buling

Kita Hidup Di...

Kita hidup di dunia yang merasa perempuan berkerudung panjang adalah sosok yang mengerikan, tapi perempuan berpakaian mini bisa dimaklumi, demi seni atau profesi.

Kita hidup di dunia yang sulit sekali untuk bahagia. Buktinya, banyak anak muda yang menggantungkan kebahagiaan pada pasangan, kalau jomblo katanya tidak bahagia. Kita mengejek yang tidak punya gandengan, merasa lebih bahagia, padahal prestasi kita tidak kemana - mana. Kita hidup di dunia yang pamer kemesraan dengan pacar adalah kebanggaan, tapi menikah adalah hal yang mengerikan.

Di sisi lain, kita hidup di dunia yang menikah menjadi sebuah perlombaan dan media euforia. Kita lupa, bahwa menikah adalah kendaraan berjuang, bukan sekedar tentang membebaskan diri dari kesendirian.

Kita hidup di dunia yang fanatik terhadap agama dianggap membahayakan, sedangkan yang tidak paham tentang agama dianggap toleran.

Kita hidup di dunia yang menganggap celana cingkrang adalah pakaian teroris. Tapi tidak demikian jika yang mengenakannya adalah para selebriti bule yang necis.

Kita hidup di mana kita terlalu sibuk menggunjing dan menyepelekan orang yang tengah hijrah, menilai dia radikal. Kita membuang waktu dengan membuat meme - meme lucu tentang dia, sedangkan dia tengah sibuk berdoa dan mendekatkan diri pada Sang Pencipta. 

Kita hidup di dunia semacam itu. Celakanya, kitalah yang membentuk dunia menjadi begitu. Lalu apa jawaban kita jika suatu hari malaikat bertanya, “dunia apa yang telah kau ciptakan?”

flickr

nap by Shoji Kawabata. a.k.a. strange_ojisan
Via Flickr:
LC-A+ KODAK E100G 35mm

berkarya

ada sebuah cerita yang membekas sekali meskipun saya baca berbulan-bulan yang lalu. cerita ini adalah pembuka buku Indiepreneur karya Pandji Pragiwaksono. kurang lebih, kisahnya begini.

suatu hari, Ayah Pandji bertemu koleganya yang adalah warga negara asing–di sebuah restauran dengan nuansa ukir-ukiran jawa. kebetulan, si bule ini kontraktor sekaligus orang properti. dalam percakapan mereka, tersebutlah obrolan tentang ukir-ukiran yang menghiasi sekeliling.

“Kus,” kata si bule, “orang Indonesia itu aneh ya.”
“kenapa anehnya Sir?”
“iya. kalau disuruh bikin ukir-ukiran, bisa rapi sekali, presisi sekali. nggak ada orang lain di belahan dunia lain yang bisa bikin kayak gini. tapi…”
“tapi?”
“tapi kalau disuruh bikin tangga, pasti acak-acakan. anak tangga pertama 20 cm, anak tangga kedua 21 cm, beda-beda ukurannya.”

Ayah Pandji pun menyimpulkan. perbedaan ketepatan dan keindahan ukir-ukiran serta tangga tadi bukanlah karena yang satu orang Jepara dan yang lainnya bukan–melainkan karena yang satu berkarya, dan yang satunya hanya bekerja.

kisah ini (dan seluruh isi buku) menjadi aha momen bagi saya. ternyata, inilah mengapa hasil pekerjaan banyak orang berbeda-beda. bahkan, inilah mengapa hasil pekerjaan saya sendiri masih sering berubah-ubah. kadang masakan saya enak, kadang tidak. kadang menyapu dan mengepel saya bersih, kadang tidak. kadang setrikaan saya rapi, kadang masih lungset.

waktu kecil, Ayah dan Ibu mengajarkan saya untuk tidak pernah minimalis dalam bekerja. kalau kita bisa memberikan pelayanan sesuai dengan yang orang lain minta dan harapkan, pekerjaan kita barulah nol nilainya. kalau kita bisa memberikan yang lebih, yang tidak terduga-duga, barulah itu menjadi sebuah nilai plus. dulu saya mengira bahwa memberikan yang “lebih” tidak ada gunanya bagi saya. padahal ternyata, dengan selalu memberikan yang “lebih”, saya belajar untuk bertumbuh.

sayangnya, banyak orang–terutama anak-anak muda jaman sekarang–yang justru bekerjanya minimalis, alias minus. yang parah, semuanya dibalut dengan alasan tidak sesuai passion. “ini bukan passion saya, jadi wajar aja kalau saya kerjanya hanya ala-ala.”

alhasil, kehadiran orang-orang yang hanya bekerja (dengan ala-ala) ini malah menyusahkan orang lain. saat hasil pekerjaannya diestafetkan, yang ada orang lain menjadi kesal sebab yang diterimanya belum tuntas. kadang-kadang, yang sudah dikerjakan orang sebelumnya tidak bernilai apa-apa, sehingga orang yang menerima harus kembali mengulang dari awal. kalau masalahnya hanya bekerja ulang sih, masih tidak seberapa. yang paling amit-amit, adalah kalau orang yang menerima tadi merasa terdzolimi, lalu mendoakan yang tidak-tidak.

tentu saja ketidakikhlasan itu jadi penghalang bagi orang yang hanya bekerja (dengan ala-ala) untuk menjemput rezekinya. tentu saja kekesalan itu menjadi penghalang baginya untuk berkembang. ternyata orang yang bekerjanya minimalis, tidak hanya merugikan orang lain, tetapi justru merugikan diri sendiri. pantas saja dia tidak maju-maju(?).

kalaulah kita memang tidak menyukai suatu pekerjaan, janganlah kita bekerja ala kadar dengan alasan “ini bukan passion saya”. setidaknya, niatkanlah melakukannya untuk membantu orang lain, memudahkan orang lain, sehingga niscaya hidup kita pun akan dipenuhi dengan kemudahan. apapun pekerjaannya–tidak melulu berkarya adalah milik seniman saja–selalu ada perbedaan antara orang-orang yang bekerja dengan orang-orang yang berkarya. maka, berkaryalah!

banyak anak muda yang tidak sadar bahwa dalam lima tahun pertama dia bekerja, sebenarnya dia sedang belajar tetapi dibayar. mereka kok sebentar-sebentar berhitung, sebentar-sebentar lelah. padahal masa muda adalah masanya belajar, berkarya, bertumbuh–bukan masanya mengeluh.

kita sangat boleh menginsyafi bahwa apa yang kita lakukan tidaklah sesuai dengan passion kita, juga sangat boleh jika kita mencari alternatif bidang pekerjaan yang lebih cocok dengan panggilan jiwa. tapi, kita tidak pernah boleh bekerja hanya ala-ala, apapun yang kita lakukan.

bekerja berarti menyelesaikan pekerjaan sampai tuntas. tetapi berkarya, berarti menyelesaikan pekerjaan sekaligus membuat perubahan. bagi diri sendiri, bekerja berarti mengugurkan kewajiban semata, mengisi waktu (dan kantong) semata. tetapi berkarya, berarti bertumbuh dan berkembang, berarti menjadi makna.

O barulho do chuveiro, do bule de café, do espirro do perfume, do gemido. A gargalhada, a buzina. O toque do telefone, o latido. A porta que abre, a chuva na janela, a cama na parede. A colher na xícara. O amor é mesmo escandaloso.
—  Bom Dia Momi
flickr

Mountains In Japan by Hidehiko Sakashita

Meja Makan.

Suatu malam, aku, Rona Mentari, Asa Laily, dan Ajeng Intan duduk mengelilingi meja makan yang sama.

Bangga-bangga gimana gitu. Rona dengan Rumah Dongeng Mentari-nya. Asa dengan Sampan Mimpi-nya. Dan Mba Ajeng, orang Bogor yang punya suami bule Belanda dan lagi sama-sama S2 di Jogja, Mba Ajeng ini juga seorang guru TK, cerita sehari-harinya sama Mark si suami selalu bikin cemburu. Romantis banget!

Bangga tapi males bilangnya. Gimana ya. Hahaha
Kita tahu bahwa di luar sana, Rona dan Asa adalah seorang idola, seseorang yang menginspirasi dengan karyanya.
Mengenal mereka adalah suatu kebanggaan. Tapi cukup kita ajalah yang tahu, mereka jangan sampai tahu kalau aku sebenernya ngefans sama mereka.

Kalau lagi ngobrol sama mareka, dan lagi keluar “gila"nya, jadi suka bertanya-tanya sendiri "Gak salah apa orang begini disebut inspirator?”, meragukan orang-orang yang mengidolakan mereka, “Apa kata mereka kalau tau aslinya begini gilanya”

“Gila” in a good way ya. Eh, ada ga sih? Ada. Jadi yang suka melucu tapi ga lucu tapi entah kenapa kita tetep ketawa. Orang-orang yang gak jaim gitu. Eh ya gitulah. Hahaha

Mungkin kamu harus kenal sendiri biar ngerti hehe.

Semoga berteman dengan orang-orang yang punya semangat luar biasa seperti mereka bisa ketularan semangatnya. Hehe