by putri

Terimakasih telah menerima dengan lapang segala kekuranganku. Terimakasih telah memaklumi keanehan-keanehanku. Terimakasih telah dengan super sabar memperbaiki keburukan-keburukanku. Aku sadar dengan seluruh kekacauanku, tapi kamu jauh lebih sadar untuk merapikannya. Tentu saja dengan cinta :)

the-crimson-hawkmoth  asked:

Did you know the snail in your theme with the green eye stalks is actually infected by a parasite, it takes control of the snails brain and makes it get eaten by birds to continue the parasites life cycle

yes! and i love it very much. i’ve been lucky enough to find several of them in my garden the last few years. hoping to find more of them when summer finally comes… more of them in this tag.

Ada dua jenis manusia disekitar kita:

Pertama. Ia selalu menghadirkan fisiknya. Tapi tak selalu menghadirkan kebaikannya. Apalagi hatinya.

Kedua. Ia tak selalu menghadirkan fisiknya. Tapi selalu menghadirkan kebaikannya. Bahkan hati tertulusnya.

—  Terimakasih Putri, telah selalu bersedia menjadi manusia yang menjelma malaikat. :)
nilai

“Gratitude unlocks the fullness of life”

Ada sekotak utuh menu restoran sunda yang petang itu dibawa oleh istri saya dari kantornya. Pesannya, “Nanti kalau di jalan nemu orang yang kira-kira bisa dikasih makanan ini, kita berhenti ya. Aku masih kenyang jadi enggak akan makan”. Namun puluhan menit kemudian sepanjang perjalanan pulang ke rumah, kami enggak menemukan seorang pun yang bisa dihadiahkan nasi kotak untuk menu berbuka puasa. Kalaupun ada, jumlahnya lebih dari satu orang sehingga khawatir menimbulkan kecemburuan antara satu sama lain atas pemberian tersebut. 

Akhirnya, kami memutuskan langsung pulang setelah tercetus ide untuk memberikan nasi kotak itu kepada salah seorang pegawai orang tua kami yang bernama kang Irwan. Setibanya di rumah, nasi kotak itu kontan kami serahkan kepada kang Irwan. Dengan raut keheranan melihat kotak yang ukurannya besar, ia bertanya, “Ini apa, de?”. “Itu nasi kotak, a. Paket komplit buat nanti buka puasa ya. Lumayaan” jawab kami. Ia pun berterima kasih setelah melihat isi kotak tersebut. Di dalamnya tersaji paket lengkap: nasi, ayam goreng, ikan asin, tumisan, juga sambal dan lalapan.

Enggak lama berselang, adzan maghrib pun berkumandang. Kami semua membatalkan puasa dengan menyantap makanan yang terhidang di meja makan. Setelah usai menunaikan salat dan beranjak ke dapur, saya mendapati kresek kuning yang berisi nasi kotak tadi enggak bergeser posisinya sedikitpun di rak dinding. Waktu itu, kang Irwan malah terlihat sibuk mencuci peralatan-peralatan bekas memasak sore tadi.

“Lho, a. Udah buka puasa? Itu nasi kotak masih di situ. Dimakan atuh, keburu kelamaan nanti enggak enak” tanya saya heran. Yang ditanya malah nyengir sembari menjawab, “Ohh. Saya udah buka puasa tadi, nasi kotak ini rencananya mau dianterin ke anak saya nanti malem”. Saya pun tercengang. 

Keliatannya sederhana, seorang ayah berbuka puasa dengan makanan seadanya dan lebih memilih untuk menyerahkan nasi kotak pemberian yang dirasa cukup istimewa kepada anaknya. Jadi enggak sederhana karena kami hafal betul seberapa sayang kang Irwan pada putri semata wayangnya tersebut. Setiap barang yang dihadiahkan pada anaknya, pastilah baginya amat sakral dan spesial. Maka malam itu selepas tarawih, ia pun menempuh jarak belasan kilometer pergi-pulang hanya untuk mengantarkan nasi kotak tadi.

Dari kesederhanaan kang Irwan saya belajar bahwa nilai yang kita terima atas sebuah hal enggak pernah diukur dari seberapa banyak uang yang dikeluarkan untuk mendapatkannya, melainkan dari seberapa besar ungkapan rasa syukur yang hadir karenanya. Nasi kotak dari restoran yang harganya mungkin berkisar 25-40 ribu Rupiah sebagai sajian sekali makan, jadi hal yang mungkin kita anggap lumrah sekali. Tapi baginya, sekotak menu lengkap dari restoran bisa bernilai amat spesial dan layak dihadiahkan supaya anaknya bisa menyantap hidangan istimewa hari itu.

Semoga kita selalu dijauhkan dari kebiasaan meremehkan kenikmatan sekecil apapun yang diterima kemudian lalai untuk menambah nilainya dengan rasa syukur atas keberadaannya. Kita tau ada begitu banyak kaum berada yang masih terus merasa sengsara sementara di sisi lain, mereka yang disebut sengsara bisa jadi malah merasa amat kaya dengan kebiasaan bersyukur yang dimiliki. Kecukupan dalam hal kepemilikan tak pernah menyoal jumlah melainkan kegenapan yang berasal dari diri sendiri.

“And [remember] when your Lord proclaimed, ‘If you are grateful, I will surely increase you [in favor]; but if you deny, indeed, My punishment is severe.'” (T.Q.S. Ibrahim: 7) 

Rasa syukur tak bisa diukur dengan satuan rupiah, karena nilai dari rasa syukur itu tak berbatas dan bisa membuka sisi-sisi menyenangkan dalam hidup yang tak terlihat sebelumnya. Belajar berbaik sangka dengan ketentuan-Nya, bisa jadi kebahagiaan yang kemudian timbul dari rasa syukur memang jadi salah satu bentuk bonus tambahan kenikmatan dari-Nya. Alhamdulillah, segala puji memang hanya untuk-Nya yang Maha Kaya.

The Way I Lose Her: Falling In Love With People We Can’t Have

Terkadang hidup begitu tidak adil. Orang yang kita cintai dan orang yang mencintai kita biasanya adalah orang yang berbeda. Hingga pada akhirnya, kebanyakan dari kita selalu jatuh cinta karena terpaksa.

                                                       ===

.

Akan ada suatu keadaan di mana tanpa perlu ada pembicaraan atau penjelasan pun kau sudah tahu bahwa ini semua sudah berakhir. Dari bagaimana caranya memperlakukanmu, dari bagaimana cara matanya tidak menatapmu. Dekat tapi tidak mendekap. Saling melihat di depan mata tapi terasa tidak berjumpa. Yang dulu dekat sekali, sekarang rasa-rasanya menjadi begitu asing.

Gue sebenernya males banget untuk ikut acara ulang tahun Nurhadi di kelas nanti, tapi apa daya. Masalah gue ini ya masalah antara Ipeh dan gue, nggak baik melibatkan orang lain hanya karena masalah pribadi. Jadi, dengan berat hati gue menurut saja waktu teman-teman ngajak pergi ke dalam kelas.

Gue sengaja memilih jalan paling belakang, dari sini gue bisa melihat tubuh yang sudah tidak melihat gue lagi. Menyedihkan, dia yang pergi, gue yang disakiti, dia yang seharusnya gue benci, tapi kemana pun keadaan menempatkan kami berdua, mata gue tetap terus mencarinya.

Nyet.” Ikhsan tiba-tiba berhenti dan menengok ke belakang.

“Paan?”

Kemudian Ikhsan mendekat, menarik seragam gue agar suaranya tidak terlalu terdengar sama teman-teman yang lain.

“Lo bawa hadiah?” Tanyanya tiba-tiba.

“Hah?” Alis gue naik satu.

“Hadiah begok. Malah hah hoh hah hoh lu kaya orang lagi naik haji terus salah muterin ka’bah.

“…”

“Yang lain pada bawa hadiah tuh buat Nurhadi.”

“Aduh mana kepikiran gue. Tau si Nurhadi bisa ulang tahun aja baru kemarin.”

“Anjir tega amat lo. Jelek-jelek-bau gitu juga temen kita.”

“Gue jadi ngebayangin gimana dulu emaknya ngelahirin dia. Kayaknya seluruh dosa emaknya selama hidup langsung dihapus sama Tuhan deh saat itu juga.”

“Kok bisa?” Ikhsan memasang wajah penasaran.

“Udah disiksa ngeluarin anak segede nangka gendong gitu pasti udah termasuk ujian dunia akherat. Makanya langsung suci lagi tuh emaknya Nurhadi.”

“Emaknya sih suci, tapi anaknya baru lahir langsung penuh dosa. Tuhan waktu bikin Nurhadi lagi ngelamun. Salah nyampurin warna kulit sama tinta spidol.”

“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA..”

Gue dan Ikhsan ketawa keras bareng-bareng udah kaya paduan suara, sontak anak-anak di depan langsung pada nengok semua termasuk Ipeh juga. Gue langsung menyenggol tangan Ikhsan agar berhenti tertawa, tapi kami berdua nggak bisa. Rasanya nikmat banget kalau lagi galau gini terus ngetawain temen sendiri. Ya Robb maafkan kami.

“Yaudah deh lo, pikirin sekarang buat cari kado.” Celetuk Ikhsan lagi.

“Buset mendadak amat.”

“Mau gimana lagi.” Ikhsan mengangkat pundak.

“Emang lo dah dapet ide mau ngasih kado apa?”

“Sudah dong~”

“Anjir gue curiga, pasti nggak akan bener.”

“Yeeee curigaan mulu lo sama temen. Lo sendiri gimana?”

“Belom, ntar aja sambil jalan deh. Kalau nggak ada juga yaudah gue ambil aja tanaman obat di kebun sekolah.”

“Anjing temen lagi ulang tahun malah dikasih temulawak. Hahahahah goblok lo!”

“Hahahahaha..”

Selama perjalanan menuju kelas yang ada malah kami berdua di belakang sama-sama ngomong makin ngelantur. Dari yang awalnya mau ngomongin kado buat Nurhadi, malah berakhir jadi ngomongin apakah Robocop pernah sholat selama hidupnya atau tidak. Benar-benar diskusi yang Syariah. Calon Khilafah.

Sebelum memasuki lorong kelas, kami semua berkumpul sebentar. Dila kembali membahas rencana apa saja yang akan dijalankan hari ini sekaligus menyalakan lilin-lilin ulang tahun. Tapi emang dasarnya anak-anak kelas itu pada brengsek semua, lilin yang dipakai di atas kue pun bukan lilin ulang tahun. Melainkan lilin putih gede yang dipakai orang kalau tiap mati lampu. Pas orang-orang nanya sama gue kenapa lilinnya pake lilin itu, dengan polosnya gue menjawab,

“Lilin ulang tahun harus identik sama badan orang yang bersangkutan.”

Setelah mendapatkan kode dari salah satu teman di dalam kelas, akhirnya kami semua berjalan perlahan menuju pintu kelas. Sebelum tiba-tiba pintu ditendang keras oleh Bobby disertai nyanyian ulang tahun dengan nada Asma Ul-Husna serentak dari anak-anak kelas.

Nurhadi yang tadi masih asik ngerjain tugas (itu pun nyontek punya Tasya) langsung kaget melihat teman-temannya yang tadi menghilang kini malah datang beramai-ramai membawa kue disertai lilin gede satu biji doang di tengahnya itu. Nurhadi terkejut, ada haru terlihat di rona wajahnya, tapi ketika ia mau nangis sontak ditahan sama teman sebangkunya.

“Di jangan nangis Di. Serem ah. Gue takut puasa tahun ini malah jadi mundur 10 hari kalau lo nangis.”

Ya begitulah temen-temen gue di kelas. Temannya lagi bahagia dan mau nangis terharu aja masih dihina dulu. Nurhadi memang cocok jadi maskot kelas kita.

Teman-teman satu kelas langsung berkumpul mengelilingi Nurhadi yang badannya tetap paling gede sendiri. Abnormal banget.

“Ayo, Di!! Tiup lilinnya!” Terika Dila.

“Tiup, jangan sedot.” Celetuk Ikhsan diselingi tawa gue.

“Acieeee ulang tahun ke 2 bulan!” Bobby menanggapi.

“WOI LU KIRA GUE JANIN APA?!” Nurhadi tidak terima.

“Tiup tiup tiup tiup~” Teman-teman yang lain menyorakki.

“Buka buka buka buka buka..” Gue dan Ikhsan beda sendiri.

“Woi ini serius dong. Masa lilinnya pake lilin babi ngepet gini? Kagak ada lilin yang lebih normal apa sih?” Lagi-lagi Nurhadi protes. Udah untung ulang tahunnya dirayain, sekarang malah banyak maunya. Dikasih hati minta jantung, dikasih temulawak malah minta buyung upik.

Pasti ide si Galing ye? Dimas!” Nurhadi nabok pundak gue sampe tulangnya geser.

“Yaudah, elo mau lilin ultah yang normal?” Tanya gue.

“Yaiyalah!”

“Yowes..” Gue mencabut lilin putih itu, lalu menggantinya dengan lilin berbentuk angka. Lalu menaruhnya tepat di tengah kue tart tersebut.

“…”

“Lah dia malah diem. Udah gue ganti tuh lilinnya.” Tukas gue.

“YA ANJING GANTI LILIN SIH GANTI LILIN, TAPI NGGAK JADI 72 JUGA ANJING ANGKANYA. EMANG MUKA GUE SETUA ITU APA?!”

“HAHAHAHAHAHAHAHA LAHIR DIBETOT PAKE PINSET AJA BANYAK PROTES LU GORILA.”

Teman-teman kelas langsung pada ketawa semua. Akhirnya daripada meniup lilin dengan angka 72 itu, Nurhadi lebih memilih meniup lilin satu biji doang yang besar warna putih itu. Dia takut umurnya cuma sampe 72, makanya dia nggak mau niup lilin angka itu. Padahal kura-kura juga tau, Nurhadi ini nggak akan mati dalam waktu dekat, umurnya kaya keris Mpu Gandring; Awet. Toh dia aja lahir dari semenjak gunung Krakatau meledak dulu sampai sekarang.

Untuk berhasil meniup lilin saja kayaknya sudah menghabiskan banyak waktu banget, Nurhadi memejamkan mata sebelum meniup lilin, berdoa dan berharap agar doanya suatu saat dikabulkan. Padahal gue tau malaikat ngedeketin dia aja nggak mau. Baunya mirip bau kerikil sungai.

Setelah lilin berhasil padam, Nurhadi mulai memotong kuenya. Kue pertama dia berikan kepada Putri, salah satu wanita yang tampaknya sedang ditaksir berat oleh Nurhadi di kelas. Anak-anak yang lain langsung bersorak sorai, sedangkan Putri langsung Istigfar.

Berikhtiar atas ujian yang Tuhan berikan ini.

Kemudian potongan selanjutnya diberikan untuk Dila, primadona sekolah sekaligus ketua acara dalam event mubadzir ini. Gimana nggak mubadzir? Ulang tahun Kingkong kok dirayain. Ipeh selanjutnya yang mendapat kue sebagai balas jasa atas pertolongannya setiap ada ulangan termasuk ulangan fisika, tak lupa juga Tasya. Sedangkan gue dan Ikhsan? Dapet lilin yang dipotong dua.

Keparat!

“Nih buat lu berdua. Makan dah tuh lilin. Biar putih sekalian gigi lu pada.” Katanya ketus.

Bangsat emang Nurhadi ini, pinter banget kalau soal urusan balas dendam. Tapi nggak papa deh, toh gue juga nggak terlalu suka kue, gue paling nggak suka makan makanan manis. Beda dengan Ikhsan yang omnivora alias apa aja masuk. Termasuk batu kecubung.

Acara kembali dilanjut dengan pemberian kado. Seperti yang sudah gue tebak sebelumnya, semua orang mempunyai kado yang bermakna untuk Nurhadi. Namun tidak dengan gue dan Ikhsan. Ketika semua sudah memberikan kado, kini giliran Ikhsan maju ke hadapan Nurhadi. Dengan polosnya Ikhsan langsung mengeluarkan sepotong tanaman yang dia colong langsung dari kebon sekolahan. Sebuah tanaman entah apa itu, masih ada akar, daun, dan juga batangnya. Terlihat masih segar.

“Ya Allah Ikhsan lo kira gue kambing apa apaan sih?!” Nurhadi mulai terlihat bete. Sedangkan Ikhsan cengengesan dibarengi tawa teman yang lain.

“Yeee suduzon lu jadi orang. Ini tanaman suatu saat bakal berbunga. Jadi anggap aja gue ngasih bunga. Romantis kan?”

“Romantis gigi lu salto.”

Sambil masih ketawa, Ikhsan mundur kebelakang dan mempersilakan gue untuk maju memberikan kado. Kali ini gue sama Ikhsan kompak begoknya. Ketika tadi dia bawa tanaman hasil nyolong, gue juga bawa hal yang sama, tapi yang ini jenisnya berbeda.

Gue keluarkan sebuah gelas Aqua yang di dalamnya terdapat kapas basah + calon benih toge yang udah pada muncul tunasnya. Sontak melihat hal itu semua teman-teman gue pada ketawa ngakak.

“Anjir Dimas! Lo ngasih gue bahan praktek pelajaran PLH?! Itu tugas praktek siapa yang elo colong dah?” Kata Nurhadi sambil berusaha menerima kado gue itu dengan Ikhlas.

“Hahahah gue ambil dari kelas sebelah.” Balas gue polos.

“Parah! Nanti kalau jadi masalah gimana anjir?”

“Yaudah, toh udah jadi hak milik elo ini. Jadi kalau ada masalah ya masalah sama elo. Gue rasa anak kelas sebelah juga bakal lebih milih nanem lagi itu toge dari awal ketimbang cari masalah sama elo, Di.”

“Bener juga.” Kata Nurhadi tanpa pikir panjang.

Acara itu kami tutup dengan banyak tawa. Semua orang di dalam kelas tertawa riang seakan tidak ada sedikitpun masalah di dalamnya. Di balik tawa teman-teman ini, sebenarnya gue menyadari ada banyak rasa perih yang mereka tahan masing-masing di dalam hati. Termasuk gue sendiri. Namun, pagi cerah yang menyenangkan seperti ini rasanya terlalu rugi untuk dilewatkan dengan cara menangisi sesuatu yang telah pergi.

Sambil masih suasana merayakan Ulang Tahun, Ipeh yang juga mempunyai turut andil dalam ramainya acara ini langsung mengajak Nurhadi dan teman-teman yang lain untuk main ular tangga di belakang kelas. Nurhadi, Ikhsan, Dila, Mai, dan banyak teman-teman yang lain langsung kompakan pada ikut di sana. Sedangkan gue? Gue lebih memilih duduk di kursi depan sambil menikmati pelan-pelan kue yang sebenarnya nggak begitu gue suka ini.

Bukannya nggak mau ikut rame-rame, tapi di sana ada Ipeh. Gue juga harus tahu diri, jika kehadiran gue hanya akan menyebabkan suasana awkward bersama Ipeh yang kemudian bisa menyebabkan suasana teman-teman yang lain juga jadi ikutan tidak enak, lebih baik gue tidak usah gabung di sana.

Gue merasa hari ini sudah cukup. Bahagia bersama teman-teman kelas hari ini sudah cukup untuk membayar rasa haus gue untuk tertawa bersama mereka. Sudah saatnya gue kembali ke OSIS, pergi meninggalkan kelas ini, meninggalkan orang-orang di dalamnya.

“Dim..”

Tiba-tiba ada yang menghampiri gue yang kala itu tengah duduk di atas meja sambil nyemilin kue yang tinggal seperempat ini sambil menatap ke arah pintu kelas.

“Napa, Bob?” Tanya gue.

Bobby kemudian menepuk pundak gue sekali dan duduk di kursi dekat situ.

“Nggak gabung sama yang lain?” Tanyanya.

Gue geleng-geleng, “Kagak ah.”

“Kenapa?”

“Dih kepo amat dah.”

“Ipeh yak? Hehehe.” Bobby cengengesan sambil nyolokin garpunya ke sisa kue punya gue dan langsung memakannya bulat-bulat tanpa sisa.

“…”

“Masih berantem lu? Belum beres?”

“…”

“Gak usah heran gitu. Cerita lu hujan-hujanan itu udah nyebar di antara anak-anak kelas.”

“Hah?!” Gue kaget.

“Nggak ke semua sih. Cuma ke anak-anak band kita aja.”

“Lah band kita kan Cuma 3 biji. Elu Ikhsan sama gue?”

“Nah iya.”

“YA ITU BERARTI NGGAK NYEBAR NAMANYA, GENDUT!!! ITU SIH ARTINYA CUMA ELO DOANG YANG TAU SELAIN SI IKHSAN!!”

“Hahahahah ya maap~”

“Gabung sono. Suasananya lagi enak tuh.”

“Enak? Lu nggak liat suasana gue sama Ipeh pas di kantin?”

“Gue sadar kok.”

“Nah itu elu tau.”

“Iya gue sadar kok. Tapi elo-lah di sini yang sebenarnya nggak sadar.” Bobby menaruh garpunya di atas tatakan piring kertas kepunyaan gue.

Gue langsung nengok secepat kilat ke arah si beruang air.

“Hah? Gue?”

“Hahaha seperti yang sudah gue tebak. As usual ah elo mah.”

“Emang apa yang nggak gue sadarin?”

Bobby ngeliatin gue sebelum kemudian dia pergi, ngambil potongan kue yang lain dan kembali duduk di tempat yang sama.

“Doi merhatiin elo terus tuh dari tadi. Nyadar nggak?”

“Apaan?! Gue merhatiin dia terus dari semenjak datang di kantin dan dia nggak pernah sedikitpun ngeliat gue ah!”

“Masa?”

“Iya!”

“Yakin?”

“…”

“Tuh kan. Ya terserah elo mau percaya atau enggak. Sana gih gabung sama mereka, siapa tau suasana hati elo jadi enakan lagi. Atau bahkan suasana kalian berdua jadi kaya dulu lagi.”

Gue menaruh piring kertas tempat kue itu ke atas meja, lalu turun dan berjalan ke arah meja guru.

“Nggak deh, Bob. Gue udah nyoba pilihan itu lebih dari dua kali dari dulu, tapi hasilnya lo tahu sendiri gimana kan? Jadi, mending kalau harus selesai ya selesai aja. Lagian, cuma tinggal beberapa bulan lagi sebelum kita semua naik kelas terus pisah. Jadi, gue rasa ini sudah baik kok. For me and her.” Gue berlalu pergi begitu saja meninggalkan Bobby.

.

                                                      ===

.

Sesampainya di meja guru, yang gue lakukan di sana hanyalah melihat ke arah segala kertas perizinan maupun kertas hasil nilai ulangan yang berserakan di atas meja guru. Menjelang Bazzar begini emang biasanya semua guru jarang banget ada yang masuk kelas jadi sudah dapat dipastikan berantakan banget ini meja guru. Gue ambil beberapa kertas nilai yang berserakan di sana dan memembaca isinya, hanya untuk membunuh waktu menunggu temen gue selesai main ular tangga lalu nemenin gue balik lagi ke ke gerbang depan buat jualan tiket Bazzar.

Walaupun sebenarnya gue pengin banget gabung sama anak-anak yang lagi pada ketawa-ketawa di ujung belakang kelas, tapi setidaknya gue juga harus tahu diri. Gue menghela napas panjang, tempat yang dulu sangat akrab buat gue ini entah bagaimana ceritanya hanya karena menjaga perasaan satu orang membuat gue merasa menjadi turis di negara sendiri. Alias asing sekali. Sambil masih membuka-buka tumpukan kertas, tak sengaja mata gue menatap ke arah dua meja di depan meja guru.

Yang mana gue tau bahwa itu adalah meja tempat di mana Ipeh biasanya duduk.

Gue taruh kertas yang sedang gue pegang itu lalu berjalan perlahan ke sebelah meja Ipeh. Mejanya seperti biasa, rapih banget. Di sana ada tas kucel Ipeh yang sudah jadi ciri khasnya, dengan berbagai macam buku cetak ada di laci bawah meja. Di atas meja ada satu botol minum disertai tempat pensil yang isinya banyak bener.

Kalau gue nggak salah inget, tempat ini adalah tempat di mana gue ketemu Ipeh untuk yang pertama kalinya. Dulu gue takut banget sama Ipeh, selain karena tomboy, dia juga anak karate tingkat akut. Ototnya ada di mana-mana. Rasanya cukup kaget juga kalau pertemuan tidak sengaja yang terjadi ketika ulangan matematika dulu itu akan membawa gue ke keadaan yang benar-benar besar di hidup gue sekarang ini.

Gue perlahan membuka tempat pinsil yang ada di atas mejanya, lalu mengeluarkan sebuah mainan robot-robotan yang biasanya ditaruh Ipeh di atas pinsil. Gue nggak tahu apa gunanya ini mainan, ah tapi Ipeh orangnya emang gitu, kalau ada barang unik pasti dibawa-bawa walau nggak penting juga.

Kalau gue tidak lupa, dulu sambil memainkan robot-robotan ini kami berdua berbicara tentang beberapa hal menyenangkan, tentang sebuah janji juga. Tentang sebuah teori kacangan yang dengan seenak dengkulnya gue ucapkan begitu saja. Teori Filosofi Donat. Tentang sebuah kesalahan yang sebenarnya tidak salah. Kesalahan yang mengarahkan kita pada sesuatu yang besar dan benar. Tapi tanpa disangka, seluruh kejadian itu malah membawa gue ke lubang besar seperti ini. Ke sebuah keterpurukan yang menyedihkan ini.

Tanpa gue sadari, gue yang masih memainkan robot-robotan mini di atas meja itu dikagetkan oleh sosok yang ternyata selama ini sudah berdiri cukup lama dan memperhatikan gue dari arah meja guru. Begitu melihat ada sosok Ipeh yang memperhatikan gue dari tadi, gue langsung dengan buru-buru memasukkan robot-robotan itu ke dalam tempat pensilnya lagi. Tapi bukannya cepat, yang ada justru isi tempat pensil itu jadi buyar semua kaya janin waktu pecah ketuban.

Sontak gue rusuh dong. Suasana yang tadinya hening malah jadi ribut banget gara-gara gue rusuh masukin semua isi tempat pensil yang pada keluar itu. Ipeh yang melihat hal itu langsung mendekat.

“Udah.”

Ipeh menggenggam lengan gue yang masih rusuh masuk-masukin pulpen dan pensil ke dalam tempatnya.

Karena tidak sempat menyadari Ipeh yang berjalan ke arah gue itu, sontak gue jadi kaget lalu menengok ke arahnya. Namun Ipeh tidak melihat ke arah gue. Dia langsung melepaskan genggamannya tadi dan membereskan pulpen beserta pensil yang berserakan di atas meja tanpa sedikitpun berbicara lagi.

“Maaf.” Kata gue pelan sambil mundur perlahan.

Gue ambil salah satu pulpen yang jatuh di lantai lalu menaruhnya di atas meja sebelum kemudian gue berjalan pergi meninggalkan Ipeh pelan-pelan.

“Dim..” Tiba-tiba Ipeh memanggil gue.

Langkah kaki gue terhenti. Gue langsung menengok ke belakang.

“8 Permen Milkita sama dengan segelas susu loh..”

Ah engga, seinget gue Ipeh nggak ngomong gitu.

“Bisa ke sini sebentar?” Pintanya.

Gue terdiam cukup lama di depan permintaannya tersebut. Lalu tanpa sadar langkah kaki gue berjalan ke arahnya. Meskipun gue ingin sekali menolak permintaan itu, entah bagaimana ceritanya kaki gue rasa-rasanya jadi berjalan sendiri memenuhi permintaan Ipeh.

Cinta memang bodoh. Sudah disakiti berkali-kali pun, kehadirannya tetap mampu membuat hati menjadi pemaaf yang paling diri sendiri benci.

.

                                                ===

.

BLETAK!!

“Woi!! Ngelamun aja lu. Kesurupan nanti. Hahaha..”  

Ada sebuah Teh Kotak melayang menghajar kepala gue dari belakang.

“Nih, buat elu. Kapan lagi gue traktir kaya gini. Jangan lupa bilang terima kasih.” Tukasnya lagi sambil menaruh Teh Kotak itu di depan gue.

Gue yang daritadi masih ngelamun ini cuma ngeliatin dia doang lalu kembali melihat ke arah depan. Ikhsan kemudian duduk di sebelah gue sambil menikmati Teh Kotak miliknya sendiri. Sedangkan gue masih diam saja sambil sesekali menghela napas panjang.

“Woi, mana ucapan Terima Kasihnya?!”

Gue melirik sinis, “Gumawooo bebeb.”

“Nah gitu dong.” Kata Ikhsan cengengesan yang kemudian mengeluarkan sepotong kue yang entah dia dapet dari mana.

“Lah kue dapet dari mana lu?”

“Ini?” Ikhsan nunjuk ke potongan kuenya, gue angguk-angguk. “Gue dapet dari kelas kok. Kue ultah si Gorila. Nyisa cukup banyak. Mau lo?”

Gue geleng-geleng, “Nggak ah. Kagak suka manis gue.”

“Yowes~”

“Btw lo kok bahagia banget sih keliatannya?”

“Elo sendiri? Kok kucel banget keliatannya? Ada kejadian apaan di kelas?”

“Ah males cerita ah gue.”

“Yeee yaudah gue juga nggak mau cerita.” Balasnya sambil noyor-noyor kepala gue pake garpu plastik yang udah penuh sama cream kue.

Keadaan menjadi hening cukup lama. Suasana siang yang sudah hampir memasuki waktu Dzuhur itu membuat meja Stand Tiket jadi agak sedikit panas. Tapi walaupun begitu, keadaan sekolah yang dikelilingi oleh pohon besar membuat udaranya tetap terasa sejuk.

“Eh Dim Dim Dim.. Tau nggak..”

“Katanya nggak mau cerita!”

“Hahahaha biarin dong. Gue mau cerita nih. Boleh yak boleh yak?”

“Apaan emang?”

“Tapi sebelum itu gue mau nanya dong sama mas Dimas selaku suhu tentang perwanitaan di kelas kita.”

“Paan sih lo? Mau nanya apaan?” Gue melirik curiga.

Ikhsan lalu menggeser kursinya agar duduk lebih dekat, ia melihat ke arah kiri kanan sebentar memastikan tidak ada orang lain di sekitar situ, lalu ia menarik kuping gue agar lebih mendekat.

“Ajarin gue ciuman dong, Dim..”

Sontak gue langsung loncat dari tempat duduk gue dan pergi menjauh sambil memegangi mulut gue karena ketakutan. Sedangkan Ikhsan langsung sambil memasang wajah bête.

“Anjing kenapa lo pake acara kaget gitu sih, Setan?”

“APAAN SIH LO?! UDAH NGGAK NORMAL YA?!” Gue makin menjauh.

“Yee kuya mau kemana lo?! Sini anjir! Dengerin gue dulu. Jangan main ambil kesimpulan aja kampret!”

Gue geleng-geleng.

“Sini anjir! Tolong ajarin gue! Sahabat macam apaan lo nggak mau bantu temennya kaya gini?!”

“Lah ngapain juga yang begituan pake diajarin segala sih, Anjir?! Latihan sendiri aja sana lo sama duren!” Gue kemudian kembali duduk di kursi yang tadi setelah merasa Ikhsan mulai normal lagi.

“Makanya dengerin dulu penjelasan gue.” Ikhsan menyuruh gue mendekat tapi gue tetap mencoba menjaga jarak.

“Gini, Nyet. Cerita ini diawali ketika gue di kelas lagi mainan Ular Tangga..”

“Langsung intinya aja anjir!”

“Ya Robb, basa basi dulu ngapa sih?! Orang lagi lahiran aja pake pembukaan dulu!”

“…”

“Tapi yaudah deh, intinya gini, ajarin gue cara ciuman yang baik dan benar dong.”

“Ini tuh elu nanya serius?”

“YA MASA GUE BOHONG SIH?!”

“Elo belum pernah ciuman emang?”

“Pernah sih. Sama emak paling dulu waktu bocah.”

“…”

“Belom kalau sama cewek tulen.”

“Astagfirullah, ciuman itu harom, bukan muhrim.”

“Alah Dim ngomong lu sok Ustad. Terus kemarin waktu lo ciuman sama si Hana di UKS juga elo nikmatin kan? Dua kali malah ciumannya.” Sindir Ikhsan.

“Bangsat! Jangan diungkit-ungkit lagi sih!”

“Yaudah, gue juga pengen dong ngerasain kaya lo gitu. Gue pengen masa SMA gue jadi berharga sekali-kali.” Ikhsan memelas.

“Ya terus apa yang harus dipelajari sih?”

“Ajarin gue tata cara dan tekhnik ciuman. Gue takut salah. Kan serem juga kalau misal gue lagi ciuman terus bibirnya kegigit. Atau bulu hidung gue nyangkut di behel-nya.”

“Bah, serem juga kalau gitu.”

“Nah. Maka dari itu. Ajarin gue, Suhu!”

“Terus kalau udah diajarinnya elu mau latihan sama siapa?”

“Ngg.. Sama bantal aja deh gapapa.”

“HAHAHAHAHAHAH TAI!”

“Ayo dong, mumpung stand tiket masih sepi nih. Gimana-gimana, langkah pertama apa yang perlu gue lakukan kalau mau ciuman, Suhu?”

“Hmm.. baca bismillah.”

“Ya mana sempet, Setan. Mau buat dosa kok tobat dulu. Nanti aja di akhir ciuman baru bilang Astagfirullah.”

“Bener juga. Yaudah deh ganti, langkah pertama adalah kita harus membangun kimia dulu.”

“Chemistry maksudnya?”

“Nah iya!”

“ITU KAN JOKE GUE SETAN!”

“Hahahah, setelah dapet kimia, baru deh elo mulai maju perlahan, mendekat hingga elo bisa mendengar suara hembusan napasnya.”

“Beuh, puitis banget kata-kata lo. Oke gue catet.” Ikhsan langsung nyobek kertas dari dalam buku dan mencatat wejangan gue barusan.

“Terus dah gitu nanti lo bakal masuk ke tahap Drum Roll.” Sambung gue lagi.

“Apaan tuh? Nama kue?”

“Itu Egg Roll kampret. Drum Roll. Sejenis aba-aba sebelum ciuman. Biasanya di sini adalah saat yang paling bikin grogi nih.”

“Wuoh! Mantap!” Ikhsan terlihat antusias banget sambil terus mencatat.

“Nah nanti kalau udah ciuman, ati-ati, do not use so much tongue. Jangan pake lidah. Kecup-kecup aja. Kalau kecupnya lama, baru deh pelan-pelan keluarin noh lidah ular.”

“HAHAHAHAHA ANJIR!! GUE KOK GETEK YA DENGER PENJELASAN ELO!!”

“Ah anjing yaudah deh gue masuk ke kantin aja kalau gitu.”

“Hahahahaha maaf Suhu! Maaf! Hamba tidak kuat membayangkan.”

“Lagian emang lo mau ciuman ama sapa sih?”

“Sama pacar gue lah!”

Gue kaget, “Eh? Tasya? Kok? Ada apa nih ada apa?”

Ikhsan menyeruput Teh Kotaknya sambil kemudian bersandar di kursinya. “Makanya tadi waktu gue mau jelasin, elo jangan main potong aja. Jadi nggak ngerti kan.” Lanjutnya.

“Emang ada cerita apa?”

“Jadi, belakangan ini hubungan gue sama doi kan bisa dibilang lagi agak renggang tuh. Rasanya gue sama dia akhir-akhir ini ngeributin hal-hal sepele mulu. Gue takut dia bosen, atau mungkin dia udah capek. Oleh karena itu gue pikir hubungan ini butuh udara segar. Sampai sini ngerti nggak lu gue ngomong apa?”

Gue cuma angguk-angguk doang padahal nggak tau dia lagi ngomong apaan.

“Mungkin hubungan ini perlu ada bumbu-bumbu erotik dikit.” Sambungnya lagi. “Nah, nanti pas acara Bazzar pas mau penutupan, gue pikir itu saat yang tepat untuk ngajak dia ke tempat sepi terus kecup-kecup basah gitu..”

“Najis ah. Getek gue denger lu ngomongin beginian.”

“Ah elu kagak pernah dukung temen ah.” Ikhsan menghabiskan sisa kuenya di atas meja, lalu kemudian menunjuk ke arah Teh Kotak yang belum gue buka sama sekali, “Kagak diminum tuh? Udah gue beliin masa nggak lo minum sih?”

Gue menghela napas panjang. Ikhsan kelihatan bingung.

“Tadi di kelas, waktu kalian masih sibuk main ular tangga di belakang, gue sama Ipeh ngobrol di deket meja guru.”

“EH?!” Ikhsan terlihat kaget. “Bukannya tadi di kantin dia nggak ngegubris elo sama sekali ya, Dim?”

“Nah maka dari itu, gue juga sempat kaget, Nyet. Bener deh gue nggak pernah ngerti apa sih yang cewek pikirin tuh.”

Ikhsan angguk-angguk mantap seakan mengiyakan semua perkataan gue barusan.

“Terus dia ngomong apa?”

“Kamu apa kabar?” Kata gue sambil menirukan ekspresi Ipeh ketika menanyakan hal itu sama gue di kelas pagi tadi.

“Gitu doang?” Dahi Ikhsan mengkerut.

“Enggak. Gue cuma bales, ‘Aku pernah jauh lebih baik. Itu waktu beberapa bulan yang lalu.’, gitu. Dia nggak jawab apa-apa, sebelum kemudian dia nanya lagi sama gue. ‘Kamu bahagia sekarang?’ tanya dia polos.”

“Wuih! Terus lo jawab apa?” Ikhsan makin penasaran.

Gue menggoyang-goyangkan Teh Kotak di depan gue itu. “Gue jawab aja dingin, ‘Kamu pikir aku bahagia?’,  pas gue ngomong gini, dia langsung nengok dan ngelihat ke arah gue gitu.”

“Anjir seru nih kaya FTV! Terus terus?”

“Dia natap gue gitu aja. Seperti ada perasaan marah, nyesel, ingin minta maaf, tapi benci juga. Yaudah daripada tatap-tatapan nggak jelas, gue balik nanya dia aja. ‘Kamu bahagia sekarang?” Gue bercerita sambil terus menatap kosong ke arah jalanan di depan.

“Asem! Elu punya cerita seru gini tapi malah ngebiarin gue cerita tentang tata cara ciuman. Bangke ah, tau gini elu cerita duluan nyet. Kan jadi nggak klimaks gini caranya.” Protes Ikhsan.

“Yeee malah ceramah. Gue lanjut jangan nih?”

“JUTKAN!!” Kata Ikhsan seraya membalikkan kursinya hingga mengarah ke gue.

“Saat itu gue sama dia nggak banyak bicara lagi, Nyet. Seperti tiba-tiba ada hening panjang yang menyelimuti kami berdua. Diamnya dia saat itu entah kenapa membuat gue jadi emosi, segala rasa kesal atas kejadian dua hari yang lalu itu seakan mau meledak di mulut, tapi untungnya gue masih bisa tahan. Gue cuma bilang saat itu, ‘Kalau nggak ada yang mau dibicarain lagi, aku pergi.’.”

“Beuh galak amat lo. Terus dia nahan elo nggak?”

“Enggak, dia cuma ngomong ‘Maaf.’, itu pun tanpa berani menatap ke arah gue. Dan gue yang mendengar hal itu langsung membalas, ‘Maaf? Siapa yang salah? Nggak ada kok.’ gitu.” Gue langsung menengok Ikhsan yang ada di sebelah gue, “Kejam nggak sih gue kalau ngomong gitu, San?”

Ikhsan menatap gue, lalu geleng-geleng, “Enggak kok. She deserve that. Setelah apa yang dia lakukan sama elo kemarin itu, dia pantas terluka kalau menurut gue.”

Gue termenung menatap Teh Kotak di hadapan gue, “Gue juga berpikiran sama kaya yang elo bilang barusan, kata maaf belakangan ini tampaknya hanya sebuah pelarian yang dipakai orang-orang pengecut yang sudah melakukan kesalahan untuk meminta kesempatan yang sama dua kali. Mereka menggunakan maaf hanya sebagai kata pembuka saja. Tidak tulus. Mereka bukannya ingin meminta maaf, melainkan ingin meminta kesempatan sekali lagi. Tapi bukannya membiarkan gue pergi, dia malah kembali mengucapkan kata maaf pas gue mau jalan lagi.”

Ikhsan mendengarkan dengan serius.

“Karena saat itu emosi gue sudah terlanjur tinggi, di kata maaf yang terakhirnya itu gue langsung berbalik, menatapnya sebentar kemudian bilang, ‘Daripada minta maaf, baiknya doakan aku agar bahagia. Minimal, doakan aku punya pendengar dan tempat pulang seperti kamu. Kita sama-sama terluka, tapi bedanya, aku terluka lalu jatuh sendirian, dan kamu terluka lalu pulang ke pelukan orang yang cintanya tak lebih besar dari cintaku.’, lalu setelah ngomong kaya gitu gue langsung pergi deh.”

Ikhsan geleng-geleng dengan rasa tidak percaya, “Gila gila gila, hubungan yang menurut gue simple di antara kalian itu kalau dilihat dari sudut pandang para pemeran aslinya itu ternyata rumit banget ya. Gue kira hubungan lo ini hanya sebatas lo suka sama pacar orang, Dim, tapi ternyata enggak kaya gitu. Sabar ya sob..” Ikhsan menepuk-nepuk pundak gue. Gue kira dia mau prihatin sama gue, tapi ternyata dia cuma mau ngelapin tangannya yang bekas makan kue tart itu ke baju seragam gue.

Brengsek.

“Slogan We falling in love with people we cant have itu ternyata bener ya.” Kata gue.

“Yeee itu mah elo doang, buktinya gue sama Tasya enggak kok.” Sanggah Ikhsan.

“Iya, tapi slogan ini pas buat Tasya maksud gue.”

“Anjir jadi lo pikir gue bukan cintanya Tasya gitu?”

“Hahahah inget sob, 83% kisah cinta di dunia ini itu mengatakan bahwa orang yang kita cintai dan orang yang mencintai kita biasanya adalah orang yang berbeda. Hingga pada akhirnya, kebanyakan dari kita selalu jatuh cinta karena terpaksa.”

“…”

Gue lalu mengambil sedotan plastik yang melekat pada Teh Kotak itu dan kemudian nyolokin ke Teh Kotaknya. Namun baru saja gue mau nyedot itu Teh Kotak, tiba-tiba minuman gue disamber sama seseorang.

Sontak gue terkejut, mulut gue udah monyong gini siap buat nyedot Teh Kotak tapi tiba-tiba sedotannya ilang.

“Siapa yang ngebolehin minum beginian?!”

Gue dan Ikhsan kaget, Cloudy dengan galaknya menyambar Teh Kotak gue lalu marah tanpa sebab di depan kami berdua. Gue sama Ikhsan liat-liatan dalam keadaan masih shock karena kedatangan si nenek sihir ini secara tiba-tiba.

Belum juga gue sempat membalas ucapannya, Teh Kotak gue yang lagi dia pegang itu dia lempar ke dalam tong sampah di depan sekolah. Gue kaget, Ikhsan lebih kaget. Gue merasa sayang banget ngeliat minuman masih utuh gitu dibuang ke tempat sampah, sedangkan Ikhsan merasa menyesal banget uang 3500 dalam bentuk minuman kemasannya dibuang tanpa sempat diminum.

Emang kejam si Cloudy ini.

“Lu ngapain sih ke sini? Di dalam aja sana gih! Ini mah urusan anak kelas satu. Sekretaris mah ngurusin yang lebih penting aja.” Ikhsan ngedumel.

“Heloooo! Gue juga kelas satu kali. Lagian apa hak lo nyuruh-nyuruh gue? Jualan tiket juga tugas gue kan?”

“Siapa?”

“Gue!”

“YANG NANYA~”

“IH!!!” Cloudy menggebrak meja di depan Ikhsan sebelum kemudian mengambil kursi dan duduk agak jauh dari kami berdua.

Ikhsan melirik Cloudy dari jarak jauh dengan tatapan bete. Ia kemudian menyenggol tangan gue.

“Nyet, si Cloudy ngapa sih selalu ada di sekitar kita mulu?” Katanya sambil bisik-bisik.

“Tau dah.”

“Dulu padahal gue sempat kagum loh bisa deket sama orang sekelas doi. Tapi sekarang malah pengen menjauh rasanya.”

“Hahahahaha sama gue juga.”

“Orang-orang yang deket sama elu kayaknya istimewa semua ya. Istimewa dalam hal negatif maksud gue.” Tukas Ikhsan.

“Ah elu juga sama.”

“Gue? Siapa?”

“Tuh Nurhadi. Dia kan temen lo. Istimewa tuh dia.”

“HAHAHAHA ANJING! Abstrak-abstrak gitu juga dia temen lo juga kampret.”

Lagi asik-asiknya kami tertawa begini, dari jauh ada satu mobil berhenti di depan stand tiket. Gue sudah biasa dengan pemandangan seperti ini. Memang biasanya banyak banget anak-anak kuliahan atau anak SMA senior yang bawa mobil dan mampir buat beli tiket Bazzar. Tapi saat itu begoknya gue tidak sadar mobil siapa itu di depan yang mampir ke stand penjualan tiket kita sebelum kemudian dari pintu belakang mobilnya turun seseorang.

Gue dan Ikhsan yang masih cengengesan ini mendadak diam melihat sosok yang turun dari mobil tersebut. Ikhsan memandang gue dengan tatapan kaget. Begitupun gue.

“LOH? KAK AI?!” Teriak kami berdua kompak.

“Loh kalian? Wah wah wah kebetulan banget nih kalian yang jualan tiketnya. Hehehehe, apa kabar hei kalian berdua temen-temennya Ifa?” Balasnya manis seperti biasa.

.

.

.

                                                         Bersambung

Previous Story: Here