buat sendiri

Dear perempuan-perempuan hebat yang ada diseluruh dunia,

Apakabar hati? Masih utuh kan? Atau… separuhnya sedang bersama lelaki lain–yang belum tentu menjadi jodohmu kelak–karena drama-drama khas perempuan yang kamu buat sendiri?

Ah, aku selalu berharap. Semoga kabar hati selalu sehat walafiat. Sebab hati harus lebih sehat walafiat ketimbang badan. Sebab, jika hati tidak sehat, semuanya akan berantakan. Semua urusan akan runyam.

Aku, sebagai sesama perempuan, ingin berpesan kepadamu. Hati hati dengan kebaikan-kebaikan lawan jenismu. Jangan mudah memetik buah-buah segar yang tidak pernah kautanam. Jangan mudah meletakkan hati pada sembarang tempat. Jangan mudah memakan coklat yang tidak kaubeli sendiri.

Aku pernah mendengar. Kata seorang lelaki, menjadi baik itu terkadang menjadi ujian yang paling menyebalkan bagi dia karena kebaikan kebaikannya yang seringkali kamu salah artikan. Akibatnya, laki-laki terkadang jadi takut berbuat baik karena kebaikan itu sendiri.

Padahal mereka hanya sedang belajar menjadi baik dan menjadi terbaik untuk semuanya. Bukan untuk tujuan yang lain.

Ayolah. Setidaknya, bantu mereka menjadi baik karena kebaikan itu sendiri. Bukan malah membuat mereka takut berbuat baik karena kamu menelan mentah mentah kebaikan kebaikan mereka.

Juga, jangan tergesa-gesa mengarang cerita-cerita kepada sesamamu tentang kebaikan-kebaikan lelaki yang sering kamu salah artikan. Jangan mudah menyimpulkan hal yang belum selesai dan belum jelas runtutannya. Jangan. Jatuhnya nanti malah menumbuhkan harap kepada manusia. Bukan lagi kepada satusatunya Pengabul Harap.

Padahal kamu tau kan kalau manusia itu makhluk yang paling mudah kecewa–juga makhluk yang paling mudah mengecewakan?

Jangan hati. Jaga perasaan. Karena seperti yang sudah aku katakan tadi, hati, juga perasaan adalah hal yang harus lebih sehat walafiat ketimbang badan. Jika hati berantakan, berantakanlah seluruh urusan.

Kamu paham maksudku, kan?

Mulai sekarang, anggap semua kebaikan lelaki adalah hal biasa yang memang biasa. Setuju?

Curhat : Kehidupan Pascamenikah  (Adaptasi)

Akhirnya setelah berhari-hari belum menulis, saya nulis juga. Sebenarnya banyak sekali yang ingin dituliskan, cuma rasanya kemarin belum pas aja buat nulis #alesan. 

Mungkin tema soal Kehidupan Pascamenikah ini banyak yang penasaran (GR), akan saya coba tuliskan sebagai catatan perjalanan untuk saya sendiri dan barangkali bisa menjadi pelajaran buat teman-teman yang lain. Tulisan-tulisan ini akan sangat subjektif jadi ngga bisa disamakan seutuhnya dengan pihak lain tapi bisa diambil hikmahnya wkwkwkwk. Bismillah ya ;)

Banyak sepertinya di luar sana yang membayangkan bahwa kehidupan setelah menikah akan terasa menyenangkan setiap harinya, termasuk saya dulu. Romantis gitu, ada yang diajak bareng-bareng. Ibadah bareng, belajar bareng, sehari-hari ada yang nemenin, kalau sedih ada yang ngepuk-pukin. wkwkwkwkkwkw. Sampai-sampai melupa bahwa kebahagiaan itu beriringan dengan tantangan-tantangan. Kita justru lupa menguatkan diri untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut. 

Dan bahkan, ada kejadian, beberapa ingin menikah karena ingin lari dari kehidupan dia sebelumnya, membayangkan bahwa dengan menikah akan menyelesaikan semua persoalan hidup, padahal…nggak juga. wk ;p

Dan tantangan yang pertama saya hadapi adalah : Adaptasi.

Di awal menikah, tantangannya adalah lebih-lebih soal adaptasi dan berkompromi. Karena ada peran, tanggungjawab, dan hak baru yang harus dijalani. 

Adalah saya yang nggak pernah ngerjain pekerjaan rumah sebegitunya, setelah menikah jadi harus melakukannya sehari-hari mulai nyapu, ngepel, masak. nyetrika. Saya yang hobi kelayapan, main sama temen-temen, setelah menikah jadi harus sadar bahwa ada kewajiban yang lain yang nggak bisa saya tinggal begitu aja. Saya yang biasanya kalau lapar tinggal merajuk sama Umi, sekarang saya harus siapkan sendiri, masak sendiri, bahkan memikirkan suami saya kepengen dimasakin apa, sukanya apa, yang mungkin kejadiannya selera makan kita dan suami jauh berbeda. Saya yang rencana kehidupan mau begini, begini, jadi harus dikompromikan. Saya yang dulunya dekat sekali dengan orangtua dan adik-adik, tiba-tiba udah nggak tinggal bareng sama mereka. Sekarang udah nggak nangis-nangis lagi karena kangen sama Umi sama Abah dooong. Dasar bocah. wkwkwk. Maklum, saya nggak pernah rantau sebelumnya. Ngga diizinin lebih dari tiga minggu pergi dari rumah wkwk. 

Selain beradaptasi dengan status yang berubah menjadi istri, saya juga harus beradaptasi dengan pasangan. Karena karakter kami jauh berbeda, pola asuh juga berbeda, jadi harus banyak-banyak legawanya. Harus banyak pengertian dan pemahaman satu sama lain. Harus belajar komunikasi yang baik. Belajar untuk meredam dan mengelola emosi (lain kali di postingan yang lain saya mau bagi tips dari guru saya). 

Adaptasi selanjutnya adalah dengan tempat tinggal baru. Setelah menikah, saya tinggal di kota yang bukan tempat saya berproses selama ini. Bukan tempat saya sekolah, bukan tempat kuliah, bukan tempat membangun jaringan, bukan tempat saya bekerja. Dan yaaah…saya di bawa keluar dari zona nyaman. Malang nyaman, sangat nyaman. Semua sumberdaya yang saya punya untuk mendevelop diri sendiri maupun orang banyak tersedia disana. Tiba-tiba harus pindah ke Jogja. Dan membangun semuanya dari awal. Pertemanan, kerjaan, lifeplan, mimpi-mimpi. 

Awalnya, saya stress bukan main. Sedih. Seringkali nggak tahu harus ngapain. Makin hari makin panik. Masak gagal terus, suami sakit, belum lagi kalau lagi mager dan rumah belum rapi. Saya pengen main, tapi belum tau mau main sama siapa. Saya mau aktif di kegiatan-kegiatan sosial seperti dulu, tapi juga jaringannya belum ada. Kondisinya juga lagi nggak memungkinkan karena jadwal saya sebagai istri masih belum tertata rapi. 

Dan belum pernah ada yang segigih Mas untuk membuat saya baik-baik saja dari sebelumnya. Yang mencari cara agar saya lekas terbiasa di situasi ini. Mas gigih sekali memotivasi saya cari kegiatan, ngenalin saya sama temen-temennya, ngasih saya PR biar saya belajar, mengapresiasi jerih saya, bantuin pekerjaan rumah, kalau saya ketiduran dikit, rumah udah beres aja. Huhuuuuu makasih suamikuuu. 

Kok saya nggak segigih Mas? Bahkan ini buat diri saya sendiri?

Akhirnya saya ada di titik bahwa saya nggak bisa cuma duduk diam dan meratapi. Harus lebih gigih lagi berusaha beradaptasi!

Adaptasi terus berjalan. Saya masih harus belajar setiap harinya. Akan banyak hal-hal baru yang ditemui. Dan semuanya memang butuh proses. Proses untuk menerima. Proses untuk lebih banyak sabar dan bersyukurnya. Proses untuk memotivasi diri sendiri. Proses untuk lebih kuat lagi. 

Ini curhatan kok nggak ada konklusinya. WKWKWK. Gapapa. Jadi maksudnya tuh saya nulis biar ada bayangan gitu buat yang belum menikah, semoga terus membekali diri dan mulai memikirkan tantangan-tantangan menikah (meskipun tantangannya juga banyak yang di luar perkiraan) HAHA. Jangan ingin menikah dengan mindset bahwa dengan menikah bisa menyelesaikan persoalan dan semua masalah. Nggak. Justru harus lebih kuat karena ada masalah-masalah baru yang harus dihadapi. 

Setiap pasangan pasti dicoba dengan masalah yang berbeda-beda, tapi bobotnya sama. Karena semua sudah sesuai porsinya. Mungkin yang lain tantangannya LDRan, ada juga yang harus sambil kerja, yang lain mungkin dicoba dengan kehidupan bersama mertua, dan banyak lagi. Jadi memang jangan dibanding-bandingkan kehidupan pernikahan kita dengan orang lain. Allah adil kok dalam menempatkan hambaNya di masing-masing keadaan. 

Buat yang baru nikah kaya saya, semangat untuk terus beradaptasi dan menjalani sebaik-baik peran. Karena setiap peran pasti punya makna.  

Semangat! Terimalah keadaan, banyak-banyak bersyukur, tetap berikhtiar dan tawakkal. Semoga cerita saya bisa jadi pelajaran :)

Purworejo, 2 Februari 2017.

jurnalbirutua  asked:

Kakak percaya kan kalo setiap orang punya breakdown momen nya masing masing yang membuat dia bisa jadi kehilangan banyak hal? Kehilangan kepercayaan, materi, teman, bahkan reputasi baiknya. Kakak, aku masih berusaha mencari kesana kemari, berbincang dengan orang-orang banyak, merenung untuk berfikir lebih dalam tentang atas apa yang telah aku alami. Kak, bagaimana caranya memaafkan orang lain termasuk diriku sendiri? Bagaimana ikhlas merelakan yg tlh terjadi? Aku masih blm bs bangkit seutuhnya.

@jurnalbirutua 

Percaya, walaupun mungkin tidak semua orang mengalami itu. Saya sendiri pernah mengalaminya beberapa tahun lalu ketika kena penyakit parah. Dokter kesayangan saya memberi petuah simple, “kamu boleh kehilangan apapun. Orang tua, suami, pekerjaan, atau apapun. Tapi kamu ga boleh kehilangan Tuhan.” As long as we have God, all of those damn problems will solve, in God ways, of course.

Mungkin maksudmu bagaimana RIDHO merelakan kali ya? Karena kalau ikhlas, maknanya bukan melepaskan/merelakan, tetapi melakukan sesuatu tanpa keinginan timbal balik.

Oke. Sebenarnya pertanyaanmu sangat sulit untuk saya jawab. Pertama, saya ga kenal kamu jadi ga berani memberikan saran. Kedua, setiap orang membutuhkan cara move on yang berbeda2. 

Tapi coba aku share apa yang selama ini aku pahami. Jangan ditelan mentah2 ya, ambil yang cocok; buang yang tidak cocok.

1. Hati2 berbincang dengan orang, terutama mengenai masalahmu. Pandai - pandai memilih tempat berbincang. Tidak semua orang mau memahami kondisimu, tidak semua orang punya kapasitas yang cukup untuk membantumu, dan tidak semua orang punya sudut pandang yang netral. Kalau kamu salah memilih, bisa jadi malah makin membuat perasaanmu menjadi negatif tanpa ada solusi.

2. Merelakan sesuatu, lagi - lagi kembali pada konsep keyakinan kita pada Tuhan. Semua yang terjadi di dunia ini dalam kekuasaan-Nya. Jika kita percaya itu, kita akan lebih mudah merelakan. Percayalah, jika kita mau belajar menerima setiap takdir, banyak hal - hal baik yang akan terjadi di belakang hari dan akan lebih kita syukuri *pengalaman pribadi*.

3. Memaafkan, saya sendiri belum bisa, terutama memaafkan diri sendiri. Tapi mungkin kita perlu belajar lebih ramah pada diri sendiri; tidak terlalu keras pada diri sendiri dan mau menerima bahwa kita cuma manusia yang banyak batasnya. Yang bisa kita lakukan adalah move on dan berbuat yang terbaik untuk masa-masa selanjutnya, dan belajar dari kesalahan lalu.

Memaafkan orang lain lebih mudah. Satu - satunya yang selama ini sedikit menolong saya adalah dengan tidak peduli pada hal buruk yang telah dilakukan orang lain pada saya. 

Kata orang bijak, jangan kau gantungkan mood dan sikapmu pada perbuatan orang lain. Jika orang lain berbuat buruk padamu, itu urusan mereka. Urusanmu adalah mengelola perasaan sendiri untuk belajar dan move on demi memperbaiki hari esok.

Yang terakhir juga nasihat buat diri saya sendiri sih, ahahaha. 

Anyway thanks for asked, dan saya harap kamu tidak membuang2 waktu dengan terus terjebak masa lalu tanpa bergerak kemana - mana.

Kalau kata dosen saya, waktu adalah barang ekonomi yang sangat mahal. Kamu ga akan bisa mendapatkannya kembali dengan cara apapun. 

Modal ‘waktu’ itu jangan dibuang percuma. Korbankan saja perasaan (negatifmu itu), karena perasaan adalah capital cost yang masih bisa diusahakan keberadaannya dan diperbaiki. Sedangkan waktu tidak.

Semoga kamu segera kembali bersemangat dan berjalan, melanjutkan hidup yang biasanya jadi lebih hebat setelah breakdown momen.

Dr. Zakir Naik Menjawab

Mengapa Orang Kafir Sebaik Apapun Tetap Masuk Neraka…? Jawaban luar biasa ini membuat seorang Pemuda Liberal Terbungkam seribu bahasa…..!!!!

*Pemuda Liberal* : Ada orang baik banget, anti korupsi, bangun masjid, rajin sedekah sampai hidupnya sendiri dikorbanin buat nolongin orang banyak, terus meninggal dan dia bukan Muslim, Dia masuk surga atau neraka….?

*Dr. Zakir Naik* : Neraka…..!!

*Pemuda Liberal* : Lahhh…..? Kan dia orang baik. Kenapa masuk neraka….??

*Dr. Zakir Naik* : Karena dia bukan Muslim….

*Pemuda Liberal* : Tapi dia orang baik. Banyak orang yang terbantu karena dia, bahkan umat Islam juga. Malah Bangun Masjid Raya segala. Jahat bener deh, Tuhan kalau orang sebaik dia dimasukkan neraka juga.

*Dr. Zakir Naik* : Allah tidak jahat, hanya adil.

*Pemuda Liberal* : Adil dari mana….?

*Dr. Zakir Naik* : Kamu sekolahnya sampai tingkatan apa….?

*Pemuda Liberal* : saya ini Master Sains lulusan US , kenapa….?

*Dr. Zakir Naik* : Kenapa bisa kamu dapat titel Master Sains dari US….?

*Pemuda Liberal* : Ya…karena kemarin saya kuliah disana, diwisuda disana.

*Dr. Zakir Naik* : Namamu terdaftar disana…? Kamu mendaftar…?

*Pemuda Liberal* : Ya jelas dong tuan, ini ijazah juga masih basah.

*Dr. Zakir Naik* : Sekiranya waktu itu kamu tidak mendaftar, tapi kamu tetap datang kesana, hadir di perkuliahan, diam-diam ikut ujian, bahkan kamu dapat nilai sempurna, apakah kamu tetap akan dapat ijazah….?

*Pemuda Liberal* : Jelas enggak, itu namanya mahasiswa ilegal, sekalipun dia pintar, dia nggak terdaftar sebagai mahasiswa, kampus ane mah ketat soal aturan gituan.

*Dr. Zakir Naik* : Berarti kampusmu jahat dong, ada orang sepintar itu tak dikasih ijazah hanya karena tidak mendaftar…..?

*Pemuda Liberal* : terdiam…😌

*Dr. Zakir Naik* : Gimana….?

*Pemuda Liberal* : Ya nggak jahat sih, itu kan aturan, salah si mahasiswa kenapa nggak mendaftar, konsekuensinya ya nggak dapat ijazah dan titel resmi dari kampus.

*Dr. Zakir Naik* : Nahhhh…..!! kalau kampusmu saja ada aturan, apalagi dunia dan akhirat. Kalau *_surga diibaratkan ijazah_*, *_dunia adalah bangku kuliah,_* maka *_syahadat adalah pendaftaran awalnya._* *Tanpa pendaftaran awal, mustahil kita diakui dan dapat ijazah, sekalipun kita ikut kuliah dan mampu melaluinya dengan gemilang.* Itu adalah aturan, menerapkannya bukanlah kejahatan, melainkan keadilan.

*Pemuda Liberal* : kembali terdiam, tanpa berkata-kata….🤔

Semoga Allah senantiasa menetapkan iman & islam kita jg keluraga kita, aamiin..

*Semoga bermanfaat*
MasyaAllah…
[Percakapan telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh seseorang, Jazakumullah Khoir]

#copas

Masa Kecil.

“Kak, aku lagi ikutan challenge gitu, writing challenge. Besok temanya tentang masa kecil, nanti kakak ikut ya.”

Gitu kata @creativemuslim

Iya-ku bulat waktu itu. Meng-iyakan akan ikut nulis tentang masa kecil.

Tulisannya udah aku baca. Page baru udah aku buka. Syit. Ternyata aku gak begitu suka dipaksa mengingat masa lalu. Karena yang selama ini aku tulis adalah hal-hal yang ter-ingat. Terlintas dipikiran.

Kalau tiga hari ini aku gak nulis apa-apa, salahkan dia. Karena aku malah kebanyakan mengingat apa yang aku lakukan dulu di masa kecilku. Wkwkwk.

Sebenernya sih karena agak sedikit “tertekan” dan “cemburu” pada masa kecil Al (panggilan si krietifmuslim tadi Al.) Karena masa kecilku gak seru kayak masa kecilnya. Hahaha.

Masa kecilku sama kayak yang lain. Main kelereng, main lempar-debug, main kasti, main cakbur, main patok lele, main mainannya mbak No dan gak jarang disuruh pulang duluan, atau mbak No pergi main diam-diam biar aku gak ikut dia main (jahat!), main jual-jualan, atau jualan beneran.

Lah, terus keinget sesuatu!

Jadi tu, tetangga kanan rumahku punya pohon jambu air. Jambunya pink, berbuah, banyak sekali. Ada bagian pohonnya yang masuk ke halaman rumahku, aku sama Mbak No minta izin buat minta jambu, “Makwo, bagi jambuuuuuu…” jaman dulu tuh kalo mau minta tinggal teriak aja, terus Makwo jawab juga dengan teriakan dari dalam rumah. “Yaaa…ambik lah…”

Semangat tuh, aku sama Mbak No panen jambu. Terus jambu yang ada di tusuk pake tusuk sate, disusun 3. TERUS DIJUAL DI DEPAN RUMAH. Wkwkwk. Mayan laku.

Nah, Makwo keluar rumah, ngeliat jambunya dijualin, Makwo mendekat…katanya kalo buat dimakan sendiri gapapa, tapi jangan dijualin. Wkwkwk lawak.

Oh! Ada lagi!

Jadi tuh, ada lagi, kita manggilnya “Mama Kak Leni.” Karena yang kita kenal kak Leni-nya hehe. Rumahnya di RT sebelah. Di halaman rumahnya ada daun cincau. Terus aku sama Mbak No dan teman yang lain suka mintain daun cincau itu. “Mama Kak Leni…bagi daun cincau…” terus dijawab dari dalam rumah, “Ya…ambik lah…”
Gatau aja kalo yang kita ambil lumayan banyak. Wkwkwk
Sampai di rumah, daun yang ada di cuci, terus diremes-remes gitu sampai keluar airnya. Duh, aku lupa diapain aja. Tapi nanti bisa jadi cincau beneran. Terus kami makan wahahaha.

Hhh…gak kerasa itu udah lama kejadiannya. Makwo Elok dan Mama Kak Leni udah gak ada. Semoga jambu yang Makwo bagi ke kami, daun cincau yang Mama Kak Leni kasih ke kami dengan ikhlas jadi saksi kebaikan semasa hidupnya.

Yah, jadi inget macem-macem. Hehe.

Apartment

*13 Amp Fuse Part 1*

Aku pulang kerumah agak lewat. Banyak kerja dipejabat. Anak2ku serta isteriku dah tidur. Aku lapar tapi makanan dah takde lagi. Aku cari benda2 yang boleh digoreng tapi takde pula. Cadang makan diluar ajelah. Aku mandi dan solat jap. Aku keluar berpakaian baju Melayu kuning cerah. Memandu keTampoi. Aku ternampaklah meja dihujung gerai itu. Best juga positonnya. Jauh dari orang ramai. Bolehlah relax2 sikit. Aku duduk memesan makananku. Ada seorang lelaki memandang2 kearahku. Dia sepertinya tersenyum2 kesini. Aku balas ajelah senyumannya. Tak rugi apapun.
Dia tersenyum lagi. Mengangkat pinggannya menjemputku makan. Aku angguk aje dan senyum. Aku tak kenal siapalah. Kopi pekatku datang. Aku hirup kopi sedap. Angin sejuk mendayu terasa dibadanku. Dia masih memandangkulah. Automatik pula aku angkat cawan kopiku menjemputnya. Dia senyum gembira. Aku memandang kearah lain. Makananku sampai. Aku minta nasi ayam goreng dan sup tomyam serta kerang sepinggan. Nampak seleralah makannya nie. Baunya best. Pedas powerlah. Baru aje aku habiskan nasi goreng lelaki itu tiba2 aje tercegat disebelahku.
Aku tak perasaan dia mendekatiku dari tadi. Aku kelaparanlah. “Sedap NasiAyamGorengnya tu?”, dia tanya. Aku mengunyah pantas dan telan. “Aaah. Ye. Memang sedap”, kataku cam nak terbegek. Terperanjat dia disisiku. Aku minum air kopi. Dia tarik kerusi tersenyum2. “Boleh Abang duduk sini?”, katanya. Belum sempat nak jawap dia dah duduk bersilang2 tangan sebelahku. “Sorang aje ke. Mana yang lain2?”, dia tanya. Tomyam dan kerang dah sampai. Bau harum naik menusuk dihidungku. Panas menaikkan nafsu makanku. “Lain siapa?”, aku tanya. Tak tahu maksudnya.
“Maksudnya. Anak ke. Isteri ke. Atau masih single lagi?”, dia tanya. “Aah. Sorang aje. Isteri saya mogok masak hari ini. Anak2 dah tidur semuanya. Laparlah”, kataku. “Banyaknya order. Gagah betul”, katanya. Dia terperanjat melihatku memesan semua nie. Dia menepuk belakangku. “Boleh abis nie?”, dia tanya. “Entahlah Abang. Tadi rasa lapar sangat. Abang ikutlah makan sama”, kataku menjemputnya sekali. Rasanya takleh abis pula. “Abang no problem. Boleh ajelah. Makanan jangan ditolak”, katanya. Dia ketawa2 kecil dan menepuk2 bahuku lagi. Aku order kopi buatnya. Kami berbual2 cerita pasal perkara2 biasa.
“Abang tinggal daerah sini je. Kalau jalan kaki tak sampai 15minpun. Tak jauh”, katanya. Dia pemandu bas Express. Cuti hari ini dan esok. Namanya Yusoff 47tahun orang Trengganu. Tinggal sorang aje menyewa diJB nie. Isteri dan anaknya semua disana. Badannya agak tegap dan kulitnya gelap serta bermisai tipis. Dia setinggiku juga. Tangan dan kakinya juga berbulu. Rasanya badannya berbulu jugalah. Dia bergaya dengan T-shirt dan seluar pendek. Aku memperkenalkan diriku. Status dan apa yang perlu dia tahu aje. “Oh. Muda lagi tu. Badan masih baik lagi. Masih best dipakai”, katanya memuji2ku.
Aku tersenyum mengiakannya. “Kau dari luar Tampoi. Jauh juga merantau cari makan”, katanya. Aku menghirup sup TomYam yang pedas. “Biasalah Abang. Kalau nak barang baik kenalah cari. Takkan ianya datang bergolek lak”, kataku ketawa2 kecil. “Betul tu. Kalau barang2 baik kita kena usaha”, dia bisik ditelingaku. Tangannya menepuk menggosok2 pehaku. Kami bergelak perlahan. Kami minum kopi hangat. Rasanya dah nak gerimislah tapi supnya tak terhabis. Kerang banyak pula. Aku suruh dia bawa pulang aje. Bungkus kerang2 itu. Setelah abis kopi aku pergilah bayar untuk pulang.
Dia mintaku menghantarnya kerumah. Aku no problem aje. Bukannya jauh sangat. Kesian pula dia kena jalan kedalam masa hujan2 ini. Gerimis jadi lebat. Aku menyuruhnya tunggu digerai. Tadi aku park keretaku jauh sikit dari gerai. Berlari2lah keparking tadi. Basah kuyuplah aku kena hujan. Aku memandu kegerai dan diapun naik. “Kesiannya kau Man. Basah2 kuyuplah. Abang susahkan kau ajelah Man”, katanya sebaik aje dia masuk kedalam. “AbgUsop. Tolong ambilkan tuala kecil kat dalam sana tu”, kataku. Memandu dalam hujan lebat gini kenalah berjaga2 sedikit. Memang kuyup2 jugalah.
Baju Melayuku yang tipis dah melekat2 pada dada serta perutku. Abis bulu2 dada dan pusatku terlihat ketara. Bajuku jarang pula. Lagi2 kena air. Hujan semakin lebat gila. “Biar Abang lapkan. Kau pandu ajelah”, katanya menyuruhku melihat kedepan. “Baiklah AbgUsop”, kataku memandu2 dengan perlahan. Traffic heavy sikit dalam hujan lebat gini. “Basah2lah badan kau nie”, katanya mengesat badanku menekap2 dada luasku. “Bulunya sampai nampak semua nie. Hehe. Banyaknya Man”, katanya. Menekap2 keperutku. Aku tersenyum aje. “Aahlah. Sebab itu saya nak buat sendiri tadi. Seganlah”, kataku.
Dia menekap2 keperutku. Baju Melayuku semakin melekat2. Bulu2 pusatku ketara. “Gerak sikit Man”, katanya. Aku tergerak2kan badanku. Dia menarik hujung bajuku dan lap perut basahku. Batangku menegang sedikit terparking kekiri dalam seluar tipisku yang basah dah jarang2 nie. Dia lihat tersenyum. “Banyak betul bulu kau nie Man”, katanya menekap2 dipehaku. Tangannya terkena konekku yang dah keras tegang kesejukkan. Meraba2 serta menggosok2 sikit. “Alamak. Adiknya dah naiklah. Sedaplah nampaknya Man”, katanya tersenyum asyik menekap disitu.
“Sejuk agaknyalah tu AbgUsop. Hehe. Biarlah saya buat sendiri”, kataku mengambil tuala darinya. Aku letak diatas dashboard. Suasana sepi seminit. Aku memandu pelan2. Gelap juga kawasan rumah sewanya. “Man. Depan belok kanan”, katanya. Ada orang tiba2 lari melintas kami. Terkejutlah aku dibuatnya. Aku berhentikan keretaku. Dia mengetuk keretaku. Marah2 dan terus lari lagi. Aku pandu berhati2. “Yang nie ke?”, aku tanya. “Aah”, katanya. Angguk. Senyap. “Man. Abang nie tak tahu sangatlah pasal barang2 elektrik rumah. Boleh Man tolong tengok2kan jap bila sampai rumah Abang nanti?”, dia tanya.
“Okay. Nanti kita tengok dulu”, kataku. Aku bukannya tahu2 sangat tapi bolehlah sikit2. Kami sampai dirumahnya. Kami masuk. Dia memberikanku tuala. “Tunggu jap Man. Abang nak keatas jap”, katanya. Terus naik. Aku duduk disofa dan ambil majalah. Bacalah ala kadar. 5min. Lama juga dia tak turun bawah. Dari tangga dia memanggil naik melihat barang2 electricnya yang rosak 2tu. Aku naik keatas. Biliknya. Ada katil besar. Terang benderang biliknya. Cantik dan teratur. Warnapun garang2. Merah dan kuning. Macam bilik orang2 mudalah. Ada bilik air yang luas bersebelahan biliknya. Ada bathtub.
“Ini rumah sewa ke?”, fikir2ku. Ada aircon tingkap yang kecil serta kipas bersebelahan katil besarnya. Katanya airconnya rosak. “Semalam Abang pakai okay aje. Petang tadipun okay. Sebelum makan itulah tak okay2 pula. Abang pakailah kipas dari bilik bawah nie. Abang ON kipas nie tapi tak gerak2 juga. Abang tak tahu nak buat apa. Man boleh tolong tengokkanlah. Abang minta tolong nie”, katanya merayu2ku “Baiklah. Saya kena tengok2 dulu nie. Abang ambil screwdriver dan kain buruk”, kataku. Dia memberiku remotenya dan keluar mencari barang2 lain. Aku memicit2 remotenya.
Takde apa2pun terjadi. Dia tiba dengan kain buruk serta screwdriver yang lapuk. “Abang turun buat air dulu. Man buat kerja tu pelan2lah. Tak payah terburu2. Lama2 sikitpun takpe. Bukannya ada orang disini”, katanya. Aku angguk aje. Dia kebawah. Aku cuba remote aircon lagi. Takde apa2. Aku check wall socketnya. Cablenya kesana. Aku menekan butang diaircon. Takde perubahan juga. Otakku dah buntu. Hujan lebat sejuk diluar tapi bilik terasa cam panas2 pulalah. Tingkapnya ditutup langsir yang tebal lagi. Patutlah takde angin masuk dari tadi. Aku takleh concentrate sangatlah kalau berpeluh2 nie.
Aku terror aje buka tutup aircon macam repair technician. Padahal aku tak tahu apapun pasal aircon. Aku laplah pakai kain buruk. Tengok cam takleh handle aje. Aku rasa lebih baik aku tutup balik. Aku cuba remote lagi tapi tak berhasil2. Aku terus aje give up ngan aircon nie. Aku cuba kipasnya pula. Cable kesocket dinding. Switchnya ON. Aku tekan2 butang semua tapi tak berputar. Aku dah berpeluh2 nie. Makin terasa panas lagi biliknya. Aku bukalah bajuku nie. Dengan berseluar Melayutipis dan jarang nie aku cubalah sekali lagi. Kalau takleh juga aku nak give up.
Dah terlampau panaslah. Aku takleh fikir bila panas2 gini. Aku duduk2 dekat kepala katil dan menarik kipasnya nie. Sebaik aje punggungku mencecah katil empuknya ada sesuatu berguling keluar dari bawah bantal. Aku capai barang itu. Ada TestPen. Ianya sejenis screwdriver yang digunakan oleh elektrician mengecheck kuasa disocketnya. Aku angkat bantal kepalanya dan dapati dua 13AmpFuse. Aku tersenyum2 sendiri. “Dia nie mesti sengaja nak tahan aku nie. Aku rasa dia mesti mahukan sesuatu dariku”, kataku. Aku guna TestPennya dan membuka plug kipas.
Ternyata didalamnya tiada fuse. Aku letak fuse balik dan pasang kesocket. Kipasnya berpusing. Dah sah2 dia nie punyai motif yang tertentu. Aku pasang fuse keplug Aircon yang kosong juga. Aku picit remotenya dan Aircon bergeraklah. “Sedapnya kipas dan Aircon nie”, kataku menikmati angin yang meniup2 dari kipas. “Oh dia nie betul2 bijaklah sampai buka2 fuse. Salahnya dia tak sembunyikan betul2”, kataku. Udara sejuk dari aricon menderu2 tapi peluh2ku dari tadi masih banyak jatuh dari badanku. Aku matikan aje switch keduanya supaya dia tidak tahu aku sudah tahu plannya.
Dia cam sengaja buat air lama2 gitu. Sekitar 10min aku terdengar2 tapak kakinya naik tangga menuju sini. Aku naik keatas katil menunggunya. Aku letak remotenya atas katil dengan TestPennya disebelah. Dia masuk angkat kopi bercawan besar. Dia tak perasaan remote atas katil. Dia meletakkan kopi itu dimeja sebelah katil. Aku memerhatikannya aje. “Badan kau nie berpeluh2 Man. Boleh repair tak?”, dia tanya tersenyum2 gembira melihat badanku berpeluh tanpa baju. “Aahlah. Panas sangatlah bilik nie. Tak tahanlah saya. So saya bukalah baju ini. Okaykan. AbgUsop tak kisahkan?”, kataku.
Memang sengaja mengumpannya. Nak tahu apa sebenarnya yang dia mahukan. “Tak apa. Asalkan Man selesa buat kerja2 itu”, katanya tersenyum lagi. Aku memanggilnya duduk sebelahku dikatil dekat remote. Dia datang meletakkan punggungnya yang berat diatas katil. Remotenya ternaik2 sedikit dan TestPen itu menguling2 kearahnya. Dia terkejut2. Aku tersenyum ajelah. “Hehe. Mana Man dapat TestPen ini. Tadi Abang cari2 tak jumpalah”, katanya. Terketar2 sikit. Tak realistik terus. Tak tahu pasal electrical tapi tahu pula pasal TestPen nie. “Entah. Tadi ada kat tengah2 katil nie”, kataku.
Bohong padanya. Dia tersenyum tersipu2. Dia bermain2 dengan TestPennya itu seperti serba salah. Dia terdiam sebentar. “Bilik Abang nie panas betul iye. Berpeluh2 badan saya. Tengoklah nie. Bulu dada saya abis basah. Sampai peluh dari punat keras dada saya nie menitis jatuh. Panas betul AbgUsop”, kataku mengesat peluh dadaku memintal2 punatku. Aku membasah2kan seluruh tubuhku yang terbiar dan aku pastikan dia melihat semuanya. Aku bawa jari2ku kepusat memutarkan tanganku disitu. Aku menarik2 bulu pusatku. Dia memerhati dengan ghairah.
Aku sengaja ingin memastikan bahawa semua tipu helahnya adalah kerana dia mahu berselingkuh denganku. Aku gerakkan jari2ku. Matanya liar mengikutinya penuh khusyuk. Melihat jari2ku meramas2 daging tebalku atas seluar tipisku. Belum keras lagi tapi cukup menggiurkannya. Dia amat terpegun sekali. Mulutnya ternganga2 seperti menelan2 sesuatu. Perlahan2 aku masuk tanganku dalam seluar meraba2 batangku beberapa saat. “Konek niepun berpeluh2lah AbgUsop. Kalau bilik ini sejuk sikit kan bagus ye AbgUsop. Baik kita pasang kipas dan airconnya. Biar kering”, kataku menekan butang kipas.
Blade kipasnya berputar2. Aku picit remote. Airconnya berbunyi2. Hawa dingin menderu2 keluar. “Sedap dan dingin. Betul tak AbgUsop”, kataku dengan suara yang paling seksi boleh aku lakunkan. “Kalau sejuk2 gini baring2 lagi sedap;ah”, kataku baring mengerak2kan kakiku nakal kecelah kelengkangnya. Cubalah menyetim2kannya. Dia yang memasang perangkap. Aku cuma laksanankannya. Dia diam sahaja. Dia seperti melihat video. Matanya terbeliak2 memerhatikan gerak2ku. Terpesona dengan apa yang dilihatnya. Memang aku sengaja nak membuatnya rasa bersalah.
Udara dalam bilik menjadi semakin dingin. “Hm. Sedapnya Abang. Argh”, kataku meneran2 meraba2 dagingku dalam seluar. Dia diam ghairah memerhatikan gelagatku. Terpegun agaknyalah. Aku menjeling padanya. Batangku dah mengeras2 sedikit. Membuka zip dan mengeluarkan daging nakalku. Menggerak2kan batangku. Parking ketepi pehaku agar dapat dilihatnya. Dia menelan air liurnya keenakan. “Hm. Ooh. Sedapnya. AbgUsop. Argh. Hm. Sedapnyakan?”, kataku. Meneran2 penuh sexy buatnya. Menayang2kan batang panjangku yang tebal depan matanya.
Aku membuatnya lebih ghairahkanku. Aku menekan2 konek kerasku menggerakkan agar susuk batangku lebih jelas. Memintal2 punat dadaku lagi. Matanya terbeliak. Betul2 gila jadinya. “Okaylah Man. Abang salah. Abang mengaku2 salahlah”, katanya dengan kuat tapi aku sengaja meneruskan adengan berahiku. “Sudahlah Man. Abang mengaku salah nie”, katanya. “Abang mengaku salah apa?”, kataku eksen tak tahu. “Abang keluarkan fusenya tu. Abang sengaja buat tipu2 helah ini semua pasal mahukan kau sangat disini. Maafkanlah Abang”, katanya terketar2 mendekatiku.
“Fuse apa nie. Abang keluar2kan apanya tadi. Tak fahamlah?”, aku tanya. Eksen terus. Aku melorotkan seluarku agar kelihatan semuanya. Batang kerasku terpamir sepenuhnya. Daging tebal yang mampat dan penuh mampu melemahkan jantungnya. Aku genggam batangku menggerakkan daging padatku kekiri dan kekanan menghala padanya. Meramas2 kepala konekku. “Argh. Sedapnya AbgUsop. Bestnya daging nie”, kataku melambaikan konekku kearahnya. Meneran2 sepuasnya tanpa belas iksan. “Abang keluar apanya. Fuse ini ke AbgUsop?”, aku tanya menekan2 tiang batang panjangku.
Meneran2 ghairah. Sengaja. “Ye ye. Man. Abang nak fuse tu. Please Man. Abang naklah”, katanya berulang2. Dia merayu2ku sepenuh hati ghairahnya. Mendekatiku menggerak2kan pehaku. “AbgUsop nak fuse buat apa pula nie?”, aku tanya menolak badannya kakiku. Memang kurang ajarlah. Tapi saja nak test2 dia. Dia terduduk kembali. Aku sengaja menarik menghulur2kan pelawaanku. Aku melucutkan seluarku bertelanjang bogel baring diatas katilnya yang besar ini. “Argh. Sedapnyalah AbgUsop. Rugikan kalau orang tipu2. Orang bohong2 mana boleh dapat fuse nie”, kataku.
Menggerak2kan kakiku meraba celah kelengkangnya. Dapat aku rasakan kekerasan dagingnya. Mencanak menginginkanku so desperate2. “Lagipun kalau nak fuse minta2 ajelah. Lagi senang”, kataku menggesel2 dagingnya dengan jari2 kakiku. Sedap rasanya barangnya. Aku gembira melihatnya bersalah dengan nafsu ghairah mendamba2kan dagingku. “Abang minta maaf Man. Maafkanlah Abang ye Man”, katanya merayu2ku lagi. Dia cuba merangkak2 mendekatiku. Kali ini aku membiar2kannya aje. Aku tersenyum2 gembira dapat menawan kalbunya.
“Abang minta maaf Man. Abang gersang sangat nie. Bila Abang jumpa kau tadi Abang jadi horny. Maafkan Abang”, bisiknya cuba menyonyot puting dadaku tapi aku tahan. “Eeh. Siapa pula cakap Abang boleh hisap nie. Pergilah sana. Buka baju itu betul2”, kataku mengarah2nya. Aku tahu dia betul2 rasa bersalah. Dengan pantas melangkah badanku bergegas membuka bajunya. Setelah telanjang2 dengan ghairah cuba mendapatkan konekku. Cuba menghisap2nya. “Eh! Nanti dulu. Kan kena hujan fuse nie. Nanti blow”, kataku. Saja mengusik2nya lagi.
“Pergi sana dan sediakan air panas kat tub. Man nak berendam dulu nie”, kataku memerintahnya. “Baiklah Man. Abang buat nie”, katanya terus berlari2 ketoilet tanpa berlengah lagi menyiapkan bathtubnya. Sekitar 5min dia datang. “Dah Man. Abang dah siapkan”, katanya. Aku bangun dan bergerak ketoilet. Dia ikut dibelakangku cuba memeluk2 badanku. Aku menepis2lah tangannya kasi suspen2 sikit. Biar dia rasakan. Memang bathtubnya dah sedia. Dia tercegat disebelahku. Lampu yang terang benderang dalam kamar mandi luasnya mempamirkan keseluruhan daging serta tubuh telanjang kami.
Aku tersenyum2 lihat susuk bogelnya. Menawanlah. Dia nie betul2lah my exact duplicate. Umurnya aje yang lain. Keseluruhan physicalnya serupa. Sama tinggi dan sama tegap. Bulu dadanya sedikit tapi banyak ditangan serta kakinya. Bulu batangnya dicukur abis. Togel menayangkan daging tebalnya. Batangnya dah keras abis. Sekeras konekku juga. Panjang dan gemuknya batang serupa. “Bestlah gini. Dapat sizenyaku. Dari kepala sampai kebatangnya serupa juga”, kata otakku. Cuma misainya je tak tebal. Aku genggam dagingnya. “Inikan fuse AbgUsop. Buat apa Abang nak cari2 fuse lain?”, kataku.
Aku ramas batang padat yang mengghairahkanku juga. Hangat dalam genggamanku. Terasa sedap juga kalau dinyonyot2. Dia tersenyum2 keserokokan menikmati sensasi. Dia cuba mencium2ku. Aku sambut ciumannya. Seminit dua aku lepaskan. Dia menarik menginginkannya lagi. Aku masuk kedalam bathtub dan baring menikmati kehangatan air panas. “Oooh sedapnya”, kataku. Dia berdiri tercegat ditepi bathtub tak bergerak kemana2pun. Agaknya dia takut aku marah2kannya lagi. “Abis. Kena panggil juga ke AbgUsop?”, kataku mengusik2nya.
Dengan pantas dia melangkah masuk kedalam bathtub dan baring diatasku. Kami berciuman lagi. Bergelut bercium2an erat ganas. Lama jugalah. Dia nie perakus sikit. Walau kasar namun sedap penuh sensasi. Bergelut2 dalam takungan air panasnya. Tepercik air mengikuti gerakan kami yang deras. Aku rasa dia rindukan isterinya agaknyalah. Meneran2 tak henti2 sekuat2nya. Hujan lebat diluar pasti akan menapis bunyi2an ini tapi berdengung2juga dalam ruang nie. 10min bergelut dalam air hangat. Sehangat ciuman hebat kami. Memang asyik hayal menggulung2 lidah.
Kami rehat sebentar berpeluk2an erat. Dia memeluk2 manja. “Man. Abang minta maaflah. Tak sangka kau nie bijak. Biasanya kalau orang2 lain Abang dah dapat main2kan”, katanya. “Takpe AbgUsop. Saya faham”, kataku mencium2 bibir dewasanya. Bibir berpengalam lama. Aku semakin ghairah mendapat balasan mulutnya yang hebat. Ghairah kami meninggi setiap detik. Dia menjilat2 segenap kepalaku walau ada buih sabun masih terlekat. Aku tarik getah penutup lubang bathtub. Air bergegas berputar2 turun mengosongkan bathtub nie. Aku memutar kepala paip.
Air pancuran bertahap minimal jatuh kebadan kami seperti tempiasnya air terjun. Dia manja merangkul dibadanku menyedut punat dadaku. Lidahnya memutar2 menggeli2kanku. Pintar bermain. Aku membiarkannya. Bergilir2 punat tebalku laksanakan sedutan ghairahnya. Dia menggigit manja. Dia beralih menjilat kepusatku. Dengan rakusnya dia menggigit2 memberi lovebites yang halus dimerata perutku. Aku memerhatikannya dengan asyik. Ramai orang diluar sana yang dah kawin tetap main dan rela berselingkuh dengan lelaki. Seperti kami sekarang nie. Dia tersenyum2 manja bangga.
Mungkin kerana kerap berselisih faham dengan isteri ataupun selalu berpisah membuatkan mereka memenuhi naluri nafsu sex mereka dengan batang jantan pula. Ramai lelaki yang berumahtangga bila meningkat dewasa pastinya ada titik keinginan merasakan kehangatan lelaki bersama. Mereka inginkan konek sebenarnya tapi malu menyatakannya. Aku tersenyum2 sendiri kerana telah menakluk ramai lelaki2 itu. Aku ketawa sendiri bila teringatkan aku juga dapat ditakluk mereka tu. “AbgUsop. Baik kita main kat katil ajelah. Dah rasa sejuk nie. Buah nie sampai kecut”, kataku. Dia angguk.
Kami berdiri. Dia ambil sponge menggosok2 badanku. Dari bahu hingga kekakiku. Tak terlepas celah2 juburku. Aku juga begitu. Sama2 tolong menolong. Masa berdekatan berdiri bogel berdua begini barulah aku terasa dia seperti bayanganku. Mungkin tak semuanya sama tapi tinggi dan barang2 lain serupa. Bulu. Batang dan perutnya. Aku tersenyum sendiri. Pasti merasa puas nanti kalau dapat main dengannya dikatil nanti. Kami membilas badan kami. Keringkan2 semua yang basah. Berjalan kekatil. Kipas dan aircon kecil itu masih terpasang lagi.
Aku duduk berdekatan kipas yang berputar2 mengeringkan rambutku. Dia cam dah tak sabar menyelit dicelah kelengkangku menghisap konekku yang kembang menebal dari air hangat bathtubnya tadi. Tersenyum bangga dagingku diagungkannya. “AbgUsop. Nak keringkan rambut nie. Tak sabarlah Abang nie”, kataku. Batang pajangku masih melekat padat didalam mulut dewasanya. Dia menyonyot2 menyedut2 puas. “Bolehlah Man. Abang gian2 sangat nie”, katanya sambung kerja terkutuknya dengan tekun. Memang pandai mulutnya menyonyot. Sedap gilalah.
Mana tak sedapnya kalau konek kita dihisap2 orang. Lagi2 orang lelaki. Ketawa sendiri. Isterikupun pandai hisap2 konekku nie. Aku membiarkannya aje sebentar lagi. Aku mengibas rambutku supaya lebih cepat kering. Daging tebalku dinyonyot dengan gelojoh. Sampailah kering rambutku. Barulah selesa nak romen2. Fikirkulah. Aku gerak2kan badanku ketengah katil. Kepalanya mengikuti tanpa melepaskan dagingku. Aku terkangkang2 luas agar lebih selesa2 sikit. Barulah aku bebas telanjang2 bulat. Dia begitu pasrah menghamba2kan kerongkongnya pada sebatang daging simpanan dikelengkang dewasaku nie.
Dia gerak2kan badannya mengikut gerakan konek panjangku. Punggungnya ternaik2 sexy. Matanya menjeling2 menggoda2 jantungku. Aku tertawan. Dia amat hilang khayal2 dengan dunia dagingku. Entahlah dunia. Walaupun aku sudah bertahun2 mempratikannya tapi aku masih tak menyangka daging nie boleh menundukkan sesiapa aje. Lagi2 lelaki dewasa sepertinya. Aku tersenyum menikmati sedutannya yang hebat. Nikmat sedutan ghairahnya membuatku tergerakkan punggungku hingga kehujung katil. Stim sangat. Dia terpusing2 mengikutku.
Aku rapatkan kakiku dipinggang sexynya. Tangannya menahan pehaku dari ternaik2. Aku baring terkulai hayal2 tak terkawal menikmati sedutan dewasa berpengalamannya. Dia semakin ghairah. Aku terikut keghairahan juga. Berjaya penyedutannya keatas daging padatku. Setiap gerakannya itu mulutnya tak lepas mencengkam2 batangku. Memang sangat handal. Kalau budak2 mentah sudah terbegek2 dengan daging padatku yang panjang tebalku nie tapi dia relax meneran2 sambil khyusuk melaksanakan kerjanya. Macam tak bersalah. Kakiku menjejak2 lantai.
Punggungku dihujung katilnya. Agak cramp sikitlah. Aku gerakkan kakiku. Aku terbaring penuh keghairahan. Nyonyot2an makin keras menggila2. Dia mencakar pehaku. Aku dibuat2 seperti perkakas. Diselak dan dikangkang2nya ngan luas. Namun begitu aku bangga dagingku dapat membahagiakan nafsu serakahnya. Aku sememangnya suka juga diperalat2kan gini2 juga. Aku tersenyum sendiri memandang siling biliknya. Mataku menjadi terkebil2 menahan stim yang tinggi pemberiannya. Asyiknya. Dia nie memang hebatlah dalam hal mengoral. Tak terlepas2 konekku dari tadi. Rasanya dia pakai gluelah.
Ketawa sendiri. Bahgian dalam pehaku dicakar2 juga. Sampai geli2 geram bercampur nafsu dia membuatku. Dia menjelingku dari sudut kelengkangku. Mulutnya menakluki daging padatku. Menguntum2 senyuman gaya bebas hisap konek tebal. “ Asyik betul sampai tak henti2 dari tadi menghisap daging Man nie. Lama ke Abang tak dapat daging?”, aku tanya. Memang puas mendapatkan mulut dewasa yang begitu pandai mengerjakan barangku ini. “Hm. Hmm”, katanya menjeling2ku lagi dan terus hayal kembali dalam dunia konekku. Biliknya semakin dingin. Jam didinding berdetik2 kedengaran sayu.
Hampir 45min jugalah dia mendera konekku. Hampir tak pernah mulutnya terbuka. Tak penat ke dia. Pandai betul mengawal nafasnya. Bukannya senang nak mengulum batang panjang dan tebal nie. Perlu ada practice yang amat banyak. Tapi aku pasti dia dah terlalu pandai part2 hisap menghisap nielah. Pasti dia sudah berpengalam bertahun berselingkuh jantan. Angin keluar dari Aircon setnya dah membuatku menggigil nie. Aku mengambil bantal menutup2 badanku. Dia masih tak puas2 lagi dengan nyonyotannya ghairahnya. Aku melihat2 sekitar biliknya.
Memberangsangkan juga warna2 yang dipilihnya. “Siapa yang pilih warna2 yang garang kat dalam bilik nie AbgUsop?”, aku tanya raba2 katilnya yang bertilam tinggi dan bersalut cadar tebal. Warnanya pun garang2 juga. “Itu exBF Abang dulu yang pilih tapi Abang nak tukar warna lain pulalah”, katanya sambung menyalai2 dagingku. “Sudahlah tu AbgUsop. Tak penat2 ke. Buatlah kerja lain sikit. Rim jubur atau naik atas nie. Benda nie dah keras baliklah”, kataku memutar punat2ku. Seperti dipukau2 dia melepaskan batangku mengangkang2kan kakiku luas. Menolak kearah badanku.
Punggungku menjungkit2 naik. Aku tersenyum2 puas menantikan mulutnya. Aku memang suka. Dia menjilat2 lubangku dengan lembut teratur. Menjilat2 dari bawah naik keatas. Berkali2. Angin dingin dari kipas menusuk masuk kedalam lubang juburku. Dia mengulangi jilatan terapinya. Menjolok lidahnya tapi lidahnya pendek. Tak masuk sangat. Tak bestlah. “AbgUsop. Pakai ajelah jarinya”, kataku. Tanpa berlengah dia menjarikan lubang najisku. 15min mengaisnya. Tempat yang busuk itu yang sedap2. Dia merangkak naik keatasku menjilat2 dari pangkal konek hingga kepusat dada dan tengokku. Memang hebatlah.
Aku memeluk2 erat badannya yang sekeras2 dan sebesar badanku. Terasa puaslah memeluk2 badan yang serupa. Mulutnya mencari tempat sensitif dibadanku. Banyak. Tapi aku masih boleh control lagi. Segenap kepalaku dibasahi airludahnya. Sejuk. Bibir tebalnya menyentuh bibirku menghairah2kanku. Aku kembali erotis mencium2nya. Sentuhan bibirnya mengasyikkan. Kami berciuman kembali selama sekitar 10min lagi. Tapi aku kepingin pula nak menghisap batangnya juga. Belum merasa2 lagi dari tadi. Aku menolaknya perlahan2. Dia melutut diatasku menantikan belas iksanku.
Batang berjuntainya yang mengeras2 sederhana menggoda2ku. Kami mulakan adegan ber69. Barulah aku best2 mendapat dagingnya sekarang. Aku mengulum dagingnya perlahan. Bestnya. Setelah mendapat konekku dia hayal menguasai batang panjangku seperti biasa. Hinggakan berbuih2 semua. Berkecah2lah air liurnya mengalir melimpah meleket dikelengkangku nie. Aku menyandarkan perutnya disebelahku dan memandang batang panjangnya. Sebiji macam konekku tapi cuma dibadan yang lain. Memegang2 dagingnya. Meramas. Memang betul size konekku yang tiap hariku pegang nie.
Gemuknya sama juga. Aku siap menghayal2kan menyalai dagingnya bagaikan menghisap batangku sendiri. Hatiku tergelak2 dengan sensasi ini. Seperti mabuk daging. Mencium kepala koneknya. Menjilat2. Mengulum2 kepalanya lagi. Memang sedap dan padat batangnya. Terasa mampat dagingnya bertahta dimulutku. Barulah tahu gilanya orang2 yang selalu menghisap dagingku. Memang ramai dari mereka yang menggilakan batang yang besar panjang tebal nie. Koneknya masuk semuanya dalam mulutku. Rasa cam nak terbegik juga. Heran jugalah.
Macam manalah mereka semua boleh handle konekku nie. Aku tersenyum2 sendiri memikirkannya. Aku menutup mulutku erat. Menyedut2 penuh. Pertama kali aku merasa konek yang sesedap ini. Mungkin kerana hayal2an menghisap konek sendiri yang membuatku lebih ghairah. Menyonyot dan menarik keluar batangnya. Power jugalah. Dagingnya mengeras2 gila. Terngiang2 digambaran hayalku menghisap konekku sendiri. Aku memulakan kulum2an pusingan keduaku. Sensasi juga. Terasa puas. Aku menggengam2 sedikit koneknya. Tak sekeras konekku lagi tapi takpe. Aku cubalah menyetim2kannya.
Aku mahu juga merasakan menghisap daging panjang keras gila. Selalu lihat orang menghisap konek yang keras membuatku lebih gian dengannya. Stim sangatlah. Aku menyedut2 ghairah kali ketiga. Koneknya mengeras2 sedikit. Keluar airmazinya sikit. Aku terhenti. Badannya tergerak2 juga bila aku menyedut2 dagingnya. Mulutnya masih menakluk batangku panjangku. Naluri ingin berbuat seperti itu membuak dalam sanubariku. Belum puas menghisap2 koneknya. Aku nyonyot berkali2 juga. Masukkan semuanya dalam mulutku. Menyedut2. Badannya bergerak2 memberi reaksi. Kerasnya menghairah2kanku lagi.
Mulutku tak lepas2 mengulum2 dagingnya. Sedang asyik menyedut2 batangnya aku terasa air dimulutku. Dia terpancut pula. Baru beberapa minit aje aku hisap2. Aku tak sempat lagi nak keluarkan koneknya. Airmani pekatnya mengumpul dalam mulut eratku. Dia meneran2 kesedapan menekap punggungnya rapat kewajahku. Aku tak tahu buat apa. Jadi aku menyonyot aje dapatkan sisa dagingnya. Dia terbaring lesu dan baring dikatil. Batangnya terkeluar. Airmaninya mengalir2 keluar dari mulutku. Wajahnya sayu serta sedih. Hampa. Dia mengeluh panjang. Nada yang mengecewakan. Aku jadi kesian.

*Nantikan 13 Amp Fuse Part 2 (LAST PART)*

“jadi Mas, mau dimasakin apa hari ini?”

Hari Ahad adalah waktu berbincang saya dengan Ibu. Sejak saya merantau, Ibu selalu berpesan jangan sering menghubunginya, karena hanya akan menambah rindu nya pada saya. Jadi lah Ahad kemarin kami berbincang tentang kejadian apa yang terjadi di rumah sederhana sekali itu. Rumah itu tak pernah sepi, walaupun kini hanya dihuni oleh sepasang kakek nenek berusia 80 dan 77 tahun.

Ibu bercerita tentang Adam yang mulai bisa berjalan, ponakan saya yang berusia setahun 10 Februari lalu. Bapak yang mulai pelihara jenggot karena ingin mengamalkan sunnah, dan keluarga yang masih gaduh. Hehehe…

“udah bisa masak semur ayam sekarang?” ibu bertanya  pada saya yang jangankan masak, makan saja bisa dihitung jari dalam seminggu. ppfftt

“udah Bu. Tapi rasanya masih lebih enak punya Ibu haha”

“lebih enak punya Ibu atau emang masakanmu yang gak enak? hahah., wong kamu belum jadi Ibu-Ibu kok mau enak kayak Ibu. Nanti kalau kamu udah jadi Ibu baru bisa bandingin masakanmu sama Ibu” 

kesombongan Ibu pada saya kambuh  -_-

“nggeh Bu…”

Ibu adalah tipe perempuan yang pantang membeli makanan di luar. Apalagi makanan cepat saji yang sekarang saya lihat malah banyak Ibu memberi anaknya sarapan makanan jenis itu. Fiuh. Saya pun tak menampik masih suka membeli nya. Tapi setelah saya bertanya alasan beliau memiliki prinsip “enak gak enak yang penting masakan rumah sendiri” saya mulai belajar untuk tidak akan membeli makanan cepat saji apapun alasannya!

“kenapa perempuan harus bisa masak?” saya pernah berdiskusi tentang ini dengan beberapa teman perempuan saya. Ada yang membenarkan ada pula yang menganggap ini hanya ajaran kuno karena sekarang sudah banyak rumah makan dan lebih enak dan praktis. Calon Ibu kekinian hahah prett..

Kata Ibu, perempuan harus bisa masak. Minimal ia tahu cara  menumis kangkung, menggoreng ikan, atau membuat sambal. Karena perempuan harus tahan hidup di segala kondisi dengan suami dan anak-anaknya. Jika kita berjodoh dengan lelaki yang berpenghasilan banyak, itu tak lantas membuat kita mengasumsikan bahwa kita boleh sesuka hati membeli makanan untuk dihidangkan untuk keluarga. Memasaklah, walau masakanmu itu rasanya seperti muntahan kucing. Hahaha… tapi ini ternyata bukan soal rasanya, namun soal bagaimana kita mencapai amalan kita sebagai seorang istri, Ibu, dan menantu di keluarga kita. Mungkin dengan membeli makanan di luar bisa dihitung sedekah. Namun sedekah seorang istri itu lebih dari uang yang kita keluarkan untuk orang lain. Sedekah istri itu ada di jerih payah nya memasak makanan yang manusiawi untuk keluarganya. Nilai tempe goreng yang sedikit hangus beda di mata Allaah (dan suami ehem) dengan tempe goreng mendoan yang kita beli. Berdoalah pada Allah agar menolong kita membuat tempe seenak beli di luar :D

Tentu boleh saja sesekali membeli makanan di luar. Tapi bagi Ibu saya, beliau lebih memilih untuk blajar membuat makanan itu sendiri sampai rasanya pas di lidah keluarganya. Tak apa bila setiap hari anak atau suaminya meminta makanan kesukaan meereka. Seperti saya, tak pernah lepas dari sambal goreng ati buatan Ibu. Hahaha…

Walaupun Ibu istri dari Bapak yang tidak pernah protes dengan apa yang Ibu masak, namun dengan senang hati Ibu membuatkan menu wajib untuk Bapak : tempe goreng. Pernah di warung langganan Ibu tempe habis, lalu Ibu pergi ke pasar pagi – pagi buta sendirian. Padahal saya bisa mengantarnya jika mau, namun ia langsung ke pasar yang agak jauh dari rumah dan membeli hingga 10 bungkus  tempe. Ketika ditanya kenapa beli banyak beliau bilang “takut kehabisan lagi, nanti Bapakmu makan apa?”

Ah, padahal Bapak tak pernah menyuruh beliau mewajibkan memasak tempe. Apapun akan beliau terima walupun itu hanya nasi dan garam. Tapi ini bakti istri pada suami, ini surga yang jarang saya lihat di rumah tangga orang lain, walupun itu di rumah tangga kakak saya.

Hikmahnya yang lain, jika kita berhasil memasak makanan kesukaan suami atau anak kita. Seingin apapun mereka makan makanan itu di luar, mereka akan lebih memilih meminta kita untuk membuatkannya daripada membelinya. Ah, trik Ibu yang lain adalah beliau bisa meminta masakan kesukaannya pada Bapak, karena Bapak tidak bisa memasak jadi ya harus beli. Wkwkwk…

Ibu juga bilang, dengan memasak sendiri kita bisa memastikan ke-halal-an makanan itu. Dari mulai ayam yang kita potong, sayur, dan beragam bumbu yang kita  campur ke dalam masakan kita. Tak jarang kita temukan makanan di luar ternyata mengandung ini dan itu. Belum lagi zat yang tak layak dikonsumsi. Perkara syubhat ini harus kita antisipasi dengan masakan yang kita buat sendiri.

Dari kecil saya terbiasa membawa bekal dari rumah. Selama 12 tahun  dari SD hingga SMA lauknya selalu sama. Nasi goreng ati ampela dengan telur ceplok setengah matang. Bosan? Jika itu beli pasti bosan, tapi anehnya saya yang minta menu itu pada Ibu, selalu sama, tak pernah bosan. Bahkan ketika kuliah saya sesekali membawa bekal yang serupa. Di situ beda nya!

Ibu juga mengumpulkan menu dan resep  masakan dari koran atau majalah bekas yang dia beli dari tukang loak. Artikel menu masakan itu dia gunting dan dia kumpulkan di satu buku. Namanya “kitab bahagia suami istri” wkwkwk…  anak-anaknya dulu mengira bahwa itu adalah buku terlarang karena ibu sangat menjaganya, ternyata itu kumpulan resep masakan hahaha…  mungkin generasi kita lebih mudah karena sudah bisa diakses via internet atau download aplikasi resep masakan :)

Jadilah perempuan yang bisa masak, sayang. Karena Allaah dan  Rasulullaah bersama perempuan yang bekerja payah demi keluarganya. Demi surga yang ada di rumahnya. 

Menjadi istri dan Ibu kekinian mungkin baik, namun menjadi istri dan Ibu yang baik itu lebih kekinian :)

“jadi Mas, mau dimasakin apa hari ini?”

Sering dicurhati temen kalau mereka galau soal jodohnya, baper liat temen-temen deketnya pada nikah sementara mereka calon aja belum keliatan dan bingung harus gimana?
— 

Saya, sering banget.

…lalu tiap kali ngingetin mereka supaya jangan dipikirin dan dikhawatirin, itu juga berarti penting buat ngingetin diri sendiri. Iya, bukan sok nasehatin, bukan. Tapi itu justru jadi pengingat buat diri sendiri juga supaya jangan terlalu khawatir soal jodoh, supaya jangan ngerasa sendirian belum ketemu jodoh.

hanifarihh  asked:

Mba kotak-nasi, tepatnya dua bulan yang lalu aku dibuat bingung dengan kalimat "mengalah untuk menang" sampai saat ini aku blm bisa memahami kalimat itu, setauku kalah ya kalah menang ya menang. Bisa tolong beri kejelasan supaya aku lebih mudah mengerti?

@hanifarihh. Menang itu konteksnya buanyak. Menurutku. Gak selalu berarti harus mengalahkan seseorang, gak selalu berarti pesta perayaan, atau perasaan bahagia karena lebih unggul dari lainnya, atau apa saja yg dilihat mata telanjang sebagai apa pun yg menguntungkan, menyenangkan. Iya bener. Kalah ya kalah, menang ya menang. Ini klo itungan hitam di atas putih.

Tapi seseorang yg mengalah untuk menang, dia gk cm mikirin kemenangan untuk dirinya sendiri. Buat dia gk penting menang, yang penting tenang. Caranya, mengalah. Walo keliatannya dia kalah, tp dia sebenernya menang, dia memenangkan sesuatu yg lebih penting dr gelar pemenang yg disematkan orang-orang: egonya sendiri.

Dalam “pertempuran” sebenarnya, dia gak kalah. Dia menang karena mengalah.

The Way I Lose Her: Stand Tiket

Apakah pertemuan kita ini hanya untuk berpisah lagi? Kelak jika kau punya waktu, kumohon bantu aku menjawab tentang apa yang harus kupunya agar cintaku bisa sekali saja kau balas? 

                                                    ===

.

Mungkin benar, meskipun kita selalu berkata bahwa kita mampu melewati semua masalah ini sendirian. Sebenarnya kita tak bisa. Kita tetap butuh orang lain. Jika bukan untuk mendengarkan, setidaknya untuk ada dan membuat kita lupa tentang beratnya masalah yang sedang kita derita.

Malam itu, kami kemudian melanjutkan lagi perjalanan untuk pulang menuju sekolah. Di sepanjang perjalanan, wangi martabak yang Ikhsan beli memenuhi mobil Cloudy hingga wangi Pandan-nya berangsur-angsur hilang. Kami bertiga terdiam, tidak ada yang berbicara. Ikhsan sendiri yang biasanya banyak ngomong sekarang lebih milih untuk diam. Gue hanya melihat lurus ke depan menahan kantuk, Cloudy masih duduk tegap di posisi yang sama, serius banget pegang stirnya kaya orang lagi lamaran kerja.

“Dim..” Tiba-tiba Ikhsan manggil gue dari belakang.

“Paan?”

“Sekarang jam berapa?”

Gue melihat ke arah jam tangan, “Setengah dua belas. Kenapa?”

“Kasian ya..”

“Apaan?”

“Dulu jam-jam segini, jam-jamnnya Sangkuriang degdegan candinya nggak siap-siap.”

CKIIT!!!
Tiba-tiba mobil Cloudy oleng.

“IKHSAN!!!”

JLETAK!
Cloudy langsung memukul Ikhsan dari depan menggunakan kaleng plastik warna kuning buat wadah kanebo itu.

“EH APAAN NIH KOK GUE DITEMPELENG?!” Ikhsan protes.

“Ngomong yang serius sekali-sekali kenapa sih?! Bikin nggak konsen aja!”

“Yeee terserah gue dong, ribut amat lu.”

“Udah diem!”

“Iye, bawel ah.”

Dan gue cuma bisa ketawa di kursi depan sendirian. Temen gue kenapa gini-gini amat ya otaknya. Kami melanjutkan perjalanan yang hanya tinggal beberapa belokan lagi sebelum pada akhirnya kami sampai di sekolahan. Karena saat itu Cloudy memilih memakai AC sehingga kaca mobilnya tidak dibuka, wangi martabak yang Ikhsan beli kian memenuhi mobil.

“Oi Clow.” Ikhsan nyeletuk lagi dari belakang, gue langsung geleng-geleng sambil nahan ketawa karena ada firasat nggak bener.

“APA?!” Jawab Cloudy galak sambil masih fokus melihat jalan yang sudah gelap itu.

“Buka jendela boleh ya?”

“NGGAK!!”

“Yaelah, nanti mobil lu bau martabak loh.”

“…”

“Boleh ya?”

“Yaudah dikit aja tapi. Gue matiin AC deh.”

“Oke.”

Ikhsan langusung membuka kacanya sampe bawah hingga angin Bandung yang super dingin malem-malem begini masuk semua ke dalam mobil.

“Ahhh… Segar….” Tukas Ikhsan sambil ngeluarin kepalanya ke luar jendela.

“SEGAR NENEK LO GONDRONG! DINGIN MONYET! TUTUP!” Kini gantian gue yang mukul Ikhsan pakai boneka Dashboard yang kepalanya bisa goyang-goyang itu.

“Rempong anjir elo! Lebih seger udara malam daripada udara AC.”

“Ya nggak harus dibuka semua juga setan.”

“Yang punya mobil aja kagak protes ah.” Balas Ikhsan.

Gue tidak membalas lagi ucapan Ikhsan, makin malem kayaknya Ikhsan makin nyebelin. Jadi lebih baik gue diam aja deh sambil menaikkan kerah jaket semakin tinggi biar nggak masuk angin.

“Dim.. Dim..” Lagi-lagi Ikhsan manggil gue.

“Paan sih? Lama-lama gue tabok nih!”

“Gue jadi kepikiran deh.”

“Apa?”

“Kira-kira Bard Pitt pernah nawar duku juga nggak ya?”

“HAHAHAHAHAHAHA..” Gue cuma bisa ketawa di depan sedangkan Cloudy di samping gue cuma bisa geleng-geleng.

“Ah bosen gue!”

“Napa sih elu rusuh banget malem ini?” Tanya gue heran.

“Banyak pikiran cuy.”

“Masalah wanita lagi?”

“Hooh. Btw udah jam segini, lo mau nginep di sekolahan?”

“Kagak ah, nggak bawa baju ganti. Lagian gue pengin istirahat banget. Capek seharian ini sumpah deh.”

“Balik dong?”

“Iya kayaknya.”

“Rumah lo kan jauh dari sekolah. Ke rumah Ipeh aja gih.”

“BANGSAT LO NGAJAK BERANTEM HAH?!”

“Hahahaha gitu aja marah lu. Sensitif amat kaya klitoris.”

Sedang asik-asiknya ngobrol berdua, tanpa sadar ternyata kami sudah sampai di depan sekolahan. Begitu mobil Cloudy datang, supirnya yang daritadi menunggu di depan gerbang sekolah langsung nyamperin. Kasian amat supirnya Cloudy, padahal Bandung malem ini kan dingin banget, tapi dia rela nunggu Cloudy pulang di depan gerbang.

Supir Cloudy langsung mengambil alih untuk memarkirkan mobil, sedangkan kami bertiga langsung turun. Depan gerbang yang tidak begitu terang lantaran lampionnya hanya sedikit membuat sekolah terlihat lebih seram malam-malam begini. Dari jauh gue masih melihat beberapa anak panitia Bazzar lagi asik nongkrong sambil rokok-an di warung jongkok sebrang sekolah. Beberapa lagi ada yang masih sliweran di sekolah gara-gara sibuk ngurusin dekor yang udah mepet.

Yang lain kerja, lah kami bertiga malah asik jalan-jalan. Benar-benar luar biasa. Tapi nggak papa deh, kalau jalan bareng Cloudy pasti nggak akan kena semprot sama senior. Pasti aman.

Kami bertiga masih berdiri di depan gerbang. Ikhsan masih setia menjinjing dua keresek martabak, Cloudy menangkupkan tangannya di depan dada agar tidak kedinginan, dan gue sendiri malah bawa banyak banget kertas serta berkas-berkas Bazzar kepunyaan Cloudy. Gue makin mirip kaya pembantu kalau gini terus caranya.

Malam itu tidak ada salah satupun dari kami yang memilih masuk duluan ke dalam sekolah. Tanpa obrolan disertai hening yang panjang, kami bertiga hanya berdiri begitu saja. Gue lirik tampaknya Cloudy makin kedinginan malam-malam begini. Nih anak apa mau nginep di sekolah ya?

“Dee..” Gue akhirnya memberanikan diri bertanya.

Dia tidak menjawab.

“Lo mau nginep?”

Cloudy geleng-geleng.

“Terus?”

“Gue habis ini langsung pulang.”

“Oooh…”

“Kalian sendiri?” Cloudy melihat ke arah kami berdua.

Ikhsan dengan sigap langsung mengangkat keresek yang berisi martabaknya itu, “Gue harus nganterin makanan dulu buat anak-anak. Tapi kayaknya nggak nginep deh.”

“Gue juga. Paling nemenin Ikhsan, terus nginep deh di rumahnya.”

“Lha?! Apa-apaan ini kok elo tiba-tiba mau nginep di rumah gue? Izin aja kagak!”

“Nanti kita bobonya bisa berdua loh beb.”

“Ah, oke deh setuju kalau begitu.”

Cloudy hanya menampilkan ekspresi muak ketika mendengar percakapan kami berdua barusan.

“Yaudah kalau gitu, gue duluan ya. Ngantuk.” Cloudy bersiap pergi sambil mengambil seluruh berkas yang sedang gue bawa.

“Yap yap. Ati-ati dijalan wahai Ibu Tiri.”

“Makasih traktirannya, Dee.”

Tanpa membalas ucapan kami, ia langsung berlalu begitu saja berlari menuju mobilnya. Setelah Cloudy pergi bersama supirnya, kini tinggal kami berdua yang masih berdiri mesra di bawah cahaya rembulan.

“Masuk nyok.” Kata Ikhsan sambil nyenggol tangan gue.

“Kagak ah gue di luar aja, cepetan. Nggak akan lama kan di dalem?”

“Ih udah ngebet pengen bobo bareng ya kamu?”

“Iya nih. Butuh sensasi tusukan.”

“Yaudah, gue cuma bentar kok cuma ngasih makanan doang, tungguin di parkiran aja yak.”

“Sip-sip.”

Tak lama kemudian Ikhsan pergi meninggalkan gue. Setelah menunggu lebih dari 10 menit sendirian di gerbang luar, akhirnya gue lihat Ikhsan kembali sambil sudah lengkap memakai helm dan jaket.

“Yuk caw.” Katanya.

Gue cuma angguk-angguk doang sambil berjalan di belakangnya. Begitu dia sudah mengeluarkan motor, gue langsung loncat tanpa bilang-bilang dan duduk di jok belakang motornya. Sontak Ikhsan kaget, motornya oleng, kita berdua jatuh nabrak pohon palem di pakiran.

“WOI GOBLOK MAKSUD LO APA SIH BARUSAN?!”

“ELO YANG GOBLOK! BISA NAIK MOTOR KAGAK?!”

“EH ANAK SETAN!! NGAPAIN JUGA LO NAIK DI MOTOR GUA DAH?!”

“Huss jangan ngomongin setan, udah malem, masih di lingkungan sekolah lagi.”

“Oh iya lupa. TAPI ELO NGAPA NAIK DI MOTOR GUE?! PAN ELO PUNYA MOTOR SENDIRI BANGKE!!”

“Males bawa motor gue, San. Nebeng elu aja ya. Motor gue nginep sehari di sekolah. Toh besok juga elu sekolah kan?”

“Anjir nyusahin orang sumpah. Buruan bantu gue ngangkat ini motor. Tai lu! Ngomong kek dari tadi jadi gue bisa lebih siap. Elo kan tau motor gue kalau mesinnya udah mati susah lagi buat dinyalain.”

“Hahaha motor sama orang sama. Jual aja ini motor butut, tuker sama Nutrisari Blender.”

“Malah ngehina lagi!”

“Ya lagian elo naik motornya lemes amat kaya kangkung baru mateng.” Kata gue sambil ketawa sebelum kemudian gue dilempar sama kunci Inggris yang berceceran dari dalam jok motornya.

Sembari masih saling marahan, kami berdua bareng-bareng ngangkat itu motor yang udah terlanjut tergeletak gara-gara nabrak pohon. Dan ternyata bener, motornya emang perlu waktu lama buat dinyalain lagi. Malam-malam gini Ikhsan jadi keringetan buat nyelah motor biar nyala lagi. Sedangkan gue cuma jongkok tidak jauh dari motornya sambil nyalain lagu Senam Aerobik ibu-ibu dari HP gue. Kini gerakan Ikhsan jadi seirama sama gerakan Ibu-ibu senam.

Meski bisu, kalian pasti bisa mendengar suara khas lagu Senam Aerobik dari foto ini.

.

                                                      ===

.

Sesampainya di rumah Ikhsan, Ikhsan langsung naik ke kamar buat tidur. Sedangkan gue sendiri menyempatkan diri masuk ke dapur, ambil piring dan nasi, terus menghampiri meja makan. Ya, gue dan Ikhsan punya satu kebiasaan yang sama. Menganggap rumah kami berdua adalah rumahnya sendiri. Saat itu Tante Ikhsan yang tinggal bersamanya sudah tidur duluan. Jadi gue bisa bebas makan tanpa harus salam formal sama tantenya.

Dari lantai dua, Ikhsan melemparkan celana kolor beserta baju ganti.

“Pake noh.”

Gue cuma angguk-angguk doang dengan mulut masih penuh nasi. Setelah selesai, gue langsung bergegas menuju kamar Ikhsan. Di sana dia sudah tidur duluan munggungin gue. Karena kami berdua sama-sama capek, akhirnya gue juga langsung tidur di sebelahnya tanpa banyak cingcong. Mesra banget, walau di pertengahan malam kami berdua berantem gara-gara rebutan selimut doang.

Paginya, gue bangun lebih dulu dari Ikhsan karena mendengar suara alarm dari HPnya yang keras banget. Ikhsan ini aneh, suara alarm kenceng begitu aja dia nggak bangun-bangun. Kalau gue suara sedikit aja pasti langsung bangun. Itu sebabnya gue kalau tidur paling nggak bisa satu ruangan sama orang yang ngorok, gue kalau tidur harus gelap total dan hening total. Berkali-kali Ikhsan ngorok di tengah malam pun gue langsung terbangun untuk sekedar nabok mukanya, nutup hidungnya pake kapas, atau juga naroh bantal di mukanya sampai dia sesak napas.

“Nyet bangun. Sholat kagak lo?” Gue mencoba membangunkan Ikhsan.

“Ngg?” Ikhsan melek sedikit, “Sholat?”

“Iya, subuhan dulu lah.”

“Kemarin udah.”

“…”

Tae, katanya ilmu agamanya tinggi. Disuruh Sholat subuh malah tidur lagi. Pas gue mau keluar kamar untuk ngambil air wudhu, ternyata Tante Ikhsan udah bangun. Aduh, gue paling males sebenarnya buat salam, lagian doi juga nggak tahu kalau gue nginep hari ini. Tanpa pikir panjang gue langsung nyamperin Ikhsan lagi.

“Nyet, Tante lo di luar noh.”

“Hah?” Ikhsan masih dalam kedaan tidur, “Terus kenapa?” Sambungnya lagi.

“Malu gue, temenin lah.”

“Ogah, salam aja sono.”

“Kan gue kemarin belum bilang kalau nginep di sini. Malu gue.”

“Kaya sama siapa aja ah. Gue aja sama ibu lo udah nganggap ibu gue sendiri.”

“Gue mau wudhu nih.”

“Yaudah nggak usah.”

“Gitu ya?”

“Iya, tidur lagi aja.”

“Oke deh kalau gitu.”

Alhasil gue tidur lagi di sebelah Ikhsan hingga kemudian kami berdua jadi terlambat datang ke sekolahan. Meski saat itu kami sudah mendapat surat Dispen, tapi kami juga sudah dapet mandat untuk jaga stand tiket pagi-pagi di depan gerbang sekolahan dari ketua OSIS. Maka dari itu pagi ini kami berdua udah rusuh rebutan kamar mandi gara-gara hampir terlambat.

Di perjalanan naik motor, berkali-kali kami hampir ditangkep polisi karena nerobos lampu merah. Tapi walau ini motor udah hampir almarhum, kecepatan larinya kalau lagi kepepet boleh juga. Tak ayal tukang cuanki hampir kita tabrak tapi beruntungnya motor Ikhsan bisa ngedrift.

Tak perlu waktu lama akhirnya kami berdua sampai di sekolahan. Ketika motor kami baru saja datang, stand jualan tiket Bazzar ternyata sudah dibuka. Sebenarnya itu tidak bisa dibilang stand sih, di sana cuma ada dua meja anak sekolahan yang dijejerkan, lalu di belakangnya juga ada kursi-kursi anak sekolahan biasa. Hanya bermodal poster dan banner yang bertuliskan “JUAL TIKET BAZZAR SMA XXXXX” yang dipajang di sebelahnya, maka segitu saja sudah cukup dibilang sebagai stand jualan tiket Bazzar.

Minimalis.
Kaya otak temen gue.

Di sana sudah ada beberapa anak logistik yang nongkrong sambil ketawa-ketiwi. Begitu gue dan Ikhsan datang naik motor berdua sambil peluk-pelukan begini, mereka semua yang lagi jaga di stand tiket langsung pada nge-cie-cie-in. Bangsat emang. Gue sama Ikhsan kayak udah nggak punya martabat banget di sekolahan ini.

Begitu beres parkirin motor, kami berdua langsung cabut pergi ke ruang OSIS buat ngisi absensi sama sekretaris. Soalnya kalau ada yang terlambat dari mengerjakan tugas, kami bakal kena denda sekitar 5ribu rupiah yang pada jamannya itu lumayan besar. Itu kata kang Ade beberapa hari yang lalu.

“Romantis banget elu berdua dateng barengan.” Sindir kang Acil melihat gue dan Ikhsan rusuh ngisi absensi.

Kami berdua cuma cengengesan aja. Setelah absensi beres, gue langsung bergegas pergi lagi ke depan gerbang. Sambil masih benerin rambut, baju, dan jaket yang masih gue pake ini, gue sempatin diri mampir ke kantin buat jajan dulu. Lumayan sarapan. Ikhsan juga begitu, pagi-pagi dia udah beli nasi kuning. Katanya mau dia makan sambil jaga stand tiket nanti.

“Btw si Cloudy mana ya?” Tanya Ikhsan sambil ngambil minuman di dalam kulkas.

“Eh iya juga ya. Apa jangan-jangan dia telat lagi?”

“Hahaha anjir, salah lo tuh ngajak dia keluar malem. Siap-siap mampus aja kalau dia telat. Lo tau sendiri tabiatnya kaya gimana.”

“…”

Anjir gue jadi deg-degan. Kemana tuh anak, masa sih dia telat bangun? Bahkan di depan gerbang juga gue nggak ngeliat ada dia. Kemana ya. Tapi pikiran itu tiba-tiba hilang ketika gue sudah sampai di depan gerbang. Sekarang sudah pukul tujuh pagi. Gerbang utama sudah ditutup menyisakan gerbang kecil doang di pinggirnya yang dibuka untuk keluar masuk siswa. Di depan post satpam gue lihat sudah ada beberapa anak sekretaris yang lagi sibuk nyatet-nyatet segala hal perihal penjualan tiket yang mau dilakukan sebentar lagi. Di sana gue lihat ada Lisa juga. Dia sibuk memilah-milah tiket yang siap dijual. Kacamatanya yang tebel banget menjuntai di hidung kecilnya.

“OI LIS!” Sapa gue dari jauh.

Lisa hanya menengok lalu tersenyum.

“Udah siap?”

“Bentar lagi.” Balas Lisa.

“Yaudah, gue tata dulu aja meja di depan gerbang biar lebih aesthetic yak.”

“Okeee.” Lisa langsung mengiyakan.

Dengan modal membawa taplak meja sekaligus bunga-bungaan yang gue colong dari mushola, gue sama Ikhsan langsung menghias meja yang ada di sana agar terlihat sedikit lebih formal. Anak-anak logistik yang tadi nongkrong sudah pada pergi mengingat sekarang para panitia yang bertugas sudah datang.

Sebenarnya saat itu yang jual tiket bukan cuma gue sama Ikhsan doang, ada hampir 10 anak kelas satu di sana. Beberapa anak-anak di sana tanpa gue sadari akan menjadi sohib gue juga di tiga tahun mendatang selama menjabat sebagai anak OSIS. Mereka-mereka yang sekarang belum terlalu akrab sama gue itulah yang nanti bakal menjadi teman sejati ketika angkatan gue membuat acara besar lainnya. Dan karena mereka juga lah, gue tiba-tiba bisa dikenal satu angkatan karena satu kejadian naas.

Tapi itu nanti ketika gue kelas dua dan tiga.
Sekarang balik dulu ke cerita.

Anak sekretaris yang bertugas saat itu harusnya adalah si-siapa-lagi-kalau-buka-primadona-kakak-kelas- Cloudy. Tapi dia sekarang entah lagi ada di mana. Alhasil Lisa lah yang bertanggung jawab memegang penjualan tiket Bazzar walau status dia hanyalah Bendahara 3.

Di sana ada 5 tempat duduk. Yang wajib duduk adalah anak-anak cewek, tapi gue malah dengan seenaknya duduk di kursi paling tengah sambil menikmati udara Bandung yang super duper sejuk banget pagi ini. Sekolah gue ini tepat ada di tengah kota. Dikelilingi oleh pohon-pohon besar. Tepat di depan gerbang sekolahan gue ini adalah sebuah perlimaan jalan. Alhasil banyak juga kendaraan yang berlalu-lalang.

Meski depan gerbang ini adalah jalan raya, tapi kendaraan tidak ada yang berjalan melewati daerah gerbang, selain karena memang itu daerah siswa-siswi berlalu-lalang, di situ juga banyak gerobak jajanan yang nongkrong.

Tak lama kemudian, para anak-anak kelas satu berkumpul di meja yang sama untuk sekedar rapat sebentar. Rapat dipegang oleh Sekretaris kelas dua yang kebetulan sedang ada di sana pagi itu. Setelah semua oke, kami semua kini menyiapkan segala peralatan tulis beserta hal-hal apa saja yang diperlukan untuk penjualan tiket pagi itu.

Ketika anak-anak cowok yang lain lebih milih ngumpul agak jauh dari tempat jualan tiket, gue sama Ikhsan malah dengan polosnya ngambil dua tempat duduk di sana. Gue duduk di sebelah Lisa, dan Ikhsan duduk di sebelah gue. Sudah bukan rahasia lagi kalau penjual Tiket seharusnya adalah cewek-cewek cantik biar lebih menarik. Tapi ini malah kursi di tengah diisi sama gue dan Ikhsan. Dua orang yang wajahnya nggak jauh beda sama kapur papan tulis Primagama.

“Lis, gue duduk di sini dulu ya.” Gue ngerayu Lisa.

Lisa cuma angguk-angguk mengiyakan. Kayaknya Lisa ini nurut-nurut aja kalau gue ngelakuin hal yang aneh-aneh juga. Karena waktu masih menunjukkan pukul setengah 8 pagi, penjualan saat ini masih belum membuahkan hasil. Lisa masih fokus menulis. Entah sedang menulis apa, begitu juga dengan cewek-cewek yang lain yang jualan tiket di sebelah Ikhsan dan Lisa.

Ikhsan menyenggol kaki gue dengan kakinya, “Nyet, pada nulis noh. Nulis gih elu juga. Biar keliatan kerja.” Ucapnya bisik-bisik.

“Anjing, gue aja nggak tau kampret mereka lagi nulis apa.” Bales gue sambil bisik-bisik juga.

“Sama, yaudah pura-pura nulis aja dah. Nggak enak diliatnya, yang lain nulis lah elu sama gue malah asik ngobrol.”

“Ya elu yang juga ngajak gue ngobrol, Setan. Sini-sini pinjem bolpoint dong. Gue mau gambar DragonBall ah biar keliatan kerja.”

“Gue nggak bawa bolpoint, Dim.”

“Hahahahahaha sama!! Tolol banget dah kita. Terus gunanya kita di sini ngapain sih?”

“Nggak tau. Gue cuma ngabisin jatah dispen doang.”

“Memang murid berbakat banget kita berdua ini. Calon pemimpin Indonesia.”

“Hooh. Btw btw mumpung suasananya lagi enak nih, gue penasaran mau nanya sama elo, kemarin malem ngomongin apaan aja sama si Cloudy?”

“Nggak banyak, cuma masalah Ipeh sih.”

“Gimana? Dapet pencerahan nggak cerita sama dia?”

“Apaan gue malah dihina.”

“Hahahahaha sudah ketebak. Lo nggak mau nih cerita sama gue?” Rayunya.

“Cerita apaan? Kayaknya lo juga udah tau semuanya tanpa gue cerita juga.”

“Ya cerita dong pas sebelum hujan-hujanan. Elu juga ngapain waktu itu sampai nggak bawa motor segala sih? Bego kok dipamer-pamerin begitu.”

“Ya Robb jangan dibahas ngapa, gue aja ngenes ngingetnya.”

“Yaudah ceritain dulu.”

“Iye iye.. Jadi ceritanya dimulai waktu gue lagi duduk sendirian di bawah pohon kersen di lapangan basket. Kebetulan saat itu lagi hujan besar.”

“Lu pacaran sama setan sampai diem di bawah pohon gitu?”

“Nah terus pas anak-anak yang lain masuk ke kantin buat neduh, lah gue malah makin asik aja. Terus tiba-tiba hujan makin deres. Terjebaklah gue di sana.”

“Tolol banget sih jadi orang. Udah tahu hujan malah diem di lapang. Kesamber gledek jadi mirip Ponari lu nanti.”

“Tak lama kemudian, gue liat Ipeh keluar dari kantin sambil kaya lari gitu. Dari jauh gue udah ngeliat kayaknya dia nangis deh. Makanya gue samperin dia saat itu.”

“Oi Lis, kalau ada yang beli tiket perlu dijelasin nggak kalau tiketnya harus dituker jadi tiket asli di hari H nanti?”

“WOI BANGSAT GUE LAGI CERITA SERIUS INI!!! AH JEMBUT SOTONG!!”

Ikhsan malah ketawa-ketawa ketika gue marah-marah karena nggak diperhatiin waktu ngomong.

“Sssstt!! Dimas! Berisik!” Kata Lisa di sebelah gue.

“Ini Lis, dia jahat Lis..” Gue nunjuk ke arah muka Ikhsan yang lagi ketawa tanpa dosa di sebelah gue sambil memasang wajah memelas.

“Lanjut woi, gue lagi mendengarkan dengan seksama nih.” Kata Ikhsan sambil nempeleng kepala gue pake kertas tiket yang dikaretin.

“SEKSAMA SEKSAMA! GUE COLOK BIJI MATA LO MENCAR SEMUA NANTI NIH!”

“Hahahah serius-serius, terus pas elu samperin, ada kejadian apa lagi?” Lanjut Ikhsan lagi.

“Terus..”

Akhirnya gue menceritakan juga semua kejadian yang terjadi sama gue dan Ipeh sore kemarin itu. Kali ini, Ikhsan mendengarkan dengan serius, sesekali memijat dagu sambil mengelus jenggotnya yang padahal di sana cuma ada sehelai rambut doang di dagunya. Setelah gue selesai bercerita, Ikhsan menepuk pundak gue pelan seperti layaknya gue habis jadi korban bencana alam.

“Kata gue juga apa. Nggak nurut sih lu.”

Gue cuma angguk-angguk pelan.

“Elu sendiri? Sama Tasya udah baikan?” Gue balas bertanya.

Ikhsan yang tadi masih asik corat-coret meja di depannya dengan gambar terong-terongan itu langsung menengok ke arah gue, “Baikan? Belum..” Jawabnya singkat lalu kemudian ngelanjutin ngegambar lagi.

“Putus aja udah..”

“Seenaknya lu ngomong. Gue sayang nih sama dia! Ya meskipun…” Ikhsan berhenti sebentar,

“Meskipun apaan?”

“Kemarin waktu gue bilang, ‘Tasya, cium dong.’ dia malah bales, 'Cium Hajar Aswad aja biar lebih syariah.’. Bangsat! Ini pacaran atau umroh?!”

“HAHAHAHA PASANGAN GOBLOK.”

“SSST!! DIMAS IH! BERISIK!!!” Lisa menyenggol tangan gue sedikit lebih keras.

“Hehehe maaf-maaf, btw Lisa lagi ngapain sih?” Tanya gue yang pada akhirnya penasaran juga sama apa yang lagi dia kerjakan.

“Iya-iya, gue juga penasaran. Lagi ngapain sih Lis?” Tanya Ikhsan ikutan nimbrung

“Ini.. Lagi nulis jumlah total pendapatan yang didapat kalau tiket kita semua terjual hari ini.”

“Nanti aja atuh itu mah pas jualan tiketnya udah beres.” Balas Ikhsan.

“Bukan gitu, ini buat acuan aja. Kita harus dapet uang segitu hari ini. Biar ada goalsnya ini tuh.”

“Wuih, hebat. Pemikirannya visioner, nggak kaya elo, Nyet. Mundur ke jaman peradaban Megalitikum.” Gue ketawa sebelum kemudian Ikhsan nabok gue lagi pake gulungan tiket yang sama yang dia pake buat nabok gue sebelumnya.

“Eh eh Lisa, Lisa ada turunan Cina ya? Matanya segaris gitu.” Sekarang Ikhsan nyeletuk, dan gue ketawa.

“Ih! Ngeledek mata aku! Tapi iya kok, keturunan dari mamah.”

“Hooo, mamahnya Barongsai?”

“BUKAN IH!! MAMAHKU KETURUNAN CINA MAKSUDNYA!”

“Oooh gitu toh maksudnya.” Ujar gue, dan Ikhsan angguk-angguk berlagak mengerti.

“Tapi kalau diliat-liat Lisa ini manis juga ya, San? Betul nggak?”

“Akur.”

“Ih apaan sih, nggak usah ngomong gitu ih.”

“Eh tapi bener deh.”

“Iya Lis, sampai denger-denger si Yogi anak kelas D naksir elu tuh.”

“Apaan sih Ikhsan.”

“Bener, Lis. Tanya aja si Dimas.”

“Bener Lis kata mahluk Megalitikum ini. Yogi dulu sempat curhat.”

“Curhat apa?” Tanya Lisa penasaran.

“Curhat masalah game online sih. Acieeee kenapa kok kamu jadi penasaran gitu? Seneng ya ada yang naksir?” Goda gue.

“Ih Dimas ih! Apaan sih ah!”

“Kamu asli mana sih, Lis?” Tanya gue lagi.

“Ngg?” Lisa memberhentikan aktivitas nulisnya dulu dan melihat ke arah gue. “Aku? Aku asli Padang.”

“Oh pantes orang Sumatra toh. Orang Sumatra emang cakep-cakep ya. Btw Ikhsan juga dari Padang loh.”

“Oh ya? Ikhsan asli Padang juga?” Lisa terlihat antusias.

BUK!
Gue pukul pundak si Ikhsan yang lagi asik ngelanjutin gambar terong-terongan di atas meja itu,

“Woi, ditanya tuh.”

“Eh apa apa apa? Ada apa Lis?” Tanya Ikhsan kaget.

“Kata Dimas kamu asli Padang juga ya?”

“Hah?!” Ikhsan kaget, wajah dongonya keluar.

Ekspresinya mirip begini

.

“Kamu asli Padang?” Tanya Lisa sekali lagi.

“PADANG APAAN?! PADANG MAHSYAR?! Ya Tuhan Lisa, kalau si Dimas lagi ngomong mah elu jangan percaya deh. Dia itu tukang kibul! Yang keluar dari mulutnya kagak berfaedah semua.”

“Ih Dimas jadi yang tadi tuh bohong?!”

“Hahahahahahahaha…” Gue cuma ketawa puas ngeliat mereka berdua.

Akhirnya bukannya kembali mengerjakan tugasnya masing-masing, kami bertiga malah sekarang asik ngobrol. Kemudian beberapa anak yang lain juga ada yang ikutan nimbrung. Akhirnya kami rame sendiri sambil nunggu ada pembeli pertama datang. Yang awalnya ngobrolin serius hingga kemudian pembicaraan jadi ngalor ngidul karena bahasan Ikhsan sama gue nggak pernah pada tempatnya.

“Lisa Cita-citanya terpuji sekali ingin jadi dokter, cita-cita Ikhsan juga nggak kalah unik loh.” Ucap Ikhsan.

“Apaan emang?” Tanya Lisa dibarengi sama yang lain juga.

“Pengen buat burung gereja bisa bilang Assalamualaikum..”

“Hahahahahahaahaha apaan sih!! Kok pemikiran kalian tuh nggak ada yang bener.”

“Ya tapi bener juga cita-cita si Ikhsan ini.”

“Iya, Lis. Itu namanya Jihad. Mengajak orang berbondong-bondong untuk masuk memeluk ajaran Islam.”

“Hahahaha tapi itu kan burung..”

“Nggakpapa, pahalanya sama. Terus kamu kuliah bakal di mana rencananya?”

“Aku nggak tahu sih, lagian itu kan masih lama. Tapi keluargaku keturunan dokter semua. Jadi aku mau nggak mau harus jadi dokter.”

“Hmm.. Gue jadi kepikiran, elu kalau kuliah mau ambil jurusan apaan, Dim?”

“Hukum.” Bales gue singkat.

“Wew serem.”

“Hukum karma.”

“ANJING NYESEL BAT GUE NANYA.”

“Hahahaha.. Lagian sekarang mana kepikiran gue untuk milih jurusan kuliah. Palingan juga masuk IT lah biar jaga warnet nanti kerjanya.” Jawab gue polos.

“Ya Allah mulia banget, Dim impian elu.”

“Tai.”

Lagi asik-asiknya ngobrol nggak jelas begini, tiba-tiba dari jauh ada mobil yang gue kenal datang dan masuk ke parkiran mobil di sebelah gerbang sekolah. Gue senggol tangan si Ikhsan buat ngeliat ke arah mobil tersebut juga.

“Mobil si mak lampir kan tuh?”

“Hooh hooh. Si Mobil bau coco pandan. Bau ale-ale.”

“Baru dateng dia?” Tanya gue, Ikhsan cuma menaikan pundak tanda tidak mengerti. “Lis.. Itu mobil si Cloudy kan?” Gue nanya ke Lisa.

Lisa angguk-angguk mengiyakan.

“Lah dia baru dateng? Telat dong?”

“Eh? Iya juga ya. Aku baru sadar.” Jawab Lisa yang emang pada dasarnya otaknya lemot bener, “Jarang-jarang Cloudy telat. Tumben banget. Kenapa ya?”

“Dim dim..” Ikhsan menarik pundak gue sambil bisik-bisik, “Jangan-jangan gara-gara kita culik dia malem-malem kemarin.” Tukas Ikhsan.

“Eh? Serius? Gimana dong ini?”

“Aduh gue nggak ikut-ikutan deh. Pasti dia dicariin sama kang Ade, terus nanti dia ngadu kalau diajak keluar sama elo. Mana kemarin kan dia dipanggil buat rapat, terus elu malah yang ngajak dia buat bolos rapat.”

“Anjir. Kok gue sih?! Elo juga kali, Nyet.”

“Yeee.. gue mah beli martabak yeee. Ada saksi-saksinya anak-anak dokumentasi.”

“Ah anjir nggak sohib ah lu.”

“NOH TUH DIA KELUAR TUH DARI MOBIL!”

“ANJIR GIMANA INI?!”

“Tau ah tau ah.. Gue ngobrol sama Lisa aja. Urus sendiri tuh.”

“WOI CURANG LO!!”

“Tuh kan, Dim dia dateng kan. Dia nyamperin kan. Mati dah lu mati..”

Gue makin kelabakan.

“San San San.. Sini temenin gue anjir, jangan jauh-jauh. Sumpah gue mending ketemu hantu usus kucing di rumah Ipeh dulu dah daripada disemprot dia.”

Gue tarik seragam Ikhsan biar kembali duduk di sebelah gue. Dari jauh Cloudy keluar dari mobilnya sambil membawa beberapa berkas yang dimasukkan ke dalam goodiebagnya. Tas ransel dengan gantungan tamagochi, dan botol air minum di samping tasnya. Ciri khas Cloudy banget. Rambutnya panjang digerai dengan poni menyamping. Kulitnya putih banget kaya remote AC, dari jauh ketika teman-temannya menyapa, dia tersenyum. Gigi kelincinya langsung terlihat kentara sekali.

Lambat laun, dia makin mendekat. Semakin mendekat. Semakin mendekat. Gue sama Ikhsan udah perlahan-lahan mundur dari tempat duduk takut kena semprot yang bakal nyelekit sampai ke hati; hingga pada akhirnya kini dia berdiri di depan kami berdua.

.

.

.

                                                        Bersambung

Previous Story: Here

Mak Ngah Gersang

APR 23

Posted by mrselampit

Kisah yang ingin aku ceritakan ini berlaku di kampung aku di selatan tanah air.

Sudah menjadi lumrah kebiasaannya kenduri kahwin kerap diadakan di waktu cuti sekolah. Mungkin jugak mudah mendapatkan pertolongan jiran-jiran dan sanak-saudara dalam urusan persediaan majlis. Masa itu aku sedang bercuti panjang menunggu keputusan SPM dan aku pulang lebih awal seminggu ke kampung berbanding dengan Ibu,Bapak dan adik-beradik aku yang lain.Alasan aku sebab ramai sepupu dan sedara di kampung hendak aku temui dan boleh bantu lebih lama sikit untuk urusan majlis nanti. Ibu dan Bapak aku tidak membantah dan mereka menghantar aku ke Hentian Puduraya,Kuala Lumpur sebelum menghubungi orang kampung untuk menjemput aku di stesen destinasi aku nanti.

Sepanjang perjalanan aku cuba mengingati satu-persatu saudara-mara aku yang akan aku temui nanti. Ada yang sudah bekerja dan ada yang masih bersekolah. Tidak kurang jugak yang sudah berkahwin serta mempunyai anak. Akhirnya aku terlelap sendiri sehinggalah bas ekspress yang aku naiki memasuki kawasan perhentian,aku mula terjaga. Penumpang sederhanalah ramainya dalam bas itu dan ada jugak beberapa kerusi yang kosong. Mungkin ramai orang sudah mampu memiliki kereta sekarang ini, fikir aku.Dalam pada itu mata aku mencari-cari siapakah saudara aku yang akan menjemput aku nanti. Tiba-tiba satu suara di tepi tingkap mengejutkan aku.

“Hey Amin,Mak Ngah kat sini lah…!!!”Mak Ngah aku berkata.

Kelihatan Mak Ngah aku melambai-lambai dan tersenyum lebar sambil berdiri di kaki lima perhentian. Wajah Mak Ngah ni sekali tengok macam Ziela Jalil pun ada, putih berisi dan seksi.

“Okey,tunggu kejap ha…!!!Nanti Amin turun…!!!” kata aku sambil mengangkat tangan.

Kelihatan Mak Ngah aku sungguh anggun sekali dengan baju kebaya ketatnya menonjolkan kedua-dua teteknya yang montok dan mantap. Kain batik sarungnya jugak menampakkan potongan bontot tonggeknya yang mengiurkan. Mak Ngah aku memang pandai menjaga badan,walaupun sudah beranak 4 orang tapi dengan umurnya 38 tahun tidak padan dengan wajah manis dan tubuh montoknya itu.Aku bangga sekali dapat berjalan seiringan dengannya masa menuju ke kereta. Ramai mata-mata nakal mencuri lihat bontot tonggek dan kedua-dua Mak Ngah aku yang seksi itu. Rasa macam berjalan dengan artis popular pulak rasanya.

Aku menginap di rumah Mak Ngah dan anak lelakinya yang paling sulung 12 tahun memang sudah biasa dengan aku, anak-anaknya yang lain perempuan berumur 10, 7 dan 4 tahun. Aku memang berharap dapat menginap di sini sebab aku suka pandang Mak Ngah aku yang seksi ni. Dia suka berkemban masa nak mandi dan yang paling aku suka bila dia pakai kain batik dengan t-shirt nipis masa di rumah. Geramnya aku bila bontot tonggeknya memantul-mantul semasa bergerak di dalam rumah.

“Pak Ngah ko minggu ni dia kerja malam,besok lah kalau kau nak jumpa dia…!!!” Mak Ngah aku tu berkata kepada aku sewaktu aku sedang duduk-duduk di dapur bersembang selepas makan.

“Hah…Apa khabar Pak Ngah sekarang ni,Mak Ngah…??? Sihat ker dia…???” tanya aku pulak.

Aku memang ramah dengan semua saudara-mara aku dan ringan tulang. Itu yang menyebabkan semua orang tak kesah ambil aku menginap di rumah dia orang.

“Entahlah,dulu doktor kata Pak Ngah ada darah tinggi,sekarang ni sudah ada kencing manis peringkat awal…!!!” kata Mak Ngah aku tu kepada aku. Suaranya macam kesal saja.

“Kenalah jaga-jaga makan dan minum dia dengan sangat baik, Mak Ngah…!!!Ubat pun tak boleh putus,Mak Ngah…!!!” nasihat aku.

“Ye la, Amin…!!!Itu aje la yang Mak Ngah buat sekarang tapi, Pak Ngah ko tu sendiri main balun jer mana yang terjumpa…!!! Nasib baiklah makan ubat tak ngelat, kalu tak entah le…!!!” rendah aje suara Mak Ngah. Sambil itu Mak Ngah membelakangkan aku di sinki membasuh pinggan-mangkuk.

Sewaktu menonyoh kuali dan periuk, bontot tonggeknya terus bergegar-gegar macam nak terkeluar bijik mata aku merenung. Lampu dapur berwarna kuning kelam-kelam dapat jugak aku mencuri-curi pandang ke arah alur di kedua-dua teteknya yang tegang dan gebu. Batang kote aku sudah lama keras kat bawah meja, itu sebab aku malas nak bangun pergi depan.Buat-buatduduk dan bersembang sajalah. Biasalah orang kampung suka bersembang tanya dan korek macam-macam hal keluarga sebelah sana dan sini.

“Tapi ubat-ubat ni semua ada jugak kesan sampingannya bila sudah makan…!!! Kadang-kadang cepat mengantuk dan selera pun kurang…!!!” Mak Ngah aku tu berkata kepada aku.

“Ooo…!!!” aku membalas kepada Mak Ngah aku tu. Aku tak berapa faham bab selera tu, yang aku tahu selera makan aje.

“Mak Ngah ni kira hebat la jugak,kan…!!!” aku cuba mendapatkan penjelasan.

“Hebat…??? Hebat apa pulaknya…???” tanya Mak Ngah kepada aku.

“Ye la, walaupun sudah beranak 4 orang, kesihatan Mak Ngah masih tip top…!! Body pun…!!!” aku membalas kepada Mak Ngah aku tu sambil aku tersengeh. Dalam hati nak saja cakap yang sebenarnya tapi tengok anginnya dulu lah.

“Alahai… Kalau kita ajer yang jaga tapi si lelaki lembik aje, tak guna jugak, Amin…!!! Kamu besok sudah kawin kena la jaga kesihatan tu terutamanya bab tenaga lelaki…!!!” kata Mak Ngah aku tu kepada aku sambil matanya menjeling ke depan takut anak-anaknya dengar.

“Ish… Itu dan sememang mestinya la, Mak Ngah…!!! Saya pun selalu jugak baca dalam majalah tentang hal seksologi orang kelamin ni, Mak Ngah…!!! Macam-macam petua dan bimbingan yang ada, Mak Ngah…!!!” kata aku kepada Mak Ngah aku tu mempertahankan kelelakian.

“Ye la, semua orang ada kekurangannya tapi bab ni Mak Ngah kira perlu la dijaga dengan betul supaya tak menyeksa orang lain…!!!” jawabnya ringkas dan penuh makna.

“Jadi selama ni Mak Ngah terseksa ker…???” tanya aku cuba memancing.

“Ish… ko ni, tak payah tahu la…!!! Itu semua cerita hal orang tua-tua…!!! Sudahlah, pergi la ke depan… Mak Ngah nak kemas meja ni pulak…!!!” Mak Ngah berkata kepada aku.

Aku serba-salah jadinya,tapi terpaksalah jugak bangun.Batang kote aku masih teguh berdiri di sebalik kain pelikat aku. Mata Mak Ngah aku tu terus tertumpu pada kain pelikat aku yang menonjol sewaktu aku bangun dari kerusi. Dia tersenyum saja sambil menyindir.

“Aiii… mana la arah nak tuju tu…!!! Kahwin la cepat…!!!” Mak Ngah aku tu berkata kepada aku. Aku tersipu-sipu malu sambil menepuk lengannya.

“Ni karang ada yang kena peluk ni karang…!!!” ugut aku sambil bergurau.

“Alahai Amin…!!! Takat ko tu boleh makan ker dengan Mak Ngah ni…!!!” Mak Ngah aku kemudiannya berkata lagi kepada aku. Mak Ngah aku tu badannya agak gempal sikit tapi pinggang ramping macam biola.

“Itu tak penting, asalkan barang ni hidup dan keras…!!!” aku kemudiannya membalas kepada Mak Ngah aku tu sambil memegang batang kote aku di luar kain pelikat aku. Mak Ngah aku tu masih buat endah tak endah saja. Entah suka ker atau marah ker bila aku pegang batang kote aku di depannya.

“Udah la tu, Pak Ngah ko pun tengok Mak Ngah sebelah mata aje sekarang ni… maklumlah dah tua, season pulak tu…!!!” kata Mak Ngah aku tu merendah diri.

“Ish, saya tengok okey aje…!!! Bontot tonggek dan cantik, kedua-dua tetek pun montok…!!!” aku berkata kepada Mak Ngah aku tu. Tanpa sedar aku menepuk bontot tonggeknya, bergoyang bontot tonggeknya di sebalik kain batiknya.

“Hish… ko ni Amin…!!! Ada-ada aje nak memuji la…!!! Mak Ngah tak makan dek puji pun…!!!” Mak Ngah aku tu berkata kepada aku masih merendah diri, sambil terus mengelap meja makan dan sengaja menggerak-gerakkan sambil berbongkok. Punyalah ghairah aku masa tu, macam nak gigit-gigit bontot tonggeknya. Mata aku sempat mencuri pandang di sebelah atas baju t-shirt Mak Ngah aku tu tapi tak berapa nampak sebab leher bajunya tinggi juga. Nafas aku naik turun menahan gelora.

“Yang ko tercegat berdiri kat sini ni apa hal…??? Dah tak tahan sudah ker…??? Tu karang abis la tilam kat bilik tu kang dengan air mani ko macam tahun lepas…!!! Eh… ko ni kuat buat sendiri ker, Amin…???” Mak Ngah aku tu kemudiannya berkata dan bertanya kepada aku. Aku serba-salah dibuatnya. Memang masa tahun lepas aku menginap di sini berkole jugaklah air mani aku tumpah kat tilam, pendam geram punya pasal.

“Apa la Mak Ngah ni, Amin mimpi la…!!!” aku cuba beri alasan yang logik sikit.

“Alahai anak buah aku yang sorang ni, rasa dalam mimpi aje la…!!!” sindir Mak Ngah.

“Abis tu, bak kata Mak Ngah tadi, belum ada arah tujunya, terpaksalah…!!!” aku matikan jawapan tu takut Mak Ngah aku tu faham sambil terus ke ruang depan. Lagi lama aku berbual kat dapur lagi meledak rasa geram aku.

Malam itu aku saja buat-buat malas melayan adik sepupu aku dan aku kata aku nak berehat di bilik supaya mereka cepat masuk tidur. Kira-kira jam 10:30 malam masing-masing sudah mula beransur-ansur masuk ke bilik tidur dan yang terakhirnya yang sulung tidur sebilik dengan aku di katil atas. Kira-kira setengah jam lepas tu aku sudah boleh dengar nafas yang kuat dari adik sepupu aku tandanya dia sudah lena. Fikiran aku masih melayang-layang mengenangkan tubuh montok Mak Ngah aku tu sambil berangan-angan dapat main seks dengannya. Semuanya hanyalah igauan kecuali aku cuba sesuatu yang lebih drastik sikit. Tiba-tiba pintu kamar aku dibukak. Rupa-rupanya Mak Ngah aku tu masuk mencari kain selimut dalam almari di bilik aku. Aku pura-pura berdehem.

“Eh… belum tidur lagi kau, Amin…??? Ni hah… Mak Ngah nak ambil kain selimut si kecil tu kat atas almari ni, yang semalam tu sudah kena kencing…!!! Mari la sini tolong kejap, tak sampai la…!!! Ko tu panjang sikit…!!!” kata Mak Ngah aku tu. Aku pun perlahan bangun dan menghulurkan tangan ke atas almari.

“Yang merah ker yang biru, Mak Ngah…???” tanya aku pulak sambil kedua-dua tangan meraba di atas rak di atas sekali dalam almari. Tak semena-mena kain pelikat yang aku pakai terburai ke lantai, sebab masa aku menggentel-gentel batang kote aku tadi ikatannya jadi longgar. Maka terpampanglah batang kote ku yang sederhana keras dan kepalanya yang licin macam ikan keli.

“Hehe… Amin, kain ko la…!!!” kata Mak Ngah aku tu tapi matanya tak lepas merenung batang kote aku yang tercacak. Dalam pada itu aku saja biarkan insiden itu lama sikit, buat-buat terpaniklah.

“Hehe…!!! Sorry la Mak Ngah, tak perasan pulak kain melorot…!!!” kata aku kepada Mak Ngah aku tu. Nampak Mak Ngah masih diam terpaku saja. Perlahan-lahan aku merapatinya dan memegang kedua-dua bahunya. Bila aku cuba mengucup tengkoknya, tiba-tiba dia macam tersedar.

“Hish… ko ni Amin, ada-ada aje la…!!! Jangan main-main, kang Mak Ngah karate ko…!!!” Mak Ngah aku tu kemudiannya berkata kepada aku. Namun senyuman terukir di bibirnya semacam termalu dan terus keluar menuju ke biliknya semula.

“Ini macam sudah ada respon la ni…!!!” fikir aku.

Aku kemudinnya mengikuti Mak Ngah aku tu keluar pintu sambil membawa selimut yang dimintanya tadi. Sampai saja di biliknya, aku lihat biliknya kemas dan harum semerbak bau wangian pewangi dari meja soleknya. Dia menolehkan kepalanya ke belakang melihat aku mengikutinya ke bilik dan terus berbaring di atas katil.

“Ni hah…selimutnya yang Mak Ngah nak tadi, saya nak hantar kan…!!!” aku berkata kepada Mak Ngah aku tu. Aku kemudiannya terus menghulurkan pada Mak Ngah aku tu.

“Seronoknya jadi Pak ngah, boleh tidur dengan Mak Ngah kat atas katil empuk ni kan…!!!” kata aku lagi kepada Mak Ngah aku tu dengan perlahan.

“Amin nak tidur dengan Mak Ngah ker malam ni…???” pertanyaan bonus buat aku daripada Mak Ngah aku tu.

“Boleh ker, Mak Ngah…???” tanya aku untuk mendapatkan kepastian.

“Jom la, tapi jangan nakal-nakal sangat tau…!!!” jawab Mak Ngah aku tu. Bagaikan kucing diberi ikan terus saja aku baring di sebelah Mak Ngah aku tu secara mengereng.

“Apa yang Amin geramkan sangat tu kat Mak Ngah ni…???” tanyanya dengan manja.Aku malas nak menjawab dan terus menyondol lehernya dan tangan aku pulak melurut naik dari perut ke kedua-dua tetek Mak Ngah aku tu.

“Emm…Ehh…Hee…nakal la Amin ni…!!!” keluh Mak Ngah aku tu menahan geli rasanya.Tiada coli yang menutup kedua-dua tetek Mak Ngah aku tu memudahkan tangan aku merasa putingnya yang sudah tegang di sebalik t-shirt nipisnya.

“Wanginya Mak Ngah ni,gebu pulak tu…Emm…!!!” aku memujinya menyebabkan mata Mak Ngah aku tu mulai kuyu.Perlahan-lahan bibir aku mencari bibir Mak Ngah aku tu.Kelihatan bibirnya yang separuh terbukak seolah-olah tidak membantah kehadiran bibir nakal aku.Nafas kami sudah mula naik disebabkan gelora yang mendebar di dalam.Batang kote aku mencucuk-cucuk di sisi peha Mak Ngah aku tu.Dalam pada itu tiba-tiba Mak Ngah menolak aku dengan perlahan.

“Amin betul-betul nak main seks dengan Mak Ngah ker malam ni,Sayang…???”tanya Mak Ngah aku tu lagi.Aku anggukkan kepala.

“Hee…Kalau ye pun kunci la dulu pintu tu,nanti si kenit tu mengigau nanti masuk dalam ni pulak,Sayang…!!!”ujar Mak Ngah aku tu.Dalam hati aku sudah seratus peratus yakin bahawa malam ini aku akan dapat mencapai impian aku selama ini.

Aku pun kemudiannya terus bangkit menuju ke arah pintu kamar dan menutupnya dengan perlahan-lahan supaya tidak mengeluarkan bunyi.Setelah pasti pintu itu terkunci betul,aku datang semula ke arah katil dan mendepangkan tangan aku di kedua-dua sisi tubuhnya sambil merenung seluruh tubuh Mak Ngah aku tu sambil menggeleng-gelengkan kepala macam tak percaya.

“Kenapa tengok macam tu pulak tu, Sayang…???” tanya Mak Ngah aku tu kepada aku.

“Macam tak percaya la malam ni Amin dapat tidur dengan Mak Ngah…!!!” jawab aku.

“Sudah la tu Amin, malu la Mak Ngah Amin tengok macam tu…!!!” kemudiannya Mak Ngah aku tu berkata kepada aku sambil terus memaut pinggang aku dan menarik ke atas tubuhnya.

Lembut dan empoknya aku rasakan tubuh Mak Ngah aku tu bila aku dapat menindihnya. Batang kote aku berdenyut-denyut di atas tundun lubang cipap Mak Ngah aku tu seperti terkena karen letrik. Tangan Mak Ngah aku tu kemudiannya menggosok-gosok di belakang aku sambil mengerang-ngerang keghairahan. Tangan aku pun tidak duduk diam, mencakar-cakar di tepi pinggul dan sesekali meramas kuat bontot tonggek idaman aku itu sambil bibir aku mengucup-ngucup di kesemua arah di sekitar muka,leher dan dadanya.Kemudian aku pun menarik t-shirtnya ke atas dengan kuat bagi melihat lebih jelas kedua-dua tetek montoknya.Fulamak…terselah kedua-dua tetek gersang Mak Ngah aku tu.Putingnya agak besar dan tersembul keras.Akubagaikan bayi yang menyusu terus menyonyot puting besar itu dengan gelojoh.Aku terdengar-dengar suara aku dipanggil-panggil oleh Mak Ngah aku tu diiringi ngerangan,mungkin menahan kesedapan tapi aku bagai sudah tidak boleh kawal lagi,dari celah alur ke puncak putingnya aku gomol-gomol dengan bibir aku.Terangkat-angkat dada Mak Ngah aku tu sewaktu menahan kesedapan sambil mengeliut-geliut.Aku kena memastikan nafas aku tidak terhenti bila hidung aku jugak turut tertutup semasa menyondol kedua-dua tetek Mak Ngah aku tu.Sesekali aku mengerengkan hidung aku ke kiri atau ke kanan bagi mengambil udara.

“Amin… Eehh… Eeehhh… Sedapnya…!!! Egh…!!!” keluh Mak Ngah aku tu menahan kesedapan.

Kepalanya menggeleng-geleng kiri dan kanan dibuai keghairahan yang teramat enak. Kain alas katil sudah kusut tak tentu hala kerana menahan dua tubuh yang bergumpal ganas di atasnya. Sampai satu ketika aku pun mengangkat muka untuk melihat raut wajah Mak Ngah aku tu yang asyik dalam keghairahan.

“Amin ni boleh tahan jugak la…!!! Lemas Mak Ngah dibuatnya, Sayang…!!!” keluh Mak Ngah aku tu. Aku kira sudah sampai masa untuk menyelak kain Mak Ngah aku tu dan memasukkan batang kote aku.

Kemudian aku mengangkat badan aku dan melutut di celah kangkang Mak Ngah aku tu. Kemudiannya aku pun terus menyelak kain batiknya ke atas serta menarik kain pelikat aku sendiri ke atas kepala dan melemparnya ke bawah. Memang Mak Ngah aku tu tidak memakai seluar dalam sebagai mana akuduga.Warna lubang cipapnya yang kemerah-merahan dan tembam pulak tu menaikkan keinginan nafsu seks aku lagi. Mak Ngah aku tu kemudiannya terus membukak kangkangnya dengan lebih lebar lagi atas sebab apa yang aku pun belum faham. Aku letakkan tangan aku di atas lubang cipapnya dan melurut jari hantu aku di tengah-tengah alur merekahnya. Terasa basah dan berlendir di situ menandakan Mak Ngah aku tu sudah terangsang kuat,fikir aku. Lama jugak aku membelek dan melurut di situ sehinggakan Mak Ngah aku tu menegur aku.

“Sudah la tu, Amin…!!! Apa tengok lama-lama sangat kat situ, malu la…!!! Mari la naik balik atas Mak Ngah ni…!!!” Mak Ngah aku tu menegur aku.

Tangannya dihulurkan ke arah aku menantikan kedatangan aku untuk memuaskan keinginan nafsu seksnya yang telah lama diabaikan oleh Pak Ngah. Aku masih ragu-ragu samada aku boleh meneruskan kerja gila ini, tapi alang-alang sudah basah begini biarlah terus bermandi.

Aku mula mencepak ke atas tubuhnya sambil menjeling ke arah batang kote aku supaya benar-benar berada di sasaran.Matakami saling merenung seolah-olah masih ragu-ragu. Mak Ngah aku tu menganggukkan kepalanya dengan perlahan seolah-olah faham apa yang bermain di kepala aku pada masa itu. Perlahan-lahan aku menindih tubuh Mak Ngah aku tu sambil batang kote aku turut meluncur masuk ke dalam liang lubang cipap hangat Mak Ngah aku tu buat kali pertamanya. Kedudukan kaki Mak Ngah aku tu yang terkangkang dan tundunnya yang sedikit terangkat memudahkan lagi batang kote aku masuk tanpa halangan. Tak dapat aku bayangkan betapa sedapnya batang kote aku bergeser di dalam lubang cipap Mak Ngah aku tu, sehingga habis ke pangkal aku menekan batang kote aku dan terdiam di situ.

“Maaf ye Mak Ngah, Amin dah buat salah pada Mak Ngah malam ni…!!!” bisik aku di telinganya.

“Takpe la Sayang, Mak Ngah pun salah jugak sebab biarkan Amin buat begini…!!! Lagipun Mak Ngah pun dah lama tak dapat main seks dengan penuh bernafsu…!!! Rasanya kali ini Mak Ngah akan dapat rasa sebagaimana yang Mak Ngah dapat masa awal-awal kahwin dulu, Sayang…!!! Buat la apa yang Amin suka asalkan Amin puas dan Mak Ngah jugak puas, Sayang…!!!” tanpa rasa kesal Mak Ngah aku tu menjawab lembut sambil menarik tubuh aku dengan lebih rapat lagi.

“Aaahhhggghhh… Amiin…!!! Sayanggg…!!!” terus dengan itu Mak Ngah aku sudah menutupkan matanya dan merelakan segalanya untuk aku.

Terasa denyutan kuat dari dalam lubang cipap Mak Ngah aku tu membalas tekanan batang kote aku. Aku mula menyorong-tarik batang kote aku sambil menjeling sesekali ke bawah nak melihat bagaimana rupa lubang cipap Mak Ngah aku tu masa batang kote aku keluar-masuk di dalamnya. Tubuh Mak Ngah aku tu terangkat-angkat setiap kali aku menujah masuk batang kote aku ke dalam lubang cipapnya dengan kuat. Bau aroma tubuh Mak Ngah aku tu menguatkan lagi keinginan nafsu seks aku untuk menyetubuhinya dengan lebih ghairah. Sesekali Mak Ngah aku tu mengetapkan giginya menahan kesedapan. Aku cuba menggomol kedua-dua teteknya masa itu dengan bibir tapi tak berapa sampai sebab dalam keadaan begini kedudukan kedua-dua tetek Mak Ngah aku tu sudah ke bawah dari dada aku. Mak Ngah aku tu pun tinggi kurang sikit dari aku,tapi aku berasa sangat seronok bila melihat kedua-dua tetek Mak Ngah aku tu beralun-alun tak tentu hala bila tubuhnya bergoyang semasa acara sorong-tarik ini berlaku. Kain batik Mak Ngah aku tu sengaja tak ditarik keluar sebab nak elakkan air kami melimpah ke atas tilam nanti, tapi itu sebenarnya lebih menambahkan keghairahan nafsu seks aku bila melihat wanita yang separuh terbogel dengan kain batik terselak ke atas sewaktu akumenyetubuhinya.Sebab pengalaman aku tidaklah sehebat Mak Ngah aku tu, hanya berpandukan VCD lucah yang pernah aku tonton sebelum ini, aku masih mengubah posisi permainan, lagipun masing-masing sudah rasa cukup sedap dan selesa dengan keadaan posisi begini. Mak Ngah aku tu tidaklah mengeluarkan suara yang kuat dan sesekali sahaja mengeluh kerana takut suara itu mengejutkan anak-anaknya di biliklain.Aku pun tak mahu perkara ini diketahui oleh adik-adik sepupu aku yang lain. Tiba-tiba Mak Ngah aku tu memeluk aku dengan kuat dan aku hampir tak dapat bergerak, agaknya ini yang dikatakan klimaks bagi wanita, fikir aku. Hampir leper kepala aku di tekapnya di sebelah kepalanya. Pinggulnya ditolaknya kuat ke atas sambil menderam dalam.

“Emm… Amin…!!! Amin…!!! Mak Ngah dapat.. Aaahhh…!!!” bunyi suara Mak Ngah aku tu menderam dalam.

Terasa kemutan pada batang kote aku jugak amat kuat, macam mesin tebu waktu nak mengeluarkan airnya.Aku tak pernah terfikir masa biasa tadi taklah ketat sangat tapi masa klimaks Mak Ngah aku tu boleh menguncupkan liang lubang cipapnya dengan begitu ketat dan kuat. Disebabkan kemutan yang kuat ini aku pun rasa sama-sama keluar jugak. Tak sempat aku tahan lagi, berdenyut-denyut batang kote aku sewaktu melepaskan lahar putihnya. Jauh lebih sedap jika dibandingkan masa aku melancap. Mak Ngah aku tu hampir terjerit bila terasa air mani aku memancut di dalam lubang cipapnya dan rahimnya serentak dengan air maninya jugak,tak sempat untuk aku mengeluarkan batang kote aku lagi disebabkan pelukkan macam ahli gusti di tengkok aku.Cuma pengadilnya saja yang tak ada untuk kira ‘One…Two…Three…!!!’,kata aku. Akhirnya perlahan-lahan pelukan Mak Ngah aku tu mula kendur dan pinggulnya mula turun balik seperti biasa.

“Aaahhh… sedapnya Amin…!!! Dah lama Mak Ngah tak dapat rasa macam tu tadi, Sayang…!!!” kata Mak Ngah aku tu kepada aku sambil tersenyum kecil di tepi bibirnya mengambarkan yang dia puas.

“Takpe ker Amin terpancut kat dalam tadi, Mak Ngah…???” tanya aku kepada Mak Ngah aku tu,risau.

“Apa nak dirisaukan Amin, Mak Ngah ada pakai alat cegah hamil kat dalam la…!!!” jawab Mak Ngah aku tu kepada aku. Lega rasanya bila Mak Ngah aku tu berkata macam tu. Aku masih belum beranjak dari atas tubuh Mak Ngah aku tu, cuma mengangkat kepala sahaja,merenung wajah ayu Mak Ngah aku tu.

“Mak Ngah ni ayu la…!!!” kata aku kepada Mak Ngah aku tu,memuji. Mak Ngah aku tu hanya tersenyum sahaja sambil membalas kucupan manja aku di bibir lembutnya. Malam itu aku terus menggomol Mak Ngah aku tu dan main lagi sekali sehingga ke pukul 4:00 pagi dan aku pun minta diri untuk pulang ke bilik sebelum anak-anaknya yang lain bangun pagi esok. Tak dapat aku gambarkan bagaimana cerianya wajah Mak Ngah aku tu pada keesokkan harinya menyediakan sarapan dan sesekali menjeling manis ke arah aku seolah-olah mengucapkan terima kasih kepada aku yang membantu menyiram tanah kebunnya yang sudah lama gersang selama ini. Aku bagai memberi isyarat balas,sama-sama daun keladi, bila boleh dapat lagi

fanisofy  asked:

Haiii kak ataaa, kak perjuangan yang sebenarnya dalam hidup seperti apa siiih? In your opinion

berjuang buat mengendalikan, mengarahkan diri sendiri kepada kebaikan. seringkali banyak hal dalam hidup, entah itu dalam hal beragama, pergaulan, kebiasaan, masalah pendidikan kita, urusan cinta-cintaan, kadang kita tahu salah, kita tau bakal sakit, kita tau itu g bener, tapi kita lakukan, krn terlalu menuruti perasaan, atau karena kitanya yang emang ngga nerima kenyataan. menurut aku, perjuangan ya yang gitu..

The Way I Lose Her: Almost is Never Enough

Aku rasa ini bukan cinta.
Cinta bukanlah seperti ini.
Cinta seharusnya tidak membuatmu menghancurkan dirimu sendiri hanya demi orang lain– 

.. yang bahkan jelas-jelas tidak memilihmu.

                                                           ===

.

Hari sudah menyentuh pukul setengah 11 malam. Karena merasa sudah terlalu lama nongkrong di luar, kami bertiga setuju untuk kembali ke sekolah. Tapi sebelum pulang, Ikhsan meminta Cloudy untuk mengantarkannya beli martabak dulu di sekitar daerah Kosambi Bandung, karena dia baru inget kalau punya janji beliin martabak buat anak-anak panitia yang lain. Tolol emang.

Karena jalanan sepi banget, Cloudy jadi tidak perlu terlalu was-was membawa kendaraannya melaju menembus udara Bandung yang dingin banget kalau udah malem gini. Kami berdua berhenti tepat di depan pasar Kosambi. Di sana ada cukup banyak jajanan malam seperti tukang martabak, roti bakar, gorengan, lupis, kue pasar, surabi, juga tukang bubur 24 jam yang paling terkenal di Bandung. Bubur Bejo. 

Ikhsan memesan martabak, sedangkan gue berjalan menunju salah satu kios rokok di sana.

-Gue nggak nemu foto Bubur Bejo yang bagus nih. Btw kapan-kapan kita Night Culinary di Bandung bareng yuk!!-

 .

Ada lemari es kecil di kios tersebut, gue buka dan melihat-lihat isi di dalamnya. Seperti biasa, tanpa sadar gue mengambil Teh Kotak dingin walau sekarang Bandung lagi dingin banget. Sejenak setelah mau membayar, gue baru inget kalau ternyata gue sudah berjanji untuk tidak menyentuh minuman ini lagi.

“Bikin penyakit nih minuman.” Tukas gue dongkol dalam hati.

Tapi, untuk mengembalikannya ke dalam kulkas pun gue juga enggan. Gimana ya, rasa-rasanya melepaskan karena dipaksa keadaan padahal masih nyaman itu berat banget rasanya. Seperti sengaja nyisain kulit ayam Kiepsi buat dimakan di akhir, tapi ternyata malah dicolong temen. Bete banget rasanya.

Gue puter-puter itu Teh Kotak dingin, beberapa kali menghitung jari sambil bergumam, “Beli? Jangan? Beli? Jangan? Beli? Jangan?”, pengen beli tapi bikin bete. Pengen nggak beli, tapi dingin-dingin begini enaknya minum Teh Kotak. Bener deh malem-malem itu enaknya sambil minum Teh Kotak dingin. Sambil jalan-jalan di mobil, buka kaca, atau naik motor. Bawaanya adem kaya kipas angin kosmo-wadesta.

Karena masih sibuk merhatiin Teh Kotak di tangan, tanpa gue sadari Cloudy membuka kulkas yang ada di hadapan gue itu, mengambil Aqua dingin lalu dengan tiba-tiba merebut Teh Kotak yang sedang gue pegang dan menggantinya dengan Aqua dingin

Gue langsung menengok. Dan Cloudy hanya diam mengembalikan Teh Kotak itu ke tempatnya.

“Jangan minum itu lagi.” Ia kemudian menatap gue dan menunjuk ke arah Aqua yang lagi gue genggam, “Minum ini aja. Teh Kotak itu nggak baik buat kesehatan badan,” Kata Cloudy sambil membayar minuman dingin itu ke akang-akang di dalem kios rokok,

“..Juga nggak baik buat otak.” Sambungnya lagi.

Gue tidak menjawab. Gue hanya manggut-manggut aja dinasihatin gitu sama ini orang. Yaudah deh toh dia ada benarnya juga. Mungkin yang gue butuhkan sekarang adalah orang yang memang berani dengan terang-terangan memukul gue ketika gue hampir aja melangkah ke jalan yang salah lagi.

Gue mengelupasi plastik di tutup botol itu. Gue lihat dari jauh Ikhsan masih menunggu antrian martabaknya dibuatkan. Karena warung martabaknya penuh dan banyak yang antri, gue sama Cloudy lebih memilih berdiri di depan kios rokok ketimbang nemenin si Anak Tukang Duku itu ngantri beli martabak.

“Are you okay?” Kata Cloudy tiba-tiba setelah melihat ke arah Ikhsan juga.

“Ngg?” Gue menengok ke arahnya, “Honestly.. I don’t know,” Balas gue jujur sambil meminum Aqua dingin itu lalu menutupnya kembali.

“You feel…” Ada jeda sedikit di mulut Cloudy,“…different.” Lanjutnya lagi.

Gue menengok ke arahnya, lalu kembali melihat ke depan.

“Ya, aku juga merasanya begitu.”

Kami berdua masih berdiri saling bersampingan dan melihat ke arah yang sama, ke tukang martabak yang jaraknya tak jauh ada di depan kami berdua. Jalanan yang lenggang serta percakapan-percakapan para muda-mudi yang nongkrong malam-malam seakan menjadi backsound tersendiri buat kami berdua malam ini.

“Padahal sebelumnya, aku bisa merasakan semuanya loh.” Tukas gue sambil memainkan plastik tutup botol Aqua itu.

“Maksudnya?” Tanya Cloudy tanpa melihat ke arah gue yang ada di sampingnya.

“Aku sempat merasa ini semua itu nyata, seperti akan berhasil, seperti hanya tinggal bertahan sedikit lagi dan tidak mungkin gagal. Seperti sudah berlari panjang, lalu tiba-tiba kau melihat garis finish di depan sana. Meski sudah tergopoh-gopoh, rasanya aku pasti bisa menyelesaikan ini semua dan keluar menuju garis Finish,” Gue kembali meneguk Aqua dingin itu dalam-dalam, “Tapi sekarang? Aku masih merasakan perasaan itu, tapi entah kenapa rasa-rasanya jadi berbeda.”

“Berbeda gimana?”

“Asing.”

“Asing?”

“Iya, Asing. Seperti menjadi turis di kotamu sendiri.”

“Seasing itu kah?”

“Entah, tapi rasanya seperti tidak diterima di lingkungan yang kau buat sendiri.”

Gue menghela napas panjang dan melihat jauh ke arah jalanan di depan.

“Kalau tau jadi seperti ini, kalau tau malah berakhir seperti ini…”

Belum sempat melanjutkan kalimat, tiba-tiba Cloudy bersenandung,

“And I never meant to cause you trouble, And I never meant to do you wrong, And I, well, if I ever caused you trouble, Oh no, I never meant to do you harm.” Katanya sambil melantunkan salah satu Reff dari lagu Coldplay – Trouble.

Gue langsung ketawa kecil, “Nah! Iya kaya gitu!”

Cloudy juga tertawa kecil. Tumben, ini pertama kalinya kami bisa akur kaya begini. Biasanya di setiap gue ngomong, pasti aja jadi dosa di muka dia. Kayaknya semua yang gue omongin itu mirip sama orang lagi makan mie rebus terus bersin sampe mie yang dia makan keluar semua dari hidung. Alias dihina abis-abisan.

Ada hening sebentar sebelum kemudian gue kembali melanjutkan cerita lagi,

“Ini seperti.. Aku tau semua ini salah, iya aku sadar. Aku hanya akan mengulang-ngulang kesalahan yang sama lagi dan lagi. Tapi bukannya merasa kecewa, aku malah merasa sakit seperti ini hanya mirip sebuah cubitan kecil. Entah karena aku yang makin kuat, atau memang aku sudah kebal dikecewakan seperti ini?” Ujar gue,

“Dan kamu tau apa yang paling menyebalkan dari itu semua?”

“Apa?” Tanyanya.

“Aku takut aku nggak masalah sama sakit ini. Seperti kecanduan. Kecanduan untuk disakiti. Dan itu yang paling menakutkan. Aku jadi merasa tidak akan takut lagi kehilangan, meski tau bakal disakitin lagi, bakal dilukakan lagi, aku tidak peduli. Aku akan terus mengejarnya. Dan itu tuh benar-benar menakutkan.”

“Pathetic banget sih jadi cowok.”

“Maybe I am.”

“Can I give my opinion?”

“Sure.” Jawab gue meski tahu pendapatnya bakal nyakitin banget.

“Di mata wanita, laki-laki seperti ini itu menyedihkan sekali. Gimana ya, tapi rasanya sudah tidak menarik lagi. Kehilangan jati diri menariknya di mata perempuan. Mungkin analoginya seperti ini, kamu tau kan kalau perempuan seneng banget belanja lipstik? Nah seseneng-senengnya perempuan belanja lipstik tapi kalau lipstiknya patah, mau mahal juga itu perempuan ogah buat dapetin lipstik itu lagi. Walaupun ya sebenarnya ya masih bisa dipakai sih itu lipstik.”

Gue mendengarkan pelan-pelan sambil mencoba elus-elus hati.

“Laki-laki di mata wanita itu menarik karena dia memang berdiri sendiri, angkuh, teguh, tidak mudah didapatkan, tidak mudah ditaklukkan, memimpin jalan, membuka ruang, tak mudah kalah oleh pendapat perempuan, berkepribadian, punya tujuan, dan tau ke mana dia akan melangkah. Walaupun aku nggak mau mengakui ini karena aku bisa melakukan itu semua sendiri tanpa harus bergantung sama laki-laki, tapi ada kalanya aku juga seneng kok pendapatku dipatahkan. Keinginanku ditolak. Permintaanku diabaikan. Disuruh mengikuti tujuannya. Disuruh diam saja dan membiarkan ia yang memegang kendali. Aku sebenarnya nggak mau ngakuin ini, tapi most of all woman will agree with my words tonight.” Katanya lagi.

Gue menengok menatapnya.

“Dan dari perkataan aku barusan, apakah kamu masih mempunyai sifat-sifat itu di mata wanita?” Tanyanya.

Gue berpikir sebentar sambil garuk-garuk dagu, “Masih kok!” Kata gue nggak mau kalah.

“Iya mungkin masih. Tapi mungkin di mata orang lain. Kalau di mata cewek yang pergi ninggalin kamu itu? Masihkah?”

Deg!
Jantung gue serasa ditusuk sama sendok nyam-nyam.
Cenut-cenut tapi perkataan itu ada benernya juga.

Di depan Ipeh, rasanya gue selalu mengalah hanya agar ia senang. Selalu mengikuti kemana pun ia pergi hanya agar ia nyaman. Jangan-jangan, karena itulah Ipeh tidak memandang gue ada?

“See? Like I said before, you feel different. And now I know why..” Cloudy mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan, “Now you know why I’m glad you two got separated. Finally, you get over her. The Pill which you think can cure you, silently it’s killing you.”

Seseorang yang kau pikir hadir untuk menyembuhkanmu, ternyata adalah seseorang yang melukaimu dalam-dalam dengan cara memelukmu erat agar belatinya menancap lebih tajam.

Mungkin itu yang Cloudy maksud. Gue tidak membantah pernyataan Cloudy malam ini, rasa-rasanya semua yang ia katakan itu tidaklah salah, dan gue mengakui itu. Mungkin gue selama ini sudah kehilangan jati diri. Sebagai laki-laki yang menarik, sebagai laki-laki yang berdiri, bukan yang tunduk.

Ikhsan datang menghampiri kami berdua.

“Bentar ya bapak ibu, dua antrian lagi nih baru dibuatin pesenan gue.” Kata Ikhsan cengengesan. Kayaknya nih anak kagak punya beban hidup sama sekali deh.

Walau saat itu dia ada masalah sama Tasya, kok dia keliatan seneng-seneng aja ya? Gue kadang iri sama nih anak.

“Lamaan dikit juga nggak papa.” Bales Cloudy yang kemudian di-oke-in sama Ikhsan dan ia kembali ke tukang martabak meninggalkan kami berdua.

“How did you lose her?” Tanya Cloudy setelah memasukan telapak tangannya ke dalam lengan sweaternya lebih dalam.

“I didn’t,” Jawab gue sambil sedikit tersenyum.

“Aku tidak kehilangan dia. Tidak. Tidak sama sekali.” Gue melanjutkan.

“Kok gitu?” Tanyanya.

Gue melihat ke arah Cloudy, “Because.. She was never mine.”

Ada mimik kaget gue lihat di wajah Cloudy ketika mendengar perkataan gue barusan. Sebuah kalimat singkat yang gue balur dengan senyuman, yang padahal gue tercekik hebat ketika mengatakannya. Seperti sedang mencekik leher sendiri.

“Dia adalah analogi paling tepat dari sebuah kata Hampir. Hampir bahagia, hampir bersama, hampir dimiliki, dan hampir berhasil.” Tukas gue sambil meminum kembali air yang  sudah tinggal sedikit ini,

“Tapi.. entah kenapa, aku tetap merasa kehilangannya.”

Cloudy hanya diam memeluk dirinya sendiri. Mungkin angin malam sudah membuatnya malas berkata panjang-panjang dan lebih memilih bungkam ketimbang menyanggah semua perkataan gue barusan.

“Kamu tau? Dia hampir saja berhasil, bukan dia, tapi kami berdua. Entah hampir atau tidak, tapi yang jelas aku juga sadar bahwa dia juga punya rasa. Dan dia tau kalau aku juga mencintainya. Meski tau dia sudah dimiliki orang lain, dulu aku masih tetap mencintainya sebesar aku masih memiliki kemungkinan untuk memilikinya. Tapi yaaa, semua berakhir di kata-kata Hampir, bukan di kata-kata Berhasil.” Gue memasukkan tangan kiri gue ke dalam saku celana.

“Sekeras apapun mencoba, apapun yang aku lakukan kemarin itu kayaknya semua akan berhenti di kata-kata ‘bagus, tapi bukan itu yang dia cari.’, ‘Good, but Im not Enough’, kamu ngerti nggak?”

Cloudy masih saja diam.

“And damn! That hurt so much,” Gue kembali mengingat segala perjuangan yang sempat gue lakukan untuk mendapatkan Ipeh dulu.

“Kalau saja.. Kalau saja kami berdua berhasil melewati semua kata hampir itu, mungkin walaupun berpisah, semuanya nggak akan sesakit ini. Nggak akan semembingungkan ini. Setidaknya jika semua jelas, berpisah pun rasanya akan punya alasan yang pasti. Tapi kami tidak berhasil, benar-benar tidak berhasil. Kami hanya menyentuh kata Hampir.”

Ada hening yang lama menyelimuti kami berdua.

“Kami hampir bersama,” Gue mulai cerita lagi, “Dan mungkin karena hal itulah rasa-rasanya perpisahan ini sakit sekali. Lebih dari semua sakit yang pernah aku lalui kemarin.”

Gue menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya ke angkasa.

“Aku hampir menjadi orang yang pertama di hidupnya, tapi ternyata tidak. Dia hampir mencintai aku dengan seluruhnya, tapi semuanya luruh begitu saja. Bahkan terkadang sampai detik ini aku selalu berpikir salahku itu apa. Apa yang kurang? Aku salah di mana? Di hari apa aku kehilangannya? Di kesempatan yang mana hingga aku benar-benar tidak bisa lagi menjangkaunya? Waktu mana yang salah? Dan benar-benar menyakitkan menyadari bahwa kami berdua hampir sedikit lagi mencapai garis akhir yang disebut dengan bahagia, namun tiba-tiba takdir membuat kita berjalan saling bersebrangan. Hahahaha takdir memang brengsek banget ya.”

Gue terkekeh mengingat betapa bodohnya gue. Berjuang kuat-kuat padahal tahu apa yang sedang gue perjuangkan itu adalah sebuah kesalahan. Gue masih berpikir bahwa akan ada sebuah harapan kecil di mana kami akan berhasil melalui semua mimpi buruk ini. Tapi sialnya, karena bergantung di harapan kecil itulah yang sekarang malah membuat gue sangat terluka seberat ini.

Setelah ucapan gue yang panjang lebar tersebut, Cloudy tetap saja diam di samping gue tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun. Gue awalnya nggak curiga, sebelum tiba-tiba dia memukul lengan gue keras.

Buk!
Gue sontak terkejut sambil memegangi lengan gue.  Tapi bukannya berhenti, Cloudy malah memukul lengan gue lagi dan lagi.

“Aduh aduh, oi apaan nih?!” Kata gue sambil masih melindungi tangan gue dari pukulan Nenek Lampir ini.

“BEGO!! BEGO!! BEGOOOOOOOOOOOO!!!!!” Dia terika sambil masih terus mukulin lengan gue.

“HAH?! Gue salah apa lagi sih, Wajan?!”

“ELO ITU BEGOK!!” Sekali lagi ada tonjokkan keras di lengan gue sebelum kemudian dia diam dan menatap ke arah depan lagi sambil masih memasang wajah kesel.

Gue yang nggak ngerti apa-apa ini cuma bisa diem sambil masih mengelus-ngelus lengan gue yang sudah dizolimi sebelah pihak doang. Pukulannya nggak sakit sih, pukulannya masih termasuk dalam kategori lemah lembut jika dibandingkan dengan pukulan Ipeh yang isinya otot semua. Tapi tetap saja gue kaget pas dia tiba-tiba mukul gue kaya begitu. Kesurupan setan Kosambi kali nih bocah.

Cloudy mengatur nafasnya, sedangkan gue masih sedikit menjauh karena kaget akan tingkah lakunya yang tiba-tiba tadi itu.

Belum sempat ada penjelasan, pesanan Ikhsan ternyata sudah selesai dan kini ia berjalan menghampiri kami berdua.

“Woi Beauty and The Beast, gue udah beres nih. Yok balik ke sekolah.” Katanya cengengesan sambil menunjukkan martabak yang ada di dalam kresek yang ia bawa.

Cloudy mengangguk mengiyakan ajakan Ikhsan lalu menyenggol tangan gue pelan,

“Ayok pulang.” Katanya dingin sambil berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban dari gue.

Cloudy menyebrang duluan bareng dengan Ikhsan. Namun sebelum sempat gue nyebrang jalan juga, HP gue berbunyi, ada sebuah SMS masuk. Otomatis gue diam sebentar untuk membacanya.

From: Ipeh

“I Still want you.”

Tulis SMS-nya singkat. Dari beratus-ratus SMS yang dia kirim ke HP gue seharian ini, hanya sms ini yang gue baca, sisanya langsung gue hapus tanpa dibaca terlebih dahulu. Di depan kata-kata singkatnya itu, gue semakin terpaku di sisi jalan sepi ini.

I still want you too, Peh. Sebenarnya gue juga tersiksa di sini. Bahkan kalau malam ini atau besok lo datang ketemu gue terus memeluk gue erat meminta dimaafkan, gue pasti memaafkan elo. Gue nggak pernah sanggup untuk membenci lo sedikitpun. Setelah semuanya yang kita lalui bersama, benci seharusnya bukanlah jalan akhir dari cerita ini. Jika dibandingkan dengan luka yang kita berdua derita, bahagia yang pernah kita lalui dulu itu jauh lebih banyak. Jadi, benci bukanlah jalan akhir yang pantas dari cerita ini.

Gue akan keluar dari OSIS kalau itu adalah taruhan yang harus gue bayarkan hanya agar gue dan Ipeh bisa memperbaiki ini semua. Apapun berani gue pertaruhkan for her. Namun, sudah begitu terlambatkah ini semua?

Sudah tidak bisa diperbaiki lagi kah kisah kami berdua?

Bagimana aku bisa membencimu, Peh? Jika alasanku untuk bahagia masih namamu juga? Aku masih menginginkanmu, masih menginginkan kita. Meski kau telah benar-benar menghancurkan semua, meski kamu telah memotong urat nadiku hingga aku terkapar kesakitan dan memilih untuk mati saja, aku masih tetap menginginkanmu.

Apakah kita harus berakhir seperti ini?
Apakah ini memang akhirnya?
Apakah dari semua bahagia di awal cerita, dari semua takdir yang membawa kita di banyak ketidak=-sengajaan hingga kita bisa begitu saling menyayangi seperti dulu itu, inilah akhir  yang harus kita derita bersama?

Biar bagaimanapun, aku tetap tidak bisa membencimu.
Bahkan mungkin jika kau datang menemuiku malam ini sambil membawa tangis di kedua bola mata indahmu itu, aku akan langsung memelukmu erat dan melupakan semua hal keparat yang kita lalui sore tadi.

Meski kau hancurkan hatiku hingga tercerai-berai, aku masih berharap kau akan datang dan menyatukan semua kepingannya lagi. Sama seperti dulu waktu kita pertama bertemu, sama seperti ketika aku patah lalu kau datang mengisi penuh ceritaku.

Aku rasa ini bukan cinta.
Cinta bukanlah yang seperti ini.
Cinta seharusnya tidak membuatmu menghancurkan dirimu sendiri hanya demi orang lain–

.. yang bahkan jelas-jelas tidak memilihmu.

“Dimas?”

Tiba-tiba gue dikagetkan oleh suara lembut yang membuat gue kembali sadar dari lamunan gue barusan. Cloudy ada di sana. Dia kembali datang menyebrangi jalan hanya untuk menemui gue di sisi yang satunya. Dia datang.

Dia mencariku.

Dia bertanya, memanggil nama gue berulang kali sambil memegang pundak gue. Gue yang tadi masih tertunduk melamun menatap tulisan di HP gue tersebut langsung melihat ke arahnya.

“Sometimes, the person that you’d take a bullet for is behind the trigger.” Ucap Cloudy pelan ketika gue menatapnya.

Cloudy kemudian menggandeng tangan gue dan menariknya menyebrangi jalanan yang sebenarnya sudah sepi dari kendaraan sama sekali. 

Sebelum masuk ke dalam mobil, Cloudy membalikkan badannya dan menatap gue sekali lagi. Kali ini tatapannya berbeda, lebih sendu ketimbang biasanya.

“Lets go home.”  Ucapnya pelan sekali. 

Gue hanya mengangguk mengiyakan tanpa menjawab sepatah kata apapun sebelum kemudian kami berdua masuk ke dalam mobil.

Love..
Love shouldn’t be like this.
Because Almost,
Almost is never enough for love.

.

.

.

                                                       Bersambung

Previous Story: Here                                                

Ya Udah Sih...

A: Aku suka ndak nyaman we kalau ada yang manggil ukhti, trus bilang afwan dan sejenisnya. Berasa gimana gitu.

B: (senyum)

A: Lah, kok cuma senyum doang?

B: Ya, udah sih, belajar dibikin biasa saja nah, mungkin di luar sana juga ada yang ndak nyaman ketika kamu panggil Sis(ter), Bro(ther), atau pas kamu bilang sorry, atau pas kamu nyeletuk BTW, anyway, prefer, maybe, what, why?

A: Hehehe… iya juga sih… (nyengir).

B: Wkakakaka… :D

A: Lah, maalah diketawain…

B: Ya, gimana, lucu saja mukamu pas nyadar itu… hahaha
Kita tuh suka sensitif banget buat kenyamanan diri sendiri, tapi kadang kurang peka sama kenyamanan yang lain. Iya, nggak si?

A: Iya, nah… :D

B: Dibawa biasa saja nah, santai kayak di pantai, selow kayak nyruput kuah soto. Pinter-pinter menempatkan diri.

Meh nak share siket ciri-ciri introvert person. Tapi tak semua ciri-ciri yang disebutkan perlu ada pada mereka. Mungkin kebanyakkannya benar. Mungkin ada yang tidak. Nak tahu kalian introvert atau tak, teruskanlah membaca. Panjang ceritanya. Haha.

Ok ini berdasarkan apa yang aku lalui, baca dan dari ujian personaliti diri. Dan tak semua orang sedar jika dia itu termasuk golongan ini. Ini bukan golongan pelik. Bukan. Ini golongan introvert. Special.

Seperti yang kalian sendiri tahu mahupun tidak, Introvert itu sendiri bermaksud seseorang yang suka menyendiri dan mereka peroleh kekuatan apabila bersendiri. Extrovert pula sebaliknya.

Lebih jelasnya mereka akan melakukan sesuatu perkara dengan sendiri dan tak suka menyusahkan orang lain. Seorang yang independent dan suka berfikir serta mempunyai pemikiran yang baik. Selagi dia mampu, dia akan usaha sendiri apabila tidak barulah dia meminta pertolongan orang lain.

Sama macam perasaan jugak lah, mereka ini akan pendam, simpan dan bertahan. Hanya orang tertentu sahaja yang mereka akan cari untuk meluahkannya. Itupun tak semua. Ada orang yang sampai satu masa bukan manusia yang dia cari tapi meluahkan dengan penulisan sekiranya itu dapat melegakan hatinya.

Selain itu, mereka sukakan ketenangan seperti melihat keindahan alam, menulis, membaca buku, mendengar music, travel ke mana mana tempat yang jauh dari tempat mereka tinggal dan dari orang yang mereka kenali atau hanya menghabiskan masanya di rumah, makan dan tidur. Tidak sukakan aktiviti yang terlalu melibatkan ramai orang. Yang pasti dia tenang dengan keadaannya tanpa gangguan dari sekeliling.

Kerana golongan ini mudah berasa bosan, penat serta gundah dengan keadaan sekeliling yang sibuk dan menyesakkan. Sangat tidak puashati dengan mereka yang suka marah-marah, menjerit dan keadaan yang terlalu bising. Ini kerana keadaan itu mengurangkan tenaga luaran serta dalaman mereka.

Introvert person jarang duduk lama di dalam sesuatu majlis atau event. Sekiranya mereka nampak bad mood, gelisah dan ingin segera pulang, bawalah mereka pulang. Jangan paksa mereka bersosial. Jangan. Jika dia nak, dia akan buat. Kalian pergilah buat hal sendiri dulu dan jangan risaukan dia. Dia akan gunakan masa itu untuk mengecas tenaganya. Apabila tenaganya (baca: kekuatan fizikal, mental juga emosi) sudah “full charge”, dia akan mencari anda untuk berbual semula.

Kalau dia nak keluar atau buat sesuatu tanpa anda, biarkan saja. Berbincang dengan dia sekiranya anda ada merancang bersama nak kemana-mana. Jangan biarkan dia tahu perkara itu last minute. Nanti dia akan mengelak dan beri alasan untuk tidak ikut serta.

Seorang introvert hanya fokus pada teman-teman rapatnya. Orang kata introvert person ni tak ramai kawan kerana kurang bersosial. Tak jugak. Tak semua introvert tidak bersosial dengan orang luar. Ada juga yang ramai kawan. Sejujurnya mereka sangat memilih kawan. Mereka akan cari kawan yang boleh memahami jiwa mereka. Selalunya persahabatan mereka bertahan dalam jangka masa yang panjang. Bukan kawan pakai buang. Sebab bagi mereka, makin sikit kawan makin kurang masalah yang timbul. Maka makin kuranglah jugak hati yang perlu dijaga.

Nalurinya mereka lebih suka diam dan banyak berfikir tetapi tak bermaksud mereka itu pendiam. Tak hairanlah sebelum bercakap mereka akan berfikir dahulu kerana taknak apa yang disampaikan itu sia-sia dan menyakitkan hati orang lain. Mereka boleh jadi seorang yang berbual tanpa henti sekiranya topic yang dibualkan itu kena dengan jiwa mereka. Tak suka borak kosong kerana baginya itu suatu yang membuang masa.

Seorang introvert adalah seorang pendengar yang setia. Selalu menjadi tempat rakan-rakannya meluahkan perasaan. Seorang yang mempunyai kekuatan konsentrasi yang baik dan mudah memahami. Itulah salah satu cara mereka menghargai teman-temannya.

Apabila seorang extrovert memasuki dunia introvert, mereka mudah merasa sunyi dan tidak selesa. Extrovert merasakan kehidupan seorang introvert amat membosankan. Tapi tidak bagi seorang introvert.

Bersendirian itu adalah suatu yang menggembirakannya. ^^

Jadi adakah kalian salah seorang introvert?

atau perhatikanlah orang-orang di sekeliling kalian. :)

Jika ya, maka berbanggalah dengan diri anda. Kerana telah Tuhan ciptakan hambanya berbeza-beza sifat, perangai hatta warna kulit. Hanya untuk saling lengkap-melengkapi.

Chill yah.