bolonya

DASAR AKUN WANITA JAHAD!

Gak semua yang mengkritisi omelan yang dituliskan, digambar atau dalam bentuk karya sastra, ilmiah atau apapun itu bentuk kebencian, iri- dengki atau kurang kerjaan orang aja. Gak selalu gitu. For your fyi aja nih.

Kalau pernah mengenyam pendidikan a la barat, tradisyunil, modern atau klasik, kritik ini selalu ada. Bahkan jadi tradisi ilmu. Untuk menyeimbangkan alur mikir. Karena ide, gagasan, ilmu itu cair. Kegamangan Eynsteiyn tentang Gravitesyen Wave aja baru-baru ini ada titik terangnya, padahal dulu kayak udah mo tamat riwayat, bahkan kemarin dapet nobel si bapak penyempurna teori tersebut. Namanya juga alam, kita sangat cair, ilmu sangat dinamis dan apa yang belum terbukti lalu-lalu selama ada yang gigih penasaran dan kritis bisa aja terbukti hari ini. Apa yang kemarin jadi kebenaran umum, bisa jadi patah di kemudian hari.
Jadi ya byasa aja.

Bukan melulu soal selera, bukan selalu sentimen negatif, atau ada juga sekalipun dituangkan dalam bentuk sindiran keras kayak sinisme, sarkasme, satir. Itu semua semacam seni. Manusia berbudaya ya kenal bermacam cara menuangkan ide kan? Leres nopo mboten?
((((Mboteeeen))))
Boleh pakai esai, anekdot, karikatur, meme. Kritiknya gak dinalar dengan semata selera-gak selera, bolo-musuh. Ada seni yang bikin asik pun deg-degan.

Kan tinggal mikir gini, “o walah~ aku bikin gini dan gitu tu direspon A, B, C….” inteprestasi berbeda otomatis responny lain. Atau malah gak dianggap blass kayak akun ini ehe~ ancene yo saweg~

Yang dikritisi itu cara berpikir, bukan personalnya. Terserah latar belakang seseorang ini, tapi kan kita sedang bicara tentang idenya.
Kecuali, kecuali udah mulai tuh bawa-bawa,

“eh! Tau apa jawa kampung kayak kamu?!”

Nah! Ngomongin virus dan upaya pembersihan etnis(genosida) kok tiba-tiba nyerang persona.

“Kamu fundamental kaya FPI kae ya? Atau, kamu liberal bolonya ulil ya?” (Biasanya ada aja yang gini)
Padahal lagi mbahas simposium flora anggrek.

“Beli kerudung dulu sana, baru berpendapat soal agama!”

Padahal si lawan bicara itu bisa saja penganut hindu tantrayana atau Hare Krishna. Ehe~

Ya emang butuh jam terbang, dan belajar keras. Gak cukup ijazah S1, S2, S3, pro atau amatir. (Saya termasuk manungsya yang sama sekali NDAK PERCAYA sama ijazah. Sudah sering membuktikan. Termasuk pada diri sendiri. Lha saya ini S1 e, tapi baru kemarin paham kalau seluruh makhluk di bhumi ini-selama masih hidup mengandung karbon, dan jejak karbon ketika wadagnya mati, karbon ini menyimpan infomasi terkait rentang masa si makhluk saat masih hidup. Hhhh! Pekok bianget! ).

(Belajar)Berpikir = habit.

Masih heran kan, kalau ada aja yang “begah” dengan kritik. Sepedas apa pun, parameternya adalah metode dan alur berpikir, selama masih di jalurnya, ora problem lah~ kecuali ego kita tidak menghendaki diajak kontraksi dan membuka sel-sel dalam kepala. Selama ego legolilo membuka diri dan mengakui kritik/sudut pandang/pendapat liyan, niscaya!!!!

Tapi kayaknya masih susah sih di Indo ini. Soalnya selain ego yang di atas, didukung juga dengan budaya, “lha koen sopo”. JADI ORANG NGOMONG ITU BUKAN SOAL APA YANG BENAR, TAPI “koen sopo?”, SIAPA DULU NIH YANG NGOMONG.

Kalau yang ngomong dosennya, guru ngaji di liqo, baru di-iyain, karena takut atau ada semacam prinsip dosen/guru gak mungkin salah/dianggep lebih pinter, padahal ahhhh~ ora mesti. Kalau yang ngomong rock star, Jepun/Korean idol, kayaknya wajib bener dieloni.
Atau seleb-soc.med, mbuh twitdernya, tumblrnya, difullow atau di-RT/di-RIBLOG ribuwan kali. Ha ha ha ha dangkalnya~ sekaligus hhhhh! Sebodoh apapun pendapatnya, di-iya-in sampai mampus. Dipikir kalau semua orang setuju = benar. GR!
Fansnya buta sehingga gampang dibodohi, selebnya GR-an. (Dibagian ini saya emang muak kok. Makanya saya bilang, tombol “fullower” itu hal paling konyol sedunia. Lucu, orang bisa mabuk~ kecanduan~ dan terlalu bekerja keras demi fullowerz~ hmmm, fullow your prophet sana lho)

WONG YO, Kanjeng Nabi aja lebih banyak mungsuh dan yang berkhianat atas panjenengani pun kok.
Bahkan saya yakin, misal Kanjeng Nabi Muhammad itu hadir saat ini punya akun tumblr, berani taruhan leher, gak laku! Karena ada gap besaaaar sekali antara pemahaman manusia modern dan sang kota ilmu. Nilai-nilainya jauh sekali : asing! Misal… misal nih ya, ada tema “un-popular opinion”, nah! Kanjeng Nabi sudah pasti juaranya. Saking aneh, asing SEKALIGUS gak dipercaya. Boro-boro dapat tanda centang biru sebagai tanda udah banyak fansnya atau akun resmi gitu. Udah pasti gak laku, gitu aja.

But, whaaaay? Ehe~ cek aja time line soc.med masing-masing~ hmmm du du du du syedaaaaaft~


LAKU GAK LAKU ADALA KOENTJI - kata saya, seorang pemasar.

.


So, balik lagi ke soal mengkritisi, sekolah itu gunanya bukan bikin orang pinter,
1. Buat cari pacar
2. Cari alasan biar bisa ngelayap/ traveling berdalih mengembangkan diri supaya dapat ransum dan tunjangan
3. Dapetin ijazah biar gampang nyari kerjaan
4. Memperbanyak mas kawin, atau mempermudah bergeining saat cari jodoh

Soalnya percuma sekolah buang umur dan duit kalau masih gitu aja mikirnya kan~


.

Ehe~ hampir 10tahun, saya menampar diri sendiri dengan cara yang sangat berbudi ini. Semakin lama semakin tak sanggup ngangkat kepala saking gak bergunanya diri ini, tapi terlanjur terbiasa “kegeden roso"nya~ hmmm~ kayak ngerasa berpendidikan gitu padahal gak paham juga, ujungnya gak berguna.
Saya gak pernah siap dengan ejekan oleh diri sendiri kepada diri sendiri yang keras luar biasa ini. Makanya, diuji dulu beberapa tahun. Tangguh apa enggak? Terus diuji.

Yaudah, saya mau belajar lagi.