cwy

I’ve been doing this really fun thing where every time I catch a Pokémon (that I plan on keeping) in Pokémon Go, I name it using a Tsalagi word. I.e. Tangela becomes Diganvlvhi, because it reminds me of noodles. Or a Kamama Caterpie! It’s really helping me build my vocabulary, and I’ve found that it’s getting easier to guess at the spelling of a word / am getting more used to the way sounds work together in Tsalagi. It’s really fun 🌸

youtube

I made this video in order to try the new Corel Video Studio Pro X4 i bought few days ago. OMG, i miss these girls so mucho!

Habitat Girls Going Crazy!.wmv (by adinwardhani)

My heart started pounding

Just as soon as I read the confirmation. Of course with a large orange exclamation point to the left, it’s hard to miss out on the surprise of it all. It was the same physical response as katimavik, the rush of energy, the sudden need to get up and yell. But, unfortunately,  my doubts came creeping in much faster than expected. A part of me wonders if I am just focusing too much on who’s in my life right now. If I’ll lose them. Which is strange because, in a way, I already did (I feel partly that it’s because I still wanted to tell you first out of everyone I know). Why am I placing so much value on people being left behind? Isn’t this the reason why I wanted this so bad? To actually get out and experience things again?  To not put other’s before myself? (there is a wondrous oxymoron in there) Plus I have so much time to prepare this go around, which is leaving me too much time to toss around all the sides of my polyhedral thought-dwelling die. Coated in emotional residue no doubt. Oh well. This could be the answer to the dreamers of dreams. 

youtube

Happy birthday my counterpart, Andreanne Poirier. I miss you, you know! Wish I were there so we can celebrate your 21ans together just like we did last year :’) 

Reminds me of my time back in 'Nam

I’ll be able to use this phrase now folks, at my liberty when I get back, as I have just accepted an exchange to Vietnam. Seriously, I’m very stoked for this prospect and the ability to throw out that wonderful little intro in conversations. (You could say I’m phoking excited)

It’s no Ukraine but at least I get to discover my second option. A little disheartened that the Canadian province is Ontario, but hey I have the chance to meet up with some of my Katima-friends, and that the project is 4 months instead of 6, but take it or leave it. 

As Jamie told me; “There is the life, and its there for you. Don’t be afraid of it. Go take it." 

I’m grabbing on. 

jangan biarin Indonesia asem terus

Pernah ga teman-teman mengalami masa-masa labil ketika kalian sering mempertanyakan dalam hati, “Kenapa sih gue terlahir kaya gini?” atau ”Kenapa sih gue ga kaya dia yang cantik/ganteng, keren, populer, pintar, menarik, gaul, mudah banget dapet pacar?“ dan sejenisnya? Saya pernah! :)

Saya pernah hidup dalam kelabilan identitas ketika saya berusia belasan. Bingung menentukan jati diri, ga jelas arahnya ke mana, takut tidak diterima, mau bergaul dengan kelompok yang mana atau saya nanti mau jadi seperti apa. Ketika akhirnya saya sampai pada suatu titik dimana saya mulai belajar untuk mengenali diri saya lebih jauh, lebih dalam dan akhirnya mengerti bahwa menjadi diri sendiri itu ternyata lebih membahagiakan dan menyehatkan.

______________________________________________________________________

Awal 2010 kemarin, saya mendapat kesempatan untuk mengikutsertakan karya tugas akhir saya di beberapa kegiatan dan pameran arsitektur berskala nasional dan internasional yang melibatkan mahasiswa arsitektur dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia serta beberapa negara Asia dan Eropa. Saya dan teman saya, Tri Woro Setiati (Woro), mewakili kampus saya yang kebetulan satu-satunya dari Sumatera. Selama kegiatan itu, saya bisa merasakan betapa berbedanya kultur pendidikan arsitektur yang selama ini saya terima dengan mereka yang ada di luar daerah saya.

Ketika saya dan Woro menghadiri pameran sayembara desain rumah yang diselenggarakan oleh Tabloid Rumah di Plaza Indonesia, Jakarta, kita berkesempatan untuk berdiskusi dengan Mas Adi Purnomo (Mamo), seorang arsitek, yang juga penulis. Beliau adalah sosok yang sederhana dan senang berdiskusi tentang pendidikan arsitektur di Indonesia.

Jadi waktu itu, kita sempat curcol (curhat colongan) dan mengeluh ke beliau tentang gimana rasanya jadi underdog di kalangan mahasiswa arsitektur se-Indonesia, merasa jadi anak bawang karena berasal dari daerah yang lingkungan, fasilitas dan atmosfer anak mudanya tidak sekreatif daerah lain, terutama di Pulau Jawa.

Apa tanggapan beliau?

"Jangan pernah salahkan lingkunganmu, kamu yang harus berani breakthrough. Kamu boleh lihat mereka, belajar dari mereka, tapi kamu ga perlu meniru gaya mereka untuk bisa menjadi hebat. Lingkungan kamu ga kreatif? Kamu yang harus memulainya! Manfaatin lokalitas dan potensi kreatif daerah kamu, kreatifnya anak Sumatera ga harus sama dengan anak Jawa kan?!”

Deg! Saya dan Woro saling pandang. Pikiran berkecamuk dalam otak dan hati masing-masing. Saya tahu, saya sadar, ternyata memang ga perlu jadi orang lain untuk ‘dianggap’. Menerima kenyataan dan keadaan diri sendiri memang tidak mudah. Apalagi jika kita mulai masuk di lingkungan baru, yang lebih luas, yang menuntut kita untuk jadi seseorang yang 'lebih’. Hampir bisa dipastikan, kita akan mengalami gegar budaya. Menarik diri dari lingkungan, malu, minder, pasif dan jadinya tidak bisa mengeluarkan semua kekuatan kita, padahal kita tau banget kalo kita mampu.

Sepulang dari Jakarta, saya langsung curhat sama Pak Johannes Adiyanto (JoA), dosen yang merangkap teman ngobrol dan partner diskusi saya semasa kuliah sampe sekarang, tentang hal itu. Beliau bilang, “Din, think globally, act locally. Kamu harus jadi orang seperti itu”

______________________________________________________________

Sekarang, sekitar tujuh bulan sejak kejadian itu, di negeri orang yang kulturnya sangat jauh berbeda dengan Indonesia ini, saya kembali teringat pesan Pak JoA tentang pentingnya berpikir lokal di tengah globalisasi. Kadang ada perasaan direndahkan karena mungkin kita berasal dari negara yang mereka sebut sebagai negara dunia ketiga dan istilah lainnya. Secara personal, saya tidak mau dan tidak akan mempermasalahkan praduga-praduga yang mungkin muncul selama program ini berlangsung. Karena bagi saya, sekarang bukan saatnya menghabiskan waktu untuk mengidentifikasi siapa yang 'kurang’ dan siapa yang 'lebih’. Tapi justru ini saatnya untuk meraup hal positif sebanyak mungkin dan belajar sebanyak mungkin dari kultur dan bangsa mereka ini untuk mengembangkan pribadi yang lebih baik, yang lebih matang, yang tetap menjadi diri sendiri, yang tetap rendah hati, berkarakter lokal namun berwawasan global. Bukan pemuda Indonesia yang setelah program malah jadi lebih bule daripada bule, sok amrik gitu!

Mungkin karena alasan ini juga, ada jargon yang selalu disebut-sebut oleh Asosiasi Alumni Canada World Youth Indonesia (AA-CWYI), yang selalu diamanahkan kepada kami, yaitu “Involve, But Not Dissolve” yang artinya kurang lebih “Terlibatlah, Tapi Jangan Larut”.

Ngomong-ngomong tentang larut, kalau teman-teman dikasih satu gelas jus jeruk yang masih asem, kalian bakal ngapain? Minta gula atau marah-marah minta ganti jus semangka yang jauh lebih manis? Kalau diibaratkan, air jeruk yang masih asem itu sebagai Indonesia, gula itu sebagai hal-hal positif yang mau kita larutin ke Indonesia dan jus semangka itu sebagai negara lain. Kita diberi Tuhan hidup sebagai pemuda Indonesia, negara yang bagi sebagian kalangan mungkin melihat kekurangannya jauh lebih menonjol daripada kelebihannya, sekarang apa yang mau temen-temen lakuin? Mengeluh, ngatain bangsa sendiri, berontak ga mau dan bilang, “Kenapa sih gue lahir sebagai orang Indonesia, negara ga ada beres-beresnya, serba ketinggalan, malu! Kalo dikasih kesempatan reborn, gue minta buat terlahir lagi sebagai orang Singapura atau Kanada atau Amrik aja deh, modern, maju, gaul gitu!”, ATAUteman-teman mau berusaha melarutkan hal-hal positif ke dalam Indonesia agar bisa jadi lebih baik?

Sekarang, tinggal pilih, mau jadi pemuda Indonesia yang seperti apa? Jawab sendiri dalam hati, you choose!

______________________________________________________________________

Post Script :

tulisan ini saya buat gara-gara ga sengaja lagu Apatis-nya Ipang mengalun di pemutar musik digital saya dan ada liriknya yang saya suka banget dari dulu, yaitu :

“Sudah lahir, sudah terlanjur, mengapa harus menyesal? Hadapi dunia berani, bukalah dadamu, tantanglah dunia, tanyakan salahmu, wibawa!”

Tulisan ini juga bisa dibilang sebagai introspeksi diri saya. Agar saya SELALU bangga jadi diri sendiri, jadi pemuda Indonesia yang bertanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa satu, yang mampu berjalan dengan tegak maju, tanpa harus malu. 

biarpun saya pergi jauh, tidakkan hilang dari kalbu. tanahku tak kulupakan, engkau kubanggakan. SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA!