by marah

“terus Kak?”

“dulu pas pertama-pertama jadian, Adit selalu bilang tentang kejujuran, keterbukaan, dan bla bla bla lain yang idealnya membuat hubungan kita langgeng, Ca,” Faza menggoyang-goyangkan ujung sepatu sambil duduk selonjor, di bawah pohon kayu putih.

“terus Kak?” Kica khawatir salah merespon, jadi hanya berterus-terus saja.

“karena Adit suka marah, aku sering takut sama Adit, Ca. semacam, aku takut jujur sama perasaanku kalau aku sedang sedih, kecewa, atau marah juga. lama-lama, aku jadi takut cerita hal-hal yang memang nggak nyaman untuk diperbincangkan. aku takut Adit menghindar pergi.”

“hmm… gitu ya Kak…”

“menurutku sih, seharusnya, dalam sebuah hubungan, masalah seseorang akan otomatis menjadi masalah berdua. kalau satu orang sedih, yang lainnya ikut merasakan.”

“oh iya Kak. mas Banyu pernah bilang tuh. seperti satu tubuh. sakit giginya doang, nggak enaknya ke sekujur badan. itu pengibaratan saudara seiman.”

“betul. sayangnya, Adit nggak gitu, Ca, lama-lama dia…”

“…”

“he doesn’t feel me. he never do. kalau aku punya masalah, masalahnya punya aku seorang. bukan punya berdua.”

tapi Kak Adit kan baik banget, tentu saja suara ini hanya muncul dalam benak Kica.

“aku sering bertanya-tanya where would he be when i need him. turned out, he was almost never there. our relationship went superficial. you know, we didn’t have those deep talks.”

perasaan Kak Adit kalau ngomong sama aku selalu tentang hal-hal yang saking susahnya aku sampai nggak ngerti.
“terus Kak?”

“the talks didn’t work. any talk didn’t. and so didn’t the silence. i managed to cope with everything on my own. every single time i don’t feel okay, he leaves me.”

“ng, Kak. aku mendengarkan dan menyimak ya.”

“ada nasihat bijak yang bilang, jangan sampai kita kehilangan diri sendiri karena kita menemukan seseorang. ternyata yang aku alami: kadang-kadang kita perlu melalui proses menemukan lalu kehilangan seseorang–untuk menemukan diri sendiri, Ca.”

“maaf Kak, tapi Kak Faza yang mutusin bukan ya? bagian mananya Kak Adit yang ninggalin Kak?”

“perempuan tuh tau Ca kalau dirinya ditinggalkan, meskipun nggak dinyatakan demikian. tentang ini pasti kamu nggak pernah merasakan sih. soalnya…”

“soalnya kenapa Kak?”

“Adit nggak pernah ninggalin kamu.”

Ada seorang dermawan yang dari atas gedung menebar uang pecahan:
Rp. 5.000,-
Rp. 10.000,-
Rp. 20.000,-
Rp. 50.000,-
Rp. 100.000,-

Di bawah gedung, berkerumun banyak orang yang sibuk. Mereka saling berebut memunguti uang yang berserakan *“TANPA ADA YANG PEDULI” sumber uang itu dari SIAPA.*

Suatu saat, Sang Dermawan naik lagi ke atas gedung tersebut dan kali ini beralih *menebar kerikil-kerikil kecil ke dalam kerumunan orang yang ada di bawah.* Sontak terjadi keramaian. Ada yang terkena di kepala, bahu, tangan, punggung dan anggota tubuh lainnya. Mereka panik dan marah, menengadah ke atas berusaha *“MENCARI TAHU”* dari mana sumber dari kerikil-kerikil tersebut dijatuhkan?

Itulah sikap dari kebanyakan manusia, *saat BERKAH (hal yang menguntungkan) datang, semua sibuk tanpa peduli siapa yang memberi dan sedikit sekali yang mampu berterima kasih dan mau mengucap syukur atas keberkahan tersebut.*

Namun saat masalah datang, maka semua akan spontan mencari sumber masalah dan biang keroknya. Mereka akan serta-merta marah dan menyalahkan orang lain tanpa mau cari solusi lagi. *“Apakah kita hanya mau menerima yang baik saja, tetapi tidak mau menerima yang buruk ?”*

Tanpa mau tahu bahwa hidup ini sebenarnya sudah satu paket, baik dan buruk, senang dan susah, semuanya satu kesatuan yang tak mungkin terpisahkan.

Bila suatu ketika kita “kena giliran” menjalani hal-hal buruk dan susah, maka jalanilah dengan tabah dan tetap bersyukur, karena hanya itu kuncinya.

*Mau belajar SABAR?*
Nanti kita akan ketemu dengan orang-orang yang keras kepala kepada kita.

*Mau belajar MENGAMPUNI?*
Nanti kita akan dipertemukan dengan orang-orang yang menyakiti kita.

*Mau belajar MEMBERI?*
Sebentar lagi kita akan dihadapkan degnan orang-orang yang berkekurangan.

*Mau belajar RENDAH HATI?*
Tunggu saja, nanti akan ada orang-orang yang merendahkan diri kita.

Kabar buruknya, *“HIDUP INI TAK AKAN ADA YANG SEMPURNA !”*

Kabar baiknya, *“KITA TAK PERLU HIDUP YANG SEMPURNA UNTUK BISA MENIKMATINYA !!!”*

Apapun yang sedang kita hadapi, itulah PROSES BELAJAR MENJADI LEBIH BIJAKSANA & DEWASA.
JANGAN MARAH & MENGGERUTU, tapi belajarlah dan responlah dengan benar.

*HIDUP ADALAH PROSES PEMBELAJARAN dan !!!*

Pembelajaran hanya bisa diperoleh pada situasi yang tidak sesuai harapan kita, bukan saat kita dalam kenyamanan.

Jadilah "murid kehidupan” dengan *BELAJAR BERSYUKUR & MENGAMBIL HAL YANG POSITIF* dari setiap peristiwa yang kita hadapi.

Berusahalah SABAR dalam kesedihan,
Berusahalah SABAR dalam kekecewaan,
Berusahalah SABAR dalam kesakitan,
Berusahalah SABAR dalam musibah,
Berusahalah SABAR dalam ujian hidup.

SABAR itu susah,
SABAR itu capek,
SABAR itu sakit,
SABAR itu bikin stres,
Akan tetapi, jika kita mampu melewatinya, maka SABAR itu akan menjadi sebuah KEINDAHAN & ARTI sebuah KEHIDUPAN.

Ada kalanya dibutuhkan senyuman untuk menangis,
Ada kalanya dibutuhkan airmata untuk bahagia,
Ada kalanya dibutuhkan canda untuk melepas lelah,
Ada kalanya dibutuhkan penat untuk mengukur arti kedamaian,
Ada kalanya dibutuhkan “musuh” untuk menjadi korektor,
Ada kalanya dibutuhkan “teman” untuk berbagi.

Dengan berbagi, melatih kesabaran, dan menerima kenyataan hidup dengan penuh rasa syukur, kita sesungguhnya berjalan menuju kebahagiaan hidup yang kita dambakan, hidup yang ceria, damai, harmonis dan penuh sukacita.

Life is beautiful…..

Semangat malam 😊

*Share dari grup, semoga bermanfaat

perempuan hebat adalah dia yang bisa menahan amarahnya, mengalihkan kecewanya, menutupi sedihnya, merahasiakan luka dan dukanya. perempuan hebat adalah dia yang berkeluh kesah hanya di hadapan Tuhan-nya dan selalu berwajah cerah di hadapan semua makhluk-Nya.
—  marah boleh, yang tidak boleh adalah menyakiti hati dan perasaan orang lain.
kecewa boleh, yang tidak boleh adalah berharap secara berlebihan.
sedih boleh, yang tidak boleh adalah berlarut-larut dan terhanyut.
luka dan duka pasti ada. tetapi bahagia hanya hadir bersama mereka yang mensyukuri sukanya.
4

👌👀👌👀👌👀👌👀👌👀 GOOD SHIT GO౦Ԁ SHIT👌 THATS ✔ SOME GOOD👌👌SHIT RIGHT👌👌TH 👌 ERE👌👌👌 RIGHT✔THERE ✔✔IF I DO ƼAҮ SO MY SELF 💯  I SAY SO 💯  THATS WHAT IM TALKING ABOUT RIGHT THERE RIGHT THERE (CHORUS: ʳᶦᵍʰᵗ ᵗʰᵉʳᵉ) MMMMMᎷМ💯 👌👌 👌НO0ОଠOOOOOОଠଠOOOOᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒ👌 👌👌 👌 💯 👌 👀👀 👀 👌👌GOOD SHIT

Curhat : Kehidupan Pascamenikah (40 Hari Pertama)

*harusnya ini ditulis setelah 40 hari, eh malah ditulis setelah entah hari ke berapa.

Sebelum menikah, guru saya pernah berpesan sesuatu pada saya, yang saya praktekkan di awal pernikahan. 

“Pik, nanti kalau sudah menikah, 40 hari pertama nggak boleh berantem. Nggak boleh marahan sama sekali.

“Sama sekali bu?”

“Sama sekali. Meskipun kamu harus nangis-nangis nahan emosi, tahan. Jangan diluapkan. Jangan sampai kamu berkata-kata yang nggak baik, jangan sampai ribut-ribut. Dieeem aja, tahan. Sampai 40 hari.”

“Emangnya kenapa bu?”

“Nanti kamu akan terbiasa untuk meredam ego dan emosimu. Ibu dulu juga dipeseni hal serupa sama teman ibu yang menikah duluan. Kata beliau 40 hari pertama itu sedikit-sedikit mulai terbuka kelebihan dan kelemahan pasangan, jadi harus banyak sabarnya.”

Akhirnya waktu sebelum menikah saya mengajukan permintaan ini kepada suami. Supaya yang berjuang nggak saya sendiri. HAHA. 

Terus gimana Pik 40 hari pertamamu?

Hari pertama sampai ke tujuh masih mulus, jalan tol, terus makin hari makin tahu gimana ternyata pasangan kita. Ada momen-momen dimana rasanya pas ituuuuuuuuuu kzlll harus nahan-nahan. Apalagi saya sama suami nggak LDR dan suami bekerja di rumah, jadi hampir 24 jam penuh kami saling membersamai. Kadang kalau udah kesel, nangis-nangis sendiri. Sampai nulis-nulis di diary sambil terisak-isak WAHAHAHAHA LEBAY. gak ding, ga terisak-isak juga. 

Namanya juga dua orang asing, beda pola asuh, beda karakter, beda sifat, beda deh pokonya. Jadi harus maklum kalau ada yang nggak pas kadang-kadang. Misalnya nih kejadian di kami seperti ini : Mas adalah tipikal orang yang disiplin dan lebih banyak thinking, sedangkan saya cenderung selow dan lebih banyak feeling. Mas suka bersih-bersih, nggak kotorpun dibersihin. Sayanya bersih-bersih nggak sebegitunya. Mas lebih suka warna-warna seperti abu-abu, hitam, putih, dan merah. Kalau saya warna-warna cerah dan mostly pink. Mas suka terlalu hemat, saya realistis (kalau butuh beli, pengen mendekati butuh ya beli hahahaha). Mas hampir Vegan, dan saya masih betah dengan daging, lemak, dan jeroan. Wk. Dan banyak hal-hal lain yang bertolak belakang. Banyak yang harus saling diterima. 

Tapi alhamdulillah, kami lulus 40 hari nggak berantem dan marah-marahan. Dan memang pembelajarannya kerasa sekarang, semoga sampai kami menua. Saya jadi belajar buat diem dulu kalau kesel, baru kalau udah enakan saya cerita. Kalau Mas lagi emosi, juga belajar buat nggak lama-lama. Dan kami berdua belajar nggak mengungkit-ungkit kesalahan pasangan (ya meski nggak bikin perjanjian untuk ini, tapi tanpa dibilangpun saya belajar dari Mas buat nggak ngungkit kesalahan). Kalau salah yaudah, salah, minta maaf, sebisa mungkin jangan diulangi.

Kalau prinsip Mas : komunikasikan. Semuanya harus dikomunikasikan dan emosi nggak boleh kebawa tidur. Kalau kesel bilang. Nggak boleh sok kuat. Kalau saya beda: sok kuat dulu di awal. Komunikasikan kalau lagi pas nggak marah, biar enak. wkwkwk. Nah lho. Tapi pada intinya, kita harus belajar untuk meredam lalu mengkomunikasikan semuanya dengan baik dan baik-baik. Saya masih belajar sih, huhu. Kadang malah nggak tahu harus gimana bilangnya, terus malah ditulis. Berharap Mas baca. Tapi saya sembunyiin. Dasar perempuan WKWK. 

“Darimana pasanganmu bisa tahu atau berbenah kalau kamu nggak bilang?” kata Mas.

Pasangan kita juga perlu tahu apa yang kita rasakan, agar jika itu menyangkut kekurangan, bisa saling instropeksi. Dan jika menyangkut kelebihan, biar bisa saling berbahagia. Tapi nggak boleh tersulut emosi. Boleh kalau demi kebaikan–marah, tapi jangan marah-marah :)

Terimakasih bu, untuk pelajaran 40-Hari-Pertama-Anti-Berantem-dan-Marah-Marah. Kami belajar banyak. Semoga, bisa menjadi hikmah untuk teman-teman semua. Buat yang sudah menikah, nggak papa 40 harinya nggak pertama, di tengah-tengah juga nggak papa, asal disepakati dan diusahakan berdua. Biar sama-sama berjuang dan kebiasa. Intinya sih, ini cuma pembiasaan dan peredaman ego/emosi.

Semoga curhatan ini bermanfaat!

kita lebih sering menyesal karena bicara daripada karena diam. kalau bingung, lebih baik diam. kalau sedang marah, lebih baik diam. kalau sedang kecewa, lebih baik diam. kalau sedang sedih, lebih baik diam. kalau tidak tahu-tahu amat, lebih baik diam.