boomerang live

Adiós BGames. Adiós Rubelangel. Adiós recuerdos.

La gente que lleva desde hace tiempo en el fandom de los youtubers (o quizá no lleva mucho pero se ha dedicado a buscar e investigar), sabrán lo que es Boomerang Live. Y a raíz de eso, BGames.

El canal de Boomerang Live ha sido borrado y con él, todos los vídeos que había.

Todos.

Originally posted by za-slabe-serce

¿Qué quiere decir eso? ¿Qué han borrado exactamente? ¿Por qué es tan triste?

Pues… han borrado recuerdos. Ese canal estaba repleto de recuerdos de Rubius, Mangel, Cheeto, Alexby, Liberty Mario, Arthasere, Panda, Wismichu…

Recuerdos de ellos durante sus inicios en Youtube.

Había montones de vídeos de Rubelangel.

Vídeos… icónicos. Vídeos clave. Vídeos preciosos, emotivos e importantes sobre este bromance.

Vídeos tan importantes como en el que Mangel le regala la famosa almohada con su cara a Rubius, en la que pone “Siempre tuyo”.

Y todavía conserva…

Y tantas cosas más que, simplemente, eran y son especiales y se habían creado un rincón en el corazón de la mayoría de personas que vieron esos vídeos.

Borrándolos… solo han echo que arrancar de manera muy bestia y despiadada una parte muy importante del fandom.

Originally posted by tundaee

Con un poco de suerte, hay gente que se los descargaba para resubirlos a sus propios canales de Youtube, pero no es lo mismo. No sé, no llega a ser lo mismo.

BLive ha borrado ese canal porque quieren cambiar su imagen como Network. Quizá no está del todo perdido y los que están detrás decidan resubir esos vídeos, pero es solo una suposición.

Cuando he visto que habían borrado el canal y, con ello, los vídeos, sentí como una parte de mí moría con ellos y me recordé a mí misma un par de años atrás, viéndolos por primera vez y riéndome y pasándomelo bien.

Quizá para muchos crean que solo son eso, vídeos, no tienen importancia y probablemente no entiendan esto. O quizá soy yo que cojo demasiado cariño a las cosas más insignificantes.

De todas maneras, esas marcas del pasado han sido borradas y yo… solo puedo asentar la cabeza y asimilarlo.

Originally posted by shadow--hunters

How to use social media without being anxious

1. Kalau ngga ada yang perlu di-upload, ngga perlu mengada-adakan. Dunia ngga berakhir hanya karena kamu ngga ngupdate Instagram, Path, Facebook, Tumblr, Twitter, dkk selama sehari.

Kecemasan bisa muncul ketika kita ngga bisa mengendalikan diri kita sendiri. Cemas dianggap ngga update, ngga tahu, ketinggalan, ngga kekinian, ngga populer, dst. Padahal semua kecemasan itu adanya hanya di rongga kepala kita sendiri. Kenyataannya, hidup kita akan baik-baik saja meski ngga ikut-ikutan tren Boomerang, live report, et cetera.

2. Ngga penting siapa yang nge-like dan yang ngga nge-like postingan kita. Ngga penting berapa followers kita, berapa yang nge-like/share/komen.

Menghabiskan waktu untuk mengecek notifikasi dan membacanya baris per baris bisa berdampak pada munculnya kecemasan.

Cemas kalau jumlah followers sedikit.

Cemas kalau orang tertentu ngga nge-like, “Apakah artinya dia ngga suka? Ngga temenan lagi?”

Cemas kalau like/respon/komentarnya sedikit, “Aku ngga diterima di masyarakat ini deh kayaknya?”

Lagi, padahal kecemasan itu adanya hanya di kepala kita.

Kenyataannya, penerimaan orang lain bukan terlihat dari interaksi kita dengannya di media sosial. Tapi dari interaksi kita dengannya di dunia nyata. Jumlah teman yang banyak di media sosial tidak ada artinya jika sehari-hari kita bingung mau cerita pada siapa ketika punya masalah. Ngga tahu mau minta tolong ke siapa ketika kita butuh dibantu.

3. Follow-unfollow adalah hak, bukan kewajiban. Setiap orang berhak memilih siapa yang diikuti, siapa yang tidak. Setiap orang juga berhak menentukan siapa yang boleh mengikuti/berteman dengannya, siapa yang tidak.

Pilihan untuk meng-unfollow atau meng-unfriend tidak selalu bisa diterjemahkan sebagai kebencian/ketidaksukaan. Ada banyak alasan lain yang mungkin. Seperti : perbedaan minat genre postingan.

Tenang, ketika ada yang meng-unfollow atau meng-unfriend, di dunia nyata orang-orang dekatmu tetap menyayangi dan mencintaimu

4. Media sosial bukan ukuran kebahagiaan dan kesuksesan.

Ada dia yang suka mengunggah kemesraan dengan pasangan. Ada dia yang rajin berbagi pengalaman jalan-jalan. Ada dia yang sering mengirim kabar karir, pekerjaan, atau pendidikan.

Tapi, bukan berarti orang yang ngga mengunggah kemesraan jadi kalah bahagia. Bukan berarti orang yang ngga upload foto pemandangan jadi kalah hebat. Bukan berarti orang yang ngga cerita soal perjuangan bekerja, karir, atau pendidikan jadi kalah tangguh.

Sebagian orang berbagi banyak hal yang membahagiakan hanya untuk menularkan kebahagiaannya. Ada juga yang sedang menguatkan dirinya sendiri. Ada juga yang bermaksud untuk mengingatkan diri sendiri.

Kenyataannya, mereka pun sama-sama berjuang. Sama-sama mengalami kesusahan. Sama-sama mengalami permasalahan. Dan pasti sama-sama ngupil, cebok, dan garuk-garuk. Hidup tidak sesempurna feed Instagram.

Sesempurna apapun citra yang tampil melalui media sosial, tidak bisa menghilangkan kondisi bahwa kita semua tetaplah manusia biasa. Jadi tidak perlu cemas dengan segala perbandingan yang tampak di layar. Mari bersyukur dengan capaian, hidup, dan takdir masing-masing.

5. Sepanas apapun timeline, tetaplah tersenyum.

Isu panas tak henti membanjiri linimasa. Dari soal perpolitikan sampai soal agama. Dari yang hoax sampai yang benar. Adakalanya semua itu tercerna sebagai alasan untuk kita merasa cemas.

Dunia serasa sudah hancur. Tidak ada harapan. Terlalu banyak masalah besar. Terlalu banyak hal negatif. Bagaimana nasib anak cucu nanti?

Padahal, kerusakan yang dibuat manusia bukan sesuatu yang baru. Bahkan di zaman Nabi Nuh, puluhan abad silam jauh sebelum ada situs-situs penyebar hoax dan kebencian, kerusakan sudah merajalela. Sampai-sampai diturunkannya banjir bandang sebagai peringatan.

Keburukan dan kebaikan selalu hadir beriringan. Begitupun dengan kejahatan dan kebajikan, juga masalah dan solusi. Sesekali berpuasalah melihat konten-konten negatif di media sosial. Sebab, dunia nyata mungkin tidak seburuk yang kita sangka.


Masih banyak kabar baik yang menyegarkan. Masih banyak orang baik yang patut kita belajar darinya.

Insya Allah, perlindungan senantiasa diberikan bagi siapa saja yang meminta pada-Nya.

___

Sorry ngepos ulang. Yang tadi ada eror waktu upload sehingga ngga ada poin empat dan lima nya.

Imagine having fire powers like Diablo and helping him fight incubus and him not dying because of it
  • You: We did it!
  • Flag: Good job you two, let's move on.
  • Diablo: You were great back there.
  • You: WE were great back there.
youtube

“I’d Die Without You” by Childish Gambino // Live in BBC 1Xtra Lounge (2.5.14)

On a recent stopover to the BBC Live Lounge, Childish Gambino broke out a cover of one of my favorite songs of 90’s, P.M. Dawn’s “I’d Die Without You”. Not surprisingly, he bangs out a pretty, restrained take on the hit single that originated on the soundtrack to the Eddie Murphy flick, “Boomerang” (another forgotten gem of the era). I recently spoke with a friend about P.M. Dawn and how they seemed to be way ahead of their time, and yet still no one really sites them as an influence, despite them having a sort of proto chillwave, psychedelic vibe crossed with R&B. Then again, I’ve been accused of looking at early 90’s music with rose-colored-nostalgia-glasses. Whatever the case may be, I’m completely down with Donald Glover showing some love to P.M. Dawn with this lovely cover of their hit slow jam. 

4

Keeping with the theme of the channel-tans I decided to draw the houses where the main three would live. A special thanks to @blanktheconquer and his idea of channel town that inspired me to do the houses of the three main girls. Disney lives in a manor, CN lives in an apartment that belongs to Boomerang, and Nick lives in a house in the suburbs.

I also decided to draw 4K!DS-Tan. In my head he is the boss of the police forces in the city. To me that’s what his design reflects.