bordils

The Way I Lose Her: Tempur Sepekan

Aku pria yang benci menangis. Dipukul oleh siapa saja aku siap, tapi dihardik oleh kepergianmu, aku berdarah-darah. 

                                                              ===

.

Suasana dalam GOR ini kian memanas. Selain karena tidak adanya AC di dalam GOR, langit-langit yang dibuat tidak cukup tinggi ini pun turut ikut andil untuk membuat suasana di dalam GOR semakin mendidih. Dua kubu supporter yang saling menyemangati dan saling menghina, ditambah pertandingan ketat Ipeh inilah yang menjadi latar belakang terjadinya huru-hara di dalam GOR.

Gue dan Ikhsan sudah melupakan tentang kak Hana, atau lebih tepatnya menyampingkan masalah itu sebentar, ada banyak hal yang ingin Ikhsan tanyakan, tapi itu bisa ditunda berhubung detik ini suasana antara Supporter udah kaya body Haruki Sato– Hot!

Beberapa bunyi genderang dan bunyi simbal dibunyikan keras untuk mengiringi yel-yel setiap para supporter. Beberapa kata binatang keluar dari mulut anak-anak menanggapi hinaan supporter lawan. Karena memang pada dasarnya anak-anak SMA gue sudah benci sama SMA mereka inilah yang pada akhirnya menyebabkan kita ikut-ikutan perang mulut.

“BAPAK LO GIGOLO!!” terdengar sebuah teriakan dari kubu supporter lawan.

“IYA EMANG, BAPAK GUE DIPAKE SAMA IBU LO, MAKANNYA JADILAH ELO!!” Balas Nurhadi.

Mendengar hal itu, gue dan anak-anak kelas lain langsung terdiam. Kita baru mengetahui bahwa ternyata Nurhadi itu masih satu darah sama anak SMA sebelah.. Luar biasa, gue tidak menyangka Nurhadi adalah bentuk nyata dari sinetron “Putri yang Tertukar”.

Diawali oleh hinaan Nurhadi, sontak anak-anak yang lain pun pada turut ikut andil untuk menghina supporter lawan, begitu juga dengan kakak-kakak senior yang ada di belakang kita. Hinaan anak-anak SMA gue bisa dibagi ke dalam beberapa kategori jika dilihat dari kata-kata yang mereka ucapkan. Berikut contohnya,

“BANGSAT!! BAJINGAN!! KELUAR LO ANJING!! BERANTEM SAMA GUA” teriak salah satu preman SMA kita.

“KEMPESIN AJA MOTORNYA! BAKAR!! CABUT BUSI MOTORNYA!!” yang teriak hal ini pasti bapaknya punya bengkel dan franchise tambal ban.

“ALAT KELAMIN PRIA!! ALAT KELAMIN WANITA!! PAYUDARA!!” teriak kakak kelas yang gue yakin kelak dia kuliah bakal ngambil jurusan Rumah Bordil. 

“MUKA LO KAYA TUTUP PANCI!!” Teriak temen gue, dan ntah kenapa mendadak Ikhsan yang ada di sebelah gue ini tersinggung.

“MUKA LO ITEM KAYA SPIDOL BOXY!!” Kali ini Nurhadi yang terseinggung ketika mendengar ada yang teriak hal ini.

“TURUNKAN STANDAR KKM PELAJARAN FISIKA KELAS 3!!” Teriak salah seorang kakak kelas yang gue yakin lagi mengalami masa paceklik di rapotnya.

“KELUAR LO KALAU BERANI! SELESEIN SEMUANYA DI LUAR!! JANGAN DI DALAM!! KELUAR DI DALAM RESIKO HAMIL!!” Anjir, gue mendengar ini rasa-rasanya ambigu. Pasti yang teriak hal ini umurnya sudah lebih dari 17++

“MENTAL TEMPE!! CEMEN LO!! SINI DATENGIN GUE KALAU BERANI!!” Teriak Nurhadi.

“MATI LO SETAN!! NGGAK AKAN BISA PULANG SELAMET LO DARI SINI!!” Tambah Ikhsan.

“MAJU LO SEMUA SETAN!!” Gue ikut-ikutan..

“DIMAS.. AKU SAYANG KAMU…” ah ini pasti kak Hana yang teriak.

“BAKAR AJA MOTORNYA BAKAR!!” kata temen kelas gue yang bapaknya kerja di pemadam kebakaran.

“ALLAHUAKBAR!! JIHAD!! JIHAD!!” Ucap Achmad, seorang anak DKM yang sekarang lagi mengacung-acungkan penggaris besi ke arah supporter lawan. Melihat hal ini, kita semua mendadak hening. Kita takut Achmad meledakan diri.

“ANJING BRIMOB LO!!” Ada saut-saut hinaan kembali dilontarkan.

“KETEK BANCI LO!!” ini pasti yang teriak suka mangkal di Jl.Maluku, Bandung.

“MUKA LO KAYA GENDANG SONETA!!” kalau ini pasti penggemar Rhoma Irama.

“IDUNG LO KAYA RANTING MANGGA!!” gue nggak tahu ucapan ini termasuk hinaan atau apa, tapi kalau ada yang menghina gue dengan ucapan seperti itu, ntah kenapa rasa-rasanya gue nggak bakal tersinggung.

“MUKA LO KAYA SOAL MATEMATIKA!! BERCERAI BERAI!!” Nah kalau ini lucu, gue dan Ikhsan yang mendengar hal ini malah ketawa ngakak berdua.

Siang itu kita semua semakin memanas, hinaan dan segala caci-maki dari supporter SMA gue dibalas langsung oleh caci-maki supporter sebelah sehingga hampir saja mengakibatkan huru-hara sebelum pada akhirnya dilerai oleh panitia.

Saat itu tampaknya kita sudah tidak peduli lagi Ipeh lagi ngapain. Ipeh lagi istirahat dan tidak bertanding saja ntah kenapa para supporter tetap saling menghina. Para kakak kelas yang sedari tadi sudah naik pitam itu langsung pada turun dari tribun dan pergi ke luar GOR untuk mencegat anak-anak SMA lain yang akan keluar belakangan. Melihat hal itu. Nurhadi nggak mau kalah dan langsung ikut pergi ke luar, ntah kenapa kalau soal berantem, Nurhadi paling semangat.

Gue dan Ikhsan juga diajak sama anak-anak yang lain, tapi sebelum gue sempat turun dan mengikuti para kakak senior yang sudah lebih dulu berada di luar GOR, kak Hana langsung menjewer telinga gue. 

“Hayo mau ngapain, nggak boleh, masih belum cukup umur. Anak kelas satu tunggu di sini aja. Lagian kamu juga Dimas, awas aja kalau berantem lagi kaya dulu di warnet.” Ucapnya geram.

“Ih tapi kan tapi kan..”

“Nggak ada tapi-tapian!” Kata kak Hana kesal.

“Nggak solider dong kalau gitu :(” Gue sedih karena nggak dibolehin untuk ikut tempur sepekan bersama anak-anak yang lain.

“Biarin! Aku nggak suka. Diem di sini!” Ucap kak Hana lagi.

“….”

Gue cuma bisa pasrah dan diam saja duduk di dalam GOR bersama Ikhsan yang cuma bisa terdiam melihat apa yang kak Hana lakukan kepada gue. Tapi berbeda dengan gue, kak Hana yang tadi sempat menasehati gue untuk tetap diam di dalam GOR ini sekarang malah pergi ke luar. Nggak tau mau ngapain, mungkin mau ikut tawuran juga kali ya. Tapi ketika kak Hana beranjak pergi ke luar GOR, mendadak ada beberapa kakak-kakak senior cewek berbondong-bondong mengikutinya dari belakang.

Buset, gue baru tau kalau kak Hana ini ketua geng cewek di sekolah gue. 

.

                                                                      ===

.

“Hei, ini.” Ucap gue sambil menyuguhkan minum dari tribun yang letaknya 1 meter lebih atas dari Ipeh yang lagi terduduk di kursi.

“Eh Mbe, makasih Mbe.” Ucap Ipeh sembari menyambar Aqua Botol yang gue sodorkan.

“Tinggal satu babak lagi ya?”

“Iya.”

“Gimana skornya?”

“Beda tipis, Mbe. Gue nggak boleh kena pukul lebih dari 3x di ronde yang sekarang atau gue kalah.”

“Masa lo cemen gini sih. Yaudah mending gini deh, kalau lo menang, lo gue kasih hadiah jadi Tuan Putri satu hari. Gimana?” Ucap gue.

“Tuan Putri satu hari?”

“Iya, jadi lo bebas mau minta apa aja. Gue kabulin. Mau pergi ke mana aja, gue temenin.” Jawab gue lagi.

“Serius lo?!” Ucap Ipeh yang langsung semangat.

“Serius gue.”

“Asiiik boleh deh. Eh btw lo nggak ikut anak-anak yang lain di luar tuh?” Tanya Ipeh.

“Kaga ah, males.”

“Jangan ya Mbe, lo nggak boleh berantem, gue nggak suka.” Kata Ipeh.

“Iye-iye bawel. Lagian gue ditugasin untuk nungguin tas anak-anak yang sekarang lagi ada di luar itu.”

“Bagus deh, terus si Ikhsan mana?”

“Ada noh..” Jawab gue sembari menunjuk ke arah Ikhsan yang lagi dadah-dadah ke arah Ipeh.

“Kita semua udah bela-belain dateng nih, awas aja kalau lo kalah.” Ancam gue lagi.

“Hehehe iya, siap bos!!”

Akhirnya setelah percakapan tadi, pelatih karate Ipeh datang dan mengajak Ipeh untuk briefing tentang strategi barunya. Gue pun mundur dan kembali duduk bersama Ikhsan di tribun yang sudah agak sepi lantaran ditinggal anak-anak yang lain untuk tawuran di depan GOR.

Pertandingan pun di mulai lagi, dukungan buat Ipeh kembali gue lontarkan dengan semangat. Kuda-kuda bertahannya tampak sangat tangguh sehingga lawannya sulit untuk membuka celah, sesekali Ipeh menyempatkan memukul dada atau menendang ketika lawannya lengah sehingga Ipeh mendapatkan point tambahan. Teriakannya ketika memukul membuat gue senyum-senyum sendiri, nggak nyangka cewek manja bisa seserem itu kalau lagi tanding. 

Ada beberapa pukulan yang tak bisa Ipeh elakkan dari lawannya sehingga Ipeh kerap kehilangan keseimbangan. Dan ntah kenapa melihat hal ini gue jadi geram sendiri, ada rasa nggak tega melihat Ipeh dipukul walaupun gue tahu ini cuma pertandingan biasa. Tapi melihat wanita dipukul– apalagi wanita yang gue sayang– rasa-rasanya gue nggak mampu. Pengin gitu rasanya gue loncat ke arena terus memeluk Ipeh, menanyakan apa Ipeh tidak apa-apa, lalu memarahi cewek yang lagi jadi musuhnya tersebut.

Lawannya Ipeh itu bakal gue teriakin, “KAMU EGOIS!! KAMU SELINGKUH YA?! AKU NGGAK SAYANG SAMA KAMU!!” Pasti langsung nangis. Hih cewek di mana-mana mah sama, diteriakin aja nangis. Dituduh selingkuh aja langsung meneteskan air mata. Huh..

Ipeh kembali ke dalam arena, kini keadaan skor sudah cukup genting karena beberapa pukulan yang lawannya hempaskan itu dengan terpaksa menambah point untuk tim lawan. Ipeh sempoyongan, Ipeh masih bertahan dari gempuran lawan, sebelum pada akhirnya Ipeh melayangkan satu pukulan tepat di pipi lawannya sehingga lawannya tersungkur jatuh. Point telak untuk Ipeh sekaligus menutup pertandingan dengan skor berbanding tipis yang dimenangi oleh Ipeh.

Mengetahui Ipeh menjadi juara, gue dan Ikhsan langsung loncat dari tribun yang cukup tinggi itu ke dalam arena dan langsung memeluk Ipeh. Gue peluk Ipeh, dan Ikhsan memeluk kita berdua. Gue usap-usap rambut Ipeh yang masih penuh dengan keringat itu. Kita bertiga tertawa bahagia. Sesekali Ikhsan dan gue memuji Ipeh. Ipeh pun cuma bisa ketawa-ketawa sambil masih terhuyung-huyung karena kelelahan.

“Anjir Preman gue yang satu ini emang hebat lah!!” Ucap Ikhsan yang semakin erat memeluk kita berdua.

“Bener-bener juara lo Peh!” Tambah gue.

“Hehehe makasih ya kalian.” Jawab Ipeh yang masih sempoyongan karena dipeluk kita berdua.

“Iya lo juara Peh, juara baunya! Asem anjir!!” Mendadak Ikhsan melepaskan pelukannya dan mendorong kita berdua.

Gue baru sadar kalau saat itu seragam karate Ipeh penuh dengan keringat sehabis pertandingan, sehingga baju seragam kita berdua pun ikut-ikutan basah lantaran memeluknya tadi. Sambil masih tertawa cengengesan, Ipeh kembali memeluk kita berdua sebelum pada akhirnya pergi untuk menutup pertandingan dan kumpul bersama Tim Karatenya meninggalkan kita berdua.

Gue sama Ikhsan masih tertawa berdamping-dampingan melihat Ipeh yang berjalan sempoyongan menuju Tim Karatenya. Setelah Ipeh berjalan cukup jauh, Ikhsan langsung memukul pelan pundak gue.

“Nyet, keluar nyok, panas di sini.” Ajak Ikhsan.

“Ayo deh, mumpung udah beres tandingnya juga.” Jawab gue.

“Jam brp sekarang?” Tanya Ikhsan

“Hampir jam 3″

“Wah Dzuhuran dulu deh, dah gitu temenin gue makan dong. Laper nih.”

“Akur. Nyok ah, gue juga udah laper.”

Setelah sama-sama setuju, kita berdua pada akhirnya pergi meninggalkan GOR Tri Lomba Juang. Namun begitu kita keluar dari pintu GOR, gue melihat keadaan di luar sana sudah cukup kacau balau, mengingat tadi ada beberapa anak-anak yang tawuran di depan GOR ini. Waktu jaman gue masih SMA kelas satu, GOR Padjajaran ini belum banyak pedagang dan keamanannya, sehingga sering banget terjadi baku hantam atau tawuran antar supporter olahraga.

Ada beberapa motor yang sudah jatuh menimpa motor lainnya, ada juga kursi tukang cakwe yang sudah belah karena dijadikan alat untuk saling memukul. Beberapa senior SMA gue sedang nongkrong sambil ngerokok di beberapa sudut GOR. Gue hampir tidak menjumpai kubu lawan di area GOR ini, ntah mereka lagi pada ngumpul di mana.

Ketika sedang berjalan menuju Mushola, gue sempat menemukan Nurhadi lagi asik mojok di bawah pohon dan minum Teh Botol sambil kipas-kipas pake potongan kardus Aqua. Kancing bajunya hilang satu, celana bagian tumitnya robek sedikit, saku bajunya pun sudah agar robek.

“Oi, gimana tadi?” Tanya Ikhsan ke arah Nurhadi.

“Anjir lo anak demit pada ke mana? Cemen ah lo nggak pada bantuin! padahal seru tadi.” Sanggah Nurhadi. 

“Pan gue dapet tugas untuk jagain tas lo nyet.” Jawab gue.

“Ah iya gue lupa, bagus deh kalau gitu.”

“Gimana tadi?” Tanya gue penasaran.

“5 orang roboh sama gue sendiri.” Jawabnya bangga.

“Hahahaha lo emang keturunan Gapura tujuh belasan, Di. Susah dirobohkan.” Tukas Ikhsan.

“Pada mau kemana lo berdua? dari dulu berduaan mulu udah kaya bakiak.” Tanya Nurhadi.

“Sholat lah, meluruhkan dosa. Ikut sini sholat bareng kita. Habis mukulin anak orang emang paling enak Sholat, biar berkah lagi hidup lo.” Ajak gue.

Boleh deh, kebetulan gue juga lagi pengen cuci muka.” Jawab Nurhadi yang langsung berdiri menghampiri kita.

Setelah percakapan absurb ini selesai, kita bertiga pada akhirnya pergi bareng-bareng ke Mushola. Kita melepas sepatu terlebih dulu, awalnya kita masih sehat walafiat, sebelum tiba-tiba ketika Nurhadi melepas sepatu, mendadak Oksigen di sekitar kita luruh dan hilang. Gue tercekik, Ikhsan pun begitu, ada bau mayat keluar dari dalam sepatu Nurhadi. Tanaman Kaktus yang ada di sekitar Mushola langsung loyo karena persedian airnya menguap. Sungguh luar biasa bau sepatu Nurhadi ini. Pantes saja tadi Nurhadi bisa menghajar 5 orang sendirian, pasti dia waktu berantem sambil lepas sepatu, terus lawannya sempoyongan langsung.

Gue butuh anak PMR. Gue butuh CPR… 
Aaaaaaaakkkk… Bau kaki Nurhadi lebih mematikan ketimbang menegak Baygon sendirian. 
Gue lihat ke arah Ikhsan, hidupnya sudah sekarat, badannya kejang-kejang seperti ikan cupang kekurangan aer.

Tapi tampaknya Nurhadi tidak menyadari bakat luar biasa yang kakinya keluarkan ini. Ia bahkan dengan polosnya melepas kaos kaki, menaruh sepatu, lalu pergi wudhu meninggalkan kita berdua. Benar-benar anak yang rendah hati, punya keahlian luar biasa untuk mencekik musuh tanpa perlu menyentuh saja dia masih tidak sadar. Subhanallah.. 

Tak mau mati karena kekurangan napas, gue dan Ikhsan langsung buru-buru mengikuti Nurhadi untuk ikut wudhu sebentar lalu melaksanakan Sholat berjamaah. Sehabis Sholat dan salam selesai, Nurhadi lebih dulu selesai melaksanakan doa sehabis Sholat dan pergi ke luar Mushola untuk memakai sepatu. Disusul Ikhsan yang kemudian pergi meninggalkan gue sendirian.

Selang 5 menit, gue beres melaksanakan ibadah doa sehabis Sholat dan bergegas pergi menuju tempat sepatu. Sesampainya di luar, mendadak gue disuguhkan dengan keadaan yang sudah terlanjur mencekam. Nurhadi dan Ikhsan sedang berdiri berdua di hadapan 6 orang anak-anak SMA yang setelah gue lihat dengan lebih teliti, mereka adalah anak-anak SMA musuh bebuyutan SMA kita.

Gue buru-buru memakai sepatu, menarik talinya lebih erat agar sepatu gue mencengkram kaki lebih kencang karena gue tahu sebentar lagi akan ada olahraga adu otot antar 2 kubu SMA. Setelah selesai, gue langsung berdiri di sebelah Nurhadi dan Ikhsan.

“6 lawan 3 nih?” Tanya gue

“Seorang dapet jatah 2 dong nyet.” Jawab Ikhsan.

“Alah, gue sendiri juga bisa ini mah. Orang-orang tolol kaya gini disentil aja langsung jatoh.” Ucap Nurhadi.

Ikhsan dan gue cuma terkekeh mendengar perkataan Rambo kelas kita yang satu itu.

“Eh bang, noh temen-temen lo bukan?” Ucap gue kepada mereka sambil menunjuk ke arah samping kanannya.

Sontak 6 orang tersebut langsung melihat ke arah kanan sesuai dengan arah yang gue tunjuk.

Lalu..

BUK!!

Satu pukulan keras gue layangkan pertama kali kepada satu orang yang terletak di paling kanan hingga ia tersungkur. Disusul oleh Ikhsan yang langsung menendang perut orang yang ada di depannya. Lalu Nurhadi ikut ambil alih dengan menghajar keras satu orang anak SMA itu tepat di bagian pipi.

Dan saat itu, dimulailah tawuran pertama gue yang gue lakukan bersama anak-anak kelas. 

.

.

.

.

                                                         Bersambung

Previous Story: Here