biru

Pak Abdul Kahar

Gw tuh hepi banget kalo ketemu orang - orang yang selama ini cuma kenal lewat email atau kenal namanya aja. Misalnya, kolega kerjaan yang komunikasi sama gw lewat email lalu suatu hari ketemu di kantornya atau meeting di kantor gw. Gw bakal hepi banget, melebihi hepi lihat Rio Dewanto berdiri sendirian pake baju biru di JCC tahun lalu (ini juga biasa aja sih, gak hepi).

Ceritanya, beberapa hari lalu gw ke Jakarta untuk meeting di kantor LPDP. Keren deh, kantornya ada tembok yang gw asumsikan itu sebagai photobooth. Ya gimaaaana, satu sisi tembok isinya logo - logo LPDP semua, kan menarik gairah untuk foto. Oke lupakan.

Akhirnya gw bertemu Pak Eko sebaga direktur utama, yes (terus kenapa? Emang Pak Eko kenal lo?) Yang bikin emejing adalah akhirnya gw bertemu dengan Pak Abdul Kahar, yang selama ini cuma gw tahu dari nama dan tanda tangannya. Beliau adalah Direktur Dana Pendidikan LPDP yang membubuhkan tanda tangan di setiap Letter of Sponsorship (LoS). LoS inilah yang gw pergunakan untuk ‘membayar’ kuliah yang gw jalani saat ini.

Mungkin gw lebay, tapi perasaan haru ketika LoS itu dengan sangat ramah  diterima oleh petugas (alhamdulillah, gw merasa sejak dulu kampus gw sangat ramah terhadap penerima beasiswa) mungkin tidak akan bisa dirasakan oleh yang bisa membayar kuliah dengan uang sendiri atau uang orang tua. Yes, that’s why gw sangat terharu, karena gw ga mampu untuk membayar kuliah dengan uang sendiri.

Itu kenapa gw begitu menghayati sekedar tanda tangan Pak Abdul Kahar. Tentu saja beliau tidak bekerja sendiri, beliau kan front man dan pemimpin yang membawahi banyak sekali peran bahkan masih ada Direktur Utama di atas beliau. Tapi, namanya mewakili banyak pekerjaan yang bersatu padu hingga terwujudnya selembar LoS sederhana itu.

Apa hikmahnya? Bahwa ketika seorang manusia memiliki ‘kekuatan’, dia bisa berdampak bagi orang lain, baik luas maupun dalam lingkungannya sendiri. Maka dari itu Allah lebih menyukai muslim yang kuat dari pada yang lemah, agar manfaatnya menyebar.

Seperti Pak Abdul Kahar, tanda tangannya diamanahkan Allah menjadi jalan rejeki bagi ribuan mahasiswa Indonesia di seluruh dunia. 

Semoga, tanda karya kita pun bisa menjadi jalan kebaikan bagi banyak orang. Baik kita berdiri sebagai front man yang namanya dilihat orang lain, ataupun sebagai orang yang mengemban amanah di balik layar yang tak seorang pun mengenal. 

Pak Abdul Kahar, sumber gambar  : disini.

Seribu Wajah Ayah

“Karena cintanya adalah pancaran cahaya—tak ‘kan berhenti hanya karena kau menutup jendela”

Tak banyak yang berubah di sana. Letak jam dinding, lemari tua berbahan kayu jati yang sudah terlalu penuh oleh buku, foto ibumu ketika muda—ah iya, ia memang tak sempat tua. Di meja baca ayahmu, tergeletak sebuah benda berbentuk buku dengan sampul biru tua yang tidak terlalu tebal, usang, tapi tampak sangat terawat. Kamu, sebelumnya tak mengira bahwa itu adalah album foto.

Sejak kecil, salah satu kegemaranmu adalah melihat album foto berulang-ulang sampai kamu hampir hafal semua foto di dalamnya. Tapi, album foto ini seperti tidak pernah kamu lihat. Tak banyak gambar di dalamnya, hanya ada sepuluh. Dan hampir semua foto punya karakteristik yang sama: hanya ada kamu dan ayahmu di dalam foto itu. Hanya kalian berdua.

Malam itu, kau dipaksa untuk menengok ke belakang sampai lehermu pegal. Kau dipaksa untuk berkejar-kejaran dengan waktu untuk kembali memunguti potongan-potongan masa lalu. Ada sesal di sana, tentang ketulusan yang kau campakkan. Tentang rindu yang dibawa pergi. Tentang budi yang tak sempat—dan memang tak akan pernah—terbalas.

Seribu wajah ayah sekalipun yang kau kenang dan ratapi malam itu, tak ‘kan pernah mengembalikannya.

dalam novel “Seribu Wajah Ayah”,
Karya Azhar Nurun Ala
Cerpen : Biru

Namanya Biru. iya, seperti nama sebuah warna. Biru adalah seorang gadis kecil dengan rambut diikat seperti ekor kuda. Lari kesana kemari seolah-olah tidak pernah merasa lelah.

Biru tidak pernah mengerti bila ibunya telah tiada. Biru hanya tahu bahwa ibunya tidur dan dibawa pergi dengan ambulan. Biru terlalu muda untuk memahami bahwa ibunya tidak akan pernah bangun lagi. Tapi Biru tidak pernah bertanya-tanya. Ia terus bermain sepanjang hari dengan bahagia. Namanya juga anak-anak.

Biru tidak pernah menangis. Hampir tidak pernah. Biru selalu tersenyum saat ayahnya memanggil, selalu menggandeng tangan ayahnya bila berjalan, Biru tidak pernah membuat ayahnya khawatir. Terlebih khawatir bila Biru menanyakan keberadaan ibunya yang sudah tiada.

Itu yang kusaksikan sepanjang hidupku hingga hari ini. Lambat laun, seiring usianya, Biru akan mengerti bahwa ibunya telah mati. Ayahnya pun tidak pernah menikah lagi sejak kematiannya, kesetiaannya benar teruji.

Biru yang sedari kecil tidak pernah kulihat menangis, malam ini untuk pertama kalinya ia menangis. Malam selepas siang tadi kami melakukan akad. Biru bertanya kepadaku sambil menatapku lamat-lamat.

“Kak, boleh aku memelukmu dan menangis?” ucap biru begitu dalam.

Aku hanya mengangguk. Masih dalam busana pengantin. Biru memeluku sampai hampir 3 jam dan menangis, tanpa kata-kata hingga dia lelah menangis. Aku hanya menahan pelukannya, membiarkan dia melepaskan semua bebannnya.

Saat itu aku tahu bahwa Biru menyimpan kesedihannya. Ia mengerti bila ibunya telah mati, tapi dia tidak ingin membuat ayahnya sedih. Ia tidak pernah bertanya tentang dimana ibunya meski ia ingin sekali bertanya. Ia takut melihat ayahnya sedih. Aku baru tahu tentang semua itu, malam ini.

Biru memberikanku buku yang sangat tebal. Itu adalah buku hariannya sejak kecil. Aku diminta untuk menyimpannya, karena banyak hal darinya ada di dalam buku itu dan aku telah menjadi bagian dari hidupnya. Malam itu Biru bercerita banyak sekali, tentang hal-hal yang tidak pernah dia bagikan kepada siapa pun termasuk ayahnya.

Biru, gadis kecil yang dulu selalu berusaha aku buat menangis. Ku usili setiap hari,  ku sembunyikan sandalnya saat mengaji, ku tarik-tarik rambut ekor kudanya. Dan aku menyerah karena tidak pernah bisa membuatnya menangis. Hari ini dia menangis dipelukanku. Menangis karena bahagia.

©kurniawangunadi | 28 Oktober 2014