cinta dunia

Jangan bimbang tentang kenangan. Manusia akan matang seiring waktu & kenangan lama akan berganti dengan kenangan baru yang lebih baik.

Yang memilih untuk pergi, lepaskan. Yang masih ada, hargai. Walau yang masih ada tu cuma diri sendiri. The strongest person is the one who being left but still keep smiling & moving forward.
Nothing can be undone with the past. Accept it.

kebahagiaan akan lebih dihargai oleh mereka yang terluka, kerana mereka telah tahu betapa tidak patut sebarang kebaikan disia-siakan. ada seseorang ALLAH simpan untuk kamu, tapi dirahsiakan waktu. maka demi waktu, bersabarlah. jika tidak kamu akan kerugian.

actually feelings tak la complicated. yang complicatednya, kita takut untuk menghadapi sesuatu yang bukan terjadi mengikut impian kita. yang jadi tetap jadi. dan hidup perlu diteruskan.

dah nama pun luka, ia pasti sembuh. kerana ini dunia. tiada yang kekal di dunia. cinta ALLAH jangan ditunggu, tapi dicari. cinta manusia jangan dicari, tapi bersabarlah menunggu.

kerana Allah itu selalu ada, maka bertahanlah walau dalam duka. kan Allah yang cipta hati kita, mesti DIA tahu nak rawat bila patah. jadi serah pada DIA saja.

- ingatkan diri, jangan merindui manusia, melebihi rindu kepada Rasulullah SAW yang bakal memberi syafaat.

- ingatkan diri, jangan mendoakan orang lain, melebihi dari doa kepada kedua ibu bapa.

- ingatkan diri, dahulukan Allah kerana Allah pemilik dunia, akhirat, syurga dan neraka

- ingatkan diri, dahulukan ibu bapa sebelum orang lain, kerana redha mereka adalah redha Allah.

- ingatkan diri, jangan mencintai kerana rupa, harta, pangkat dan kata-kata. cintailah orang kerana imannya.

- ingatkan diri, jangan tenggelam dengan angan-angan, kerana orang yang panjang angan-angan akan melupakan mati.

- ingatkan diri, jika ada seseorang melangkah pergi, Allah masih sentiasa di sisi.

- ingatkan diri, jodoh itu inshaAllah, sedang mati itu pasti.

- ingatkan diri, jangan mudah melafaz cinta, kerana ada tanggungjawab pada keluarga yang belum terlaksana.

- ingatkan diri, jika orang tak mahu didekati, hormatilah dia, kerana dia sedang menjaga batas agama.

- ingatkan diri, rindu itu sia-sia, jika merindukan sesuatu yang belum pasti masa depannya.

- ingatkan diri, dakwahi diri sendiri sebelum bisa mendakwah orang lain

yang broken tu hati, bukan nyawa. teruskan hidup. teruskan berdoa. teruskan mencintai DIA. bertahanlah walau dalam duka. bersyukur kerana Allah sentiasa sayang kita.

Tuhan lebih tahu, apa yang terbaik buat iman kita. jadi jangan mengeluh atas takdir-Nya. hidup ni cuma sekali. buatlah yang terbaik.

Aksesoris Perempuan Adalah Lelaki Sukses

Terinspirasi dari Abu Syauqi

Suatu hari aku pernah ditanya, “Lin, perempuan yang bercadar itu wajahnya normal gak? Ada yang ditutup-tutupi (baca: cacat di wajah) gak sih?” Mendapat pertanyaan ini rasanya semacam tersengat listrik.

Pasalnya, perempuan-perempuan bercadar yang aku kenal itu mayoritas memilih bercadar dengan penuh perjuangan dan setelah mendapat referensi panjang soal cadar. Mereka mayoritas mendapat penentangan dari keluarga dan harus berjuang dalam waktu yang taksebentar untuk memahamkan keluarga.

Lantas, perjuangan yang “berdarah-darah” itu hanya ditimpali dengan pertanyaan macam demikian?? Aku langsung menjawab, “Pemahamanmu soal cadar dengan pemahaman perempuan-perempuan yang memutusakan untuk bercadar jelas berbeda.

Yang aku tahu, semua wajah temanku yang bercadar cantik dan normal. Mereka bercadar karena keimanan bukan karena menutupi kekurangan yang ada pada wajah.” Kejadian ini membuatku bertanya-tanya, “apakah aksesoris kebanggaan lelaki adalah perempuan (baca: istri) cantik?” Padahal, bukankan perhiasan yang paling indah di dunia hanya istri shalihah?!

Agama Adalah Kehormatan

Sepenting itukah kecantikan wajah bagi seorang laki-laki? Aku jadi ingat bagaimana Rasulullah Saw bercerita tentang kehormatan perempuan ketika dipilih menjadi pasangan hidup,

Abu Hurairah Ra berkata bahwa, Rasulullah Saw bersabda “Perempuan itu dinikahi karena empat hal, yaitu: harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Dapatkanlah wanita yang taat beragama, engkau akan berbahagia.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dipilih menjadi pasangan hidup karena keindahan agama lebih terhormat bagi perempuan ketimbang dipilih karena tiga kriteria sebelumnya, sesederhana apapun kondisi keimanan perempuan tersebut. Maka, perempuan beriman akan sangat mudah menolak lelaki yang memilihnya karena alasan kecantikan. Mengapa? Karena saat itu, ia sedang dihinakan secara terang-terangan.

Aksesoris Kebanggaan Perempuan

“Dunia ini penuh perhiasan dan perhiasan paling indah ialah perempuan shalihah.” (HR Muslim).

Penjelasan tentang istri shalihah ini secara ringkas disampaikan Allah Swt kepada Rasulullah Saw dalam Al Quran,

“Jika nabi menceraikan kamu, boleh jadi Allah Swt akan memberikan istri-istri yang lebih baik dari kamu, Perempuan yang patuh, beriman, taat, ahli taubat, ahli ibadah, ahli puasa, baik janda ataupun perawan,” (QS At Tahrim[66]:5).

Ayat tersebut adalah peringatan Allah Swt kepada istri-istri nabi yang membocorkan rahasia suaminya. Allah Swt menegur dengan “ancaman” perceraian. Dalam ayat tersebut disampaikan ciri-ciri perempuan yang lebih baik dari istri-istri nabi (Hafshah).

Ayat ini secara tidak langsung menyebutkan bahwa perempuan manapun bisa sama atau lebih baik dari istri nabi asalkan patuh, beriman, taat, ahli taubat, ahli ibadah, ahli puasa. Tidak disebutkan sedikitpun kecantikan dalam ayat tersebut.

Jika perhiasan yang paling indah bagi seorang laki-laki adalah istri shalihah, lantas apakah perhiasan yang paling membanggakan bagi seorang perempuan? Tentang hal ini, Abu Syuqi sempat berseloroh,

“Aksesori perempuan itu adalah laki-laki sukses!”

Pernyataan ini memang sangat singkat dan sederhana, tapi implementasinya perlu perjuangan. Pertanyaan besarnya adalah, sukses macam apa yang bisa menjadi kebanggan perempuan?

– Sukses menghadirkan Allah Swt dalam hatinya

Perempuan itu suka perhiasan dan suka memamerkannya. Itulah sebabnya banyak perempuan yang memperlihatkan kecantikan, harta, dan keluarganya kepada orang lain. Pamer adalah ekspresi cinta perempuan terhadap apa yang dicintainya. Cinta terhadap diri, dipamerkanlah dirinya. Cinta terhadap suami, dipamerkanlah suaminya. Cinta terhadap anak, dipamerkanlah anaknya.

Oleh sebab itu, perempuan perlu suami yang bisa meredam kecintaanya terhadap makhluk agar tidak berlebihan. Cinta sewajarnya saja, agar Allah Swt mau masuk ke dalam hati dan bertahta di sana. Agar setelah jadi ibu, ketika anak harus menikah dengan jodohnya, tidak terlalu berat melepasnya.

Biar suatu hari, pada waktunya, ketika suami harus pergi mendahului, istri tidak terlalu sedih karena itu adalah ketetapan terbaik. Ekstrimnya, agar bila Allah Swt menghendaki suami harus poligami, tidak ada perasaan memiliki. Suami adalah titipan Allah Swt yang harus dihormati, ditaati, dan dijadikan jalan untuk semakin dekat kepada-Nya. Suami yang bisa mendidik istrinya agar lebih mencintai Allah Swt daripada mencintai dirinya, inilah lelaki sukses.

– Sukses menjadikan keluarganya sebagai keluarga Al Quran

Saat ini mulai banyak orang yang menghafal dan hafal Al Quran 30 juz, tapi di antara mereka tetap banyak yang tidak tersentuh dengan cahaya Al Quran. Kemampuan mereka menghafal Al Quran hanya berdasarkan kecerdasan yang dimiliki. Al Quran tidak sedikitpun menjadi jalan hidayah yang menjadikan hidup lebih baik.

Demikianlah Allah Swt pun memilih siapa-siapa yang layak menjadi keluarga-Nya. Keluarga yang selalu belajar dan mengajarkan Al Quran akan menjadi keluarga Allah Swt.

Laki-laki sukses adalah mereka yang dapat menjadikan keluarganya sebagai keluarga Allah Swt. Al Quran tidak hanya dibaca, dihafalkan, tapi juga dijadikan tuntunan dalam menjalani hidup. Sulit? Bukan laki-laki sukses kalau tidak menjalani fase kesulitan ini.

Keluarga yang dibangun di dunia tentu selalu diharap-harap akan dibawa dengan selamat sampai ke surga. Tantangan menjadikan keluarga sebagai keluarga Al Quran ini adalah salah satu jalan paling aman untuk memboyong keluarga ke surga. Makanya, yang mampu melakukannya hanya laki-laki yang siap sukses.

– Sukses mebangun jarak antara keluarga dan dunia

Gemerlap dunia itu indah tapi menipu. Orang yang cinta dunia hitung-hitungannya hanya dunia. Sedekah baginya bukan hal yang mudah. Harta dihadapi dengan kacamata orang miskin. Uang hanya dikumpulkan tapi tidak memberikan sedikitpun manfaat bagi diri dan orang sekitarnya.

Hutang di mana-mana hanya karena ingin dilihat punya rumah pribadi, mobil pribadi, dan segala hal yang menjadi aksesoris dunia. Jabatan diincar untuk mencari kedudukan di mata manusia. Lelaki yang demikian biasanya tidak sukses mendidik istrinya. Sang istri justru menjadi kompor yang membuatnya semakin cinta dunia.

Laki-laki yang sukses itu bisa bekerja dengan visi da’wah. Mengumpulkan harta karena ada yang harus dibela dan dipertahankan izzahnya. “Seorang muslim harus kaya, untuk menjaga kehormatan Islam dan ummat muslim.” itulah yang ada dibenaknya ketika bekerja.

Lelaki sukses itu, keluarga tercukupi, sedekah rajin, hartanya bermanfaat bukan untuk dirinya dan keluarga tapi juga untuk kepentingan ummat. Gemerlapnya dunia tidak menyentuh hatinya sedikitpun. Dengan demikian, istrinya akan terdidik untuk berjarak dengan dunia.

*Sulit sekali mendalaminya, tapi aku sangat ingin menulisnya. maaf :’)

Dibuat oleh @langitshabrina karena kepala dan hatinya yg selalu penuh keinginan dan hal-hal yg setau saya selalu baik, walau kadang galak. (?)

Jatuh cinta

Dear Boi,

Sudahkah ada gadis yang menarik hatimu?

Cantik kah? Pintar? Shaleh? Alhamdulillah kalau sudah ada. Berarti anak bapak normal. Berarti anak bapak sudah dewasa, sudah berani mengambil resiko dan siap bertanggung jawab.

 

Dewasa, berani dan bertanggung jawab

Itu syarat mutlak dari bapak untuk mengijinkan kamu jatuh cinta. Mutlak Boi, kurang satu saja bapak tidak ridho kamu jatuh cinta.

Boi, jatuh cinta itu fitrah. Bapak jatuh cinta, Ibu juga, dan kelak kamu pun mengalaminya. Syarat yang tadi bapak ajukan bukan karena ingin memberatkan, tapi untuk menjagamu, Boi. Di masa-masa Bapak dan Ibu muda, cinta itu harganya murah. Diobral dimana-mana dan merupakan sesuatu yang mudah.

Kamu tahu Boi? Kenapa hanya segelintir orang yang membicarakan soal mekanika kuantum? atau membahas Hadits atau membicarakan persoalan bangsa? Karena itu topik sulit. Sedikit yang mau memikirkan dan membicarakannya. Tapi cinta tidak, semua orang membicarakannya. Anak sd yang baru becus membaca sampai anak kuliahan juga sekarang bicaranya tidak jauh-jauh dari cinta. Cinta yang mudah, cinta yang turunan bentuknya berupa kangen, galau, move on, patah hati dan lain sebagainya. Jika ditambah dengan pengetahuan soal diksi dan majas, cukup sudah untuk menjadikan semua orang pujangga cinta.

Cinta di jaman bapak menjadi sangat mudah.

Kamu tahu Boi, bagaimana cinta diatur dalam agama kita? Cinta diikat oleh suatu perjanjian agung yang bahkan disetarakan dengan perjanjian antara Allah dengan para Nabi. Agung sekali. Dijadikan indah bagi manusia beberapa hal keduniawian dan salah satunya adalah lawan jenis. Namun, Allah memuliakan hamba-hambanya yang jatuh cinta dengan pernikahan.

Tapi,.

Setan dan kawan-kawannya tidak suka. Jadilah manusia dibuat ragu untuk menikah, dibuat bertele-tele dalam menghalalkan hubungan, sehingga manusia merasa berat untuk menikah. Disisi yang lain, setan seolah mengeksplore ketertarikan manusia kepada lawan jenis yang memang sudah fitrah. Tentunya lewat jalan yang salah.

Kamu tahu, Boi bapak ibu pernah mengambil jalan yang salah tersebut. Diantara banyak penyesalan bapak di masa lalu, pacaran dan berkasih sayang dengan yang tidak hak adalah salah satunya. Ingat apa yang bapak bilang soal syarat mutlak untuk jatuh cinta?

Dewasa, berani dan bertanggung jawab

Ketahuilah Boi, pacaran atau apa pun istilah yang mendefinisikan kegiatan berkasih sayang dengan lawan jenis non mahram yang belum halal, tidak memenuhi satu pun dari ketiga hal tersebut.

Pacaran itu cara mudah yang diberikan setan bagi sederetan manusia yang tidak becus memuliakan cintanya.

Bapak dulu salah satu dari deretan tersebut.

Mungkin kamu merasa kalo bapak ga pantes nasehatin karena bapak pernah salah. Tapi coba dipikir ulang, kalo di dunia ini cuma orang yang tidak pernah salah yang boleh ngasih nasihat maka di dunia ini tidak akan pernah ada nasehat. 

Dewasalah, lakukan tindakan berdasarkan ilmu. Jangan terbawa perasaan seperti yang lazimnya yang orang-orang lakukan sekarang. Jatuh cintalah dengan elegan.

Boi, segala sesuatu ada masanya. Termasuk jatuh cinta. Bapak harap kamu tidak termasuk orang yang nanti terlalu cepat dalam mendefinisikan cinta. Jatuh cintalah ketika kamu sudah merasa siap. Ya, merasa siap. Karena sejatinya untuk jatuh cinta dan menghalalkannya, kita tidak akan pernah benar-benar siap. Yang ada hanya merasa siap yang kemudian dilapis keberanian untuk mengambil resiko.

Jatuh cinta itu fitrah, sedangkan menikah adalah ibadah. Bukankah manusia diciptakan tidak lain untuk beribadah? (coba tebak ini dari surat apa ayat berapa). Boi, memilih pasangan ada banyak cara dan sayangnya, pacaran sejak usia muda bukan salah satunya. Banyak yang berdalih bahwa pacaran adalah ajang saling mengenal, agar tahu tabiat pasangan dan banyak sekali dalih-dalih yang sebenarnya tidak relevan.

Kamu tahu Boi, interaksi dengan lawan jenis yang diperbolehkan dalam agama kita seperti apa? Ikutilah. Kamu akan selamat dari cinta yang diliputi dusta dan nafsu semata. Boi, setiap jengkal kasih sayang yang kamu berikan padanya tanpa ikatan halal hanya akan mendekatkannya ke neraka. Apabila cinta, kenapa kamu membawanya ke neraka?

Cinta itu tanggung jawab dunia akhirat. Ajaklah cintamu ke surga dengan interaksi yang benar bukan untuk pelampiasan keinginan yang kemudian berujung neraka. Pegang teguhlah syarat dari bapak, untuk keselamatanmu, untuk cintamu juga.

Kelak, mungkin ada satu dua yang tertarik kepadamu. Jika kamu tidak suka, maka tolaklah dengan cara yang baik. Jika kamu berbalas rasa, ajaklah dia menuju hubungan yang baik. Cinta yang baik tidak akan menyengsarakan pemiliknya.

Jika kelak kamu jatuh cinta, maka segeralah dewasa. Siapkan ilmu sebelum amal. Jadilah lelaki yang berani mengambil resiko atas perasaannya dan bertanggung jawab atas keputusannya. Karena cinta tidak dibangun oleh perasaan semata.

Jangan khawatir jika semua orang punya pacar sedang kamu tidak. Biar, habiskan waktumu untuk diri sendiri, tak akan kurang kasih sayang bapak dan ibu kepadamu nanti. Jangan jadikan pacaran sebagai pelarian karena kamu merasa tidak diperhatikan atau kurang kasih sayang.

Bijaklah ketika kamu jatuh cinta. Jika kamu mencintai seseorang tentu kamu tidak ingin menyeretnya ke neraka, begitu pun orang yang mencintaimu, dia tidak akan mau membuatmu terluka. Cinta yang baik akan saling menjaga.

Tenanglah Boi,.

Jangan tergesa-gesa, cintamu akan mekar tepat pada waktunya.

Tak Ada Cinta?

Purnama pertama sejak dia pergi. Dingin mengusik dan dersik berbisik. Hati ini masih berat mengingat punggungnya yang semakin menjauh kala itu. Ku memenjamkan mata, gelap. Hingga akhirnya angin membawaku pada lorong remang-remang yang senyap, dan aku mendengar samar-samar suara percakapan dari ujung lorong sana.

A : Ada yang retak di sini; sebuah cinta yang dulu ia banggakan.

B : Itu salahnya sendiri karena telah memberikan hati dengan penuh tanpa berhati-hati.

A : Lalu aku bisa apa? Ia tiba-tiba hadir dengan segala pesona nya; mimik seriusnya, pemikirannya yang dewasa, dan tingkah absurd-nya.

B : Mencintai itu menggunakan akal, ketika kau tidak dianggap di dalam pikiran juga hatinya, lalu untuk apa kau tetap bertahan?

A : Aku tak bisa mengendalikan cinta yang tumbuh di dalam diriku. Tak bolehkah memperjuangkan rasa ini? Sedikit saja. Bukankah cinta harus diperjuangkan? Entah nanti dibalas atau tidak, setidaknya dia tahu aku sudah berusaha.

B : Namun yang harus kau tahu, kau juga butuh dihargai. Ketika bertahan hanya menyakiti diri sendiri saja, lalu untuk apa kau masih mau berjuang?

A : Lalu menurutmu, aku harus berhenti mengalirkan rasa ini? Sejujurnya aku mulai lelah berjuang sendiri. Tapi jika aku berhenti bagaimana bila aku tak pernah merasakan keindahan cinta?

B : Keindahan cinta? Oh ku mohon, cinta tak selalu indah. Berhentilah bertingkah bodoh hanya karena cinta. Hidup tak selalu soal cinta. Keindahan dan kebahagiaan hidup tak melulu karena cinta.

A : Aku hanya takut ketika aku menyerah dengan cinta ini, kebahagiaanpun ikut pergi. Bagaimana jika tidak ada cinta di bulan ini?

B : Sesungguhnya tak ada yang benar-benar tanpa cinta di dunia. Bukankah di setiap napas ada butir-butir cinta dari Tuhan?

A : Aku tahu, tapi bukan itu maksudku. Cinta dari dia, seseorang yang mencuriku. Bagaimana jika tanpa cinta yang seperti itu?

B : Bah, tidak bisakah kau menunggu ketetapan Tuhan, seperti pelangi yang sabar menunggu gilirannya untuk muncul setelah hujan berhenti. Mungkin belum saatnya kau untuk menerima balasan cinta darinya. Lagi pula kau telah menerima banyak cinta dari orang-orang di sekitarmu, kau hanya perlu membuka sedikit dirimu sendiri untuk bisa melihat cinta dari mereka.

A : Hmm..benar. Aku harap aku bisa merasakannya. Aku ingin kembali melangkah ringan tanpa harus menunggu balasan cinta dari orang yang tak pernah menganggapku. Tapi menghilangkan cinta ini sungguh tak mudah. Cinta ini terlalu kuat. Rasanya berat melepasnya begitu saja.

B : Tidak perlu melepaskan cinta dengan terburu-buru, karena sesuatu yang dipaksakan tidak akan pernah berjalan dengan baik. Pelan-pelan saja. Cinta membutuhkan proses, sama halnya dengan merelakan dan melupakan. Biar waktu yang menuntunmu untuk melepaskannya.

A : Baiklah. Aku akan mulai dengan merelakan. Dengan begitu akan sedikit lebih mudah untuk melupakan. Aku akan membuka diriku sendiri, ku coba memahami orang lain dan diriku sendiri. Agar aku mampu merasakan cinta yang sesungguhnya, cinta yang tulus tanpa pamrih.

B : Langkah yang tepat. Hidup tak bisa sepenuhnya tanpa cinta. Jika tanpa cinta bukankah dunia akan penuh dengan kebencian? Mungkin akan banyak luka, dendam dan kemarahan di dunia ini. Hanya saja banyak manusia yang menganggap bahwa cinta yang ditimbulkan karena ketertarikan lawan jenis lebih penting sehingga tak menyadari adanya cinta yang dia dapat dari orang-orang di sekitarnya; orang tua, saudara, keluarga, sahabat, teman bahkan dari Tuhan. Cinta dari Tuhan lebih luar biasa jika saja manusia mau bersyukur sedikit saja. Dan seharusnya cinta dimulai dengan mencintai diri sendiri terlebih dahulu.

A : Itu benar. Aku tak bisa sepenuhnya tak diisi oleh cinta. Aku akan mati karena kebencian dan amarah jika cinta benar-benar tak ada dan kau mungkin akan hancur. Hal-hal negatif akan memenuhi kita.


Catatan :
A = Perasaan
B = Logika

Ditulis oleh : @rekatakusuma @roushonism @haisonya
Untuk memenuhi Writing Project @kitajatim.

Semakin bertambah usia semakin lemah Tangan menggenggam..karena Allah sedang mendidik kita agar *melepaskan cinta Dunia*.
(Qs.Hud:15-16)

Semakin bertambah usia semakin kabur Matanya… Karena Allah sedang menCerahkan *mata hati untuk melihat Akhirat.*
(Qs.Al Isra:72)

Semakin bertambah usia semakin Sensitif…. karena Allah sedang mengajar.. bahwa pautan Hati dengan makhluk senantiasa mengHampakan.. namun *Hati yang berpaut kepada Allah*, tiada pernah mengecewakan.
(Qs.Al Lukman:22)

Semakin bertambah usia semakin gugur gigi-giginya….karena Allah sedang mengingatkan bahwa suatu hari *kita akan Gugur kedalam Tanah selamanya.*
(Qs.Ali Imran:145)

Semakin bertambah usia semakin ditarik Nikmat kekuatan Tulang & Sendi….karena Allah sedang mengingatkan bahwa tak lama lagi *Nyawanya akan diambil…*
(Qs.An Nisa:78)

Semakin bertambah usia semakin Rambut putih….karena *Allah sedang ingatkan kain kafan yang Putih*.
(Qs.Ali Imran:185)

Begitu juga Hati…semakin bertambah usia semakin sepi dan ingin bersendirian…karena Allah sedang mendidik kita untuk melepaskan *cinta manusia dan dunia…*
(Qs.Al-An'am:32)

Hati dan Cinta

Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan teman lama saya.Tidak terlalu banyak yang berubah dari diri teman saya dari terakhir kami bertemu. Namun saya bisa melihat ada yang berubah ketika kami mulai berbagi cerita. Kami bercerita banyak hal tentang masa lalu dan impian impian masa depan. Hingga sampai suatu titik suaranya mulai parau dan sorot matanya berubah. Dia mulai bercerita.

Ya setelah kembali ke Indo, gue akhirnya tau kalo pacar gue selingkuh padahal gue udah serius dan bilang ke ortu mau ngelamar dia” katanya memulai percakapan.

Alhamdulillah bagus dong? ketauan deh kalo memang dia bukan yang terbaik” sejujurnya saya males nanggepin masalah - masalah orang pacaran. Mereka bermain api dan ketika terbakar mereka “menangis” how come? atas nama rasa dan pemuasan cinta segala aturan dan legalitas ditabrak namun tidak siap akan sebuah bencana yang mereka timbulkan.

Bukan gitu bro, gue ini lagi banyak masalah lo tau kan gue bla bla bla (mulai cerita polemik hidupnya yang lain)” perlahan temanku mencoba mengeja cerita agar rasa tidak terlalu tumpah dan air mata tak sengaja keluar.

hmm…gitu” saya menanggapi sederhana ala laki - laki.

jadi sering tahajud bro, nangis kalo solat inget hidup kok berat gini” dia menimpali.

Alhamdulillah, gitu dong semoga bisa lebih baik. Santai aja bro, setiap kesulitan insya Allah ada kemudahan. Allah itu sayang sama lo makanya dia tunjukkin jalan yang terbaik untuk lo walaupun lo itu belum sadar. Liat sekarang aja akhirnya lo tahajud kan? dan masalah rezeki, jodoh dan kematian itu sudah diatur bahkan sebelum kita lahir jangan kuatir dan sedih berlebihan gitu. Jangan mendzalimi diri dan merendahkan harga diri dengan mengemis perhatian atau menangisi sesuatu yang tidak pantas ditangisi.” akhirnya saya mulai merasa iba.

Next, jangan pacaran lagi bro. Jadi Gentleman, gausah khawatir ini itu apalagi rezeki. Masalah rezeki ga usah terlalu kuatir, insya Allah kalo emang niatnya karena Allah dan ibadah pasti bakal dilancarkan dan diberi berkah apalagi kalo udah berdua, yakin aja deh.” Kemudian saya melanjutkan memberinya ide untuk membuat usaha sendiri.

”Ya, jadi gitu bro. Insya Allah gampang lah itu bisa ada rezekinya. Nah jadi ketika lo suka sama seorang wanita lagi, lo udah ga ada alasan kuatir ngelamar. Gausah pake basa basi, lamar aja toh kalo ga diterima ya ditolak  cuma 2 kok pilihannya. Diterima Alhamdulillah, ditolak tinggal cari lagi haha. Tapi seengaknya lo itu terhormat. Izzah lo terjaga.” kata saya berapi - api.

Kemudian teman saya menatap mata saya, raut wajahnya berubah kesal “iya, lo enak bro. Lurus lurus aja hidupnya

Dititik ini sebenarnya saya sudah agak merasa, wah ini kok dibilangin malah ngeyel dan banding bandingin gini “Lah? Bro, sejujurnya lo cuma liat sekilas yang nampak aja. Gue juga punya masalah - masalah hidup sama seperti lo dan orang lain yang hidup diluar sana, orang hidup pasti diuji. Bedanya apa? gue berusaha sabar dan stay cool aja. Husnudzon aja sama Allah udah gausah diambil pusing.”. Kataku.

****

Dalam perjalanan pulang kembali dari Bandung beberapa hari yang lalu salah seorang adik kelas saya dikampus tiba tiba mengirim pesan ke smartphone saya.

A : Fiz

A: Kalo lo gak lagi sibuk gue mau sharing dan minta pendapat lo dong

H: What’s up? Sharing terkait apa nih?

A: Jadi gini, (mulailah dia bercerita)

Pada intinya ini terkait dengan masalah ikhtiarnya dalam proses mengkhitbah “terganjal”. Nah sejujurnya untuk menghadapi orang patah hati ini yang kadang serba salah dan sensitif. Tapi saya coba sampaikan dengan bahasa bahasa santai pertemanan dan tanpa terkesan memerintah. Karena menurut penuturannya yang saya tangkap proses yang dilalui insya Allah sudah di jalur yang benar maka apa yang saya sampaikan adalah sesederhana terkait pengharapan manusia, takdir Allah, ketidaksiapan menerima hasil terbaik dan kesempatan untuk memperbaiki diri. Nah terus saya keinget salah satu video #1minuteboosternya di IG Ust Hanan Attaki, jadilah saya kasih info ke adik kelas saya untuk nonton itu dengan harapan bisa melegakkan.

***

Saya akhirnya kembali mengingat, seringkali kita dipalingkan dengan cinta - cinta terkait dunia, apalagi ketika memasuki fase quarter life crisis. Bermunculanlah segala kegalauan terhadap apa apa yang biasa dicinta manusia, pekerjaan atau perniagaan yang menghasilkan harta - harta mereka, pasangan - pasangan yang menyenangkan hati mereka, dan keinginan untuk hidup mapan bahagia sejahtera, dan mimpi mimpi lain manusia. Dan ruginya terkadang cinta terhadap hal - hal itu tanpa sadar sudah melebihi cinta kita terhadap Allah.

Katakanlah: “jika bapak - bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri - istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu kuatir kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (Q.S At-Taubah : 24)

Allah SWT sangat cemburu terhadap hamba-Nya yang menduakan dan melebihkan cintanya terhadap selain diri-Nya.

Kedua, Allah sering kali karena cemburu dan karena Maha Penyayangnya ingin memanggil dan mengingatkan kita untuk kembali bersimpuh dalam sujud sujud panjang kita seraya berdoa dan memohon mesra akan urusan hajat - hajat kita. Bukan karena Allah menginginkan kita untuk bersedih atau menyusahkan kita, justru karena Allah tau dengan cara yang agak “pahit” manusia biasanya tersadar dan kembali mencari Rabb-nya. Karena dalam kondisi sempit manusia sadar mereka makhluk lemah yang tidak ada berdaya, dan dalam dada yang sesak dipenuhi masalah masalah kehidupan manusia berlari mencari tempat mengadu.

Ketiga, mengajarkan kita untuk memaknai hidup bahwa hidup sesederhana “jika ditimpa musibah kemudian bersabar dan jika diberi kesenangan kemudian bersyukur” tidak ada bedanya, keduanya adalah ujian hidup dari Allah.

Keempat, apapun yang berkaitan dengan “Cinta” yang perlu diingat adalah Cinta kepada Allah dan Rasul adalah wajib dan yang utama. Cinta kepada pasangan, keluarga, harta dan apapun di dunia ini adalah yang kedua dan harus lurus dalam niatnya yaitu cinta karena Allah. Bukan cinta karena nafsu dan kesenangan diri karena cinta yang seperti itu yang ketika hilang akan mebawa kedukaan berlebih yang tidak semestinya dan cinta yang salah niat dan tujuannya maka sesuai ayat At - Taubah diatas “maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Berhati hatilah.

Kelima, saya sependapat dengan Ust Salim A Fillah, seorang lulusan sarjana Teknik Elektro UGM yang kemudia Allah karuniakan ilmu agama kepadanya (mudah mudahan Allah karuniakan ilmu Agama juga kepada kita semua).

Barangkali sesuatu ditunda karena hendak disempurnakan; dibatalkan karena hendak diganti yang utama; ditolak karena dinanti yang lebih baik.

Dan terakhir, mungkin masih tersirat cinta yang salah dalam hati - hati kita

But you prefer the worldly life, while the Hereafter is better and more enduring (Al- A'la : 16-17)

Hard Time

@edgarhamas

“The world breaks us all. Afterward, some are stronger at the broken places.”

— Ernest Hemingway, Farewell To Arms

Kamu tahu kawan? Ada satu titik dalam rotasi peradaban yang disebut dengan ’hard time.’ Ialah waktu, ketika kerusakan generasi sebelumnya, berakibat pada datangnya satu fase zaman pahit dimana generasi penerusnya mengalami kerumitan hidup, kemunduran gerak, kesempitan ruang, dan tersisihkannya peran mereka dari peradaban lain.

Semua peradaban mengalaminya, tak terkecuali Umat Islam.

Namun, seringkali bahkan selalu, ‘hard time’ yang memukul-mukul umat ini hingga bergetar lemas, justru selalu melahirkan 'strong leader’, pemimpin kuat yang kelak akan mengantar generasinya menuju 'good time.’ Zaman yang keras, akan menyaring mana yang tahan banting dan mana yang mudah rapuh. Yang tahan banting akan jadi 'strong leader’, dan yang rapuh biasanya akan berakhir sebagai pengkhianat. Selalu dan selalu itu siklusnya.

Kita ini, hidup dalam rentang masa 'hard time’ yang menyesak dada. Yang dulu kita menerima pengungsi kristen dan yahudi dari Eropa, kini lebih dari 10 juta umat Islam bergantian mengungsi ke negeri-negeri Barat.

Yang dulu kita berizzah dijadikan trendsetter intelektual dan mode peradaban, kini kita berbalik menggilai Barat dengan membabi buta. Umat ini mewarisi zaman kegemilangan yang sayangnya dinodai oleh cinta dunia, imbasnya kini, kita retak dibagi-bagi, kita bagai kue tart yang diiris berlapis untuk para pemenang perang. Perang yang, kita kalah sebelum memulainya.

Maka, mestilah kita membuka episode baru. Mesti ada sebuah kesadaran penuh untuk paham, bahwa sekarang 'hard time’ kita, lalu mengambil pola selanjutnya, apa itu? Ya menciptakan generasi 'strong leader.’

Kita bisa merusak rotasi sejarah jika hard time ini malah membuat kita tidur dalam kenyamanan

. Aneh, “kok yo lagi susah malah nyaman.” Kan ndak lucu. Tapi unik, nyatanya, “umat ini banyak yang tidak sadar bahwa mereka sedang sakit”, kata Malik Bennabi. Kalaupun tahu, tak sadar bahwa penyakitnya sudah kronis.

Percayalah, suka tak suka, inilah zaman ketika kita hidup. Dan ya, kita menerima pukulan dari mana-mana. Namun ingat, “pukulan yang tidak membuatmu mati, justru akan membuatmu lebih kuat”, kata Ustadz Anis Matta.

Hard time creates strong leader

Strong leader creates good time

Good time creates weak leader

Weak leader creates hard time

And hard time creates strong leader

….. begitu selamanya …..

Ini kenapa lepas jilbab pake nangis segala? jangan over acting lah. seolah2 jilbab itu siksaan.seolah2 ada kepedihan mendalam ketika berjilbab krn ada perang disana sini. Mana ngerasa terancam lagi. Ajegile, siapa yg mengancam siapa? lebay amat sih.

Klo ngaku blm siap berjilbab krn blm kuat iman atau tuntutan pekerjaan atau apalah mungkin bisa dimaklumi. Jangan malah menyalahkan yg lain. Jangan malah menyalahkan jilbab. Ngaku aja masih cinta duit, dunia, dan hawa nafsu. Sori, ketus banget.

Kalau dia bukan public figure, saya gak akan senyinyir ini. Kuatirnya banyak Abege labil yg terinspirasi lepas jilbab gara2 air mata buaya Rina Nose. Kalau mau lepas jilbab ya lepas aja tanpa perlu banyak alasan pembenaran. Mewek seolah jiwanya terancam dan tak ada ketenangan batin. Merasa setelah lepas jilbab lebih baik. Hati2 dg ajakan terselubung ini ya.

Utk semua muslimah, perlu diketahui bhw hijab itu hukumnya wajib bagi setiap muslimah yg sdh baligh. Silakan buka QS Al-Ahzab: 59 dan QS Ab-Nuur: 31. Tak ada keringanan sama sekali utk tidak berhijab

Jika tdk berhijab, maka ada dosa konstan yg melekat setiap hari. Ngeri kalau sampai meninggal tapi blm berhijab.

Ngga usah terpukau dg artis. Karena panutan kita dlm beragama itu Rasululloh saw, bukan artis.

Masih banyak muslimah lain yg bisa dijadikan panutan. Gak usah terpesona dg air mata buaya Rina Nose.

Akal

hari ini sebenernya nggak nganggur-nganggur amat. Tapi pas di twitter nemu obrolan dengan topik bagus.

sering banget sih ada yang nanya, sebatas apa akal diizinkan untuk digunakan dalam beragama?

Akal, nafsu, hati dan indera itu semuanya alat yang dikasih Allah buat kita. Tentunya semua harus dimanfaatkan sesuai fitrahnya. Tulisan ini mungkin nggak sesuai judul. Saya cuma pengen sharing untuk nambah wawasan.

Tadi temen saya ada yang bilang kalo era emas keilmuan islam ada di Dinasti Abbasiyah. Di lain waktu, ada temen saya yang lain bilang kalo Islam di era Dinasti Umayyah itu jumud. Setelah ngobrol lama, keluarlah anggapan….

Dinasti Abbasiyah maju karena berani berfilsafat dan membebaskan akal. Sementara Dinasti Umayyah itu nggak maju karena jumud, konservatif dan tidak mengizinkan akal berperan.

Apakah benar demikian? tunggu dulu.

Tiap peradaban itu punya budaya dan corak keilmuan masing-masing. Kalo kita runut, di antara empat imam madzhab yang kita kenal, dua orang aktif di era dinasti Umayyah (Imam Malik bin Anas dan Imam Abu Hanifah). Dua orang lagi aktif di era dinasti Abbasiyah (Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Syafi’i).

Kalau kita menilik fatwa beliau semuanya, kita akan menemukan corak yang berbeda. Imam Malik, bila ditanya tentang suatu perkara, beliau akan memeriksa Al Qur’an dan Hadits. Kalau dalil mengenai perkara tersebut tidak ditemukan, beliau akan mengatakan “Aku tidak tahu”. Sementara Imam Syafi’i bila ditanya tentang suatu perkara, beliau akan memeriksa Al Qur’an dan Hadits. Bila tidak ditemukan, beliau akan mengqiyaskan dengan dalil yang ada hingga terbentuklah suatu ijtihad.

Ustadz Salim A Fillah pernah menjelaskan hal yang mendasari perbedaan cara berfatwa Imam Syafi’i dan Imam Malik. Imam Malik hidup di Madinah di era tabi’in. Beliau dekat dengan sumber ilmu tentang Al Qur’an dan Hadits. Jadi kalau ditanya tentang suatu perkara, referensi beliau banyak.

Pas di twitter saya nyebut Imam Syafi’i lahir di Irak dan sewaktu besar, hijrah ke Mekkah. Tapi saya tiba-tiba keinget tentang kisah Imam Syafi’i yang ditanya tentang tafsir hadits “Biarkan burung tetap pada sarangnya”, saya jadi agak rancu. Bagaimana Imam Syafi’i yang besar di Irak memahami tradisi Quraisy?

Pas saya cek catatan saya lagi, ternyata Imam Syafi’i lahir di Gaza, besar di Makkah kemudian aktif di Baghdad. Di Baghdad beliau produktif berkarya Karya-karya beliau selama di Baghdad kita kenal dengan Qoul qodim. Selanjutnya beliau pindah ke Mesir, di sana beliau terus memperbarui karya beliau. Fatwa yang dikeluarkan di Mesir ini kita kenal sebagai Qoul Jadid.

Imam Syafi’i dikenal sebagai Ahli Ra’yu. Ketersediaan referensi di Baghdad semasa Imam Syafi’i aktif tidak sebanyak di Makkah atau Madinah sehingga kondisi ini menuntut beliau untuk lincah berijtihad.

Tapi kita perlu tahu bahwa Imam Syafi’i adalah keturunan suku Quraisy sehingga beliau sangat mengenal budaya Quraisy yang menjadi latar belakang asbabun nuzul Al Qur’an dan Asbabul Wurud sebuah hadits. Beliau juga sudah hafal kitab Al Muwatha sebelum usia 9 tahun. Di usia 15 tahun beliau sudah dinilai layak memberi fatwa. Maka akal imam syafi’i adalah akal yang sangat mumpuni untuk berijtihad.

Kita cuma muqollid, nggak sampe di level ijtihad ~XD Pencarian kita tentang hokum suatu perkara masih harus mereferensi pandangan ulama. Tidak bisa langsung dari Al Quran dan Hadits.

Kalo ada yang bilang ulama di era Dinasti Umayyah konservatif sebenernya nggak juga. Di era tersebut, tantangannya berbeda dengan era Dinasti Abbasiyah. Dinasti Umayyah itu dekat dengan era khulafaur rasyidin. Masih banyak sahabat dan tabiin. Penyakit ummat masih didominasi perkara cinta dunia. Maka karya ulama di era itu beberapa berkaitan dengan Tazkiyatun Nafs.

Di era Dinasti Abbasiyah, Islam banyak bersentuhan dengan budaya luar termasuk budaya Yunani yang punya banyak filusuf. Wajar kalau akhirnya bermunculan ilmuwan islam yang menulis karya tentang filsafat dan ilmu sosial. Bukan karena ilmuwan kita genit untuk ikut-ikutan pemikiran para filusuf Yunani. Tapi karena ilmuwan kita merasa wajib menjawab tantangan zaman dimana.

Salah satu karya filsafat yang terkenal adalah Hayy bin Yaqdzan yang ditulis oleh Ibnu Thufail. Hayy bin Yaqdzan berbicara tentang proses belajar dari seseorang yang terisolasi dari dunia luar. Orang yang suka filsafat dan baca novel ini, pasti bakal langsung membandingkan dengan pemikiran Plato dan Aristoteles.

Saya sempet su’uzon dan mikir kalo ulama di era abbasiyah ini mungkin hidup di zaman yang nyaman jadi tidak ada masalah yang dipikirkan makanya kajiannya merembet ke filsafat. Tapi ternyata tidak demikian.

Di era Abbasiyah banyak bermunculan faham-faham yang keliru. Muta’zilah dan Jabbariyah juga subur di era Abbasiyah. Imam Ahmad bahkan pernah dipenjara dan disiksa oleh khalifah Al Watsiq Billah karena waktu itu sang Khalifah menganut faham muta’zilah sementara Imam Ahmad menolak faham tersebut.

Muta’zilah itu faham yang menganggap Al Qur’an sebagai makhluk sehingga bisa bisa salah dan bisa pula benar. Mirip liberal zaman sekarang yang menganggap Al Quran sebagai produk budaya.

Kita diizinkan untuk mengkritik tafsir seseorang tentang Al Qur’an, dengan catatan kita punya bekal yang memadai dari segi wawasan serta kita menggunakan metode tafsir yang sesuai. Namun kita tidak diizinkan mengkritik ayat Al Qur’an karena syahadat mengandung konsekuensi untuk beriman pada Al Qur’an sepenuhnya. Tafsir manusia bisa salah. Sementara ayat Al Qur’an tidak.

Liberalisme dan mutakzilah menempatkan akal di atas Al Qur’an. Di titik ini, mutakzilah dan liberalism mirip. Tapi kalo di zoom out lagi akan terlihat perbedaannya.

Dari narasi ini, kita tentu bisa dapat gambaran bahwa di dinasti Abbasiyah yang kita anggap lebih maju dari dinasti Umayyah sebenernya bukan karena ulama Abbasiyah mampu menggabungkan akal dengan wahyu sementara ulama di era dinasti Umayyah tidak. Kalo kita lihat dari sudut pandang lain, tantangan dari sisi Aqidah dan pemikiran itu tumbuh subur di era Abbasiyah, bisa ditarik mundur pula tentang kemungkinan di era itu ada banyak ummat Islam yang belum memahami agamanya sehingga tergoda untuk belajar pemikiran di luar Islam lalu ulama kita bekerja keras untuk meluruskannya.

Di titik ini kita mungkin akan bingung menyimpulka, dinasti Abbasiyah itu sebenernya “maju dari sisi sains?” atau “mundur dari sisi akidah?”. Tidak usah dipusingkan.

Yang terpenting adalah bagaimana kita belajar untuk luwes dengan zaman namun tetap memegang teguh aqidah kita.

Karya ulama banyak dibuat untuk menjawab tantangan ummat di eranya. Di Era Abbasiyah, kita mengenal Ibnu Rusyid atau Averroes (seorang filusuf, hakim sekaligus fisikawan), Ibnu Sina atau Avicena (seorang filusuf sekaligus dokter), Ibnu Khaldun (Sosiolog, Antropolog dan Ahli Ilmu Politik) serta Khalifah Harun Al Rasyid dengan baitul hikmahnya.

Khalifah Harun Al Rasyid ini memimpin tepat setelah Al Watsiq Billah. Kalau Al Watsiq menganut pemikiran mutakzilah dan menyiksa ulama yang bersebarangan, Harun Al Rasyid sangat menghormati ilmu dan ulamanya. Baitul Hikmah adalah prototype universitas di zaman sekarang. Ia merupakan tempat diskusi tentang ilmu.

Kita perlu belajar sejarah sebab ada pepatah yang bilang: “Tidak ada hal yang baru di bawah matahari”

Tantangan ummat di setiap zaman bisa berulang. Dengan mengetahui sejarah, kita akan belajar bagaimana cara menghadapi zaman ini.

Di era milenial ini, budaya kita melahirkan banyak bentuk muamalah yang baru sehingga ulama fiqih harus lincah mengkaji hal-hal kontemporer. Di sisi lain, ada banyak -isme di luar islam yang menuntut kita membedahnya sampai dalam. Selain itu….kita juga punya pilihan belajar sains untuk merancang teknologi yang memudahkan ummat.

Ada banyak ladang amal yang menunggu kita untuk berperan. You choose.

NB: tulisan ini hanyalah gambaran helicopter view yang kalau di zoom out mungkin saja kita menemukan anomali yang berbeda. Mari belajar.

Pengaruh Cinta Platonis Terhadap Tingkat Kebahagiaan

Sejak saya membuat akun tumblr ini, saya ingin mempromosikan cinta platonis. Sebuah konsep ide yang berdasarkan grand idea filsafat Plato: idea world.

Dunia ide, kata kuncinya. Menurut Plato, dunia yang kita diami ini, bukanlah dunia sesungguhnya. Bukan dunia yang sempurna. Dunia kita ini hanyalah bayangan atau hasil cetakan dari dunia yang hakikat. Misalnya pohon mangga di halaman rumah kita, itu hanyalah copy-paste pohon mangga yang aslinya ada di dunia idea. Di sana pohon mangga bentuknya sempurna, berbuah yang sempurna. Sedangkan di halaman rumah kita hanyalah hasil cetak pohon mangga yang asli. Sehingga tentu saja bentuknya bermacam-macam, buahnya juga tidak selalu manis.

Lebih jauh, bayangkan pohon mangga di dunia idea adalah cetakan seperti cetakan kue di dapur. Dari cetakan itu, dibuatlah pohon mangga di dunia kita, jadi seperti membikin kue, tentu hasilnya ada yang: sebelah kirinya lebih besar dibanding sebelah kanan atau ada yang gosong. Begitulah gambaran dunia idea Plato. Disebut pula filsafat Plato terhadap dunia; Filsafat Platonis.

*

Cinta Platonis. Berdasarkan asumsi dunia idea Plato, kita bisa menjelaskan apa itu cinta platonis.

Kalau ada cinta yang kita rasakan di dunia, itu bukanlah cinta yang sebenarnya. Loh mengapa? Sebab cinta yang kita berikan, kita ucapkan, kita bahas, dan sebagainya, bukanlah cinta yang esensi. Bukan cinta yang sebenarnya. Karena sudah terkontaminasi dengan indera kita. Indera kita temasuk dalam dunia kita, bukan dunia idea, jadi bisa disebut tidak sempurna. Otomatis cinta yang berdasarkan indera bukanlah cinta platonis (baca: cinta yang sesungguhnya).

Apa konsekuensi dari bukan cinta platonis? Barangkali kita bisa kecewa, patah hati, terabaikan, dan sebagainya. Hal ini disebabkan cinta yang bukan platonis adalah tidak sempurna.

Cinta platonis tidaklah terucapkan, tidak terlihat, tidak menutut memiliki, tidak menuntut ingin diketahui, tidak ada nafsu, tidak ada cemburu dan tidak ada batas. Cinta platonis letaknya bukan di sini, tapi di sana. Sebab ia hanya berisi cinta, ia tidak bisa dikalahkan oleh manusia lain, bahkan oleh waktu. Ia tetap lestari dan selalu subur.

Apakah cinta platonis menghasilkan rasa bahagia? Tentu. Dengan cinta platonis, kita mampu merasa memiliki energi untuk melakukan sesuatu kepada dunia. Kekuatan yang berasal dari cinta platonis mampu menggerakan si pemilik cinta itu agar berbuat sesuatu dengan landasan cinta. Sehingga bisa jadi aktivitasnya sangat positif. Lebih jauh, alasan ia hidup adalah karena ia memiliki cinta platonis itu.

Namun, cinta platonis sungguh berada pada level yang tinggi. Ia jadi perasaan yang paripurna bagi seorang manusia. Tentu saja di bawah cinta kepada Tuhan. Tapi hal ini perlu penjelasan lain di luar cinta platonis kepada sesuatu di luar Sang Maha. Setidaknya ini pendapat saya.

Terlepas dari itu, cinta platonis dijamin tidak akan menyakiti siapa-siapa. Termasuk si pemilik cinta. Hanya ada kebahagiaan.

Bisakah kita?

Belajar dari Kata - Kata Imam Asy-Syafi'i

“Barangsiapa mengaku dapat menggabungkan dua cinta dalam hatinya, cinta dunia sekaligus cinta Allah, maka dia telah berdusta.”
- (Imam Asy-Syafi'i)

“Jika ada seorang yang ingin menjual dunia ini kepadaku dengan nilai harga sekeping roti, niscaya aku tidak akan membelinya.”
- (Imam Asy-Syafi'i)

“Bila kamu tak tahan penatnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan.”
- (Imam Asy-Syafi'i)

“Berapa banyak manusia yang masih hidup dalam kelalaian, sedangkan kain kafannya sedang ditenun”.
- (Imam Asy-Syafi'i)

“Orang yang berilmu dan beradab, tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu, merantaulah ke negeri orang”
- (Imam Asy-Syafi'i)

“Aku tidak pernah berdialog dengan seseorang dengan tujuan aku lebih senang jika dia berpendapat salah”.
- (Imam Asy-Syafi'i)

“Jangan cintai orang yang tidak m'cintai Allah. Kalau Allah saja ia tinggalkan, apalagi kamu”
- (Imam Asy-Syafi'i)

“Barangsiapa yang menginginkan Husnul Khatimah, hendaklah ia selalu bersangka baik dengan manusia”.
- (Imam Asy-Syafi'i)

“Pentingnya menyebarkan ilmu agama.
- (Imam Asy-Syafi'i)

"Ilmu itu seperti air. Jika ia tidak bergerak, aka menjadi mati lalu membusuk.”
- (Imam Asy-Syafi'i)

“Doa di saat tahajud adalah umpama panah yang tepat mengenai sasaran.”
- (Imam Asy-Syafi'i)

“Kamu seorang manusia yang dijadikan dari tanah dan kamu juga akan disakiti (dihimpit) dengan tanah.” - (Imam Asy-Syafi'i)

“Perbanyakkan menyebut Allah dari pada menyebut makhluk. Perbanyakkan menyebut akhirat daripada menyebut dunia”
- (Imam Asy-Syafi'i)

“Ilmu itu bukan yang dihafal tetapi yang memberi manfaat.”
- (Imam Asy-Syafi'i)

"Seorang sufi tidak menjadi sufi jika ada pada dirinya 4 perkara: malas, suka makan, suka tidur dan berlebih-lebihan”.
- (Imam Asy-Syafi'i)

“Siapa yang menasihatimu secara sembunyi-sembunyi maka ia benar-benar menasihatimu. Siapa yang menasihatimu di khalayak ramai, dia sebenarnya menghinamu”
- (Imam Asy-Syafi'i)

“Bumi Allah amatlah luas namun suatu saat apabila takdir sudah datang, angkasa pun menjadi sempit”
- (Imam Asy-Syafi'i)

“Jadikan akhirat di hatimu, dunia di tanganmu, dan kematian di pelupuk matamu”
- (Imam Asy-Syafi'i)

“Aku mampu berhujjah dengan 10 orang berilmu, tapi aku akan kalah pada seorang yang jahil kerana dia tak tahu akan landasan ilmu”.
- (Imam Asy-Syafi'i)

10 Bulan 18 Hari-ku (Juni, 2016)

Juni, 2016.

My life has been better, since the day i found you.”

Sudah satu bulan ini aku bahagia bersamanya. Ia memberikan waktunya untukku. Bukan waktu luang, namun seluruh waktunya. Hampir tiap detik yang aku jalani, selalu ada dirinya. Biarpun aku belum mengerti betul bagaimana menjalani hubungan ini dengan baik, namun ia selalu meyakinkan. Ia selalu bisa membuatku yakin dengan perasaanku sendiri. Sebab, aku merasa telah menjadi orang paling tega, karena telah merebutnya dari tangan orang lain. Aku takut tidak bisa lebih baik dari orang – orang sebelumnya yang pernah juga mencintainya. Berani mendapatkan hatinya, berarti aku harus berani juga bertanggung jawab atas perasaan dan kebahagiaannya. Tidak pernah sedikitpun terpikir dalam benakku, hubungan seperti apa yang aku dan dia ciptakan nanti. Akankah ada tujuannya? Ada banyak sekali pertanyaan dalam benakku perihal hubungan aku dengannya. Jujur, aku takut karma menghampiri diriku karena pernah merebutnya dari orang lain. Dan aku takut melukai orang lain atas hubungan ini.

Mencintainya terasa begitu mudah. Cinta jatuh begitu saja, tanpa harus aku berusaha keras. Dia bisa menjadi apapun yang aku inginkan bahkan butuhkan. Dia bisa membuatku menjadi pendengar yang baik dan juga penikmat senyumnya. Aku bahagia bila ia tersenyum. Apapun akan aku lakukan untuk senyumnya. Sebagaimana dirinya yang bisa membuat hidupku menjadi lebih baik. Oleh karena itu, aku tidak pernah ingin melewatkan waktuku sedikitpun untuk bersamanya. Semua terasa ringan, bila ia ada disisi. Hadirnya begitu menguatkan, peluknya begitu menenangkan. Sampai aku pun benar – benar baru merasakan bagaimana mencintai seseorang. Sungguh berbeda dengan apa yang pernah aku rasakan sebelumnya. Ia menunjukkan padaku, bahwa cinta sesungguhnya bukan menuntut menjadi yang terbaik, namun menuntun menjadi lebih baik.

Sejak ia ada, aku tak peduli ada berapa banyak bintang di langit. Karena aku sudah meyakini satu dan itu dirinya. Sejak ia ada, aku tak butuh lagi sebuah peta untuk menemukan kebahagiaan. Sebab aku menyadari, bahagiaku ada pada senyum kecil dan gelak tawanya. Sejak ia ada, aku pun bisa berdamai dengan sepi dan tak lagi gelisah bila sendiri. Semua itu karena hadirnya dia disisi.
Sejak ia ada, sejak aku menemukannya, aku berhenti mencari.

“Dunia tidak perlu tahu, mengapa dan bagaimana bisa aku mencintaimu sedalam ini. Sebab untukku, kamu sudah lebih dari cukup jika hanya ada dalam duniaku saja.”

Mungkin ini semua salah, bahkan rasa yang aku miliki adalah rasa yang salah. Namun entah kenapa, semuanya menjadi benar karena itu adalah dia. Apa ada rasa cinta yang lebih baik dari bahagia dan tenang bila didekatnya? Aku menutup telinga ketika dunia mulai menyalahkan perasaanku padanya. Aku menutup mata, ketika dunia memperlihatkan bahwa yang aku jalani dengannya adalah hubungan yang salah. Aku dan dia adalah dua kepala yang sama – sama keras. Cinta tetap menjadi alasan mengapa kita bisa bertahan. Cinta masih memenangkan segalanya.

Dalam hidup ini, kamu akan sadar tentang apa itu cinta, bila ada banyak mulut berucap dirinya tak baik, namun hati selalu terbalik. Kamu akan menerima segala kurangnya. Sekurang – kurang kekurangan yang ada pada dirinya. Seperti dirinya dalam hidupku. Ia adalah pilihanku dan aku bertanggung jawab atas apa yang aku pilih. Bagaimanapun dirinya, sebisa mungkin aku akan menerimanya. Sekalipun ada banyak yang berkata ia pandai menyakiti hati, namun apa daya jika ia sudah berada di dalam hati.

Kini aku hanya dapat bersyukur, karena Tuhan telah menghadirkan dirinya dalam hidupku. Aku lupa bagaimana rasa sakit yang aku alami sebelum bertemu dengannya. Aku tak ingat bagaimana rapuhnya hatiku sebelum aku menyayanginya. Aku mencintainya, amat sangat cinta padanya.

Memang betul, dunia ini panggung sandiwara. Selalu ada penonton yang menunggu kisah cintamu berakhir, kemudian mereka bertepuk tangan. Namun percayalah, selama kamu bisa memerankan dengan baik, penonton bukanlah lagi hal terpenting, melainkan cerita cinta dalam kisahmu sendiri. Yang aku tahu, aku hanya butuh menjadi diriku sendiri untuk mencintainya. Dan ia cukup menjadi dirinya sendiri, untuk menjadi orang yang aku cintai.

Dari ibu Irena Handono

🍂 Muhasabah Usia 🍂

Semakin bertambah usia semakin lemah Tangan menggenggam..karena Allah sedang mendidik kita agar “melepaskan cinta Dunia”. (Qs.Hud:15-16)

Semakin bertambah usia semakin kabur pandangan matanya… Karena Allah sedang menCerahkan “mata hati untuk melihat Akhirat.” (Qs.Al Isra:72)

Semakin bertambah usia perasaan semakin Sensitif…. karena Allah sedang mengajar.. bahwa pautan Hati dengan makhluk senantiasa menghampakan.. namun “Hati yang berpaut kepada Allah”, tiada pernah mengecewakan. (Qs. Lukman :22)

Semakin bertambah usia semakin gugur gigi-giginya….karena Allah sedang mengingatkan bahwa suatu hari “kita akan gugur ke dalam Tanah selamanya.” (Qs.Ali Imran:145)

Semakin bertambah usia semakin ditarik Nikmat kekuatan Tulang & Sendi….karena Allah sedang mengingatkan bahwa tak lama lagi “nyawanya akan diambil…” (Qs.An Nisa:78)

Semakin bertambah usia semakin Rambut putih….karena “Allah sedang ingatkan kain kafan yang Putih”. (Qs.Ali Imran:185)

Begitu juga Hati… semakin bertambah usia semakin sepi dan ingin bersendirian…karena Allah sedang mendidik kita untuk melepaskan “cinta manusia dan dunia…” (Qs.Al-An'am:32)

Dunia dari sudut pandangku tak pernah ada yang menarik. Tapi dari sudut pandangmu, dunia terasa mengasyikkan. Aku jatuh cinta pada dunia dari cara kau melihatnya. Bolehkan aku memiliki itu, dunia yang ada di matamu?
Menjaga Hati

“Hati manusia, adalah suatu ciptaan Allah سبحانه وتعالى yang ajaib sekali. Tujuh petala langit dan tujuh petala bumi, tidak dapat menanggung Allah. Akan tetapi, hati seorang mukmin dapat menanggung Allah سبحانه وتعالى. Apakah maksudnya, hati seorang mukmin itu menanggung Allah? Iaitu hati manusia boleh masuk didalamnya kebesaran Allah سبحانه وتعالى, terdapat kesucian Allah, keesaan Allah, kekuatan dan keperkasaan Allah سبحانه وتعالى.”

“Seseorang yang mengenali hatinya, dia dapat mengenali dirinya sendiri. Apabila seseorang itu mengenali hatinya, apakah bentuk hatinya, apakah yang terkandung didalam hatinya? apakah perkara yang dibebankan oleh Allah سبحانه وتعالى didalam hatinya? Apakah penyakit-penyakit yang ada dalam hatinya? Apakah pintu-pintu yang memberi kesan sesuatu perkara yang masuk kedalam hati seorang mukmin?”

“Sama ada yang masuk kedalam hatinya itu adalah nur cahaya. Ataupon yang masuk kedalam hatinya itu kegelapan dan juga zulumat. Dan Allah سبحانه وتعالى inginkan hati manusia ini suci murni, bersih hanya untuk Allah. Allah mahu hati manusia untuk Allah سبحانه وتعالى sahaja. Didalam satu hadis qudsi Allah سبحانه وتعالى berfirman; “Wahai hamba-Ku carilah Aku, jika kamu mencari Aku, kamu akan menjumpai Aku. Jika kamu berjumpa dengan Aku? Kamu telah berjumpa dengan segala-galanya. Apabila kamu terluput daripada Aku, kamu terluput daripada segala-galanya.”

“Apakah maksudnya, seseorang itu berjumpa Allah سبحانه وتعالى, dia akan mendapat segalanya-galanya. Maka ulama mengatakan; “Hati yang berjumpa Allah, adalah hati yang didalamnya mengandungi kebesaran Allah. Kehebatan Allah. Dan ketahuilah sesungguhnya hati manusia itu, didalam kekuasan Allah.”

“Dan Allah سبحانه وتعالى, boleh membolak-balik kan hati manusia dengan sekelip mata. Allah boleh membolak-balik kan hati seseorang itu, seperti yang Allah سبحانه وتعالى kehendaki. Dan Allah memandang hati manusia. Diantara seluruh jasad kita, Allah سبحانه وتعالى memandang hati. Sebab itu, seorang manusia seluruh kehidupannya, sehingga dia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Tugasnya adalah untuk membersihkan hatinya. Mensucikan hatinya.”

“Jikalau seseorang hamba Allah سبحانه وتعالى itu meninggalkan dunia ini, membawa satu zarah daripada sifat takabur. Maka dia akan dibakar didalam api neraka Allah. Maka tempat yang sepatutnya kita bakar sifat takabur ini, adalah diatas dunia ini. Bilamana ada hayat dalam diri kita, kita kena bakar sifat takabur.”

“Seseorang yang melakukan amal kerana manusia ataupon kerana perkara-perkara dunia. Dab dia inginkan kemegahan. Maka amalan ini akan tertolak. Diakhirat nanti, jika orang ini melakukan amal kerana perkara tersebut. Maka Allah سبحانه وتعالى tidak akan mempedulikannya, Allah سبحانه وتعالى berfirman; "Pergi lah kamu minta pahala kepada mereka, yang kau ingin menunjuk-nunjuk itu.
Kerana aku adalah bebas, daripada apa yang engkau syirikkkan. Walaupon amal kamu sebesar gunung.”

“Sebab itu orang yang melakukan amal, bukan kerana Allah سبحانه وتعالى tidak ikhlas dipanggil syirik khafi. Dihati manusia itu tempat pandangannya Allah. Didalam diri manusia ada satu tempat pandang. Hanya satu yang dipandang oleh Allah سبحانه وتعالى. Iaitu Hati. Hati manusia adalah tempat pandangan Allah. Seseorang manusia itu apabila dia tahu ada tempat yang dipandang oleh manusia pada dirinya, dia kan memperelok kan tempat itu.”

“Pada waktu pagi, kita hendak keluar daripada rumah, kita mandi, membasuh wajah kita, kita tengok ada apa-apa kotoron pada wajah kita, pada zahir diri kita. Kita perelokkan pakaian kita, kita gosok pakaian kita, jaga dengan kemas dan rapi. Kita memperelokkan perkara yang zahir. Kerana kita tahu. ini adalah pandangan manusia pada kita.”

“Manusia pandang pada perkara ini. Ini adalah tempat pandangan manusia pada kita. Bagaimana pula pada sesuatu tempat? Suatu tempat itu adalah tempat yang dipandang oleh Allah سبحانه وتعالى? Bukankah itu sesuatu yang lebih berhak? lebih utama kita bersihkan kita, kita sucikan, kita perelokkan iaitu hati manusia.”

“Dan hati ini lebih berhak diperelokkan, diperindahkan, disucikan kerana hati itu pada hati itu terdapat pandangan Allah سبحانه وتعالى. Seseorang mukmin itu, dia perlu bermujahadah untuk seluruh kehidupannya untuk mensucikan hatinya. Hati ini adalah seperti raja kepada badan kita.”

“Dan anggota badan yang lain semua adalah rakyat jelata kepada hati kita. Tetapi raja yang memerintah. Jika hati itu baik, maka akan baiklah keluar daripada anggota badannya. Dan ianya akan baik, matanya akan menjadi baik, percakapannya akan menjadi baik, tangannya akan melakukan yang baik begitu juga dengan kakinya.”

“Jika hatinya, rajanya, pemimpinnya itu yang busuk dan juga buruk, maka akan keluar keburukan dari anggota badannya. Dan apa yang perlu diubati, kita perlu balik kepada akar kita semula yang boleh dirawat iaitu hati kita. Dan hati itu dikatakan roh di sini kerana hati lain, roh juga lain. Cuma hati mempunyai kaitan rapat dengan roh.”

“Roh kita semuanya bersambung, kita seperti satu badan, satu bangunan, satu sakit yang lain pon semuanya akan rasa sakit. Maka, lihatlah aib dan kekurangan dalam diri kita, apakah kekotoran yang ada dalam diri kita, Hassad, riya’, ujub, takabbur, cinta dunia, cinta sanjungan manusia, cinta pujian manusia, cinta pandangan manusia, seseorang yang bila dia didapati ada penyakit dalam dirinya, maka dia akn cuba cari rawatan.”

“Siapa yang Allah سبحانه وتعالى nakkan kebaikkan kepada dirinya, Allah akan buka aibnya pada dirinya sendiri. Sehingga dia lupa untuk melihat kekurangan orang Lain. Mereka yang selalu sibuk melihat kebaikkan dirinya, dia akan lupa untuk melihat kekurangan dirinya. Begitu juga mereka yang sering melihat keaiban orang lain, dia akan lupa keaiban pada dirinya.”

“Pada diakhirat nanti yang akan ditanya adalah keadaan diri kita, bukan keadaan orang Lain. Bagaimana dengan ketaqwaan hati kita kepada Allah سبحانه وتعالى? Seseorang yang tak kenal keaiban dirinya, maka dia tak akan cari rawatan untuk hatinya, dia takkan tahu kelemahan dirinya. Penyakit, kekotoran, kuman, bakteria, virus yang berjangkit kedalam hatinya.”

Guru mulia kami. Tasawwuf. Darul Mujtaba. Ustaz Iqbal Zain Al-Jauhari.

Rasa cintamu pada seseorang, kasih sayang yang kau berikan, serta rasa kagum padanya; harus membuatmu makin mencintai penciptamu. Karena hanya dengan kuasanya, bisa kau temukan cinta seperti itu di dunia.

Ada sebagian orang yang nyatanya memang tak bisa dimiliki, dan aku memilih merahasiankan perasaanku pada dunia. Cinta tak selalu menyenangkan, terkadang bisa sangat membosankan, bahkan menakutkan.

Memcintai, tapi tak ingin memiliki… cinta bersembunyi dalam rahasia diam tanpa sepatah kata. Ya, aku rasa aku menyukai cara ini untuk mencintai. Tanpa suara dan kata.


-satriautama