buling

youtube

cewek sma hits cantik imut top 30 hits

Melihat Sisi Lain Islam di Inggris

Alhamdulillaah, saya diberangkatkan Allah untuk studi tingkat master di tahun 2015 ke kota Manchester, Inggris bagian Timur Laut. Tidak disangka setahun di negeri ‘Barat’ memberikan pelajaran spiritual yang sedikit berbeda, yaitu saya melihat sisi lain Islam di Barat.

Islam bukan semata karena keturunan

Selama di Indonesia, tentunya mindset yang lazim terbentuk adalah Islam karena keturunan. Misalnya, saya beragama Islam karena Ayah saya, kakek nenek saya, dan buyut saya muslim. Tapi di Inggris saya kemudian tersadar: Hmm… apakah Islam akan berterusan sampai ke keturunan-keturunan berikutnya tanpa upaya?

Toh, putri-putri dari beberapa ulama ada yang tidak menerima berhijab sebagai perintah Allah dan putra-putra mereka menjadi penentang Islam yang diajarkan bapak-bapak mereka.

Ternyata nasab bukan jaminan keislaman seseorang. Di Inggris, tak jarang wajah-wajah Pakistan dan Arab saya temui dengan santai menenggak minuman beralkohol. Sebaliknya, orang-orang terlahir di keluarga Barat saya melihat mereka begitu antusian mencari ilmu agama dan mengamalkannya.

Manchester lebih bersuasana Islam dari Indonesia

Selama di Manchester, saya pernah tinggal di sebuah flat selama 12 bulan dan mengontrak satu kamar di sebuah rumah selama 3 bulan. Pada periode mengontrak kamar, rumah tersebut terletak sepelemparan baru dari sebuah masjid yang dikelola oleh muslim keturunan Somalia. Masjid itu bernama Alfurqan.

Ada tiga hal yang menarik dari masjid ini. Pertama, walaupun dikelola oleh muslim keturunan Somalia, para jamaah masjid sangat beragam. Ada muslim keturunan Arab, Pakistan, Mesir, India, ada warga negara Malaysia, Indonesia, dan terlihat beberapa wajah bule. Jadi, masjid ini bukan jadi trmpat berkumpulnya jamaah dari negara atau 'firqah’ tertentu. Masjid ini masjid semua orang.

Kedua, jamaah masjid sholat shubuhnya hampir menyamai jamaah sholat jumat. Kapan ya ada masjid di Indonesia yang seperti itu? :’)

Ketiga, suasana bersaudara sangat hangat di sana. Kami saling berkenalan, menanyakan kabar, dan berbagi cerita selepas sholat tanpa ada pagar-pagar yang membatasi kami. Saat sholatpun, kami sholat dengan cara sesuai madzab yang kami pegang. Hanafi, Maliki, Hambali, dan Syafi'i semua meluruskan bahu dan merapatkan kaki. Kami duduk di halaqah mingguan yang sama. Kami makan di nampan yang sama saat jamuan ifthar di bulan Ramadhan. Saya merasakan kehangatan dan kesatuan hati umat Islam di Manchester.

Pantas saja Allah menyuruh manusia berjalan di muka bumi (travel) untuk saling mengenal, saling belajar, dan melihat tanda-tanda kebesaran Allah.

Dan saya rasa muslim di Indonesia pun harus belajar dari jamaah masjid Alfurqan di Manchester sana.

Tabik.

Kita Hidup Di...

Kita hidup di dunia yang merasa perempuan berkerudung panjang adalah sosok yang mengerikan, tapi perempuan berpakaian mini bisa dimaklumi, demi seni atau profesi.

Kita hidup di dunia yang sulit sekali untuk bahagia. Buktinya, banyak anak muda yang menggantungkan kebahagiaan pada pasangan, kalau jomblo katanya tidak bahagia. Kita mengejek yang tidak punya gandengan, merasa lebih bahagia, padahal prestasi kita tidak kemana - mana. Kita hidup di dunia yang pamer kemesraan dengan pacar adalah kebanggaan, tapi menikah adalah hal yang mengerikan.

Di sisi lain, kita hidup di dunia yang menikah menjadi sebuah perlombaan dan media euforia. Kita lupa, bahwa menikah adalah kendaraan berjuang, bukan sekedar tentang membebaskan diri dari kesendirian.

Kita hidup di dunia yang fanatik terhadap agama dianggap membahayakan, sedangkan yang tidak paham tentang agama dianggap toleran.

Kita hidup di dunia yang menganggap celana cingkrang adalah pakaian teroris. Tapi tidak demikian jika yang mengenakannya adalah para selebriti bule yang necis.

Kita hidup di mana kita terlalu sibuk menggunjing dan menyepelekan orang yang tengah hijrah, menilai dia radikal. Kita membuang waktu dengan membuat meme - meme lucu tentang dia, sedangkan dia tengah sibuk berdoa dan mendekatkan diri pada Sang Pencipta. 

Kita hidup di dunia semacam itu. Celakanya, kitalah yang membentuk dunia menjadi begitu. Lalu apa jawaban kita jika suatu hari malaikat bertanya, “dunia apa yang telah kau ciptakan?”

youtube

cewek cantik ema maembong

Steve Rogers adapting to the 21st century would include

Originally posted by casstielnovak


  • steve having a dictionary for every new word he hears
  • him overusing “AF” but not knowing what it stands for
  • “thank you Friday, you’re helpful AF”
  • “Tony, i’m angry AF now!”
  • “Are you sure AF, Buck?”
  • him saying YOLO all the freaking time
  • “Cap, you need to wear a parachute!”
  • “C’mon Nat, YOLO!” *as he’s flying into the air*
  • him almost having a heart stroke when he sees Miley twerking
  • “Steve breath, c’mon, inhale, exhale”
  • “that’s just so …. degrading. Why would someone do this on tv? AND CHILDREN ARE WATCHING THIS???”
  • “why is this phone named after a fruit?”
  • “Tony, you need to take this one back to the shop, it’s used, look, the apple is bitten”
  • “who is this corn-man and why is he on tv so much???”
  • “HIM???? RUNNING FOR A PRESIDENT???”
  • “he’s HYDRA! i know it!”
  • “you should have left me in ice”
  • him calling a 30-year-old his son
  • “what is uhmmm Facehook, Tony?”
  • “ohh interesting, so i can search anyone’s name and then i can contact them?”
  • “Clint, can you help me with this Lookbook thing? i’m searching for one of my friends but i can’t find him”
  • “what’s his name?”
  • “Timothy Dugan, he’s one of the Howling Commandos”
  • “Steve, he’s dead.”
  • “oh! sorry”
  • “Natasha, can you help me with something?”
  • “I need to choose a profile picture for this … uhm … *looking at the writing on his left hand* Facelook account. So which one do i choose: me in a cap suit or in civilian clothes”
  • “Bruce! i got 8 likes on my shield’s photo”
  • him pouting
  • “someone commented saying i’m not the real Captain America”
  • getting angry at the computer
  • “gosh, i’m tired AF i need to sleep ASAP”
  • Nat taking him to movie theater to see “50 shades of grey”
  • him having a seizure in the middle of the movie
  • really getting into selfies
  • taking selfies with Thor during missions, posting them on Instagram and captioning “freedom and justice are what we’re fighting for”
  • taking pics of random stuff that’s red, white or bule
  • “what? it matches my aesthetic”
13 Reasons Why

Duh, maaf ya. Ini lagi, ini lagi.

Tapi ini series bule pertama yang aku tonton setelah Sherlock Holmes. Agak kebanting sih. Cuma ya, bolehlah, biar ada obrolan sama dedek-dedek.

Jadi ini ceritanya tentang bullying gitu.
Ada anak baru pindah, terus susah kali dapat kawan. Terus ya, biasalah ya, di SMA gitu ada banyak geng. Terus dia depresi, terus bunuh diri. Bolehlah buat tontonan. Mayan bikin penasaran, tapi setelah selesai nonton cuma kayak “Ooh…”, bukan yang meninggalkan perasaan mendalam gitu.

Gak kayak pas kamu menyapaku. Eh.

Nah, Bela adalah orang yang kalau ngomong seperlunya. Cuek. Kalau menatap sesuatu aja tuh kayak meleknya gak maksimal gitu. Senyum juga seadanya.

Ngobrol sama Bela ini gampang-gampang susah. Apalagi kalau punya selera humor receh kayak aku. Berkali-kali ngasih lelucon, terus dia cuma pasang wajah datar, sambil memicingkan mata, “Mbak, Mbak barusan melucu Mbak? Tapi gak lucu Mbak”

Wkwk.

Atau sebenarnya itu lucu, tapi dia gengsi. Biasalah. Permainan kakak adek. Berusaha bikin kesal satu sama lain.

Atau ketika Bela ikut marching, aku gak tau posisi dia apa disana, tapi dia sempet ngajarin juniornya. Aku pernah liat dia ngelatih, mukanya datar. Suaranya pelan. Tapi gak marah-marah. Gak ketus juga. Cuma…gimana ya. Hahaha.

Cobalah kalian ketemu Bela.

Balik lagi yak. Sebenarnya aku gak terlalu khawatir tentang karakter Bela yang kayak gitu. Dia pasti bisa dapat teman yang baik, dimanapun dia berada. Tapi ya, tetep aja kan ya, lingkungan baru, Jogja pasti beda dari Duri. Di Duri, kita tahu si A anak siapa, orangtuanya bagaimana, keluarganya seperti apa. Kalau di Jogja? Pasti lebih banyak lagi macamnya.

Rasanya tuh, pengen anter jemput Bela, ikut masuk kelas bimbelnya, tapi ya gimana…Bela kan udah besar. Lagian aku udah gak sanggup duduk di kelas ngerjain soal kimia atau fisika. Wkwk.

Jadilah kemarin aku bilang gini ke Bela setelah nonton 13 reasons why, “Bel, Bela kenalanlah Bel. Ada Bel yang Bela kenal? Ada yang ngajak Bela kenalan?”

Pertanyaan setengah bercanda, setengah serius.

Kata dia, “Tadi Bela ngobrol sama orang di sebelah Bela. Tapi dak kenalan.”

Wkwk. Namanya juga Bela. Dia datang kayaknya emang untuk belajar. Sampai lupa menjalin pertemanan. Tapi gakpapa, hari pertama. Wajar.

Nah, hari kedua, Bela pulang, terus tiba-tiba bilang gini, “Mbak, Bela dah kenalan mbak. Bela ada teman mbak. Empat.”

Wkwkwkwkwkwkwk.

Rona sempet ketemu Bela, terus tadi dia nanya, “Gimana adekmu? Masih irit ngomongnya? Jangan-jangan sekalinya ngomong, dibayar.”

Wkwk.

Jadi, inti dari tulisan ini apa?
Gak ada. Aku mau cerita aja. Sambil mengingat-ingat, dulu awal aku di Jogja, Bapak nelfon, nanyain aku udah punya teman apa belum.

Ternyata, gini rasanya jadi Bapak waktu itu.

Khawatir yang mengawang-awang.
Teman seperti apa yang akan ditemui di lingkungan barunya?
Seperti apa pengaruh yang dibawa oleh teman barunya?
Siapa teman barunya?

Karena…yha…you know lah…