contemplations

6

Countdown to SHINee’s 2016 Comeback | Past Comeback Stages - Love Like Oxygen

Powerful atau Powerless?

Akhir pekan lalu, dalam obrolan random di sepanjang perjalanan dari Lembang menuju Dago, saya dan teman-teman tiba-tiba saja membicarakan tentang topik sederhana yang menarik dan mencerahkan. Tanpa rencana, obrolan kami ternyata membuat kami melihat pada diri kami masing-masing.

“Eh, teh, kenapa ya, aku merasa sekarang aku terlalu keras sama diri aku sendiri tentang masalah komitmen dan waktu. Ternyata, hal yang sama juga aku lakukan ke orang-orang di sekitarku. Hmm, misalnya aku janjian sama orang jam 4 sore, terus dia baru datang jam 5 sore, menurutku itu failed banget! Aku jadi kesal karena aku merasa orang itu sangat mengabaikan komitmen dan jadinya gak efektif.”

“Hmm, kamu kesel ya, dek? Kamu kesel karena menganggap dia mengabaikan komitmen dan gak efektif?”

“Iya, teh! Terus jadinya suka bingung, aku tunggu aja sampai dia datang tapi akunya kesel atau aku tinggalin aja tapi nanti dianya marah.”

“Ya sebenarnya kamu selalu punya pilihan. Kamu bisa memilih untuk tetap menunggu atau kamu juga bisa memilih untuk meninggalkan dia dan pergi. Asaaaaal, kamu tau apa alasan kamu memilih salah satu diantara kedua pilihan itu.”

“Iya, sepakat! Aku sebenarnya selalu punya pilihan untuk bertindak apa kalau kejadian itu terjadi.”

“Tapi, pastikan dulu alasanmu itu apa. Misalnya kamu mau ninggalin dia, alasannya karena supaya dia tau kamu bisa marah dan bisa kesal, atau karena kamu sayang dan kamu ingin dia belajar dari keterlambatannya? Fokus kamu adalah diri kamu sendiri yang ingin dipuaskan perasaannya atau kamu ingin kebaikan untuk orang lain?”

“Ah teteeeeeh, iya ya benar juga. Aku sadar, kesalnya aku itu muncul karena aku engga tulus. Aku hanya ingin dia tau kalau dia salah dan aku bisa marah. Padahal, kalau fokus aku adalah untuk kebaikan dia, perilaku yang aku tunjukkan ke dia juga pasti jadinya gak menyakiti karena hal yang terpentingnya bukan marahnya aku yang tersalurkan, tapi kebaikan untuk dia yang harus tersampaikan.”

“Iya, dek. Kamu bisa memilih kok, power kamu terletak pada dirimu sendiri atau pada orang lain. Kalau power kamu ada di dalam dirimu, kamu gak akan jadi korban atas apa yang orang lain lakukan. Mau dianya telat sampai 5 jam pun kamu akan tetap dalam kondisi yang stabil karena kamu telah melakukan apa yang menjadi value kamu, yaitu untuk selalu datang tepat waktu. Urusan dia akan telat atau tidak, it’s beyond your value. Tapiiii, kalau kamu jadi kesal karena dia telat, mungkin itu terjadi karena powermu ada di kendali orang lain. That’s why kamu jadinya bete atas perilaku buruk orang lain.”

Kemudian, seisi mobil sejenak hening. Semua orang tiba-tiba saja sibuk dengan isi kepala dan hatinya masing-masing, sadar ada sesuatu yang salah dengan diri dan hatinya selama ini.

***

Nah, lho! Jika dipikir-pikir, atas banyak kejadian yang terjadi di keseharian kita, mengapa kita lebih sering menjadi korban keadaan? Mengapa stabilitas diri dan hati kita mudah runtuh begitu saja karena kejadian di luar diri kita seperti perilaku buruk orang lain, apa yang orang lain katakan tentang kita atau bahkan hanya karena sikap tubuh dan pandangan mata orang lain terhadap kita? Mengapa kita mudah sekali menjadi powerless karena itu semua? Padahal, kalau saja kita bisa selalu sadar, ada kekuatan di dalam hati yang bisa selalu kita akses kapan saja kita mau. Ya, kekuatan yang diberikan-Nya kepada kita itu tidak pernah menjadi terlalu sedikit untuk menjadi kekuatan diri kita.

Tinggal dipilih, mau jadi powerful atau powerless?

***

Ngobrol sama teh @lutfiahhayati memang selalu mencerahkan :)

Meta Confessional #3

When I was little someone told me in elementary school that the world was flat, because actually we lived in a giant snow globe. She also told me that astronauts were lying because they would hit the glass dome and so they faked going into space, and that airplanes could only fly so far because if they weren’t carefull they’d hit the glass too, so that’s why they would fly so low.

After my initial dismissal, the scope of the world and how big it seemed to me, why all maps were flat, and how snow globes worked all weighed heavy on my mind as the days went on. I pondered how that, if the world WASN’T  a giant snowglobe, then how come things that typically happen to snowglobes, like sudden weather changes (ya shake it) or earthquakes (ya shake it) or how the day/ night cycle works (turnin the living room light on and off) applied to my reality.

That my friends is the start of the story of how Meta had an Existential Crisis in the 2nd grade because she thought we all lived in a giant snowglobe on somebody’s desktop and thought death by snowglobe dropping was an immanent threat.

Kalau Semua Orang Baik

Langit di atas kota Kupang cerah sekali sore itu. Saya dan beberapa teman sedang dalam perjalanan menuju sebuah tempat dimana kami akan membeli oleh-oleh setelah sebelumnya mengunjungi sebuah toko yang kurang kami minati. Di balik kemudinya, pak sopir semangat sekali menceritakan tentang barang apa saja yang mungkin akan kami temui di tempat itu. Dengan logat khasnya yang unik, ia juga bercerita tentang kisah di balik beberapa tempat yang kami lewati di sepanjang perjalanan.

Lama-kelamaan, seisi mobil mulai sepi. Pak sopir yang sudah hampir berusia tua itu mulai benar-benar serius mengingat jalan mana yang harus ditempuhnya agar kami tidak tersesat. Sementara itu, penumpang-penumpang mulai mengantuk karena lelah sisa bertugas sepanjang hari. Tiba-tiba, seorang teman yang duduk di bangku belakang memecah keheningan,

“Eh, kalian lihat engga baju-baju di toko tadi?”

“Oh iya, yang ada letteringnya itu?”

“Iya! Gue jadi kepikiran untuk bikin yang kayak gitu, tapi semua tulisan dan desainnya ada value positifnya. Hmm, kebayangnya sih itu akan tetap gaul tapi positif. Inginnya anak gaul yang bertebaran di jalanan itu jadi bangga pakenya.”

“Maksud lo, lo mau baju itu dipake sama anak jalanan tapi justru bikin mereka bangga sama value positif?”

“That’s right! Eh terus, lo tau engga kalau sekarang ini ada lho komunitas anak gaul gitu yang mereka anti-rokok dan anti-narkoba?”

“Wah, emang ada?”

“Yaaaah, lo kemana aja sih? Ada, jadi mereka itu bangga sama value komunitasnya karena mereka anti-rokok dan anti-narkoba.”

“Hmm gitu ya, bagus juga. Oiya, adik sepupu gue sekarang lagi masa-masanya suka main ke luar. Agak ngeri juga sih, takutnya malah salah gaul kan ribet jadinya.”

“Ya selama gaulnya positif menurut gue sih ya kenapa engga.”

“Iya juga sih. Ah, kalau aja semua orang itu baik!”

“Kalau semua orang baik, lo pikir dunia ini akan jadi lebih baik?”

“Jelas!”

“Engga kali! Nih ya, kalau semua orang baik, terus kita mau dakwah buat siapa? Siapa lagi orang yang bisa kita ajak untuk melakukan kebaikan?”

“Hahahaha, iya juga. Kalau semua orang baik, ga ada lagi tuh ajak-mengajak buat hijrah. Cerdas deh lo!”

***

Kalau semua orang baik, dunia belum tentu akan menjadi lebih baik, sebab semua orang telah sibuk dengan kebaikannya sendiri tapi mungkin akan lupa pada bagaimana kebaikan itu perlu disalurkan juga untuk orang lain. Kalau semua orang baik, obrolan antarmanusia mungkin tidak akan seru lagi, sebab semua orang sudah dengan pemikiran baiknya masing-masing. Kalau semua orang baik, saling mengingatkan tak akan lagi bermakna, sebab semua orang sudah berjalan lurus. Kalau semua orang baik, hijrah tak ada rasanya lagi, sebab ajak-mengajak ke arah kebenaran dan kebaikan akan menjadi sesuatu yang terasa biasa saja.

Kenyataannya, masih ada yang belum baik, masih ada yang belum sampai pada cahaya-Nya. Terima saja kenyataan ini! Sebab, dunia belum tentu menjadi lebih baik jika semua orang menjadi baik. Sebaliknya, kebaikan itu justru lahir dari keinginan agar orang lain menjadi lebih baik, bukan?

If Given a Destiel Kiss...

I want to first point out that I don’t need a Destiel kiss. I just need acknowledgement that their feelings are just MORE than best friends, MORE than brothers. That’s all I need from both characters. A Destiel kiss would be a bonus round.

I was talking with majesticaljeff on a different post of mine (x) about what a Destiel kiss may look like, so I decided to let myself indulge in the idea, even if it’s only for a moment.

My first thought would be a life and death situation, for that’s when Dean’s more prone to showing his true emotions.

Perhaps Cas is dying, that grace of his dissipating into nothingness. And perhaps Dean would kiss him before his angel dies. Part of his ramblings, part of him asking Cas to not leave. Perhaps he would kiss Cas when he feels Cas becoming cold, thinks Cas is dead and he doesn’t know what to do. Or perhaps Cas would have opened his eyes, show that he wasn’t dead after a moment or so of what seemed to be death, and it just….happened.

And if Dean was to do this to Cas, I don’t think Cas would have hesitation, I think Cas would find it natural, instinct kicking in or melting into it.

However, it may go the other way. Perhaps Cas is staring at Dean without the words, tears falling from him as he watches his Righteous Man die before he does it, unsure of how else to express himself. Perhaps Cas believes Dean dead once more, holding onto his corpse, remembering a tale about sleeping beauties and kissing him, hoping the tale was true. Perhaps Cas would have been frozen there, devastated by the fact that the man he had done everything for had just died, until Dean breathed once more and all Cas could think to do to express his emotions was a kiss.

And I feel like Dean would have more hesitation than Cas. Not because he loves Cas less, but more so from surprise, that it was happening that Dean himself was okay with it happening, and then allowed himself to kiss back or melt into it.

The next would be a cure for brainwashing.

Like Dean was able to break Cas’ brainwashing all that time ago, perhaps Cas will break Dean’s if the Mark was to take control. Maybe, in Cas’ desperation, it is the only thing he can think of to bring the Dean he knows and loves back…so he does it and breaks the Mark’s control over Dean.

The last I see is a Buffy/Spike reveal in the musical episode.

Some wonderful singing and dancing, all leading up to a big reveal at the end.

But who knows what the future holds? Hopefully, it is something wondrous.

“Anger is just anger. It isn’t good. It isn’t bad. It just is. What you do with it is what matters. It’s like anything else. You can use it to build or to destroy. You just have to make the choice.“

"Constructive anger,” the demon said, her voice dripping sarcasm.

“Also known as passion,” I said quietly. “Passion has overthrown tyrants and freed prisoners and slaves. Passion has brought justice where there was savagery. Passion has created freedom where there was nothing but fear. Passion has helped souls rise from the ashes of their horrible lives and build something better, stronger, more beautiful.”

—  Jim Butcher
(“Contemplations” newsletter from First Universalist, Denver)
Michael and Luci's Vessels

So, I’ve been thinking about this for a while. Dean was Michael’s True Vessel. Adam, as Dean and Sam’s half-brother, was able to be Michael’s vessel as well.

The vessels for strong angels like Luci and Michael are passed down through bloodlines. If John’s side of the family passed down the ability to be Michael’s vessel, does that mean Mary’s side of the family passed down the ability to be Luci’s vessel? Does that mean Mary could have been Luci’s vessel as well?

Also, if Sam and Dean are brothers, does that mean Michael could have chosen Sam as a vessel and Luci could have chosen Dean as a vessel? Could they both theoretically hold the two angels because they both come from those bloodlines?

I just feel like these things would be good to know at some point.