bounty hanggoro

complete (capter 1)

Pagi pertama untuk Nicholas.

                “KRIIIING…KRIIIIIIIIING.” Benda itu kerap mengeluarkan suara dan bergetar, kalau kalian kira itu adalah jam weker milik Nicholas, maka kamu salah. Benda itu adalah telepon selular Nicholas yang bahkan mengeluarkan suaranya lebih dulu ketimbang jam wekernya.

                “mmmh….” Nicholas ngedumel bercampur menggumam bete.  ‘siapa sih yang nelpon gue pagi-pagi?’ tanyanya dalam hati.

                Dengan mata masih setengah terpejam, cowok itu meraba-raba side table tempat tidurnya, ia mengambil telpon selularnya, dan dengan mata menyipit ia bisa melihat tulisan ‘ibu’ di layar telpon selularnya.

                “hello….?”

                “NICK!” sang ibu menyapanya dengan suara yang tidak wajar  untuk ukuran orang yang baru banget melek.

                “yes bu?” jawab Nicholas dengan lembut, ia sangat anti dalam berbicara dengan nada tinggi terhadap orang yang lebih tua.            

                “tuh kan! Kamu pasti baru bangun deh? Kan udah ibu bilang Nick, Jakarta beda sama London, Jakarta tuh macet!” ibunya ngomel, Nicholas melirik ke arah jam dinding yang bertengger di tembok apartemennya.

                “aku udah tau bu, lagi pula ini masih jam setengah 7, pas weekend aku sudah survey, It took only 15 minutes to go to my office.” Nicholas menghela nafas, ia berjalan ke arah jendela. Rasanya kurang komplit kalau pagi itu tidak menyibak jendela untuk melihat pemandangan kota Jakarta.

                “itu kan weekend Nick, ya ampun!” sang ibu makin hot memarahinya.

                Nicholas menyibak jendelanya, berharap ia melihat langit kebiruan  dan lampu-lampu Jakarta. Namun realitynya membuat ia ternganga Karena terkejut, yang dilihatnya adalah langit yang terang, dan jalanan yang dipenuhi barisan-barisan kendaraan bermotor.

                Dalam hati ia berkata ‘mampus gue’.

                “eeeh… bu, aku harus siap-siap nih… I love you, bye!”

                “ayo cepat siap-siap, I love you too!” balas ibunya.

                Nicholas melempar telepon selularnya ke atas tempat tidur dan berlari ke kamar mandi.

                Ini hari pertamanya magang, dan ia tidak boleh telat!

                Pagi pertama untuk Sienna

                “kereta pertama apa pak?” dengan tergesa-gesa Siena bertanya pada petugas loket kereta stasiun Tebet, ia mengeluarkan uang sepuluh ribu rupiah dari dompetnya.

                “ekonomi  mbak…”  ujar sang penjaga loket.

                “bedanya apa sama commuter?”

                “commuter itu pake ac, ekonomi enggak”

                ‘yaelah beda gitu doang’ batin Sienna, “yaudah, ekonomi satu!”

                Sang penjaga loket menyerahkan sebuah tiket kecil yang terbuat dari kertas berwarna oranye, Sienna mengambilnya dan berlari ke arah pintu dekat peron, disitu ia dimintai tiket karena akan ditandai oleh petugas.

                Sienna menunggu di peron 1, ia melihat ke sekeliling, ada banyak sekali orang disitu, dari tukang kelinci, tukang ayam, orang kantoran, mahasiswa seperti dia. Ia mencari orang-orang yang berpakaian sama seperti dia, kemeja putih, celana hitam, sepatu keds hitam, rambut di bando dan di kuncir, membawa air mineral 1,5 liter, papan tanda pengenal, semua atribut ospek yang membuatnya terlihat seperti kasir alfa mart.

                ‘kereta ekonomi tujuan depok akan segera memasuki stasiun tebet, para penumpang harap bersiap-siap’

                Tidak lama kemudian kereta yang ditunggu-tunggu Sienna dating, ia terbengong-bengong melihat kereta yang akan dinaikinya, tidak ada kaca di jendelanya, tidak ada pintu, banyak orang berdiri di dalam dan di dekat pintu preman-preman bertato sedang duduk. 

                Si abang tukang kelinci dengan sigap bersiap-siap naik ia mengangkat kandang kelincinya.

                “bang, ini kereta ekonomi?” Tanya Sienna memastikan bahwa kereta ini adalah kereta ekonomi, ia bertanya-tanya dalam hati apakah ada kelas yang  lebih rendah daripada kelas ekonomi.

                “iya neng” ujar si abang sambil berlalu, kereta sudah mulai berjalan, Sienna cepat-cepat melangkah ke dalam kereta.

                Di dalam gerbong orang-orang menatapnya dengan aneh, Sienna juga menatap dengan tidak kalah anehnya, habisnya, di dalam satu gerbong, ada preman, satpam yang mau kerja, penyanyi dangdut keliling, bencong, ibu-ibu dari pasar, tukang kelinci, tukang ayam, dan orang gila.

                “aduh neng geulis, ati-ati yah kamu… sini berdiri deket ibu aja.” Sang ibu menarik tangan Sienna agar menjauh dari preman-preman yang mulai menatap nakal Sienna.

                “hape kamu, semuanya masukin tas yah, terus tasnya taro di depan aja.” Kata sang ibu dengan wajah khawatir.

                Sienna tersenyum dan melakukan apa yang si ibu bilang, dalam hati dia deg-degan juga, ternyata dalam satu gerbong… banyak banget yang sepertinya berniat nggak baik.

                “terimakasih bu..” ujar Sienna sambil tersenyum.

                “kamu teh kenapa nggak naik kereta ac aja?” Tanya si ibu.

                “lama bu, saya harus dating pagi, ini hari pertama saya ospek….” Ujar Sienna sopan.

                “kenapa nggak bawa kendaraan sendiri?”

                “dilarang bawa kendaraan sendiri bu…”

                Si Ibu mengangguk. Sienna melihat ke sekeliling, orang-orang di gerbong itu masih memandanginya, dua satpam memandanginya sambil tersenyum-senyum.

                Sienna berdoa agar perjalanannya cepat sampai.