bisa sendiri

Untuk pahlawan yang paling aku sukai

Tulisan ini mungkin akan aku sampaikan padamu suatu saat nanti, tentang betapa aku mencintaimu. Mungkin sampai saat aku menulis ini, aku tak pernah benar-benar mengatakan bahwa aku sangat mencintaimu, bahwa aku sangat menyayangimu. Aku terlalu membesarkan gengsi, aku malu untuk menyampaikannya. Rasanya jika aku jelaskan tentang pentingnya dirimu didalam hidupku, entah sepanjang apa itu.

Ayah, kau memang selalu jadi yang kedua setelah ibu, namun  kau tetap special untukku. Kau adalah orang pertama yang mengajarkan aku artinya dilindungi, kau memang tak menunjukan pedulimu padaku seperti kepada anak-anakmu yang lain, tetapi kau adalah orang yang akan paling khawatir jika aku terluka, kau selalu berpesan padaku agar aku harus bisa melindungiku diriku sendiri, melindungi kedua kakakku, melindungi ibu, aku harus tumbuh menjadi sekuat itu.

Ayah, kau tak pernah berkata bangga padaku, kau mengajarkan aku untuk terus berusaha semampuku, aku tak pernah mendengar satupun pujian darimu, hingga aku menyangka kau tak pernah menghargai usahaku. Dibalik semua itu, kedua kakakku selalu mengatakan bahwa dibelakangku kamu selalu memujiku, membanggakanku dihadapan semua kenalanmu. Mungkin kau ingin mengajarkanku untuk tak berhenti berjuang.

Ayah, setiap kali aku mengganggumu waktu istirahatmu, tak pernah aku dengar keluhan keluar darimu, bahkan ketika aku tak lagi disisimu, ibu bercerita bahwa dirimu merindukan gangguanku, ibu bercerita bahwa kau yang paling kehilangan kehadiranku.

Ayah, kita memang sering berdebat, kamu juga tak segan memarahiku, lalu kita berakhir dengan tak berbicara semalaman, kata ibu, kau selalu merasa sedih setiap kali memarahiku, kau selalu kesulitan tidur setelahnya. Ibu bilang bahwa kau begitu menyayangiku melebihi siapapun.

Ayah, terkadang aku merasa kau terlalu cepat mendidikku untuk menjadi dewasa, kau mengajariku aku untuk memilih calon suami ketika aku masih kelas 1 SMA, kau tak ingin aku jatuh ditangan yang salah. Kau selalu memberiku kebebasan untuk berpendapat, kau berikan aku kebebasan yang tak pernah kedua kakakku dapatkan, katanya karena kau percaya sepenuhnya padakku.

Ayah, ketahuilah pria yang berada disampingku ini tak akan pernah menggantikan posisimu, pria yang berada disampingku ini adalah seseorang yang telah mendapatkan restumu untuk kelak menjagaku. Ayah sampai kapanpun tetaplah ajari aku banyak hal, seperti bagaimana kau mengajarkanku tentang segala hal sejauh ini.

Ayah harus sehat, ayah harus menjaga ibu, ibu tak pernah bisa hidup tanpa ayah. Ayah harus sehat, ayah belum melihat bagaimana keempat cucu ayah tumbuh dewasa, ayah belum menyaksikan aku sah didepan penghulu, ayah belum menemaniku berjuang melahirkan biru. Ayah harus sehat, sebab aku masih belum bisa membahagiakanmu.

Salam sayang,

putri bungsumu

Kamu EGOIS. Tugas kelompok gak mau kerjain alasannya nggak bisa; giliran skripsi yang rempong serempongnya bisa kerjain sendiri. Bisa nggak EGOISnya itu dikendalikan?
Apa Sebab?

Apa sebab orang bisa menyukaimu, bahkan jatuh hati? Padahal engkau tidak cantik seperti yang lain, bukankah itu perasaanmu? Kamu merasa tidak juga lebih pintar, lebih baik, bahkan lebih salehah. Tapi mengapa ada yang bisa menyukaimu? Bahkan rela jauh-jauh datang ke rumahmu, rela bekerja lebih keras untuk mempersiapkan hari-hari baik kemudian hari denganmu.

Apa sebab orang bisa menyukaimu? Sekalipun menurutmu, dirimu begini dan begitu?

Apa hendak dikata. Bukankah berulang kali kamu dengar bahwa cantik itu relatif, berdasarkan perasaan. Bukan berdasarkan standar iklan di televisi. Bahkan, sejauh mana ukuran kebaikan seseorang itu juga relatif. Baginya, kamu itu baik, dan itu lebih dari cukup untuk mengalahkan pikiranmu tentang dirimu sendiri yang merasa kamu belum cukup baik.

Apa sebab orang bisa menyukaimu, bahkan jatuh hati? Barangkali itulah sisi yang tidak bisa kamu lihat. Ada orang yang bisa melihat sesuatu yang tidak bisa kamu lihat dari dirimu sendiri. Dan memang, kita tidak bisa menilai diri sendiri dengan baik.

Boleh jadi, masa lalumu amat buruk, tapi baginya itu tidak berarti. Boleh jadi, kulit wajahmu kusam dan gelap, tapi baginya itu tidak berarti. Boleh jadi kepandaianmu tidak seberapa, tapi baginya itu tidak berarti.

Lalu kira-kira apa yang berarti darimu baginya? Barangkali kamu akan menemukan jawaban itu nanti di tatapan matanya, juga bagaimana setiap kata-kata yang keluar darinya, juga bagaimana ia memperlakukanmu. Barangkali juga kamu tidak akan menemukan jawaban itu segera. Butuh bertahun-tahun untuk mengerti dan memahami, mengapa ada orang yang bisa menyukaimu, bahkan jatuh hati.

Yogyakarta, 5 Oktober 2017 | ©kurniawangunadi

Terlalu baik, membuat mereka berpikir bahwa kamu itu mau dimintain tolong apa saja. Hingga bagi mereka, batas meminta tolong dan menyuruh akan menjadi berbeda tipis. 
 
Belajarlah berkata tidak jika hatimu memang enggan. Agar kau bisa menghargai dirimu sendiri, dan mereka juga belajar untuk menghargai sosokmu dalam meminta bantuan.
Belajar Dari Pensiunnya Bapak

Tiga bulan lagi Bapak saya akan pensiun. Selama ini,saya cukup terharu (sedih sebenarnya) karena Bapak tidak pernah menjadi pejabat mentereng seperti orang lain. Bukan karena saya ingin bangga, bukan. Tapi lebih kepada saya ingin Bapak bangga karena memiliki karir yang tinggi (tinggi seperti ekspektasi saya).

Seminggu lalu Bapak mengirim SMS, isinya sederhana, memberi tahu bahwa beliau telah dilantik menjadi perwira. O ya, Bapak saya seorang anggota POLRI, bertugas sebagai staff keuangan, satu tingkat di bawah kepala bagian. Bapak saya tidak pernah bisa menjadi kepala bagian, karena bukan perwira. Ketika dia menjadi perwira, masa pensiunnya segera datang beberapa bulan lagi. Tapi syukur juga, karena Bapak pangkatnya rendah, saya jadi bisa kuliah murah di ITB dulu. 

Candaan saya dengan Bapak begini, “halah Pak, gak akan ada yang tanya Bapak berapa lama jadi perwira, yang penting Bapak pensiun sebagai perwira.” 

Ketika saya bermasalah di tempat kerja beberapa tahun lalu dan akhirnya resign, Bapak menelepon saya. Beliau berpesan, “meski tinggal sebulan, apapun yang terjadi di sana, kamu harus tetap mengerjakan pekerjaanmu dengan maksimal, jangan terpengaruh. Kerjakan sebaik mungkin, tinggalkanlah kesan baik, tuntaskan.” 

Sebenarnya, tanpa Bapak berpesan itupun, saya sudah melakukan itu. Bahkan pernah di tempat sebelumnya, hari terakhir bekerja saya masih lembur di pabrik dan menemani tamu hingga pukul 12 malam. 

Beberapa hari lalu, saya ngobrol dengan adik. Saya baru sadar, bahwa sikap saya terhadap pekerjaan adalah hasil dari contoh Bapak dan Ibu. Bapak memang sekali saja berpesan pada saya untuk bekerja sebaik mungkin, namun sedari kecil kami selalu disuguhi pemandangan tentang betapa bertanggungjawabnya Bapak dan Ibu terhadap pekerjaan.

Dulu komputer belum populer, Bapak selalu bawa buku akutansi yang super besar selebar meja, dan menulisinya dengan data - data gaji polisi. Tulisan Bapak sangat rapi, dan beliau selalu lembur setiap akhir bulan hingga tengah malam di rumah. Ibu sering membantu juga. Kata Ibu, setiap akhir bulan penyakit maag Bapak selalu kumat karena stres deadline.

Lucu ceritanya ketika Ibu memberi usul agar Bapak menggunakan komputer. Komentar Bapak waktu itu, “mana bisa, data sebanyak itu dimasukkin ke komputer yang kecil begitu? Buku akutansinya aja super besar gitu.”

Bapak dan Ibu tidak pernah mengurangi kualitas pekerjaan mereka karena kecilnya gaji. Sebelum pemerintahan SBY, gaji guru teramat kecil lah. Gaji polisi masih kecil, haha. Tapi Bapak dan Ibu tidak menjadi kendor dalam bekerja. Barangkali itulah yang membuat saya dan adik punya prinsip yang sama. 

Ada satu hal yang membuat saya akhirnya menyadari bahwa kesedihan saya karena Bapak tidak pernah punya jabatan mentereng itu bodoh. Yaitu ketika adik saya berkata, “Bapak menutup karirnya dengan kesan yang (teramat) baik. Di apel pagi Bapak dipuji - puji karena tidak mengurangi kualitas bekerjanya padahal menjelang pensiun. Di akhir pelantikan perwiranya, Wakapolreslah yang minta berfoto dengan Bapak.”

Suatu hari, atasan Bapak menyekolahkan anaknya dengan biaya yang sangat besar, ratusan juta. Saya berkelakar, “Pak, kok Bapak ga punya duit segitu sih Pak?” Kata Bapak, “Bapak cuma mau hidup tenang. Bapak emang ga punya duit segitu, tapi anak - anak Bapak gak pernah butuh duit segitu untuk masuk kuliah. Kamu dapat beasiswa, adikmu kuliah ya murah. Kalian bisa cari kuliah sendiri, bisa cari kerja sendiri, Bapak ga perlu cariin. Temen - temen Bapak itu, ya repot cariin kuliah anaknya, cariin kerjaan buat anaknya, Bapak gak perlu.”

Di akhir obrolan saya dengan adik, saya menyadari rasa syukur saya bahwa Bapak mengakhiri karirnya dengan cemerlang walaupun tidak berkalang jabatan dan uang. Saya meyakini bahwa integritas Bapak adalah keperwiraan yang sesungguhnya, lepas dari kesalahan - kesalahannya dalam bekerja.

Bapak hanya polisi biasa hingga akhir masa kerjanya. Tapi sebagai laki - laki, dia berhasil membesarkan kami. Alhamdulillah keluarga dalam keadaan diberkahi dalam segala kondisi. Anak dan mantu rukun, rejeki selalu ada entah bagaimana Allah menyampaikannya. Cucu pertama segera lahir. Bapak hanya lulusan SMEA, tapi kedua anaknya minimal sudah sarjana, yang alhamdulillah selalu berada di jalan yang gak melenceng - melenceng amat.

Semoga rezeki yang kami makan melalui Bapak selama ini halalan toyyiban, agar di akhirat tak jadi beban. 


Bandung, 15 September 2017
Untuk Bapak yang sering saya sebelin

AA Gym: Mengobati Futur

Kajian Ma'rifatullah

👳 K.H Abdullah Gymnastiar
🕌 Daarut Tauhiid
📅 Kamis, 28 September 2017

Jarang orang yang takut turun keimanannya kepada Allah, padahal yang paling bahaya dalam hidup ini adalah Futur. Kalau tidak di rem futur ini maka akan mati dalam keadaan Suul Khotimah.

Gejala-Gejala Futur

1. Malasnya Ibadah >>> Mungkin tidak meninggalkan yang fardhu tapi malas. Yang biasanya tepat waktu jadinya sering menunda-nunda sehingga mengakhirkannya.

2. Tidak ada lagi nikmatnya ibadah >>> Tidak ada lagi bergetarnya hati saat dibacakan ayat-ayat Al-Qur'an. Kalau futur sudah mulai maka salat itu tidak ada kenikmatan dan hanya jadi formalitas saja. Kuantitas ibadah berkurang dan kualitasnya pun jelek.

3. Hati yang makin keras & gersang >>> Karena kurangnya dzikir dan berinteraksi dengan Allah.

4. Semakin banyak melakukan hal yang sia-sia >>> Awalnya melakukan hal-hal yang kecil sehingga semakin terbiasa dengan kesia-siaan seperti hijab & pandangan yang terjaga akhirnya jadi ikhtilat.

5. Sibuk dengan penilaian orang >>> Sibuk memperbaiki casing daripada isi.

6. Tidak ada kecemburuaan lagi dalam agama (tidak ada ghirah) >>> Menjadi tidak memiliki rasa untuk membela agama, dan acuh dalam urusan dakwah.

7. Dominan memikirkan duniawi >>> Bergaul dengan orang-orang yang sama-sama memikirkan dunia dan memperbagus topeng saja.

Penyebab Futur

1. Maksiat >>> Hati menjadi gelap dan tidak bisa bercermin kepada diri sendiri karena sudah terbiasa dengan maksiat yang berawal dari maksiat kecil.

2. Salah bergaul >>> Orang yang bergaul dengan tukang minyak wangi maka ia akan kebawa wangi. Salah gaul akan membuat salah standar. Diri kita di ibaratkan hp yang perlu charger dan tidak selamanya juga hp terus di charger, jadi diri kita harus di cas dengan lingkungan yang baik dan bermanfaat untuk orang lain.

3. Kurang ilmu / Ilmu yang dipelajari kurang pas dengan tuntunan Rasul sehingga amalan kurang pas atau salah.

4. Beramal berlebihan sehingga menyebabkan tidak mau mengulanginya lagi >>> Fisik, ilmu, amal tidak bisa disamaratakan karena kondisi setiap orang berbeda. Yang bagus itu pertengahan tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih.

5. Makanan Haram >>> Jangan pernah ghasab juga.

Cara Mengobati Futur

1. Bertafakur >>> Harus punya waktu untuk bertafakur dan merasakan apa saja yang harus di tafakuri di setiap waktu, seperti salat yang susah khusyu maka tafakurilah salah satunya dengan dzikir. Harus berani sistematis dalam bertafakur, evaluasi setiap waktu yang sudah digunakan. Kalau lagi futur lebih banyak mempermasalahkan sesuatu yang tidak perlu dipermasalahkan dan memusuhi saudara sendiri.

2. Taubat >>> Minta ampun kepada Allah karena kita sudah mengkhianatinya dan Allah Maha Tahu atas semua perbuatan dan pikiran kita.

Mau apa kamu hidup? Siapa yang membuat kamu seperti sekarang?

>>> Allah yang memberikan semuanya untukmu dan Allah masih menutupi aib-aibmu.

Perbanyak istigfar dan memohon ampun kepada Allah dan sesali semua dosa yang sudah diperbuat.

Semua kerusakan keimanan kita berawal dari dosa sendiri.

Selain memohon ampun mintalah pertolongan juga kepada Allah >>> Yaa Muqollibal Qulub Tsabbit Qolbi ‘Ala diinik.

3. Dobrak dan paksakanlah diri agar terbebas dari gangguan syaithan.

Setan hanya bisa membisikan saja seperti triplek lapuk, ciri bisikan setan adalah sesuai dengan yang nafsu sukai. Semuanya pake judul Entar.

Buatlah TARGET harian dan sanksinya yang membuat kita takut gagal dalam kebaikan serta mintalah tolong dan bantuan kepada teman di sekitar.

QS Al-Ankabut: 69

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”

Kurangilah interaksimu dengan HP

4. Cut >>> Ganti hobi dengan yang membawa kita lebih dekat dengan Allah.

Semangat Bertafakur.

Tentang Tujuan Hidup

Ada teman yang setiap kali saya posting sesuatu di facebook, dia akan menyangkutpautkan dengan pernikahan. Entah bagaimana caranya dia akan selalu melakukan itu. Sampai suatu waktu kawan-kawan saya yang lain bertanya apakah ia tidak bosan dengan pertanyaan begitu terus di tiap postingan saya? Terbayangkan sampai kawan saya jenuh? Saya sendiri sudah imun dengan dia, jadi ya, memaklumi. Mungkin itu life goal dia. Sehingga ketika sekarang dia sudah menikah dan punya anak dua, dia mungkin tidak punya goal lagi. Fyi, saya masih single dan tidak ada masalah dengan itu semenjak saya tidak menjadikannya sebagai life goal. Menikah urusan mudah buat saya. Kalau saya mau, sudah dari bertahun-tahun lalu. Tapi, kalau bukan life goal, buat apa saya memusingkannya?

Meski memang terkadang ketika mengevaluasi diri sendiri saya nampaknya jauh tertinggal dibandingkan dengan teman-teman lain yang saat ini tiap hari posting foto anak-anak mereka, sudah punya cicilan rumah, kemana-mana pakai mobil, posting makanan dan minuman ala XXI dan restoran terkemuka, dan apa-apa yang kalian bisa bayangkan sendiri. Saya? Hidup masih dari beasiswa, kadang dapat fee dari projek, mobil-motor tidak ada uang, apalagi cicilan rumah, foto-foto lucu anak-anak? Ya itulah saya. Saya cuma bisa posting sudut perpustakaan, segelas es cendol yang berharga, keluhan karena biasa pakai LTE tetiba hanya bisa pakai 3G, serta kekesalan karena tidak bisa mengakses Wikipedia karena diblokir pemerintah Turki. Itu saya.

Tapi saya sungguh tidak peduli dengan tujuan hidup orang lain, apalagi jika saya tidak bisa memberikan kontribusi terhadapnya. Apa hak saya mengomentari kehidupan mereka? Terlebih saya punya life goal sendiri yang bukan orang lain yang akan memberikan, tapi buah dari kapalan jari-jari saya pribadi. Jika saya harus menjadi seperti kebanyakan orang, saya bisa saja memilih untuk berkarir di tvOne setelah empat tahun bekerja di sana. Atau saya terus bekerja untuk kemanusiaan di ACT dengan posisi senior dan gaji yang lumayan. Atau di tempat lain yang lebih baik. Motor saya sudah punya, mobil karena malas saja di Jakarta sudah terlalu penuh dengan keegoisan, atau HP bagusan, ah saya bisa. Atau menikah? Well, percayalah, saya bisa saja dengan si biduan kampus yang susah sekali didapatkan namun dengan saya mudah. Haha, gaya! Tapi ini serius. Tampang saya pas-pasan, tapi soal komitmen, bisa diadu. Dan saya sangat menghargai wanita sebagai partner, bukan di bawah ketiak laki-laki. Tapi masalahnya, life goal saya bukan itu. Ketika saya harus kehilangan orang yang saya cintai karena life goal di depan mata, saya rela. Dengan catatan bukan karena saya yang mau pisah. Ketika saya harus meninggalkan kenyamanan di Jakarta demi sesuatu yang telah lama saya impikan, saya rela.

Saat ini saya sedang berjuang menyelesaikan PhD saya dengan santai. Penuh kesulitan, tapi saya menikmati (makanya tidak selesai-selesai, jangan diikuti, haha). Sambil mendapatkan pengalaman baru jalan tidak jelas di negeri orang. Tahun depan saya berangkat Erasmus ke Jerman. Dulu, waktu kuliah di UI, baca tentang Erasmus saya pasti minder duluan. Apalah saya ini tidak punya prestasi, IPK sekarat, English blepotan, tidak pernah terpikirkan untuk daftar. Namun takdir berkata lain, di pengumuman penerimaan Erasmus di Istanbul University, nama saya muncul setelah sebelumnya saya tidak berharap banyak. Saya punya cerita khusus tentang ini sebenarnya. Nanti bisa saya ceritakan. Well, insallah saya berangkat. Ini adalah bagian dari life goal saya yang tidak terduga. Dan saya sangat menikmati ke-tak-terdugaan dalam hidup.

Ada hal-hal yang harus kita korbankan untuk mencapai atau menjadi sesuatu. Jika itu adalah paradigma umum; menikah atau bekerja, tak masalah. Ulat harus bersemedi lama untuk menjadi kupu-kupu. Kecebong harus bersabar untuk menjadi katak. Lalu kita manusia apakah tidak bisa bersabar untuk menjadi dan mencapai sesuatu? Ada hal-hal yang mungkin orang lain sudah capai, tapi ada juga hal-hal yang ada di dalam diri kita dan mereka tidak punya. Jadilah dan capailah sesuatu dengan tangan kita; tidak perlu berusaha sefrekuensi dengan tujuan hidup orang lain.

Setiap kali aku ingin keluar rumah kau bilang padaku untuk hati-hati, “di luar banyak yang bisa merayumu” ucapmu. Aku hanya tersenyum, tentu banyak yang bisa merayuku. Tapi bukankah selama ini kau bisa melihat sendiri, kau jauh lebih hebat dari siapa pun. Buktinya, tanpa perlu merayuku, aku bisa tergila-gila padamu. Lalu, apa lagi yang kau ragukan pada daya tarikmu. Tetaplah menjadi alasan aku semangat bekerja. Tetaplah menjadi seseorang yang ingin kujadikan teman sepanjang hidup. Biarlah aku berkeliaran mengumpulkan rezeki. Semuanya akan tetap sama. Kau mungkin biasa saja, tapi hanya kau yang mampu membuatku jatuh dan cinta. Jangan ragukan dirimu, kamu yang paling bisa menaklukan diriku.

–boycandra

Tulisan : Orang yang Tepat

Kalau kamu merasa kamu pendiam, mungkin itu hanya karena kamu belum bertemu dengan orang yang tepat untuk kamu ajak bicara. Kalau kamu sangat pemalu, mungkin itu hanya karena kamu belum menemukan lingkungan yang tepat untuk menjadi ruang yang nyaman bagimu agar kamu bisa menjadi dirimu sendiri. Kalau kamu merasa kamu kurang dalam segala hal, mungkin kamu belum bertemu dengan orang yang lebih kurang darimu, atau bisa juga orang yang mengagumimu pada hal-hal yang selama ini kamu keluhkan.

Seringkali, segala kekhawatiran kita terjadi kita hanya belum bertemu dengan orang yang tepat. Segala persepsi kita tentang diri sendiri itu hanya lahir dari pikiran kita, bukan orang lain. Sehingga, bertemu dengan orang yang tepat memang sebuah hadiah yang tak ternilai.

Orang yang tidak hanya bisa membuat kita menjadi diri sendiri, melainkan orang yang sekaligus bisa menjadi lingkungan yang kita bisa tinggali. Hidup dalam lingkungan tersebut, nyaman memang. Tapi, zona nyaman yang membuat kita terus tumbuh tentu lebih baik daripada kita harus keluar darinya kan?

Kalau kita tidak atau belum juga menemukan orang yang tepat tersebut, bukankah tidak ada salahnya kita berusaha untuk membuat diri kita menjadi orang yang tepat untuk orang lain?

:)

©kurniawangunadi | yogyakarta, 21 september 2017

DARI RAMALAN SEORANG ISTRI

Februari 2010, dua bulan setelah pernikahan, di sebuah rumah kontrakan kecil di daerah Muncul, Serpong, saya ingat waktu itu hanya punya uang Rp. 20.000 saja di saku celana. Tabungan di rekening tinggal Rp. 130.000,- lagi dan tak bisa ditarik dari ATM. Sore itu saya pulang kerja dengan langkah gontai, berstatus CPNS dengan gaji hanya dibayarkan 80% saja dan tanggal gajian masih seminggu lagi.

Di rumah, istri saya, Rizqa, memasak tempe goreng dan sayur bayam. Setelah makan, sambil duduk di atas karpet kecil di tengah rumah kontrakan kami dengan perabotan yang kosong, saya terus terdiam sambil memendam perasaan seorang suami yang kalah—individu yang tak ragu apakah jalan yang saya ambil adalah pilihan yang tepat.

Usia saya 23 tahun waktu itu, seorang pemuda keras kepala dengan ego yang begitu besar, yang dua bulan sebelumnya merasa yakin dan mampu mempersunting gadis yang dicintainya. Usianya masih 22.

“Aku punya kabar baik,” ujar Rizqa waktu itu. Saya menoleh ke arahnya yang sedang tersenyum. Melontarkan kata apa hanya melalui tatapan mata saja. “Aku menikahimu karena aku tahu suatu hari kamu akan sukses. Kamu bisa jadi menteri atau bahkan presiden? Apapun itu, aku percaya kamu akan jadi orang yang didengar banyak orang ketika berbicara dan bepergian keliling dunia.” Sambung Rizqa.

Mendengar semua itu, saya hanya terdiam. Lalu balas tersenyum. Saya tak tahu sejak kapan Rizqa belajar meramal. Tetapi bukan ‘ramalan’-nya betul yang penting. Kata-kata yang dilontarkannya langsung masuk ke dalam diri saya dan tinggal di dalam pikiran dan perasaan saya untuk waktu yang lama.

Sekarang bayangkan, waktu itu saya hanya seorang pemuda yang merasa hidup memaksanya bekerja terlalu berat dan dia mulai berpikir untuk tidak sanggup melakukannya lagi. Tetapi, ada seorang perempuan yang rela saya bawa hidup susah, mengatakan kepada saya bahwa suatu saat saya akan berbicara pada banyak orang, bahkan keliling dunia?

Baiklah, barangkali Rizqa memang bisa meramal dan kini kata-katanya terbukti: Kini saya sudah berbicara kepada begitu banyak orang, jutaan orang, melalui tulisan maupun seminar-seminar saya. Dan saya sudah bepergian ke banyak negara untuk melakukan berbagai hal yang tak bisa saya bayangkan sebelumnya.

Namun, bagi saya bukan itu yang terpenting, buka tentang pencapaian apa saja yang sudah saya dapatkan. Yang terpenting dan paling berharga buat saya adalah apa yang Rizqa katakan kepada saya lebih tujuh tahun yang lalu, semua yang ia ungkapkan kepada saya waktu itu, telah menjadi navigasi yang memandu saya untuk terus bergerak dan melangkah. Kata-katanya bukan hanya menyemangati saya, tetapi sekaligus melindungi saya dari rasa kalah dan putus asa.

Dari semua yang saya capai sejauh ini, dari semua yang sudah saya dapatkan dan bisa saya kumpulkan ke dalam diri dan hidup saya, semua selalu bermula dari sebuah kegagalan dan kekalahan-kekalahan besar dalam hidup saya. Barangkali memang orang harus gagal secara luar biasa, untuk bisa bertindak dan bergerak mengerahkan apapun yang dimilikinya agar bisa keluar dari kegagalan itu.

Maka, jangan takut untuk gagal. Jangan menyerah menghadapi kegagalan dan kekalahan besar dalam hidup ini. Ada sebuah tes IQ kuno yang dimaksudkan untuk menguji kecerdasan kita untuk bisa menarik garis melalui sembilan buah titik dalam tiga kolom tanpa sekalipun mengangkat penanya… Satu-satunya cara untuk menyelesaikan teka-teki itu adalah dengan cara menarik garis sampai keluar, melewati sebuah titik. Jangan takut untuk keluar dari batas-batas kewajaran, jangan takut untuk keluar dari zona nyaman.

Bermimpilah yang besar. Bayangkan apa saja yang bisa digambarkan imajinasi dengan warna-warna indah yang menyenangkan. Tetapi ingat, tetapkan tujuan-tujuan. Sebab impian tanpa serangkaian tujuan-tujuan hanyalah lamunan belaka. Dan itu hanyalah bahan bakar yang sempurna bagi rasa kecewa.

Sejak kecil saya terbiasa bergerak dengan impian dan peta tujuan. Sejak Rizqa membacakan ‘ramalan’-nya untuk saya, saya mulai menyusun tujuan-tujuan mingguan, bulanan, tahunan, dan yang lebih panjang lagi. Dan memahami bahwa tujuan-tujuan itu seringkali bukanlah perkara-perkara mudah, saya harus selalu memiliki stamina yang cukup, disiplin yang bisa diandalkan, dan konsesitensi yang tak pernah kendur.

Itulah sebabnya saya bekerja keras setiap hari, saya rencanakan apapun saja dalam hidup saya. Sebab saya tahu yang membuat seseorang gagal bukanlah ketika semua rencana yang ia buat gagal, tetapi ketia ia gagal membuat rencana-rencana dalam hidupnya. Di atas semua itu, biarkan kerja keras yang membuat rencana-rencana itu bergulir dan menemukan kaki-kakinya untuk berlari.

Jika sebuah rencana sudah terbuat, teruslah bergerak untuk mewujudkan semua itu. Selesaikan apa yang sudah direncanakan. Melakukan banyak hal dalam hidup tidak sama dengan menyelesaikan banyak hal dalam hidup. Jangan salah memahami antara hidup untuk terus bergerak dan bekerja keras dengan hidup untuk mencapai tujuan-tujuan dan menuntaskan rencana-rencana. Kita bisa terus bergerak dan bekerja keras tetapi sebenarnya hanya jalan di tempat, bukan?

Di sanalah nasihat tentang ‘apapun yang bisa kau impikan akan kau dapatkan’ bisa menemukan relevansinya. Tebuslah dengan tekad dan usaha. Tebuslah dengan memberikan apapun yang terbaik dari diri kita. Dan saat Anda sudah mencapai hal baik yang Anda rencanakan, saat Anda sudah merasakan buah manis dari kerja keras Anda, kembalilah ke belakang… Ajak orang lain untuk sukses! Itulah yang akan membuat kita punya impian dan daya juang lebih hebat lagi. Tolonglah sebanyak mungkin orang, hidup kita akan jauh lebih bermakna saat kita bisa membuat banyak orang lebih berdaya.

Jangan egois. Jangan bercita-cita untuk bisa sukses dan membuat hidupmu sendiri bahagia. Bercita-citalah lebih besar lagi, buatlah perbedaan, bercita-citalah untuk bisa membuat banyak orang bahagia.

Tepat hari ini, 22 Agustus 2017, saya menginjak usia 31: Dan saya masih terus bergerak. Saya masih menjadi orang yang sama dengan ‘ramalan’ seorang istri di dalam dirinya. Bedanya, hari ini saya tak punya uang Rp. 20.000. Saya tak punya masalah untuk mearik sejumlah uang dari ATM. Dan saya tidak hanya berpikir bagaimana bisa membuat hidup saya sendiri, hidup orang-orang di sekeliling saya, bisa aman dan baik-baik saja. Saya berada dalam sebuah rangkaian rencana besar untuk bisa membuat hidup banyak orang, minimal puluhan orang yang bekerja di aneka perusahaan saya, lebih berdaya dan berbahagia.

FAHD PAHDEPIE

Love The Way You Lie

.

Gue sempat diem sebentar lantaran masih cukup shock dengan kenyataan yang gue hadapi malam-malam begini. Nih cewek ternyata satu kampus sama gue, satu angkatan pula. Gue lirik tuh cewek yang sekarang lagi ngiler sambil nyender di pintu mobilnya, gue lirik lagi kartu yang lagi gue pegang, gue lirik lagi tuh cewek, gue lirik lagi ini kartu.

Dari nomer mahasiswanya sih kodenya 620, kalau gue nggak salah inget itu kodenya anak fakultas kedokteran. Beuh anak FK tapi mabok, terbaik emang nih cewek. Karena nggak mau terlalu kepo akhirnya gue balikin tuh kartu ke dalam dompetnya. Gue nggak suka ikut campur urusan orang, terlebih orang itu satu kampus sama gue. Bahaya juga kalau anak-anak kampus tau pekerjaan gue di luar kampus kaya apa.

Gue obok-obok lagi dompetnya sebentar dan yak akhirnya gue nemu KTPnya beserta SIM-nya juga. Gue lihat alamat di kedua kartunya sama, oke sip berarti dia nggak ngekos. Dan alamatnya pun nggak jauh, ada di daerah Dipatiukur, Bandung. Yaudahlah, motor gue tinggal di sini aja. Besok gue ambil pagi-pagi sepulang dari kampus.

“Mbak.. Bangun dong.” Gue goyang-goyangin si Adele lagi badannya, tapi dia tetap nggak bangun juga.

“Sahur… Sahur… Sahur… Mbak Imsak tuh  bentar lagi..” Sekali lagi gue coba bangunin tapi kayaknya dia udah tepar banget.

Gue menghela napas panjang, ini berarti gue harus ngangkat mbak-mbak ini ke dalam mobil. Mana pakaiannya minim banget lagi. Pake kalung emas juga besar banget kaya rantai kapal. Apa kagak capek tuh lehernya kalau dia jalan digantungin kalung segede itu? Bahaya banget nih cewek dandanannya, mengundang orang buat ngerampok banget.

Nggak mau membuang banyak waktu, gue langsung membuka pintu mobil BMW-nya. Tapi emang pada dasarnya gue ini kalau udah malem ya kumat gobloknya, gue lupa ada kepala itu cewek lagi nyender di pintu mobil alhasil kepalanya kejedot pintu pas gue buka dan dia langusng oleng terus menggelepar di lantai.

“Hahahahaha kejedot ya mbak? Maap yak maap.” Gue malah cengengesan. Abisnya lucu sih.

Oke, ini adalah kali pertama gue masuk ke mobil mewah begini. Mobil BMW entah seri apa gue nggak terlalu peduli. Di dalamnya banyak banget printilan-printilan cewek. Dari segala macam foto box, boneka dashboard yang kepalanya bisa goyang sendiri, dream catcher digantung di spion lengkap bersama tasbih dengan lafaz arabnya. Subhanallah.

Di belakang ada jas lab kedokteran. Juga ada sepatu di kursi belakang, ada sendal, ada lipstik, ada segala macam make up. Astaga ini mobil kotor banget dah. Emang cewek sebegini kotornya ya kalau punya mobil?

Pas gue mau duduk buat nyalain mobilnya pun tiba-tiba ada yang ganjel di pantat gue. Pas gue tarik ternyata itu sikat gigi. Si Anjir ada sikat gigi di kursi supir, nih cewek gosok gigi di mobil apa gimana dah? Jorok amat.

Karena ini bukan urusan gue, jadinya gue nggak terlalu peduli buat ngerapihin kursi depan dulu. Gue asal masukin aja, peduli amat dah dia lagi ngedudukin lipstiknya sendiri. Gue sandarkan dia di kaca mobil. Setelah itu gue menyalakan mobilnya. Bahkan nyalain mobilnya pun gak pake kunci, tapi pake tombol aneh di mobilnya. Canggih beudh kaya selangkangan Robokop.

“Oke, ternyata matic. Sip deh nggak harus was-was kalau-kalau gue nabrak sesuatu.” Kata gue seraya masukin gigi.

Sesaat setelah memakai sabuk pengaman, dan melihat ke area sekitar sekiranya sudah kosong apa belum, gue langsung nengok ke belakang untuk mundurin mobilnya. Tapi bukannya itu mobil mundur, lah ini malah maju waktu gue injek gasnya. Sontak gue teriak-teriak sendiri di dalam mobil.

Ya gimana nggak teriak anjir, coba lo bayangin, gue lagi fokus ngeliat ke belakang tapi ini mobil malah maju ke depan. Untung aja parkiran kosong. Kalau nabrak terus gue suruh ganti sih mati aja lah. Mahal bener nih mobil. Parfum AC sama harga diri gue juga lebih mahal parfum AC-nya.

Karena masih keringat dingin akibat insiden tadi, gue berhenti dulu untuk tarik napas. Gue nggak mau nyalain AC mobil. Baunya nggak suka. Bau strawberry aneh gitu parfumnya. Gue lirik di kanan gue ada tombol kaca. Pas gue buka, lah malah kaca depan si cewek itu yang ngebuka, bukan kaca supir.

Dia yang tadi nyender di jendela kaca langsung keluar kepalanya ngaplek di jendela mobil.

“WAAAAA… MBAK ADEL NGGAK PAPA-PAPA?!” Gue kaget setengah mati karena kepalanya hampir keluar jendela. Gue langsung turun buat ngecek takutnya itu mbak-mbak lecet apa gimana. Tapi untungnya nggak papa. Gue takut pundaknya sobek.

.

                                                               ===

.

Nggak butuh waktu lama untuk sampai di Dipatiukur dari tempat gue kerja. Setelah beberapa kali tersesat mencari alamat, akhirnya gue nemu dah tuh. Kebetulan itu rumah ada satpamnya juga. Gue turun untuk ngejelasin kronologinya ke satpam rumah si cewek dan satpam itu mengerti lalu mengucapkan terima kasih.

Terus gimana cara gue pulang?

Si satpam mau berbaik hati nganterin gue naik motornya. Sambil sesekali curhat, gue akhirnya dapet informasi kalau doi tinggal sendiri di sono. Orang tuanya sih ada di luar pulau jawa.

Gue dianterin sampe depan kossan. Karena sudah malam, kossan gue juga sudah sepi. Gue buka pintu gerbang dan tidak lupa buat ngegemboknya lagi. Hari itu gue pulang ke rumah pukul setengah 4 pagi. Ketika masjid di sekitaran kos mulai pada ngaji, gue baru rebahan di kasur. Gue pasang alarm untuk kelas jam 9 pagi nanti.

.

                                                           ===

.

Gue itu orangnya nggak bisa tidur kalau ada suara dikit aja. Makanya kalau pasang alarm jam 9 walau gue baru tidur jam 8, gue pasti bangun. Gue kadang heran tiap nginep sama orang terus ada yang pasang alarmnya pake lagu. Panjang banget dah ada 4 menit nyala terus tapi orangnya tetep molor. Masih mending lagu, lah ada juga yang pasang alarm suara orang lagi ngaji. Bukannya teduh lah gue malah kaget dikira lagi dingajiin.

Karena hari ini motor gue masih nginep di tempat kerja, alhasil gue minjem motor Budi dulu. Budi ini pengurus kos-kosan gue. Orangnya baik banget. Supel. Keturunan jawa murni jadi sikapnya benar-benar sopan. Kucing gue lagi tidur depan teras aja dia bilang “permisi” kalau mau lewat sambil sedikit nunduk. Luar biasa.

Kuliah gue hari ini cuma sampai jam 12 siang, setelah itu nggak ada lagi. Dan biasanya sehabis pulang kuliah, gue nggak langsung pulang. Gue nongkrong dulu sama temen-temen di unit kegiatan yang gue singgahi baru-baru ini, DKM.

Ya.
Gue anggota Dewan Kekeluargaan Masjid.

Pembuat alkohol yang jadi anggota DKM. Benar-benar tujuan hidup yang sungguh mulia dunia dan akherat.

Susudah sholat Duzhur sama temen-temen yang lain. Gue sekarang duduk di area kantin di meja pojokkan deket jendela. Area kantin kampus ini emang cukup besar. Di satu kampus yang ada lebih dari 10 fakultas ini, kantinnya cuma ada satu biji doang. Oleh karena itu di salah satu gedung ada satu lantai khusus buat kantin yang isinya meja-meja doang. Nah selain dipakai buat makan, di sini juga dipakai sama unit kegiatan buat nongkrong-nongkrong juga.

Selain buat cari anggota baru, ya banyak juga yang buka laptop terus main PS bareng. Ada juga yang main kartu. Pokoknya banyak deh. Nah kebetulan DKM tahun ini lagi mau mengadakan acara sejenis LDKS gitu. Ospek untuk angkatan baru yang baru aja masuk. Sekarang rencananya mau ngemping di gunung Puntang.

Maka dari itu gue nggak pulang langsung ke kos buat lanjutin tidur. Ketika yang lain lagi sibuk diskusi, gue cuma duduk aja ngeliatin doang karena kalau boleh jujur, gue kurang tidur banget akhir-akhir ini.

Oleh karena ini kantin yang dipakai seluruh fakultas, jadi banyak sekali anak-anak fakultas lain sliweran kalau lagi jam istirahat gini. Gue yang daritadi masih ngantuk dan menatap kosong ke depan tiba-tiba nggak sengaja melihat satu sosok yang udah nggak asing lagi.

Ya, siapa lagi kalau bukan sosok cewek Adele kemarin itu. Gue udah ada firasat bakal ketemu dia hari ini, dan ternyata bener kejadian. Dan kalian tau parahnya lagi apa? Doi mesen makanan lalu duduk di meja yang cuma berjarak sekitar 4-5 meja di depan gue. 

Asem.

Sontak gue langsung buang muka dong. Gue nggak mau dia sampai ngenalin gue. Bahaya banget. Apa jadinya kalau temen-temen DKM gue tau kalau salah satu anggotanya ini adalah penjual alkohol. Ya Allah bisa-bisa gue di rajam kaya orang lagi lempar jumroh.

Ini sebabnya gue memilih untuk kerja malem dan kerja di tempat yang jarang sekali didatangi mahasiswa. Tapi ya namanya lagi sial, ada aja satu dua orang yang ternyata anak kampus gue sendiri.

Gue makin lama makin gelisah, pengen izin pulang tapi rapat belum beres.

“Ngapa lo, Dim? Gelisah amat.” Tiba-tiba Iqbal, salah satu rohis kampus, menegur gue.

“Bro.. Gue ijin pulang duluan  yak?” Gue menimpali.

“Astagfirullah, jangan dong. Rapat baru juga mulai nih. Kita-kita juga butuh pendapat elo.”

“Subhanallah, tapi gue sakit perut nih tampaknya.”

“Astagfirullah. Coba boker di wc kantin aja.”

“Naudzubillah! Nggak ah.”

“InshaAllah nggak lama kok rapatnya, Dim. Santai yak.”

“Amin..”

Lah anjir kenapa percakapan gue kaya orang lagi doa begini dah. Aduh, harus pake alasan apa lagi dong biar bisa cabut? Yaudah deh, mending malu sekalian daripada harus tatap-tatapan sama si Adele terus dia nyadar bahwa gue adalah orang yang kemarin dan ngasih tau temen-temen gue tentang kerjaan gue apaan.

“Bal..” Dengan sigap gue langsung manggil si Rohis lagi.

“…” Iqbal tidak menengok.

“Woi Iqbal.” Iqbal masih tidak menengok juga.

“Assalamualaikum, Ya Akhi Iqbal kawanku.”

“WAALAIKUMSALAM DIMAS SOHIBKU!!” Tiba-tiba dia langsung ngejawab. Ah dasar peler onta.

“Bal gue harus cabut cepet-cepet nih.”

“Yah cuy kalau cepet-cepet nyabutnya nggak enak nanti.” Tiba-tiba Boim, sahabat gue satu fakultas, nyeletuk di sebelah gue. Gue dan Iqbal langsung ngeliat ke arah Boim. Dan dia cuma ketawa gitu aja.

“Kenapa cepet-cepet, Dim?” Tanya Iqbal makin penasaran.

Aduh, kepalang basah deh ah. “Gue belum mandi besar nih, bro.” Kata gue mencoba ngarang-ngarang alasan yang paling bisa diterima oleh rohis macam Iqbal ini.

“ASTAGFIRULLAH!! TIDAKLAH SAH SHOLAT ANTHUM APABILA TIDAK MANDI BESAR.”

“YA NGOMONGNYA JANGAN BESAR-BESAR BANGKE!! AH GUE KEPRET JADI MODEL MAJALAN YASIN LU!!”

“Hahaha yaudah gih gih, gue kasih izin. Sesudah mandi langsung sholat ya bro.” Balas Iqbal lagi.

“Iye iye. Dah ah gue cabut dulu. Im, gue cabut ya.” Gue nepuk pundak Boim, dan dia angguk-angguk doang.

“Dimas, kamu tidak lupa kan niat mandi wajib apa?” kata Iqbal keras banget sampe temen-temen yang lain denger. Ngehe emang ini si kambing kupluk.

“Inget kok. Allahumabariklana kan?” Jawab gue asal sambil cepet-cepet ngeloyor pergi ninggalin kampus.

.

                                       ===

.

22.00

Gue buka Itunes di computer café, lalu memilih playlist ‘lagu jam 22-23’, kemudian gue pencet tombol random. Dan malam itu, yang terputar pertama adalah lagu Rihanna – Love The Way You Lie.

“Ah parah lo, Jess!” Tiba-tiba gue ngelempar lap piring ke muka Jessica yang baru aja lewat di depan gue.

“LAH SALAH GUE APA ANJIR MENDADAK DILEMPAR ANDUK SEGALA LU KIRA GUE ABIS NARIK BECAK APA?” Jessica langsung marah-marah sampai kuciran rambutnya lepas.

“Gara-gara lo nih, pelanggan cewek yang kemarin di pojok itu jadi malapetaka buat gue di kampus. Hadeeeh.” Gue ngedumel.

“Loh kok bisa, mas?” Jessica mendekat.

Sebelum menjawab, gue menegak air putih dulu dalam-dalam.

“Gara-gara dia nasib reputasi gue di kampus jadi dipertaruhkan.” Kata gue sambil menatap Jessica.

“Aku nggak ngerti deh.” Jessica garuk-garuk kepala.

“Euh dasar bocah SMA. Entar kalau dah kuliah lu baru ngerti deh susahnya jadi gue gimana. Btw, ada PR nggak hari ini?”

“Ada kok, tapi udah gue kerjain tadi sore.” Ujarnya seraya mengedipkan matanya.

“Loh tumben. Cepet banget.”

“Dibantuin customer. Hahahahaha.”

“Yeeee pantes. Yaudah mau dibantuin siapa gue nggak peduli, yang penting lo harus beres sekolahnya. Inget, sekarang sudah ada program wajib belajar 100 tahun.”

“SEMBILANG TAHUN BANG :(((”

“Hahahahahahahahahahahahahaha.”

"Eh mas, 2 bulan lagi aku kayaknya bakal fix ngekos di tempat mas deh.” Tiba-tiba Jessica mengubah topik pembicaraan.

Gue yang masih minum tadi sempat sedikit tersentak kaget, gue taruh gelas gue di hadapan dia, “Emang kenapa lagi di rumah?” Tanya gue dengan nada rendah, berharap karyawan lain tidak mendengar.

Jessica menghela napas panjang sesekali, “Biasa mas. Masalah yang itu-itu lagi.” Ujarnya.

Gue angguk-angguk, “Gue sih bebas, toh ini juga hidup lo. Gue rasa justru semakin cepet malah semakin bagus. Lagian gue juga makin bisa ngawasin elo. Apalagi kalau nggak salah bentar lagi lo mau UTS kan? Nanti gue bilang ke Budi deh buat nanyain ada kamar kosong atau nggak.”

“Ih, ngapain?” Jessica ngelempar lap piring tadi kembali ke gue, “Gue di kamar lo aja, mas. Kita joinan.” Sambungnya sambil nyikut tangan gue pelan.

“GUNDULMU!”

“Hahahaha tapi kan biar bagaimanapun juga kossan lu itu itu kossan putri. Jadi boleh dong gue di kamar yang mana aja.” Termasuk di kamar lu.” Sanggah Jessica.

Yak.
Gue yang sekarang memang tinggal di kossan putri. Aneh kan? Ceritanya panjang banget sih. Tapi intinya di kossan itu, gue dan Budi adalah satu-satunya cowok di sana. Sisanya cewek semua. Nanti kapan-kapan gue ceritain kenapa gue bisa ada di kosan itu. Bagaimana kondisinya. Berapa jumlah kamernya. Dan siapa-siapa aja penghuninya.

“Serah lu deh. Eh, sekarang hari selasa kan? Shift sampe jam ber..”

Belum sempat membereskan kalimat gue, pintu cafe tiba-tiba ini dibuka sehingga lonceng yang ada di atasnya berbunyi. Gue yang tadi lagi ngomong sama Jessica langsung berbalik dan mengucapkan salam selamat datang.

“Selamat Datang. Silakan du…”

Gue terdiam.

Jessica juga terdiam.

Jessica ngelirik gue.

Jessica kemudian narik-narik kerah baju gue.

“Mas mas.. Itu cewek yang kemarin kan?” Tanyanya bisik-bisik.

Gue masih diem.

“Mas, cewek itu dateng lagi tuh.” Kata Jessica lagi.

“IYA JES GUE JUGA BISA LIAT AH LU!”

“Gih urusin gih orderannya.”

“Aduh Jes, elo aja deh. Gue males ah.”

“Lah kenapa? Tumben-tumbenan lu jiper sama cewek.”

“Ye bukan gitu. Udah sana sama lu aja ya please. Gue udah cukup kacau kemarin gara-gara itu cewek. Gue nggak mau makin sial hari ini.” Gue mencoba merayu Jessica.

“Moh ah. Mas aja. Hahaha.. Jodoh lu kali tuh. Baybay Mas Dim~” Balas Jessica yang kemudian langsung ngeloyor pergi ninggalin gue.

Aduh.

Gimana nih?

Gue bener-bener nggak mau ngobrol sama cewek itu semenjak tau dia sekampus sama gue. Pokoknya sebisa mungkin gue harus menghindarkan percakapan panjang agar dia gak inget sama muka gue. Please please please..

Dia sekarang masih ngeliat-ngeliat menu di atas dapur gue. Sambil kemudian menarik kursi dan duduk di tempat yang sama seperti tempat ia duduk kemarin.

Gue menghela napas panjang, lalu berjalan gontai menghampirinya. Tidak lupa dengan gaya yang sama, sambil ngelap gelas.

.

.

.

                                              Bersambung

How to use social media without being anxious

1. Kalau ngga ada yang perlu di-upload, ngga perlu mengada-adakan. Dunia ngga berakhir hanya karena kamu ngga ngupdate Instagram, Path, Facebook, Tumblr, Twitter, dkk selama sehari.

Kecemasan bisa muncul ketika kita ngga bisa mengendalikan diri kita sendiri. Cemas dianggap ngga update, ngga tahu, ketinggalan, ngga kekinian, ngga populer, dst. Padahal semua kecemasan itu adanya hanya di rongga kepala kita sendiri. Kenyataannya, hidup kita akan baik-baik saja meski ngga ikut-ikutan tren Boomerang, live report, et cetera.

2. Ngga penting siapa yang nge-like dan yang ngga nge-like postingan kita. Ngga penting berapa followers kita, berapa yang nge-like/share/komen.

Menghabiskan waktu untuk mengecek notifikasi dan membacanya baris per baris bisa berdampak pada munculnya kecemasan.

Cemas kalau jumlah followers sedikit.

Cemas kalau orang tertentu ngga nge-like, “Apakah artinya dia ngga suka? Ngga temenan lagi?”

Cemas kalau like/respon/komentarnya sedikit, “Aku ngga diterima di masyarakat ini deh kayaknya?”

Lagi, padahal kecemasan itu adanya hanya di kepala kita.

Kenyataannya, penerimaan orang lain bukan terlihat dari interaksi kita dengannya di media sosial. Tapi dari interaksi kita dengannya di dunia nyata. Jumlah teman yang banyak di media sosial tidak ada artinya jika sehari-hari kita bingung mau cerita pada siapa ketika punya masalah. Ngga tahu mau minta tolong ke siapa ketika kita butuh dibantu.

3. Follow-unfollow adalah hak, bukan kewajiban. Setiap orang berhak memilih siapa yang diikuti, siapa yang tidak. Setiap orang juga berhak menentukan siapa yang boleh mengikuti/berteman dengannya, siapa yang tidak.

Pilihan untuk meng-unfollow atau meng-unfriend tidak selalu bisa diterjemahkan sebagai kebencian/ketidaksukaan. Ada banyak alasan lain yang mungkin. Seperti : perbedaan minat genre postingan.

Tenang, ketika ada yang meng-unfollow atau meng-unfriend, di dunia nyata orang-orang dekatmu tetap menyayangi dan mencintaimu

4. Media sosial bukan ukuran kebahagiaan dan kesuksesan.

Ada dia yang suka mengunggah kemesraan dengan pasangan. Ada dia yang rajin berbagi pengalaman jalan-jalan. Ada dia yang sering mengirim kabar karir, pekerjaan, atau pendidikan.

Tapi, bukan berarti orang yang ngga mengunggah kemesraan jadi kalah bahagia. Bukan berarti orang yang ngga upload foto pemandangan jadi kalah hebat. Bukan berarti orang yang ngga cerita soal perjuangan bekerja, karir, atau pendidikan jadi kalah tangguh.

Sebagian orang berbagi banyak hal yang membahagiakan hanya untuk menularkan kebahagiaannya. Ada juga yang sedang menguatkan dirinya sendiri. Ada juga yang bermaksud untuk mengingatkan diri sendiri.

Kenyataannya, mereka pun sama-sama berjuang. Sama-sama mengalami kesusahan. Sama-sama mengalami permasalahan. Dan pasti sama-sama ngupil, cebok, dan garuk-garuk. Hidup tidak sesempurna feed Instagram.

Sesempurna apapun citra yang tampil melalui media sosial, tidak bisa menghilangkan kondisi bahwa kita semua tetaplah manusia biasa. Jadi tidak perlu cemas dengan segala perbandingan yang tampak di layar. Mari bersyukur dengan capaian, hidup, dan takdir masing-masing.

5. Sepanas apapun timeline, tetaplah tersenyum.

Isu panas tak henti membanjiri linimasa. Dari soal perpolitikan sampai soal agama. Dari yang hoax sampai yang benar. Adakalanya semua itu tercerna sebagai alasan untuk kita merasa cemas.

Dunia serasa sudah hancur. Tidak ada harapan. Terlalu banyak masalah besar. Terlalu banyak hal negatif. Bagaimana nasib anak cucu nanti?

Padahal, kerusakan yang dibuat manusia bukan sesuatu yang baru. Bahkan di zaman Nabi Nuh, puluhan abad silam jauh sebelum ada situs-situs penyebar hoax dan kebencian, kerusakan sudah merajalela. Sampai-sampai diturunkannya banjir bandang sebagai peringatan.

Keburukan dan kebaikan selalu hadir beriringan. Begitupun dengan kejahatan dan kebajikan, juga masalah dan solusi. Sesekali berpuasalah melihat konten-konten negatif di media sosial. Sebab, dunia nyata mungkin tidak seburuk yang kita sangka.


Masih banyak kabar baik yang menyegarkan. Masih banyak orang baik yang patut kita belajar darinya.

Insya Allah, perlindungan senantiasa diberikan bagi siapa saja yang meminta pada-Nya.

___

Sorry ngepos ulang. Yang tadi ada eror waktu upload sehingga ngga ada poin empat dan lima nya.

Alkisah

Suatu ketika dia pergi.
Bukan menghindar, bukan juga berlari apalagi kabur.
Dia hanya ingin sejenak merenung.
Mengumpulkan kembali sisa-sisa dirinya pada potongan-potongan kejadian yang lain.

Katanya dia lebih suka berjalan daripada harus menggunakan moda transportasi.
Sebab katanya, dengan berpijak pada kaki sendiri dia bisa melepaskan.
Iya, melepaskan seluruh rasa sakit, amarah, kecewa dan seluruh perasaan lainnya yang tidak baik.

Melepaskan bukan berarti melupakan,
melepaskan adalah menerima segala rasa-rasa yang pernah ada.
Melepaskan bukan berarti menghilangkan,
melepaskan adalah mengingat namun tidak dengan emosi yang serupa.

Waktu itu dia pernah pergi,
lalu sekarang kembali ingin pergi.
Karena katanya dia sedang lupa.
Seperti apa rasanya berdialog dengan diri sendiri.

Hujan Mimpi

Jelas tidak semua yang kutuliskan tentang kekasih, apalagi mantan kekasih. Juga tidak semua tentangmu. Aku menulis apa saja yang membuatku sedih, marah, kecewa, atau hal-hal yang kupikir harus kutulis. Hanya saja, caranya tentu cara yang kupilih sendiri. Aku bisa saja patah hati sebab sebongkah batu, atau seekor ikan, atau sekelompok anjing liar di pinggiran kota. Jadi, tak perlu merasa semua ini tentangmu. Tidak perlu merasa paling tahu isi dadaku. Jika tidak bisa bersama, tidak bisa menempuh tuju yang sama, cukup jangan merasa paling tahu apa yang aku rasa.

–boycandra

RTM : Perempuan dan Kendaraan

“Dek, kita nyari velg yuk.” ujarku beberapa bulan yang lalu.

“Velg itu apa, Mas?” tanyanya polos.

Itu terjadi ketika beberapa bulan lalu ingin upgrade velg yang lebih besar untuk kendaraan.

“Ngerebus air buat apa, Mas? Buat mandir ya?” tanyanya sambil nyapu.

“Nanti mau disiram kebagian mobil yang penyok, ternyata bisa dibenerin sendiri. Nanti tinggal diteken dari dalam atau ditarik pake alat.” ujarku sambil melihat tutorial cara membetulkan penyok di bumper mobil di Youtube.

Itu terjadi ketika tanpa sengaja saya menyokin salah satu bagian kendaraan.

“Dek, tarikan gas mobil ini kayak ngajak balapan soalnya beda sama mobilnya ummi, meski sama-sama automatic, ternyata transmisinya beda. Punya kita A/T, punya Ummi CVT.”ujarku antusias.

“Transmisi itu buat apa ya, Mas?” tanyanya polos.

“Itu lho yang mindahin gigi.” ujarku.

“Ooo…” balasnya.

Dan masih banyak percakapan lainnya tentang dunia kendaraan. Dan perempuan (sejauh yang saya kenal) memang banyak yang tidak ambil pusing soal kendaraan dan selukbeluknya. Kalau motor mogok di jalan, ia tidak tahu apa yang terjadi. Kalau service ke bengkel, ia pun bingung menjelaskan. Bahkan mungkin tidak tahu nama bagian-bagian sparepartnya.

Dalam berumah tangga, hal-hal ini seperti ini menjadi bumbu tersendiri. Perawatan rumah, ia ahlinya. Tapi soal kendaraan, mau tidak mau laki-laki harus belajar. Kalau terjadi apa-apa, setidaknya masalah-masalah ringan, bisa mengurus sendiri.

Salah satu hal yang belum sempat saya ajarkan ke istri adalah cara mengganti ban mobil. Hal-hal yang bisa saya ajarkan tentang kendaraan, saya transfer dengan cara-cara yang menyenangkan.

Saya ajak dia ke toko ban dan velg, mengenalkan beragam jenisnya, ukurannya, PCD nya, dsb. Sekarang tiap kali berkendara, kalau melihat Velg bagus, selalu berujar antusias.

“Mas, mas, itu velgnya bagus!” ujarnya sambil menunjuk. Saya tersenyum sendiri.

Kalau lagi ngutak utik kendaraan di rumah, saya kenalkan bagian-bagiannya. Kalau gak bisa ini, apa yang harus di cek. Kalau ini eror, nama bagiannya apa dan gimana cara gantinya. Kalau air wipernya habis, dimana mengisinya. Kalau mengisi nitrogen untuk ban, berapa tekanannya. Dan hal-hal lainnya.

* * * *

Dalam berumah tangga, ada transfer pengetahuan yang sifatnya menyeluruh. Termasuk transfer ilmu pengetahuan umum, baik itu tentang memasak, dsb. Kalau laki-laki menjadi kapten, maka penting baginya untuk mengajarkan perempuan bagaimana menjadi kapten, agar dalam kondisi darurat ia bisa melakukannya. Kalau istri menjadi koki, penting juga untuk mengajarkan laki-laki menjadi koki, memasak di rumah. Agar dalam kondisi darurat, laki-laki bisa melakukannya, memasak untuk keluarga.

Berumah tangga, kita tidak hanya berbicara bagaimana mengajarkan pemahaman agama, tapi segala sesuatu yang menyeluruh. Berbagi dan saling menggantikan peran. Agar bahtera rumah tangga ini selalu siaga dalam kondisi apapun.

14 Agustus 2017 | ©kurniawangunadi

mensyukuri takdir

dua buku yang bener-bener ngasih saya titik balik adalah Self Driving-nya Prof Rhenald Kasali dan novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu karya Tere Liye. Self Driving itu tentang Self Improvement yang ngasih saya pemahaman bahwa badan itu hanya kendaraan dimana drivernya adalah hati kita dan pikiran kita. Sementara novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu ngasih saya penjelasan tentang takdir.

Intermezzo

Dulu ada yang pernah nanya ke saya, kenapa saya menulis fiksi padahal fiksi itu malah bikin orang memanjangkan angan. Saya lupa ngejawab pertanyaan tersebut dan sekarang saya jawab bahwa cerita fiksi bisa menjadi media untuk mengejawantahkan penjelasan tentang ayat-ayatNya yang sulit kita tangkap.

Seperti novel Ketika Cinta Bertasbih nya kang abik yang banyak ngasih penjelasan ke temen saya bahwa menikah lewat jalan ta’aruf nggak se-menakutkan yang dipikirkan orang. Seperti Rembulan Tenggelam di Wajahmu yang menjawab banyak sekali pertanyaan saya tentang hidup dan takdir.

Intermezzo selesai.

Allah itu Maha Tahu. Dia yang menciptakan kita dengan sebaik-baik perhitungan. Setiap kali saya membaca Al Qur’an dan sampai pada surat Al Baqoroh ayat 30 atau Al Furqon ayat 2, saya beristighfar sebanyak-banyaknya atas tindakan saya di masa lalu yang kurang bersyukur. 

Di kehidupan saya, ada banyak hal yang saya usahakan justeru gagal tercapai. Sementara di sisi lain, ada juga banyak hal yang tidak saya usahakan sama sekali, tapi Allah yang seolah mendatangkan hal tersebut kepada saya.

Ketika saya mengeluhkan banyak takdir dan kepala saya meng-generate banyak pertanyaan seperti:

“Kenapa saya harus masuk Teknik Informatika? padahal saya sebenarnya belajar keras untuk masuk Ilmu Komunikasi”

“Kenapa saya harus masuk bertahan di kampus saya yang sekarang? padahal saya sebenarnya belajar keras untuk melanjutkan PhD”

“Kenapa saya harus jadi dosen padahal cita-cita saya yang paling besar adalah menjadi jurnalis”

“Kenapa saya harus lahir dengan kaki yang kalau diajak berlari sedikit saja langsung bengkak lututnya dan sakit banget kalo napak? Padahal orang bekerja mestinya lincah berlari?”

“Kenapa saya harus lahir dengan hanya satu mata yang berfungsi? Padahal di dunia yang materialistis ini banyak orang yang menilai orang lain dari fisiknya saja?”

“Kenapa sewaktu SMP dan SMA dulu saya selalu menjadi yang tak diperhitungkan, hadirnya nggak disadari dan hilangnyapun nggak dicari?”

tapi setelah saya menoleh ke belakang, saya jadi belajar begitu banyak hal. IPK saya pas S1 emang pas-pasan, saya bukan cumlauder tapi pas S1 dulu saya sempet sebentar merasakan terjun di dunia jurnalistik. Dunia yang saya inginkan tapi saya nggak ditakdirkan untuk ke sana dalam waktu yang lama. Saya juga sempet belajar tentang Data Mining yang saya sukai banget meskipun pas kerja, saya malah ditakdirin ke Teknologi Game. Tapi setidaknya, belajar tentang data ngebuat saya lebih open dan lebih kritis terhadap statistik. 

In God we trust, all others must brings data.

tapi buat orang yang pernah belajar analisa data, pernyataan kayak gitu masih bisa munculin pertanyaan:

“Data yang kayak gimana? Cara samplingnya gimana? Diambilnya kapan dan bla bla bla“

Hikmah lain yang saya dapatkan dari menggeluti dunia data adalah, kita itu cuma bagian dari statistik. Umur kita itu nggak ada sepersepuluh usia peradaban. Betatapun kita ngebuat karya yang masterpiece dan dipuji oleh banyak orang, suatu saat pasti akan dilupakan. Hanya Allah yang nggak pernah melupakan kita, maka biarlah kerja-kerja ini kita tujukan kepada Allah saja. Bukan kepada yang lain.

Saya tetap mencintai dunia tulis menulis dan data mining. Tapi saya menikmati takdir yang nggak berpihak pada banyak hal yang saya cinta ~XD Dan perkara S3 yang tertunda, ada begitu banyak hikmah yang bisa diambil.

Pas saya disuruh ngajar teknologi game, saya ngerasa keteteran banget. Keteteran yang sampe menampar banget ke saya yang dulunya udah ngerasa pinter. Padahal ya sebenernya nggak pinter-pinter banget.

Dulu, saya itu orang yang perfeksionis dan nggak bisa memaklumi kesalahan orang lain. Tapi begitu saya ngajar, saya mengenal karakter mahasiswa satu persatu, mengamati mereka berproses dan semakin sadar bahwa manusia itu nggak sempurna dan nggak ada yang ideal. Yang bisa kita lakukan hanyalah terus menerus memperbaiki diri. Dengan melihat itu, saya juga semakin memaklumi orang lain. Memandang bahwa kesalahan yang dilakukan oleh seseorang sama sekali nggak bisa kita gunakan untuk menilai bahwa keseluruhan hidup orang tersebut itu buruk. Manusia itu abu-abu. Nggak adil kalau kita memaksakan semua menjadi hitam dan putih.

Seperti yang dibilang mbak @plainhavermutt​ mungkin Allah itu mentakdirkan kita memiliki kekurangan agar kita tidak ujub atas segala takdir yang membuat kita bahagia.

Allah nggak pernah mentakdirkan hal-hal yang buruk kepada hamba-Nya.

Dulu pas kecil, saya nggak punya temen. Tapi di lain sisi, Allah ngasih saya kesempatan untuk belajar Al Qur’an, dan ushul fiqih. Sesuatu yang amat terlambat saya syukuri.

Sayapun telah salah menilai bahwa dunia ini terlalu materialis. Saya banyak menemukan orang-orang yang tulus dan menerima saya apa adanya. Gara-gara pernah dibully, saya semakin menghargai persahabatan yang tulus dari teman-teman saya.

Masalah kaki, saya pelan-pelan melakukan treatment hingga sekarang kaki saya bisa diajak berjalan jauh. Gara-gara perkara kaki ini, saya juga semakin memahami kenapa seorang muslim harus selalu mengusahakan badan yang fit.

Dan terakhir….dari hal-hal yang saya usahakan justeru gagal tercapai sementara di sisi lain, ada juga banyak hal yang tidak saya usahakan sama sekali, tapi Allah yang seolah mendatangkan hal tersebut kepada saya….

saya semakin menyadari bahwa semua terjadi atas izin Allah, dan ikhtiar-ikhtiar yang kita lakukan selama ini adalah bentuk kebaikan Allah. Ikhtiar adalah sarana kita dalam mencari ridho-Nya, dan lewat ikhtiar…..kita merasakan pahit getirnya hidup sehingga kita tumbuh menjadi pribadi yang lebih matang dari waktu ke waktu.

sekarang, saya nggak merutuki takdir. Saya cuma berdoa semoga dalam setiap tour of duty yang saya jalani, saya bisa tumbuh menjadi lebih baik dan terus menerus mengingat-Nya.

Anggap saja takdir itu bentuk tarbiyah dari Allah agar kita tumbuh. Setiap masalah itu pasti ada solusinya. Setiap badai pun akan berlalu atas izin Allah. Hanya saja, setiap masalah itu akan meninggalkan bekas dalam diri kita. Dan bekas itu sangat tergantung pada bagaimana kita memandang hidup.

Mari kita sejenak menoleh ke belakang dan membuang pengandaian-pengandaian kita semacam…

“Andai gue jadi  S3, mungkin sekarang gue bisa nerbitin paper Q1 dan bla bla” belum tentu kayak gitu juga. Yang tau takdir itu Allah. Bisa jadi ada kemungkinan lain kan…. “Gue S3, ga cocok sama profesor, malah terkatung-katung dst…dst….” atau “Gue lulus S3 dengan mulus tapi endingnya gue jadi sombong dan arogan karena pribadi gue kurang matang”

orang yang membenci takdirnya akan selalu digoda setan untuk men-generate pengandaian yang indah-indah dari sesuatu yang tidak ditakdirkan untuknya ~XD padahal dia punya pilihan untuk sejenak menoleh ke belakang dan mencari hikmah, atau berhenti sejenak untuk melihat sekeliling dan menyadari bahwa dunianya indah tapi dia nggak sadar karena keseringan berandai-andai.

Awal dari penerimaan diri adalah berhenti berandai-andai, belajar menyadari bahwa yang kita miliki hari ini adalah sebaik-baik rezeki dari-Nya. Hidup itu cuma sebentar, rugi banget kalo semua dijalani dengan merutuki takdir.

NB: ditulis dalam rangka membagikan pengalaman berikhtiar menerima diri sendiri. Semoga bisa ngebantu temen-temen buat sedikit mundur ke belakang dan mensyukuri takdir serta menyadari bahwa bullying yang kita alami di masa kecil nggak pernah benar-benar merebut masa depan kita. Cara pandang kita yang harus dirubah. Hati kita yang harus kita tumbuhkan hari ini.

Nantinya akan ada seseorang yang paling memahami kamu melebihi dirimu sendiri. Bisa ia menetap bisa juga hanya sesaat. Mintalah Allah membersamaimu dengan sosok yang seperti itu.
Yang dengannya, kau bisa mendewasa bersama-sama.

Yang dengannya, kau nyaman berlama-lama walau dalam kepiluan.

Yang dengannya, hatimu menjadi damai. Seolah selalu percaya bahwa Allah itu dekat.

merenung tentang keluarga yang ideal, saya pernah bertanya-tanya apakah yang kami jalani ini “sehat”. kalau boleh jujur, kami memang ngos-ngosan melakukan persiapan dan membuat rencana atas apa yang akan terjadi selanjutnya. semuanya seakan terjadi begitu cepat. tiba-tiba kami lamaran, tiba-tiba mas yunus sekolah, tiba-tiba kami menikah, tiba-tiba saya hamil lalu melahirkan, tiba-tiba kami tinggal berjauhan. baru saja nyaman dengan satu fase, kami tiba-tiba masuk ke fase lain.

dulu saya termasuk tipe perempuan yang sangat ngotot untuk menjadikan suami yang pertama. ngomong-ngomong, kalau perempuan hanya ingin jadi satu-satunya, laki-laki “nggak papa” menjadi yang pertama–malah harus! laki-laki maunya dan harus menjadi yang pertama di atas semua urusan perempuan. dalam Alquran, perempuan paling banyak disebut sebagai istri, lalu sebagai ibu, barulah sebagai individu.

saya ngotot menjadikan mas yunus yang pertama dan utama sampai-sampai bingung caranya. yang paling kasat mata saat kami menjelang menikah adalah, akhirnya saya melepaskan beberapa cita-cita yang tidak mungkin bisa dilakukan jika saya pindah domisili ke Surabaya. beberapa rencana pribadi pun saya tunda (ingat cerita tentang kelinci dan kura-kura? begitulah, untuk bisa menang bersama-sama, kita harus bekerja sama. dan terkadang, perlu berkorban).

saya ngotot menjadikan mas yunus yang pertama, sehingga saya termasuk golongan perempuan anti LDR. “kalau bisa nggak jauhan, kenapa harus jauhan? janganlah memberi peluang terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” pikir saya dulu. tentu saja, pikir kebanyakan orang juga begitu. tapi sekarang, kami LDRan.

berjauhannya kami sebenarnya juga bukan rencana. awalnya saya ingin melahirkan di Surabaya saja. ternyata, H-2 bulan melahirkan, mas yunus mendapat tugas belajar di Jepang. praktis saya kembali ke Bogor dan melahirkan di Bogor. entah mengapa, dalam kebingungan, seringkali Allah memberi petunjuk melalui keadaan yang pilihannya tidak di tangan kami sendiri, sehingga lebih mudah rasanya menerima jalan yang dipilihkan Allah. alhamdulillah.

sudahlah. tidak usah dibahas bagaimana rindunya kami pada satu sama lain. tidak jarang mas yunus menelepon, lalu beranjak sholat saat adzan berkumandang, lalu menelepon lagi setelah sholat. tidak jarang kami ngelindur lalu teleponan tengah malam. jangan tanya betapa girangnya saya saat mas yunus bilang, “kica tolong cariin tiket yah.”

mungkin kelihatannya, bagi beberapa orang, berjauhannya kami berarti bahwa saya tidak mengutamakan mas yunus, berarti bahwa saya lebih mengutamakan mbak yuna, juga lebih mengutamakan karir saya–yang tidak demikian adanya.

akhirnya kami berjauhan karena saya dan mbak yuna justru mengutamakan mas yunus. karena cita-cita mas yunus adalah cita-cita kami sekeluarga. karena, dengan bisa mengurus diri sendiri, kami mengurangi beban mas yunus untuk mengurus kami, sehingga mas yunus bisa lebih tenang belajar. di Bogor, saya “sendiri” tapi “banyakan”. di Surabaya, saya “berdua” tapi “sendiri” karena mas yunus sibuk sekali. seperti yang mas yunus bilang, “kica, terima kasih sudah mengurus diri sendiri.”

kesimpulannya, saya jadi memahami bahwa semua keputusan dan pilihan yang dijalani setiap perempuan adalah bentuk baktinya pada suaminya asalkan sang suami ridho. perempuan yang tidak bekerja dan perempuan yang bekerja sama mulianya ketika suaminya ridho. perempuan yang tidak bekerja atau yang bekerja juga bisa jadi tidak mulia, kalau suaminya tidak ridho. perempuan yang sekolah lagi dan membuat sang suami harus berkorban lebih banyak mulia asal suaminya ridho. perempuan yang tidak sekolah lagi dan mengurus rumah tangga juga mulia asal suaminya ridho.

saya jadi mengusahakan sering-sering minta maaf sama mas yunus–kalau-kalau punya salah. sering-sering minta ridhonya mas yunus. semoga apa yang kami jalani ini selalu diberkahi Allah. dan itu saja, setiap langkah disertai keridhoan yang dimintakan, disebutkan. alhamdulillah, mas yunus memahami bahwa yang kami jalani adalah bentuk bakti saya, tidak secuilpun mengurangi rasa cinta dan hormat saya sama mas yunus. mas yunus tetap yang pertama dan utama.

ini jadi pelajaran untuk diri saya sendiri. pertama, untuk menjadi luwes dengan masa depan dan rencana hidup–karena semuanya memang tergantung ridho suami, dan agar saya tidak kecewa jika ada yang berjalan tidak sesuai rencana. kedua, untuk jangan pernah menilai kemuliaan seorang perempuan atas apa yang dilakukannya saja. kemuliaan seorang perempuan terletak pada ridho suaminya. yang satu itu, tentu saja tidak kelihatan.

ovitamutia18-blog  asked:

Kak choqi,misal disuruh milih buat nentuin masa depan. Bakalan ngikutin pilihan orang tua yg ngga sesuai sama diri sendiri atau tetep bakalan melanjutkan pilihan sendiri? Terus klo orang tua cenderung maksa ke pilihannya itu,sikap kita sebagai anak gimana biar ngga membuat orang tua kita kecewa? Terimakasih

Halo @ovitamutia18-blog

wah, ini pertanyaan yang paling sering kita hadapi yah. saya coba jawab, untungnya, saya sudah pernah mengalami ini. ini juga sekaligus menjawab pertanyaan yang senada di inbox saya.

oiya, disamakan dulu yah, pilihan disini tidak cenderung tentang pekerjaan, tapi atas berbagai hal, yakni pemilihan pasangan, memilih rumah, cara mengurus anak, tempat tinggal, dan lain sebagainya.

MENGIKUTI PILIHAN HIDUP SENDIRI ATAU ORANGTUA?

jika ditanya, saya pingin ikut pilihan sendiri atau pilihan sendiri? ya tentu saya memilih pilihan sendiri. Kenapa? Karena orangtua tidak menjalani kehidupan yang dipilih.

Tapi tapi tapi, tolong dipahami

memang orangtua tidak menjalani kehidupan yang dipilih, tapi orangtua akan mendapatkan imbas atas apa yang kita pilih.

jika kita memilih menjadi seorang pencuri, bukankah orangtua juga akan merasakan malunya?

jika kita menjadi seorang pengusaha sukses, bukankah orangtua juga akan merasakan bahagianya?

jika kita memilih tinggal di tempat yang jauh, bukankah sulit bagi orangtua jika mereka terkena masalah?

jika kita memilih calon istri yang tidak pengertian, bukankah orangtua kita juga yang akan mengalami ketidaknyamanannya?

Maka perlu dipahami, bahwa orangtua itu bukanlah penentu pilihan, tapi orangtua adalah tempat kita berdiskusi , karena mereka adalah bagian dari pilihan hidup kita.


MEMAHAMI POLA PIKIR ORANGTUA

Setiap orang tua di dunia, punya 1 prinsip yang sama. Ingin memberikan yang terbaik agar kita bahagia.

Coba ingat kembali, ketika kita masih kecil, ketika kita belum bisa mencari nafkah atau berfikir, bukankah orangtua kita harus memutar otak untuk memberikan yang terbaik bagi kita?

Bukankah orangtua kita bolak-balik mencari sekolah mana yang baik untuk diikuti?

Bukankah orangtua kita berpikir keras menentukan makanan apa yang bisa masuk ke dalam tubuh kita?

Bukankah orangtua kita memutar otaknya untuk menentukan pakaian apa yang harus kita gunakan?

Waktu kecil, kita ikut dengan semua pilihan orangtua kita, dan kita percaya, pilihan orangtua kita, adalah yang terbaik menurut mereka.

Namun

Kadang orangtua lupa, bahwa seiring waktu, anaknya tumbuh dewasa, dan sudah bisa menentukan pilihan hidupnya sendiri. Orangtua masih merasa memiliki, sehingga ia berhak untuk menentukan pilihan hidup sang anak.


KENAPA KITA SERING BERBEDA PENDAPAT AKAN PILIHAN HIDUP DENGAN ORANGTUA?

seringkali, banyak anak berdebat dengan orangtua tentang pilihan hidupnya. Dan seringkali berujung dengan pertengkaran hebat, atau sang anak menjalani kehidupan tapi tanpa menikmatinya.

Padahal, kalau dipikir-pikir, tujuan orangtua menentukan pilihan hidup, adalah agar anaknya bahagia. Lalu kenapa bisa berpendapat?

Masalahnya, perbedaan pandangan terjadi pada “cara mencapai kebahagiaan” tersebut. Orangtua dan kita kadang tidak paham, bahwa bagi cara mencapai kebahagiaan setiap orang itu berbeda.

Contohnya, bagi sebagian orangtua, menjadi PNS adalah kebahagiaan yang tidak terkira. Mengapa? Lihat saja, gaji tetap, resiko di PHK sangat kecil, dan asalkan loyal, mereka akan mendapatkan pensiun.

berbanding terbalik dengan anak-anak milenial sekarang, yang justru ingin memiliki waktu bebas, bisa bergaul, mencari tantangan, tidak terkukung di kantor dan diam. Urusan uang, itu bisa dikompromikan, selama hidupnya tidak mengikuti aturan baku. Itulah kebahagiaan versi sang anak. Perbedaan versi kebahagiaan inilah, yang menyebabkan perdebatan yang sengit.

Lihatlah, perdebatan antara sang anak yang ingin jadi pengusaha dan orangtua yang ingin anaknya jadi pegawai kantoran

Lihatlah, perdebatan antara sang anak yang ingin menjadi seniman dan orangtua yang ingin anaknya menjadi pegawai tetap

Lihatlah, perdebatan antara sang anak yang masih ingin melajang dan orangtua yang ingin anaknya segera menikah

Lihatlah, perdebatan antara sang anak yang ingin menikah dengan seseorang yang ia inginkan dan orangtua yang ingin menjodohkan anaknya

Lihatlah, banyak perdebatan antara anak dan orangtua, dan itu sangat sering terjadi.  Padahal tujuannya sama, kita ingin sama-sama bahagia. Namun akar masalahnya adalah, orangtua, ingin menjalani “bahagia” versinya, dan kita juga ingin menjalani bahagia versi kita. 


MENYATUKAN PANDANGAN

Maka, satu-satunya cara untuk bisa menentukan dan tidak ada pihak yang merasa kalah ataupun menang, adalah dengan cara menyatukan pandangan.

Anak harus tahu, kenapa orangtua memilihkan pilihan tersebut bagi sang anak. Dan setelah itu, anak juga harus bisa menjelaskan kepada orangtua, kenapa ia memilih pilihan tersebut.

Orangtua harus diberi pemahaman, bahwa kondisi hidup yang kita pilih ini telah dipilih berdasarkan pemikiran yang matang dan panjang, bukan pilihan yang asal-asalan belaka.


JIKA MASIH ADA PENOLAKAN, PERBAIKI DIRI

Jika masih ada penolakan, maka ada satu hal lagi yang harus dilakukan, yakni memastikan, bahwa kita mampu menjalani pilihan sendiri.

Penolakan selalu terjadi karena orangtua tidak percaya bahwa anaknya bisa menjalani pilihan hidup yang ia pilih.

Maksudnya?

Ya, bagaimana orangtua bisa percaya kalau anaknya mau jadi pengusaha sukses, kalau di rumah, untuk bangun pagi saja susah, komunikasi dengan orangtua saja jarang, beres-beres rumah saja ogah.

Bagaimana orangtua bisa percaya kalau anaknya bisa sukses dengan dengan melajang lebih lama kalau misalnya sehari-hari saja hidupnya tidak teratur dan berantakan.

Bagaimana orangtua bisa percaya kalau anaknya mau jadi atlet bola profesional kalau sehari-hari mainnya bola bekel?

Itulah alasan terbesar, kenapa orangtua menolak pilihan hidup yang kita ajukan. Maka, jika kita sudah menjelaskan semuanya dan tidak diterima, maka saran saya, perbaiki diri, mungkin diri kita belum baik, mungkin sikap kita belum bisa membuat orangtua kita percaya. Karena sesungguhnya, orangtua tidak akan pernah khawatir akan pilihan anaknya, ketika anaknya memang sudah menampakkan kedewasaan atas kehidupannya.

Saya bicara hal ini bukan asal-asalan, tapi karena memang pernah saya alami. Bagaimana orangtua saya meminta saya untuk menjadi pegawai tetap, sedang saya yang tidak senang mengikuti keteraturan waktu, merasa terpenjara jika harus menjalani pilihan hidup tersebut.

Begitu juga terkait pemilihan pasangan, beberapa kali juga berdiskusi dengan orangtua, banyak hal-hal yang harus dipenuhi sebagai syarat.

Namun, dengan hal-hal yang saya lakukan diatas, kini, orangtua merasa tenang dan mengembalikan semua pilihannya kepada saya. Karena, dengan pilihan yang saya pilih, saya justru lebih bahagia, punya waktu untuk keluarga, tetap bisa menafkahi sendiri. Maka, apalagi yang perlu dikhawatirkan oleh orangtua? Toh anaknya sudah bahagia. Mungkin cuman satu yang masih jadi PR, menentukan pilihan pasangan yang tepat saja, orangtua belum melihat buktinya. hehehe.

inget guys, orangtua melahirkan kita bukan untuk nyari lawan debat, tapi untuk nyari teman diskusi. Hormati pandangannya, terima masukannya, bahagiakan hidupnya.

Kurang lebih begitu ovi. Salam kenal yah, izin follow tumblrmu yah.

Selamat hari minggu, selamat produktif

Bertemanlah dengan dirimu sendiri. Agar kau tidak menjadi orang lain.

 

Saat kita memilih berteman dengan diri kita sendiri. Kita akan tahu apa yang kita butuhkan, apa yang kurang dari diri kita. Apa yang perlu dikurangi. Perjalanan apa yang harus kita tempuh. Siapa orang yang akan kita jadikan guru. Hal-hal apa saja yang harus kita bagi dan tetap disembunyikan dalam diri sendiri. Berteman dengan diri sendiri membuat kita paham dan mengenali diri kita sendiri. Kita akan dekat dengan diri kita. Akan paham apa saja yang harus diperbaiki. Apa saja yang harus diperjuangkan.

Orang-orang yang tidak berteman dengan dirinya sendiri. Akan mengambil keputusan-keputusan yang dia sendiri tidak yakin dengan keputusan itu. Akan sibuk merasa lemah dan cenderung tidak berani memperjuangkan impian. Hidupnya akan ditentukan oleh siapa yang dan memberi suara padanya. Hampir tidak ada hal yang bisa diputuskan sendiri. Apa pun yang dia jalani harus berdasarkan pendapat orang lain. Jika dia tidak mendengar saran orang lain, dia tidak bisa apa-apa. Bahkan di saat-saat genting, ia tidak akan menemukan jalan untuk dirinya sendiri. Hidup akan digantungkan terus pada orang lain.

Bahkan jika kita tidak berteman dengan diri kita sediri. Kita tidak membuang semua impian kita. Kita akan mengubur semua keinginan kita. Karena kita tidak akan pernah percaya pada diri kita sendiri. Kita lebih cenderung menyukai apa yang orang pikirkan. Kita bahkan begitu mudah percaya pada orang-orang yang tidak mengerti impian kita. Kita meragukan diri kita sendiri. Karena kita tidak mengenali apa yang ada di diri kita. Jauh dengan seseorang yang ada dalam diri kita. Kita hanya meneruskan hidup sesuai dengan pandangan dan kata-kata orang lain saja.

–boycandra