by marah

Masa lalumu kekal dalam ingatan. Jika sekarang ia masih begitu kental, tak apa. Aku tak akan marah, pun tak memaksamu untuk melupa. Biarkan saja yang kental mencair dengan sendirinya. Aku sabar menunggu walau sering kali merasa cemburu.

scumbagman  asked:

Dekat, tapi jarang bertemu, dan akhirnya sering marah ga jelas. Sekali ketemu, seneng banget. Apa benar itu rindu, mas? 😃

menurutku iya sih. kadang saking rindunya bisa bikin ngga jelas, yang akhirnya jadi kesel sendirii.

S.T.A.Y?

Udah keren belum judul yang aku buat yang, @di-gincuin​ ?

Sebenernya kamu ada benernya juga, aku bukan gak sempet bales surat tepat waktu. Tapi kadang aku emang gabisa focus sama lebih dari satu hal.. mianhe :(

Well, iya:( ada monster di kepalaku, di kepalaku… uu uuu… ciye nyanyi, ehe ehe.. soalnya aku sendiri juga kadang bingung sama perubahan sikap aku. “one day I screaming love you loud, next day I so cold~” ye ga? Ngerasa ga? Engga ya? Hih dasar kurang peka~

Kalo masalah mainin cemburu, mian……. Bukan maksudku mainin cemburu, kadang pertanyaan bodoh itu emang muncul gitu aja. I mean, awalnya aku lupa bahwa ia ia itu orang yang kamu cemburuin. But easy, my heart still on you, gak percaya? Udah percaya ae duls… di nego aja tsaay, sampai okaay~~

Perkara diemku kalo lagi marah, I have no idea and don’t have any choice. Itu seperti sifatku yang lain, bukan direncanain. Tapi emang terjadi gitu aja. Tapi aku pengen banget tau satu hal. Bagi kamu, kalo aku lagi marah, mending aku marah-marah meledak-ledak kaya petasan. Atau aku diem aja kaya anak sd kebelet pup pas lagi ujian?

Stay with you itu bukan pilihan, tapi kemauan. Semua yang dimauin pasti akan terjadi. Kaya aku mutusin buat sama kamu. Bukan perkara mudah loh sampe akhirnya aku sama kamu. Ya abis gimana, yu know laa ya.. aku anaknya loveable banget. Alih-alih dapetin yang bisa sama-sama terus tanpa adanya jarak, aku lebih milih sama kamu, yang LDR-annya bukan cuma sama jarak, tapi sama waktu. Pernah wondering why ga? Kalo belum, mending jangan. Jadi gakan ada pertanyaan why? Soalnya aku juga gatau jawabannya. Mau bilang ini takdir juga terlalu naif, bahkan.. takdir kadang bisa kita ubah sesuai kemauan kita, kan?

Aku ga pernah lupa 18-an ku sama kamu, yang aku sering itu gak ngeh kalo itu tanggal 18, ehe ehe. Ya abis, lu kaya bocah sma, bulanan aja mau dia anivin, cih~

Bubb, aku tau kamu pasti berpikiran bahwa kamu bukanlah pasangan yang tepat karena kita selalu berjarak. Tapi..

Apalah artinya bisa terus bersama jika gak ada kebahagiaan di dalamnya?

Bahkan dengan jarak yang ada aku masih bisa bahagia, seengganya kalo orang nanya aku punya pasangan yang bisa aku ceritakan. Gak jomblo-jomblo amat lah, wkwkw

But… gomawo for udah mau jadi partner in relationship. Penghabis quota. Pencipta tawa. Dan pembunuh waktu untuk terciptanya bahagia.

Tetap begini, tetap seperti ini, sampai entahlah nantinya kita akan bagaimana.

Udah banyak ternyata, sebenernya inti dari sebanyak bacotanku ini sih cuma satu..

Aku gak mau hanya sekedar stay.. aku maunya..

(S)elalu (T)erus s(A)ma kam(Y)u ~~~


MPOS, UDAH ALAY BELUM TUCH EUG?

4

👌👀👌👀👌👀👌👀👌👀 GOOD SHIT GO౦Ԁ SHIT👌 THATS ✔ SOME GOOD👌👌SHIT RIGHT👌👌TH 👌 ERE👌👌👌 RIGHT✔THERE ✔✔IF I DO ƼAҮ SO MY SELF 💯  I SAY SO 💯  THATS WHAT IM TALKING ABOUT RIGHT THERE RIGHT THERE (CHORUS: ʳᶦᵍʰᵗ ᵗʰᵉʳᵉ) MMMMMᎷМ💯 👌👌 👌НO0ОଠOOOOOОଠଠOOOOᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒ👌 👌👌 👌 💯 👌 👀👀 👀 👌👌GOOD SHIT

Pertemuan Lampau di Antara Kita

Akhirnya beberapa waktu yang lalu kita bertemu lagi.

Setelah bertahun-tahun semua terkubur dalam-dalam. Tak ada lagi kabar tentangmu, tak ada lagi suaramu di telingaku. 

Setelah semua jalan benar-benar tertutup rapat. 

Setelah di mataku kau tak lebih dari orang asing yang tak aku kenal lagi. 

Dan setelah hubungan itu berakhir karena kau pergi tanpa meninggalkan sedikitpun kabar, 

Akhirnya beberapa waktu yang lalu kita bertemu lagi.

Aku pikir semua akan baik-baik saja. Aku pikir aku telah Ikhlas melepasmu. Tapi nyatanya? Semua yang dulu dengan susah payah aku kubur dalam-dalam di malam kepergianmu itu tiba-tiba saja menyeruak lagi ke permukaan.

Dan aku benci sekali.

Ternyata menatapmu membuatku kembali mengingat segala hal buruk yang telah kau lakukan kepadaku. Tentang perjuangan yang sia-sia, waktu yang terbuang percuma, dan tentang pengorbanan-pengorbananku yang tidak ada artinya sama sekali di matamu itu.

Dan aku begitu marah sekali!

Bahwa ternyata diam-diam aku masih memiliki rasa untukmu; masih ada rasa ingin memilikimu sekali lagi. Setelah pertemuan itu, aku terpaksa harus jujur bahwa ternyata aku masih mencintaimu. Dan itu sakit sekali, mengingat bahwa aku sudah tidak punya kesempatan untuk memilikimu sekali lagi.

Mengertilah.

Bagiku, ini bukan sekedar perihal Ikhlas atau tidak. Tapi kau harus mengerti bahwa ada luka yang tidak bisa sembuh begitu saja dalam hitungan hari.

Friend-Zone?

Ini tidak adil.
Benar-benar tidak adil!

Sudah seharusnya aku dan dia memang berhenti bertemu, terlebih saling bercengkrama seperti yang sering biasa kami lakukan, tapi sialnya aku berada di satu lingkungan yang sama dengannya. Dan itu perlahan membunuhku.

Di setiap aku mencoba untuk tak lagi menyapanya oleh karena aku tak mau jatuh cinta sendirian, ia akan mencoba ribuan cara agar bisa mendekat kepadaku. Bertanya kepada teman-temanku, mencari tahu kabarku, membuatku merasa dibutuhkan dalam satu waktu.

Jika aku memperlakukannya seperti halnya aku memperlakukan orang lain, ia akan marah. Jika aku tidak memberi tahu kabarku kepadanya, ia akan cemberut. Jika aku tidak hadir ketika ia pinta, ia akan marah dari subuh hingga menjelang senja. Ia juga pernah cemburu hanya karena aku bertemu dengan gadis lain tanpa sepengetahuannya. 

Ia bukan kekasihku, 
Namun kami juga bukan sekedar teman biasa. 

Di tiap aku bertanya siapa kita, ia selalu mencoba tak menjawab. Di setiap aku mencari cara untuk mengetahui ke mana arah hubungan ini berjalan, ia menarikku dan membuatku kembali ke arah yang tanpa tujuan.

Ini tidak adil!
Benar-benar tidak adil!
Aku mencintainya, dan itu benar-benar membunuhku!

Setiap aku berusaha pergi, ia menahanku selayaknya aku adalah yang utama di kepalanya. 
Setiap aku mencoba membangun hubungan dengan orang lain, ia hadir lalu bertingkah layaknya kami berdua adalah sepasang kekasih yang mempunyai cerita bahagia.
Setiap aku menutup pintuku kencang-kencang, ia selalu bisa membukanya lagi dan lagi dengan wajah yang tak bersalah. 

Ia bahkan pernah dengan jelas-jelas merencanakan tentang kehidupan kami berdua di masa depan jika kami berada dalam satu hubungan yang resmi.

Kami bukan sepasang kekasih. 
Ia memang tak mengikatku; namun hubungan ini hanyalah memindahkan tali di kakiku, menjadi di leherku. Semakin aku memberontak, semakin mati aku dibuatnya.

Kami berdua seperti dua sahabat baik, 
yang aku mencintanya dengan sangat,
Tapi di hatinya; aku tak lebih dari sekadar satu dari banyak.