contemplations

the good thing I like about myself right now is that I dont have real expectations from this life any longer. These almost last two years have humbled me in such a way that I do not wait for anybody to win my heart, I don’t dream about any big career, I don’t have something that might shatter me if I don’t get it anytime soon. This does not mean that I am not working on myself, that I am not studying or never plan to get married. I am just kind of okay alhamdulillah with the things I have and if I get more in the future, then alhamdulillah for that and if not, alhamdulillah as well because I didn’t expect it from this life anyways.

The thing is, if you think about it - Sam never had 15 years of experiences to think about anything else. It makes sense that he went right back into Avery’s treasure because he had 15 years to himself and trying not to die in a cell to think about it. He didn’t know he was going to be released sooner than later, so all he had was time to think “what if we found what our mom was talking about?”

Nate had 15 years, as well as three ancient cities, a girlfriend, then a wife, Sully and so many people and all the time to move on from what happened. He never talked about it and never looked back on Henry Avery. When Sam came back that was all he cared about. He didn’t care about Avery’s treasure, he was done with that, but he did it for Sam.

At the end when he found out that Alcazar was a lie, all he wanted was to go home. Sam on the other hand was in sight of the treasure he was looking for and thinking about his entire life. The treasure his mother was looking for, the treasure they built up towards as a family, him and nate, they were so close to the most sentimental thing in the world for him and he wasn’t going to let it slip.

So I don’t think it was greed or selfishness that drove Sam. He is way more complex than that.

Semoga Hari Ini, Harga Maaf Tak Semahal Kemarin

Suatu hari, kamu mungkin menemukan dirimu merasa kesulitan untuk memaafkan kesalahan orang lain. Sebab yang dilakukannya terhadapmu bisa apa saja: mengkhianati kepercayaan, melanggar janji, menertawakan mimpi, mematahkan semangat, menyakiti dengan kata atau sikap yang tidak disadarinya, atau bahkan memasuki pintumu terlalu jauh lalu membuat kekacauan di dalamnya. Bagaimana pun, jika memang memaafkan menjadi sesulit itu, maka sebabnya mungkin memang bukan sebab-sebab yang biasa hingga kamu pun tersakiti sedemikian dalamnya dan maaf itu jadi tak mudah untuk diberikan secara cuma-cuma. Hatimu terluka, hingga rasanya berat bagimu untuk mengingat apa-apa yang telah terjadi sebelumnya dan memaafkan semuanya.

Entah bagaimana, luka-luka di hatimu bertransformasi menjadikan dirimu seseorang yang belum pernah kamu kenal sebelumnya. Kamu pun terkaget-kaget sebab caramu bersikap dan berkata-kata menjadi sangat berbeda, baik dalam interaksi tatap muka atau pesan singkat di dunia maya.

Kamu merasa tidak kenal dengan dirimu yang pemarah, tapi di hari-hari itu, entah mengapa kesalahan kecil pada orang yang menyakitimu itu menjadi mudah terlihat besar, pun dengan kebaikan kecilnya, kamu merasa itu menjadi tidak ada artinya.

Kamu merasa tidak kenal dengan dirimu yang dingin, mudah marah, dan tidak ramah, tapi di hari-hari itu, entah bagaimana, kamu malas untuk beramah tamah, malas menanggapi, dan malas berinteraksi, sebab mungkin, jika semua itu dilakukan, energimu akan habis tak bersisa.

Kamu merasa tidak kenal dengan dirimu yang menyederhanakan kata-kata dan bicara seperlunya, tapi di hari-hari itu, entah bagaimana, kamu merasa tidak perlu membicarakan atau menceritakan apa-apa, sebab untuk membagikan senyum saja rasanya melelahkan luar biasa.

Energi saat sulit memaafkan orang yang menyakitimu ini ternyata besar, sangat besar! Jika boleh, mungkin kamu ingin menggunakannya untuk berteriak di depan mukanya, menyampaikan marah, sedih, kecewa, dan seluruh perasaan yang lainnya, hingga bahkan membentak dan menyuruhnya pergi sejauh yang tidak bisa kamu temukan lagi. Tapi, secercah kebaikan, ketulusan, dan kelapangan yang masih ada di sudut hatimu yang lain menahannya, sebab hatimu memahami bahwa jika kamu melakukan semuanya, maka yang berperan adalah hawa nafsumu, bukan hatimu yang seluas lautan langit itu.

Sepagi ini, sudahkah kamu mengambil waktu untuk berdua saja dengan dirimu lalu bertanya pada hati kecilmu tentang apa kiranya yang membuatmu menjadi demikian?

Kamukah itu orangnya, yang memupuk amarah di dalam hati hingga tersakiti sendiri? Kamukah itu orangnya, yang menggenggam benci hingga untuk menerima kebaikan ruangnya menjadi tak tersisa lagi? Kamukah itu orangnya, yang menaikkan harga maaf hingga tak mampu terbeli oleh orang yang bersalah kepadamu? Kamukah itu orangnya, yang menjadikan kesal dan amarah sebagai bahasa ibu?

Bukan, sayang! Itu bukan kamu, bukan dirimu, bukan hatimu! Sebab, sebagaimana sebelumnya, kamu adalah orang yang wajahnya teduh dan meneduhkan, kata-katanya tenang dan menenangkan, dan hatinya luas seluas lautan. Maka, meski ia menyakiti hatimu, meruntuhkan seluruh benteng pertahananmu, dan meninggalkan luka yang berdarah di hatimu, maafkanlah dan didiklah hatimu untuk menjadi yang bermudah-mudah dalam memaafkan. Kamu tahu, pemenang bukanlah yang menunggu orang lain meminta maaf dan melonjakkan harga maaf menjadi sedemikian mahalnya, tapi yang lebih dulu memaafkan dengan tulus dan tanpa banyak pertimbangan.

Bagaimana pun, ia yang menyakitimu atau siapapun itu tidak ada yang sejak awal sudah berniat ingin menyakiti, sebab pada awalnya ia mungkin tidak sengaja, tidak bermaksud membuatmu terluka, juga tidak ingin mengacaukan ruang-ruang hatimu sedemikian rupa. Hanya saja, setiap kejadian adalah ketetapan, sebab Allah ingin kamu belajar. Sudah cukup kamu menuruti egomu, sekarang selesai dan maafkanlah, ya! Seperti halnya dirimu, setiap orang memang berpotensi mengecewakan, berpotensi juga untuk melakukan kesalahan. Tapi, semua orang juga berhak untuk termaafkan.

Lalu bagaimana jika semua masih terasa sulit? Maafkanlah dirimu sendiri terlebih dahulu yang telah bersalah pada diri dan Penciptamu sebab terlalu mudah mengikuti hawa nafsu. Kabar bahagianya, Dia Maha Pemaaf dan tak ada yang sulit bagi-Nya untuk membuatmu mudah memaafkan. Selamat berjuang, semoga hari ini harga maaf tak semahal kemarin :”)

I just came up with something

so vampires are dead, or like undead whatever, alright? and they don’t need to breathe, okay?
so basically, vampires would be unstoppable under water
just imagine vampires exploring the deep ocean, because the pressure wouldn’t kill them

Pernah Sebelumnya

Pernah sebelumnya, hatimu menjadi seluas lautan dan langit. Kamu memaafkan siapapun yang menyakitimu, mengikhlaskan apapun yang lepas dari genggamanmu, merelakan segala sesuatu yang berjalan tak bersesuaian dengan inginmu, dan mempercayakan kebaikan pada ketetapan penciptamu. Atas seizin-Nya, semua terlalui dan bahagia itu nyatanya tidak bisa tersembunyi lagi. Maka, atas segala yang terjadi hari ini, bukankah hatimu bisa menjadi seluas lautan dan langit lagi? Maukah kamu melakukannya sekali lagi?

Pernah sebelumnya, langkahmu menjadi setegap barisan prajurit-prajurit. Langkah itu tidak berhenti, sekalipun di perjalanan mungkin tak sengaja menginjak duri; bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Sebab, hatimu memahami bahwa langkah prajurit tidaklah pernah berhenti, semangatmu kian mewujud dan lelahmu tersembunyi. Atas seizin-Nya, perjalanan itu selesai, langkah itu telah sampai. Maka, jika hari ini perjalananmu menerjal, bukankah langkahmu bisa menjadi setegap prajurit lagi? Maukah kamu melakukannya sekali lagi?

Pernah sebelumnya, caramu berpikir menjadi sejernih embun-embun pagi: menentramkan dan menenangkan gelombang yang pasang silih berganti. Tak peduli kekacauan apa yang tengah terjadi, di dalam kepalamu tetap terletak damai dan tenang, sebab hatimu memahami bahwa persepsimu tentang segala sesuatu adalah sebentuk tanggung jawab pribadi. Atas seizin-Nya, kerumitan telah terurai tanpa tersisa lagi. Maka, jika hari ini kekacauan itu meledak-ledak di pikir, hati, dan bahkan kelopak matamu, bukankah pikirmu tetap bisa sejernih embun pagi lagi? Maukah kamu melakukannya sekali lagi?

Seperti sebelum-sebelumnya, manusia dengan kebaikan hati seluas lautan langit itu ada dan jelas nyata. Lalu, dengar sebentar! Maukah kamu percaya jika kukatakan bahwa manusia itu kamulah orangnya?

Terima

Pernerimaan orang lain terhadap kita teruji bukan di saat kita sedang baik-baik saja, tapi di saat kita sedang dalam kondisi lemah, menyebalkan, melelahkan, dan menuntut kesabaran. Mereka yang tetap tinggal, menerima, dan membersamai, adalah mereka yang lebih dari layak untuk juga mendapatkan penerimaan.

Saya pernah mengisi acara dengan kecanggungan luar biasa. Acara itu adalah Riding The Waves yang diselenggarakan beberapa pekan lalu. Kecanggungannya bukan tersebab masalah-masalah teknis seperti materi, penguasaan skill, atau lainnya. Sebaliknya, semua itu muncul dari melihat beberapa panitia acara yang hari itu sit in menjadi peserta, dimana mereka notabene adalah sahabat-sahabat saya yang setiap hari bertemu, berbicara, dan berbagi banyak hal dengan saya, hingga mereka mengenal dengan baik bagaimana saya yang sebenarnya. 

Materi hari itu tentang menulis dan mengendalikan perasaan menjadi tersampaikan dengan cara yang berbeda. Sebab, saya memahami betul bahwa di depan saya ada orang-orang yang paham betapa saya terkadang juga sering kesulitan menahan dan mengendalikan gelombang perasaan. Mereka yang beberapa kali menemukan saya menangis di meja kerja, mereka yang tiba-tiba saya peluk lama-lama tanpa bicara apa-apa, mereka yang tiba-tiba saya hubungi di waktu yang tidak terduga, mereka yang tetap tertawa menghadapi saya yang sedang marah atau tidak ramah atau sedang tidak ingin bicara dengan siapa-siapa, mereka yang sering saya ceritakan masalah yang itu-itu saja, juga mereka yang biasanya menjadi tempat saya mengalirkan berbagai perasaan tentang berbagai keadaan. Uniknya, mereka tetap menerima, membersamai, dan melihat segala sesuatu dari sisi baiknya.

Pernah suatu hari saya dan salah satu dari mereka pergi berjalan kaki untuk mencari kudapan berbuka puasa, lalu saya bertanya, “Teh, aku pernah dapat cerita dari temanku, dia katanya tiba-tiba jadi sebel banget sama penulis X yang terkenal banget itu karena setelah ketemu, ternyata si X jauuuuh banget bedanya dari gimana dia menulis di buku-bukunya, katanya ternyata dia jutek, ketus, dan sama sekali engga lembut. Terus, temanku yang lain pernah bilang kalau dia sebel banget sama Y yang at first dia tahu kalau quotesnya bagus-bagus gitu eh tapi ternyata beberapa kali temanku mergokin dia suka texting dan jalan sama yang bukan muhrim, ga pahamlah gimana temanku itu bisa tau, tapi intinya kontradiktiflah, ya. Nah, belajar dari cerita-cerita temanku soal kontradiksi itu, aku jadi pengen nanya. Teteh tahu gimana aku menulis, dan teteh tau juga gimana aku sehari-harinya, terus gimana, kenapa penerimaan itu tetep ada sementara beginilah aku sebagaimana adanya? Lalu sahabat saya menjawab,

“Aku tau banget kok kalau kamu tipe-tipe orang yang belajar dari tulisanmu sendiri, pun ketika kamu ngomong di depan umum, bukan karena you are one level higher, tapi karena memang lagi nasehatin diri sendiri juga, kan. Tapi ya jangan terlena terus stuck in one point dan engga mau bebenah lagi, jangan juga sampai kayak kasus X dan Y yang meskipun kita engga bisa validasi kebenarannya karena kenal juga engga, tapi setidaknya bisa belajar dari ceritanya. Namanya manusia, kamu juga suka nyebelin kok, nyebelin banget malah, dan aku yakin pembacamu engga tahu kalau kamu nyebelin. Terus, kenapa penerimaan itu tetep ada? Simple, karena aku merasa engga perlu mempersyaratkan apa-apa lagi selain iman dan bersahabat karena Allah. Kita semua gudangnya salah, kok, tapi selama kita belajar terus dan saling membersamai dalam perbaikan-perbaikan, kenapa engga?

Deg! Panah-panah seperti sedang menusuk hati saya, lalu saya pun bertanya-tanya kepada diri sendiri, “Apakah penerimaan yang sama sudah saya lakukan terhadap orang-orang di sekitar saya?”

Bagaimana pun, setiap orang pada titik-titik tertentu dalam hidupnya pasti pernah merasa bahwa melakukan penerimaan terhadap orang lain itu tidak mudah. Maka, penerimaan boleh jadi merupakan anugerah yang indah, yang mungkin tidak semua orang akan dengan senang hati bermudah-mudah melakukannya. Sepakatkah?

Kabar baiknya, tidak ada perasaan yang lebih membahagiakan dari pada merasa diterima oleh sahabat-sahabat seiman sebagai seorang manusia meski sebenarnya ada banyak hal dalam diri kita yang tidak mudah untuk diterima. Selain itu, tidak ada pula perasaan yang lebih melegakan dari pada merasa tidak diterima apa adanya sebab oleh mereka kita didorong untuk terus melakukan perbaikan.

Sekarang, tengoklah siapa yang ada di lingkaran pertemananmu, lihat bagaimana mereka melakukan penerimaan yang tulus terhadapmu dan mendorong-dorongmu untuk terus memperbaiki diri di berbagai sisi. Tidakkah itu membuatmu melangitkan syukur sebab Allah nyatanya telah memperbaiki banyak hal dalam hidupmu termasuk juga lingkaran pertemananmu?