biru

The Friday 13th/full moon brew this week, an Arrogant Bastard Ale from Stone (Arrogant Brewing). For me it’s a classic. Still love it, pun intended. 😉
La bière du vendredi 13 de pleine lune cette semaine, une Arrogant Bastard Ale de Stone (Arrogant Brewing). Pour moi c'est un classique et je l'apprécie toujours autant.

Cheers!

Siapa?

Ada yang berdiri di depan sana dan dia bertopeng

Ada yang berdiri di depanku dan dia bertopeng

Ada yang berdiri di depan semua orang dan dia bertopeng

Pertanyaannya siapa?

Siapa yang berdiri di sana dan dia bertopeng?

Tolong panggilkan hujan sekali lagi

Biar luntur topeng itu bersama air yang rela jatuh ke tanah

Biar jelas bahwa dia bukan bertopeng

Penghujung tahun, 4 jam menuju awal tahun.
  • Biru : Aku tidak percaya kamu bisa cantik seperti ini.
  • Saya : Ada apa gerangan nih? Sudah hampir dua tahun, baru kali ini kamu bilang aku cantik.
  • Biru : Iya, kamu cantik. tapi sayang, gendutan.
  • Saya : Tuhkan, Udah melayang menuju lagit ke tujuh, eh langsung dihempas ke tanah.
  • Biru : *tertawa* Serius, kamu cantik. Aku jadi takut bawa kamu ke tempat ramai.
  • Saya : Lho? Emang kenapa?
  • Biru : Takutnya banyak yang suka sama kamu.
  • Saya : Aku sayang kamu.
  • Biru : ...
  • Saya : Kok gak balas sih? kamu gak sayang aku lagi yah?
  • Biru : Aku gak sayang kamu. Aku tuh sayangnya sama cewek jelek, ngeselin, ceroboh, cerewet.
  • Saya : Seburuk itu kah aku?
  • Biru : Burukmu yang ku cintai.
  • Saya : Aku tahu.
Biru


Kegelapan masih membayang
Menyelimuti, menolak pergi
Mencari ruang gerak ditentang
Dan menjadi ironi

Menjadi berbeda. Soal selera. Soal apa yang saya konsumsi, dan apa yang saya produksi. Soal bagaimana saya memandang dan bagaimana orang-orang memandang. Tapi selalu ada kesamaan dari setiap orang, semua memiliki perbedaan. Namun diantara kita, masih ada yang belum bisa menerima perbedaan, yang netral maupun yang baik.

Biru adalah lagu pertama pada album Sinestesia yang saya dengarkan. Dua lagu, “pasar bisa diciptakan” dan “cipta bisa dipasarkan”, bercerita tentang karya dan berkarya. Di mana dalam dunia saat ini, bertebaran karya-karya cipta manusia, namun tidak jarang kita temui yang secara kualiti kurang mumpuni, kurang bermutu, bergizi, kalau kata ERK. Berdalih bahwa hal itulah yang memang diminta pasar, padahal pasar hanya pasrah menerima apa yang disodorkan. Menjadi lingkaran setan, rantai kerusakan. 

Para kreator yang idealis, mencoba mendobrak itu, bermodal nekat dan idealisme, mereka merengsek masuk, bergerilya, melakukan usaha yang lebih agar diterima. Dan menjadi berbeda dari yang umum-umum saja. Dan benarlah itu bahwa setiap karya punya peminatnya, dan apa yang katanya bukan selera pasar itu ada pula pasarnya. Cara pandang bahwa selera pasar rendah adalah karena si produsen karya menganggap demikian. 

Baju kodok yang saya gambarkan di atas adalah cara saya membiasakan perbedaan. Memicu saya berbeda dalam cara pandang, berpikir, dan berkarya. Apa ada yang salah dengan menjadi beda dalam hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan perbedaannya? Menjadi ironi di tengah mayoritas adalah kemudian menjadi biasa kepada mereka yang biasa tampil beda. Namun sisi baiknya, memicu saya bergerak terus, membumikan yang asing, berkarya lebih sering.


Proyek ini adalah sebuah proyek yang menggabungkan seni visual, musik, dan sastra. Meskipun yang akan paling menonjol adalah musiknya, karena dia adalah induk inspirasi dari dua karya turunannya, visual dan sastra saya. Proyek ini juga dibuat dalam rangka penghargaan kepada ERK yang telah banyak mengisi hari saya dengan karya-karya berisinya. Selain itu, proyek pribadi ini juga dalah cara saya melatih rasa pada beberapa indra. Semoga bisa berlanjut dan berkebaikan.

Biru, Ajarkan aku

: Biru

“Berhenti mencari.” kata sekilas tatap mata berpalingmu
“Bagaimana bisa?” tanya tundukan kepalaku
“Masih jugakah kau bertanya? Masih jugakah kau ingin mendengar jawabku?” bisik sorot matamu pada layar yang kau genggam berbalik bertanya
Kutatap sepatumu, “Menurutmu?”

Biru,
dengan sendu aku merindumu
dengan dia aku membunuhku
dengan rasa aku belum juga mati

Biru, ajarkan aku berlalu
sepertimu memergikan aku

Solo, 11 Maret 2016

Personal Talk : Biru, Kapan?

Kapan lagi bisa melihat birunya langit dari dekat? atau

Kapan lagi bisa melihat birunya laut dari pinggiran pantai? atau seenggaknya

Kapan lagi bisa melihat biru selain dinding kamar?

Sudah cukup bosan sepertinya melihat birunya dashboard tumblr, birunya icon facebook atau twitter. 

Katanya ada biru di luar sana yang indah.

Katanya ada biru di luar sana yang berpijar disekitar pegunungan.

Jadi kapan?

Kataku, yang seharusnya biru itu langit, bukan hatimu, apalagi harimu.


Pagi, masih belum beranjak dari pintu rumah. Sengaja, membereskan banyak berkas, merapikan banyak hal,termasuk kenangan.

Kutanya kau, “jadi gimana?”
Katamu, “udah daftar kak”

Tampak jelas, rasa kecewa di matamu. Kecewa karena tak bisa memilih apa yang Abi ingin pilih.

Kataku, “yaudah. semangat, insyaAllah bisa”
Katamu, “iya kak, siap-siap jadi anak rantau nih”

Beberapa saat kemudian, sebelum aku beranjak keluar rumah.

Kataku, “udah daftar ya, Dok?”
Katanya, “iya, udah”

Lirih sekali, suaranya. Aku hanya menghela nafas perlahan.

Menyedihkan memang ketika tak bisa mewujudkan salah satu harapan orang yang di sayang. Tapi tenang, masih banyak jalan, beragam cara, beragam rupa. Terus lah berjalan, meski berkali-kali jatuh dan luka berceceran di kaki atau tanganmu. Tidak apa menangis. Asalkan kau terus melangkah, mencoba kesempatan lain, tetap berusaha semampunya (bukan semampu karena mengada-ada tapi sampai kau habis tenaga, benar-benar berusaha hingga batas maksimum). Asal jangan berhenti melangkahkan kaki. Harapan masih ada.

Lagi. Kubuka layar ponselku. Pesan dari ibu yang selalu datang tiap hari, lebih dari lima kali per hari.

Katanya, “jadi daftar apa?”
Kataku, “sastra arab, Bu”
Katanya, “apa bisa ya, mba?”
Kataku, “insyaAllah bisa, Bu. Doakan”

Ku buka pintu rumah, melangkahkan kaki dengan berat hati. Menunduk. Menarik nafas panjang, lalu berlari mengejar waktu. Stasiun lenteng agung. Tanpa lihat kanan kiri, kuterobos jalan raya yang (mungkin) sepi, entahlah tak kuperhatikan lagi.

Sekarang, yang ada di kepalaku adalah mimpi-mimpinya yang menyatu dengan mimpiku. Harapan yang kini menggantung, yang mungkin tak teralisasikan karena kekhawatiran untuk mencoba memilih tantangan yang lebih besar, sekarang menumpuk di bahuku. Berat sekali. Jika nanti kau merantau, maka aku harus membanggakan mimpimu yang menyatu padaku. Jika ibu ragu, maka aku yang meyakinkanmu bahwa keyakinan, doa, dan usaha melahirkan bahagia atas mimpi yang telah mampu dipeluknya.

Di dalam kereta, dengan doa-doa yang kupanjatkan untukmu, untuknya, untuk mereka. Ah, aku ingin kalian bahagia.

Selalu. Entahlah, aku yang membuat benang cerita sendiri, menghubung-hubungkan peristiwa, atau memang rencana Allah. Kau hadir dengan sederhana. Sesederhana itu, dan lagi, daftar doaku bertambah panjang, kudoakan (juga) apa yang sedang kau perjuangkan.

Ya. Yang seharusnya biru itu langit, bukan dirimu. Doaku selalu, atas mimpimu yang menjadi mimpiku. Doakan aku juga, agar bisa mewujudkan harapan dan mimpi banyak orang :)


Ditulis sambil mendengar kan lagu
“Esok kan Bahagia”
Ya. Kesedihan hari ini bisa jadi bahagia esok hari.

Teruntuk Biruku..

Semoga tidur malammu nyenyak. Aku pastikan tulisanku takkan mengganggumu.

Semoga mimpimu indah, kalau bisa sesekali, undanglah aku masuk ke dalam mimpimu, aku pasti datang tepat waktu.

Aku ingin berbincang denganmu, tapi aku tahu jelas, kau tidak begitu suka dengan tetap terjaga hingga tengah malam.

Di luar rumah hujan sedang bercumbu dengan tanah, ku harap kau tetap hangat dalam dekapan doaku.

Biruku, Apa kabarmu kali ini? Rindu mengapa masih mensabdakan namamu?

Biruku, Apa kabar hatimu kali ini? Nyamankah hati yang kau tempati kini?

Biruku, Ah, ingin sekali aku meretakkan setiap inci  batas yang menghalangi kita, tapi itu hanyalah tindakan bodoh. aku tidak akan mampu berjuang sendirian, terlebih yang aku lawan adalah takdir. sungguh, aku tidk akan pernah bisa.

Biruku, mengapa kau tak pergi saja? hatiku tak ingin mau lagi menampungmu,

Biruku, mafkan jika kau tak suka. Namun, seberpa kuatpun aku mengelak, Aku masih belum bisa berhenti mencintaimu.


Semoga esokmu menyenangkan.

Aku merindukanmu, Biru.

b i r u

Aku selalu suka sore yang masih biru

Sewaktu rumput sibuk berguru pada perdu

Lalu angin melantunkan lagu-lagu

Aku ingin berada pada sore yang masih biru

Sewaktu kucing lugu berdiri di depan pintu

Menunggu tuan rumah keluar menjamu

Aku berdoa agar soreku selalu biru

Seperti arakan awan yang tak lelah merayu

Agar biru langit tak begitu saja berlalu

Aku ingin soreku selalu biru

Biar segala ragu pergi menderu,

bersama angin ke seluruh penjuru

Aku rindu soreku yang dulu biru

Sebab tiap kali kubuka pintu,

jingga sudah lebih dulu menggulung biru

Aku mau jingga itu berganti biru

Sebab jingga membawa ragu

Juga memburu rindu

Sampai aku terjebak sendu

16 Januari 2015