biomedi

A Little Deeper about LPDP

Alhamdulillaah, saya diterima menjadi bagian dari keluarga besar Beasiswa Pendidikan lndonesia LPDP, per Maret tahun ini dan telah diresmikan lewat kesertaan saya dalam program Persiapan Keberangkatan angkatan 33 (PK 33).

Sebelum lebih lanjut bercerita. Kamu mesti tahu dulu dong apa itu LPDP. LPDP stands for Lembaga Pengelola Dana Pendidikan. LPDP bergerak sebagai sebuah Badan Layanan Umum (BLU) yang mengelola anggarannya sendiri, tanpa birokrasi seperti acc anggota DPR atau dirjen atau menteri. Asal sudah dapat acc dari Direktur Utama, Bapak Eko Prasetyo, semua lancar jaya.

LPDP hadir untuk membantu anak-anak muda Indonesia meningkatkan kapasitas keilmuan mereka untuk belajar di kampus-kampus terbaik di dalam negeri maupun di luar negeri. Kalau Beasiswa Dikti atau Unggulan adalah untuk calon dosen, LPDP adalah untuk semua! Dengan catatan, para penerima beasiswa adalah orang yang punya visi yang sejalan atau masih dalam satu sekerangka dengan visi besar LPDP.

Pada hakikatnya, kecocokan “siapa yang berhak atas apa” memang kembali ke pribadi. LPDP mencari orang-orang yang mau bikin Indonesia lebih baik dengan ilmu dan keringat mereka. Terlepas kamu sekarang kerja di BUMN, berstatus PNS, dosen, pegawai swasta, pebisnis, atau lainnya, LPDP mencari orang yang mau menguatkan pondasi kemajuan Indonesia di 2045.

Bangsa yang berdaulat adalah bangsa yang punya kompetensi untuk menyelesaikan masalah rumah tangganya sendiri. Hari ini Indonesia belum sepenuhnya berdaulat. Masih kita sama-sama tahu bahwa impor produk dan impor teknologi dan bahkan SDM masih deras arusnya. Ini bukti kita belum bisa independen dari negara lain. Kita belum sepenuhnya berdaulat. LPDP ingin mencicil kedaulatan yang hakiki untuk Indonesia di 2045.

Memang investasi SDM itu besar jumlahnya dan tidak langsung “return"nya. Sehingga dengan kacamata yang kini-sentris, membayarkan kuliah ratusan juta buat per kepala menjadi cukup absurd sebenarnya. Tapi itulah konsekuensi jika kita ingin melejit menyusul bangsa-bangsa lain yang sudah berdaulat penuh atas bangsanya. Oleh karena itu, LPDP tidak butuh orang yang masih belum bisa menyinkronisasi mimpi pribadinya dengan cita-cita komunal untuk Indonesia.

Setelah kamu merasakan bahwa menyekolahkan anak-anak muda dan para dosen ke jenjang pendidikan lebih tinggi dan di kampus-kampus terbaik itu sangat penting in the long run, kamu bisa menakar apakah beasiswa ini cocok buatmu.

Berikut tips buat pendaftar beasiswa ini.

1. Know yourself

Tentu saran ini tidak lazim. Tapi saya menyadari betul bahwa mengenal diri adalah bagian yang kurang dilakukan para pendaftar. Mengenal diri bisa dimulai dari "recount” pilihan hidup apa saja yang sudah kamu ambil, prestasi yang sudah kamu ukir, kesalahan apa yang pernah kamu perbuat. Kemudian berlanjut mengenal minat, bakat, passion, dan mimpi. Soal mimpi, dia bisa sangat sederhana atau malah sangat kompleks. Jika kompleks, pastikan kamu sudah mencoba memecah-mecahnya menjadi pointers atau langkah-langkah konkret dan terukur dalam kerangka waktu tertentu.

2. Research the right program for you

Setelah mengenal diri, maka kamu sudah mulai bisa mengatakan bidang keahlian dan kualifikasi macam apa yang kamu butuhan dari tempat studimu nantinya. Bekerjalah dengan ceklis. Mulai seleksi beragam bidang minatmu menjadi 2-3 bidang. Setelah itu search ketersediaan program di 200 kampus yang “diakui” LPDP. Akhirnya, mungkin kamu akan menemukan 10-20 program prioritas dari beberapa kampus atau negara incaran. Baca kurikulum program-program tersebut. Dari sini kamu sudah punya bayangan apa kekuatan satu program dari yang lain, atau bagaimana style, mindset, atau konten disajikan dalam program 1-2 tahun buat S-2 dan 3-4 tahun buat S-3.

3. Tentukan dengan bijak

Sekarang saatnya mempersempit pilihan menjadi 3-5 program saja. Kenapa cuma disarankan sejumlah itu? Menulis aplikasi beasiswa takes time. Di luar tes bahasa Inggris (TOEFL/IELTS) atau tes TPA seperti GRE dan GMAT, menulis esai atau “personal statement” untuk masing-masing aplikasi butuh alokasi waktu yang tidak sedikit. Mulai dari membuat kerangka tulisan, meriset data untuk dijadikan argumen tulisan, menulisnya, dan terakhir editting. Tiap kampus punya “pertanyaan” berbeda untuk masing-masing esai. Dan tentu saja, tiap program “butuh” esai dengan nada yang berbeda pula.

Seorang teman pernah berkata, pada akhirnya yang lebih penting adalah apa yang ditawarkan sebuah kota atau negara tempat belajar. Kamu bisa setuju atau tidak. Kita hidup di kampus cuma sekitar sepertiga waktu kita. Lalu bagaimana dengan dua pertiganya dan akhir pekan? Kamu bisa mempertimbangkan sebuah kota atau negara tempat belajar karena budayanya, alamnya, atau manusianya.

Soal mindset yang tersebut di atas, mungkin tidak banyak yang tahu. Pada umumnya kita bisa melihat arah/visi keseluruhan kampus dari outputnya dan kurikukumnya. Output itu seperti publikasi, program keluaran, publikasi, serta kebijakan. Ada kampus yang sangat teoritis. Kampus ini sangat peduli dengan validitas teori daripada implementasi dan data riil di lapangan. Ada juga kampus riset yang befokus pada kebaruan dan kemutakhiran ilmu dan teknologi. Kampus ini berfokus pada keluaran publikasi dan biasanya punya dana dan infrastruktur riset yang jauh di atas rata-rata. Lalu ada kampus entrepreneurship yang sangat menggalakkan transfer teknologi. Di sini inovasi, start ups, dan komersialisasi jadi jargon penting. Kemudian, cari tahu kekuatan masing-masing kampus dari konteks keilmuannya. Misalnya, kalau di Inggris, bidang material yang bagus itu di U of Manchester, biomedis mungkin di Imperial, fisika teoritis ya di Oxford-Cambridge, teori ekonomi mungkin di LSE, and so on.

4. Tanya orang di sekitar

Kenyataan mungkin tidak sama dengan apa yang ada di brosur atau website kampus. Cari tahu orang yang sedang atau pernah berkuliah di kampus tujuanmu. Cross-check data yang kamu punya ke mereka. Semakin dekat sumber informasi kita dengan kondisi riil di lapangan, semakin valid masukan dan komentar mereka. Mungkin saja mereka akan menguak hal yang tidak lazim diketahui orang lain.

5. Isi formulirnya

Sekarang statusmu sudah mendaftar kampus/program yang sudah kamu pilih dan validasi di poin 3 dan 4. Kamu sedang menunggu hasil seleksi kampus. Sekarang saatnya mengisi formulir LPDP. Isi dengan baik, jujur, dan serius. Baik artinya mengeluarkan semua kemampuan. Jujur artinya tidak mengada-ada. Dan serius artinya siap dikritik orang lain dan terus memperbaiki isian aplikasi. Di sini saya menyarankan meminta masukan dan kritik dari teman-teman yang sudah lolos LPDP: Does my essay sound firm and convincing? Do I need to add more details? What dos and don'ts to add on the writings?

Akhir kata, proses mengenal diri, menentukan mimpi, dan memilih program yang sesuai sudah lebih dari setengah jalan pengisian aplikasi bessiswa LPDP. Orang yang punya cita-cita yang jelas akan mudah menuliskan aplikasinya dan nantinya mudah meyakinkan interviewer. FYI, sekarang ada kebijakan-kebijakan baru untuk pendaftaran LPDP seperti academic writing on the spot. Pas batch saya sih belum ada. Keep updated and prepared ya!

Take a part in shaping better Indonesia :’)