by haq

TENTANG MALAIKAT
PENGHITUNG TETESAN AIR HUJAN

Rasulullah bersabda,

“Saat aku tiba di langit pada malam Isra Miraj, aku melihat satu malaikat memiliki seribu tangan, di setiap tangan ada seribu jari. Aku melihatnya menghitung jarinya satu persatu.

Aku bertanya kepada Jibril pendampingku,
‘Siapa gerangan malaikat itu, dan apa tugasnya?’

Jibril menjawab,
'Sesungguhnya dia adalah malaikat yang diberi tugas untuk menghitung tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi.’

Aku pun bertanya kepada malaikat (penghitung tetesan air hujan) tadi,
'Apakah kamu tahu berapa jumlah tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi sejak diciptakan Adam?’

Malaikat itu menjawab,
'Wahai Rasulullah, demi yang telah mengutusmu dengan haq (kebenaran), sesungguhnya aku mengetahui semua jumlah tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi, dari mulai diciptakan Adam sampa sekarang ini.

Begitu pula aku mengetahui jumlah tetetas yang turun ke laut, ke darat, ke hutan rimba, ke gunung-gunnung, ke lembah-lembah, ke sungai-sungai,ke perkebunan, dan ke tempat yang tidak diketahui manusia.’

Mendengar uraian malaikat tadi aku sangat takjub dan bangga atas kecerdasannya dalam menghitung tetesan air hujan.

Kemudian malaikat tadi berkata lagi,
'Wahai Rasulullah, walaupun aku memiliki seribu tangan dan sejuta jari dan diberikan kepandaian dan keahlian untuk menghitung tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi, tapi aku memiliki kekurangan dan kelemahan.”

Aku pun bertanya,
'Apa kekurangan dan kelemahanmu?’

Malaikat itu menjawab,
'Kekuranganku dan kelemahanku, wahai Rasulullah, jika ummatmu berkumpul di satu tempat, mereka menyebut-nyebut namamu lalu bersholawat atasmu.

Pada saat itu, aku tidak bisa menghitung berapa banyaknya pahala yang diberikan Allah kepada mereka atas sholawat yang mereka ucapkan atas dirimu.’“

(Al Mustadrak,
Syeikh An Nuri, jilid 5, hal 355)

Kehilangan Kenikmatan
— 

Dulu ketika ngekos di Surabaya,  teman satu kamar saya ketika membeli makanan seringkali rasanya tidak enak. Padahal ketika kawan lain yang beli di tempat yang sama, rasanya enak. Kata seorang kawan kosan, mungkin karena teman satu kamar saya sering komentar negatif tentang makanan.

Belakangan, saya belajar sesuatu. Bahwa rasa enak atau tidak, seringkali bukan hanya sebab makanan itu memang tidak enak. Seringkali kita merasa kurang asin, kurang manis, kurang ini dan itu yang orang lain tidak menganggap demikian. Bisa jadi, masalahnya bukan ada di makanan itu. Bisa jadi, sebenarnya Allah sudah mencabut kenikmatan dari lidah kita,  dikarenakan kita yang tidak pandai bersyukur pada makanan.

Berhati - hatilah, sebab bisa menikmati makanan adalah salah satu rejeki besar yang bisa dicabut kapan saja hanya karena kita kufur pada makanan. Duh, bahagianya menjadi orang - orang yang bisa menikmati setiap makanan yang haq baginya, sesederhana apapun itu, tanpa sedikitpun komplain. 

Yah tapi ini jangan dimanfaatkan para istri sebagai dalih ketika suaminya mengatakan masakannya ga enak. Takutnya, istri bilang, “Mas, ini tuh bukan masakanku yang ga enak, tapi Allah sudah mencabut rasa nikmat dari lidahmu karena kamu kurang pandai bersyukur atas makanan yang kumasakkan, “ padahal masakannya memang ga enak. Pfft, ga gitu juga kali. 

دفن کر سکتا ہوں سینے میں تمہارے راز کو
اور تم چاہو تو افسانہ بنا سکتا ہوں میں

I could bury your secrets in my chest
Or should you prefer
I can turn them into fairy tales.

Dafn Kar Sakta Hoon Seenay Main Tumhare Raaz Ko
Aur Tum Chaho toh Afsana Bana Sakta Hoon Main
—  Israar-ul Haq Majjaz
Appreciation replies

thanks @simmingbee and @6ak, I definitely don’t do this for the appreciation (reality is probably closer to perfectionism so my cc *has* to be right in my mind), but the thanks are always wonderful to receive. Having the community go against the old mantra of “not appreciating cc creators for all the effort they put in” is always great to see. That goes for all of you that have commented too on my posts about finding many things to fix since this update. I know it hasn’t been my usual posting so its appreciated that you put up with my whiny ass XD

so thanks to @vicarious-sims, @soloriya, @jorgha-haq (especially putting up with my bitching on skype XD ), @wifemomsimmer, @buckleysims, @cyberqueen-13, @renorasims, @mebagl15, @katsdollhouse, @devdollhouse, @uniquely-khaotic, @thisissimtastic, @stsciurussimblr, @theveronarelapse, @rop26, @babyphatqueen1, and to anyone I may have missed.

Originally posted by allreactions

تم سے الفت کے تقاضے نہ نباہے جاتے شان الحق حقی


تم سے الفت کے تقاضے نہ نباہے جاتے
ورنہ ہم کو بھی تمنا تھی کہ چاہے جاتے
دل کے ماروں کا نہ کر غم کہ یہ اندوہ نصیب
زخم بھی دل میں نہ ہوتا تو کراہے جاتے
ہم نگاہی کی ہمیں خود بھی کہاں تھی توفیق
کم نگاہی کے لیے عذر نا چاہے جاتے
کاش اے ابرِ بہاری! تیرے بہکے سے قدم
میری امید کے صحرا بھی گاہے جاتے
ہم بھی کیوں دہر کی رفتار سے ہوتے پامال
ہم بھی ہر لغزش مستی کو سراہے جاتے
لذت درد سے آسودہ کہاں دل والے
ہے فقط درد کی حسرت میں کراہے جاتے
ہے ترے فتنہء رفتار کا شہرہ کیا کیا
گرچہ دیکھا نہ کسی نے سرِ راہے جاتے
دی نہ مہلت ہمیں ہستی نے وفا کی ورنہ
اور کچھ دن غم ہستی سے نبھائے جاتے

Jagga
Abrar-Ul-Haq
Jagga

The legend of Jagga Jutt - the dacoit, a Punjabi Robin Hood who would rob the rich to feed the poor, is one that has been told and retold many times by several prominent Punjabi singers from both sides of the border including Gurdas Mann, Abrar-Ul-Haq and Kuldeep Manak.

This popular folk song glorifies one great soorma (warrior), Jagga, who was unparalleled in his brawn, bravery and fearlessness. It describes how Jagga’s birth was celebrated by vadhaiyan (congratulations) throughout the village and how Jagga grew up to be the greatest dakoo (robber) in the history of Punjab!

Now like all free-spirited, young Punjabi lads, Jagga was in the habit of rearing pigeons. This is something of a national pastime among young boys, especially in rural Punjab. Countless pigeon-sheds can be spotted on Lahore’s rooftops, especially in the Androon Shehr (the ancient walled city). Jagga’s pigeons’ were cheenay (having white flecks on their plumage) and would fly high over the nehr (canal) that ran on the outskirts of Jagga Jutt’s pind (village).

Like all handsome, young Punjabi men, Jagga Jutta sported a handlebar mustache, a moch. He would curl the edges of his mustache between his fingers to show his authority and to cower his opposition.

The legend also recounts Jagga Jutt’s grand robbery in Lyallpur (present-day Faisalabad in Pakistani Punjab).The news of the robbery spread like wildfire. Police forces (in the British-ruled Punjab) were sent in Jagga’s wake. It was during this fateful chase that Jagga’s jangia (a kind of boxer briefs that Punjabi men wear under their dhotis/lungis) got stuck on a Banyan tree branch that he was trying to climb. He slipped.

Jagga hung from the Banyan branch. The police officers in his chase caught up and beheaded Jagga under the Banyan tree. Lore has it that so much blood spurted out of Jagga Jutt’s decapitated body that it soaked nine tonnes of sand.

The news of Jagga’s death reached his mother who was bereaved beyond words. She would wail and cry out her only son’s name saying, “Jay mae jandi Jaggay nay mar jana, tay aik di thaan do jam di!” (If only I had known that Jagga would die (so soon),I would have borne two sons instead of one!).

This folk song is an ode to the great Punjabi hero, with the singer lamenting Jagga Jutt’s loss after every stanza, saying: “Jaggaya tur pardes gayon, buha bajeya!“ (Jagga has moved away to a foreign land and his door is bolted!)