braingasmic

Shit Me and My Friends Have Said (2/?)
  • “I will lick your tongue.”
  • “That’s gay as hell.”
  • Sad fanfiction is sad.”
  • “It can also be construed as sexual harassment.”
  • “Pissy Short Girl is the title.”
  • “Rage girl and Sunshine Boy.”
  • “Why did you put jalapeno’s in PB&J?”
  • “Egg man.”
  • “It’s so soft I had a braingasm.”
  • “Your memes aren’t dank enough.”
  • “Hey! Hey! Look at a picture of my profile picture.”
  • “You’re like a puppy, you’re nose is always so cold.”
  • “Why do you always look so horrified when I say that out loud.”
  • *Cringe face* “I love that face you make.”
  • “Your kisses are so soft—no homo.”
  • “All the homo.”
  • “You wanna get stabbed?”
  • “Your mom said she will beat your ass if you don’t watch your mouth.”
  • “Dick, ass, bitch, fuck, fuck, fuck, fuckity fuck, shit, pussy.”
  • “Why are you like this.”
  • “My younger self would be so appalled at my older self.”
  • “My current self is appalled at your current self.”
  • “Yes, touch my ears you pervert.”
  • “You’re in high school, you shouldn’t be doing cocaine anyway.”
  • “Is that I-TAL-IAN?”
  • “Mermaid hair!”
  • “Fairy hair!”
  • “I’d rather it be the devil’s temperature.”
  • “Stop saying things out loud.”
  • “Lol?”
  • “Did you ever see a man so beautiful you just start crying?”
  • “He was nice looking.”
  • “I got these shoes for free.”
  • “The guy kept looking down and forgot to charge me.”
  • “They were 45 dollars.”
  • “You tried to crack my fingers, I knew I shouldn’t have trusted you.”
  • “You talk a lot about boobs for a girl who’s supposedly straight.”
Cara Kita Memahaminya

Beberapa waktu yang lalu saya menerima email menarik dari seorang anonim yang ingin berbagi dongeng. Namun yang tak kalah menarik, dalam email tadi dia mempertanyakan kesukaan saya pada cerita fiksi.

Awalnya saya bingung, tapi kemudian saya mengerti. Wajar jika orang pikir saya tidak suka fiksi, karena saya terbiasa menulis segala hal yang berbau nonfiksi.

Tapi setelah saya pikir, pandangan ini cukup aneh dan sering terjadi di antara kita. Menganggap seseorang anti-putih hanya karena dia menyukai hitam. Membuat cap seseorang kiri hanya karena dia selalu bercerita tentang kanan. Dalam musik, orang yang suka Jazz seringkali dianggap pasti tidak suka dangdut, dan orang yang menikmati Taylor Swift dicap pasti benci dengan Ayu Ting Ting.

Padahal belum tentu seperti itu.

Saya menyukai banyak karya fiksi. Saya baca beberapa komik, dan saya ngefans berat dengan banyak film superhero, terutama Marvel.

Saya punya koleksi figur Iron Man, dan saya sedang menunggu tidak sabar untuk bisa menonton Civil War. Tiap kali saya menonton trailer dan cuplikan filmnya di Youtube, saya mengalami braingasm. You know, that kind of orgasm happened to your brain when you see something really, really awesome.

Saya juga menikmati seri-seri Marvel, dua seri terbaik yang saya nonton; Agents of S.H.I.E.L.D dan Daredevil. Agents of S.H.I.E.L.D. adalah representasi fiksi yang paling fiksi, tokoh pahlawannya dipenuhi anggota inhuman yang tidak masuk akal, dan tokoh antagonisnya diisi manusia neo Nazi pemuja setan serta makhluk-makhluk alien dari semesta dan dimensi yang berbeda.

Kurang fiksi apa coba.

Tapi status seri terbaik buat saya masih milik Daredevil. Ceritanya super keren karena berada di antara fiksi dan dunia nyata; garis batasnya tipis sehingga terasa manis dan pahit di saat yang sama. Manis karena keseruan cerita terjadi dengan sentuhan fiksi, tapi pahit karena kita tahu pasti konflik yang diceritakan benar-benar terjadi di dunia kita. Cerita pemerintah yang korup, mafia yang berkuasa, dan kota yang sekarat adalah cerita yang benar-benar ada di dunia nyata.

Saya juga penikmat film-film animasi, terutama produksi Disney & Pixar.

Toy Story adalah film legendaris yang ceritanya benar-benar memasuki kehidupan saya. Saya ingat pertama kali nonton film ini di VCD Player yang baru dibeli Bapak, dengan VCD Toy Story yang menjadi bonusnya.

Hampir tiap akhir pekan, saya dan kakak saya menonton film ini berkali-kali, hingga saya hapal dialog versi dubbing Indonesia-nya di luar kepala. Saya punya banyak mainan dan saya selalu merasa mereka berbicara pada saya. Pengaruh besar cerita fiksi membuat saya menjaga mereka sepenuh hati, seakan mereka benar-benar hidup seperti di Toy Story.

Hal terbaik yang membuat Toy Story begitu nyata buat saya adalah ketika saya menyadari bahwa karakter Andy benar-benar seumuran saya. Saat Toy Story 3 rilis tahun 2010 dengan cerita Andy akan pergi kuliah, saya menonton dengan status baru sebagai mahasiswa. I really can relate to Andy.

Toy Story dan ceritanya seakan sudah menemani saya bertumbuh besar, sehingga ketika sampai scene Woody di beranda rumah dan mengucap “So long, partner”, saya menangis sesenggukan.


Saya menikmati banyak cerita fiksi.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, saya mungkin memang tidak suka fiksi. Konteksnya bukan fiksi sebagai genre, tapi fiksi sebagai cerita dengan dasar yang tidak nyata.

Buat saya, fiksi itu hanya cara bercerita. Ada cerita yang disajikan dengan cara lugas sembari berteori, ada juga yang disajikan dengan gaya bercerita lewat tokoh rekaan. Yang kedua, adalah representasi gaya fiksi.

Kalau itu soal gaya bercerita, lalu bagaimana dengan kontennya? Menurut saya, konten karya yang ideal harusnya tidak sepenuhnya fiksi, atau paling tidak, harus punya pijakan yang kuat pada sesuatu yang nyata di dunia yang sebenarnya.

Pijakan di dunia nyata ini yang akan membuat sebuah cerita menjadi kuat, yang membuat pembaca/penonton bisa terhubung dengan cerita yang disajikan, dan mempermudah transfer pesan yang ingin disampaikan.

Saya menyukai cerita luar biasa yang imajinasinya meledak-ledak, tapi punya pijakan dunia nyata yang jelas. Cerita fiksi yang tidak punya dasar atau didasarkan pada keresahan yang dibuat-buat hanya akan menghasilkan cerita yang mudah goyah. Tidak memiliki kedalaman.

Bagi saya, cerita terbaik adalah cerita dengan garis batas yang tipis antara fiksi dan dunia sebenarnya. Cerita yang tiap potongannya membuat kita bisa terhubung dengan salah satu atau banyak kejadian yang kita amati di dunia nyata.

Bagi saya, salah satu contoh yang paling mendekati deskripsi tadi adalah film Zootopia.

Lihat sedemikian jauhnya Zootopia mengolah cara mereka bercerita dengan universe dan karakter yang sangat fiksi.

Dikisahkan, Zootopia adalah sebuah kota metropolitan di sebuah dunia yang hanya diisi oleh Mamalia. Dari yang kecil hingga yang besar, dari yang berbulu hingga yang bertaring, semua hidup damai berdampingan dalam sebuah kota.

Konflik mulai terjadi dari sudut pandang Judy Hopps, seekor kelinci dari desa yang bercita-cita menjadi polisi. Dari sana, semua konflik yang terjadi adalah konflik besar dan kecil yang terinspirasi dari keseharian manusia di dunia nyata: cerita tentang seseorang yang bercita-cita tinggi tapi terhambat stigma masyarakat. Cerita tentang mereka yang dinilai karena stereotipe, bukan kompetensi. Cerita tentang bullying dan trauma masa kecil. Cerita tentang politik, kekuasaan, dan toleransi.

Semua cerita dengan konflik yang dalam dan terasa sangat nyata.

Tak heran jika kemudian Zootopia mendapat rating 8,4 di IMDB dan 98% di Rotten Tomates.

Sebuah cerita yang mewakili keresahan yang nyata. Seperti itulah harusnya proses penciptaan sebuah karya.

Karena saya percaya, fiksi bukanlah cara kita lari dari dunia nyata.

Tapi fiksi, hanyalah satu dari banyak cara kita memahaminya.

Subtext in THoB

Hello Sherlock fandom. I noticed a bunch of stuff while re-watching THoB, and I’m not sure whether this is all extremely obvious and been covered before, but after a quick search I couldn’t find anything, so here it is. I have been completely obsessed with all the amazing meta of loudest-subtext-in-television and deducingbbcsherlock among many others, so thank you for the multiple braingasms and a newfound obsession with subtext.  I would love comments and help with these ideas, or direct me to meta that already exists. Thank you, friends. 

Keep reading

youtube

*braingasm*

youtube

BRAINGASM