Saya gak suka jadi pusat perhatian. Hal ini masih berlanjut ketika saya kuliah. Tetapi saat kuliah, saya masuk dalam organisasi yang punya program kerja di kegiatan sosial, nah salah satu kegiatan yang kami lakukan adalah mengajar.

Saat H-1 kegiatan itu dimulai saya gak bisa tidur malemnya XD

Jauh-jauh hari saya sudah mempersiapkan. Rasa nervous itu menyerang dengan ganas luar biasa. Ada doa yang selalu saya ulang-ulang ketika menghadapi situasi demikian, saya istighfar lalu berdoa dengan doanya nabi Musa (QS. Thaha: 25-28). Gak cuma mau ngajar aja sih, misal mau presentasi juga gitu karna saya selalu nervous saat berdiri dan dilihat oleh banyak pasang mata. Nanti nervousnya ilang deh, cobain~


Apa saya pantas jadi guru?

Hmm gini, kamu punya keinginan menikah lalu punya anak kan. Kalimat ini familiar banget pasti, “Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya”. Ketika kamu menjadi ibu, otomatis kamu juga harus siap menjadi guru untuk anak-anakmu. Jadi anggap ini sebagai latihan. Dan lagipula kamu punya ilmu yang didapatkan dari study yang kamu jalani. Jadi kamu harus lebih percaya diri karna kamu punya ilmunya, tinggal mengamalkan. Saya saja yang latar belakang study-nya bukan pendidikan bisa, maka kamu harusnya lebih bisa. Hehe. Semangat!


Bagaimana saya menyesuaikan dengan likungan sekolah dan guru yang lain?

Beradaptasi dengan lingkungan baru itu sesuatu yang wajar. Walaupun memang setiap orang punya tahap beradaptasi yang beda-beda. Kecanggungan saat bertemu orang baru, itu wajar. Tar lama-lama juga biasa. Jadi ini gak perlu dikhawatirkan. Kamu hanya tinggal menjalankan peranmu disana sebaik-sebaiknya ;)


Oiya,

Khawatir berlebihan itu gak baik, bikin kita gak berkembang, menghambat langkah kita buat maju. Segala kekhawatiranmu serahkan sama Allah. Dia Maha Segalanya, minta aja, apapun, lalu yakin sambil disertai ikhtiar.

Raga ikhtiar, hati tawakal!

“Dan milik Allah lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan..”(QS. Ali Imron: 109)


***


Semoga jawabannya menjawab yaa. Kalo belum puas, boleh langsung chat pribadi aja. Lebih enak kan ya kalo komunikasi dua arah. Daaan..

Maaf untuk beberapa pertanyaan yang belum terjawab, juga maaf karna jawabnya lama hiks.

Hampuraa 🙏

Doing the Dishes (Phan Drabble)

Word Count: 932

Type: THE MOTHER OF ALL DOMESTIC FLUFF (kinda)

Description: Dan hates doing the dishes, but this time might just be an exception.

A/N: Just a little drabble I thought of while I had to do the dishes.

———–

Doing dishes is quite possibly the worst thing in the world, Dan thinks as he sighs heavily, shuffling over to the mountain of dirty cups, mugs and plates. Phil was usually the one to do the dishes, as Dan was the one to get the packages at eight in the morning. But, today seemed the very rare, but still very unfortunate day in which it was Dan’s turn. He began the painstaking task of removing all the dirty, but thankfully rinsed off dishes, from the sink and placing them on the counter directly next to the sink. He plugged the drain and then began to fill the now empty sink with lukewarm water, a little hot, but not too bad. He put slightly too much dish soap into the sink, resulting in a very fast, large compiling amount of bubbles. He giggled slightly at the sight of the fast rising mountain of small white bubbles smelling of green apple. Once the sink was full enough to begin the task of washing, he set to it. Grabbing the wet wash cloth, dipping them into the water and scrubbing the dirty dishes before taking them out to be placed into the other side of the sink for rinsing after all the washing was done. More than halfway through, he heard Phil’s footsteps from the doorway, and turned to see Phil looking shocked and pleased.

               “See you finally took the hint and decided to do some washing up.” Phil said walking over to Dan and placing his now empty cereal bowl on the counter alongside the yet to be washed dishes. Dan narrowed his eyes at the remark and returned to the task at hand.

Keep reading

dr-chalk  asked:

Consider - Travis telling Katie her boobs are as big as the 'tit'anic

Idk if I wanna laugh or cr y
When telling ur gf “daaan katie ur bobbies” just isnt extra enough

Glitter Rush

A simple teenage game of Truth of Dare leads to an interesting evening… A pretty long teen AU Phan oneshot (ft. Anthony and Louise) based on their recent trip to Spain. Enjoy!

Keep reading

Fuzzy

Fuzzy itu artinya samar. Ini salah satu metode yang biasa dipake untuk menyelesaikan persoalan yang tidak bisa dijawab dengan jawaban binner 0 atau 1. Misal ketika diminta untuk mengelompokkan tingkat panas suatu zat. Kita mungkin sama-sama sepakat bahwa suhu 100 derajat itu panas dan 0 derajat itu dingin. Lalu bagaimana dengan suhu yang ada diantaranya? 75 derajat misal, atau 40 derajat. Bisa jadi si A dan B akan punya jawaban yang berbeda. Pemecahan masalah dengan fuzzy ini biasanya akan dibagi lagi dalam beberapa kelompok yang biasa disebut dengan membership function.

Pusing ya?

Hahaha… Sebenernya saya juga lagi gak pingin jelasin fuzzy kok. Cuma lagi pingin nulis tentang ini karna lagi asyik mengamati sekitar aja.

Contohnya?

Standar baik dan tidak. Masing-masing orang punya acuan yang berbeda. Si A dianggap baik, si B dianggap tidak baik. Tentu masing-masing punya alasan kenapa si A dianggap baik dan si B dianggap tidak baik. Bisa jadi semua orang sepakat demikian. Bisa jadi pula tidak. Si A bagi sebagian orang dianggap baik karena rajin menolong, ringan tangan, orangnya asyik, tapi mungkin bagi sebagian yang lain tidak. Kenapa? Karena akhlaknya, karena perkataannya yang sering kali menyinggung perasaan orang lain, karena dia hobinya yang suka nyindir orang lain bahkan di depan forum besar. Wajar gak kalo kemudian ada oran yang ilfil sama si A? Wajar.

Kemudian ada si B yang bagi sebagian orang kurang asyik, tidak menyenangkan, tapi bagi sebagian yang lain Si B ini biasa saja. Dibenci gak, dicintai banget juga gak. Tau kenapa? Karena gak seeksis si A sebagai komentator. Apakah Si B tidak baik? Tentu saja ada yang menjawab iya dan tidak.

Fuzzy kan? Samar? Jadi Si A ini sebenernya baik atau gak? Si B ini sebenernya baik atau gak?

Contoh lain, tentang suatu perkara.

“Menurut lo ini boleh gak?”

“Kata agama sih dosa.”

“Trus gimana dong?”

“Ya terserah lo mau ambil atau gak, lo yang nanggung konsekuensinya.”

Daaan ini jawaban paling gak jelas, paliing samar, paaling fuzzy, yang kemudian diiyakan oleh penanyanya. Even penanyanya akhirnya ngelakuin yang ditanya juga. Tau gak kenapa? Karna yang ditanya juga ngelakuin.

Saya pernah kayak gini. Sering. Pemahaman pas-pasan, tau itu dosa tapi ditrabas aja, trus ditanyain. Ya saya jawab gitu lah. Buat apa? Nyari temen. Awalnya gak nyadar sih kalo saya ini nyari temen, tapi pas udah sadar kalo itu bener-bener salah dan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi saya nyesel pernah membiarkan mereka terjerumus dalam lubang kebodohan saya. Makin nyesel pas tau saya juga kena dosanya orang yang berdosa itu tadi karna kata-kata saya yang gak ngelarang dia pas tau itu dosa. Daaan penyesalannya sampek sekarang, kalo inget juga sering nangis ketakutan.

Memang sih standar penilaian kalau dilihat dari kacamata manusia jadinya bakal beda-beda, tergantung pemahamannya, tergantung dari seberapa sering interaksinya, daaaan tergantung-tergantung yang lain-lain. Karena paham banget kalo manusia ini super gak jelas maka Allah memberikan solusinya, yaitu Al Quran dan Rasul. Pilihannya tinggal kita mau ambil atau gak. Tinggal kita mau memegangnya sebagai petunjuk hidup atau tidak. 

Rasul?

Kita lo gak pernah ketemu Rasul, tau wajahnya enggak, pernah mimpiin Beliau juga enggak, trus gimana caranya bisa tau?

Ada hadist kan? Disitu tertuang perilaku Nabi, perkataan Nabi, bahkan diamnya Nabi. 

Trus caranya tau itu bener atau gak gimana? Bacaen Quranmu, bacaen hadistnya, pelajari lebih dalam agamamu. Penyelesaian algoritma dari permasalahan aja kadang butuh learning dari seluruh yang ditangkap, masa kita enggak mau learning?

Kalo udah learning gimana? Ya wajib dijalani dong. Kalo ada yang tanya sampaikan yang benar dong. Lepas dari dulunya adalah orang yang pernah menjadi pelakunya atau bukan. Umar bin Khatab dulu pernah mengubur anaknya hidup-hidup, setelah kenal Islam dia sadar kesalahannya, dia sadar dosa-dosanya. Trus apa Umar akan membiarkan bapak yang mengubur anaknya hidup-hidup ketika dia tau? Gak mungkin kan? Umar gitu loh. 

Logikanya Umar yang dekat dengan Nabi yang surganya udah jelas aja gak ngelakuin apalagi kita yang pernah ketemu Nabi aja enggak, surga gak jelas, dosa juga banyak.

Ring Pops and Dandelion Bouquets


Summary: Five-year-old Dan and Phil are dragged along to go wedding dress shopping with Dan’s aunt. After finding out what weddings are all about, Phil comes up with a cute little idea in that head of his. Why don’t he and Dan get married?

Warnings: None! This is pure fluff! 

Word count: 4, 353

A/N: I wrote this a while ago and posted it on some other sites and I thought I should post it here as well. Hope you like it!

Keep reading

A Family Vacation

[prompt: PLS MAKE ANOTHER PARENT!PHAN OMG PLEASE OMG OMFG]

[Summary: Dan and Phil bring their teenage son, Dil, on vacation to Florida]
(this is 3K words damn and it’s sort of (not really) a part two to my last parent!phan fic)

real quick, i wanna say a rly big thanks to my online and irl babe (on-a-scale-of-one-to-white) for helping me with ideas for this and for answering my annoying texts wow real mvp thx boo ily <3

also, the line about dil’s head becoming an ice block is what my dad tells me every time i stick my head in the fridge lmao fun fact

[Contains: domestic!phan, fluff!!!!, just really fun vacation time with the fambam, buT YALL THE FLUFF IN HERE IS SO REAL, fluffy smut (its rly cute i promise)]
__________

Keep reading

Wailing Wars

Word Count: 653

Phil’s POV

“Dan! Stop singing!”

I pounded on the bathroom door as I tried to block out at least some of the sound by using me free hand to protect one of my ears. Hopefully this way I wouldn’t be completely deaf by the time the ordeal was over. If it ever would be over - I doubted he’d hear anything I did over his damn wailing and the shower.

“Daaan!”

The terrible singing continued, and when he tried (and failed) to hit some of the higher notes of the song I had to stop trying to get his attention for a moment so I could clamp my hand over my other ear to protect it.

In a moment of panic I kicked the door, and that finally seemed to get his attention as the “singing” stopped for a moment.

Apparently deciding it was nothing he continued, and when an even more out of tune wail came through the door I seriously considered the possibility of just moving and finding a new roommate. One that could sing. Or one that had the good sense not to sing if they knew they had a terrible voice.

The time had come to bring out my greatest weapon. Very carefully I removed my hands from my ears and shuffled a bit closer to the door so I could make out the lyrics a bit better. Then I started to join in, making sure the notes I sang were just as out of tune as Dan’s and cupping my hands around my mouth so my voice would ring through a little bit more loudly.

It only took a couple of lines of the song for Dan to realise it couldn’t possibly be just him producing those godawful noises and to stop singing. I kept going, getting more into it as the song progressed so that by the time Dan turned the shower off I was screeching the words at the top of my voice with only the tiniest bit of my brain worrying about the neighbours.

When the door opened I had moved on to wild dancing as I wailed at the top of my voice, and it only got less enthusiastic for a second when I saw how hot he looked, hair curly from the shower and the towel he’d quickly wrapped around his hips falling lower and lower down his hips a little, and a lick of lust went through me. It was only a second though, I then continued to butcher the song quite happily.

“Yo Phil! Shut up!”

“Make meee,” I retorted, singing my reply in the same tune as the song.

He huffed and grabbed my face and gave me almost no warning of what was gonna happen as he brought his lips down to mine. Needless to say, the singing stopped.

I expected him to pull back after he achieved his mission, maybe with a smug grin as he went back to his shower, but he only paused for a couple of seconds, his forehead resting against mine, to regain his breath.

This time when he kissed me it was more tentative, him checking to see if I was alright with it. I kissed him back as enthusiastically and passionately as I could to show that it was more than alright with me, and he responded with the same enthusiasm.

When we finally broke apart I couldn’t help the huge grin that spread over my face, and I backed away slowly.

“Clearly, the lesson here is that I should do that more often…”

The look on his face as he lunged for me, one hand outstretched and the other keeping his towel in place, was priceless, and catching me was easier than he would have thought. I wasn’t about to run from more kisses.

“How about we do more of this instead,” he asked, and he brought his lips back down to mine again.

Marry Me?

Request:
“Can you maybe do one with Dan or Phil ( I don’t want to sound like I have favourites) and marriage.”

Sorry if I get information wrong I only had the Internet to help me with this.

Warnings:
Hospital - Cancer

Waking up in the morning was always the worst for me. I would wake up sweating and could barely move because of how tight my muscles were. Every time I woke up I had like 5 bruises I didn’t have the day before and I would have blood on my pillow that came from my nose, I always had nose bleeds. “Can’t get up?” Dan asks me “my muscles are sore still” I tell him and not needing to hear more he gets up to massage me like every other morning.

I walk into the bathroom doing my morning routine, I get undressed and weigh myself, I keep losing weight even though my diet is the same. I walk into the shower to try and turn on the tap but it’s to tight “Daaan” I shout loud enough for Dan to hear. I hear the door open as he pops his head in the door “yeah babe?” He asks “I can’t turn the tap on” I tell him so he walks in and turns it on for me and walks straight back out.

I step into the warm shower washing off my body and my face trying to get as much blood off as I can considering I don’t have a mirror. As soon as I’m done I count how many bruises I have. 35.

I get out of the shower and wipe off any blood that I missed, doing my makeup and putting putting tinted moisturiser on my legs to try and hide the bruising.

As I walk down stairs I can hear Dan and Phil talking “Dan I’m serious she needs to go to the doctor” I hear Phil sympathetically tell him “no it can’t be true she’s just a little sick” he shouts at him “Dan I’m sorry, she needs to go see a doctor”.

~~~TIME SKIP~~~

“First I’m going to start by asking you some questions, is there any possibility that you could be pregnant?” He asks

“no” I tell him

“is there any medication you are taking?”

“I’ve taken aspirin” I say

“Okay, and do you have any allergies?”

“Not that I know of” I say.

We walk out of the room and go to Dan and Phil who are sitting in the waiting room “the procedure will be in four days, don’t take any aspirin until then and don’t eat or drink eight hours beforehand” he says and leads us to the front of the hospital where we leave to go home.

~~~4 DAYS LATER~~~

“Hello, you must be y/n, I’m David and I am your neuroradiologist for today, I hope your not afraid of needles” he says as he grabs a needle and cleans the point with antibiotics “I am/am not” I tell him.

He lifts up my arm and points the needle near the vein in my wrist and pushes it through. “This is just to help you relax” he says as if it would help me feel any better.

He grabs the bed I’m in and rolls me into a different room, a scarier room. I always hated hospitals.

“Okay this is just another needle, it’s just going to make you a little numb” he says as he enters another needle into my arm.

He pushes a button on the bed which makes the bed go down so I’m lying flat. I see a beam of rays move up and down my body like an X-ray and a couple of seconds later a doctor comes up to David showing him a piece of paper which I guess is my body. “Okay these are the safest spots” the doctor says as he points to a parts of my body as he starts scrubbing and disinfecting it.

After he’s done disinfecting them he tapes a blue sheet with a hole in it to my pelvis, sternum, cranium, ribs, vertebrae, scapulae, and in the cancellous (I have no idea where these are). He grabs a little knife like tool and as soon as it connects with my skin I close my eyes not wanting to look at what the doctors are doing but I feel a prick at my skin, it didn’t hurt that much it just felt like when you accidentally cut your skin with a knife.

After the knife is removed I can feel a needle enter the fresh cut. It hurts really bad and just thinking of what could be happening right now is the reason for my blackout.

When I wake up I’m back in my original room and my hip hurts like hell. “She’s awake, I’ll get the doctor” Phil says as he runs out and Dan just asking me how I’m feeling and if I’m okay. “Alright y/n I know you just woke up but we got to get you to the X-Ray and make sure their are no complications.

After a couple of hours we are out of the hospital and I’m back in bed because the doctor said that i need to rest until I next see him.

~~~A COUPLE DAYS LATER~~~
~~~DANS POV~~~

"Hi Dan, I would just like to inform you that we got the results from the test back” the doctor says

“and what were the results, is she sick?” I ask

“I think you should gather y/n and come visit me”

~~~A COUPLE MINUTES LATER~~~

“I’m afraid that the results came back and they weren’t exactly the best” the doctor says

“What happened?” I say as my voice cracks

“She’s got acute lymphoblastic leukemia”

“What does that mean?” I ask

“It’s a type of cancer”

“I have cancer” I hear her say more like a statement than a question. He nods to confirm this information and she starts to cry and sits down weakly on my lap.

“I’m not sure how long she has to live so we’re hoping we can get to curing her right away, but there is a chance she could die through the process” he tells me

“I would die either way right, cure me” I hear y/n say dejectedly.

~~~TIME SKIP :0~~~

“I went out while y/n was having her chemotherapy done, I bought her her favourite chocolate, roses, I put photos of us together in a photo album and I bought her a beautiful ring. IM PROPOSING” I tell the live stream and I can see everyone blowing up on the chat “I always wanted to grow old with her but that might not happen cnow, she is the love of my life so even if we don’t have that long together I’m going to marry her.”