biru

Cerpen : Biru

Namanya Biru. iya, seperti nama sebuah warna. Biru adalah seorang gadis kecil dengan rambut diikat seperti ekor kuda. Lari kesana kemari seolah-olah tidak pernah merasa lelah.

Biru tidak pernah mengerti bila ibunya telah tiada. Biru hanya tahu bahwa ibunya tidur dan dibawa pergi dengan ambulan. Biru terlalu muda untuk memahami bahwa ibunya tidak akan pernah bangun lagi. Tapi Biru tidak pernah bertanya-tanya. Ia terus bermain sepanjang hari dengan bahagia. Namanya juga anak-anak.

Biru tidak pernah menangis. Hampir tidak pernah. Biru selalu tersenyum saat ayahnya memanggil, selalu menggandeng tangan ayahnya bila berjalan, Biru tidak pernah membuat ayahnya khawatir. Terlebih khawatir bila Biru menanyakan keberadaan ibunya yang sudah tiada.

Itu yang kusaksikan sepanjang hidupku hingga hari ini. Lambat laun, seiring usianya, Biru akan mengerti bahwa ibunya telah mati. Ayahnya pun tidak pernah menikah lagi sejak kematiannya, kesetiaannya benar teruji.

Biru yang sedari kecil tidak pernah kulihat menangis, malam ini untuk pertama kalinya ia menangis. Malam selepas siang tadi kami melakukan akad. Biru bertanya kepadaku sambil menatapku lamat-lamat.

“Kak, boleh aku memelukmu dan menangis?” ucap biru begitu dalam.

Aku hanya mengangguk. Masih dalam busana pengantin. Biru memeluku sampai hampir 3 jam dan menangis, tanpa kata-kata hingga dia lelah menangis. Aku hanya menahan pelukannya, membiarkan dia melepaskan semua bebannnya.

Saat itu aku tahu bahwa Biru menyimpan kesedihannya. Ia mengerti bila ibunya telah mati, tapi dia tidak ingin membuat ayahnya sedih. Ia tidak pernah bertanya tentang dimana ibunya meski ia ingin sekali bertanya. Ia takut melihat ayahnya sedih. Aku baru tahu tentang semua itu, malam ini.

Biru memberikanku buku yang sangat tebal. Itu adalah buku hariannya sejak kecil. Aku diminta untuk menyimpannya, karena banyak hal darinya ada di dalam buku itu dan aku telah menjadi bagian dari hidupnya. Malam itu Biru bercerita banyak sekali, tentang hal-hal yang tidak pernah dia bagikan kepada siapa pun termasuk ayahnya.

Biru, gadis kecil yang dulu selalu berusaha aku buat menangis. Ku usili setiap hari,  ku sembunyikan sandalnya saat mengaji, ku tarik-tarik rambut ekor kudanya. Dan aku menyerah karena tidak pernah bisa membuatnya menangis. Hari ini dia menangis dipelukanku. Menangis karena bahagia.

©kurniawangunadi | 28 Oktober 2014

Biru


Kegelapan masih membayang
Menyelimuti, menolak pergi
Mencari ruang gerak ditentang
Dan menjadi ironi

Menjadi berbeda. Soal selera. Soal apa yang saya konsumsi, dan apa yang saya produksi. Soal bagaimana saya memandang dan bagaimana orang-orang memandang. Tapi selalu ada kesamaan dari setiap orang, semua memiliki perbedaan. Namun diantara kita, masih ada yang belum bisa menerima perbedaan, yang netral maupun yang baik.

Biru adalah lagu pertama pada album Sinestesia yang saya dengarkan. Dua lagu, “pasar bisa diciptakan” dan “cipta bisa dipasarkan”, bercerita tentang karya dan berkarya. Di mana dalam dunia saat ini, bertebaran karya-karya cipta manusia, namun tidak jarang kita temui yang secara kualiti kurang mumpuni, kurang bermutu, bergizi, kalau kata ERK. Berdalih bahwa hal itulah yang memang diminta pasar, padahal pasar hanya pasrah menerima apa yang disodorkan. Menjadi lingkaran setan, rantai kerusakan. 

Para kreator yang idealis, mencoba mendobrak itu, bermodal nekat dan idealisme, mereka merengsek masuk, bergerilya, melakukan usaha yang lebih agar diterima. Dan menjadi berbeda dari yang umum-umum saja. Dan benarlah itu bahwa setiap karya punya peminatnya, dan apa yang katanya bukan selera pasar itu ada pula pasarnya. Cara pandang bahwa selera pasar rendah adalah karena si produsen karya menganggap demikian. 

Baju kodok yang saya gambarkan di atas adalah cara saya membiasakan perbedaan. Memicu saya berbeda dalam cara pandang, berpikir, dan berkarya. Apa ada yang salah dengan menjadi beda dalam hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan perbedaannya? Menjadi ironi di tengah mayoritas adalah kemudian menjadi biasa kepada mereka yang biasa tampil beda. Namun sisi baiknya, memicu saya bergerak terus, membumikan yang asing, berkarya lebih sering.


Proyek ini adalah sebuah proyek yang menggabungkan seni visual, musik, dan sastra. Meskipun yang akan paling menonjol adalah musiknya, karena dia adalah induk inspirasi dari dua karya turunannya, visual dan sastra saya. Proyek ini juga dibuat dalam rangka penghargaan kepada ERK yang telah banyak mengisi hari saya dengan karya-karya berisinya. Selain itu, proyek pribadi ini juga dalah cara saya melatih rasa pada beberapa indra. Semoga bisa berlanjut dan berkebaikan.

“Biru” juga menandai arah musikal dari Efek Rumah Kaca untuk album penuh ketiga mereka yang masih sedang dalam proses pengerjaan. Meskipun bukan gambaran yang sepenuhnya akurat untuk menggambarkan konsep album ke depan secara keseluruhan, elemen-elemen utama seperti durasi lagu yang panjang, instrumentasi yang lebih riuh, juga dinamika lagu yang cenderung lebih kompleks dibanding lagu-lagu dalam diskografi awal bisa menjadi gambaran kasar sekaligus bridging kepada konsep album Efek Rumah Kaca yang akan datang.
Dipilihnya judul “Biru” juga menjadi tanda bagi keseluruhan album tiga yang rencananya akan berjudul “Sinestesia”. Sesuai dengan definisi term sinestesia yang menjelaskan fenomena dimana sistem saraf menghubungkan dua indra yang tak berhubungan secara langsung, Adrian dipilih untuk mendeskripsikan “suasana” dari setiap lagu dari album mendatang dalam warna lagu. Dan, “Biru” adalah warna yang muncul di kepala ketika 9 menit lagu ini selesai diputar. Di lagu ini, seperti pada album nantinya, melibatkan beberapa musisi yang terlibat dalam unit alter-ego Efek Rumah Kaca, Pandai Besi. M. Asranur, Agustinus Mahardika dan Irma Hidayana berturutan mengisi piano, instrumen tiup dan vokal.

*Lagu BIRU dapat di unduh secara gratis melalui soundcloud https://soundcloud.com/efek_rumah_kaca/biru #efekrumahkaca #sinestesia #biru

Made with Instagram
Biru, Ajarkan aku

: Biru

“Berhenti mencari.” kata sekilas tatap mata berpalingmu
“Bagaimana bisa?” tanya tundukan kepalaku
“Masih jugakah kau bertanya? Masih jugakah kau ingin mendengar jawabku?” bisik sorot matamu pada layar yang kau genggam berbalik bertanya
Kutatap sepatumu, “Menurutmu?”

Biru,
dengan sendu aku merindumu
dengan dia aku membunuhku
dengan rasa aku belum juga mati

Biru, ajarkan aku berlalu
sepertimu memergikan aku

Solo, 11 Maret 2016

(Bukan) Hanya Kali ini, Izinkan Aku

Hai tuan biru langit :) Ijinkan aku memanggilmu seperti itu, boleh kan ?

Namamu sudah sering kudengar, parasmu bahkan sudah sering ku tatap. Aku bahkan sudah paham tingkah romantismu pada sahabatku. Apa ? Sahabatku ? Kau pasti tak menyangka bukan, iya tuan. Aku mengagumi diam-diam saat kamu mendekati sahabatku. Ah aku tau aku salah, tapi bukankah kamu juga salah ketika mendekati sahabatku dan…

View On WordPress

Made with WordPress

Kataku, yang seharusnya biru itu langit, bukan hatimu, apalagi harimu.


Pagi, masih belum beranjak dari pintu rumah. Sengaja, membereskan banyak berkas, merapikan banyak hal,termasuk kenangan.

Kutanya kau, “jadi gimana?”
Katamu, “udah daftar kak”

Tampak jelas, rasa kecewa di matamu. Kecewa karena tak bisa memilih apa yang Abi ingin pilih.

Kataku, “yaudah. semangat, insyaAllah bisa”
Katamu, “iya kak, siap-siap jadi anak rantau nih”

Beberapa saat kemudian, sebelum aku beranjak keluar rumah.

Kataku, “udah daftar ya, Dok?”
Katanya, “iya, udah”

Lirih sekali, suaranya. Aku hanya menghela nafas perlahan.

Menyedihkan memang ketika tak bisa mewujudkan salah satu harapan orang yang di sayang. Tapi tenang, masih banyak jalan, beragam cara, beragam rupa. Terus lah berjalan, meski berkali-kali jatuh dan luka berceceran di kaki atau tanganmu. Tidak apa menangis. Asalkan kau terus melangkah, mencoba kesempatan lain, tetap berusaha semampunya (bukan semampu karena mengada-ada tapi sampai kau habis tenaga, benar-benar berusaha hingga batas maksimum). Asal jangan berhenti melangkahkan kaki. Harapan masih ada.

Lagi. Kubuka layar ponselku. Pesan dari ibu yang selalu datang tiap hari, lebih dari lima kali per hari.

Katanya, “jadi daftar apa?”
Kataku, “sastra arab, Bu”
Katanya, “apa bisa ya, mba?”
Kataku, “insyaAllah bisa, Bu. Doakan”

Ku buka pintu rumah, melangkahkan kaki dengan berat hati. Menunduk. Menarik nafas panjang, lalu berlari mengejar waktu. Stasiun lenteng agung. Tanpa lihat kanan kiri, kuterobos jalan raya yang (mungkin) sepi, entahlah tak kuperhatikan lagi.

Sekarang, yang ada di kepalaku adalah mimpi-mimpinya yang menyatu dengan mimpiku. Harapan yang kini menggantung, yang mungkin tak teralisasikan karena kekhawatiran untuk mencoba memilih tantangan yang lebih besar, sekarang menumpuk di bahuku. Berat sekali. Jika nanti kau merantau, maka aku harus membanggakan mimpimu yang menyatu padaku. Jika ibu ragu, maka aku yang meyakinkanmu bahwa keyakinan, doa, dan usaha melahirkan bahagia atas mimpi yang telah mampu dipeluknya.

Di dalam kereta, dengan doa-doa yang kupanjatkan untukmu, untuknya, untuk mereka. Ah, aku ingin kalian bahagia.

Selalu. Entahlah, aku yang membuat benang cerita sendiri, menghubung-hubungkan peristiwa, atau memang rencana Allah. Kau hadir dengan sederhana. Sesederhana itu, dan lagi, daftar doaku bertambah panjang, kudoakan (juga) apa yang sedang kau perjuangkan.

Ya. Yang seharusnya biru itu langit, bukan dirimu. Doaku selalu, atas mimpimu yang menjadi mimpiku. Doakan aku juga, agar bisa mewujudkan harapan dan mimpi banyak orang :)


Ditulis sambil mendengar kan lagu
“Esok kan Bahagia”
Ya. Kesedihan hari ini bisa jadi bahagia esok hari.

Personal Talk : Biru, Kapan?

Kapan lagi bisa melihat birunya langit dari dekat? atau

Kapan lagi bisa melihat birunya laut dari pinggiran pantai? atau seenggaknya

Kapan lagi bisa melihat biru selain dinding kamar?

Sudah cukup bosan sepertinya melihat birunya dashboard tumblr, birunya icon facebook atau twitter. 

Katanya ada biru di luar sana yang indah.

Katanya ada biru di luar sana yang berpijar disekitar pegunungan.

Jadi kapan?

Teruntuk Biruku..

Semoga tidur malammu nyenyak. Aku pastikan tulisanku takkan mengganggumu.

Semoga mimpimu indah, kalau bisa sesekali, undanglah aku masuk ke dalam mimpimu, aku pasti datang tepat waktu.

Aku ingin berbincang denganmu, tapi aku tahu jelas, kau tidak begitu suka dengan tetap terjaga hingga tengah malam.

Di luar rumah hujan sedang bercumbu dengan tanah, ku harap kau tetap hangat dalam dekapan doaku.

Biruku, Apa kabarmu kali ini? Rindu mengapa masih mensabdakan namamu?

Biruku, Apa kabar hatimu kali ini? Nyamankah hati yang kau tempati kini?

Biruku, Ah, ingin sekali aku meretakkan setiap inci  batas yang menghalangi kita, tapi itu hanyalah tindakan bodoh. aku tidak akan mampu berjuang sendirian, terlebih yang aku lawan adalah takdir. sungguh, aku tidk akan pernah bisa.

Biruku, mengapa kau tak pergi saja? hatiku tak ingin mau lagi menampungmu,

Biruku, mafkan jika kau tak suka. Namun, seberpa kuatpun aku mengelak, Aku masih belum bisa berhenti mencintaimu.


Semoga esokmu menyenangkan.

Aku merindukanmu, Biru.