comuda

*** CURIOSIDADES CULINARIAS… DE TODO UN POCO ***

> En la antigua Inglaterra el clavo de especia tenía un valor superior, en peso al de oro.

> El chicle contiene goma.

> La india es el país del mundo con mayor producción de Te

> Las cebollas estaban tan sumamente consideradas en el antiguo Egipto que existía una variedad que era venerada como un Dios.

> En China el melocotón es un símbolo de inmortalidad.

> El helado más costoso del mundo esta valorado en $25,000 (te lo puedes comer en NY)

Bolivia: el único país latinoamericano que llevó a la quiebra a McDonald’s

Tristemente, es difícil imaginar una ciudad del mundo que no esté repleta de arcos amarillos señalizando hamburguesas y refresco. Pero si viajas a Bolivia no verás ni uno sólo de estos, ya que el último McDonald’s cerró sus puertas en el año 2002 y, desde entonces, la nación andina ha defendido su independencia en cuanto qué cadenas de comida rápida sirven a sus ciudadanos.

Lo curioso es que a los bolivianos les encantan las hamburguesas. Pero prefieren comprarlas a las miles de mujeres indígenas que las venden en las calles que a una compañía global.

Las personas se forman en la calle para comer hamburguesas. Es como un McDonald’s masivo, descentralizado, controlado mayormente por estas mujeres”, apuntó Tanya Kerssen, quien guía tours de soberanía alimenticia en Bolivia. “Miran con sospecha a estas entidades extranjeras, y con toda razón. Prefieren comprar y tener una relación con personas de su propio país y comunidad.

El presidente de Bolivia, Evo Morales, ha llevado a su país a ser el primer país latinoamericano que no tiene McDonald’s en sus calles. Lo más importante de todo es que, cuando Bolivia reescribió su constitución en 2008, el país se aseguró de tomar medidas para proteger su soberanía alimentaria, o control local, de intereses extranjeros. No solo se añadieron doce artículos en cuanto al control local sobre el alimento, sino que en los siguientes cinco años, Bolivia también añadió dos leyes de resistencia a la agricultura industrial.

Por su parte, Morales habló públicamente en contra de las cadenas de comida rápida de los Estados Unidos. “Imponen sus costumbres y sus alimentos”, le dijo a la ONU. “buscan beneficiarse y básicamente estandarizar la comida que producen a gran escala, de acuerdo a la misma fórmula y con ingredientes que causan canceres y otras enfermedades”.

El fin del reino de McDonald’s en Bolivia coloca a la nación andina una selecta lista de países sin los arcos dorados del payaso Ronald, la cual incluye a Korea del Norte, Libia, Vietnam, Kazahstan y el Vaticano.

El fracaso de McDonald’s es también el fracaso de la globalización y el proceso de homogeneización cultural, como bien apuntó Morales, y el triunfo de la diversidad cultural y la identidad colectiva.

BOICOT A MCDONALS, IM LOVING IT

Curahan Hati Komuda

Dengan sisa-sisa tenaga yang saya miliki hari ini, saya tekadkan untuk mengeluarkan curahan hati seorang komuda yang baru saja memasuki dunia rumah sakit yang sebenarnya.

Minggu ke-3 komuda, saatnya stase Obsgin -stase yang cukup diperbincangkan banyak orang-. Dua hari kemaren, kita cuma di bagian obsgin lantai 3, pengenalan bagian, kuliah dan praktek pemasangan alat kontrasepsi. Dan hari ini para komuda udah mulai berkelompok ke stase-stase kecil, dan jatah saya hari ini dapet jaga di poli kandungan. 

Jam 7 absen di lantai 3, langsung ke poli kandungan, datang-duduk-diam (tepatnya gak tau harus ngapain). Belom ada siapa-siapa, bahkan susternya belom dateng, apalagi para residen yang masih ada laporan pagi. Gak lama susternya dateng, dan beberapa pasien udah dateng. Karena gak ada kerjaan, kita malah tensi-tensian. Residen pun dateng, kita pun ditentir. Katanya sih kalo ada pasien, ikut masuk aja dua orang dua orang. Ya udah kita bagi-bagi pasien aja. 

Di stase yang hectic ini, coass cuma ada dua, lagi paceklik berat. Kesian juga liat coass yang mukanya kuyu abis jaga VK (kamar bersalin). Abis tentiran, kelompok kecil misah lagi sesuai kasus untuk laporan mereka. Nah, *ntah kemana abis ini mas coass menghilang* datenglah ibu hamil, merintih kesakitan di atas bed dorong. Sumpah gak tega banget liatnya, ibunya bilang perutnya kenceng-kenceng, sakiiiiiiiiiit bgt. Kayaknya nih kasus gawat deh. Akhirnya komuda diminta tolong suster untuk bantuin dorong bed. Curi-curi denger, ibunya rujukan dari bedah, pasien ca.mamae, udah metastasis, tangannya fraktur patologis, perutnya ascites, tambah lagi hamil gede. Oh god,,, kasian banget :( . Untung sang suami dengan senantiasa setia menunggui dan mengelus-elus perut sang ibu. Dia cuma bisa bilang “sabar, sabar istigfar,” sementara sang ibu “sing sakit, sing ngerosoin yah”. Dan kalau perutnya mulai kerasa sakit ibu itu teriak “yaaah… ayaaah”. Ibunya udah gak sanggup bergerak, tiada tenaga, cuma bisa merintih mengaduh kesakitan, sementara komuda gak bisa ngapa-ngapain selain menonton, menenangkan ibunya, dan bertanya-tanya kepada sang suami. 

Pas di VT residen, belum ada bukaan, tapi si ibu ngerasa kenceng-kenceng, ada apa ini. Denyut jantung janin pun tak terdengar. Aduh aduh. Udah di fetoskop, fetal doppler masih gak kedengeran juga. Curiganya IUFD. Ya Allah… kasian. Mana sembari nunggu residen konsul, ibunya cuma bisa berbaring, merintih kesakitan, tak berdaya dan sedih memikirkan nasib bayinya.

Akhirnya komuda yang tidak tau apa-apa cuma bisa bantu seadanya, seperti: bantu-bantu suster dan nganter pasien ke ruang USG. Pake acara kebodohan ‘salah buka pintu kamar USG’ oh so embarassing me =____=“ *maklum amatir, blom tau tempat-tempatnya*.

Ada lagi pasien handicap, hamil gede, rujukan dari Puskesmas, katanya dennyut jantung janinnya lemah. =____=”

Kebodohan lagi, berhubung baru kali ini menginjakkan kaki di poli, gak tau letak alat-alat. Pas diminta suruh cari sublimat, gw muter-muter setengah mati, *huhu dodol* dan ternyata yang gw pegang bener sublimat, akhirnya nemu. Udah gitu nyari fetal doppler susah banget lagi. Yaoloh,,, ampe minjem doppler UGD segala. Duh rempong banget deh akibat gak ada coass senior yang ngebimbing.  

Lagiiiiiiii, suspek IUFD. Lagi-lagi pak residen tidak menemukan gerakan janin dan DJJ. Padahal harusnya ibu ini melahirkan deket-deket ini. Ya Tuhan. 

Cukup hectic mondar-mandir bantuin suster dan residen semampunya. Walhasil jam 2 siang akhir juga, akhir dari hari yang cukup panjang ini, menemani 2 ibu yang mengalami nasib hampir sama. =_____=

Jadi mikir berkali lipat utk hamil. *tsaaah*

Hikmah hari ini: ternyata saya harus lebih banyak belajar lagi. Oke wassalam. 

Nano-Nano Day

8/9/2011 Kamis

Dari awal jadi co-muda udah jadi nano-nano day. Empat hari ini berasa asam, manis, pedes, asin, pahit banget deh. Dari yang ketawa-ketiwi, capek, didalemi, di'tohok'i, diberi pencerahan, dibuat kagum, dimarahi, dibuat pusing, disentaki, dibuka pikiran, senyam-senyum dewe, deg-degan, capek, pegel, stress dan tertekan tapi asyik. Macam-macam perasaan lah. 

Duh, supervisor saya pintar skaleeeeeeee. Ngefens deh sama bapak (terlepas dari ke'usilan’ beliau dan saya sering kena). Walaupun mood sangat fluktuatif, sedikit-sedikit ketawa, kadang menegangkan dan creepy (dan barusan saya disentak lagi) tapi, teteplah pak, saya kagum sama anda. Salut. Inspiratif sekali.

Selain supervisor, hari ini ketemu residen yang saya ‘secret admirer’-kan lagi :D. 

Kamu coass apa comuda dek?” tiba-tiba diajak ngomong. Jdeng! Jger! Jger! Mendadak tak berkutik, syok, dan goblok 'harus liat mukanya apa nametag’-nya.

'sa.. saya calon istri anda pak’, oke, hanya imajinasi liar saja, gak mungkin juga jawab gini, kecuali memang udah gak waras :P

Comuda pak … bla bla bla…” dengan tampang saya yang cengok abis. Arggg…

Pake jas kumel, pembawaannya asyik dan ternyata ramah. Oke pak residen, saya ngefen sama bapak.

LOL