bersenang senang

Kamu tidak benar-benar sayang pada seseorang, apabila ketika kamu sedang bersenang-senang, kamu tidak ingat sama sekali padanya.

Karena bila sayang, kamu pasti akan ingat. Pasti. Meski sebentar.

Dan seharusnya ada rasa ingin membawanya ke sana, bersenang-senang juga.

—  Tia Setiawati

CeritaBandung mengundang segenap penggiat Tumblr yang kebetulan sedang bedomisili di Bandung untuk bergabung, bersenang-senang, tertawa bersama tanpa aturan dalam acara MUROTTAL KARYA.

Pembicara:

1. Dimaz Fakhrudin (dimazfakhr.tumblr.com)
  Dengan tema, “Optimalisasi Karya Melalui Sosial Media.”

2. Syahid Muhammad (eleftheriawords.tumblr.com)
  Dengan tema, “Bercerita Lewat Perjalanan.”

Acara ini FREE alias geratis.
Hanya saja harus mendaftar dahulu karena kuota pendaftar terbatas!!
Yuk gabung bersama kita tanggal 19 Februari 2017 nanti. Dan tentunya, kalian pasti akan bertemu beberapa penggiat Tumblr Bandung yang caem-caem loh di sana~

Yuk!
Kapan lagi kita bisa bersilahturahmi bersama dengan pembicara yang cakep-cakep dan keluarga besar Tumblr Bandung.

Kau tahu apa itu kemuliaan?

Kemuliaan menurutku adalah ketika mata tetap terjaga disaat yang lain masih terpejam. Ketika kita rela berlelah-lelah disaat yang lain bersenang-senang. Ketika kita belajar disaat yang lain bermain dan sibuk bermalas-malasan.

—  Dan tentunya tetap ditemani kesabaran-kesabaran. Selamat menderita diatas ridho-Nya.

Pulangkan aku pada kenangan masa lalu yang tak banyak dihuni rasa sakit, Ayah. Aku takut menjadi dewasa, takut menjadi anakmu yang sering menggoreskan kecewa. Ajak aku bersenang-senang dengan kepolosan putri kecilmu yang tak mengenal cinta-cintaan. Ajari aku tersenyum tanpa terluka.

© Cindy Septyani

Ketika kita hanya menghabiskan waktu untuk bersenang-senang, maka yakinlah bahwa kesenangan itu akan segera pergi. Namun, keburukannya akan tetap abadi.

Sedangkan ketika kita menghabiskan waktu untuk bermanfaat, mungkin kita akan sesekali merasa lelah. Namun, yakinlah bahwa kelelahan itu akan segera pergi, dan kebaikannya akan tetap abadi.

Hari 24 - Extrovertkah ? Introvertkah ?

introvert. apakah diriku introvert. kenapa seolah aku sendiri. kenapa seolah hidup ini tenang. kenapa dunia terasa hampa. kenapa orang lain tidak melihatku. kenapa banyak orang yang tidak memperhatikanku padahal ku selalu memperhatikannya. apakah aku hidup sendiri. apakah aku berada di dunia yang berbeda. apakah tidak ada orang yang bisa kuajak bicara. tapi, aku seolah senang dengan kehidupan ini, aku selalu bisa mengatur diriku sendiri. aku seolah bisa mengendalikan apapun yang ku mau. hidup ini terasa aneh bahkan teh yang berwarna menjadi seperti air putih yang bersih.

tapi siapakah yang ada disana. ku melihat seseorang lebih bersenang-senang dengan banyak orang. ku melihat kehidupa yang berbeda dari yang kurasakan. seperti kebalikan dari kehidupanku. aku tak mengerti bagaimana seseorang bisa merasakan kebahagiaan dengan orang lain. aku tak mengerti bagaimana bisa seseorang optimis akan sesuatu. aku tak mengerti bahwa teman merupakan hal yang penting dalam hidupnya. 

memang aku lebih suka sendiri dan merenung.tapi, bukankah lebih indah jika kita mempunyai teman yang bisa mengerti tentang kita. pasti lebih mudah dalam menjalani kehidupan sehari-hari. oh andaikan bisa, kuingin hidup yang seperti orang itu dimana bisa mempunyai banyak teman yang selalu ada dikala susah maupun senang. tapi apa daya diriku lebih menyukai kehidupan yang diam dan hampa ini. kehidupan yang membawaku pada rasa pesimis. kehidupan yang penuh dengan kesendirian.

@febrianimanda @hiboki @isasetiawan@swcoollepool @dyahayucintya@inbakus @afsabila @zgalangb @creativemuslim @milhanfah @fahrizal182

Kalau saja hujan ini salju dan mendung adalah kabut, sepanjang mataku memandang hanya ada putih.  Menyejuk bersama dingin dan gigil. Kristal es melayang-layang di udara. Indah. Aku bisa tiduran di bawah langit berkabut yang tak nampak sendu. Kabut beribu lebih baik daripada mendung. Setidaknya, kabut tidak menggantungkan sedih di ujung awan layaknya mendung, yang suka menghujani bumi dengan air mata. Entah air mata sedih atau bahagia. Keduanya hanya bisa dibedakan dari gurat senyum, dan aku tak pernah mendapati mendung yang tersenyum.

Di langit mendung, aku tak bisa melihat bintang. Tertutup di mana-mana. Aku juga tidak bisa tiduran di rerumputan depan rumah. Pasti tubuhku basah kuyup kalau nekat tidur. Jadi, saat aku mengkhayalkan air hujan berganti salju, aku berharap bisa berkejaran menangkap kristal es. Melompat-lompat. Mengatasi gigil yang bahagia. Pipiku semerah tomat, dan tanganku sedingin es, tapi tidak dengan degup jantungku yang hangat. Senang bisa keluar rumah dan bersenang-senang.

Sementara sekarang, hujan dan mendung mengunciku dalam kamar. Melarang keluar. Tak ada yang bisa kulakukan selain mengkhayalkannya menjadi salju. Dan juga, aku tak tahu hujan dan mendung akan selesai kapan. Ia tak pernah mengabarkan padaku yang menunggu di depan jendela – berharap bisa keluar.

Kadang saya merasa lelah menjadi single. Kadang cemburu dengan ayah dan ibu yang bisa mengumbar kemesraan tanpa berdosa. Cemburu pada mereka yang sudah saling halal. Cemburu pada wanita-wanita yang cinta dan segalanya hanya untuk suami seorang. Kalian hebat, Nona.

Tapi ada yang lebih membuat saya cemburu dari semua itu, seorang wanita single yang menjaga hatinya sebelum dimiliki siapa-siapa. Berat, ibu. Tidak mudah, ayah. Pada akhirnya hati anakmu hanya dilukai oleh lelaki tidak baik. Pada akhirnya mereka hanya ingin bersenang-senang tanpa berani mengikat.

Maka benar kata kalian, semestinya tidak perlu tergesa-gesa. Tapi bagaimana seharusnya aku melihat dunia? Terlalu banyak lelaki yang bermulut manis dan piawai menggoda. Sebagai wanita single, saya sungguh merasa lelah. Lelah digodai karena mereka merasa saya belum milik siapa-siapa. Pada titik itu, saya jadi ingin dimiliki seseorang dengan halal.

Ibu, sudah sejak lama anakmu berhenti bermain-main. Hati lelaki tidak terlahir untuk itu. Meski lelaki tidak sering menggunakan hatinya dalam bertindak, biarlah mereka bahagia tanpa dilukai wanita. Tapi ibu, apa yang lebih tidak kau senangi dari dikecewakan anakmu? Berpuluh-puluh kali kau terluka sebab ketidakbecusan anakmu menjadi wanita.

Ajari saya menjadi wanita, ibu. Ajari saya menjadi setia, bahkan dengan seseorang yang masih tanda tanya. Ajari saya mencintai diri sendiri agar bisa lebih waras dan mawas. Ibu, saya tersesat. Bisakah kita kembali ke masa dimana airmata tak semurah sekarang? Bisakah kau menuntunku berbenah menjadi solehah?

Maaf, ayah. Sampai hari ini anakmu bahkan tak mampu menemukan lelaki yang sepertimu. Barangkali kau memang hanya ada satu. Saya ingin dipeluk, ayah. Ditenangkan dari kekacauan masalah yang tak bisa saya selesaikan sendiri. Saya hanya ingin dipeluk tanpa dituduh berdosa, ayah. Bisakah kau menjadi hangat kepada yang menawarkan maksud baik?

Ayah, saya lelah. Anakmu bisa-bisa jatuh sakit jika terus-terusan begini. Dan berhenti untuk cemas, karena sakit yang ini tidak biasa, ayah. Tidak ada memar. Tidak ada darah. Tidak ada diagnosa untuk menerjemahkan saya tengah kenapa. Pada akhirnya saya tetap merengek minta dijajani kasih sayang. Anakmu masih menergantungkan semuanya padamu.

Apapun itu, saya tidak sedang ingin minta dilamarkan pada seseorang. Saya masih kurang apa-apa. Saya masih mengecewakan. Apalagi urusan membahagiakan kalian. Anakmu hanya merasa lelah. Nanti juga berdiri lagi. Mengatasi godaan-godaan yang bisa membawa saya pada lelah lagi. Tak masalah. Doa kalian atas masa depan baikku, itu sudah semahal-mahalnya barang berharga.

Hari ini, bisakah untuk sementara kalian yang memelukku sebelum ada yang benar-benar sanggup memelukku setiap hari, besok? Perantara doa, mari kita berpelukan.

© Cindy Septyani

It’s A Puzzle, After All

It’s a puzzle, after all.

Bismillaah.

Sebelumnya, tolong salahkan hormonku untuk ke-fluktuatif-an rangsang-rangsang neuron hari ini. *huh dasar manusia, bisanya menyalahkan*.

Kalian tahu, surat yang sudah Allah SWT turunkan kala itu, tentang kemudahan yang datang setelah kesusahan, yang bahkan sampai dua kali Allah ulang, demi Nabi Muhammad SAW waktu itu? Pastilah tahu! Itu ayat ampuh untuk meyakinkan kita semua pada apa artinya bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian. Pada satu dua hal, aku sangat-sangat suka bagaimana Allah mencabik benar hatiku *oke, lebay, maaf* dan kemudian lentera-lentera itu datang sebagai pelipur lara. Yang sedari kemarin tidak kelar-kelar, padahal sudah usaha sedemikian rupa. Yang sedari kemarin-kemarin buntu, akhirnya satu-satu terurai. Meski ya, dalam hal lain harus sampai menangis-nangis jelek di legamnya aspal, tapi tidakpapa.

Aku yakin, sungguh yakin, pada setiap orang Allah beri berbeda-beda caranya. Kalau aku, aku harus nangis-nangis dulu baru habis itu terlihat binarnya cahaya penyelesaian. Kalau kamu? Mungkin kamu harus murung-murung dulu seharian, mungkin kamu harus bete-bete dulu beberapa hari, atau mungkin harus diam dulu dalam sujud beberapa jam. Tapi, tidak papa. Toh Allah memang sesungguhnya sayang kita, memberikan yang tidak kita nanti secara lebih baik lagi dan lebih baik lagi. Mungkin memang kita yang harus terus selalu mengasah hati agar syukur itu panjang jadinya, peka kita akhirnya, syukur pun setiap saat jadi terasa nikmat.

Menurutku, it’s a puzzle after all. Bagaimana ada kondisi yang tidak utuh, tapi tunggu saja nanti pasti ada yang menggenapkan. Cherish the moment, kalau kataku dulu saat seluruh universitas menolak hadirku.

:)

hehehehehehe

Semangat!

15 februari 2017

Bunga Fatimah.

Kalau kata Agatha, bunga yang tidak berduri… :’) *oposiiiih*

Tidak Ada Waktu untuk Bermain-main

Kalau hidup ini kembali dirunut ke belakang, begitu banyak hal yang ingin diperbaiki. Sebab begitu banyak kesalahan yang sudah dilakukan, begitu banyak dosa yang tentunya sudah dicatat dengan rapi. Ada banyak penyesalan yang sering dialami, ada begitu banyak kebaikan yang terlewatkan.

Setiap hari, seiring waktu. Kebaikan yang berbuah pahala belum tentu bertambah sedangkan dosa-dosa itu hampir dipastikan bertambah setiap hari. Maka, adakah waktu untuk kita bercanda barang sebentar dalam hidup ini?

Pemikiran seperti itulah yang melatarbelakangi rangkaian rencana-rencana kebaikan yang ingin dibangun saat ini. Kebaikan yang bisa hidup meski umur manusia telah habis. Kebaikan yang terus mengalir meski jasad sudah dimakan cacing tanah. Biar habis tenaga, biar lelah pikiran, benar-benar tidak ada waktu untuk bersenang-senang mengingat kematian bisa datang kapan saja tanpa permisi.

Maka, kebaikan itu harus segera diwujudkan!

Tidak peduli bagaimana orang terpukau, tidak peduli bagaimana orang memuji, tidak juga peduli dengan yang mencaci. Sebab, tidak semua orang di dunia ini memahami bahwa setiap orang memiliki dunianya masing-masing. Dunia yang tenggelam menjadi masa lalu, menjadi kenangan, dan dunia yang juga menjadi masa depan.

Karena secara nyata, kita sadari bahwa kita tidak akan pernah bisa kembali ke masa lalu untuk memperbaiki keadaan, maka sudah sebaiknya kita segera turun tangan untuk melakukan kebaikan guna memperbaiki apa yang sudah terjadi. Biar bila nanti Tuhan menimbang kebaikan kita, itu lebih banyak daripada dosa kita. Biar bila nanti kita sudah tiada, tidak ada penyesalan di sana.

Benar-benar tidak ada waktu untuk bermain-main. Karena waktu terus bergerak, sedangkan kita tidak tidak pernah tahu kapan itu berhenti. Semoga Allah memberikan waktu untuk kita semua, anugerah yang paling sering kita lupakan dan syukuri bahwa Allah masih memberikan waktu untuk kita melakukan banyak kebaikan. Akankah kita siakan?

©kurniawangunadi | 19 Februari 2016

Labirin

Saat ini, kita sedang berada dalam labirin

Ada beberapa yang berjalan dan berlari kegirangan

Sampai lupa bahwa diri sedang berada dalam labirin, lupa melihat arah

Akhirnya berputar-putar dalam kesimpang siuran, lalu kebingungan

Ada beberapa yang berjalan bersama-sama

Menikmati perjalanan dengan bersenda gurau.

Sangat menikmati sampai lupa bahwa diri sedang berada dalam labirin

Sampai lupa mencari dan melihat petunjuk

Akhirnya kehabisan waktu.

Ada beberapa yang berjalan dengan tertatih

Berpegang erat pada tembok, terlalu berhati-hati

Karena takut kebingungan dalam labirin.

Beberapa dari mereka, akhirnya sampai juga pada tujuan

Beberapa dari mereka, walau berada dalam jalur yang tepat

Tapi tetap saja,akhirnya mereka kehabisan waktu, tak sampai pada tujuan.

Ada beberapa yang berjalan dengan yakin

Tak terlalu lama, juga tak terlalu cepat, kadang mungkin berlari

Selalu waspada melihat petunjuk, walau mungkin kadang mereka terlena sejenak.

Namun dengan cepat mereka kembali pada petunjuk.

Akhirnya sampai pada tujuan.

Hidup kita pun seperti itu kan?

Ada yang terlalu girang, terlalu sibuk dengan urusan dunia

Lupa akan tujuan sebenarnya hidup

Ada yang terlalu bersenang-senang

Menghabiskan waktu dengan bersenda gurau, bersantai, lupa diri

Lupa waktu dan lupa akan sebenarnya tujuan hidup

Ada yang terlalu takut akan kehidupan

Terlalu berhati-hati, berharap sampai ketujuan dengan selamat.

Ada yang pada akhirnya sampai pada tunjuan

Ada juga yang kehabisan waktu tak sempat sampai ke tujuan

Ada yang dengan yakin berjalan

Tetap lurus mengikuti petunjuk hidup

Walau sesekali pernah salah melangkah

Namun ia segera sadar dan akhirnya sampai pada tujuan.


Bandung, 10 April 2015

Mungkin sesekali akan kuhubungi kamu. Juga dilain waktu akan kau dapati, bahwa menghubungimu lebih dulu adalah pantang bagiku.

Meski begitu, aku ingin kau tahu. Diam, tak berarti tak mencemaskan. Tak mendekatkan diri tak berarti tak mau tahu lagi. Aku disini, tak pernah pergi jauh.  Aku ada, kapanpun kau butuh.

Datangi aku. Jangan biarkan aku bersenang-senang dan tenang dalam berpangku tangan, sementara itu kamu sedang bersusah payah sendirian.

—  Ya, Sayang
: Kasih tulus memang demikian

HIDUP INI HARUS SEIMBANG

Karena hidup ini seimbang. Saat kau merasa sedih, di waktu yang lain, kau pasti mampu bahagia. Begitu pula dengan air mata dan tawa. Datang silih berganti. Kau tak perlu tahu jadwal kapan mereka menemani.

Karena hidup ini seimbang. Alam suka membayar apa yang manusia beri. Itulah mengapa, kau kasihi ia, ia akan mengasihimu. Kau mendzaliminya, ia balik mendzakimimu.

Karena hidup ini seimbang. Saat kau sengaja menyakiti, Tuhan tak akan pernah diam. Ia tahu, manusia butuh belajar dari kesalahan.

Karena hidup ini seimbang. Kau tidak layak mencampakkan kedua orang tuamu kelak. Sebab kau ada berkat mereka. Kau hidup karena cinta mereka. Dan kau berhasil, karena perjuangan mereka. Seisi dunia kau serahkan, jasa mereka tak akan mampu kau bayarkan. Tak akan setimpal.

Karena hidup ini seimbang. Saat kau bersenang-senang mencari hiburan, ingatlah juga akan kewajiban. Belajar, bersekolah, bekerja, membahagiakan orang tersayang, dan ingat untuk mengikuti perintah Tuhan.

Karena hidup ini seimbang. Rawatlah apa yang sudah Tuhan berikan. Jiwa ragamu selalu butuh makanan yang sehat dan menyehatkan. Bukan sampah yang mudah pula kau temui di mana-mana.

Karena hidup ini seimbang. Jangan lupa untuk mendengarkan, setelah banyak berbincang. Diri butuh masukan lebih banyak, dari apa yang sudah dikeluarkan. Itulah mengapa, indera pendengaranmu ada dua.

Karena hidup ini seimbang. Jangan khawatir untuk memberi. Karena menyimpannya sendiri, ia tak akan membuatmu kaya hati. Ia justru mampu membusuk dan menjadi tak bernilai lagi. Hartamu tak akan kau bawa mati.

Karena hidup ini seimbang. Jangan hanya ingat besok hidup dengan apa. Ingatlah pula, besok ketika mati, kau sudah berbekal sebanyak apa.

Medan, 29 Oktober 2015

—  Tia Setiawati
Masih Adakah Tititsan "Al-Fatih" ?

Kalau saja Mahmed II hidup kembali dan melihat kondisi pemuda saat ini, mungkin ia sudah geleng-geleng kepala tak habis pikir.

Ah, betapa kualitas kita dan dirinya terbentang amat jauh!

Di saat kebanyakan pemuda berumur 21 tahun sudah angkat dagu, bangga bisa taklukkan hati wanita, Muhammad Al-Fatih sudah mampu taklukkan Konstantinopel!

Di saat para pemuda bersenang-senang habiskan umur 8 tahunnya dengan menghafal lagu-lagu orang dewasa, Muhammad Al-Fatih sudah hafalkan seluruh ayat Al-Quran dalam kepalanya.

Di saat para pemuda masih bingung dengan mimpinya, tidak tahu akan jadi apa, “let it flow” katanya, Muhammad Al-Fatih sudah bertekad dengan lantang sejak kecil, “Ayah, aku ingin menaklukkan konstantinopel!”

Di saat para pemuda begitu mudah mengeluh, merasa punya segudang masalah dan tekanan hidup, lalu menganggap hidupnya akan berakhir sia sia, Muhammad Al-Fatih sudah dibebankan amanah yang begitu besar bahkan sejak ia lahir ke dunia.

Ia menjadi tumpuan harapan tiga generasi akan takluknya konstantinopel, janji yang diucapkan Rasulullah ratusan tahun silam. Ia menjadi harapan dari 6 abad perjuangan para pendahulu.

Bayangkan! harapan 600 tahun perjuangan para pendahulu dibebankan pada pundaknya! Ah, tapi sedikitpun ia tak gentar, tak mundur barang sejengkal!

Di saat para pemuda habiskan waktunya untuk bersenang-senang, maraton film, nongkrong berjam-jam, Muhammad Al-Fatih memilih tingkatkan kemampuan fisik dan mengisi otaknya. Ia kuasai teknik bela diri, memanah, berkuda, berenang, strategi berperang, Ilmu fiqh, hadis, Astronomi, dan matematika. Ia juga menguasai banyak bahasa; Arab, Turki, Persia, Ibrani, Latin, dan Yunani.

Di saat para pemuda dengan mudah hancur mentalnya ketika direndahkan atau dihina orang lain, Muhammad Al-Fatih punya hati seluas samudera, mental sekuat baja. Tak terhitung berapa banyak orang yang merendahkannya saat ia diangkat menjadi Raja pada umur 19 tahun, “Bocah ingusan!” katanya. Dari musuh hingga orang kerajaan sekalipun meremehkan kemampuannya. Tapi ia lebih memilih memberi bukti nyata.

Di saat para pemuda habiskan air matanya untuk kekasih hati yang tidak jelas, Muhammad Al-Fatih memilih habiskan air matanya untuk memohon ampunan dan panjatkan harapan. Sejak baligh, tak pernah satu malam pun ia lewatkan salat Tahajud. Ialah Pedang Malam, yang selalu diasah dengan tulus ikhlas.

Di saat para pemuda lupa dan meninggalkan Tuhan, “nanti saja kalau sudah tua” fikirnya, Muhammad Al-Fatih tak sekalipun pernah meninggalkan Allah dalam tiap urusannya. Ia miliki 250ribu pasukan yang tak sekalipun pernah meninggalkan salat wajib. Ia laksanakan salat Jumat sebelum menyerang Konstantinopel. Salat terpanjang dalam sejarah, 4 km membentang dari Pantai Marmara hingga Selat Golden Horn di utara! lalu gema takbir bersahutan, menggetarkan, menjadi semangat saat menggempur lawan!

Di saat para pemuda kehabisan cara dan ide-ide cemerlang untuk meraih mimpinya, Muhammad Al-Fatih tak kehabisan cara, bahkan yang menurut orang lain gila.

Yang ia hadapi ialah Benteng Byzantium! Dibatasi laut dengan pagar rantai besi, terbuat dengan teknologi terhebat pada zamannya, tak mampu ditembus selama 11 abad.

Kokohnya Benteng Byzantium tak membuat Ia kehilangan akal. Tak bisa menyebrangkan 70 kapal lewat laut, ia lumurkan minyak pada ratusan gelondongan kayu, lalu jalankan seluruh armada kapal melintasi bukit hanya dalam satu malam!

Hoila!

Pagi hari menjelang, musuh kaget bukan kepalang. Benteng Byzantium yang selama 11 abad tak terhancurkan, hari itu telah mampu ditembus!

Lalu saat ini,


kita sadar akan bentang yang amat jauh antara kualitas pemuda saat ini dan di zaman Muhammad Al-Fatih. Kita juga sadar akan ketinggalan yang amat jauh yang harus kita kejar.

“Kaki anak Adam tidaklah bergeser pada hari Kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ditanya tentang lima hal; tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa dia pergunakan, tentang hartanya dari mana dia peroleh dan kemana dia infakkan dan tentang apa yang telah dia lakukan dengan ilmunya.” (HR. Tirmidzi)

Masa muda akan dimintai pertanggungjawabannya bukan?


- Ardian Wahyudi
Di rangkum dari:
Muhammad Al Fatih 1453

Saat nikmat itu Allah berikan, entah kenapa saat itu pula nikmat itu dengan mudahnya kita dustakan.

Allah beri nikmat waktu, tapi justru saat itu pula kita tidak mempergunakannya dengan baik, tilawah tak sempat, tahajud lewat, shalat jamaah nunggu iqamat.

Allah beri nikmat masa muda, tapi justru saat itu pula kita tidak memanfaatkannya dengan baik, menghamburkan usia dengan sesuatu yang sia-sia.

Allah beri nikmat penglihatan, pendengaran, hati, tapi kita terlalu banyak mempergunakannya pada hal yang tidak ada maslahat dan kebaikan padanya, terlalu banyak hal yang kita rasa hal itu boleh-boleh saja, hingga akhirnya lupa telah melewatkan kebaikan-kebaikan yang bisa dilakukan.

Allah beri kita kemudahan, kelapangan, fasilitas hidup, belajar, bersenang-senang tapi bukannya menjadikan semakin syukur dan sarana terbaik dalam ibadah, kita seringkali cenderung pada kufur nikmat, syukur sering lupa, taat sering alpa.

Ya Allah jadikan kami, orang-orang yang merasa akan nikmatMu serta mempergunakannya untuk ketaatan kepadaMu.

—  ©Quraners
Bertualanglah, Sayangku. Agar kamu tahu, bahwa perempuan tak hanya terbuat dari gula dan sambal; tempatmu bersenang-senang agar keringatmu bisa terbuang.
Cerita Sabtu Malam “KITA”

Sabtu malam, hanya perihal waktu. Waktu yang selalu dikutuk dan dipuja oleh sebagian orang. Tapi selalu ada cerita menarik di baliknya. Dan KITAJATIM berbagi cerita perihal “Sabtu Malam” mereka dalam 5 kalimat. Selamat membaca~

==============================================================

Malam ini, aku merenungi bahwa hidup selalu ada ritmenya. Dan tak semua orang memiliki ritme yang sama. Satu per satu, mereka mewujudkan impiannya dengan bekerja lebih keras. Di sisi lain, ada juga yang bersenang-senang, menganggap santai perjalanan hidup. Lalu, aku termasuk yang mana? - @rizkyhanna

Kata orang, sabtu punya malam yang paling kelabu bagi mereka yang sendiri dalam jemu. Tapi bagiku tidak, sebab apa gunanya mengutuk sabtu yang sendiri? Berselancar di dunia maya, meikmati film, musik kesukaan dan buku favorit penghantar tidur adalah nikmat yang tak perlu dijelaskan. Dengan kopi dan coklat, sesekali kulihat mereka yang berjibaku di garis waktu. Galau, apa aku perlu? - @nekadnulis

Sabtu malam kali ini sama dengan sabtu malam kemarin dan kemarin kemarinnya lagi. Tidur dan mager di kamar, mlototin layar hape, kali aja ada yang ngajakin jalan. Berharap setiap sabtu malam hujan biar yang enggak jomblo sesekali ngerasain sendiri dan sepi, eh ternyata cuma gerimis malam ini. Mau malam apa hari apa yang penting jangan lupa bahagia dan bersyukur ya gaes~ - @ndreeyantea

Sabtu malamku sedikit mengecewakanku. Karna aku gagal mewujudkan temu denganmu. Teruntuk sabtu malam yang terjadi hari ini, sungguh kuratapi sendiri karna harap yang tidak terjadi. Bisakah kau datang sebentar saja dan membuat sabtu malamku bahagia? Bukan hanya dengan peluk maya, tapi aku mau nyata. - @hanyatulisan

Sabtu ini gak seseru sabtu kemarin yang nekat pergi ke kota orang untuk hal yang belum pasti tapi menyangkut mimpi. Dimarahi sana sini tapi anehnya gak bikin saya nangis. Meskipun gak seseru kemarin, tapi sabtu ini menyenangkan. Berkumpul bersama keluarga, ayah, mama dan adik yang super nakal tapi anehnya ngangenin. Membuat status yang masih sendiri tak lagi menjadi hal yang perlu dipikir. - @eilstory

Malam ini benar-benar menyenangkan, walaupun pergi ke suatu tempat yang agak jauh dari peradaban. Tempat yang tidak terjangkau signal. Tetangga yang kondangan dengan speaker segede gaban, apalagi suaranya. Untung masih bukan lagu dangut, tapi satu album “Wali band”. Bakal kembali ke kota dengan semangat baru, lagu Egokah Aku – Wali Band “Ku harap Tuhan cabut nyawamu. Agar tak ada yang memilikimu” seperti itu. - @koloke

Untuk sabtu malam, yang aku agungkan layaknya malam yang lain, aku menghormatimu sungguh. Aku persiapkan diri sebaik mungkin. Mulai persiapkan diriku sebaik mungkin. Mulai membersihkan diri dari noda, mensucikan segala najis, sampai memilih baju terbaik. Kurapikan singgasana terindahku, pulau terbaikku. Setelah menghadap Sang Tuhanku via ibadah, selanjutnya kumenghadap via mimpi. Ya, aku memang tak selayaknya teman seusiaku, menikmati malam mingguku diluar rumah, karena bagiku malam mingguku diluar rumah, karena bagiku malamku lebih berkualitas dengan “tidur”. - @hobingetik

Sabtu malam kali ini J****k banget lah. Rencana studi lanjut yang setengah matang tinggal ditiriskan, dibuyarkan oleh pertanyaan dari Bapak, “Ijazahnya diakui KEMENRISTEKDIKTI?”. Setelah ditelusuri, ternyata diakui, tetapi diperlukan penyetaraan yang menurutku cukup ribet. Ciamik soro ancene urip ning Endonesa iki. Enggak heran kalau banyak orang hebat yang angkat kaki dari sini. - @patriciapjh

Tidak pernah terbayangkan olehku, setelah tiga tahun berlalu, di malam mingguku kembali ada kamu. Cerita yang kau paksa tamat di malam tahun baru sudah mengabu di kepalaku. Kamu yang masih mengejar dia tanpa ragu, dan aku yang bahkan mempertahankan kisah baruku saja sudah hampir tak mampu, akhirnya bisa melepas rindu. Iya, jangan keburu membenahi dulu, kuperjelas hanya aku yang rindu untuk menyapamu, bukan kamu. Sederhana ya bahagiaku, kembalimu memang tak pernah aku tunggu, tapi terimakasih kamu sudah menyapa lebih dulu, terimakasih kamu mau mampir sekejap di malam mingguku. - @adorablev

Sabtu malamku kali ini, tidak sesuram orang-orang bilang. Tidak akan ada sumpah serapah dan merapal mantra meminta hujan dari mulutku. Ya, malam ini ayah dan ibu berkunjung ke kota perantauanku. Amat menyenangkan bila melewati saat-saat di Kota Pahlawan dengan orangtua tercinta. Hari ini adalah sebuah perayaan, sebab tak terbesit sedikitpun rasa tertekan akibat tak punya pasangan. - @menujusenja

Sabtu malam, enggan kumenyebutkannya malam minggu, sebab tak ada yang beda dari malam sebelumnya. Masih berkutat dengan segala hal yang berbau dengan poster dan temannya. Masuk kuliah saja belum, tapi seabrek tugas di depan mata, apalagi batas waktu yang bersamaan. Entah kenapa akhir-akhir ini otakku ngambek nggak mau diajak mikir, yang ada dipikiran pengen pergi, pengen makan, tapi mager keluar. Dan aku masih berusaha mengutak-atik yang ada di depan layar laptopku. - @jingga-merona

Tak ada yang beda dengan malam-malam lainnya, itulah malam mingguku. Hanya tenggelam dalam layar handphone dan layar televisi yang sudah tak lagi hitam-putih tentu saja, terkadang juga buku-buku ikut mengisi. Bagiku itu sudah cukup spesial, dibanding aku harus mengeluarkan uang dari isi dompet yang tak seberapa. Aku tak begitu suka itu di malam mingguku. Di dalam rumah dengan hangat keluarga dan berbagai macam tulisan dan gambar dalam layar, kurasa lebih baik. - @ayisafarillah

Aku tak pernah tau apa yang membuat sabtu malam lebih istimewa dari malam-malam lainnya. Bahkan saat masih dengannya pun aku tak pernah tau apa itu malam minggu. Sabtu malam atau malam minggu, sama seperti malam-malam lainnya. Bagiku semua malam sama, malam hanya cara Tuhan mengistirahatkan siang. Tak ada yang istimewa. - @lalatkata

Sabtu malam, pukul sembilan. Aku tersadar, cukup kita samakan terlbih dahulu tentang hati dan imaji yang akan kita gabungkan. Bukan tentang benar-benar bersama yang lebih penting. Tapi bagaimana kita menyiapkannya. Semua tentang proses, dimana di dalamnya terdapat aku dan kamu yang saling merindu bersama. - @dimazfakhr

Sabtu malam ini, langit kota dingin sedang sembab. Yah, mau beli seblak malah jadi mager tidur di kasur. Ada yang menyenangkan sih, mengetahuimu sedang serius dengan skripsi. Ah, aku kapan ya? Mengingat wajah seriusmu selalu membuatku rindu. - @kataestka

Malam ini sekali lagi aku disibukkan dengan berbagai pertanyaan yang muncul dalam kepala, tentang arti sebuah persahabatan, tentang arti sebuah kepercayaan. Pernahkah kalian merasakan yang sama denganku, menganggap seorang sahabatmu, tapi nyatanya tidak demikian dengannya? Dikhianati orang yang sangat percaya bisa memegang rahasiamu yang dianggapnya bualan belaka. Lalu bagaimana caranya mengikhlaskan semua dan membangun kembali rasa percaya, membuka kembali hati yang berkali-kali terluka? Tolong bantu aku menjawabnya, siapa saja, agar hati ini tak termakan oleh prasangka-prasangka yang bisa menjerumuskan pada dosa-dosa. - @eunoiaya

Sudah masuk hitungan kesekian kali malam minggu yang kulalui tanpa hadirmu. Tak ada lagi canda  tawa, tak ada lagi peluk hangat, tak ada lagi jemari yang hangatnya selalu ingin kugenggam erat. Biarlah, toh ini yang kau mau dalam hidupku, sendiri tanpamu. Dan malamku masih sama, menatap layar kaca, menantikan siaran bola sebagai pebasuh perih luka atas kepergianmu. - @melepasmu

Teruntuk malam sabtu. Ada banyak cara menikmatimu. Keika mereka hingar bingar merayakan kedatanganmu. Aku dengan santai menyambutmu. Dengan segelas kopi dan beberapa buku. - @hujanberteduh

Sabtu malamku sebenarnya masih sama dengan yang dulu-dulu. Pulang ke kampung halaman menemui mereka yang kusayang. Namun kemudian sabtu malamku minggu-minggu ini berbeda dibanding bulan-bulan lalu. Tidak ada pesan darimu lagi di layar handphoneku. Kumasih tersenyum dalam bisu. - @bintanges

Aku tak pernah memiliki sabtu malam dimana bisa kunikmati dengan tuan yang ohh sudah bukan milikku. Tetapi ada yang lain malam ini walau hanya ditemani nangka goreng dan teh manis, aku menikmatinya, sangat. Karena bisa kudengar merdu suara bercengkrama ayah ibu dan tawa adik yang tiada henti. Hal yang tak bisa kudapati di perantauan, dimana yang biasa kulakukan hanya duduk manis menikmati sekumpulan textbook. Ah, rumah memang tempat yang selalu tersaji kehangatan di dalamnya. - @lutaormi

Sabtu, punya cerita kala senja mulai muncul. kata orang, berdoa hujan. buat apa berdoa jika yang lain tak menginginkan doamu? Mereka bahagia. Ajak temanmu meneguk kopi hangat, disana ada kebahagiaan. - @sadjadahterbang

Bahagia di sabtu malam bukan perihal mempunyai pasangan atau tidak, tetapi bagaimana seseorang itu mensyukuri setiap detiknya. :)

Bagaimana sabtu malammu kemarin? :)


cc : @tumbloggerkita @curhatmamat @kitajabodetabek @kitajabar @kitajateng @kitakalimantan @kitasulawesi @kitasumatera