cermatic

3

Behind The Scenes: Shooting Jenna’s Video

DARI GARUT UNTUK DUNIA

Perawakannya kecil, namun suaranya lantang. Setiap kali ia hendak naik ke podium, para santri bertanya-tanya kali ini ia akan menyampaikan materi apa. Termasuk saya. Karena selalu ada hal baru dalam ceramah-ceramahnya. Itulah A Adi yang saya kenal semasa di pondok. Orang kini menengalnya sebagai Ustadz Adi Hidayat. Seorang dai, seorang ustadz, seorang hafiz, dengan kaliber ulama Quran dan Hadits yang mumpuni. Ribuan jamaah melingkar untuk menyimak tausiyah dan dedahan ilmunya.

Di pondok, saya dan Ust. Adi Hidayat terpaut dua angkatan. Saya adik kelasnya sewaktu kami nyantri di Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut. Saya tahu waktu itu banyak santri yang tak suka pada A Adi, termasuk saya kadang-kadang (hehehe). Tetapi itu bukan karena perangainya yang buruk… Lebih karena ia begitu baik, taat beribadah, berprestasi, dekat dengan guru dan pembina… Dan tentu saja karena ia sangat “ngustad”. Banyak orang tak suka padanya jelas karena iri alias cemburu pada keilmuan dan akhlaknya. Soal bahwa mengapa banyak santri putra enggan bertemu dan mengobrol dengannya, mungkin karena takut diceramahi. Siapa sih yang suka diceramahi? Padahal, seandainya mereka tahu, selalu ada mutiara dalam nasihat-nasihatnya.

Saat tumbuh di pesantren, saya menjadikan A Adi sebagai salah satu benchmark dalam menggapai prestasi, di bidang apapun. Bagaimana tidak, sejak saya masuk sebagai santri kelas 1, semua orang sudah membicarakan Adi Hidayat (santri kelas 3) yang bisa berprestasi di berbagai bidang: Ranking 1 pelajaran umum, ranking 1 pelajaran pesantren, juara aneka lomba dari debat hingga cerdas cermat, bahkan kompetisi olahraga.

Then I grew up by looking up at him as one of my role models. Saya berusaha menyusulnya dengan meraih prestasi yang pernah diraihnya juga, ranking 1 pelajaran umum maupun ranking 1 pelajaran pesantren pernah saya raih. Urusan lomba-lomba juga saya tak mau kalah, saya ikuti puluhan lomba dari tingkat pondok hingga tingkat nasional dan menjuarai beberapa di antaranya. Di bidang olahraga, saya juara tenis meja dan masuk ke dalam tim elit basket pesantren. Saya berusaha mengamalkan apa yang dinasihatkan Kiai Miskun, kiai kami di Pondok, sebagaimana tercantum dalam Al-Quran, “Wa likulli wijhatun huwa muwalliha,” bahwa setiap sesuatu termasuk setiap orang memiliki kebelihannya masing-masing. Dan yang harus kita lakukan adalah, “Fastabiqul khairat,” berlomba-lomba dalam kebaikan.

Sampailah saya pada satu titik di mana saya dan A Adi sudah sama-sama duduk di bangku Aliyah. Ia kelas 3 dan saya kelas 1. Kami sudah sama-sama tumbuh dengan rekam jejak masing-masing… Dan persaingan, kompetisi, untuk tak menyebutnya rivalitas, menjadi tak terhindarkan lagi. Kami sering terlibat dalam debat terbuka yang disaksikan banyak santri, bersaing dalam lomba bahtsul kutub, dan lainnya. Saya berusaha “mengalahkan” semua prestasi yang pernah diraihnya di aneka level, Provinsi maupun Nasional. Di beberapa bidang saya berhasil menang dan membuat rekor yang lebih baik, di sejumlah bidang yang lain A Adi tak mungkin terbendung lagi.

Tetapi, satu hal yang tak bisa saya susul darinya dengan cara apapun adalah ketakwaan dan budi pekertinya. Saya tahu diri soal itu. Ia sepertinya tak pernah merasa tersaingi, itulah yang membuat saya menarik diri dari “persaingan” dengannya. Dan juga karena ternyata kami pada akhirnya memilih jalur dan peminatan yang berbeda. Jika Kiai Miskun punya dua pilihan untuk para santrinya: Mau jadi intelektual yang ulama atau ulama yang intelktual? Saya lebih tertarik pada jalur yang pertama sementara kelihatannya A Adi fokus di pilihan yang kedua.

Saya ingat setelah “islah” itu semua jadi berubah. Saya mulai dekat dengan A Adi. Di masjid, saya mulai sering berdiskusi dan tak malu untuk bertanya hal-hal yang tidak saya mengerti. Sayangnya waktu itu A Adi sudah akan keluar dari pondok… Di satu sisi saya menyesal mengapa “pengakuan” saya datang terlambat, sementara seandainya saya “bersahabat” dengannya sejak lama mungkin saya bisa belajar lebih banyak darinya–sejak kelas 1. Tetapi di sisi lain saya juga bersyukur, semua “kompetisi” saya dengannya bagaimanapun telah membentuk siapa diri saya hingga saat ini.

Saya ingat hal yang paling mengesankan adalah selanjutnya kami sering berada dalam satu kontingen, terutama untuk lomba debat bahasa. Suatu kali kami berada dalam satu tim dan bekerjasama untuk memenangkan perlombaan… dan menang.

Kini, Ust. Adi Hidayat telah tumbuh menjadi sosok ulama yang intektual dengan kapasitas yang luar biasa. Saya sudah bisa menduganya sejak lama. Sejak kami pertama bertemu di masjid di tahun 1999. Kini ceramahnya ditunggu banyak orang, ilmunya menerangi ummat. Saya memang berjuang di “jalan dakwah” dan “medan jihad” yang lain, tetapi tentang A Adi saya selalu punya stock kekaguman dan rasa bangga yang cukup untuk ingin bisa bersama-sama dengannya.

Semalam kami bertemu. Usai mendengarkan kajiannya di Al-Ihsan PTM Bekasi, kami berbincang tentang banyak hal: Tentang tentang tantangan dakwahnya, tentang pihak-pihak yang berusaha menjatuhkannya, tentang komitmennya pada masa depan ummat, tentang rencana-rencana sinergi dan kolaborasi. Tak lupa juga sejumlah cerita nostalgia.

Dari sejumlah nasihatnya semalam, saya catat baik-baik satu hal, bahwa perjuangan untuk memberikan manfaat pada umat bukan hal gampang dan bisa dilakukan sendirian. Mulai hari ini, kita harus melakukannya bersama-sama…


Ciputat, 7 April 2017

FAHD PAHDEPIE

Penakut

Seseorang yang kamu anggap penakut, tidak berani keluar dari sesuatu yang kamu nilai sebagai kenyamanannya adalah seseorang yang tentu sering salah, tapi dia pasti tahu yang dipilihnya, termasuk risiko dan apa pun yang kelak bisa menyulitkannya.

Dari sana kupikir, berani bukan hanya dia yang berbekal nekat dan ingin, lalu merasa menang karena sudah keluar dari zona nyaman. Berani, adalah juga untuk dia yang siap menanggung apa saja atas putusannya. Pahit, berat, susah, sempit, sesak atau takbisa bergerak.

Walau terlihat menyedihkan, karena keterbatasan akibat keputusannya, dia tahu yang dia pilih. Walau dinilai penakut, tidak berani ambil risiko, bijaklah melihat bahwa bisa saja kamu yang luput mengetahui sudah sejauh mana dia melawan ketakutannya. Hingga dia sampai pada sebuah keputusan, pemikiran panjang pasti sudah dilewati dengan cermat.

Bagaimanapun, dia tetap manusia biasa. Dia terlahir dengan rasa takut. Sewaktu-waktu, dia bisa menangis karena hal kecil, atau tanpa alasan sama sekali. Dia pasti pernah menyesal terhadap yang sudah dipilihnya. Tapi ijab qobul antara pemikiran dan pertimbangan sudah terjadi. Maka, usaha terakhirnya adalah menikmati. Dia tidak butuh apa pun, kecuali diterima.

Seseorang yang kamu sebut penakut, tanpa kamu tahu sudah mengalahkan egonya untuk orang lain, juga tanpa kamu kira, dia mungkin sudah lebih dulu mengalahkan ketakutan yang lebih besar daripada ketakutan takbisa keluar dari zona nyaman.

Aku merelakan diriku di sedapkan oleh Pakcik Taher.Sambil beromen kami bergolek di atas karpet.Sedutannya berterusan dari dada, tetek, perut dan terus ke batangngku. Dengan cermat, lidahnya bermain-main di muncung batangku, pandai dia memain-mainkan kepala kote ku hingga ke tengkuk. Aku berdenguh tanpa dapat ditahan. Kini seluruh batangku di tutuh seperti bermain harmonika. Aaah buahku turut dikulum sambit sedutan-sedutan lembut dan ganas dilakukannya membuatkan nafas aku turun naik,tersentak dengan kencang.“Aaaah pakcik.. sudahlah tu….” Maniku bagai mahu terpancar tetapi tidak terpancar. Ia bagaikan tergantung di situ penuh kenikmatan. Perutku turun naik,kejang menahan sakit bercampur nikmat yang amat sangat.“pakcik memang idamkan ini….” bisiknya dengan suara dan nafas bak kuda. Dia terus menggenggam batangku, mengocoknya ganas. dalam kenikamatan itu aku rasa sesuatu yang sedang meniti di juburku.Tidak kusangka Pakcik Taher menjilat juburku…Aaah Oooh.. Aku tidak terucap… Tanganku cuba menarik tangan Pakcik Taher untuk menghentikannya, namun dia terus ganas menyerangku…Punggungku di jarakkan dengan tangan sambil memaksa aku mengangkang.Kedua-dua kakiku terkangkang ke atas sambil aku dalam keadaan terlentang…Tiba-tiba aku rasa sambil dia menghisap batang aku dengan ganas,jarinya bermain-main di bibir juburku.Dalam kesedapan, aku tidak berupaya menahannya. Perlahan-lahan jarinya ditekankan ke juburku sambil lidahnya dimain-mainkan di kepala kote ku..”Jangan bang….“ aku mula lemas…. Aku tidak rela jarinya menerobos juburku..Cepat aku cuba mengemut agar jarinya tidak dapat di masukkan.
Mmmmmmmph…Mmph…… Bunyi nafasnya yang bak kuda. Hisapannya makin kencang sambil jarinya ditekankan perlahan-lahan kejuburku, cuba menawanku penuh kesabaran. Aku cuba bangun menghalang,tapi cepat dia menolakku semula…"Jangan pakcik…nngghh oooh aaaah…” Aku mencengkam rambutku.Kesedapan yang teramat sangat membuatkan aku tidak berdaya lagi untuk menghalang serangan jari Pakcik Taher di juburku… Aku makin lemah…. makin ghairah…. Makin ingin terus diterokai…. Ommmmphhhchhphhk…. Mulut Pakcik Taher cekap menghela zakar ku. Secepat itu juga jarinya memujuk juburku agar merelakan….Aku masih enggan mengaku kalah… “jjjangan pakcik…jangannn..saya tak nak…..Kalau tidak…. saya jerit…” “Diam!” jerkahnya. Pehaku di angkat ke atas, terkangkang. Aku tidak dapat bergerak lagi selain menunggu saat itu.Tangannya melata ke seluruh tubuhku yang dibasahi peluh. Alur ponggongku juga kian basah.Aku makin lemah… makin lemas… Pakcik Taher makin gagah, makin ganas makin menggila.Ooommmmmmphmmmm…..mmmpppmmh… nafas kudanya jadi bak seladang…Tanganku mencengkam tubuhnya. Cuba menolak tubuh sasa yang makin menghimpit…Dengan cekap jari nya terus menekan-nekan juburku. Aku tidak berdaya lagi menahan kemutanku. Mataku makin layu. Nafasku makin kaku…. Aku tahu, dia tahu aku sudah mula mengalah…Jarinya dengan lembut di tekan perlahan-lahan ke juburku…Ooohhh..ngggg…Tolong pakcik…jangan…nanti sakit…..“ aku merayu. Jari telunjuknya terus mengorek dan berputar-putar dengan lincah dan sekali-sekali mencuba menusuk-nusuk. "Aakkh.. Ooughh…” aku semakin keras mengerang-ngerang. .Tangannya berterusan meraba-raba dan menjolok alur lubang dubur ku hingga membuatkan aku mulai merasakan kelainan, sesuatu yang tak pernah ku rasai selama ini. Jari Pakcik Taher terbenam terus dalam lubang dubur ku sambil jarinya menjolok-jolok bermain di juburku. Perlahan-lahan dia bermain memberikan aku satu kenikmatan lain. Dia memasukan dua Jari……. “pakcik…” aku terkemut-kemut menahan jolokan jari Pakcik Taher.“pakcik nak masukkan konek dalam lubang kamu, boleh tak…?”tanya Pakcik Taher dengan nada manja. Namun aku agak takut berasa sakit pula jika diikutkan kehendak Pakcik Taher itu. Berkali-kali Pakcik Taher memujuk ku, aku tetap menolak. Kaki ku dirapatkan bagi mengelakkan Pakcik Taher bertindak di luar jangkaannya pula.“Ala….dik, cube sekali aje……kalau sakit, pakcik berenti okay…?”rayu Pakcik Taher lagi. “pakcik… jangan nanti sakit” aku merayu….. namun rayuanku memberikan rangsangan yang semakin ganas.Aku lihat Pakcik Taher mengambil ky jelly dan melumurkan ke batang dia. Dia lumurkan sedikit ke lubang bontot aku sehingga terasa sejuk… nyaman…. Aku hanya menanti sahaja saat itu dengan hati yang tidak rela.Kepala zakarnya kini di arahkan ke pintu utama ku…“Tidaaaakk…jangan… ” “pakcik buat pelan-pelan….sedap…” bisiknya penuh nafsu. Aku hanya menunggu dalam ketidakupayaan. Kepala batangnya menyentuh tepat mulut juburku, kurasakan begitu besar. Aku jadi takut. Ku rasa kepala itu diasak-asakkan ke juburku pelan-pelan. Mahu tak mahu, aku mengalah dahulu, aku juga ingin tahu bagaimana rasanya konek Pakcik Taher yang besar dimasukkan ke dalam lubang ku nanti. Dengan nafsu jantan yang tidak lagi dapat dikawal Pakcik Taher merapatkan dirinya ke bontot aku sambil tangan kirinya memegang batang pelirnya mengarahkannya kepala koneknya yang gemuk ke lubang juburku yang telah menganga lalu menggesel-geselkan batang pelirnya sambil dikepit oleh lemak bontot aku. “Aakkhh.. ja.. jangan .., ough..!” tiba-tiba aku menjerit keras, mata ku terbelalak dan badan aku menegang keras saat dirasakan oleh ku sebuah benda keras dan tumpul berusaha menyerbu masuk ke dalam lubang dubur ku. Ternyata Pakcik Taher berusaha menanamkan batang pelirnya ke lubang dubur aku. Pakcik Taher dengan selambernya cuba memasukkan pelirnya perlahan-lahan ke dalam lubang dubur aku,dia tekan sedikit tetapi tak mampu menembusinya. “Aaakh.. aahh.. sakit.. ahh..!” aku meraung-raung kesakitan, badan ku semakin mengejang.Pakcik Taher mengambil ky jelly dan menyapukan kan jarinya lantas dia membasahkan pula lubang blkg aku. dia masukkan jari telunjuknya perlahan lahan. ” arghhhhhhhhhhh……. aku tak dapat menahan nikmatnya….. jarinya digrip begitu kemas sekali “…. apabila sudah agak selesa dia memasukkan 2 jarinya kedlm lubang blkgku… apa bila merasakan keadaan sudah selesa, Pakcik Taher membetulkan kedudukan,memegang dan menguakkan punggung aku. Kepala zakarnya singgah di permukaan lubang dubur aku.
“Tahan sikit ye, dik”, tutur Pakcik Taher.
“pakcik nak liwat saya ke? Matilah saya macam ni. Pakcik punya dah lah tebal dan panjang. Sakit saya nak menahan nanti..”, luah aku yang mula pasrah akan disetubuhi Pakcik Taher pada luar tabi’e.
“Bukannya besar pun pelir pakcik ni”, balas Pakcik Taher dan menekan zakarnya ke dalam lubang dubur aku dengan perlahan.
“Erghh..”, desah aku sambil terdongak dan mengetap bibir dalam keadaan menonggek meniarap dalam merangkak.
Pakcik Taher kemudian mengeluarkan zakarnya dengan perlahan. Setelah itu, zakar org tua itu dimasukkan kembali ke dalam lubang dubur aku dengan perlahan dan dikeluarkan dengan tempo yang sama. Keadaan itu berlanjutan untuk beberapa minit.
“Relakskan otot jubur…” bisiknya…cuba mengajar.“Kalau tidak nanti sakit…..Kali ini pakcik akan terus tekan… Kalau tak nak sakit, relakan saja….” “aaahhh…uuuh….” Aku terpaksa akur….Benda besar itu mula di dorongkan ke depan. Oleh kerana takut, aku relakskan juburku agar kepala batangnya dapat menelus masuk…. Dengan penuh kepakaran, Pakcik Taher mula menekan.. Aku memejamkan mata menunggu dengan penuh ngeri. Aku selalu dengar dan baca cerita tentang perbuatan ini. Rata-rata mereka kata pengalaman ini sangat menyakitkan apalagi kalau pecah dara…Ada yang kata rasanya macam jubur dikoyak dua… Di luar sana hujan telah lama turun dengan lebatnya. Perlahan-lahan Pakcik Taher menolak masuk koneknya, butohnya yang hangat itu sedikit demi sedikit menembusi bibir lubang aku. “plop”…Aku menjerit kesakitan bila kepala cendawan Pakcik Taher berjaya menceroboh ke lubang belakangku. “Owwwwwhhh……. aaarrrrrhhhhh…….sakit… cikgu…….. aaaaaarrrhhh…”“Emmmmpphhh….. tahan dulu……kejap aje….uummpphh…….”Aku tahu yang kekuatan Pakcik Taher melebihi ku, kesakitan yang dirasai saat itu sukar untuk ditahan, apatah lagi konek Pakcik Taher yang amat besar dan padu itu sedang berusaha untuk ditujahkan lebih dalam lagi. Walaupun aku cuba menolak Pakcik Taher semula, namun Pakcik Taher tetap dengan keinginan nafsunya itu.“Owwwhhh…… arrghhhh.. sakit…cikgu…….. aaaAARRGGGHHHHHhhhhh…” “Emmmphhh……sikit lagi sayang……eeemmphh….. ooooaaAAAAHHhhh..” otot kemutku terus mencengkam kepala cendawan Pakcik Taher . Terasa sakit yang amat sangat… seolah-olah nak koyak juburku. Pakcik Taher dapat melihat dengan jelas bahagian kepala batang pelirnya terbenam mengoyak lubang dubur ku dengan ganas sekali. “Arrrrkkkkk………aaarkkkkk… …sssaaaaaakittttttttttttttttttttttttt…aa rrkk kkkk” raung ku. Pakcik Taher memaksa kepala cendawannya masuk semakin dalam, dia menyuruhku agar aku tidak menahan kemasukan itu sebaliknya merelakan dengan relax. Kepala ku terdongak ke atas, mulut ku terbuka luas, mata ku terbeliak apabila Pakcik Taher menekan batang pelirnya lebih dalam. Kini sudah separuh dari batang Pakcik Taher tenggelam, mengoyak lubang dubur ku dan cuba menekan lebih dalam lagi. Di masa yang sama raungan ku semakin bertambah kuat. “Aaaaaaaarrrrrrkkkkkkkkkkkk….. Aaaarrrrkkkkkk” kedengaran bunyi dari mulut ku yang terbuka luas. Suara ku seakan- akan tersekat di kerongkong. Batang pelir Pakcik Taher semakin ganas mengoyak dan merabak lubang dubur ku. Menggedik-gedik tubuh ku seperti ayam kena sembelih. Kepedihannya tidak tertanggung lagi. Pakcik Taher menarik sedikit batang pelirnya hingga takuk kepala batang pelirnya kemudian sekali lagi membenamkannya. “Aaaaarrrrrrrrrrrrrkkkkkkkkkkk… ..Aaaaaarrrrrkkkkkkk” aku menggelepar, seperti orang terkena kejutan elektrik apabila lubang dubur ku menerima hentaman kedua santak sampai ke pangkal batang pelirnya. Dan akhirnya Pakcik Taher bernafas lega disaat seluruh buntuhnya berhasil tertanam di lubang dubur aku. Setelah keseluruhan koneknya dimasukkan ke dalam lubang nikmat itu. Aku rasa bagai nak terberak….Sakit tapi penuh nikmat terutama bila Pakcik Taher menegang-negangkan batangnya di dalam lubang ku. Kini mulailah dia menyondol ku dengan kedua tangan memegang pinggan ku. Dia mulai menujahkan batang pelirnya mulai dari irama pelahan dan kemudiannya laju sehingga membuat tubuh ku bergoyang-goyang dengan kuat.“Aahh.. aahh.. aah.. oohh. . sudah… oohh.. su..dah lah tu ahhh… saakiit.. ooh..!” begitulah rintihan ku. . Tubuh aku terhenyak-terguncang di katil. Makin di rayu, makin mengila Pakcik Taher kerjakan lubang dubur ku. Keringat semakin membanjir memenuhi tubuhnya. Lama-kelamaan aku longlai dan hanya mengikuti kemahuan Pakcik Taher . aku kelihatan amat tidak bermaya sekali. Dia terus mengasak-asak ku. Ahhhhh….. aku menjerit tanpa dapat ditahan. Dia semakin ghairah mendengar jeritanku…. Makin lama makin ganas sehingga dia langsung tak menghiraukan jeritanku malah makin terus menggila….dia menyorong tarik batangnya. Keperitan dijolok bercampur kesedapan itu tidak dapat aku gambarkan.“kemut kuat……"sentak Pakcik Taher seakan marah… "plap….plap….” tangannya menampar-nampar bontotku. aku mengemut batang raksasa Pakcik Taher …. Pakcik Taher menghentakkan koneknya sekuat hati ke juburku. hangat… terasa setiap inci konek raksasa Pakcik Taher melanggar dinding juburku. penuh memenuhi ruang juburku. henjutan yang kasar keluar masuk juburku. aku menggelengkan kepala menahan hentakan demi hentakan Pakcik Taher .Pakcik Taher melepaskan sebelah kakiku turun. kini dia memeluk sebelah kakiku sambil menyorong batangnya yang besar berurat keluar masuk juburku… aku megetapkan bibir… sakit… mataku terpejam…… “plop…ploppp…” bunyi peha Pakcik Taher berlaga bontotku.sesekali memerik peluhnya membasahi tubuhku…. aroma jantan yang sedang bersetubuh… mengasyikkan… mengkhayalkan…. Tiba-tiba Pakcik Taher memberhentikan asakannya lalu dia menarik koneknya keluar dari juburku dan mendapati lubang bontot aku yang bulat besar ternganga berbentuk batang Pelirnya. Puas menjuburku dari depan,Pakcik Taher menyuruhku menonggeng. kakiku di kangkangkan luas…. bontotku melentik macam anjing nak kena jolok… doggy style la katakan… juburku yang mulai lega, kini di tujah konek raksasa Pakcik Taher semula. “Arghhh…. pakcik….” ku megerang bila kepala takuk Pakcik Taher meloloskan ke juburku… Simpulan dubur aku mula merekah lalu membenarkan takuk kepala batang pelir Pakcik Taher masuk Sedikit demi sedikit kepanjangan batang pelir Pakcik Taher menyumbat celah bontot subur aku menyebabkan aku semakin menonggek akibat disumbat sedemikian rupa. Tidak dapat dibendung lagi rasa enaknya tatkala kulit zakarnya menggesel isi lubang dubur yang maha lembut itu hingga akhirnya kantung telur zakar Pakcik Taher melekap di celah bontot subur ku. Tertonggek aku ketika batang pelir Pakcik Taher santak ke dasar bontot ku. Mata ku terbeliak dan kepala ku terdongak. Pakcik Taher merasakan seperti batang pelirnya digigi-gigit di dalam lubang dubur ku dan mula menujah dengan perlahan, “mmphhh….mmpphh…” dengus ku menggelinjat menerima asakan perlahan dan teratur dari Pakcik Taher . Pakcik Taher memegang bahuku sambil menghenjut sekuatnya seluruh koneknya masuk ke juboku. aku menjerit….“arghhh… Pakcik……” Pakcik Taher semakin ghairah dengan jeritanku… dia semakin melajukan tujahan batang koneknya keluar masuk kejuboku….. aku menjerit perlahan. aaaaahhhhhhggggg…sakit Pakcik! Pakcik Taher yang semakin ghairah setiap kali aku merengek…. aku rasakan konek Pakcik Taher yang besar berurat menjadikan aku tidak karuan dan jadi serba tak kena… rasa sakit… pedih…. sedap….. nikmat……. Pakcik Taher kemudian melurutkan zakarnya pada alur punggung aku dengan rakus sementara aku makin melentikkan lagi tonggengan punggung ku. Seterusnya, dubur aku terus dihenjut bertalu-talu oleh zakar Pakcik Taher dengan sekuat-kuat hati.
“Ahh!! Ahh!! Ahh!! Uhh!! Uhh!! Uhh!!”, raung aku sambil tubuh ku terlentik-lentik dan kepala ku terdongak-dongak sementara dahi ku berkerut-kerut, mata ku terpejam erat, dan mulut ku menganga luas.
Henjutan zakar Pakcik Taher pada dubur aku semakin deras dan rakus. Jerutan dubur aku yang mengemut hebat zakarnya amat mengasyikkan Pakcik Taher.
“Huu! Sedapnya jolok bontot kamu! Ketat! kamu memang kemut power!”, keluh Pakcik Taher.
“Uhh!! Uhh!! Uhh!! pakcik memang dah rancang nak liwat saya ye! Ahh!! Ahh!! Ahh!!”, tanya aku dalam meraung kerana diliwat org tua itu dengan deras.
Pakcik Taher tidak menjawab dan terus mengerjakan punggung aku dengan semahunya. Pakcik Taher menarik kedua-dua tangan aku ke belakang dan meletakkannya dibelakang pinggang aku. Setelah kedudukan kedua-dua tangan aku dikunci oleh kedua-dua tangannya, Pakcik Taher menghenjut lagi dubur aku dengan lebih deras dan lebih rakus.
“Ohh!! Ohh!! Ohh!! Ohh!! Ohh!!”, raung aku dengan tubuh yang separa ternaik dan punggung yang terlentik habis dalam kedudukan menonggeng meniarap sambil merangkak itu.
“Sedap betul dapat jolok jubur kamu! Huu! Huu!”, dengus Pakcik Taher dengan kuat.
“sayang…..sedap tak rasa konek pakcik……” Pakcik Taher berbisik ghairah ke telingaku…. lidahnya sibuk bermain ke telingku… kekadang dia menggigit manja telingku…. “sedap pakcik….” aku seperti di pukau oleh batang konek Pakcik Taher … Pakcik Taher menghentak sekuatnya koneknya ke juboku “Sakit pakcik! perlahan sikit! pintaku. "Sedapkan sayang ..Sayang rasa sedap tak? ” pujuk Pakcik Taher yang rakus merobek lubang juboku. “sedap"aku seperti dipukau.. walaupun sakit aku tetap menyatakan sedap.. .Setiap kali batang konek Pakcik Taher keluar masuk, aku dapat merasa seluruh batang koneknya dan dinding juburku mengemutnya dengan kuat.Tangannya memaut kemas kedua-dua pinggul ku. “Eeerkh… .eeerrkkhhh…” rintih ku kesenakan bila Pakcik Taher menghujam-menikam batang pelirnya dengan ganas,dia semakin menggila menghentak juburku…. pedih….. badanku terpelanting sama setiap kali konek Pakcik Taher keluar masuk juburku."Sedap jubur kamu ni…” bisik Pakcik Taher … “pakcik… laju”….Aku hanya mampu mengerang kesedapan….. “Uuhhh…uhh…ooohhh…hmmmmm,” Dengus Pakcik Taher kenikmatan, Kepala zakar nya mula mengembang dan berdenyut-denyut, Pakcik Taher menjilat telingaku…habis basah dengan air liurnya…. sebelah tangannya menarik erat tubuhku… rapat ke tubuhnya.. terasa basah belakangku bersatu bengan bulu dadanya yang berpeluh. tangan sebelah lagi meramas-ramas rambutku. “aku merengek-rengek manja” Pakcik Taher menghayunkan dgn penuh bertenaga. Aku menguatkan kemutan… aku tahu Pakcik Taher sudah sampai klimaks…. aku tonggengkan bontotku sambil ku kemutkan batang konek Pakcik Taher . dia menarik kuat bahuku.. dan hingga akhirnya. satu hentakkan kuat membenamkan konek raksasa miliknya….. “Arghhhhh………” dia meraung melepaskan pancutan-pancutan panas ke dalam jubur ku….

Karakter Zodiak (Part 10)

Udah part 10 aje ndrak. Ho'oh nih. Ada yang aku sedihkan sih sebenernya dengan nulis beginian. Hasil observasi kepada kawan dekatku takutnya jadi sugesti negatif jika yang saya tulis ternyata negatif. Just don’t yak gaes. Tulisan ini dibikin dalam rangka menyayangi kawan-kawan dekat saya karena ngasi kado ke mereka yang ada ngelunjak adanya. Dikasih tulisan aja udah. Perlu jadi catatan, kebanyakan lulusan psikologi tercetak menyukai observasi kepada berbagai macam bentuk orang. Mengenal banyak orang itu menyenangkan, menemui keunikan masing-masing kalian adalah anugerah. So, nikmati saja tulisan saya ini. Jika lain kali ada tawaran meramal nasib orang, saya akan dengan tegas menolak karena saya hanya percaya kepada Allah. Tsahh..

LIBRA zodiak berlambang timbangan, yang dari kemarin banyak dinanti saking bontot urutannya, merupakan salah satu zodiak yang kebanyakan dari pengidapnya memiliki kelebihan fisik. Kaum-kaum cakep banyak lahir dari zodiak ini. Entah kebetulan atau apa, idola di SMA sampai kuliah kebanyakan libra. Mereka punya daya tarik alami yang akan dengan mudahnya menarik orang di sekitarnya untuk mengagumi. Libra tipikal orang yang menjunjung rasa keadilan. Dia menimbang dengan cermat apa yang menjadi pilihannya. Saking cermatnya dia relatif lambat, karena terbelit pikirannya sendiri. Lupa bahwa keputusan perlu diambil, tidak sekedar direnungkan.

Menjadi libra tidak mudah, mencari yang selevel dengan mereka tentu butuh usaha ekstra. Jika mereka punya selera keindahan yang bagus, minimal itu pula yang mereka jadikan patokan dalam mencari pasangan. Mereka tidak suka ketidakteraturan. Seorang libra pandai mengambil hati orang lain, namun kelebihannya ini juga yang sering menimbulkan penilaian negatif dari orang sekitarnya, mereka dinilai bermuka dua. Libra cenderung ambisius. Dia punya kemampuan mempersuasi orang lain dengan sempurna demi tercapainya keinginannya. Agaknya jadi marketing boleh juga.

Libra sesuai dengan lambangnya timbangan, dia gerah melihat ketidakadilan di sekitarnya. Libra adalah pembawa keadilan ter-oke. Namun saking detailnya soal adil ini, Libra memiliki keraguan yang begitu besar. Kebimbangan jadi hantu gentayangan dalam hidupnya. Sini piknik sama kakak dulu sini. Libra haus atas pengetahuan, pada dasarnya begitu. Pengetahuan atas calon gebetan, dikorek habis jika itu sudah menyangkut rasa penasaran tingkat dewa. Sampai rasa ingin tahunya terpuaskan.

Jadi, itulah si timbangan, salah siapa lambangnya timbangan? Entahlah. Kalian tetap jajaran para idola yang karismanya menguar tanpa perlu usaha. Jika itu adalah kelebihanmu, tengok juga kekuranganmu sebagai yang susah mengambil keputusan. Saya harap tidak ada pertanyaan “ zodiak ini cocoknya sama zodiak apa ya kak?”. Karena pada dasarnya semua manusia bisa diterima, tergantung kitanya saja. Hidup adalah kompromi tanpa akhir. Sekian tentang LIBRA. Selanjutnya akan ada SCORPIO. Enjoy :)

Surabaya, 23 April 2016

panutan

“I think everyone needs to be a role model, period”

Sekarang, saya mulai paham kenapa para orang tua sering khawatir sama gaya hidup generasi kita yang beda banget sama era mereka dulu. Mungkin pemahaman ini berkembang karena udah semakin jauh saya menapaki jenjang kedewasaan di umur 26. Makin kerasa gimana deg-degannya punya adik, ponakan atau sepupu yang selisih umurnya jauh.

Selain itu, janin di kandungan istri memengaruhi kejiwaan saya sebagai calon orang tua. Di tengah proses kehamilan sekarang ini, sejumput kecemasan kerap muncul setiap ngeliat gimana perkembangan zaman bisa memengaruhi karakter anak muda. Ini toh kecemasan yang dulu diwanti-wanti sama orang tua kita. Gimana nanti pas anak saya seusia remaja ya?

Saya enggak gelisah dengan umur yang terus nambah karena itu bagian dari fitrah, tapi saya resah karena kecepatan perkembangan zaman yang disokong teknologi bisa semengagetkan ini. Bentuk medsos makin beragam dan ngedorong kita untuk ngejadiin sebagian pengguna lain sebagai “seleb” baru karena alasan fisik, gaya hidup, ketertarikan atau kemampuannya. Selama keliatan keren, setiap orang berkesempatan punya banyak pengikut setia tanpa harus berlaku baik sebagai teladan.

Di situ letak kengeriannya. Medsos yang hampir sepenuhnya terbuka dan kaya isi, enggak punya saringan yang sesuai dengan kelayakan usia pengguna selain fitur konfirmasi umur. Saya pernah ngobrol dengan seorang bapak muda tentang tantangan membesarkan anak di era modern. Komentarnya sederhana, “Kalau ngerasa kuat untuk mengubah zaman, silahkan. Kalau itu berat, yang bisa kita lakuin ya cuma ngejaga keluarga sendiri. Itu benteng terawal sekaligus terakhir”.

Pasalnya, beberapa minggu lalu, media massa diriuhkan oleh berita segelintir vlogger yang diprotes KPAI karena khilaf mengunggah foto ataupun video yang dinilai negatif secara penampilan maupun isi. Apa mau dikata, banyak orang tua kecolongan pas tau buah hatinya menempatkan “seleb-seleb” virtual itu sebagai panutan yang layak ditiru. Enggak ketinggalan, mereka juga menganggap drama romantika yang dijalin para idola baru itu dengan kekasihnya sebagai #relationshipgoals yang perlu dituju. Seolah-olah, medsos jadi etalase yang begitu ciamik untuk memajang beragam bentuk perilaku “keren”.

Kecemasannya belum terasa? Coba bayangin adik, sepupu atau ponakan kesayangan kita sebagai sosok belia yang mudah meniru dan menggilai sesuatu. Siapapun tau bahwa jati diri remaja begitu mudah dibentuk oleh persepsinya sendiri.

Sebelum label munafik atau sok suci kemudian dipopulerkan untuk mereka yang gampang khawatiran, nurani kita memang tercipta untuk menilai hal-hal apa aja yang secara mendasar berkesesuaian dengan norma. Karena itu, sebetulnya kita enggak perlu sungkan untuk belajar jadi inspirator yang secara kontinyu menyuarakan pesan positif di linimasa. Walau perlahan, tapi pastikan prosesnya terus berjalan.

Kita akrab dengan pepatah, “Lebih baik nyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan”. Betapa mudahnya mengutuk pengaruh negatif medsos yang menggentayangi anak muda dengan segala ketidaksesuaiannya. Namun bukankah memberikan sedikit penerangan tetap lebih mencerahkan ketimbang berpasrah diri dalam gelap? Maka, percaya dirilah dan suarakan setiap semangat kebaikan lewat cara apapun. Sangat disayangkan kalau konten-konten mencerahkan kalah bising dibanding konten-konten meresahkan. Tugas memotivasi bukan cuma pekerjaan motivator di layar kaca.

Saya bukan lagi menggiring opini siapapun untuk enggak mengikuti akun-akun pribadi yang lagi hits. Saya juga enggak lagi menghujat figur tertentu dengan hak masing-masing untuk berkreasi di depan barisan pencintanya. Tapi bukankah di balik pengaruh yang mengakar kuat, juga ada tanggung jawab yang besar untuk mendidik lingkungan sekitar? Adik-adik kita masih membutuhkan bimbingan untuk lebih cermat memilih panutan dan kita harus mengetengahkan kembali figur-figur cemerlang pada tempat yang semestinya untuk diteladani. 

Demi generasi muda di masa depan, kita perlu terus melaju dengan kesadaran bahwa setiap orang harus jadi inspirator yang memantik kebaikan lewat lisan, tulisan maupun tindakan. Dengan begitu, kita bisa memastikan bahwa mereka enggak akan pernah kehabisan stok panutan untuk dituruti.

“If you are given a chance to be a role model, I think you should always take it because you can influence a person’s life in a positive light and that’s what it’s all about”

Perempuan

Di mana lagi aku temui perempuan semacammu? Tilawahmu tidaklah terlalu merdu, keimananmu pun seolah bersandar kepadaku.

Tapi, di mana lagi aku temui perempuan seikhlasmu? Wajahmu tak cantik melulu, masakanmu pun tidak lezat selalu.

Tapi, katakan kepadaku, di mana lagi aku jumpai perempuan seperkasamu? Kau bahkan tidak biasa berbicara mewakili dirimu sendiri, dan acapkali menyampaikan isi hatimu dalam bahasa yang tak berkata-kata.

Demi Tuhan, tapi aku benar-benar tidak tahu, ke mana lagi aku cari perempuan seinspiratif dirimu? Ingatkah lima tahun lalu aku hanya memberimu selingkar cincin 3 gram yang engkau pilih sendirian? Tidak ada yang spektakuler pada awal penyatuan kita dulu. Hanya itu. Karena aku memang tidak punya apa-apa.

Ah, bagaimana bisa aku menemukan perempuan lain sepertimu? Aku tidak akan melupakan amplop-amplop lusuhmu, menyimpan lembaran ribuan yang kausiapkan untuk belanja satu bulan. Dua ribu per hari. Sudah kauhitung dengan cermat. Berapa rupiah untuk minyak tanah, tempe, cabe, dan sawi. Ingatkah, Sayang? Dulu kita begitu akrab dengan racikan menu itu. Setiap hari. Sekarang aku mulai merasa, itulah masa paling indah sepanjang pernikahan kita. Lepas maghrib aku pulang, berkeringat sebadan, dan kaumenyambutku dengan tenang. Segelas air putih, makan malam: tempe, sambal, dan lalap sawi.

Kita bahagia. Sangat bahagia?.. Aku bercerita, seharian ada apa di tempat kerja. Kau memijiti punggungku dengan jemarimu yang lemah tapi digdaya. Kau lalu bercerita tentang tingkah anak-anak tetangga? Kala itu kita begitu menginginkan hadirnya buah cinta yang namanya pun telah kusiapkan sejak bertahun-tahun sebelumnya. Kita tidak pernah berhenti berharap, kan, Honey?

Dua kali engkau menahan tangismu di ruang dokter saat kandunganmu mesti digugurkan. Aku menyiapkan dadaku untuk kepalamu, lalu membisikkan kata-kata sebisaku, “tidak apa-apa. Nanti kita coba lagi. Tidak apa-apa.” Di atas angkot, sepulang dari dokter, kita sama-sama menangis, tanpa isak, dan menatap arah yang berlawanan. Tapi, masih saja kukatakan kepadamu, “Tidak apa-apa, Sayang. Tidak apa-apa. Kita masih muda.” Engkau tahu betapa lukanya aku. Namun, aku sangat tahu, lukamu berkali lipat lebih menganga dibanding yang kupunya. Engkau selalu bisa segera tersenyum setelah merasakan sakit yang mengaduk perutmu, saat calon bayi kita dikeluarkan. Kaumemintaku menguburkannya di depan rumah kita yang sepetak. “Yang dalam, Kang. Biar nggak digali anjing.”

Jadi, ke mana aku bisa mencari perempuan sekuat dirimu? Kaupasti tak pernah tahu, ketika suatu petang, sewaktu aku masih di tempat kerja, hampir merembes air mataku ketika kauberitahu. “Kang, Mimi ke Ujung Berung, jual cincin.” Cincin yang mana lagi? Engkau sedang membicarakan cincin kawinmu, Sayang. Yang 3 gram itu. Aku membayangkan bagaimana kau beradu tawar menawar dengan pembeli emas pinggir jalan. Bukankah seharusnya aku masih mampu memberimu uang untuk makan kita beberapa hari ke depan? Tidak harus engkau yang ke luar rumah, melawan gemetar badanmu, bertemu dengan orang-orang asing. Terutama ? untuk menjual cincinmu? Cincin yang seharusnya menjadi monumen cinta kita. Tapi kausanggup melakukannya. Dan, ketika kupulang, dengan keringat sebadan, engkau menyambutku dengan tenang. Malam itu, tidak cuma tempe, cabe, dan lalap sawi yang kita makan. Kaupulang membawa uang. Duh, Gusti, jadi bagaimana aku sanggup berpikir untuk mencari perempuan lain seperti dirinya?

Ketika kondisi kita membaik, bukankah engkau tidak pernah meminta macam-macam, Cinta? Engkau tetap sesederhana dulu. Kaubelanja dengan penuh perhitungan. Kauminta perhatianku sedikit saja. Kau kerjakan semua yang seharusnya dikerjakan beberapa orang. Kaucintai aku sampai ke lapisan tulang. Sampai membran tertipis pada hatimu.

Ingatkah, Sayang? Aku pernah menghadiahimu baju, yang setelah itu kautak mau lagi membeli pakaian selama bertahun-tahun kemudian. Baju itu seharga kambing, katamu. Kautak mau buang-buang uang. Bukankah telah kubebaskan kau mengelola uang kita? Kautetap seperti dulu. Membuat prioritas-prioritas yang kadang membuatku kesal. Kau lebih suka mengisi celengan ayam jagomu daripada membeli sedikit kebutuhanmu sendiri.

Dunia, kupikir aku tak akan pernah menemui lagi perempuan seperti dia. Sepekan lalu, Sayang, sementara di rahimmu anak kita telah sempurna, kaumasih memikirkan aku. Menanyai bagaimana puasaku, bukaku, sahurku? Siapa yang mencuci baju-bajuku, menyetrika pakaianku. Bukankah sudah kupersilakan engkau menikmati kehamilanmu dan menyiapkan diri untuk perjuanganmu melahirkan anak kita? “Kang, maaf, ya, dah bikin khawatir, gak boleh libur juga gak papa. Tadi tiba-tiba gak enak perasaan. Tau nih, mungkin krn bentar lagi.” Bunyi smsmu saat kudalam perjalanan menuju Jakarta. Panggilan tugas. Dan, engkau sangat tahu, bagiku pekerjaan bukan neraka, tetapi komitmen. Seberat apa pun, sepepat apa pun, pekerjaan adalah sebuah proses menyelesaikan apa yang pernah aku mulai. Tidak boleh mengeluh, tidak boleh menjadikannya kambing hitam. Membaca lagi SMSmu membuatku semakin tebal bertanya, ke mana lagi kucari seorang pecinta semacammu.

Kaumencintaiku dengan memberiku sayap. Sayap yang mampu membawaku terbang bebas, namun selalu memberiku alamat pulang kepadamu. Selalu. Lalu SMS mu itu kemudian menjadi firasat. Sebab, segera menyusul teleponmu, pecah ketubanmu. Aku harus segera menemuimu. Secepat-cepatnya meninggalkan Bandung menuju Cirebon untuk mendampingimu. “Terus kamu kenapa masih di sini? Pulang saja,” kata atasanku ketika itu. Engkau tahu, Sayang, aku masih berada di dalam meeting ketika teleponmu mengabarkan semakin mendekatnya detik-detik lahirnya “tentara kecil” kita. Ketika itu aku masih berpikir, boleh kuselesaikan meeting itu dulu, agar tidak ada beban yang belum terselesaikan. Tapi, tidak. Atasanku bilang, tidak. “Pulang saja,” katanya. Baru kubetul-betul sadar, memang aku segera harus pulang. Menemuimu. Menemanimu. Lalu, kusalami mereka yang ada di ruang rapat itu satu-satu. Tidak ada yang tidak memberikan dorongan, kekuatan, dukungan.

Lima jam kemudian aku ada di sisihmu. Seranjang sempit rumah sakit dengan infuse di pergelangan tangan kirimu. Kaumulai merasakan mulas, semakin lama semakin menggila. Semalaman engkau tidak tidur. Begitu juga aku. Berpikir untuk memejamkan mata pun tak bisa. Aku tatap baik-baik ekspresi sakitmu, detik per detik. Semalaman, hingga lepas subuh, ketika engkau bilang tak tahan lagi. Lalu, aku berlari ke ruang perawat. “Istri saya akan melahirkan,” kataku yakin.

Bergerak cepat waktu kemudian. Engkau dibawa ke ruang persalinan, dan aku menolak untuk meninggalkanmu. “Dulu ada suami yang ngotot menemani istrinya melahirkan, lihat darah, tahu-tahu jatuh pingsan,” kata dokter yang membantu persalinanmu. Aku tersenyum, yang pasti laki-laki itu bukan aku. Sebab aku merasa berada di luar ruang persalinan itu akan jauh lebih menyiksa. Aku ingin tetap di sisihmu. Mengalirkan energi lewat genggaman tanganku, juga tatapan mataku. Terjadilah. Satu jam. Engkau mengerahkan semua tenaga yang engkau tabung selama bertahun-tahun. Keringatmu seperti guyuran air. Membuat mengilap seluruh kulitmu. Terutama wajahmu. Menjerit kadangkala. Tanganmu mencengkeram genggamanku dengan kekuatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kekuatan yang lahir oleh kesakitan. Engkau sangat kesakitan, sementara “tentara kecil” kita tak pula mau beranjak. “Banyak kasus bayi sungsang masih bisa lahir normal, kaki duluan. Tapi anak ini kakinya melintang,” kata dokter. Aku berusaha tenang. Sebab kegaduhan hatiku tidak bisa membantu apa-apa. Kusaksikan lagi wajah berpeluhmu,Sayang. Kurekam baik-baik, seperti fungsi kamera terbaik di dunia. Kusimpan lalu di benakku yang paling tersembunyi. Sejak itu kuniatkan, rekaman itu akan kuputar jika suatu ketika kuberniat mencurangimu, menyakitimu, melukaimu, mengecewakanmu.

Aku akan mengingat wajah itu. Wajah yang hampir kehilangan jiwa hanya karena ingin membuatku bahagia. “Sudah tidak kuat, Kang. Nggak ada tenaga,” bisikmu persis di telingaku. Karena sengaja kulekatkan telingaku ke bibirmu. Aku tahu, ini urusan nyawa. Lalu kumerekam bisikanmu itu. Aku berjanji pada hati, rekaman suaramu itu akan kuputar setiap lahir niatku untuk meminggirkanmu, mengecilkan cintamu, menafikkan betapa engkau permata bagi hidupku. Aku mengangguk kepada dokter ketika ia meminta kesanggupanku agar engkau dioperasi. Tidak ada jalan lain. Aku membisikimu lagi, persis di telingamu, “Mimi kuat ya. Siap, ya. Ingat, ini yang kita tunggu selama 5 tahun. Hayu semangat!”

Engkau mengangguk dengan binar mata yang hampir tak bercahaya. Aku tahu, ini urusan nyawa. Tapi mana boleh aku memukuli dinding, menangis sekencang angin, lalu mendongak ke Tuhan, “Kenapa saya, Tuhan! Kenapa kami?” Sebab, Tuhan akan menjawab, “Kenapa bukan kamu? Kenapa bukan kalian?” Aku mencoba tersenyum lagi. Mengangguk lagi kepadamu. “Semua akan baik-baik saja.” Maka menunggumu di depan ruang operasi adalah saat di mana doa menjadi berjejal dan bernilai terkhusyuk sepanjang hidup. Seandainya aku boleh mendampingi operasimu?. Tapi tidak boleh. Aku menunggumu sembari berkomat-kamit sebisaku. Aku sendirian. Berusaha tersenyum, tetapi sendirian. Tidak ? tidak terlalu sendirian.

Ada seseorang mengirimiku pesan pendek dan mengatakan kepadaku, “Aku ada di situ, menemanimu.” Kalimat senada kukatakan kepadanya suatu kali, ketika dia mengalami kondisi yang memberatkan. “Apa kepala bebalmu tidak merasa? Aku ada di situ! Menemanimu!” Lalu, tangis itu! Rasanya seperti ada yang mencabut nyawaku dengan cara terindah sedunia. Tangis itu! Tentara kecil kita. Menjadi gila rasanya ketika menunggu namaku disebut. Berlari ke lorong rumah sakit ketika tubuh mungil itu disorongkan kepadaku. “Ini anak Bapak?” Tahukah engkau, Sayang. Ini bayi yang baru keluar dari rahimmu, dan aku harus menggendongnya. Bukankah dia terlau rapuh untuk tangan-tangan berdosaku? Dokter memberiku dukungan. Dia tersenyum dengan cara yang sangat senior. “Selamat, ya. Bayinya laki-laki.” Sendirian, berusaha tenang. Lalu kuterima bayi dalam bedongan itu. Ya, Allah?.bagaimana membahasakan sebuah perasaan yang tidak terjemahkan oleh semua kata yang ada di dunia???

Makhluk itu terpejam tenang semacam malaikat; tak berdosa. Sembari menahan sesak di dadaku, tak ingin menyakitinya, lalu kudengungkan azan sebisaku. Sebisaku. Sebab, terakhir kukumandangkan azan, belasan tahun lalu, di sebuah surau di pelosok Gunung Kidul. Azan yang tertukar redaksinya dengan Iqomat. Mendanau mataku. Begini rasanya menjadi bapak? Rasanya seperti tertimpa surga. Aku tak pedul lagi seperti apa itu surga. Rasanya sudah tidak perlu apa-apa lagi untuk bahagia. Momentum itu berumur sekitar lima menit. Tentara kecil kita diminta oleh perawat untuk dibersihkan. Ingatanku kembali kepadamu.

Bagaimana denganmu, Sayang? Kukirimkan kabar tentang tentara kecil kita kepada seseorang yang semalaman menemani kita bergadang dari kejauhan. Dia seorang sahabat, guru, inspirator, pencari, dan saudara kembarku. “He is so cute,” kata SMS ku kepadanya. Sesuatu yang membuat laki-laki di seberang lautan itu menangis dan mengutuk dirinya untuk menyayangi bayi kita seperti dia merindukan dirinya sendiri. Sebuah kutukan penuh cinta. Setengah jam kemudian, berkumpul di ruangan itu. Kamar perawatan kelas dua yang kita jadikan kapal pecah oleh barang-barang kita. Engkau, aku, dan tentara kecil kita. Seorang lagi; keponakan yang sangat membantuku di saat-saat sulit itu. Seorang mahasiswi yang tentu juga tidak tahu banyak bagaimana mengurusi bayi. Tapi dia sungguh memberiku tangannya dan ketelatenannya untuk mengurusi bayi kita. Engkau butuh 24 jam untuk mulai berbicara normal, setelah sebelumnya seperti mumi. Seluruh tubuhmu diam, kecuali gerakan mata dan sedikit getaran di bibir.

Aku memandangimu, merekam wajahmu, lalu berjanji pada hati, 50 tahun lagi, engkau tidak akan tergantikan oleh siapa pun di dunia ini. Lima hari, Sayang. Lima hari empat malam kita menikmati bulan madu kita sebenar-benarnya. Aku begitu banyak berimprovisasi setiap hari. Mengurusi bayi tidak pernah ilmunya kupelajari. Namun, apa yang harus kulakukan jika memang telah tak ada pilihan? Aku menikmati itu. Berusaha mengurusmu dengan baik, juga menenangkan tentara kecil kita supaya tangisnya tak meledak-ledak. “Terima kasih, Kang,” katamu setelah kubantu mengurusi kebutuhan kamar mandimu. Lima tahun ini apa keperluanku yang tidak engkau urus, Sayang? Mengapa hanya untuk pekerjaan kecil yang memang tak sanggup engkau lakukan sendiri, engkau berterima kasih dengan cara paling tulus sedunia? Lalu ke mana kata “terima kasih” yang seharusnya kukatakan kepadamu sepanjang lima tahun ini? Tahukah engkau, kata “terima kasih” mu itu membuat wajahmu semelekat maghnet paling kuat di kepalaku. Mengurusimu dan bayi kita.

Lima hari itu, aku menemukan banyak gaya menangisnya yang kuhafal di luar kepala, agar aku tahu apa pesan yang ingin dia sampaikan. Gaya kucing kehilangan induk ketika ia buang kotoran. Gaya derit pintu ketika dia merasa kesepian, gaya tangis bayi klasik (seperti di film-film atau sandiwara radio) jika dia merasa tidak nyaman, dan paling istimewa gaya mercon banting; setiap dia kelaparan. Tidak ada tandingnya di rumah sakit bersalin yang punya seribu nyamuk namun tidak satu pun cermin itu. Dari ujung lorong pun aku bisa tahu itu tangisannya meski di lantai yang sama ada bayi-bayi lain menangis pada waktu bersamaan.

Ah, indahnya. Tak pernah bosan kutatapi wajah itu lalu kucari jejak diriku di sana. Terlalu banyak jejakku di sana. Awalnya kupikir 50:50 cukup adil. Agar engkau juga merasa mewariskan dirimu kepadanya. Tapi memang terlalu banyak diriku pada diri bayi itu. Hidung, dagu, rahang, jidat, tangis ngototnya, bahkan detail cuping telinga yang kupikir tidak ada duanya di dunia.

Ada bisik bangga, “Ini anakku? anak laki-lakiku. ” Tapi tenang saja, istriku, kulitnya seterang dan sebening kulitmu. Rambutnya pun tak seikal rambutku. Kuharap, hatinya kelak semembentang hatimu. Kupanggil dia Sena yang berarti tentara. Penggalan dari nama sempurnanya: Senandika Himada. Sebuah nama yang sejarahnya tidak serta-merta. Panjang dan penuh keajaiban. Senandika bermakna berbicara dengan diri sendiri; kontemplasi, muhasabbah, berkhalwat dengan Allah. Sedangkan Himada memiliki makna yang sama dengan Hamida atau Muhammad: YANG TERPUJI? dan itulah doa kita untuknya bukan, Sayang? Kita ingin dia menjadi pribadi yang terpuji dunia akhirat. Kaya nomor sekian, pintar pun demikian, terkenal apalagi. Yang penting adalah terpuji? mulia?dan ini bukan akhir kita, bukan, Honey?

Ini menjadi awal yang indah. Awalku jatuh cinta (lagi) kepadamu. (persembahan buat setiap perempuan, dan ibu yang hatinya semembentang samudra)

——
Cerpen by Tasaro GK

Interview Kerja

Hari ini aku interview kerja. Seperti biasa, aku yakin kali ini pasti dapat pertanyaan-pertanyaan itu lagi, hal-hal yang selalu sama di setiap kantor yang pernah aku datangi.

Tapi, kali ini lain. Setelah perempuan itu duduk, mengabaikan puluhan lembar formulir yang telah kupenuhi, ia hanya melempar satu kalimat:

“ceritakan kisah nyata tersedih yang pernah kau dengar.”

Hebat. Pertama kalinya aku mendapatkan pertanyaan macam ini ketika interview kerja. Maka, dengan tubuh tegap, kuceritakan kisah tentang seorang anak ajaib yang selangkah lagi mendapatkan uang 1 miliar rupiah lewat gameshow cerdas cermat di televisi melawan orang dewasa namun kalah karena kebelet pipis dan mengabaikan pertanyaan terakhirnya. Sampai saat ini, ia menyesali perbuatannya tersebut.

Setelah selesai dengan cerita itu, pewawancara menyuruhku meninggalkan ruangan dan berjanji akan menghubungi terkait informasi lebih lanjut.

Sampai saat ini, belum ada panggilan dari kantor tempatku melamar. Aku terus berpikir apakah cerita barusan cukup sedih atau tidak. Sebenarnya, aku punya ribuan kisah sedih yang bisa diceritakan dan tidak yakin yang mana yang paling sedih di antara semua itu.

Tetapi, jika dipikir-pikir, aku bisa mempersiapkan cerita yang lebih sedih jika di waktu berikutnya mendapati pertanyaan macam itu ketika interview kerja. Mungkin, aku akan bercerita tentang bagaimana diriku ditolak bekerja karena mencoba menceritakan kisah paling sedih yang pernah kudengar namun salah pilih cerita.

HIKMAH JUMAT
:::: KABURNYA SEJARAH KITA ::::

Berkali-kali dalam bukunya, baik Jihad Turbani dalam “Mi'ah Udzama Ummati al Islam Ghayyaru Majra Tarikh” dan ceramah-ceramah intelektual DR Musa Syarif, disebutkan bahwa; ada pihak yang berusaha mengaburkan sejarah Umat Islam hingga runtuhlah kepercayaan diri kaum Muslimin. Sebab jika sejarah kabur, kita akan bertanya-tanya; siapa nenek moyang kita, pahlawankah dia, ksatriakah dia, penggulir sejarahkah dia?

Ya. Kita dibuat lupa, akhirnya kita benar-benar lupa. Maka saya coba buktikan salah satu statement Jihad Turbani. Beliau menuturkan dalam buku sejarah madrasah-madrasah bangsa Arab, ada bab khusus yang mengisahkan kekhalifahan Utsmaniyah. Namun sayang, dengan nada sinis bab itu berjudul “Masa Penjajahan Turki atas Arab”, bukan “Masa Emas Kekhalifahan Utsmaniyah.” Kemudian menggunakan kata “ihtalla” bermakna menjajah daripada kata “hakama” yakni memimpin.

Dalam buku ‘An Nawazil fi Tarikh Al Islam’, DR Fathi Zagrut mengisahkan masa-masa sebelum bencana keruntuhan Kekhalifahan Utsmani, “Yahudi mengibas-ibaskan tiupan kebencian pada Arab dalam dada orang Turki dalam satu sisi, sedang di sisi lain juga mengobarkan kebencian pada Turki dalam dada orang Arab”, dan hal ini mengkristal menjadi kebencian yang diabadikan dalam buku sejarah mereka.

Akibatnya setelah itu, kini kita melihat berpuluh negeri umat Islam berpecah, hanya karena kita salah memahami benang merah sejarah kita nan agung. Akhirnya sampai kini, banyak bangsa Arab membenci Turki, India tak sadar mereka berjaya di masa keislamannya, orang Spanyol seenaknya mengklaim kemajuan peradaban mereka karena Alfonso atau Isabella, bukan karena Abdurrahman Ad Dakhil atau Al Mutawakkil bin Aftasy dan umat Islam.

Sejarah yang kita baca, seenaknya mencantumkan Christopher Colombus sebagai penemu Benua Amerika, padahal ia tak lebih dari pelaut kesasar yang berniat mencari India. Sedangkan Kapten Muslim kita; Piri Reis sejatinya penemu -bahkan- telah memetakan Amerika seluruhnya dengan cermat sebelum kedatangan Colombus.

Ada “keretakan” dan “benang putus” yang harus kita rangkai kembali untuk melihat sejarah kita sebagai Umat besar yang legendaris. Engkaulah bagian dari Umat, pemilik ksatria yang tak pernah kalah bertempur, anak cucu pelaut handal yang memetakan dunia bahkan sebelum Eropa mulai berlayar. Keturunan ilmuwan besar yang mengukur diameter bumi secara tepat ketika dunia masih meyakini bumi berbentuk meja.

Begitupula Indonesia kita, tidak lepas sejarahnya dari pihak yang ingin membuat kita amnesia masalalu. Sejatinya tidaklah tepat untuk memisahkan bab “Sejarah Kemerdekaan Indonesia” dan “Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia”, karena keduanya adalah kesatuan yang saling beriringan takkan terpisah.

Ini tadabbur singkat kita, mari untuk tidak menilai sejarah sebatas angka dan nama-nama usang, mari pula untuk tidak memandangnya sebagai ilmu melihat kenangan dan bias-bias masalalu yang dramatis untuk jadi bahan tangisan. Sejarah adalah satu cara bagi kita membaca hari ini, untuk kemudian memetakan masa depan. Sejarah juga membuatmu menjadi insan yang “tidak kagetan” melihat fenomena dunia, sebab kamu akan tahu bahwa sebenarnya tidak ada sesuatu yang baru di bumi ini, “sejarah itu mengulangi dirinya sendiri”, kata Toynbee.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya di masa lalu untuk hari esok”, Al Hasyr ayat 18.

Wallahu A'lam
@edgarhamas

Referensi :
- Jaudah, Muhammad Gharib. Muujaz Tarikh Al 'Âlam, Maktabah Al Usrah, Kairo 2000
-Najib, Mustafa. Humaat Al Islam, Maktabah Al Madâ'in, Kairo 1992 M.
- Turbani, Jihad. Miah Udzamâ Ummah Al Islam Ghayyaru Majra At Tarikh, Maktabah Dar El Takoa, Kairo 2010 M.
- Zaghrut, Fathi, Dr. An Nawazil fi Tarikh Al Islam, Maktabah Dar Al Andalus, Kairo 2009 M.

perpisahan yang baik

Tadi pagi saya terbangun dengan kepala pening dan mata berkunang-kunang. Seorang teman membangunkan saya lewat panggilan internasional. Suaranya terdengar gelisah.

           ‘Apa artinya kalau pacarmu mulai tak rajin menghubungimu?’

            Saya memejamkan mata rapat-rapat, berusaha mengumpulkan kesadaran. ‘Ulangi kalimatmu.’ Suara saya terdengar parau. Saya berusaha menggapai botol minum yang saya letakkan di sebelah tempat tidur.

Keep reading

Leona (Part 4)

Ronny:
Brur, malam ini campus night.

Me:
Berangkat?

Ronny:
Berangkat.

Me:
Siapa aja yang ikut?

Ronny:
Semua ikut.

Me:
Lo jemput gue.

Ronny:
Oke.

Me:
Bawain gue kemeja.

Ronny:
Yaelah. Oke.

Kamis malam, ada campus night. Kampus kami yang bikin. Bukan kampus kami sih, tapi salah seorang mahasiswa, namanya Bang Bernard, dia memang biasa bikin event disko-disko begitu. Salah satu DJ-nya juga aku tahu, DJ Diaz, anak Fikom juga, angkatan 2004. Aku kenal Diaz. Aku kan eksis.

Nggak mungkin acara disko begini yang bikin lembaga kampus resmi. Ini acara mabuk-mabukan, bukan cerdas cermat. Ini cuma inisiatif mahasiswa yang doyan party aja, terus punya link untuk bikin acara di kelab malam, punya teman DJ yang bisa dibayar profit sharing, dan yaudah, bikin. Apa ini sudah dapat persetujuan pihak kampus? Ya enggak, lah.

Jam 10 malam, kudengar telepon genggamku berdering, dari Ronny. Katanya dia sudah di luar rumahku. Aku keluar, dan langsung membuka pintu bagian tengah mobil Ronny. Bukan mobil mewah, tapi ini tetap kendaraan roda empat. Di dalam mobil Ronny sudah ada Andhika.

“Ron, baju buat gue mana?”
“Tuh, gue bawain 3 kemeja, pilih aja.”
“Oke.”

Kami meluncur ke club malam. Di mobil, Ronny sudah memutar lagu, kata Ronny ini bergenre Chicago House Music. Musik disko yang berkelas katanya, bukan yang mainstream. Nggak paham juga aku. Tetap aja beat-nya bikin joged. Suatu hari dia akan nge-DJ di campus night, begitu mimpinya. Cetek sekali. Akan tetapi Ronny sudah ikut DJ School segala. Kalau dia belajar DJ, aku diajak. Kenal banyak anak gaul Jakarta dari situ. Padahal aku anak Bekasi. Tetapi anak Bekasi sejati memang biasanya yang kayak aku dan Ronny begini, yang sok paling eksis di Jakarta.

Sampai di suatu gedung, club itu berada di lantai paling atas pada gedung itu. Kemudian kami langsung masuk ke dalam lift, bersamaan dengan 2 pria lain. Sepertinya anak kampus kami juga, tetapi kami tidak kenal. Lalu pintu lift itu terbuka, kami yang ada di dalam lift itu keluar, dan aku melihat antre yang panjang. Itu namanya antre guestlist, yaitu orang-orang yang ingin masuk ke dalam club, tapi nggak mau bayar, makanya pakai guestlist. Kalau mau masuk pakai guestlist, itu harus datang awal, sebelum jam 12 malam. Lewat dari itu, guestlist tidak berlaku lagi. Kalau tetap mau masuk, ya harus bayar. Bayarnya 100 ribu rupiah, tidak rela aku bayar segitu untuk masuk club. Tidak ada uang juga sebenarnya. Dan guestlist itu ada limitnya. Satu nama biasanya berlaku untuk 10 orang. Kalau sudah 10 orang masuk pakai nama itu, maka guestlist itu dinyatakan tidak berlaku lagi. Kami juga pakai guestlist masuknya. Kami dapat guestlist atas nama Vanny, dari Kak Vanny.

“Maaf. Guestlist-nya sudah full.” Kata seorang pegawai club yang bertugas mengurusi guestlist.
“Coba dicek lagi, atas nama Vanny.” Ronny memaksa.
“Sudah, Bro. Full. Sorry.” Jawab pegawai club itu, dia cewek yang rambutnya Mohawk.
“Atas nama Icha.” Aku nyamber.
“Wait….. oh, ada atas nama Icha. Silakan.”

Jujur, aku  hanya asal bicara. Icha itu nama cewek yang pasaran. Pemilik nama itu sudah pasti gaul, meski aku tidak tahu seperti apa wujudnya.

Kami masuk ke dalam club. Ini bukan yang pertama kalinya, tetapi kami seperti selalu saja norak mendengar musik di dalam sana, kami norak melihat lampu sorot berwarna-warni, kami norak melihat cewek-cewek berpakaian seksi, kami norak melihat orang mabuk-mabukan. Kami berjingkrak-jingkrak, mata kami menjelajah seisi tempat itu mencari orang yang dikenal.

“Yo what’s up!!!!” Fajar mengagetkan kami dari belakang. Dia melompat ke badan Ronny, hingga Ronny terpaksa menggembloknya. Sebuah bentuk sapa anak gaul tahun 2000an memang begitu. Kutengok, sudah ada Benny dan Robbie juga rupanya. Sudah wangi-wangi badan mereka. Mantap gayanya. Tos-tos-tos-tos.

Kita semua lengkap, berenam, dan siap memangsa cewek cantik yang ada di sini. Aku tidak tahu mengapa aku menggunakan kata ‘memangsa.’ Apa kami cowok yang buas? Sepertinya kami hanya berlagak buas.

All night long….. All night long…..

Aku melihat jam yang kukenakan di tangan kiriku, ini jam pemberian Yohanes, pakai saja katanya. Sudah Jam 1 lewat. Pantas club sudah penuh dan kami berdesak-desakan. Kami berenam hanya berdiri dan berdansa kecil di dekat meja Kak Vanny. Jika mau minum, ambil saja di meja. Begitu pesan Kak Vanny. Aku tanya Ronny sudah minum berapa gelas, dia bilang 4 gelas. Aku baru 2 gelas, tetapi entah berapa kali Kak Vanny mencekoki langsung dari botol Greygoose tadi. Kepalaku keleyengan. Kupandangi sekitar, semua seakan nampak berbayang-bayang, dan semua cewek yang ada di kelab ini seakan cantik sama rata.

Entah berapa kapasitas maksimal club ini, tetapi jika harus kukira-kira, sepertinya ada 700 orang dan 60%-nya itu cewek. Wah! Alkohol yang sudah merasuk ke dalam tubuhku semacam memberiku perintah untuk mengajak berkenalan. Aku belajar satu hal tentang mengajak cewek berkenalan. Teorinya begini. Jika aku mengatakan “Hai” ke 10 perempuan, minimal pasti ada 1 cewek yang merespon. Jadi aku berjalan, kugiring Ronny untuk ikut bersamaku. Satu persatu cewek yang kutemui, kusapa dia. “Hai.”

Belum sampai 10 cewek yang kusapa, aku sudah dapat. Namanya Brenda. Eh, Brenda atau Belinda, aku lupa. Pokoknya itu. Nggak cantik-cantik amat, tetapi badannya bagus, kakinya jenjang, sikutnya keras. Abaikan yang terakhir.

Ngobrol basa-basi, rupanya Brenda sudah setengah mabuk. Kutahu dari harum alkohol yang tercium dari mulutnya, kelihatan dari cara dia menggelendot di pundakku terus, kedengaran dari suaranya yang menyeret. Karena di club ini bising, jadi aku dan Brenda kalau ngobrol mesti bisik-bisik. Nah, Brenda ini tiap ngomong, bibirnya ditempel-tempelin ke kupingku. Bukan horny, malah risih. Jujur, aku agak kurang nyaman berurusan sama cewek yang sudah mabok. Jadi pelan-pelan kutinggal Brenda, lalu kucari yang lain.

“Brur wewe ngasa mal ota hi hama??” Tanya Ronny, nggak jelas ngomong apa, nggak kedengaran. Club itu kan berisik, dia ngomong kurang keras.
“LO NGOMONG APAAN???” Aku bertanya balik.
“CEWEK YANG SAMA LO TADI, MANA??” Ronny mengulang pertanyaan. Kali ini kedengaran.
“Toilet.” Jawabku.
“HAH??” Ronny budek.
“TOILETT!!” Kuulang jawabanku, lebih keras.
“OH. NGGAK LO ANTERIN?” Ronny nanya lagi.
“NGGAK. RIBET. UDAH MABOK.” Jawabku.
“ELU MABOK?” Ronny kembali budek.
“DIA MABOK.” Jawabku, sedikit kesal.
“IH KOK LO TINGGAL? BAGUS ITU! CANTIK!” Ronny protes.
“BAGUSAN ARAH JAM 3 GUE.” Kataku.
“MANA, MANA?” Ronny panik.
“PELAN-PELAN LIHATNYA, JANGAN NORAK.” Tegurku.

Cewek arah jam tiga yang kumaksud itu kira-kira gambarannya begini. Dia cantik, usianya sekitar 19-21 tahun, pakaiannya simple, rambutnya panjang, badannya tinggi dan ramping, kulitnya putih, dia duduk di sofa, sementara di sebelahnya ada seorang cowok, dan ada cewek-cewek dan cowok-cowok lain di meja itu. Sekitar 9 orang, lah.

“Jangan, Brur.. ada cowoknya.” Ronny khawatir.
“Belum tentu cowoknya.” Kataku.
“Jelas cowoknya. Mereka duduk sebelahan. Jangan, lah..”
“Duduk bersebelahan bukan berarti pacaran.”
“Ya udah terserah lo.”
“Kok lo jadi ngambek sih, Ron?? Jealous???”
“Yeeeee anying! Yaudah sana samperin. Kemeja gue buat lo kalo lo bisa dapet nomornya!”
“Bukan masalah kemeja. Ini masalah love at the first sight.”
“LOVE AT THE FIRST SIGHT PALA LO MELEDAK!”
“Hehe.. Tunggu sini, Brur.”

Aku beranjak dari tempat sebelumnya aku berdiri menuju ke arah bidadari yang dari tadi kudebatkan sama Ronny. Aku berjalan agak memutar sampai kemudian aku berada persis di belakang sofa yang cewek itu duduki. Urusan kenalan, menurutku cuma urusan timing. Kurasa timing yang tepat akan tiba sebentar lagi.

Keep reading

Seringkali, rasa malas bisa diakali.

Pagi ini, cukup menakjubkan.

Awalnya, saya sedang malas sekali untuk bangun pagi dan segera meluncur menuju Jogja dari Solo untuk jaga kantor. Tersebab, semalam sulit tidur dan sedang banyak ide tulisan. Untunglah, ada seorang teman yang mengingatkan ketika saya berjanji untuk segera menutup laptop pukul 00.00 tepat. 

Usai subuh, saya sudah nyaris mengirimkan permintaan izin ‘bolos’ tepat ketika Bapak Dosen meminta hari ini diadakan rapat demi terselenggaranya acara besok Sabtu. Walhasil, saya memaksa diri bangkit demi mengingat tanggung jawab dan konsekuensi atas pilihan-pilihan saya sendiri.

Sesampai di kampus, tiba-tiba saya merasakan hal yang biasanya saya abaikan begitu saja; matahari pagi. Lebih tepatnya, sinar matahari pagi ini benar-benar terasa membanjiri saya ketika saya berjalan dari parkiran menuju ruang kantor. 

Rasanya… sangat mengharukan.

Kehangatan matahari pagi yang sering saya lewatkan, entah karena memang tidak keluar rumah atau tidak saya nikmati, membuat saya mengharu biru. Matahari pagi ini mengingatkan saya betapa ada kehangatan yang bisa cuma-cuma kita dapatkan setelah dingin malam yang berkepanjangan. Mungkin bisa dikatakan, rasanya sebelas-duabelas kebalikan dari mendapat hujan pertama setelah kemarau panjang. Allahurabbi… Alhamdulillah…

Pikiran saya mengembara. Teringat di sebuah pagi ketika saya menginap di rumah seorang teman. Saat itu, saya nyaris tidak berhasil menahan tawa ketika melihat dia melakukan sebuah ritual aneh sebelum mandi pagi. Untungnya, dia membelakangi saya yang senyum-senyum saja mengamatinya.

Pagi itu, dia keluar menuju belakang rumahnya, yang berisi jemuran pakaian. Saya pikir, dia hanya mengambil handuk. Namun, ternyata yang terjadi… dia mengambil panci bertelinga dan sejenak berdiri di bawah tali jemuran yang masih kosong dari pakaian. Dia mengangkat panci tinggi-tinggi sembari kepalanya mendongak ke langit. Selama beberapa detik dia menahan posisi itu untuk kemudian meregangkan tubuhnya ke kanan dan kiri, masih dengan memegang panci. Baru beberapa saat kemudian, setelah semua ritual selesai dia lakukan, yang entah apa saja, dia masuk ke kamar mandi.

Hari kedua, saya tidak tahu apakah dia melakukan ritual yang sama karena saat itu saya sudah berada di lantai atas, di kamarnya, untuk beres-beres sebelum pulang ke rumah. Hanya saja, ketika di mobil, dia tiba-tiba mengatakan dengan ekspresi yang persis saya bayangkan ketika dia melakukan ritual kemarin pagi; sebentuk rasa syukur.

“Aku suka banget matahari pagi. Rasanya hangat dan menyenangkan. Apalagi rumahku tuh kayak di Eropa gitu, kalau pas dingin ya dingin banget, yah selalu dingin banget sih kalau malam. Emang di dataran tinggi juga, sih.”

Saya mengangguk-angguk saja. Memang rumahnya sangat dingin. Untunglah banyak sofa dan karpet di rumahnya karena sekali kaki menginjak lantai, rasanya seperti benar-benar menginjak es. Bahkan air di kamar mandinya selalu dingin jam berapa pun kita mandi. Pagi itu, saya belajar menikmati matahari pagi yang nyatanya baru benar-benar saya rasakan nikmatnya hari ini.

Pagi yang menakjubkan masih berlanjut.


Beberapa menit sebelum sampai di kantor, yang jelas sebenarnya saya terlambat dari jadwal karena serangan malas di pagi hari, Bapak Dosen mengatakan belum bisa segera ke kantor pagi ini karena harus bertakziah. Sesampainya di kantor, belum lama saya duduk, teman kantor saya bertanya apakah saya mendengar suara orang tilawah di sekitar kantor. Saya menggeleng. Kemudian kami dengar-dengarkan lebih cermat, ternyata memang ada sayup-sayup suara orang membaca Alquran.

Dia berinisitif mencari tahu karena sudah mendengarkan suara itu beberapa kali dan cukup membuat penasaran. 

Siapa kiranya di lorong cukup sepi dengan beberapa kantor tertutup ini yang membaca Alquran?

Dia melapor, ternyata, jarak dua kantor di seberang kantor yang kami diami, ada seorang Bapak Dosen yang membaca Alquran lamat-lamat. Saya pun ikut penasaran. Akhirnya saya pura-pura berjalan ke lorong menuju jembatan terbuka yang menghubungkan antar gedung. Demi tidak bersikap mencurigakan, saya diam beberapa saat di jembatan dan kembali menikmati sajian alam yang menakjubkan; terutama matahari pagi.

Rasa-rasanya… sudah lama sekali saya tidak menikmati waktu. Membiarkan semua pekerjaan memburu dan menjalani setiap waktu terburu-buru. Selain itu, seringkali kesibukan membuat saya lupa mengisi jiwa dengan hal-hal yang berbeda.

Saya mendongak ke langit dan mata saya langsung berkaca-kaca. Kali ini bukan karena haru, tetapi karena sepertinya saya sudah tidak sekuat dulu untuk menahan cahaya matahari menyerbu mata seketika. Saya teringat ketika masa-masa SD, setiap senam pagi, guru-guru selalu mengingatkan untuk mendongak melihat langit selama beberapa detik dan tidak boleh memejam. Dulu hal-hal seperti itu mudah saja dilakukan. Sekarang, mungkin memang mata sudah terlalu lelah dan tidak sehat karena setiap hari melihat layar laptop tanpa banyak jeda.

Selama merenungi diri di “Jembatan Cinta” tiba-tiba saya teringat kebiasaan-kebiasaan baik di masa lalu yang sudah mulai luntur. Dan, matahari pagi kembali mengingatkan saya pada rumah teman saya di dataran tinggi tadi.

Pagi itu, ketika teman saya masih tidur di kamarnya, saya yang bosan menunggu dia tidur dan merasa sungkan untuk membangunkannya, akhirnya memilih turun ke bawah, bergabung dengan adik-adiknya yang sedang menonton TV. Sebagai manusia yang masih sering kesulitan untuk memulai pembicaraan, akhirnya saya lebih banyak diam dan mengamati. 

Terkadang rasa penasaran memang tidak sopan, tetapi terkadang memang butuh dituntaskan.

Di tengah-tengah film yang masih berlangsung, seorang adik perempuan teman saya beranjak berdiri, menuju toilet, dan masuk ke kamar yang ada di belakang ruang TV. Maka, saya mengintip sedikit, dari tempat saya duduk, dan memang kamar itu tidak tertutup, saya melihatnya sedang shalat dhuha. Hati saya langsung terasa mencelos.

Setelah beberapa saat, saya memutuskan kembali ke ruang kantor dan masih mendengar sayup-sayup lantunan Alquran dari Bapak Dosen.

Rasanya… pagi ini, sekali lagi, setelah berkali-kali, saya seperti terus-menerus diingatkan agar tidak melulu lupa untuk mensyukuri kehidupan dengan banyak-banyak berdekat-dekat pada-Nya. Alhamdulillah…

“Kawan memecut motosikal dengan cermat. Balik dari hospital.

Meredah jalanraya di malam hari. Gelap betul. Lampu jalan pun jarang-jarang kelihatan.

Aku membonceng di belakang. 

Tiba-tiba di hadapan ada sekatan jalanraya. Ada polis.

Oh. Bukan. Ada kemalangan di hadapan. Sebab itu ada polis.

Kami sampai di tempat kejadian. Kawasan tu agak sunyi. Kenderaan pun jarang lalu situ.

Mungkin kami antara yang terawal tiba. Nasib baik ada abang polis trafik lalu.

Kawanku memberhentikan motosikal. Aku gigil sikit lutut. Tengok darah mengalir di atas jalan. 

Penunggang motosikal ni. Macam kes langgar lari saja. Sebab tiada kenderaan lain di situ kelihatan. Motosikal je berderai. Penunggang dah nyawa-nyawa ikan. Kaki sebelah entah ke mana. Patah tulang.

Aku gagal menapak menghampiri mangsa. Gerun. Takut. Tak biasa. Tiada siapa nak tolong mangsa. Polis pun tengah sibuk hubungi ambulans dan kawal lalu lintas.

Kawanku meluru ke arah mangsa. Aku terpaku melihat dia memangku kepala mangsa dan meribanya. Perlahan-perlahan diajarnya mengucap syahadah. Mangsa tercungap-cungap mengucapkan sesuatu pada kawanku.

Tak lama kemudian, mangsa diam. Innalillahi wainna ilaihi raaji'un.

Kawanku mengambil sesuatu dari poket seluar mangsa. Henfon dan dompet. Ku lihat dia menekan-nekan fon tersebut. Dari dompet, dilihatnya IC. Kemudian, dia serahkan pada polis dan bercakap-cakap sesuatu dengan polis. 

Datang ke arahku. 

”“Dia cakap apa dekat kau?”“ Tergesa-gesa aku bertanya.

”“Dia suruh aku balas mesej mak dia. Tadi, tengah dia bawa motor. Mak dia mesej. Baru saja nak reply, jadi macam tu.

Dia suruh aku balas pada mak dia, dia minta maaf atas segalanya. Dia dah belikan mee goreng untuk adik-adik yang kelaparan dekat rumah.”“

Aku ke motosikalnya. Masih elok bungkusan mee goreng dalam raga motosikal.

”“Kita tolong hantarkan. Jom.”“ Kawanku menarik tanganku cepat-cepat.

Start motor. Ikut alamat yang dia tengok di IC mangsa tadi. 

Sampai di rumah mangsa. Kami serahkan mee goreng tadi kepada ibu mangsa. Ada empat budak kecil. Mungkin adik mangsa. Aku dapat rasakan mangsa betul-betul abang yang sangat baik.

Kawanku khabarkan berita duka pada ibu mangsa. Hampir nak pitam. Disambut deraian air mata.

**

Dalam perjalanan pulang, kami banyak berdiam diri. Aku lihat air mata mengalir di pipi kawanku. Aku pun sama.

Kawanku bersuara sayup-sayup kedengaran,

”“Bila kali terakhir kau mohon maaf pada orang tua kau?”“

”“Bila kali terakhir kita mohon ampun pada Allah? 

Sampai bila kita nak dingin pada Allah?”“

Bagai tertusuk duri.

Esok belum pasti. 
Mati itu pasti. 

Kesudahan aku? 

Kesudahan kita?

Siapa tahu. 

Aku pun tak tahu.”

(14247, 2014)

Kita mengeluh atas listrik yang mati atau data terhapus;Imam Asy-Syafi’i tersenyum kala difitnah, dibelenggu, dan dipaksa berjalan terantai dari Shan’a menuju Baghdad. Kita menyedihkan komputer jinjing yang tetiba mengadat dan batas waktu penulisan yang gawat; sedang punggung Imam Ahmad berbilur dipukuli pagi dan petang hanya karena satu kalimat. Kita berduka atas gagal terbitnya suatu karya; padahal Imam Al-Mawardi berjuang menyembunyikan tulisan-tulisannya hingga menjelang ajal, agar dirinya terhibur dari puja.

Mari kembali pada Imam An-Nawawi yg wafat di usianya 45, dan tak usah bicara tentang Al-Majmu Syarh Al-Muhadzdzab-nya yg dahsyat dan Riyadhus Shalihin-nya yg jelita. Mari perhatikan saja karya tipisnya Al-Arba'in An-Nawawiyah. Betapa dalam 42 hadits yg dipilih dgn cermat itu ada lapis-lapis keberkahan yg melampaui segala hitungan. Ia disyarah beratus kali, dihafal berlaksa akal dihati, dikaji berjuta manusia, dan tetap menakjubkan susunannya.

Maka tiap kali kita bangga dgn ‘bestseller’, 'nomor satu’, 'juara’, 'dahsyat’, dan 'terhebat’, liriklah kitab kecil itu. Lirik saja. Agar kita tahu bahwa kita belum apa-apa, belum kemana-mana, dan bukan siapa-siapa. Lalu tak henti belajar, berkarya, dan bersahaja.

© Ust Salim A.Fillah

#semangatPerbaikan
#menujuKitaMadani
🌱

anonymous asked:

Kak Satria, boleh ga kalau kita meminta hidup yang bahagia sm Allah? Kita boleh meminta apa saja kan sama Allah, tapi bagaimana caranya kita meminta tanpa memaksa? Terimakasih, kak.

Boleh, insya Allah. Malah, kalau kita enggak biasa meminta lewat doa takutnya tergelincir sama kesombongan. Selama yang diminta itu baik, memintalah. Dinukil dari “Lapis-Lapis Keberkahan” nya Ustadz Salim A. Fillah, kisah Nabi Musa di Al-Quran ngajarin tiga nilai penting tentang doa:

Pertama, hanya kepada-Nya kita bisa bersimpuh atas kedermawanan yang mutlak dan terjauh dari kehinaan, kekecewaan juga kenistaan. Kedua, bertatakrama pada-Nya saat berdoa juga perlu diutamakan. Dengan sesama manusia aja kalau mau minta pake tatakrama, sama Allah SWT harus lebih. Nabi Musa merundukkan diri dan berlirih hati dalam doanya, “Duhai Rabbi, Penciptaku, Penguasaku, Penjamin rizqiku, Pemeliharaku, Pengatur urusanku, sungguh aku terhadap apa yang Kau turunkan diantara kebaikan, amat memerlukan”. Indah betul cara Nabi Musa berdoa.

Ketiga, Allah SWT tentu lebih paham apa keperluan kita ketimbang diri kita sendiri. Termasuk tentang makna “hidup bahagia” buat kita kaya gimana. Nabi Musa nunjukin kalau berdoa bukan memberitahu-Nya dan mendaftar apa aja hajat kita, tapi berbincang mesra dengan Allah SWT supaya Ia ridhai semua yang dilimpahkan, diambil atau disimpan untuk kita.

Saya sendiri masih belajar untuk enggak mendikte Allah SWT tentang wujud kebahagiaan yang saya mau. Allah SWT mutlak lebih paham. Cara meminta tanpa keliatan maksa sesederhana dengan bersopan santun, berbicara dengan rendah hati dan membekali diri dengan kelapangan dada. Enggak memaksa artinya kalau enggak dikasih atau dikasihnya bukan yang diminta pun enggak apa-apa kan ya? Makanya, minta kebahagiaan dengan keliatan maksa jadi ciri kefakiran pengetahuan dan kekerdilan kita atas ilmu-Nya yang Maha Luas.

Kita sering simak terjemahan surat Al-Baqarah ayat 216 yang isinya, “…Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”. Yakinlah kalau Allah yang Maha Penyayang enggak pernah sekalipun menzalimi makhluk-Nya. Yakinlah kalau Allah yang Maha Cermat enggak pernah sekalipun salah perhitungan tentang kecukupan ciptaan-Nya.

Last but not least, kita juga sering denger ayat 28 di surat Ar-Rad yang isinya luar biasa, “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”. Kunci kebahagiaan adalah ketenteraman dan ketenangan hati. Keduanya enggak pernah jauh dari genggaman-Nya. Maka, berbahagia juga artinya kita enggak pernah menjauhkan diri dari mengingat-Nya lewat beribadah atau gaul bareng orang-orang saleh. Selamat berbahagia. Wallahu a’lam bishawab.

The Way I Lose Her: Game On.

Cinta itu perlu diperjuangkan layaknya sebuah pertandingan. Kau tak bisa memenangkannya jika berjuang sendiri, ia harus dimenangkan bersama-sama. Karena bahagia, adalah Piala bagi setiap mereka yang mampu bekerja sama.

                                                             ===

.

Kisah-kisah tentang Wulan dan juga Kak Hana ini nggak pernah gue ceritakan kepada siapapun. Karena gue memang orangnya bukan tipe yang suka cerita, gue lebih prefer untuk mendengarkan. Bahkan Mirza pun hanya tahu kedekatan gue dengan Wulan atau Kak Hana hanya sebatas tahu saja. Tidak dengan cerita-cerita yang terjadi di belakangnya.

Gue selalu berharap hari-hari ospek ini cepat berakhir. Gue pengen buru-buru mengenakan pakaian putih abu. Jadi, kalau nanti jalan ke kantin buat ngeceng kakak kelas bisa lebih aman, karena mereka sudah tidak bisa membedakan mana anak baru sama mana senior-senior yang lama.

Hari ke empat ospek ini berlangsung sebentar, berhubung acaranya hanya promo ekstrakulikuler saja, jadi semua anak-anak baru ditempatkan di lapang basket pada pagi yang super duper cerah. Bandung saat itu sedang memasuki musim kemarau.

Setelah kejadian kemarin di rumah Wulan, kini Wulan tampak lebih sering mendekatkan dirinya ke gue. Memberi gue beberapa perhatian kecil yang nggak jarang mengundang rasa curiga anak-anak di kelas.

Tak terkecuali Ikhsan. Dia nggak peduli sama sekali. Kadang gue iri sama hidupnya nih anak, simple, nggak ngeribetin masalah-masalah kecil.

Ada beberapa ekskul yang akan tampil pagi ini, salah satunya adalah Baseball, Basket, Futsal, Vocal Group, Voli, dan masih banyak lagi. Ada sih ekskul renang, tapi gue masih nggak kepikiran gimana cara anak-anak ekskul renang ini mendemokan ekskulnya. Memikirkan hal ini, mendadak gue jadi susah untuk duduk bersila. #halah

.

                                                          ===

.

Beberapa ekskul telah mendemokan penampilannya masing-masing. Dan kini ekskul yang kebagian akan mendemokan penampilannya adalah ekskul basket. Ketika Host ospek memanggil nama-nama pemain basket yang keluar dari pintu kantin, sontak anak-anak cewek pada teriak-teriak kaya ngeliat atlet Deni Sumargo.

Semua tampak histeris. Kakak-kakak senior basket ini emang bajingan semua badannya, atletis banget. Bahkan ada yang sampe susunya berotot dan bisa goyang-goyang. Melihat hal itu gue cuma bisa iri. Karena bisa goyang-goyangin susu adalah cita-cita mulia gue saat itu.

Badan mereka proposional, cocok buat dijadiin tempat bersandar. Tinggi mereka pun lebih dari 170cm semua, pas banget kalau jadi cowok yang disuruh ganti bohlam yang mati.

Ada yang rambutnya cepak dengan badan cukup berisi. Posisinya sebagai Guard yang ada di bawah ring basket. Ada yang tubuhnya agak kurus tapi tinggi, kecepatannya lincah, dan rambutnya di mohawk. Ada juga yang keliatan songong, agak kecil, tapi luar biasa cepat banget kalau lagi giring bola. Bola basket aja dia bisa giring, apalagi bola kalian gaes..

oke lupakan.
Sampai mana kita tadi?
Ah iya. Bola.

Btw tangan pemain basket tuh besar-besar ya, mereka bahkan bisa menggenggam bola basket dengan satu telapak tangan saja. Mungkin bagi kalian yang berukuran 34C ke atas itu bakal pas banget kalau digenggam mereka.

Eh apa sih?
Kita ngomongin apa sih ini?
Baim gak ngerti :|

Dan demo ekskul pun dimulai. Mereka memperagakan taktik-taktik bermain di bawah ring yang luar biasa hebat dan sangat keren. Sesuai info berita-berita yang sering gue baca, SMA gue di Bandung ini tim basketnya cukup terkenal. Kalian tau SMAN 9 Bandung basketnya kaya apa kan? Ya, SMA kita adalah musuh bebuyutan mereka. Dari jaman gue SMA sampe sekarang, 2 sekolah ini selalu saja menjadi rival sejati. Sama halnya seperti Persib dan Persija. Prabowo dan Jokowi. Kamu dan Pacar baru mantan kamu. Pffft

Tim basket kita adalah ekstrakulikuler yang paling sering memberikan piala untuk sekolah ketimbang ekstrakulikuler lain.

Gue berharap kalau nanti masuk PMR, gue bisa nyumbang piala juga untuk sekolah. Sebagai seorang relawan yang totalitas ketika diperban, dan digotong pake tandu.

Oke balik lagi ke anak-anak basket.
Setiap para pemain basket ini memasukan bola basket ke ring, anak-anak cewek langsung teriak histeris. Mereka pada becek. Maksudnya keringetan gitu. Bahkan Wulan juga sampai menghiraukan keadaan gue. Dia teriak-teriak sambil sesekali berdiri dan menyenggol gue yang lagi asik ngeliatin tim basket putri.

Setiap anak-anak cewek teriak, anak-anak cowok langsung pada masang muka bete. Tapi mau dikata apa, gue juga kagum sama tim basket yang lagi tampil saat itu. Solid banget, mereka kompak banget. Kayaknya sering maen PS bareng nih anak-anak basketnya sampai bisa kompak gitu.

Setelah selesai demo taktik basket, kini demo mereka selanjutnya adalah mengajak anak-anak baru untuk tanding 5 vs 5. Tapi yang turun adalam tim kedua, bukan tim utama. Jadi anak-anak baru juga nggak terlalu kewalahan.

Ada beberapa anak yang menjadi sukarelawan dan langsung mengajukan diri maju ke depan. Namun ada juga yang ditarik ke depan oleh kakak yang menjadi HOST ospek.

Ikhsan maju ke depan. Karena yang gue tau Ikhsan memang anak basket. Sedangkan gue? gue malah ngegodain Wulan yang lagi asik serius ngeliatin kakak-kakak basket tersebut. Gue waktu SMP memang ikut basket, dan kebetulan juga masuk tim Utama. Karena rambut gue yang keriting dan tubuh yang nggak terlalu tinggi ini, di SMP gue sering disebut sebagai Ryota Miyagi.

Kalian tau Ryota Miyagi?
Anak-anak basket pasti pada tau tokoh yang satu itu. Jaman gue SD dan SMP dulu– waktu jaman-jamannya film kartun lebih banyak ketimbang film Ganteng-Ganteng Sange Srigala– ada sebuah film anime Jepang yang diputar di channel TV7 yang berjudul SLAM DUNK.

Pemain utamanya bernama Hanamichi Sakuragi. Sedangkan ketua tim basketnya yang bertubuh kekar dan hitam itu terkenal dengan nama Gori. Dan karena film anime itulah, maka hampir dari seluruh pemain basket yang bertubuh besar dan berkulit hitam legam menjadi sering dipanggil Gori.

Dan Ryota Miyagi?
Ryota Miyagi adalah seorang Point Guard bertubuh mungil, dengan rambut keriting, namun kecepatannya paling cepat di tim Shohoku. Maka dari itu gue mendapat julukan seperti itu.

Tapi itu hanya waktu gue masih SMP, sekarang gue lebih senang untuk ikut olahraga yang lain karena ada beberapa kendala di tim basket gue yang dulu. Alhasil daripada jadi orang yang show off dan maju ke depan, gue lebih seneng duduk sambil nonton aja.

.

                                                         ===

.

GAME ON!!

Permainan dimulai. Tim kita terdiri dari 5 anak laki-laki yang sampe sekarang gue gak inget wajahnya kaya apa. Yang paling gue inget cuma Ikhsan doang, karena ya mau gak mau dia kan kelompok gue. Jadi gue cuma fokus sama Ikhsan doang.

JUMP BALL!!

Siswa Baru yang cukup tinggi melompat berbarengan dengan kakak kelas yang sepantaran. Namun karena beda pengalaman, bola ditepak keras dan ditangkap oleh kakak kelas di sudut kiri.

Mereka langsung menyerang ke daerah kita. Otomatis anak-anak baru langsung turun kebelakang dan melakukan defense. Satu kakak kelas ada di sudut kanan, dan satu kakak kelas ada di sudut kiri. Kini bola sedang dipegang oleh kakak kelas yang tidak terlalu tinggi namun sangat gesit. Tampaknya ia adalah kaptennya.

Ia yang mengatur serangan. Ia masih mendribel bola dengan pelan sambil berjalan menuju ruang tembak 3 angka. Sebelum pada akhirnya, mendadak kakak kelas yang ada di sebelah kanan berkelit dan masuk ke bawah ring.

Dengan sigap sang kapten memberikan operan bola kepadanya. Namun siswa baru juga cukup gesit, melihat keadaan ini mereka langsung mengepung dengan 2 orang sekaligus. Kakak kelas kelabakan, ia tak punya ruang tembak, terpaksa ia mengoper ke arah kakak kelas lainnya di sebelah kiri yang mulai bergerak ke arah tengah.

Ikhsan datang mencoba menghadang. Dari jauh tampak kakak kelas sudah mulai mau melakukan tembakan tiga angka, namun ternyata itu tipuan!

Ikhsan sudah menduga hal ini sebelumnya, ia bisa membaca tipuan murahan yang dilakukan kakak kelas itu. Ikhsan membaca gerakannya secara cermat dan melangkah ke arah kanan.

Namun ketika Ikhsan akan menghadang laju kakak kelas yang mau masuk ke jantung pertahanan, mendadak Ikhsan terkena screening oleh kakak kelas yang lain. Sehingga kakak kelas yang membawa bola ini dengan bebas masuk ke bawah ring.

Ia loncat.
Tangan kanannya memegang bola.

Dan…

MASUK!!

Kakak kelas itu melakukan Lay-up yang cukup bersih. Skor pun berubah menjadi 0-2 untuk kakak kelas. Dan kini bola dipegang oleh siswa baru. Melihat hal ini, anak-anak siswa baru yang lain langsung maju menuju jantung pertahanan kakak kelas untuk meminta bola.

Apa-apaan?!
Kok tidak ada yang mensupport siswa yang sedang mendribel bola ini?

Ya, memang begitulah resiko tim yang baru dibentuk 10 menit yang lalu. Semua anak di dalamnya hanya berpikir untuk dirinya sendiri. Mereka semua berambisi untuk memasukan bola agar terlihat menawan di depan para siswi-siswi baru.

Melihat hal ini, Ikhsan turun meminta bola. Ikhsan yang posisinya penyerang ini dengan rendah hati membantu siswa yang sedang mendribel bola.

Ikhsan kini memegang bola. Ia memasuki daerah defense kakak kelas. Ikhsan sesekali berlari ke kiri dan kanan mencari celah untuk melakukan operan. Namun para siswa yang lain malah sibuk diam di tempat meminta bola, tapi tidak membuka peluang.

“BUKA BUKA!!” Ikhsan teriak keras meminta agar anak-anak yang lain membuka peluang.

Wah Ikhsan lagi puasa ya? Siang-siang gini udah mau buka puasa aja. Gue cuma bisa menjadi komentator yang seenaknya bersama Wulan. Wulan pun sesekali tertawa mendengar apa yang gue ucapkan.

Ikhsan mengoper pada siswa di sebelah kanan lalu ia menusuk masuk ke jantung pertahanan. Dengan sigap siswa itu kembali mengoper kearah Ikhsan. Namun taktik one-two ini sudah terbaca, Ikhsan langsung dihadang oleh kakak yang bertubuh besar. Karena kalah screening Ikhsan melempar bola kearah anak baru yang berada di sisi kiri.

Siswa itu menangkapnya dengan tepat. Karena belum ada penjagaan, ia langsung melakukan posisi melempar 3 angka. Gerakanya cukup luwes, bola pun dilemparnya dengan indah.

Melihat hal tersebut para kakak kelas langsung melakukan defense di bawah ring berharap terjadi bola mentah atau rebound. Namun bola yang dilepaskan terlalu kencang, ia membentur papan yang kemudian kembali membentur ujung ring.

Ikhsan melompat.
Kakak kelas yang lain melompat.
Ikhsan salah posisi, ketika Ikhsan melihat bola rebound, mendadak kakak kelas langsung mengubah posisi screeningnya dari yang di belakang ikhsan, menjadi masuk ke depan Ikhsan.

Ini adalah salah satu aturan dasar rebound. Untuk mendapatkan bola rebound, kamu harus berada di posisi depan seseorang yang menjaga, hal ini dikarenakan fokus kamu tidak akan terbagi dua karena terhalang orang di depan kamu. Dan kamu hanya perlu mendorong kuat ke belakang guna mengganggu fokus orang yang ada di belakang.

Ikhsan kecolongan. Kakak kelas ini pun mendapatkan bola.

COUNTER ATTACK!!

Dengan sigap sang kapten berlari sangat cepat menuju jantung pertahanan siswa baru. Kakak kelas yang bertubuh sebesar gorila ini langsung melemparkan secara lurus menuju sang kapten, dan ditangkap dengan tepat.

PLUNG!!

Sang kapten berhasil melakukan Lay-up dengan mudah tanpa pengawalan sama sekali. Ikhsan cukup geram, tak ada sama sekali kawannya yang melakukan cover untuk counter attack.

Tapi Ikhsan memilih untuk bungkam, ia kembali ke jantung pertahanannya untuk meminta bola. Game On. Bola kini dimiliki oleh tim Ikhsan.

Pertandingan ini cukup melelahkan. Karena keegoisan masing-masing siswa yang pada mau menang sendiri, alhasil tim siswa baru kalah telak dengan skor 2-20. Ikhsan pun terlihat bekerja keras sendirian tanpa ada support dari kawan-kawannya.

Ada pergantian pemain. Host Ospek mengatakan ingin memberikan kesempatan kepada siswa lain yang ingin mencoba bermain juga. Tapi Ikhsan tetap bermain.

“Kamu main gih. Jangan komentar aja” Kata Wulan sembari mendorong pundak gue.

“Gak mau ah, takut item” jawab gue sambil menyedot teh kotak punya Wulan.

“Ih manja! Cewek mana ada yang suka sama cowok manja!” Ujarnya sinis.

“Bawel deh. Bodo ah. Males” Jawab gue.

Pada pertandingan olahraga, pria tidak akan melakukan perjuangan hanya untuk menarik perhatian para wanita. Namun jika sudah menyentuh lapangan, para pria akan berjuang sekuat tenaga untuk harga diri mereka masing-masing.

Karena kalah bagi setiap pria adalah aib.

Gue yang pada dasarnya males buat ikut andil dalam permainan ini, cuma bisa melihat ke arah Ikhsan yang lagi terengah-engah mengambil nafas. Ikhsan yang gue liat saat itu tidak peduli lagi dengan teriakan semangat dari para wanita, yang ada di benaknya hanya mengalahkan tim kakak kelas. Itu saja.

“Nyet. Lo butuh support pemain yang kaya apa?” Mendadak gue teriak kearah Ikhsan yang lagi terengah-engah.

Ikhsan menengok ke arah gue, keringatnya bercucuran. Ia masih tertunduk berdiri sambil memegangi tumitnya.

“Gue.. gue butuh yang ngisi di dalem ring. Gak perlu nge-shoot. Cuma ngebikin rusuh di wilayah lawan aja udah cukup.” Jawabnya sambil terengah-engah.

Gue diam sebentar. Gue mengerti maksud Ikhsan dan pemain seperti apa yang ia butuhkan. Kebetulan gue punya kecepatan. Kalau Ikhsan main dengan taktik dan strategi, gue maen dengan kecepatan.

Gue taruh teh kotak ini. Wulan sedikit terkejut dengan sikap gue yang mendadak jadi serius.

“Kak, aku main ya!”

Gue teriak kearah kakak Host. Sebelum kemudian gue berlari menghampiri Ikhsan.

.

                                                                 ===

.

“Strategi lo apa?” Gue bisik-bisik kearah Ikhsan.

“Gue cuma bakal main lay-up sama shoot 2 point doang. Biarin gue bebas, gue bisa jamin itu masuk.” Jawabnya dengan muka serius.

“Lo nyaman ngeshot dari sisi apa? Kiri atau kanan?” Tanya gue lagi.

“Kanan, Lay-up pun 100% masuk asalkan gue dari kanan”

“Hmm” Gue berfikir sebentar

“Tapi sorry Dim, gue gak akan bisa bantu screening. Temen-temen yang lain pun kayaknya gak akan mau support screening. Bakal susah ini jadinya.”

“Yaudah sih. Serius amat. Nyok ah kita maen” Gue menepuk pantat Ikhsan sembari pergi mengambil bola basket di luar lapangan.

Ikhsan yang melihat gue cuma bisa bengong doang. Ini bedanya gue sama Ikhsan, dia terlalu serius untuk menang. Sedangkan gue? gue terlalu sering bercanda. Hahaha.

Akhirnya setelah 5 menit. Kini sudah terkumpul 5 orang. Di sana ada satu orang lagi yang gue kenal. Nurhadi.

Sang siswa baru jalur atlet basket yang berposisi sebagai Guard bagian bawah ring dengan tubuh kekar tinggi hitam. Mirip kaya gendruwo. Mungkin waktu dia lahir, seluruh rumah sakit gempar karena bentuknya mirip kaya jenglot yang umurnya 212 tahun.

Nurhadi mendatangi gue yang lagi mencoba membiasakan diri lagi memegang bola basket setelah sempat pensiun dini. Tubuh besarnya ini gue rasa mampu mengalahkan tubuh besar Guard tim kakak kelas yang sekarang sedang menjadi lawan kita.

Kadang gue heran, nih anak makanannya apa ya waktu bayi. Kayaknya orang lain minum susu, dia minum arak putih sendirian.

“Hoi Dim!” Jawabnya memecahkan lamunan gue sambil datang menghampiri.

“Eh Di, lo maen juga? Asik, bantu gue yak nanti..” Ucap gue.

“Tenang aja, urusan di bawah ring mah gue yang bantu cover.”

“Nanti bantu screening ya kalau gue pegang bola. Badan kaya gue gini mah selalu jadi incaran kakak kelas nih” Gue memelas.

“Ah gampang itu. Sini oper bolanya”

Nurhadi dan gue bercakap-cakap sebentar. Sedangkan Ikhsan hanya diam di tengah lapangan melihat ke arah tim kakak kelas. Tatapannya kaya orang lagi ngajak berantem. Dalam benaknya hanya ada satu kata.

Menang.

Sedangkan dalam benak gue, hanya ada 4 kata.

Kak Hana Kemana ya?

oke..
Maklumin gue ya gaes.

Pertandingan pun dimulai kembali. Anak-anak siswa baru berkumpul untuk melakukan tos semangat terlebih dahulu, lalu mulai mengambil posisinya masing-masing untuk melakukan Jump Ball.

Peran utama yang akan melakukan Jump Ball sudah pasti dilakukan oleh Nurhadi yang berbadan besar. Gue berada di posisi kiri. Ikhsan di kanan. Dan 2 orang siswa abstrak lainnya gue nggak peduli ada di mana.

GAME ON!!
Bola dilemparkan ke atas oleh Wasit.

Dengan sigap Nurhadi langsung melompat.

.

.

.

                                                       Bersambung

Surat Dari Ayah

Nak, kali ini ayah datang menemuimu di pertemuan rutin kita dengan bentuk yang berbeda.
Cukup kali ini ayah datang menemuimu dengan sepucuk surat.
Semoga dengan surat yang kau baca ini, pesan ayah akan kuat membekas padamu. Karena pesan yang ayah sampaikan kali ini adalah pesan penutup atas pengajaran yang selama ini telah ayah berikan kepadamu.

Nak, selama ini ayah telah mendidikmu untuk selalu menjadi anak yang unggul dalam setiap persaingan.
Ayah juga mengajarkanmu untuk dapat membaca peluang pada setiap kesempatan. Menjadi anak yang tegas, cermat, dan tepat dalam setiap tindakan. Ayah pun mengajarkanmu untuk selalu berusaha keras, berikhtiar baja, dan bertekad kuat.

Tak lupa, ayah memintamu untuk selalu berdoa.

Agar usahamu di dunia terhubung dengan kehidupan akhiratmu.

Ayah masih ingat, pada diskusi kita malam itu, kau begitu begitu bersemangat dengan rencana-rencana masa depanmu.

Ayah larut dalam pemaparanmu.

Seakan-akan, ayah berada dalam rangkaian perjalanan yang hendak kau tempuh.

Meskipun mungkin nanti ayah tidak selalu berada di sampingmu, setidaknya malam itu ayah tahu bahwa engkau adalah anak yang gigih dalam mencapai impian.

Ayah telah melihat engkau sebagai seorang yang gigih berjuang dan khusyuk dalam berdoa.
Mungkin dua hal itu yang membuatmu menjadi hebat dibanding anak-anak lainnya.

Namun nak, kali ini, izinkan ayah menyampaikan satu pelajaran lagi yang harus kau terus latih dan biasakan.
Dengan satu pelajaran terakhir ini, engkau akan menjadi manusia yang ikhlas dan tidak mudah goyah dalam mewujudkan impianmu.

Pelajaran itu adalah, “Latihlah hatimu untuk menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan harapanmu.”

Sebelumnya, ayah akan memceritakan padamu tentang sikap indah yang dimiliki oleh sahabat nabi ketika berdoa.
Dalam doa, dia selalu siap dengan dua kemungkinan: Diijabah dan tidak diijabah.

Jika yang terjadi kemungkinan pertama, dia akan merasa bahagia, karena harapannya telah menjadi kenyataan.

Namun jika yang terjadi kemungkinan kedua, dia akan merasa lebih bahagia berkali-kali lipat. Karena kenyataan yang dia terima adalah pilihan Tuhannya, bukan pilihannya.

Nak, engkau kini telah berubah dari seorang mahasiswa menjadi seorang sarjana.

Engkau telah meninggalkan kolam dan berenang menuju lautan.
Kehidupanmu yang sebelumnya serba terukur akan kau tinggalkan.

Dan setelah ini, engkau akan seringkali bertemu dengan ombak ketidakpastian. Akan banyak arus yang tidak sesuai dengan harapanmu yang mungkin saja mengecewakanmu.

Namun dengan hati yang terlatih dengan ketidaksuaian harapan, engkau akan lebih dewasa dan bijak nak.
Engkau akan lebih ikhlas menerima dan siap lebih cepat untuk mengambil keputusan yang lebih besar.




Ditulis oleh: @bagus-adikarya