by putri

Melihat Sisi Lain Islam di Inggris

Alhamdulillaah, saya diberangkatkan Allah untuk studi tingkat master di tahun 2015 ke kota Manchester, Inggris bagian Timur Laut. Tidak disangka setahun di negeri ‘Barat’ memberikan pelajaran spiritual yang sedikit berbeda, yaitu saya melihat sisi lain Islam di Barat.

Islam bukan semata karena keturunan

Selama di Indonesia, tentunya mindset yang lazim terbentuk adalah Islam karena keturunan. Misalnya, saya beragama Islam karena Ayah saya, kakek nenek saya, dan buyut saya muslim. Tapi di Inggris saya kemudian tersadar: Hmm… apakah Islam akan berterusan sampai ke keturunan-keturunan berikutnya tanpa upaya?

Toh, putri-putri dari beberapa ulama ada yang tidak menerima berhijab sebagai perintah Allah dan putra-putra mereka menjadi penentang Islam yang diajarkan bapak-bapak mereka.

Ternyata nasab bukan jaminan keislaman seseorang. Di Inggris, tak jarang wajah-wajah Pakistan dan Arab saya temui dengan santai menenggak minuman beralkohol. Sebaliknya, orang-orang terlahir di keluarga Barat saya melihat mereka begitu antusian mencari ilmu agama dan mengamalkannya.

Manchester lebih bersuasana Islam dari Indonesia

Selama di Manchester, saya pernah tinggal di sebuah flat selama 12 bulan dan mengontrak satu kamar di sebuah rumah selama 3 bulan. Pada periode mengontrak kamar, rumah tersebut terletak sepelemparan baru dari sebuah masjid yang dikelola oleh muslim keturunan Somalia. Masjid itu bernama Alfurqan.

Ada tiga hal yang menarik dari masjid ini. Pertama, walaupun dikelola oleh muslim keturunan Somalia, para jamaah masjid sangat beragam. Ada muslim keturunan Arab, Pakistan, Mesir, India, ada warga negara Malaysia, Indonesia, dan terlihat beberapa wajah bule. Jadi, masjid ini bukan jadi trmpat berkumpulnya jamaah dari negara atau 'firqah’ tertentu. Masjid ini masjid semua orang.

Kedua, jamaah masjid sholat shubuhnya hampir menyamai jamaah sholat jumat. Kapan ya ada masjid di Indonesia yang seperti itu? :’)

Ketiga, suasana bersaudara sangat hangat di sana. Kami saling berkenalan, menanyakan kabar, dan berbagi cerita selepas sholat tanpa ada pagar-pagar yang membatasi kami. Saat sholatpun, kami sholat dengan cara sesuai madzab yang kami pegang. Hanafi, Maliki, Hambali, dan Syafi'i semua meluruskan bahu dan merapatkan kaki. Kami duduk di halaqah mingguan yang sama. Kami makan di nampan yang sama saat jamuan ifthar di bulan Ramadhan. Saya merasakan kehangatan dan kesatuan hati umat Islam di Manchester.

Pantas saja Allah menyuruh manusia berjalan di muka bumi (travel) untuk saling mengenal, saling belajar, dan melihat tanda-tanda kebesaran Allah.

Dan saya rasa muslim di Indonesia pun harus belajar dari jamaah masjid Alfurqan di Manchester sana.

Tabik.

*SUAMI ISTRI DI USIA SENJA*

Yg membaca jangan nangis ya? Saya suka postingan ini, meski sudah berulang kali mbacanya… 😊

❤Di sebuah rumah sederhana yang asri, tinggal sepasang suami istri yang sudah memasuki usia senja.
Pasangan ini dikaruniai dua orang anak yang telah dewasa dan memiliki kehidupan sendiri yang mapan.

💢Sang suami merupakan seorang pensiunan, sedangkan istrinya seorang ibu rumah tangga.
Suami istri ini lebih memilih untuk tetap tinggal di rumah, mereka menolak ketika putra-putri mereka, menawarkan untuk ikut pindah bersama mereka.

💢Jadilah mereka, sepasang suami istri yang hampir renta itu, menghabiskan waktu mereka yang tersisa, di rumah yang telah menjadi saksi berjuta peristiwa, dalam keluarga itu.

💢Suatu senja ba’da Isya di sebuah masjid tak jauh dari rumah mereka, sang istri tidak menemukan sandal yang dikenakannya ke masjid tadi.
Saat sibuk mencari, suaminya datang menghampiri seraya bertanya mesra : “Kenapa Bu?”
Istrinya menoleh sambil menjawab: “Sandal Ibu tidak ketemu, Pak”.
“Ya sudah pakai ini saja”, kata suaminya, sambil menyodorkan sandal yang dipakainya.
Walau agak ragu, sang istri tetap memakai sandal itu, dengan berat hati.

💢Menuruti perkataan suaminya adalah kebiasaannya.
Jarang sekali ia membantah, apa yang dikatakan oleh sang suami.
Mengerti kegundahan istrinya, sang suami mengeratkan genggaman pada tangan istrinya.

💢“Bagaimanapun usahaku untuk ber terima kasih pada kaki istriku, yang telah menopang hidupku selama puluhan tahun itu, takkan pernah setimpal terhadap apa yang telah dilakukannya".

💢Kaki yang selalu berlari kecil membukakan pintu untuk-ku, saat aku pulang kerja,

💢Kaki yang telah mengantar anak-anak-ku ke sekolah tanpa kenal lelah, serta kaki yang menyusuri berbagai tempat mencari berbagai kebutuhanku dan anak-anakku”.

💢Sang istri memandang suaminya sambil tersenyum dengan tulus, dan merekapun mengarahkan langkah menuju rumah, tempat bahagia bersama….

💢Karena usia yang telah lanjut dan penyakit diabetes yang dideritanya, sang istri mulai mangalami gangguan penglihatan.
Saat ia kesulitan merapikan kukunya, sang suami dengan lembut, mengambil gunting kuku dari tangan istrinya.
Jari-jari yang mulai keriput itu, dalam genggamannya mulai dirapikan, dan setelah selesai sang suami mencium jari-jari itu dengan lembut, dan bergumam :
“Terima kasih ya Bu ”.
“Tidak, Ibu yang seharusnya berterima kasih sama Bapak, telah membantu memotong kuku Ibu”, tukas sang istri tersipu malu. ☺😊

💢“Terimakasih untuk semua pekerjaan luar biasa, yang belum tentu sanggup aku lakukan.
Aku takjub, betapa luar biasanya Ibu. Aku tahu semua takkan terbalas sampai kapanpun”, kata suaminya tulus.

💢Dua titik bening menggantung di sudut mata sang istri ……
“Bapak kok bicara begitu?
Ibu senang atas semuanya Pak, apa yang telah kita lalui bersama, adalah sesuatu yang luar biasa.
Ibu selalu bersyukur, atas semua yang dilimpahkan pada keluarga kita, baik ataupun buruk.
Semuanya dapat kita hadapi bersama”.

💢Hari Jum’at yang cerah, setelah beberapa hari hujan.
Siang itu, sang suami bersiap hendak menunaikan ibadah Shalat Jum’at,
Setelah berpamitan pada sang istri, ia menoleh sekali lagi pada sang istri, menatap tepat pada matanya, sebelum akhirnya melangkah pergi.
Tak ada tanda yang tak biasa di mata dan perasaan sang istri, hingga saat beberapa orang mengetuk pintu, membawa kabar yang tak pernah diduganya…….Ternyata siang itu sang suami tercinta telah menyelesaikan perjalanannya di dunia. ⚰
Ia telah pulang menghadap Sang Penciptanya, ketika sedang menjalankan ibadah Shalat Jum’at, tepatnya saat duduk membaca Tasyahud Akhir.

Masih dalam posisi duduk sempurna, dengan telunjuk ke arah Kiblat, ia menghadap Yang Maha Kuasa.
“Innaa Lillaahi Wainnaa ilaihi Rooji'uun”

💢“Subhanallah…. sungguh akhir perjalanan hidup yang indah”, demikian gumam para jama’ah, setelah menyadari ternyata dia telah tiada, di akhir shalat Jum'at….

Sang istri terbayang, tatapan terakhir suaminya, saat mau berangkat ke masjid.
Terselip tanya dalam hatinya, mungkinkah itu sebagai tanda perpisahan, pengganti ucapan “Selamat Tinggal …”.
Ataukah suaminya khawatir, meninggalkannya sendiri, di dunia ini. Ada gundah menggelayut di hati sang istri, Walau masih ada anak-anak yang akan mengurusnya,

💢Tapi kehilangan suami yang telah didampinginya selama puluhan tahun, cukup membuatnya terguncang. Namun ia tidak mengurangi sedikitpun, keikhlasan dihatinya, yang bisa menghambat perjalanan sang suami, menghadap Sang Khalik.

Dalam do’a, dia selalu memohon kekuatan, agar dapat bertahan dan juga memohon agar suaminya ditempatkan, pada tempat yang layak.

💢Tak lama setelah kepergian suaminya, sang istri bermimpi bertemu dengan suaminya.
Dengan wajah yang cerah, sang suami menghampiri istrinya dan menyisir rambut sang istri, dengan lembut.
“Apa yang Bapak lakukan?“, tanya istrinya senang bercampur bingung.
“Ibu harus kelihatan cantik, kita akan melakukan perjalanan panjang…
» Bapak tidak bisa tanpa Ibu, bahkan setelah kehidupan di dunia ini berakhir sekalipun.
» Bapak selalu butuh Ibu.
» Saat disuruh memilih pendamping, Bapak bingung, kemudian bilang "Pendampingnya tertinggal”, Bapakpun mohon izin untuk menjemput Ibu”.

💢Istrinya menangis, sebelum akhirnya berkata :
“Ibu ikhlas Bapak pergi, tapi Ibu juga tidak bisa bohong, kalau Ibu takut sekali tinggal sendirian….
Kalau ada kesempatan mendampingi Bapak sekali lagi, dan untuk selamanya, tentu saja tidak akan Ibu sia-siakan.“
Sang istri mengakhiri tangisannya, dan menggantinya dengan senyuman.

❤Senyuman indah dalam tidur panjang selamanya….

هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ

*"Istri mu itu adalah ‘Bajumu’ dan Suamimu itu adalah 'Bajumu’ pula”*
QS Al-Baqarah : 187

Semoga bisa mempererat cinta kasih yg sejati pasutri (pasangan suami istri), … karena Allah… aamiin.😭😭😭

Ya Rab… jadikan keluarga kami Sakinah Mawaddah wa Rahmah, wafatkan kami dalam keadaan HUSNUL KHOTIMAH…. Aamiin.

Pesan Singkat

Ketika malam membuat dingin
Ketika hujan menciptakan rindu
Ketika angan terbawa angin
Ketika resah mengharuskan kita rebah

Ketika ku masih mendapat kabar
Masih begitu behagia berdebar
Ketika kawanmu memberi kabar
Bahagia seperti bunga mekar

Tertidur pulas seperti putri tidur
Hingga tak mendengar kabar
Kabar kabur
Pagi ku terbangun

Menerima pesan singkat mengakhiri sebuah hubungan
Hubungan yang nyaman
Tak ada tangisan
Ini tanda keikhlasan




Oleh: @milamaula

Serius Nih Mau Bareng Sampai Ke Syurga?

Tulisan ini adalah review dari sharing online ASA Indonesia @asaindonesia bersama kang Ikhsanul Kamil (Kang Canun) dengan judul “Pentingnya Pendidikan Pranikah Sejak Dini”

Hallo, teman-teman! Apa sih yang ada di benak kalian ketika mendengar kata pernikahan? Kalau menurut saya pribadi, pernikahan adalah kolaborasi, yaitu kolaborasi antara suami dan isteri untuk melakukan sesuatu yang bisa bermanfaat untuk banyak orang. Kalau menurut kalian, apa sih? Pasti jawabannya banyak, ya! Ada berbagi, ibadah, tanggungjawab, perjuangan, pembelajaran, daaaan masih banyak lagi! Bahkan ada juga lho yang menganggap kalau pernikahan sebagai shortcut untuk mencari kebahagiaan.

Di tengah berbagai masalah di usia-usia quarter life ini, tidak sedikit orang-orang muda yang berpikir bahwa menikah adalah untuk menjemput bahagia. Seperti kisah Snow White yang hidup menderita kemudian ia melihat pernikahan sebagai pintu menuju kebahagiaan abadi. Ya, kebahagiaan dianggap sebagai kehidupan putri dan raja yang happily ever after.

Mungkinkah jika setelah menikah tema hidup kita hanyalah tentang bahagia? Hey hey, let’s think about this! Apakah ketika menikah kelak kita akan menikah dengan orang yang memiliki isi kepala yang sama dengan kita? Bagaimana dengan pola pikir, kebiasaan, tingkah laku, dan yang lainnya? Pasti berbeda dan perbedaan itu sedikit banyak pasti menimbulkan konflik. So, pernikahan harmonis itu bukanlah pernikahan yang di dalamnya tidak ada konflik sama sekali, tapi adalah pernikahan yang di dalamnya ada konflik namun suami dan isteri mampu me-manage perbedaan yang ada. Oleh karena itu, yang terpenting bukan menikah muda atau menikah tua, tapi menikah dewasa.

Data dari Kementerian Agama di tahun 2015 menyebutkan bahwa 1 dari 5 pernikahan berakhir dengan perceraian. Tentang ini, Kang Canun bercerita, katanya, “Selama 4 tahun saya berprofesi sebagai konselor pernikahan, saya menemukan, ketika memutuskan menikah untuk bahagia justru banyak pasangan suami isteri yang tidak bahagia. Mengapa? Karena pada faktanya, mereka tidak siap dengan konflik yang timbul. Hatinya hanya berharap tampungan kebahagiaan tapi tidak menyisakan ruang di hatinya untuk kecewa.”

Ternyata, memang ada jodoh yang hanya di dunia saja tapi tidak sampai ke akhirat karena pernikahannya berakhir dengan perceraian. Ada yang masa jodohnya hanya 5 tahun, 3 tahun, 1 tahun, bahkan ada juga yang hanya 1 minggu. Kita sepakat ya kalau jodoh tipe 1 ini, yang hanya di dunia saja, bukanlah jodoh yang kita harapkan. Semoga kita dan pasangan nanti tidak termasuk di dalamnya. Aamiin.

Lalu, ada jodoh tipe kedua, yaitu yang selalu bersama di dunia tapi tidak sampai ke akhirat. Lha, kok bisa sih kayak gitu? Kalau kita lihat data dari Kementerian Agama tadi, memang ada 4 yang tidak bercerai, tapi apakah bisa dipastikan jika pernikahannya harmonis? Banyak juga pernikahan yang diwarnai dengan perselingkuhan, perselisihan atau bahkan saling cuek satu sama lain. Misalnya, suami, isteri dan anak berada dalam satu meja, tapi suami sibuk main games, isteri sibuk dengan sosial media, anak-anaknya sibuk dengan mainan. They live in the same house, but they are homeless.

Apa yang terjadi jika keluarga yang tinggal dalam satu rumah mengalami homeless? Suami akan mencari ‘home’ yang lain di luar sana, bisa dengan berlama-lama di pos ronda, sering lembur terus atau bahkan mencari wanita idaman lain. Isteri juga akan mencari ‘home’ di luar, bentuk paling bahaya adalah jika ia menjalin hubungan juga dengan laki-laki lain di luar. Bagaimana dengan anak-anak? Mereka juga pasti mendapat dampaknya, mereka bisa menjadi anak-anak yang BLAST (bored, lonely, afraid-angry, stress and tired). Padahal …

Pernikahan yang harmonis adalah warisan terindah yang bisa kita berikan kepada anak-anak kita kelak.

Hmm, jodoh tipe kedua ini juga bukan tipe kita yaa. Tuh kan, mulai terasa kan kalau menikah itu memang perlu ilmu? Yuk lanjut lagi.

Ada juga jodoh tipe 3, yaitu yang di dunianya kompak, harmonis dan dipertemukan di akhirat, tapi sayang berakhirnya di neraka. Eh, kenapa sih? Kisah pernikahan seperti ini sudah ada contohnya di Al-Qur’an, yaitu kisah Abu Lahab dan Ummu Jamil. Mereka sangat kompak dan harmonis dalam membully Rasulullah dan menentang kebenaran. Dengan ending yang menyeramkan seperti kisah mereka, kita tidak ingin menjadi tipe ketiga ini, kan? Ya iyalaaaaah … Tentu saja!

After all, ada lho jodoh tipe 4, tipe kita bersama, yaitu jodoh di dunia yang begitu harmonis dan kompak lalu dikumpulkan di akhirat dan dimasukkan ke syurga. Tapi, tunggu tunggu, jangan senang dulu! Sebab, jodoh dunia akhirat itu tidak tiba-tiba datang dari langit, perlu dibentuk dan diperjuangkan. Bagaimana caranya?

Pondasi dasarnya adalah tentang niat. Mungkin ini terdengar klise, tapi niat inilah yang mempengaruhi segalanya. Niat itu seperti surat, salah tulis alamat yaudah deh sampainya juga salah. Ada orang yang berucap nikah karena ibadah, tapi dalam hatinya ia ingin menikah karena bosan hidup sendiri, ingin kabur dari rumah dan mencari bahagia. Apa yang riskan dari masalah niat ini? Nih ya coba pikirin deh, ketika menikah karena bosan hidup sendiri, akhirnya iya sih ada yang menemani, tapi akan kecewa ketika mulai ada kondisi LDR karena misalnya dinas di luar kota atau studi di luar negeri. Pada intinya, ketika berbicara tentang niat, ini tentu bukan hal klise dan ‘gitu doang’, tapi memang pondasi dari semuanya yang perlu melibatkan suara hati.

Terus terus, menikah karena ibadah itu memangnya yang kayak gimana, sih?

Satu hal yang perlu dipahami adalah bahwa dalam pernikahan dan kehidupan akan selalu ada dua titik ekstrim, yaitu kebahagiaan dan ketidakbahagiaan. Hidup memang begitu kan ya, ada sedih, senang, tawa, tangis, lapang, sempit, sakit, sehat, dan lain-lain. Apa yang salah dengan siklus-siklus hidup ini? Semuanya alamiah, kan? Ketika menikah, siklus-siklus ini bisa dirasakan dua kali lipat: kebahagiaan bertambah tapi kesedihan juga bertambah, hak bertambah tapi kewajiban juga bertambah. Ini menarik dan menantang, sebab kehidupan memang akan seperti roller coaster. Up and down, syuuuuu!

Menikah untuk ibadah adalah ketika kita mengejar barokah. Apakah itu? Barokah adalah bertambahnya kebaikan di setiap kondisi. Ketika bertengkar dengan pasangan, memang tidak nyaman, tapi bisa jadi barokah ketika kita mampu bijak melihat pembelajarannya. Ketika hal-hal menyenangkan terjadi, justru membuat semakin harmonis. Well, this is barokah. So, menikah untuk ibadah berarti kesiapan hati untuk menerima semua takdir-Nya dan kerelaan hati untuk melakukan yang terbaik dari apapun yang ditakdirkan-Nya.

Serius nih mau bareng sama pasangan sampai ke syurga? Kalau gitu, sebelum menikah, yuk perbaiki dan luruskan niat! Semoga Allah memudahkan kita untuk menundukkan nafsu, menyalakan logika dan menggunakan nurani. Sampai jumpa lagi di review-review selanjutnya! ;)

Tak Kenal Maka Ta'aruf (2)

Ada lagi satu cerita. Bahkan yang ini usianya lebih muda dariku. Masih koas. Sebut saja namanya hmm Humaira. Kita semua lagi ngumpul di rumah Putri, tiba-tiba Humaira dapet sms. Dia baca, kemudian menunjukkan ekspresi kaget. Namanya juga cewek, semua pada ribut, “Kenapa? Kenapa?”
Ternyata yang ngsms Bapak depan rumahnya. Menanyakan apakah Humaira sudah punya calon suami apa belum, karena ada ikhwan yang ingin kenalan. Dan ternyata si ikhwan tadi adalah abang-abang yang beberapa kali dilirik sama si Humaira. Ohiya, si Bapak tadi jualan Yogurt, ada warungnya gitu. Humaira suka beli yogurt disana dan beberapa kali ketemu sama si ikhwan tadi.

Ternyata mereka melanjutkan ke tahap selanjutnya. Si ikhwan sampai nyamperin orangtua Humaira ke Sumatera sana. Nah, pas aku ketemu sama Humaira, Humaira minta bantu doa supaya dilancarkan semua urusannya. Terus aku tanya,
“Terus kamu chatting gitu ga sama dia? Via wa atau sms gitu?”
“Ya enggak lah Mbak…”
“Enggak sama sekali??”
“Eh, ada sih dia nanya aku kemarin masih di tugas di luar kota apa udah balik. Aku jawab sekali, abis itu udah.”
“Hah iya? Terus kamu gak nunggu-nunggu dia ngechat gitu?”
“Hmm…ya ada sih. Tapi ya mau gimana hehe. Doain ya mbak. Dia udah ketemu orang tuaku juga.”

Luar biasa. Gak kebayang deh kalau aku jadi dia. Punya kontaknya tapi gak kontak-kontakan. Duh, ga gatel apa tangannya dia pengen nanya “dah makan lom beb?” Wkwkwkwk
Mana kalau anak muda jaman sekarang sukanya galau-galau. Pacaran galau padahal belum tentu itu jadi suami. Galau padahal yang digalauin bukan siapa-siapa.

Tapi aku bener-bener salut sama orang yang emang menyerahkan semuanya pada Allah (setelah semua usaha yang telah dilakukan ya). Gak cuma dimulut tapi juga di hati. Sampai heran kadang, ini orang bisa santai gini ya. Karena mereka yakin Allah punya rencana lain.

“Mbak gak mau coba taarufan?”
“Aku? Endaklah. Hahaha takut.”
“Terus kalau ga gitu, mau gimana?”
“Hmm…ya liat nantilah.”