buka puasa

Ramadhan #14 : Semakin Dewasa

Semakin kita dewasa, kita semakin sadar kalau kita butuh lebih dari sekedar perhatian, paras yang tampan/cantik, pekerjaan yang mapan, dan kekayaan, yaitu tanggungjawab. Tanggungjawab adalah hal yang paling kita butuhkan dari seseorang yang kita damba kelak menjadi imam/makmum kita. Sesuatu yang semakin jarang kita temukan dari diri seseorang. Dan itulah yang sesungguhnya kita butuhkan, meski sampai hari ini kita masih memaksakan kebutuhkan kita atas kecantikan/ketampanan, kekayaan, dan segala hal yang sifatnya sementara, hilang oleh waktu.

Semakin dewasa kita akan semakin mengerti kalau kita belajar bukan sekedar untuk mencari nilai. Kita butuh ilmu untuk kita gunakan dikehidupan kita. Dan kita teringat semasa dulu sekolah, seluruh pelajaran yang kita pelajari hilang tanpa bekas dan nyaris tak satupun bisa kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Kita juga ingat, semasa dulu berlomba-lomba mencari nilai tertinggi tanpa kita paham mengapa kita belajar ini dan itu selain untuk mendapatkan nilai. Kini selepas dari dunia sekolah, kita sadar hanya sedikit ilmu yang kita miliki yang bisa kita gunakan. Lainnya adalah kekhawatiran, bahkan kita tidak memiliki ilmu untuk menghadapi kekhawatiran tsb.

Semakin kita dewasa, kita semakin sadar kalau waktu berjalan begitu cepat. Dan tak terasa kita sudah sampai di waktu-waktu yang paling meresahkan semenjak kita hidup. QuaterLifeCrisis. Kala kita harus mengambil begitu banyak keputusan dan kita sadar bahwa banyak dari keputusan itu bersifat permanen, seperti pilihan kita atas karir, pasangan hidup, dsb. Sementara kita tidak siap mengambil keputusan itu karena kita ragu-ragu, ragu yang disebabkan oleh sedikitnya informasi yang kita miliki atas pilihan-pilihan yang ada didepan mata kita. Semakin dewasa, kita semakin ingin kembali ke dunia anak-anak. Dunia tanpa beban, dimana kita bisa mengambil keputusan apapun tanpa berpikir resikonya bahkan tanpa memikirkan apa kata orang lain. Seperti keputusan kita saat kecil saat bercita-cita untuk menjadi superhero seperti dikartun. Kalau hari ini kita masih melakukannya, kita akan ditertawakan. Dan semakin dewasa, kita semakin sadar bahwa kita butuh keberanian, sesuatu yang dulu sangat membara semasa kecil.

Semakin dewasa, kita semakin mengerti kalau di ramadhan ini kita butuh lebih dari sekedar euforia buka puasa bersama, baju baru menjelang lebaran, bermain kembang api, layaknya dulu ketika masih kecil. Kita butuh rahmatNya, dan itu hanya bisa kita dapatkan melalui keikhlasan kita dalam menjalani ibadah selama ramadhan ini. Kita mulai membuat targetan, kita melipatgandakan ibadah-ibadah kita sehari-hari.

9 Juni 2017 | ©kurniawangunadi

nilai

“Gratitude unlocks the fullness of life”

Ada sekotak utuh menu restoran sunda yang petang itu dibawa oleh istri saya dari kantornya. Pesannya, “Nanti kalau di jalan nemu orang yang kira-kira bisa dikasih makanan ini, kita berhenti ya. Aku masih kenyang jadi enggak akan makan”. Namun puluhan menit kemudian sepanjang perjalanan pulang ke rumah, kami enggak menemukan seorang pun yang bisa dihadiahkan nasi kotak untuk menu berbuka puasa. Kalaupun ada, jumlahnya lebih dari satu orang sehingga khawatir menimbulkan kecemburuan antara satu sama lain atas pemberian tersebut. 

Akhirnya, kami memutuskan langsung pulang setelah tercetus ide untuk memberikan nasi kotak itu kepada salah seorang pegawai orang tua kami yang bernama kang Irwan. Setibanya di rumah, nasi kotak itu kontan kami serahkan kepada kang Irwan. Dengan raut keheranan melihat kotak yang ukurannya besar, ia bertanya, “Ini apa, de?”. “Itu nasi kotak, a. Paket komplit buat nanti buka puasa ya. Lumayaan” jawab kami. Ia pun berterima kasih setelah melihat isi kotak tersebut. Di dalamnya tersaji paket lengkap: nasi, ayam goreng, ikan asin, tumisan, juga sambal dan lalapan.

Enggak lama berselang, adzan maghrib pun berkumandang. Kami semua membatalkan puasa dengan menyantap makanan yang terhidang di meja makan. Setelah usai menunaikan salat dan beranjak ke dapur, saya mendapati kresek kuning yang berisi nasi kotak tadi enggak bergeser posisinya sedikitpun di rak dinding. Waktu itu, kang Irwan malah terlihat sibuk mencuci peralatan-peralatan bekas memasak sore tadi.

“Lho, a. Udah buka puasa? Itu nasi kotak masih di situ. Dimakan atuh, keburu kelamaan nanti enggak enak” tanya saya heran. Yang ditanya malah nyengir sembari menjawab, “Ohh. Saya udah buka puasa tadi, nasi kotak ini rencananya mau dianterin ke anak saya nanti malem”. Saya pun tercengang. 

Keliatannya sederhana, seorang ayah berbuka puasa dengan makanan seadanya dan lebih memilih untuk menyerahkan nasi kotak pemberian yang dirasa cukup istimewa kepada anaknya. Jadi enggak sederhana karena kami hafal betul seberapa sayang kang Irwan pada putri semata wayangnya tersebut. Setiap barang yang dihadiahkan pada anaknya, pastilah baginya amat sakral dan spesial. Maka malam itu selepas tarawih, ia pun menempuh jarak belasan kilometer pergi-pulang hanya untuk mengantarkan nasi kotak tadi.

Dari kesederhanaan kang Irwan saya belajar bahwa nilai yang kita terima atas sebuah hal enggak pernah diukur dari seberapa banyak uang yang dikeluarkan untuk mendapatkannya, melainkan dari seberapa besar ungkapan rasa syukur yang hadir karenanya. Nasi kotak dari restoran yang harganya mungkin berkisar 25-40 ribu Rupiah sebagai sajian sekali makan, jadi hal yang mungkin kita anggap lumrah sekali. Tapi baginya, sekotak menu lengkap dari restoran bisa bernilai amat spesial dan layak dihadiahkan supaya anaknya bisa menyantap hidangan istimewa hari itu.

Semoga kita selalu dijauhkan dari kebiasaan meremehkan kenikmatan sekecil apapun yang diterima kemudian lalai untuk menambah nilainya dengan rasa syukur atas keberadaannya. Kita tau ada begitu banyak kaum berada yang masih terus merasa sengsara sementara di sisi lain, mereka yang disebut sengsara bisa jadi malah merasa amat kaya dengan kebiasaan bersyukur yang dimiliki. Kecukupan dalam hal kepemilikan tak pernah menyoal jumlah melainkan kegenapan yang berasal dari diri sendiri.

“And [remember] when your Lord proclaimed, ‘If you are grateful, I will surely increase you [in favor]; but if you deny, indeed, My punishment is severe.'” (T.Q.S. Ibrahim: 7) 

Rasa syukur tak bisa diukur dengan satuan rupiah, karena nilai dari rasa syukur itu tak berbatas dan bisa membuka sisi-sisi menyenangkan dalam hidup yang tak terlihat sebelumnya. Belajar berbaik sangka dengan ketentuan-Nya, bisa jadi kebahagiaan yang kemudian timbul dari rasa syukur memang jadi salah satu bentuk bonus tambahan kenikmatan dari-Nya. Alhamdulillah, segala puji memang hanya untuk-Nya yang Maha Kaya.

FreeDay: Tipe-Tipe Kangen di Bulan Ramadhan


*Duh gusti, nunggu beduk kok lama amat ya..*

                                                               ===

.

Assalamualikum ya ukhti.
Gimana shaum hari ini? sudah berapa kali meneguk ludah sendiri setelah selesai wudhu siang tadi? Syukron.. Syukron..

Bhahahak, gue emang nggak berbakat buat ngomong kaya ustadz begono. Tapi kalian jangan salah, walaupun belakangan ini tulisan gue tentang galau semua, gini-gini gue pernah disuruh nulis untuk ceramah Sholat Jumat!

Ya meskipun pada akhirnya gue di rukiyah sama jama’ah setempat :(

.

                                                           ====

.

Nah, pada hari Jumat pertama di bulan Ramadhan ini, gue akan bercerita sedikit tentang beberapa fenomena bulan Ramadhan yang pastinya sangat-sangat dirindukan oleh anak-anak ABG di seluruh indonesia.

Siang tadi, gue mencoba iseng untuk sholat Jumat di salah satu Masjid besar di daerah Bandung. Masjid ini adalah Masjid di mana sering gue datengin waktu SMA dulu, atau bahkan waktu gue masih semester-semester awal kuliah. Masjid ini sering menjadi tempat gue bersinggah ketika ada jeda kosong kuliah antara satu kelas dengan kelas yang lainnya.

Jumat siang ini gue sengaja nggak ngambil posisi duduk di dalam Masjid, gue lagi ingin bernostalgia duduk di luar sambil nikmatin angin sepoi-sepoi. Bahkan tukang buah potong langganan gue aja masih ada. Dan dengan annoyingnya, Beliau masih saja berjualan buah seger siang-siang begini.

Sungguh godaan yang gemah ripah loh jinawi. Beliau lupa bahwa sekarang adalah bulan Ramadhan. Karena sesungguhnya bulan ramadhan itu adalah bulan puasa.

Gue yang melihat dari jauh ini cuma bisa kenyot-kenyot bibir sendiri ngeliatnya. Jakun gue udah kaya timba sumur, kerjaannya naik turun nelen ludah. Btw, nelen ludah itu tidak membuat batal kan gaes? asal bukan ludah pacar kan ya? okee..

Sambil nunggu Adzan berkumandang, gue nggak sengaja buka grup SMA gue kelas 10. Gue lihat teman-teman gue udah banyak yang berubah. Yang dulu mukanya ancur, sekarang mirip Adly Fairuz. Yang dulu mukannya item kaya kebul bis damri, sekarang udah putih langsat mirip kaya tehel mushola.

Yang dulu lebih mirip sama beduk Masjid, sekarang udah mirip sama pentungan beduk Masjid alias sekseh abizzzzz. Yang kelihatan nggak berubah cuma segelintir orang, termasuk gue. Soalnya kalau udah ganteng nggak mungkin nambah lagi gantengnya. #halah

Dan ketika gue buka foto album di grup tersebut, di situ gue menemukan ada beberapa foto waktu kita lagi buka puasa bersama pada Ramadhan Tahun lalu. Seketika itu juga muncul sedikit senyum simpul pada bibir gue. Ya, moment indah bersama teman SMA ternyata memang tidak pernah bisa terganti sampai kapanpun.

Dan yak!!
inilah 3 tipe kangen pada bulan Ramadhan versi Bapak Don Juan.

.

                                                         ====

.

1. Kangen Saur On The Road

Ada yg belum pernah nyobain Saur On The Road di sini? mungkin buat para ukhti-ukhti-pipi-gemes ini kayaknya jarang banget ya buat nyobain salah satu moment ini di bulan puasa.

Gerung-gerung motor di jalanan. Nyuri beduk masjid. Tempur petasan sama RW sebelah. Atau juga tawuran sama peserta Saur On The Road dari kubu yang berbeda.

Tapi gue juga yakin salah satu dari kalian pasti pernah ada yang mengikuti acara ini. Untuk sekedar berbagi nasi kepada para kaum yang membutuhkan di jalanan, atau makan-makan bersama sebelum Adzan subuh berkumandang.

Di sini kita biasanya berkumpul bersama dari malam hingga pagi menjelang. Dimulai dari sepulang taraweh kita ngumpul-ngumpul, jalan-jalan, ngobrolin hal yang nggak jelas, atau bahkan maraton nonton film di bioskop sampe midnight.

Suasana sahur di jalan adalah salah satu suasana yang tidak bisa terlupakan sampai kapanpun. Dinginnya udara pagi, serta pemandangan jalan yang sangat sepi adalah salah satu alasan kenapa hal ini menyenangkan.

Waktu gue masih SMP, untuk menunggu beduk subuh biasanya para bapak-bapak ronda di komplek rumah gue menggelar sepak bola di jalanan depan rumah. Alasan bapak-bapak ini simple, kapan lagi coba bisa main sepak bola di jalan raya yang sepi begini?

Kegiatan ini berlangsung hampir setiap hari dari jam 3 pagi sampe menjelang imsak. Tapi entah kenapa, hari itu masjid setempat tampaknya lagi ada gangguan listrik sehingga TOA masjid tidak mengumumkan jam imsak. Nggak tau marbot masjidnya ketiduran, nggak tau emang Masjid lagi libur hari itu. Pokoknya yang jelas pagi itu nggak ada suara sama sekali dari Masjid. Mungkin masjidnya lagi bete gara-gara nggak diajak nonton Insidious 3.

Lagi asik-asiknya bapak-bapak ini main bola, mendadak Masjid gue sembuh dari fase ngambek-dan-gak-mau-berbicara, Masjid gue ini mendadak mengumandangkan Adzan subuh.

Sontak bapak-bapak yang tengah asik menggiring bola bak Ronaldo itu kaget. Mereka langsung melihat kearah jam tangan masing-masing. 

.

“Goblok!! geus Subuh deui?! Anjir teu bebeja, aing haus can nginum kumaha ieu?!” Kata pak Agus selaku ketua RT dengan bahasa mutiaranya.

“Anjir Gus, kunaon eweuh nu mere nyaho geus imsak eui?! Parah anjir, mana tadi urang sprint basa ngaggiring bola. Haus goblog!” Sambung pak Halid selaku sohib dekat pak Agus.

“Meunang nginum keneh teu? Sugan Tuhan mah ngarti meureun nyak?” Kata pa Rusdi yg subuh itu berperan sebagai kiper.

.

Percakapan di atas emang real terjadi saat subuh itu. Dan bahasa sunda yang mereka pakai benar-benar tidak mencerminkan bahwa mereka adalah bapak-bapak. Percakapan ini malah lebih mirip sama percakapan sehari-hari antara gue dan Ikhsan, segala kosakata binatang keluar semua.

Sebenarnya gue mau nge-translate kebahasa Indonesia, tapi ntah kenapa feelnya gak dapet. Dan pada akhirnya kalau gue nggak salah inget, semua bapak-bapak itu setuju untuk minum bersama dan berjanji kalau buka puasa hari itu mereka mundurkan 30 menit sebagai tebusan waktu puasa yang mereka potong seenak perut sendiri subuh ini.

Alhasil, besok subuhnya udah nggak ada lagi yg maen bola. Hilang sudah hiburan tiap subuh buat gue :(

.

                                                             ====

.

2. Kangen Buka Puasa Bareng

Selain ajang menjaga tali silahturahmi, buka puasa bareng atau yang lebih sering kita singkat menjadi bukber ini sering menjadi ajang sombong-sombongan kesuksesan.

Seperti yang kita ketahui, menjelang kelulusan masa SMA, mendadak seluruh teman-teman terdekat kita pergi satu-persatu. Ada yg pergi ke luar pulau, ada yang ke luar kota, ada yang umroh, ada yang ikut pesantren, ada juga yang pergi travel ke alam barzah :(

Akhirnya teman yang kata kita tidak terganti itu perlahan-lahan mulai hilang. Mereka mulai digantikan dengan teman-teman baru semasa kuliah. Hal inilah yang menjadikan bukber tiap puasa menjadi hal yang sangat-sangat dirindukan.

Hal ini terjadi juga dengan gue dan Ikhsan pada bukber Ramadhan tahun lalu. Gue saat itu kebagian sebagai promotor untuk melakukan pemesanan tempat di Gokana, Ciwalk. Alhasil gue harus datang 2 jam lebih awal untuk melakukan pembayaran.

Gue yang kemana-mana selalu diikutin oleh ajudan kesayangan gue ini, Ikhsan, akhirnya memilih untuk duduk-duduk di meja depan yang telah disediakan oleh pihak Gokana. Lagi asik-asik ngobrol berdua, muncullah satu-persatu teman-teman SMA kita.

Sebut saja Doni, orang yang dulu keliatan paling kumel dengan baju sekolah yang selalu berwarna kuning ini, sekarang datang dengan kemeja rapih, celana levis, dan kunci mobil gelantungan di saku belakang celananya.

Buseeet, ini anak beda banget. Udah lebih keren ketimbang Doni yang gue kenal dulu. Dan kejadian ini belum selesai di situ saja, mantan Ikhsan yang bernama Tasya pun pada akhirnya datang juga.

Ketika Tasya sedang berjalan menuju meja kita berdua, mata gue nggak bisa berkedip sedikitpun, air ludah berulang kali mencoba menetes tapi gue tahan. Ikhsan yang melihat kearahnya juga sudah beberapa kali mengganti posisi duduk.

.

“Kenapa nyet? ganjel yak?" Tanya gue.

Anjrit lu tau aja. Gile yee mantan gue. Perasaan dulu gak sebohai ini deh.“ Kata Ikhsan sambil berbisik.

Coba tuh lu liat, dulu doi pake miniset, sekarang udah pake ukuran C kayaknya. Hebat ya, gue jadi penasaran isinya apa.“

"Oi setan! Puasa lo!”

“ASTAGIFIRULLAH!! Lupa bro”

“Kalau gini caranya gue nyesel dulu udah mutusin dia, bro.”

“Bhahahahahahak, tapi kayaknya dia kaga nyesel tuh lu putusin san.”

“Lha emang kenapa?”

“Lu ygan dulu jauh lebih ganteng ketimbang yang sekarang. Bhahahak” Gue ketawa puas

“Ah gue yang sekarang jauh lebih ganteng keleees..”

“Ganteng darimana?! Lu ngaca di bubur?”

.

Dan ternyata bukan cuma gue dan Ikhsan saja yang terkesima dengan penampilan Tasya. Bocah manja yang lugu waktu gue kelas 10 ini ternyata berhasil menghipnotis hampir seluruh anak laki-laki yang datang sore itu.

Ya, ini juga salah satu moment bulan puasa yang sangat kita rindukan. Di mana teman yang telah lama tidak berjumpa kini telah berubah menjadi lebih dewasa. Pada sore itu kita sekelas sama-sama tertawa seperti layaknya dulu kala. Bunga yang ditanam teman-teman gue waktu SMA di hati ini kini kembali berbunga. Tawa mereka dan ocehan mereka seakan menjadi air yang menyirami apa yang sejatinya telah mati.

Sore itu, gue mengerti, bahwa teman SMA memang tidak akan pernah bisa terganti.

.

                                                               ====

.

3. Kangen Mantan yang Telah Hilang

Nah ini nih yang paling kampret. Sebenernya gue nggak mau ngomongin ini hari ini, soalnya bisa-bisa malah gue yang curhat di sini. Tapi gue rasa bukan gue doang yang merasakan hal ini.

Setelah beberapa saat yang lalu gue menulis puisi yg berjudul “Ramadhan Tahun Lalu”, ternyata selang satu jam gue tinggal, muncul banyak komentar yg mengatakan bahwa mereka juga merasakan hal yg sama.

Hahahahahahahahahah.. hahahahah.. hahaha.. haha.. ha.. gue kira cuma gue doang :|

.

Siapa sih yang nggak suka jika melalui bulan Ramadhan yang penuh berkah ini dengan didampingi oleh orang-orang tersayang, termasuk pacar? Dan siapa sih yang nggak menghela napas dalam-dalam ketika Ramadhan tahun ini yang katanya mau dilalui bersama, tapi ternyata harus dijalani sendiri-sendiri?

Berapa banyak orang yg menelan kekecewaan ketika pada malam terakhir Ramadhan tahun lalu mereka berdoa bersama, perihal semoga Ramadhan yang akan datang akan tetap dilalui bersama; berdua.

Beberapa kangen yang didasari oleh kehilangan seseorang yang kita sayang ini menjadi kangen paling menyebalkan pada bulan Ramadhan. Ada beberapa rasa kangen yang harus ditahan ketika melalui Ramadhan tahun ini sendirian.

Contohnya,

  1. Kangen buka bareng di warung pinggiran. 
  2. Kangen bawa si doi ikut buka bareng sama temen-temen lu.
  3. Kangen dijemput doi menjelang buka puasa bareng.
  4. Kangen dibangunin sahur sama si doi.
  5. Kangen diucapin ‘selamat buka puasa, sayang..’
  6. Kangen ngabuburit di dalam bioskop.
  7. Kangen jalan-jalan muterin komplek sore-sore naek motor.
  8. Kangen ngabuburit di rumah bareng. 
  9. Kangen taraweh bareng.
  10. Kangen sms/bbm-an disaat dakwah taraweh.
  11. Kangen dibawain ta’jil sama si doi.
  12. Kangen suasana buka bareng sama keluarga doi.
  13. Kangen nyari es kelapa bareng. 
  14. Kangen gangguin doi pas kamu lagi nggak bisa puasa.
  15. Kangen nonton dvd bareng.
  16. Kangen ada sms penyemangat puasa.
  17. Kangen chatting ketawa-ketawa sendiri
  18. Kangen saling pamer bahan-bahan untuk buka puasa nanti.
  19. Kangen mengucapkan selamat Anniv di bulan Ramadhan dengan doa ‘semoga Ramadhan tahun depan kita masih bareng-bareng ya sayang..’

.

Dan masih banyak lagi rasa kangen ygan belum tuntas ketika Ramadhan kembali datang lagi Tahun ini. Nah, apakah sekarang kamu-kamu ada yang merasa kangen ketika membaca tulisan-tulisan ini, gaes?

Kalau gue..
Nggak..

Eh, please kalian percaya! nggak kok gue nggak kangen!
Pfft..

.

                                                          ===

.

Nah gaes,
Sebenarnya masih banyak tipe kangen yang ngebuat bulan Ramadhan ini menjadi bulan yang sangat ditunggu-tunggu oleh berbagai macam pihak. Seperti kangen ketemu keluarga besar, kangen mudik, atau kangen iklan buka puasa di tivi.

Tapi nggak usah sedih, tiap Ramadhan pasti punya moment indahnya sendiri-sendiri. Entah itu dengan orang-orang yag disayang, atau dengan orang-orang yang kamu sendiri jarang memperhatikan kehadirannya.

Janganlah karena kamu sendiri, kamu jadi berpikir untuk menjemput kembali masa lalumu. Percayalah, suatu hubungan yang dimulai kembali hanya karena salah satu pihak rindu akan kenangan-kenangan yang pernah dilalui, bisa menyebabkan hubungan itu malah berakhir jauh lebih buruk.

Tak usah dijemput, ia hanya segelintir kisah yang pernah menyakitimu. Kini sudah saatnya masa depanlah yang akan menjemputmu. Maka dewasalah, sehingga yang meninggalkanmu menjadi mengerti, bahwa meninggalkanmu dulu adalah kesalahan yang tak pernah bisa ia tebus kembali.

Berhentilah bersedih, sudah saatnya kamu ditemukan oleh orang yang akan benar-benar menghargai kehadiranmu. Yang bersamamu, ia merasa cukup. Yang bersamamu, ia tak butuh orang lain.

Dan gue doakan, semoga Ramadhan tahun ini menjadi Ramadhan yang berkesan buat kalian semua. Dan juga buat diri gue sendiri. 

Semoga yang masih sendiri, mulai ditemukan oleh orang yg tepat.
Semoga yang sudah bersama, dikuatkan hubungannya.
Semoga yang jadi orang ketiga, berhasil menyingkirkan pacarnya.
Semoga yang jadi selingkuhan, kini berhasil naik tahta menjadi pacar beneran.
Semoga yang lagi KKN, menemukan jodohnya di kampung sana.
Semoga yang tarawih kemarin nyuri sendal, malam ini sendalnya dibalikin lagi. Ah kalau yg ini sih gue curhat.
Semoga yg Wisudanya tahun ini, berhasil menemukan pendamping wisudanya. Ah,yg ini juga gue curhat lagi. Hih..
 
Pokoknya, semoga Ramadhan tahun ini berkah untuk kita semua…
.
.
.
Oke gaes, Sekian Freeday kita pagi ini.
Happy Ramadhan.
Baybay~

Dulu, setiap puasa selalu menyempatkan buka puasa bareng setiap tahun, minimal sekali. Semakin hari berlalu, kesibukan dan tantangan hidup. Jarak dan pekerjaan semakin banyak. Rantau jauh dan hari-hari merampas banyak hal. Kadang, kita tetap harus saling tersenyum, meski tidak lagi sempat berbuka puasa bersama. Setidaknya, persahabatan selalu ada, selalu berkabar, meski tak lagi bertemu muka. Ia bertemu dalam jiwa.

–boycandra

Ramadhan #1 : Memberi

Sewaktu mahasiswa dulu, saat bulan ramadhan. Saya hampir bisa dipastikan ke Salman setiap waktu berbuka puasa tiba. Bukan tanpa alasan, dan alasan sebagai anak kosan membuat saya memiliki pembenaran untuk melakukannya; mencari buka puasa gratis.

Rasanya tentu waktu-waktu berburu buka puasa/sahur gratis di Bandung menjadi sebuah kegiatan yang menyenangkan. Dari masjid Salman, masjid Biofarma, masjid Istiqomah, masjid Al Latief, dan lain-lain. Alasan berhemat menjadi alasan paling utama. Apalagi menu berbuka atau sahur di beberapa masjid saat itu bisa dibilang sangat baik.

Sampai pada satu hari saya menemukan pemahaman yang sering terlewatkan. Sewaktu telah meninggalkan Bandung untuk dua tahun. Kembali merantau ke Yogyakarta, waktu itu selepas kajian sore di Nurul Ashri disediakan menu berbuka puasa (puasa senin/kamis). Saya menyaksikan beberapa jamaah berdesakan untuk mengambil menu buka puasa yang cukup mewah.

Dan saya menepi, mengamati. Meski ada keinginan untuk ikut mengambilnya. Saya urung. Ada satu kalimat terakhir dari takmir masjid untuk mengajak siapapun yang ingin berkontribusi menyediakan menu buka puasa tiap senin atau kamis.

Dan saya ingat satu hal bahwa apabila kita memberi makan untuk berbuka orang yang puasa, maka pahala kita setara dengan orang yang puasa tersebut. Betapa banyak pahala orang yang ikut serta menyediakan menu berbuka tersebut.

Sejak hari itu saya berniat untuk ikut serta jika ada kesempatan untuk menyediakan menu berbuka. Saya ingat ramadhan tahun lalu berhasil merelisasikannya. Dan saya juga berniat untuk tidak mengambil menu berbuka tersebut sepanjang saya masih memiliki kemampuan untuk memberi lebih atau membeli sendiri. Saya rasa, menu berbuka gratis tersebut lebih diperlukan oleh orang lain. Ada orang lain yang benar-benar membutuhkannya. Seperti para mahasiswa yang ngekos misalnya. Terutama para fakir dan miskin.

Momen sahur on the road beberapa tahun lalu membuat saya menyadari bahwa seandainya ribuan menu berbuka/sahur itu tersebar merata dan benar-benar tepat sampai ke orang yang membutuhkan. Manfaatnya sungguh besar sekali.

Dan di ramadhan ini. Marilah sadari diri kita. Apabila kita memiliki kemampuan ekonomi yang cukup dan lebih. Jadilah orang yang memberi bukan yang mencari-cari gratisan. Jadilah bagian dari orang-orang yag berkontribusi di ramadhan ini.

Semacam naik level. Kalau dulu kita berburu gratisan. Sekarang kita berburu peluang untuk ikut serta menyediakan menu gratis tersebut. Dengan begitu, semoga ramadhan ini memiliki nilai-nilai baru dan ladang pahala yang semakin bertambah.

Selamat menunaikan ibadah puasa.

27 Mei 2017 / 1 Ramadhan 1438H | ©kurniawangunadi

Bukan Tidak Boleh

Teringat pertanyaan saya kepada teman beberapa waktu yang lalu ketika kami buka puasa bersama. Saat itu dihadapan kami tentunya sudah dihidangkan beberapa makanan, yang kemudian saya bertanya “Kenapa kita tidak makan sekarang?”. Lah aneh, kan belum waktunya buka puasa. Siapapun pasti tau. Itu jawaban teman saya.

Sebenarnya saat menunggu waktu berbuka, saya kepikiran sesuatu. Seperti makanan yang ada dihadapan kami waktu itu, banyak hal seperti itu di kehidupan. Kita dihadapkan dengan sesuatu yang bukan tidak boleh kita nikmati, bukan tidak boleh kita lakukan tetapi “belum waktunya”.

Seringkali kita tahu akan hukum boleh tidaknya melakukan sesuatu yang telah diatur oleh Tuhan. Hanya saja kita kurang sabar untuk menunggu. Ambil contoh tentang bagaimana hubungan antara laki-laki dan perempuan yang lumayan sering ditanyakan kepada saya di halaman biru tua ini. Apakah Tuhan melarang hubungan antara laki-laki dan perempuan?

Sejauh yang saya tahu, tidak ada larangan yang seperti itu. Boleh-boleh saja dan itu fitrah manusia, tapi tentu ada aturannya. Bagaimana cara dan kapan waktunya. Seperti yang saya tanyakan di awal, “kenapa kita tidak makan?”, toh makan tidak dilarang. Bukan tidak boleh makan, hanya saja ada caranya, ada waktunya.

Mungkin akan lebih baik jika saja kita bisa menerapkan “puasa” untuk hal-hal lain selain dari tidak makan dan minum pada bulan ramadhan. Ketika kita mau berpikir lagi, makna puasa tidak hanya sekedar menahan diri untuk tidak makan dan minum, tetapi lebih dari sekedar itu. Yang saya sendiri pahami adalah bagaimana kita bisa dan mampu untuk mengendalikan diri.

Saya bisa serandom ini, meratiin makanan aja larinya kemana-mana. Saya senang mengamati sesuatu yang kemudian membuat saya bisa lebih berpikir kemudian saya tulis. Bukan untuk orang lain, tetapi lebih untuk mengingatkan diri sendiri.

anonymous asked:

Kak, suka ngabuburit sampai buka di Salman enggak? Btw, donasi di Salman sedemikian besar ya? Gw baru nemu Masjid Kampus setotalitas Salman pas Ramadhan. UI? APAAN? Malu lah

Suka maen aja, cari2 buka puasa gratis dan kalo ngefans sama narsum kajian. Isi kajian di Salman suka kayak kuliah yang pindah kelas.

Donasi Salman sy ga tau seberapa besar, tapi saya rasa bukan besarnya donasi yang bikin pengurusnya begitu aktif. Saya sendiri penasaran apa yang memotori militansi anak2 Salman, dan ketika beberapa hari ini saya coba kenalan sama Tim Satgas Ramadhan Bandung Raya yang diinisiasi oleh pemuda2 Salman, well you will see that their spirits are really amazing.

Cita2nya ga sesederhana memakmurkan masjid sendiri, tapi juga bersinergi dengan masjid - masjid lain, seperti Al Latif yang terkenal dengan Pemuda Hijrah dan chef, makanya makanannya enak haha.

Sudah saatnya kita sadar bahwa masjid seharusnya bukan hanya menjadi pusat belajar agama, namun juga pusat pendidikan peradaban. Dan saya melihat Salman seperti itu, meskipun belum sempurna. Mengambil istilah seorang ibu2, Salman adalah masjid intelektual.

Tentunya Salman bukan satu2nya contoh yang baik. Banyak masjid lain juga ‘hidup’, hanya kurang terekspos saja.

Militansi berjuang di jalan Allah lah yang harus kita pelajari dari pejuang2 masjid, masjid di manapun. Ga perlu juga dibandingkan dengan masjid UI, atau UGM, atau kampus manapun.

Setiap masjid kampus punya warnany sendiri, punya karakter manusianya sendiri. Jika kita rasa masjid di lingkungan kita belum baik, instead of mencela, better kita yang mengajak teman2 untuk 'menghidupkannya’, belajar dari masjid lain. Dengan cara yang kita bisa, sesederhana apapun itu. Apa yang ada di sisi Allah, itu lebih baik. Dan masjid adalah salah satu cara untuk berjuang di sisi Allah. Mungkin itu yang membuat anak2 masjid begitu militan.

Semoga suatu hari kita bisa sebaik itu, atau lebih baik dari itu dalam memperjuangkan masjid.

CMIIW

Yang disayang yang hilang.

Alhamdulillah.

Sepatu kesayanganku hilang.

Hari ini, adalah kali pertama, seumur hidup, buka puasa, shalat magrib, shalat isya, lanjut shalat tarawih di Masjid Kampus. Kampus mana, baiknya tidak disebutkan saja ya.
Wkwkwk.

Itu pun karena sorenya memang ada suatu hal yang mengharuskan aku kesana.

Wuih, begitu ternyata suasanya berbuka bersama, di halaman masjid. Ramadhannya tuh, kerasa.

Singkat cerita, selepas shalat magrib, aku dan salah satu temanku keluar masjid, temenku mau ke toilet, aku mau beli eskrim.

Dan…jeng jeng jeng jeeeeng~

Sepatuku ra ono.

Padahal aku sengaja taruh di tempat yang agak jauh, yang gampang terlihat.

Eh, lupa, yang gampang ngeliat juga bukan aku aja wkwkwk.

Eh, gak boleh suudzon, siapa tau lagi dipinjem buat wudhu, karena jaraknya emang agak jauh.
Sambil makan eskrim, aku kelilingin sekali lagi, siapa tau ketendang atau aku yang lupa. Ya udahlah, mungkin nanti habis tarawih sudah kembali.

Ternyata belum.
“Belum kembali” lho ya, bukannya “enggak kembali”.

Kata Bapak, “Adek kurang sedekah dak?”
Kata Mbak, “Ya berarti rejeki kau cuma sampai situ aja.”

Kata Bapak dan kata Mbak, benar semua.
Alhamdulillah, Allah kasih teguran lembut sekali.
Romantis sekali.
Padahal baru aja kemarinnya aku sedih, karena salah satu pojok sepatuku lecet gitu. Eh, ternyata, belum seberapa.
Hahaha

Semua ini pasti ada hikmahnya.
Mungkin pesan dibalik ini semua adalah, besok aku disuruh ke masjid yang sama.
Siapa tahu jumpa kembali.


Eh.

HTI dibubarin pemerintah?
Ga apa2 udah bisa itu dilarang dibanyak negara.
Lagipula saya lagi dalam rencana mendirikan HTI gaya baru.

Miring Foundation dalam 2 minggu kedepan siap mendirikan HTI (Hizbut Takjil Indonesia) dalam rangka memobilisasi faham-faham diet saat buka puasa. Mencegah menyebar aliran makan radikal yang ga sadar perut.

—  Yang mau ikutan PM gan
Ramadhan #4 : Kemudahan Kita

Saya pernah mengulas tentang hal ini ditulisan lama, saya lupa judulnya. Ramadhan adalah bulan yang sangat dinanti bagi orang islam yang beriman dan bertakwa. Ada banyak keberkahan yang turun di bulan suci tersebut. Setiap orang yang saya kenal berlomba untuk menggapai setiap mili-keberkahan. Hari ini pun, jamaah subuh yang biasa saya kunjungi menjadi penuh. Kemarin malam padahal tetap seperti biasa, dua shaf.

Ramadhan ini seolah-olah setiap orang islam terlihat soleh/solehah. “Terlihat” karena memang itu yang nampak, perkara niat itu hak Allah.

Tadi malam, sepulang tarawih di Masjid Nurul Asri - Deresan, saya mampir dulu ke tempat makan untuk mencari makan malam sekaligus cadangan sahur. Saya berusaha berkaca seluas-luasnya di ramadhan ini. Saya dan mungkin begitu banyak orang memasang target besar dalam ibadah individu; baca Quran-nya lebih banyak, shalat sunahnya lebih rajin, tahajudnya lebih panjang, dan apapun yang terkait dengan ibadah individu.

Tentu ini bukan bicara tentang baik dan buruk atau salah dan benar. Saya merenung dalam perjalanan kembali ke rumah. Kalau keberkahan (dalam hal ini dalam bentuk pahala) hanya turun kepada orang-orang yang melakukan ibadah tersebut secara penuh, bagaimana dengan orang-orang yang mungkin tidak mampu bahkan tidak berkesempatan untuk itu?

Bukan karena mereka tidak ingin, tapi keadaan, kondisi, dan berbagai tuntutan hidup membuat mereka harus seperti itu. Saat kita sedang khusu’ tarawih, di luar sana ada bapak tukang parkir yang sedang menjaga kendaraan kita, di luar sana yang kita sering sekali abai dan tidak peduli, ada puluhan remaja seusia kita yang harus berjuang untuk hidup, mereka menjadi penjaga toko, pelayan restoran, dan untuk bekerja itu mereka merelakan waktu shalat tarawih berjamaah. Bahkan, pemilik tempat makan pun sengaja membuka tempat makannya di jam-jam itu (biasanya 17.00-22.00). Dan kita, sering tertawa usai tarawih ketika makan di sana atau saat berbuka puasa di tempat makan itu. Apalagi saat nanti ramai acara buka puasa bersama. Jahat gak sih?

Di saat kita begitu bersemangat menghadiri kajian-kajian dengan penceramah yang keren-keren, ada yang harus berjuang untuk hidup dan melakukan tugasnya. Para penjaga pintu kereta api, para sopir bus malam, para nakhoda di lautan, para kelasi, juga buruh-buruh bangunan dan pelabuhan, petugas pom bensin, penjaga mini market, tukang parkir, masinis, pilot, dokter dan perawat yang harus berjaga di rumah sakit, dll. Mereka berjuang untuk hidupnya juga hidup orang lain, mungkin juga untuk keluarganya di rumah. Kalau mereka semua meninggalkan tugas pekerjaannya, mungkin kita semua yang kemudian marah-marah. Jahat gak sih?

Di saat pagi kita bisa bersantap sahur, duduk manis di ruangan keluarga yang hangat, makanan yang enak. Ada di luar sana yang harus ke pasar dini hari, ada yang memasak untuk warungnya demi teman-teman yang nge-kos bisa beli makanan untuk sahurnya, dan lain-lain. Kapan terakhir kali kita berempati?

Betapa begitu banyak kemudahan yang kita miliki. Kita tidak perlu susah payah untuk memenuhi kebutuhan keuangan. Tidak perlu bekerja menjadi penjaga toko, pelayan restoran, apapun itu. Kita bisa menghadiri kajian rutin tanpa harus memikirkan hal lain. Kita diberikan banyak kemudahan untuk meraih keberkahan di bulan ramadhan ini dengan segala target ibadah individu yang sudah dibuat.

Pertanyaannya, adakah target ibadah sosial di sana? Adakah niat kita untuk ikut serta dan turun tangan membantu memudahkan orang lain beribadah juga sama seperti yang kita dapatkan? Akankah kita begitu egois, mengharapkan semua keberkahan itu menjadi milik kita semata tanpa peduli apakah itu juga didapatkan oleh orang lain?

Semoga keberkahan ramadhan itu turun kepada orang-orang yang memudahkan kita semua dalam menjalankan ibadah. Bahkan saya merasa, mereka jauh lebih pantas mendapatkan kebaikan itu. Yang jelas, Allah Maha Pengasih dan Penyayang.

© Kurniawan Gunadi

Tulisan ini adalah tulisan ramadhan tahun lalu, masih relevan hingga saat ini. Semoga tahun ini kita bisa meningkatkan kapasitas diri dan juga membantu kemudahan orang lain disekitar kita. Tulisan asli bisa di klik di sini.

Referensi Target Harian di bulan Ramadhan

(Ust. DR. Amir Faisol Fath)

1. Tahajud
2. Akhirkan saur
3. Sholat sunah fajar sblm subuh
4. Subuh jamaah di masjid
5. Dzikir pagi
6. Tilawah 1juz
7. Sholat Dhuha
8. Nafkah halal
9. Hindari bohong (meski bercanda),ghibah,khurafat(porno)
10. Sedekah/sedekah buka puasa
11. Silaturahim (minimal sms saudara/teman)
12. Mengajak kawan/saudara kebaikan
13. Istigfar 100x
14. Tasbih 100x
15. Dhuhur jamaah di masjid (laki2)
16. Asar jamaah di masjid (laki2)
17. Dzikir sore
18. Doa sblm buka(waktu yg mustajab)
19. Segera berbuka(sunah dg kurma/air putih)
20. Maghrib berjamaah(laki2)
21. Tilawah 1juz
22. Isya jamaah di masjid(laki2)
23. Tarawih
24. Hadiri majlis ilmu
25. Itikaf
26. Baca hadist (minimal 5 hadist)
27. Baca Al Quran terjemahan
Semoga bermanfaat menambah semangat beribadah di bulan Ramadhan.

~•~•~

❗❗Awas Pencuri Bulan Ramadhan❗❗

🐾 TV. Ini merupakan pencuri yang berbahaya, yang bisa merusak puasa orang orang dan mengurangi pahala, seperti film sinetron dan iklan murahan.

🐾 Pasar. Ini juga merupakan pencuri spesial dalam menghabiskan uang dan waktu tanpa batas. Oleh karena itu tentukan belanjaanmu begitu pergi ke pasar.

🐾 Begadang. Pencuri yang mengambil waktu yang palimg berharga. Pencuri yang mengambil sholat tahajud dari seoramg hamba di sepertiga malam terakhir, dan mencuri kesempatan untuk istighfar serta taubat.

🐾 Dapur. Pencuri yang banyak mengambil waktu yang panjang untuk membuat beragam jenis masakan, berupa makanan dan minuman. Hampir-hampir semuanya tidaklah lewat di mulut, kecuali sejenak saja.

🐾 Handphone. Sebagian orang hanya sekedar menjawab panggilan masuk. Bisa diserang dengan dosa berupa ghibah, namimah, dusta, memuji diri atau orang lain, membeberkan rahasai, berdebat tanpa ilmu, ikut campur urusan orang, dan sebagainya dari kesalahan-kesalaham mulut yang banyak yang juga merupakan majlis yang kosong dari dzikir.

🐾 Kikir. Sedekah akan melindungimu dari neraka, dan sebaik-baik sedekah adalah di bulan Ramadhon; maka bersedekahlah secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi.

🐾 Majelis yang kosong dari mengingat Allah. Pencuri ini adalah yang mempersiapkan bagimu penyesalan di hari kiamat. Nabi shallaalhu alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah suatu kaum bermajelis, tidak mengingat Allah dan tidak juga bersholawat kepada Nabi mereka kecuali mereka meninggalkan penyesalan. Bila Allah mau maka Allah akan menyiksa mereka, kalau hendah Allah mengampuninya.”

Adapun pencuri besar adalah FACEBOOK atau WHATSAPP apabila tidak digunakan dengan benar dalam kebaikan dalam menyambut tamu yang berharga ini (Ramadhan)
Aku wasiatkan diriku dan kelalaian untuk bersiap siap menyambut bulan mulai ini; kalaulah Anda mendapatinya pada tahun ini, maka belum tentu Anda dapatkan pada tahun yg akan datang.

Ust. Zainal Abidin, L.C.

(Dari Grup Line)

Buka puasa itu sama yang manis-manis. Bukan sama yang pahit-pahit kayak sambil ngenang masa lalu yang bikin hati masih pahit.
—  Apalagi buka puasa sambil ngomongin aib orang. Jadinya yang manis berubah jadi pahit. Yang berkah berubah jadi gak berkah lagi.
Kita Sudah Punya Semuanya

Tahu kenapa hidup kita ga enak?

Karena kita mulai membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain.

Kita membandingkan apa yang mereka punya, sementara kita tidak. Kita iri dengan jalan mereka yang lurus, sedang jalan kita berputar-putar. Kita menginginkan perjuangan mereka yang mudah, sedang perjuangan kita begitu sulit.

Membandingkan adalah aktivitas tanpa akhir.


Ramadhan dua tahun lalu, saya buka puasa bareng sahabat lama saya, @anjasbiki. Anjas teman saya sejak di pesantren, dan lanjut kuliah bareng di universitas dan fakultas yang sama.

Waktu itu masing-masing kita sudah bekerja dan punya penghasilan, dan kami makan di warteg langganan di depan kosan. Saya pesan makanan langganan sejak kuliah: nasi + usus + telur dadar. Ceritanya mau nostalgia.

Dulu rasanya makan dengan menu itu rasanya super enak. Super mewah, pokoknya setiap pulang kuliah dan kelaparan, makan dengan menu itu rasanya luar biasa.

Saya duduk bareng Anjas dan mulai makan. Lalu satu dua suap pertama, kok saya merasakan hal yang aneh. Saya kunyah lagi, dan otomatis saya menoleh ke Anjas.

Ternyata rasa nasi wartegnya ga seenak yang saya kira.

Saya dan Anjas langsung tertawa, karena kita langsung paham alasannya kenapa. Selama kuliah, nasi warteg ini jadi makanan termewah yang biasa kita konsumsi setiap hari, saat itu. Setelah punya referensi dan kemampuan membeli makanan yang lebih baik, makan di warteg ini rasanya jadi hambar.

Ternyata karena membandingkan, nasi yang dulu saya anggap paling enak, sekarang jadi kurang sedap.

Lalu obrolan kami berlanjut jadi lebih filosofis.

“Itulah kenapa, kaya itu bukan soal uangnya”, kata Anjas sambil menyeruput es teh manis. “Tapi soal seberapa bisa kita berterima kasih dengan apa yang ada”.

Semakin punya uang, saya semakin bisa merasakan bahwa kaya memang hanya soal pikiran. Karena jika rasa kaya diukur dari apa yang bisa kita punya, rasanya tidak akan ada habisnya.

Waktu dulu belum punya handphone apapun, punya nokia saja rasanya sudah bahagia. Sekarang punya smartphone Asus Zenfone, inginnya punya iPhone.

Dulu waktu belum punya kamera, bisa megang Canon pocket aja senangnya luar biasa. Sekarang punya kamera Prosumer, pengen juga punya GoPro dan Mirrorless.

Dulu waktu kemana-mana masih naik kendaraan umum, punya motor aja sudah gaya. Sekarang punya motor, kepengen punya mobil. Nanti punya mobil, pengen punya helikopter. Punya helikopter, pengen punya jet pribadi. Dan begitu seterusnya sampai mati.

Peace comes from within, don’t seek it without.

Kebahagiaan harus selalu dicari ke dalam, bukan ke luar. Terbang ke atas tidak akan pernah membuat kita sampai, karena langit tak pernah punya ujung untuk digapai.

Tapi berenang ke dalam, akan selalu membahagiakan.

Karena saat hati kita berhasil menyentuh dasarnya, kita akan tahu: kita sudah punya semuanya.

JAKARTA!!!

Yuk ngabuburit bareng tanggal 7 hari rabu besok jam 3-6 sore di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Untuk tema Talk Show kali ini tampaknya akan sedikit lebih berbeda ketimbang biasanya. Di sini nanti aku mau share-ing banyak tentang perjalanan iseng-iseng nulisku dulu hingga bisa jadi seperti sekarang ini, lika-liku salah jurusan kuliah yang berakhir malah jauh dari ekspetasi, dan masih banyak lagi.

Tentu juga karena ini bulan suci Ramadhan, pembahasan kita nanti diusahakan tidak jauh dari nilai-nilai agama. Selain membahas tentang menulis di era digital seperti ini, biar syariah juga nanti aku mau membahas tentang Tata Cara Brewing Zam-Zam Latte serta Cappuchino Cingcau yang baik dan benar. 

Bagi yang sudah punya buku #MerayakanKehilangan, maupun yang belum (silakan beli dulu di toko buku terdekat), yuk bawa juga bukunya. Nanti apabila waktunya cukup, akan ada sesi Tanda Tangan, Cap Tiga Jari, SKCK, dan selfie berjamaah juga loh.

Oh iya, acara ini Free alias kagak ngeluarin duit sama sekali kecuali biaya parkir.
Kalian nggak perlu takut mikirin ngebekel Takjil buat buka puasa, karena nanti di sini juga ada Bazzar jajanan loh~

Jadi..
yuk dateng Rabu Besok!
Kita ngabuburit bareng sambil ngeceng-ngeceng~

See you there!

Amplau.

Amplau adalah amplop angpau.

Gilz. Kreatif Hana ni ya.

Masuk ke cerita ya.

Disuatu Kamis sore yang damai dengan perut kenyang setelah buka puasa dengan kering tempe bikinan Bulik Puji (Ibuknya Pekeh), Pekeh memegang sesuatu sambil senyum-senyum.

“Alhamdulillah…dapat amlop.”
“Dari siapa Keh?”
“Dari Ibuk. Uang beli obat kemarin, diganti Ibuk, dimasukin ke amplop diselipin di plastik makanan dari Ibuk tadi. Senangnya. Udah lama gak dapat amplop.”
“Ndeh, jadi ingat dulu ya Keh…”
“Iyaya. Hahaha”

Aku gak tahu ya ini terjadi pada semua anak rantau atau hanya terjadi pada aku dan Pekeh. Jaman kuliah dulu, beberapa kali Ibukku ataupun Ibuk Pekeh ngirim paket dari Duri ke Jogja. Lebih spesialnya lagi, ada “selipan” diantara barang yang ada. Selipan uang.

Bahagianya kayak dapat harta karun. Terima paket dari Ibuk aja udah senang. Buka bungkusan aja udah deg-degan. Liat isi barangnya tambah bikin bahagia bukan kepalang. Setelah tahu ada “selipan"nya, alis naik, mata berkaca-kaca. Terharu.
Itu tuh kayak, “Aaa…ada paket dari Ibuk. Aaaaa isinya rendang. AAAAAAAAA AADAA APA NEEEHH KESELIP NEEEEHH..AAAAAH IBUUUK…” terus nangis. Terus nelfon Ibuk.

“Buk, paketnya udah sampai.”
“Iya?”
“Buk, ada uangnya Buk.”
“Iya??” Ibuk sok kaget.
“Buk, makasih ya Buk.”
“Ya…sama-sama. Bagi dua sama Fiqih ya.”
“Ya…”

Terus aku langsung naik ke atas,
“Keeeeh!!! Liat niiiii…”
“Apa tuu??”
“Di paket Ibuk ada selipannya.”
“Alhamdulillah…”

Terus kami berdua senyum sampai mangap saking senangnya.

Pas Mbak No kuliah di Jatinangor, Ibuk juga suka ngirim paket. Aku yang masih SMA kebagian tugas motong-motongin selotip hehe. Jadi, kebayang gimana kejadian sebelum paket itu dibungkus rapi.

Tentang selipan tadi, yang bikin senang selain si uangnya sendiri (uangnya so pasti bikin senang wkwk), adalah karena kita tahu itu dari Ibuk. Terlepas dari berapapun jumlahnya. Itu dari Ibuk. Dari uang belanja Ibuk. Dari dompet Ibuk. Uang jajan dari Ibuk. Jadi sayang buat dipakai. Rasanya pengen disimpen aja. Tapi ujung-ujungnya dihabisin juga, kan Ibuk ngasih uangnya buat nambah-nambah jajan wkwkwk

Kalau Ade (adeknya mas Tatang), dulu suka di selipin surat sama mamanya. Ade gak cerita detail tentang isinya, yang jelas dia bilang “Aku nangis baca surat dari Mama.”

Aku juga jadi ingat ketika Bela ke Jogja, Ibuk tanya aku mau titip apa, aku jawab “Gak usah Buk.” Tapi Ibuk tetap menyelipkan rendang, oseng jantung ayam, dan kaleng sarden Mili yang entah kenapa di Jogja gak ada yang jual.

Senangnya. Senang kali!!!!!

Entah apapun bentuk selipan tak terduga yang dikirim Ibuk, Bulek, atau Mama kepada anak-anaknya adalah selipan kebahagiaan. Selipan rasa rindu ingin anaknya pulang.

Kadang kita merasa berat jadi anak rantau yang jauh dari orang tua.
Tapi kita gak tau seberat apa rasanya jadi orang tua yang anak-anaknya jauh dari pandangan mereka.

Semoga Bapak Ibuk kita sehat-sehat semua ya. Semoga jarak yang ada diantara kita tak sia-sia. Semoga jauhnya kita di dunia adalah jalan untuk bersatu abadi di surgaNya.

Kita Apa yang Kita  Harapkan

I still remember the days I prayed for the tings I have now…

Kemarin malam saya pulang dari kantor larut malam, saya memaksakan pulang ke rumah karena ada janji dengan Ummi di pagi harinya. Padahal biasanya kalo sudah lembur seperti itu saya prefer kembali ke kosan dan menunda pulang kerumah. Saya pulang nebeng dengan teman dan ngobrol panjang lembar dengan ayah-nya teman juga saat itu yang kebetulan seorang Ustadz dan pengurus Pesantren.

Sesampainya dirumah  pukul 1.10 dini hari, saya masih harus merasa was – was. Pasalnya, akan ada implementasi cut over pada pukul 03.00 dini hari oleh tim IT dengan permintaan dari saya dan konfigurasi system dari saya. Ya, otomatis jika post-implementasi terjadi sesuatu, dan berimpact ke dua puluh juta lebih user. Maka orang yang akan ditelepon “mesra” oleh para atasan saat itu juga adalah saya. :)))

Disamping itu semua, dalam perjalanan pulang malam tadi saya merenung cukup lama. Ini semua terkait tentang apa yang pernah saya harapkan.  Alhamdulillah saya merasa bersyukur dengan apa apa yang ada dan telah diraih. Untuk saat ini bersyukur tentang ladang aktualisasi diri dan keilmuan dijalur professional (berkarir), pekerjaan saya sebagai anak baru tergolong cukup berat, pun saya ditempatkan di posisi yang tidak main main, karena saya satu – satunya functional consultant (sampai saat ini) yang bertanggung jawab untuk memegang masterpiece perusahaan dengan 20 juta lebih pengguna. Tekanannya tentu besar, tapi disisi lain saya senang karena mereka memberi jalan untuk saya membuktikan kemampuan saya dan mereka percaya bahwa saya bisa menjalankannya.

Disisi lain, saya sedang senang karena di perusahaan tempat saya bekerja sesuai dengan ekspektasi saya. Saya ingat saya pernah interview dengan macam – macam orang dari Indo sampai Bule, tapi ada 2 interview yang unik untuk saya. Pertama, saya pernah di interview seperti ini :

*Masuk ruangan, menyampaikan salam, senyum dan berjabat tangan*


Interviewer : Jadi namamu Hafizh ya?
Saya :
Betul, Bapak.
Interviewer :
Hafizh Quran juga gak?
Saya :
*cengengesan* Belum Bapak, tapi insya Allah kalo Juz 30 insya Allah bisa.
Interviewer :
Yasudah coba murojaah An-Naba ya, yuk mulai
Saya :
serius Pak?
Interviewer :
Iya. Ayo cepat mulai.
Saya :
*mulai murojaah dan 20 Menit kemudian selesai*
Interviewer :
Ya,bagus. Cocok jadi Imam masjid kantor hehe.
Setelah itu pertanyaan hanya diajukan 2-3 pertanyaan terkait identitas diri. Dan lulus wawancara serta diterima. (sayangnya saya memilih perusahaan lain pada akhirnya :) )

Lain lagi ketika saya interview perusahaan tempat saya berkarir sekarang.

Interviewer : Kenapa kamu mau bekerja disini?
Saya :
*berbusa busa ngomong terkait keunggulan perusahaan dan kontribusi yang bisa diberikan*
Interviewer :
Ada lagi?
Saya :
*cengengesan* saya suka masjidnya pak, kebetulan juga tadi saya liat ba’da dzuhur ada kajian intensifnya. Menggambarkan apa yang saya inginkan dari definisi  bekerja. Bekerja ditempat yang baik membawa keberkahan dan kebermanfaatan. Dunia dan Akhirat bisa seimbang.
Interviewer :
*senyum – senyum* 

Dan Alhamdulillah lulus dan diterima.

Menariknya adalah ternyata memang ketika saya ingat lagi, saya berdoa dan berharap dalam pencarian bekerja itu saya meminta kepada Allah SWT ditempatkan ditempat terbaik untuk urusan akhirat dan dunia saya. Ada hal hal yang menurut saya diskenariokan oleh Allah SWT dalam pencarian hal tsb, saya penyuka tantangan dan “workaholic” seringnya saya apply ke MNC ternama yang ternyata mungkin tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan (lingkungan kerjanya) dan tidak terbaik menurut Allah.

Diperusahaan saya berkarir sekarang, saya banyak berkegiatan sampingan (selain ruang kantor didesain sangat nyaman seperti tempat bermain layaknya desain kantor google). Diberi ruang dan difasilitasi untuk punya personal life even at the office. Dikantor saya punya kegiatan memanah rutin tiap minggunya, liqo,  kajian rutin ba’da dzuhur (dan sering kali Ustadz – Ustadz kondang yang memberi materi). Lalu ada juga kegiatan lain dikantor saya, seperti tahsin dan tahfidz rutin, buka puasa bersama tiap senin – kamis, himbauan untuk meninggalkan pekerjaan dan segera sholat berjamaah ketikan adzan dzuhur dan ashar, sampai perusahaan yang sangat memperhatikan tentang fasilitas masjid dan musholla (masjid dilantai tersendiri dan full 1 lantai + musholla ada disetiap lantai. Tidak ada alasan karyawan ga sholat karena males turun/naik). Sehingga, saya percaya bahwa atas do’a do’a yang saya sendiri harapkan dan yakini bahwa Allah akan ijabah, saya diletakkan ditempat ini.

Lalu dalam renungan tersebut, tiba – tiba ayah teman saya mengajak ngobrol panjang dan lebar terkait agama dan diri saya. Sampai lah pada satu pertanyaan dia :

Ayah Teman : Kok kamu banyak kenal ustadz - ustadz “Lc”? padahal kuliah bukan background agama.
Saya : Tidak kenal banyak, Pak. Cuma memang pernah jumpa dan ikut kajian – kajian mereka sekali dua kali, tidak rutin. Itupun juga saya gak tau kenapa selalu timingnya dan tempatnya pas, pas saya lagi luang, pas saya lagi berkunjung kemana dll. Begitu juga pencapaian hidup saya sampain saat ini Pak. Sampai detik ini saya merasa sadar hidup saya bener bener diskenariokan Allah, Pak. Makanya selain saya meminta yang terbaik untuk dunia akhirat saya, saya juga meminta supaya ditempatkan dan dikumpulkan dengan orang – orang baik dan soleh.

Benar rasanya bahwa apa yang kita harapkan, insya Allah apa yang kita dapatkan. Selama kita mau berdoa dan berusaha, serta memang itu lah takdir dari Allah yang terbaik untuk urusan dunia akhirat kita.

Tambahan :
Ayah Teman :
Jadi, Hafizh setelah ini mau lanjut S3 gak?
Saya  :
Insya Allah, Pak. Pengen sih Cuma mungkin gak dalam waktu dekat
Ayah Teman :
Iyalah, nikah dulu yaa. Mau istri kaya gimana? Belum nikah kan?
Saya :
*cengengesan* wah berarti sebelum S3 harus cari S3 (Read : eS – Three, Istri) ya Pak? hehe

Dan untuk misteri satu ini, tentang  pertanyaan-pertanyaan “nikah” dari orang sekitar pun belum mampu terjawabkan oleh saya sampai saat ini. :)