cermatic

Di tengah berbagai macam berita hoax saat ini, umat Islam perlu lebih cermat dan teliti dalam memilih berita. Jangan mudah terpengaruh dan percaya, apalagi berita yang disebarkan lewat media sosial. Banyaknya berita hoax yang meresahkan kita ini bukan tanpa sebab. Ada pihak/pihak tertentu yang sengaja membuat masyarakat terpecah dengan berita hoax. Berhati-hatilah, selalu utamakan tabayyun atas setiap informasi. Jangan juga menyebarkan berita yang belum pasti kebenarannya.

Ingatlah, setiap perkataan dan perbuatan pasti akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di akhirat!

Leona (Part 4)

Ronny:
Brur, malam ini campus night.

Me:
Berangkat?

Ronny:
Berangkat.

Me:
Siapa aja yang ikut?

Ronny:
Semua ikut.

Me:
Lo jemput gue.

Ronny:
Oke.

Me:
Bawain gue kemeja.

Ronny:
Yaelah. Oke.

Kamis malam, ada campus night. Kampus kami yang bikin. Bukan kampus kami sih, tapi salah seorang mahasiswa, namanya Bang Bernard, dia memang biasa bikin event disko-disko begitu. Salah satu DJ-nya juga aku tahu, DJ Diaz, anak Fikom juga, angkatan 2004. Aku kenal Diaz. Aku kan eksis.

Nggak mungkin acara disko begini yang bikin lembaga kampus resmi. Ini acara mabuk-mabukan, bukan cerdas cermat. Ini cuma inisiatif mahasiswa yang doyan party aja, terus punya link untuk bikin acara di kelab malam, punya teman DJ yang bisa dibayar profit sharing, dan yaudah, bikin. Apa ini sudah dapat persetujuan pihak kampus? Ya enggak, lah.

Jam 10 malam, kudengar telepon genggamku berdering, dari Ronny. Katanya dia sudah di luar rumahku. Aku keluar, dan langsung membuka pintu bagian tengah mobil Ronny. Bukan mobil mewah, tapi ini tetap kendaraan roda empat. Di dalam mobil Ronny sudah ada Andhika.

“Ron, baju buat gue mana?”
“Tuh, gue bawain 3 kemeja, pilih aja.”
“Oke.”

Kami meluncur ke club malam. Di mobil, Ronny sudah memutar lagu, kata Ronny ini bergenre Chicago House Music. Musik disko yang berkelas katanya, bukan yang mainstream. Nggak paham juga aku. Tetap aja beat-nya bikin joged. Suatu hari dia akan nge-DJ di campus night, begitu mimpinya. Cetek sekali. Akan tetapi Ronny sudah ikut DJ School segala. Kalau dia belajar DJ, aku diajak. Kenal banyak anak gaul Jakarta dari situ. Padahal aku anak Bekasi. Tetapi anak Bekasi sejati memang biasanya yang kayak aku dan Ronny begini, yang sok paling eksis di Jakarta.

Sampai di suatu gedung, club itu berada di lantai paling atas pada gedung itu. Kemudian kami langsung masuk ke dalam lift, bersamaan dengan 2 pria lain. Sepertinya anak kampus kami juga, tetapi kami tidak kenal. Lalu pintu lift itu terbuka, kami yang ada di dalam lift itu keluar, dan aku melihat antre yang panjang. Itu namanya antre guestlist, yaitu orang-orang yang ingin masuk ke dalam club, tapi nggak mau bayar, makanya pakai guestlist. Kalau mau masuk pakai guestlist, itu harus datang awal, sebelum jam 12 malam. Lewat dari itu, guestlist tidak berlaku lagi. Kalau tetap mau masuk, ya harus bayar. Bayarnya 100 ribu rupiah, tidak rela aku bayar segitu untuk masuk club. Tidak ada uang juga sebenarnya. Dan guestlist itu ada limitnya. Satu nama biasanya berlaku untuk 10 orang. Kalau sudah 10 orang masuk pakai nama itu, maka guestlist itu dinyatakan tidak berlaku lagi. Kami juga pakai guestlist masuknya. Kami dapat guestlist atas nama Vanny, dari Kak Vanny.

“Maaf. Guestlist-nya sudah full.” Kata seorang pegawai club yang bertugas mengurusi guestlist.
“Coba dicek lagi, atas nama Vanny.” Ronny memaksa.
“Sudah, Bro. Full. Sorry.” Jawab pegawai club itu, dia cewek yang rambutnya Mohawk.
“Atas nama Icha.” Aku nyamber.
“Wait….. oh, ada atas nama Icha. Silakan.”

Jujur, aku  hanya asal bicara. Icha itu nama cewek yang pasaran. Pemilik nama itu sudah pasti gaul, meski aku tidak tahu seperti apa wujudnya.

Kami masuk ke dalam club. Ini bukan yang pertama kalinya, tetapi kami seperti selalu saja norak mendengar musik di dalam sana, kami norak melihat lampu sorot berwarna-warni, kami norak melihat cewek-cewek berpakaian seksi, kami norak melihat orang mabuk-mabukan. Kami berjingkrak-jingkrak, mata kami menjelajah seisi tempat itu mencari orang yang dikenal.

“Yo what’s up!!!!” Fajar mengagetkan kami dari belakang. Dia melompat ke badan Ronny, hingga Ronny terpaksa menggembloknya. Sebuah bentuk sapa anak gaul tahun 2000an memang begitu. Kutengok, sudah ada Benny dan Robbie juga rupanya. Sudah wangi-wangi badan mereka. Mantap gayanya. Tos-tos-tos-tos.

Kita semua lengkap, berenam, dan siap memangsa cewek cantik yang ada di sini. Aku tidak tahu mengapa aku menggunakan kata ‘memangsa.’ Apa kami cowok yang buas? Sepertinya kami hanya berlagak buas.

All night long….. All night long…..

Aku melihat jam yang kukenakan di tangan kiriku, ini jam pemberian Yohanes, pakai saja katanya. Sudah Jam 1 lewat. Pantas club sudah penuh dan kami berdesak-desakan. Kami berenam hanya berdiri dan berdansa kecil di dekat meja Kak Vanny. Jika mau minum, ambil saja di meja. Begitu pesan Kak Vanny. Aku tanya Ronny sudah minum berapa gelas, dia bilang 4 gelas. Aku baru 2 gelas, tetapi entah berapa kali Kak Vanny mencekoki langsung dari botol Greygoose tadi. Kepalaku keleyengan. Kupandangi sekitar, semua seakan nampak berbayang-bayang, dan semua cewek yang ada di kelab ini seakan cantik sama rata.

Entah berapa kapasitas maksimal club ini, tetapi jika harus kukira-kira, sepertinya ada 700 orang dan 60%-nya itu cewek. Wah! Alkohol yang sudah merasuk ke dalam tubuhku semacam memberiku perintah untuk mengajak berkenalan. Aku belajar satu hal tentang mengajak cewek berkenalan. Teorinya begini. Jika aku mengatakan “Hai” ke 10 perempuan, minimal pasti ada 1 cewek yang merespon. Jadi aku berjalan, kugiring Ronny untuk ikut bersamaku. Satu persatu cewek yang kutemui, kusapa dia. “Hai.”

Belum sampai 10 cewek yang kusapa, aku sudah dapat. Namanya Brenda. Eh, Brenda atau Belinda, aku lupa. Pokoknya itu. Nggak cantik-cantik amat, tetapi badannya bagus, kakinya jenjang, sikutnya keras. Abaikan yang terakhir.

Ngobrol basa-basi, rupanya Brenda sudah setengah mabuk. Kutahu dari harum alkohol yang tercium dari mulutnya, kelihatan dari cara dia menggelendot di pundakku terus, kedengaran dari suaranya yang menyeret. Karena di club ini bising, jadi aku dan Brenda kalau ngobrol mesti bisik-bisik. Nah, Brenda ini tiap ngomong, bibirnya ditempel-tempelin ke kupingku. Bukan horny, malah risih. Jujur, aku agak kurang nyaman berurusan sama cewek yang sudah mabok. Jadi pelan-pelan kutinggal Brenda, lalu kucari yang lain.

“Brur wewe ngasa mal ota hi hama??” Tanya Ronny, nggak jelas ngomong apa, nggak kedengaran. Club itu kan berisik, dia ngomong kurang keras.
“LO NGOMONG APAAN???” Aku bertanya balik.
“CEWEK YANG SAMA LO TADI, MANA??” Ronny mengulang pertanyaan. Kali ini kedengaran.
“Toilet.” Jawabku.
“HAH??” Ronny budek.
“TOILETT!!” Kuulang jawabanku, lebih keras.
“OH. NGGAK LO ANTERIN?” Ronny nanya lagi.
“NGGAK. RIBET. UDAH MABOK.” Jawabku.
“ELU MABOK?” Ronny kembali budek.
“DIA MABOK.” Jawabku, sedikit kesal.
“IH KOK LO TINGGAL? BAGUS ITU! CANTIK!” Ronny protes.
“BAGUSAN ARAH JAM 3 GUE.” Kataku.
“MANA, MANA?” Ronny panik.
“PELAN-PELAN LIHATNYA, JANGAN NORAK.” Tegurku.

Cewek arah jam tiga yang kumaksud itu kira-kira gambarannya begini. Dia cantik, usianya sekitar 19-21 tahun, pakaiannya simple, rambutnya panjang, badannya tinggi dan ramping, kulitnya putih, dia duduk di sofa, sementara di sebelahnya ada seorang cowok, dan ada cewek-cewek dan cowok-cowok lain di meja itu. Sekitar 9 orang, lah.

“Jangan, Brur.. ada cowoknya.” Ronny khawatir.
“Belum tentu cowoknya.” Kataku.
“Jelas cowoknya. Mereka duduk sebelahan. Jangan, lah..”
“Duduk bersebelahan bukan berarti pacaran.”
“Ya udah terserah lo.”
“Kok lo jadi ngambek sih, Ron?? Jealous???”
“Yeeeee anying! Yaudah sana samperin. Kemeja gue buat lo kalo lo bisa dapet nomornya!”
“Bukan masalah kemeja. Ini masalah love at the first sight.”
“LOVE AT THE FIRST SIGHT PALA LO MELEDAK!”
“Hehe.. Tunggu sini, Brur.”

Aku beranjak dari tempat sebelumnya aku berdiri menuju ke arah bidadari yang dari tadi kudebatkan sama Ronny. Aku berjalan agak memutar sampai kemudian aku berada persis di belakang sofa yang cewek itu duduki. Urusan kenalan, menurutku cuma urusan timing. Kurasa timing yang tepat akan tiba sebentar lagi.

Keep reading

Perempuan

Di mana lagi aku temui perempuan semacammu? Tilawahmu tidaklah terlalu merdu, keimananmu pun seolah bersandar kepadaku.

Tapi, di mana lagi aku temui perempuan seikhlasmu? Wajahmu tak cantik melulu, masakanmu pun tidak lezat selalu.

Tapi, katakan kepadaku, di mana lagi aku jumpai perempuan seperkasamu? Kau bahkan tidak biasa berbicara mewakili dirimu sendiri, dan acapkali menyampaikan isi hatimu dalam bahasa yang tak berkata-kata.

Demi Tuhan, tapi aku benar-benar tidak tahu, ke mana lagi aku cari perempuan seinspiratif dirimu? Ingatkah lima tahun lalu aku hanya memberimu selingkar cincin 3 gram yang engkau pilih sendirian? Tidak ada yang spektakuler pada awal penyatuan kita dulu. Hanya itu. Karena aku memang tidak punya apa-apa.

Ah, bagaimana bisa aku menemukan perempuan lain sepertimu? Aku tidak akan melupakan amplop-amplop lusuhmu, menyimpan lembaran ribuan yang kausiapkan untuk belanja satu bulan. Dua ribu per hari. Sudah kauhitung dengan cermat. Berapa rupiah untuk minyak tanah, tempe, cabe, dan sawi. Ingatkah, Sayang? Dulu kita begitu akrab dengan racikan menu itu. Setiap hari. Sekarang aku mulai merasa, itulah masa paling indah sepanjang pernikahan kita. Lepas maghrib aku pulang, berkeringat sebadan, dan kaumenyambutku dengan tenang. Segelas air putih, makan malam: tempe, sambal, dan lalap sawi.

Kita bahagia. Sangat bahagia?.. Aku bercerita, seharian ada apa di tempat kerja. Kau memijiti punggungku dengan jemarimu yang lemah tapi digdaya. Kau lalu bercerita tentang tingkah anak-anak tetangga? Kala itu kita begitu menginginkan hadirnya buah cinta yang namanya pun telah kusiapkan sejak bertahun-tahun sebelumnya. Kita tidak pernah berhenti berharap, kan, Honey?

Dua kali engkau menahan tangismu di ruang dokter saat kandunganmu mesti digugurkan. Aku menyiapkan dadaku untuk kepalamu, lalu membisikkan kata-kata sebisaku, “tidak apa-apa. Nanti kita coba lagi. Tidak apa-apa.” Di atas angkot, sepulang dari dokter, kita sama-sama menangis, tanpa isak, dan menatap arah yang berlawanan. Tapi, masih saja kukatakan kepadamu, “Tidak apa-apa, Sayang. Tidak apa-apa. Kita masih muda.” Engkau tahu betapa lukanya aku. Namun, aku sangat tahu, lukamu berkali lipat lebih menganga dibanding yang kupunya. Engkau selalu bisa segera tersenyum setelah merasakan sakit yang mengaduk perutmu, saat calon bayi kita dikeluarkan. Kaumemintaku menguburkannya di depan rumah kita yang sepetak. “Yang dalam, Kang. Biar nggak digali anjing.”

Jadi, ke mana aku bisa mencari perempuan sekuat dirimu? Kaupasti tak pernah tahu, ketika suatu petang, sewaktu aku masih di tempat kerja, hampir merembes air mataku ketika kauberitahu. “Kang, Mimi ke Ujung Berung, jual cincin.” Cincin yang mana lagi? Engkau sedang membicarakan cincin kawinmu, Sayang. Yang 3 gram itu. Aku membayangkan bagaimana kau beradu tawar menawar dengan pembeli emas pinggir jalan. Bukankah seharusnya aku masih mampu memberimu uang untuk makan kita beberapa hari ke depan? Tidak harus engkau yang ke luar rumah, melawan gemetar badanmu, bertemu dengan orang-orang asing. Terutama ? untuk menjual cincinmu? Cincin yang seharusnya menjadi monumen cinta kita. Tapi kausanggup melakukannya. Dan, ketika kupulang, dengan keringat sebadan, engkau menyambutku dengan tenang. Malam itu, tidak cuma tempe, cabe, dan lalap sawi yang kita makan. Kaupulang membawa uang. Duh, Gusti, jadi bagaimana aku sanggup berpikir untuk mencari perempuan lain seperti dirinya?

Ketika kondisi kita membaik, bukankah engkau tidak pernah meminta macam-macam, Cinta? Engkau tetap sesederhana dulu. Kaubelanja dengan penuh perhitungan. Kauminta perhatianku sedikit saja. Kau kerjakan semua yang seharusnya dikerjakan beberapa orang. Kaucintai aku sampai ke lapisan tulang. Sampai membran tertipis pada hatimu.

Ingatkah, Sayang? Aku pernah menghadiahimu baju, yang setelah itu kautak mau lagi membeli pakaian selama bertahun-tahun kemudian. Baju itu seharga kambing, katamu. Kautak mau buang-buang uang. Bukankah telah kubebaskan kau mengelola uang kita? Kautetap seperti dulu. Membuat prioritas-prioritas yang kadang membuatku kesal. Kau lebih suka mengisi celengan ayam jagomu daripada membeli sedikit kebutuhanmu sendiri.

Dunia, kupikir aku tak akan pernah menemui lagi perempuan seperti dia. Sepekan lalu, Sayang, sementara di rahimmu anak kita telah sempurna, kaumasih memikirkan aku. Menanyai bagaimana puasaku, bukaku, sahurku? Siapa yang mencuci baju-bajuku, menyetrika pakaianku. Bukankah sudah kupersilakan engkau menikmati kehamilanmu dan menyiapkan diri untuk perjuanganmu melahirkan anak kita? “Kang, maaf, ya, dah bikin khawatir, gak boleh libur juga gak papa. Tadi tiba-tiba gak enak perasaan. Tau nih, mungkin krn bentar lagi.” Bunyi smsmu saat kudalam perjalanan menuju Jakarta. Panggilan tugas. Dan, engkau sangat tahu, bagiku pekerjaan bukan neraka, tetapi komitmen. Seberat apa pun, sepepat apa pun, pekerjaan adalah sebuah proses menyelesaikan apa yang pernah aku mulai. Tidak boleh mengeluh, tidak boleh menjadikannya kambing hitam. Membaca lagi SMSmu membuatku semakin tebal bertanya, ke mana lagi kucari seorang pecinta semacammu.

Kaumencintaiku dengan memberiku sayap. Sayap yang mampu membawaku terbang bebas, namun selalu memberiku alamat pulang kepadamu. Selalu. Lalu SMS mu itu kemudian menjadi firasat. Sebab, segera menyusul teleponmu, pecah ketubanmu. Aku harus segera menemuimu. Secepat-cepatnya meninggalkan Bandung menuju Cirebon untuk mendampingimu. “Terus kamu kenapa masih di sini? Pulang saja,” kata atasanku ketika itu. Engkau tahu, Sayang, aku masih berada di dalam meeting ketika teleponmu mengabarkan semakin mendekatnya detik-detik lahirnya “tentara kecil” kita. Ketika itu aku masih berpikir, boleh kuselesaikan meeting itu dulu, agar tidak ada beban yang belum terselesaikan. Tapi, tidak. Atasanku bilang, tidak. “Pulang saja,” katanya. Baru kubetul-betul sadar, memang aku segera harus pulang. Menemuimu. Menemanimu. Lalu, kusalami mereka yang ada di ruang rapat itu satu-satu. Tidak ada yang tidak memberikan dorongan, kekuatan, dukungan.

Lima jam kemudian aku ada di sisihmu. Seranjang sempit rumah sakit dengan infuse di pergelangan tangan kirimu. Kaumulai merasakan mulas, semakin lama semakin menggila. Semalaman engkau tidak tidur. Begitu juga aku. Berpikir untuk memejamkan mata pun tak bisa. Aku tatap baik-baik ekspresi sakitmu, detik per detik. Semalaman, hingga lepas subuh, ketika engkau bilang tak tahan lagi. Lalu, aku berlari ke ruang perawat. “Istri saya akan melahirkan,” kataku yakin.

Bergerak cepat waktu kemudian. Engkau dibawa ke ruang persalinan, dan aku menolak untuk meninggalkanmu. “Dulu ada suami yang ngotot menemani istrinya melahirkan, lihat darah, tahu-tahu jatuh pingsan,” kata dokter yang membantu persalinanmu. Aku tersenyum, yang pasti laki-laki itu bukan aku. Sebab aku merasa berada di luar ruang persalinan itu akan jauh lebih menyiksa. Aku ingin tetap di sisihmu. Mengalirkan energi lewat genggaman tanganku, juga tatapan mataku. Terjadilah. Satu jam. Engkau mengerahkan semua tenaga yang engkau tabung selama bertahun-tahun. Keringatmu seperti guyuran air. Membuat mengilap seluruh kulitmu. Terutama wajahmu. Menjerit kadangkala. Tanganmu mencengkeram genggamanku dengan kekuatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kekuatan yang lahir oleh kesakitan. Engkau sangat kesakitan, sementara “tentara kecil” kita tak pula mau beranjak. “Banyak kasus bayi sungsang masih bisa lahir normal, kaki duluan. Tapi anak ini kakinya melintang,” kata dokter. Aku berusaha tenang. Sebab kegaduhan hatiku tidak bisa membantu apa-apa. Kusaksikan lagi wajah berpeluhmu,Sayang. Kurekam baik-baik, seperti fungsi kamera terbaik di dunia. Kusimpan lalu di benakku yang paling tersembunyi. Sejak itu kuniatkan, rekaman itu akan kuputar jika suatu ketika kuberniat mencurangimu, menyakitimu, melukaimu, mengecewakanmu.

Aku akan mengingat wajah itu. Wajah yang hampir kehilangan jiwa hanya karena ingin membuatku bahagia. “Sudah tidak kuat, Kang. Nggak ada tenaga,” bisikmu persis di telingaku. Karena sengaja kulekatkan telingaku ke bibirmu. Aku tahu, ini urusan nyawa. Lalu kumerekam bisikanmu itu. Aku berjanji pada hati, rekaman suaramu itu akan kuputar setiap lahir niatku untuk meminggirkanmu, mengecilkan cintamu, menafikkan betapa engkau permata bagi hidupku. Aku mengangguk kepada dokter ketika ia meminta kesanggupanku agar engkau dioperasi. Tidak ada jalan lain. Aku membisikimu lagi, persis di telingamu, “Mimi kuat ya. Siap, ya. Ingat, ini yang kita tunggu selama 5 tahun. Hayu semangat!”

Engkau mengangguk dengan binar mata yang hampir tak bercahaya. Aku tahu, ini urusan nyawa. Tapi mana boleh aku memukuli dinding, menangis sekencang angin, lalu mendongak ke Tuhan, “Kenapa saya, Tuhan! Kenapa kami?” Sebab, Tuhan akan menjawab, “Kenapa bukan kamu? Kenapa bukan kalian?” Aku mencoba tersenyum lagi. Mengangguk lagi kepadamu. “Semua akan baik-baik saja.” Maka menunggumu di depan ruang operasi adalah saat di mana doa menjadi berjejal dan bernilai terkhusyuk sepanjang hidup. Seandainya aku boleh mendampingi operasimu?. Tapi tidak boleh. Aku menunggumu sembari berkomat-kamit sebisaku. Aku sendirian. Berusaha tersenyum, tetapi sendirian. Tidak ? tidak terlalu sendirian.

Ada seseorang mengirimiku pesan pendek dan mengatakan kepadaku, “Aku ada di situ, menemanimu.” Kalimat senada kukatakan kepadanya suatu kali, ketika dia mengalami kondisi yang memberatkan. “Apa kepala bebalmu tidak merasa? Aku ada di situ! Menemanimu!” Lalu, tangis itu! Rasanya seperti ada yang mencabut nyawaku dengan cara terindah sedunia. Tangis itu! Tentara kecil kita. Menjadi gila rasanya ketika menunggu namaku disebut. Berlari ke lorong rumah sakit ketika tubuh mungil itu disorongkan kepadaku. “Ini anak Bapak?” Tahukah engkau, Sayang. Ini bayi yang baru keluar dari rahimmu, dan aku harus menggendongnya. Bukankah dia terlau rapuh untuk tangan-tangan berdosaku? Dokter memberiku dukungan. Dia tersenyum dengan cara yang sangat senior. “Selamat, ya. Bayinya laki-laki.” Sendirian, berusaha tenang. Lalu kuterima bayi dalam bedongan itu. Ya, Allah?.bagaimana membahasakan sebuah perasaan yang tidak terjemahkan oleh semua kata yang ada di dunia???

Makhluk itu terpejam tenang semacam malaikat; tak berdosa. Sembari menahan sesak di dadaku, tak ingin menyakitinya, lalu kudengungkan azan sebisaku. Sebisaku. Sebab, terakhir kukumandangkan azan, belasan tahun lalu, di sebuah surau di pelosok Gunung Kidul. Azan yang tertukar redaksinya dengan Iqomat. Mendanau mataku. Begini rasanya menjadi bapak? Rasanya seperti tertimpa surga. Aku tak pedul lagi seperti apa itu surga. Rasanya sudah tidak perlu apa-apa lagi untuk bahagia. Momentum itu berumur sekitar lima menit. Tentara kecil kita diminta oleh perawat untuk dibersihkan. Ingatanku kembali kepadamu.

Bagaimana denganmu, Sayang? Kukirimkan kabar tentang tentara kecil kita kepada seseorang yang semalaman menemani kita bergadang dari kejauhan. Dia seorang sahabat, guru, inspirator, pencari, dan saudara kembarku. “He is so cute,” kata SMS ku kepadanya. Sesuatu yang membuat laki-laki di seberang lautan itu menangis dan mengutuk dirinya untuk menyayangi bayi kita seperti dia merindukan dirinya sendiri. Sebuah kutukan penuh cinta. Setengah jam kemudian, berkumpul di ruangan itu. Kamar perawatan kelas dua yang kita jadikan kapal pecah oleh barang-barang kita. Engkau, aku, dan tentara kecil kita. Seorang lagi; keponakan yang sangat membantuku di saat-saat sulit itu. Seorang mahasiswi yang tentu juga tidak tahu banyak bagaimana mengurusi bayi. Tapi dia sungguh memberiku tangannya dan ketelatenannya untuk mengurusi bayi kita. Engkau butuh 24 jam untuk mulai berbicara normal, setelah sebelumnya seperti mumi. Seluruh tubuhmu diam, kecuali gerakan mata dan sedikit getaran di bibir.

Aku memandangimu, merekam wajahmu, lalu berjanji pada hati, 50 tahun lagi, engkau tidak akan tergantikan oleh siapa pun di dunia ini. Lima hari, Sayang. Lima hari empat malam kita menikmati bulan madu kita sebenar-benarnya. Aku begitu banyak berimprovisasi setiap hari. Mengurusi bayi tidak pernah ilmunya kupelajari. Namun, apa yang harus kulakukan jika memang telah tak ada pilihan? Aku menikmati itu. Berusaha mengurusmu dengan baik, juga menenangkan tentara kecil kita supaya tangisnya tak meledak-ledak. “Terima kasih, Kang,” katamu setelah kubantu mengurusi kebutuhan kamar mandimu. Lima tahun ini apa keperluanku yang tidak engkau urus, Sayang? Mengapa hanya untuk pekerjaan kecil yang memang tak sanggup engkau lakukan sendiri, engkau berterima kasih dengan cara paling tulus sedunia? Lalu ke mana kata “terima kasih” yang seharusnya kukatakan kepadamu sepanjang lima tahun ini? Tahukah engkau, kata “terima kasih” mu itu membuat wajahmu semelekat maghnet paling kuat di kepalaku. Mengurusimu dan bayi kita.

Lima hari itu, aku menemukan banyak gaya menangisnya yang kuhafal di luar kepala, agar aku tahu apa pesan yang ingin dia sampaikan. Gaya kucing kehilangan induk ketika ia buang kotoran. Gaya derit pintu ketika dia merasa kesepian, gaya tangis bayi klasik (seperti di film-film atau sandiwara radio) jika dia merasa tidak nyaman, dan paling istimewa gaya mercon banting; setiap dia kelaparan. Tidak ada tandingnya di rumah sakit bersalin yang punya seribu nyamuk namun tidak satu pun cermin itu. Dari ujung lorong pun aku bisa tahu itu tangisannya meski di lantai yang sama ada bayi-bayi lain menangis pada waktu bersamaan.

Ah, indahnya. Tak pernah bosan kutatapi wajah itu lalu kucari jejak diriku di sana. Terlalu banyak jejakku di sana. Awalnya kupikir 50:50 cukup adil. Agar engkau juga merasa mewariskan dirimu kepadanya. Tapi memang terlalu banyak diriku pada diri bayi itu. Hidung, dagu, rahang, jidat, tangis ngototnya, bahkan detail cuping telinga yang kupikir tidak ada duanya di dunia.

Ada bisik bangga, “Ini anakku? anak laki-lakiku. ” Tapi tenang saja, istriku, kulitnya seterang dan sebening kulitmu. Rambutnya pun tak seikal rambutku. Kuharap, hatinya kelak semembentang hatimu. Kupanggil dia Sena yang berarti tentara. Penggalan dari nama sempurnanya: Senandika Himada. Sebuah nama yang sejarahnya tidak serta-merta. Panjang dan penuh keajaiban. Senandika bermakna berbicara dengan diri sendiri; kontemplasi, muhasabbah, berkhalwat dengan Allah. Sedangkan Himada memiliki makna yang sama dengan Hamida atau Muhammad: YANG TERPUJI? dan itulah doa kita untuknya bukan, Sayang? Kita ingin dia menjadi pribadi yang terpuji dunia akhirat. Kaya nomor sekian, pintar pun demikian, terkenal apalagi. Yang penting adalah terpuji? mulia?dan ini bukan akhir kita, bukan, Honey?

Ini menjadi awal yang indah. Awalku jatuh cinta (lagi) kepadamu. (persembahan buat setiap perempuan, dan ibu yang hatinya semembentang samudra)

——
Cerpen by Tasaro GK

Kita mengeluh atas listrik yang mati atau data terhapus;Imam Asy-Syafi’i tersenyum kala difitnah, dibelenggu, dan dipaksa berjalan terantai dari Shan’a menuju Baghdad. Kita menyedihkan komputer jinjing yang tetiba mengadat dan batas waktu penulisan yang gawat; sedang punggung Imam Ahmad berbilur dipukuli pagi dan petang hanya karena satu kalimat. Kita berduka atas gagal terbitnya suatu karya; padahal Imam Al-Mawardi berjuang menyembunyikan tulisan-tulisannya hingga menjelang ajal, agar dirinya terhibur dari puja.

Mari kembali pada Imam An-Nawawi yg wafat di usianya 45, dan tak usah bicara tentang Al-Majmu Syarh Al-Muhadzdzab-nya yg dahsyat dan Riyadhus Shalihin-nya yg jelita. Mari perhatikan saja karya tipisnya Al-Arba'in An-Nawawiyah. Betapa dalam 42 hadits yg dipilih dgn cermat itu ada lapis-lapis keberkahan yg melampaui segala hitungan. Ia disyarah beratus kali, dihafal berlaksa akal dihati, dikaji berjuta manusia, dan tetap menakjubkan susunannya.

Maka tiap kali kita bangga dgn ‘bestseller’, 'nomor satu’, 'juara’, 'dahsyat’, dan 'terhebat’, liriklah kitab kecil itu. Lirik saja. Agar kita tahu bahwa kita belum apa-apa, belum kemana-mana, dan bukan siapa-siapa. Lalu tak henti belajar, berkarya, dan bersahaja.

© Ust Salim A.Fillah

#semangatPerbaikan
#menujuKitaMadani
🌱

3

Syahdan, beberapa tahun lalu, mungkin sekitar 6-7 tahun, saya mendapatkan hadiah milad dari kawan-kawan baik saya, Meir & San. Berupa topi komando dan kemeja lapangan Eiger; berhubung saya suka ngebolang dan juga pernah mengantar mereka sampai ke puncak Mahameru. Saya suka sekali dengan hadiah itu.

Selain barang, mereka juga memberikan semacam kerajinan hand-made berupa boks “harta karun” yang berisi kulit kerang, pasir pantai, pasir hitam (saya menduga ini pasir Semeru, hehe), dan botol berisi surat; seolah seperti pirate’s treasures. Saya pikir botol plus surat itu hanyalah aksesoris untuk memberikan kesan treasure berharganya. Saya simpan itu semua karena yakin buatnya susah dan untuk menghargai pemberian orang–saya sangat kekeuh dalam hal ini (baca: menyimpan pemberian orang sepanjang hayat).

Kemarin, saya berberes barang-barang karena mungkin akan meninggalkan İndonesia dalam waktu yang lama, lalu menemukan “harta karun” ini lagi. Saya perhatikanlah dengan cermat gulungan surat dalam botol; kok nampaknya bukan aksesoris biasa. Pernah dengar dong tentang surat wasiat atau pesan yang ditaruh di dalam botol persis seperti di film-film itu? Nah, ini mirip begitu, hehe. Saya bukalah botol itu dan susah payah mengeluarkan suratnya. Lalu, betapa terkejutnya saya ternyata selama ini ada pesannya. Saya baru tahu sekarang, oof! Isinya membuat saya terharu berupa potongan teks lagu yang sangat saya suka mengenai persahabatan, “So Long Astoria”. Priceless.

Intinya, ditemukanlah peta harta karun dan pergi bersama sahabat untuk mencari, meski tidak menemukan harta karun dan pulang dengan tangan hampa, tetapi masih membawa banyak kisah; luka peperangan, kapal-kapal bajak laut, tangan yang terluka, tulang yang patah, dan memori terbaik dari persahabatan. Bahwa dalam persahabatan, yang membuat jadi kenangan itu bukan tujuannya, tetapi prosesnya. Bukan ke Semerunya, tetapi perjalanan menuju Semeru itu.

Bagi saya ini sesuatu, tidak tahu bagi orang lain. Untuk itulah saya berbagi di sini. Untuk diri saya sendiri agar senantiasa menghargai persahabatan; setiap detik dan jengkalnya.

Bukan, bukan waktu yang tidak pernah berpihak padamu. Pun bukan karena kauterlambat ataupun kurang cermat.

Semata-mata karena yang tidak ditakdirkan untukmu, akan lepas pula dari jangkauanmu. Entah pernah atau tidak, ia terlihat matamu.

—  Tia Setiawati
Surat Dari Ayah

Nak, kali ini ayah datang menemuimu di pertemuan rutin kita dengan bentuk yang berbeda.
Cukup kali ini ayah datang menemuimu dengan sepucuk surat.
Semoga dengan surat yang kau baca ini, pesan ayah akan kuat membekas padamu. Karena pesan yang ayah sampaikan kali ini adalah pesan penutup atas pengajaran yang selama ini telah ayah berikan kepadamu.

Nak, selama ini ayah telah mendidikmu untuk selalu menjadi anak yang unggul dalam setiap persaingan.
Ayah juga mengajarkanmu untuk dapat membaca peluang pada setiap kesempatan. Menjadi anak yang tegas, cermat, dan tepat dalam setiap tindakan. Ayah pun mengajarkanmu untuk selalu berusaha keras, berikhtiar baja, dan bertekad kuat.

Tak lupa, ayah memintamu untuk selalu berdoa.

Agar usahamu di dunia terhubung dengan kehidupan akhiratmu.

Ayah masih ingat, pada diskusi kita malam itu, kau begitu begitu bersemangat dengan rencana-rencana masa depanmu.

Ayah larut dalam pemaparanmu.

Seakan-akan, ayah berada dalam rangkaian perjalanan yang hendak kau tempuh.

Meskipun mungkin nanti ayah tidak selalu berada di sampingmu, setidaknya malam itu ayah tahu bahwa engkau adalah anak yang gigih dalam mencapai impian.

Ayah telah melihat engkau sebagai seorang yang gigih berjuang dan khusyuk dalam berdoa.
Mungkin dua hal itu yang membuatmu menjadi hebat dibanding anak-anak lainnya.

Namun nak, kali ini, izinkan ayah menyampaikan satu pelajaran lagi yang harus kau terus latih dan biasakan.
Dengan satu pelajaran terakhir ini, engkau akan menjadi manusia yang ikhlas dan tidak mudah goyah dalam mewujudkan impianmu.

Pelajaran itu adalah, “Latihlah hatimu untuk menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan harapanmu.”

Sebelumnya, ayah akan memceritakan padamu tentang sikap indah yang dimiliki oleh sahabat nabi ketika berdoa.
Dalam doa, dia selalu siap dengan dua kemungkinan: Diijabah dan tidak diijabah.

Jika yang terjadi kemungkinan pertama, dia akan merasa bahagia, karena harapannya telah menjadi kenyataan.

Namun jika yang terjadi kemungkinan kedua, dia akan merasa lebih bahagia berkali-kali lipat. Karena kenyataan yang dia terima adalah pilihan Tuhannya, bukan pilihannya.

Nak, engkau kini telah berubah dari seorang mahasiswa menjadi seorang sarjana.

Engkau telah meninggalkan kolam dan berenang menuju lautan.
Kehidupanmu yang sebelumnya serba terukur akan kau tinggalkan.

Dan setelah ini, engkau akan seringkali bertemu dengan ombak ketidakpastian. Akan banyak arus yang tidak sesuai dengan harapanmu yang mungkin saja mengecewakanmu.

Namun dengan hati yang terlatih dengan ketidaksuaian harapan, engkau akan lebih dewasa dan bijak nak.
Engkau akan lebih ikhlas menerima dan siap lebih cepat untuk mengambil keputusan yang lebih besar.




Ditulis oleh: @bagus-adikarya