coba

tiket

“The only source of knowledge is experience”

Kita diasuh oleh keputusan yang kita buat. Karenanya, kita terdidik untuk beradaptasi terhadap beraneka situasi yang lahir dari sikap tertentu di masa lalu. Pepatah klasik berbunyi, “pengalaman adalah guru terbaik”. Lalu kalau pengalaman merupakan guru, maka keputusan yang kita buat adalah sekolahnya. Kita mendaftar di sana, berkomitmen untuk menempuh proses akibatnya dan kelak akan lulus dari pendidikannya.

Enggak heran kalau mereka yang terbiasa mandiri dalam berkeputusan, punya tingkat kedewasaan yang berkembang dengan alami karena di balik setiap keputusan sering hadir pergulatan batin yang sengit sebelumnya dan konsekuensi yang selalu diboyong sesudahnya.

Dua hal besar yang membuat saya belajar keras hampir setaun terakhir adalah beristri dan berketurunan. Bahwa keduanya membutuhkan persiapan yang keliatannya rumit, betul. Tapi kalau kerumitannya enggak coba diurai, kapan siapnya? Saya bersyukur karena keputusan untuk kedua hal besar tersebut dibuat lebih awal dibanding perkiraan sebelumnya. Artinya, saya diberanikan untuk mendaftar sekolah dan berguru lebih awal lewat keputusan menikah dan melalui pengalaman sebagai suami serta ayah.

Mungkin sama dengan kebanyakan laki-laki di angkatan kami, dulu saya berpikir bahwa saya akan menikah di umur 28 taun. Rasanya, laki-laki di umur tersebut udah punya tingkat kemapanan yang cukup merata dalam berbagai aspek pendukung baik mental, spiritual maupun finansial. Nyatanya, saya ditakdirkan menikah di umur 25 taun - lebih awal 3 taun dari rencana.

Juga sama dengan para sahabat di lingkaran kami, saya berpikir untuk punya anak 1 taun setelah menikah. Rasanya, akan terasa lebih indah kalau awal pernikahan dihabiskan dengan berduaan dulu sepuasnya sambil mematangkan persiapan. Setelah dirasa puas berdua, barulah si kecil diikhtiarkan kehadirannya. Nyatanya, kami ditakdirkan berketurunan di umur pernikahan yang baru dua bulan - lebih awal sepuluh bulan dari rencana.

Selain rasa syukur yang layak dipanjatkan atas kesegeraan hadirnya pasangan dan keturunan, mengedepankan keberanian dalam membuat keputusan ternyata jadi hal penting yang saya syukuri keberadaannya sekarang. Kalau saya enggak dimampukan untuk lebih yakin dengan ketentuan-Nya, keberanian untuk mengambil “tiket” sebagai suami dan ayah akan terasa mengerikan.

Akhirnya, saya dibuat tersadar bahwa menanti kemapanan untuk menghadapi tantangan cuma alasan dari ketakutan yang dipelihara oleh diri sendiri, grafik positif perkembangan kedewasaan selalu dimulai dari kemauan untuk menghadapi tantangan dan terkadang kesiapan enggak melulu berasal dari matangnya persiapan tapi juga dari keberanian untuk melanjutkan pembelajaran.

Kenapa “melanjutkan”, bukan “memulai”? Karena keberanian yang terukur memerlukan sedikit kepantasan, bukan menjadikan diri sebagai martir dari takdir semata dan tumbang karena keputusan sembrono. 

Saya belajar bahwa ternyata ketidaksiapan berasal dari ketakutan dan ketakutan berasal dari keraguan. Selama kita belum mau belajar menaruh keyakinan lebih dengan ketentuan-Nya, selama itu pula keputusan besar dalam hidup (yang justru mendatangkan kebaikan) akan semakin menjauh dari kenyataan.

Jadi, bentuk permohonan doa yang juga mendasar ialah meminta kesigapan dalam membuat keputusan. Bukan meminta kemudahan atau kelancaran karena mungkin keduanya belum tentu lebih baik dari kesukaran atau hambatan. Tapi kesigapan untuk mengambil tiket pembelajaran dan berkeputusan untuk jadi murid teladan dari setiap pengalaman yang dihadirkan-Nya. 

Kahlil Gibran pernah menulis, “March on. Do not tarry. To go forward is to move toward perfection. March on, and fear not the thorns, or the sharp stones on life’s path.”. Maka, berkeputusanlah dengan-Nya dan terus melajulah.

5

The site of Muyil (or Chunyaxché) located in the northeastern part of the Yucatan Peninsula. Muyil dates to the Middle Formative (350 BC) and was continuously occupied until the arrival of the Spanish.  Muyil was located along a trade route on the Caribbean once accessible via a series of canals. Among the most commonly traded goods were Jade, obsidian, chocolate, honey, feathers, chewing gum, and salt. It is believed that throughout much of its history, Muyil had strong ties to the center of Coba located some 44 kilometres (27 mi) the northeast.

10

Some pictures of Coba that I took two years ago.

Coba is a Classic period city in the state of Quintana Roo which held close ties to the lowland centers of Tikal and Calakmul. It dominated this part of the peninsula until about 900 AD when Chichen Itza rose to power. Coba played a minor role until about 1200 AD when Chichen Itza began to decline. Coba regained some status, but played a minor role due to other coastal settlements dominating the political field. Sometime between 1500 and 1550 the city was abandoned.