cuek

Jatuh Cinta Sama Orang Cuek? Bertahan atau Tinggalin?

“Sayang, aku barusan habis dari minimarket lho”

“Ohya?”

“Iya, aku beli coklat kesukaan kamu. Nanti aku bawain deh pas ketemu.”

“Wah, asik.”

“Kamu udah makan belum, sayang?”

“Udah kok”“Ini lagi ngapain sekarang?”

“Lagi baca buku aja”

HIH!

Pernah gak sih kamu mengalamin yang kayak gini? Hmmm bisa jadi. Orang cuek is everywhere dan bisa jadi kecuekan itu ada pada pacarmu. Punya pacar yang cuek itu sebenernya asik gak sih? 


Ada yang bilang kalau pacar yang cuek itu bisa jadi dia gak begitu sayang sama kamu, ada yang bilang juga itu bawaan lahir jadi mau diapain aja tetep cuek. Kamunya udah perhatian setengah mati buat dia, eh dianya datar aja jawabnya atau bahkan menganggap semua perhatian kamu itu adalah hal biasa yang tidak perlu diapresiasi.

Kadang kesel sih punya pacar yang cueknya setengah mati, kita gak ngasih kabar seharian aja dia bisa aja gak nyariin kita. Pernah ada kasus juga ketika kita ulang tahun, eh dianya inget aja enggak. Nah, sebenernya pacar cuek itu gimana sih?

1. Cuek itu gak berarti gak sayang
Emang ada tipe-tipe orang yang cuek dan gak perhatian. Kadang kalau kita lagi kesel, bisa aja kita ngambil kesimpulan kalau dia gak sayang, duh padahal belum tentu. Buat dia, kecuekannya dia itu biasa aja, sementara ketika dia melihat kamu mempermasalahkan kecuekannya maka kamu akan dikira lebay. Eh dianya malah tambah cuek.

Keep reading

Semoga aku lebih ikhlas. Lebih bisa memahami daripada meminta dipahami. Lebih bisa menerima apa-apa yang tak sesuai dengan hati. Lebih positif kepada segala sesuatu. Lebih dewasa dan bijak dalam menyikapi masalah-masalah. Lebih lembut perangainya. Lebih patuh kepada orang tua dan guru-guru. Lebih menarik dan menyenangkan bagi orang-orang sekitar. Lebih cerdas. Dan lebih cuek.
—  Agar kau, lebih peduli…
Sedikit Bocor(an)

Ada yang tak kumengerti dari lelaki, ketika kusampaikan uneg-unegku dan dia hanya seperti angin yang berlalu. Tapi aku sependapat dengan adik laki-lakiku bahwa jika ada masalah sebaiknya langsung disampaikan, gak perlu bolak-balik update pm, update status hanya agar dia mengerti bahwa kamu kenapa-napa.

Tapi piye, ncen perempuan itu susah ngomong blak-blakan dan masih beraninya hanya ngode saja. Sementara lelaki sesungguhnya tidak menyukai kekonyolan itu. Tindakan yang berlebihan justru membuat lelaki milih cuek atau bahkan pura-pura ndak tahu. Padahal dengan bertindak demikian, artinya lelaki telah siap dinesui.

Saat itu perempuan akan bertindak setidak-rasional mungkin. Pertanyaan demi pertanyaan tidak akan berdampak besar kecuali ketika lelaki bertanya sambil ngerayu. Juga dalam titik ini lelaki biasanya ora ngerti kudu piye. Hebat ya, perempuan bisa membikin lelaki sebegini sumpeknya.

Jujur, aku merasa bersalah pada orang-orang yang pernah kena tabiat buruknya kewanitaanku. Apalagi di umurku yang saat ini sudah bukan waktunya untuk bertindak seperti bocah. Namun sejauh ini juga aku mulai belajar untuk ndak kakean caper. Meski sebenarnya aku tidak berubah banyak dan justru lebih butuh perhatian-pengertian seseorang.

Bagaimana pun hal itu disikapi, perempuan memang lahir dengan rasa malu. Ia malu memulai mengawali menyapa, malu bilang “aku kangen” duluan, malu menyampaikan keresahannya. Sebenarnya tidak hanya malu. Sebab perempuan makhluk yang perasa, sebab itu ia mencampuri segala hal dengan tetek bengek yang dirasakannya.

Khawatir, takut, sungkan, ragu, dunanges, gak tego, dan segala macam rasa yang (semestinya) manusiawi. Perasaan-perasaan semacam itu pada akhirnya justru menjadi bumerang yang memberi cap “makhluk yang rumit” pada perempuan. Dan akhirnya, lelaki akan selalu berakhir dengan kalimat “karep sampeyan opo se, dek”. Dalam hati perempuan akan berteriak “kowe ra tau ngerti aku, mas”. Pokwe!

Gak gak, sebenarnya perempuan hanya ingin didengar. Pancing dia untuk bisa menumpahkan keresahannya, maka kau akan temui perempuan yang tidak rumit. Aku gak bisa bersumpah, tapi dia memang butuh didengar dan bukan malah diabaikan.

Malang, 17 Maret 2017

Harapan dalam doaku.

Banyak yang bilang ‘Jodoh itu dekat’. Karena itu aku sedang berusaha agar tidak ada interaksi kecuali perlu dan penting. Bukan hendak bersikap dingin, cuek, atau sok keren. Juga bukan karena sombong, jutek, atau sok jaim.

Sebab aku takut jika hanya karena interaksi yang sebenarnya belum perlu itu aku malah tidak layak jadi wanita yang membersamai langkahmu. Bukankah biasanya yang sudah lama dekat itu hanya sekedar teman pada akhirnya, bukan sebagai teman sehidup sesyurga bersama selamanya?

Seandainya kamu tahu, aku pun ingin menyapamu, meski sekedar salam, meski sekedar ucapan terima kasih atas perkenan dari-Nya untukku mengenal namamu.

Aku sedang mendidik diriku untuk menjaga diri di tengah perjuangan mewujudkan mimpi. Mungkin saat ini kita hanya bisa bertemu lewat tulisan dan kata-kata, lewat lantunan doa, meski tidak pernah ada senyum sapa, bahkan jika kita tidak pernah benar-benar bertemu sebelumnya.

Semoga tulusnya niat dan hatimu dalam meyakini dan mencintai Al-Qur’an membuat Dia berkenan mempertemukan kita di saat yang tidak pernah kita duga sebelumnya.

Aku masih berusaha percaya, bahwa masih ada seorang wanita yang ingin dicintai dengan Al-Qur’an dan berkenan mencintai karena Al-Qur’an. Yang pandangannya jernih melihat potensi bukan sekedar hasil jadi. Bukan karena aku tak hendak menjemputmu dalam keadaan serba nyaman, tapi bolehkah aku tahu bagaimana kelak caramu menggenggam erat tanganku meski dalam keadaan yang tidak pernah terpikirkan?

Kamu tahu hidup ini penuh resiko, ujian, dan ketidakpastian, kecuali kematian. Percayalah, bahwa laki-laki yang memahami tugas dan tanggung jawabnya, yang memahami bahwa wanita adalah dari Rabb-Nya yang harus ia jaga, tidak akan pernah tenang melihat wanita menitikkan air mata.

Bukankah kamu juga paham, bahwa seberapa besar usaha kita dalam merawat Al-Qur’an, sebesar itu pula hidup kita akan dicukupi Ar-Rahman. Lalu adakah yang masih hendak kamu ragukan?

Buatku, kecintaanmu dan keyakinanmu yang tinggi terhadap Al-Qur’an, pemahamanmu akan keimanan dan kesediaanmu bertahan dalam kesabaran, jadi jaminan untukku bahwa dirimu adalah sebaik-baik teman dalam menghadapai ujian, yang tidak pernah letih untuk menguatkan hati.

Azas Neozep Forte

Dua hari ini gw minum obat tiap hari. Sejak pulang dari Jakarta, mulai demam, lalu sengaja hujan - hujanan baik itu pas naik gojek ataupun jalan kaki. Biar apa? Biar tiba - tiba ada cowok yang datang sambil bawa payung. 

Ga gitu juga sih. Gw yang sebenarnya terlalu pemikir, sedang berusaha cuek aja. Mikirnya, kalo keujanan dan sakit, yodah minum obat. Makanya setiap malam minum Neozep Forte, padahal biasanya jarang minum obat.

Kita ga boleh bersikap konyol begitu, itu namanya ga ikhtiar jaga diri. Tapi kadang gw harus bersikap begitu, karena kalau tidak, gw ga akan berjalan kemana - mana sebab terlalu panjang mikirnya.

Kayak kebanyakan mikir konsep usaha, akhirnya ga jalan - jalan hanya karena mikir marginnya ga gede lah, proses produksi rumit lah, profitnya ga banyak lah, capitalnya kurang lah, bidangnya ga keren lah. Jadi yaudah, pake azas Neosep Forte aja : jalan aja dulu, kalo bangkrut, yodah bikin lagi.

Katanya kalo bisnis kan pasti banyak gagal tuh, jadi bikinnya yang kecil - kecil aja dulu, kalo gagal, ruginya ga banyak - banyak amat. Jadi azas Neozep Forte gw juga bukan prinsip konyol tanpa rencana apapun.

Atau ketika kita mau sedekah lalu takut duit kita habis, bisa tuh azas ini dipake : sedekahin aja, ntar juga pasti diganti sama Allah. Kalo keabisan duit, ya bodo amat, punya temen ini yang bisa diutangin. Masa iya Allah cuek banget sama orang yang sedekah.

Kadang - kadang kita terlalu banyak pertimbangan untuk berbuat sesuatu sih. Padahal yang kita pikirkan belum tentu terjadi, itu pertama. Kedua, yang kita pikirkan adalah hal - hal yang berada di bawah kekuasaan Allah, jadi ngapain kita pikirin? Bukan jobdesk kita, kita mah ikhtiar aja tugasnya. Ketiga, kalaupun itu terjadi, ga semenakutkan bayangan kita juga seringkali.

Jadi ya, kadang - kadang mah, azas Neosep Forte emang dibutuhkan ketika kita ditahan oleh pikiran buruk saat akan berbuat baik.