by kemar

Untukmu, semogaku.

Surat ini adalah satu dari banyak suratku untukmu, tapi ini adalah satu-satunya surat yang kuingin bisa sampai di tanganmu.

Begini, aku ingin kau tahu kalau aku sedang ketakutan. Tentang akan kemana kah kita, tentang apakah kita punya rencana yang sama, tentang apakah kita punya definisi kita yang sama.

Seperti yang kau bilang, aku adalah perempuan yang kuat. Aku berhasil bangkit dari segala jenis patah hati. Aku baik-baik saja. Hatiku masih utuh walaupun ada banyak lebam di sana sini. Aku masih bisa jatuh cinta sekali lagi. Lalu sekali lagi. Dan lagi.

Itu kemarin, sayang. Itu terjadi. Aku tak punya pilihan lain selain menjadi pemenang dan bangkit dengan senyum yang mengembang. Aku kuat? Oke, aku menerimanya sebagai pujian. Terima kasih. Katakanlah aku sekuat itu, tapi bukan berarti kau boleh sengaja melempariku batu. Katakanlah aku termasuk perempuan yang sabar, tapi bukan berarti kegirangan ketika dihajar.

Lelakiku, jangan sengaja membuatku jatuh cinta, sedang kau hanya sekedar ingin tinggal sementara. Kuatku habis, kali ini aku akan terjatuh dengan sisa nafas yang semakin menipis. Sabarku mati, kali ini aku akan berakhir menjadi perempuan yang tak berhati. Kau harusnya tahu, tak peduli sesering apapun aku patah hati, rasanya tetap saja bajingan.

Jadi, tolong pastikan sekali lagi. Aku ingin kau satu dan sampai nanti tetap dirimu. Bagaimana denganmu? Semoga kau punya semoga yang sama.

Iya, atau tidak sama sekali.