berganti

Tulisan : Perempuan Setelah Menikah

Barangkali dulu, ketika masih gadis. Di usianya yang telah memasuki kepala dua dan usia pernikahan, salah satu kekhawatirannya adalah tentang pasangan hidup. Entah bentuk khawatir seperti; apakah ada laki-laki yang mau menikahinya? atau apakah ia cukup siap untuk menjadi seorang istri? dan lain sebagainya. Dan kekhawatiran itu pun tumbuh subur seiring usianya yang merangkak naik, seiring banyaknya laki-laki yang datang silih berganti tapi tak satupun menarik hatinya.

Di bayangnya, kehidupan pasca menikah, apalagi menikah dengan laki-laki yang dicintainya adalah kehidupan yang segalanya indah. Padahal tidak demikian. Kata siapa bahwa selepas menikah, kekhawatiran perempuan akan sirna begitu saja? Justru sebaliknya, kekhawatiranya bertambah, semakin banyak. Dan ini menjadi sesuatu yang mungkin tidak akan pernah terbayangkan sebelumnya.

Khawatir ketika sudah menikah tapi belum juga hamil. Apalagi ketika melihat teman-temannya yang lain memperbarui halaman sosial medianya dengan berita kehamilan atau kelahiran. Lebih khawatir ketika ditanya oleh keluarga. Dan ini menjadi pembelajaran berharga bagi siapapun, bahwa barangkali ungkapan kebahagiaan kita di sosial media bisa menjadi sebab ketidakbersyukuran seseorang yang melihatnya. Juga ini akan menjadi pelajaran berharga bagi semua perempuan yang menikah nantinya dan belum segera dikaruniai anak, ia akan menjadi lebih memahami dan lebih empati kepada perempuan yang lainnya.

Kekhawatiran ketika suami atau anaknya sakit. Apalagi ketika melihat mereka tidak bisa tidur tenang, tidak bisa makan masakan yang dibuatnya dengan susah payah.

Kekhawatiran ketika belum bisa memasak. Meski kita tahu bahwa memasak bukanlah sebuah hal paling penting dari kesiapan menikah seorang perempuan. Tapi bagi perempuan itu sendiri, memasak untuk keluarga, apalagi melihat keluarganya memakan apa yang ia buat dengan susah payah adalah kebahagiaan yang entah bagaimana menjelaskannya. Khawatir ketika suami tidak mau memakan masakannya, khawatir kalau masakannya tidak enak. Meski, sang suami berusaha untuk menganggapnya bukan sesuatu yang penting. Tapi tetap saja itu penting bagi istrinya.

Kekhawatiran tentang bagaimana ia bisa berbaur dan bergaul dengan keluarga suami. Entah tentang bagaimana ia bisa membuka pembicaraan dan mertua. Bagaimana ia bisa menjadi menyenangkan untuk saudara-saudara suami. Dan memang selama ini tidak ada panduan tentang bagaimana membangun hubungan antara istri dan mertuanya. Dan itu selalu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi perempuan yang akan dan baru menikah.

Ada begitu banyak kekhawatiran yang semakin hari semakin bertambah. Dan perempuan yang perasa, membuat kekhawatiran itu kadang tumbuh tak terkendali. Dan tugas laki-laki yang menjadi seorang suaminya nanti sebenarnya sederhana yaitu; jangan menambah kekhawatirannya. Jadilah laki-laki yang baik.

©kurniawangunadi | 10 Februari 2017

Bila sekarang sedang dipusingkan oleh urusan hati. Maka percayalah, nanti akan ada saatnya kamu memilih untuk memprioritaskan hal lain selain itu.
— 

Jika bukan saat ini, maka nikmatilah jatuh serta patah yang silih berganti. Sebab esok, ada sesuatu yang akan menyadarkanmu bahwa perasaan terhadap lawan jenis tak selamanya berada di puncak prioritas hidup.

Hujan Mimpi

selesai

“setiap keluarga, setiap rumah tangga, pasti punya masalah sendiri-sendiri. tapi semua masalah itu harus segera selesai. bahkan, Ayah dan Ibu membiasakan bahwa setiap masalah dalam keluarga harus selesai sebelum tidur. menyesal deh Ayah, kalau sampai tidurnya meluk masalah bukan meluk Ibu.”


“hahaha Yah…” kamu terpingkal dalam hati.


“ini serius, Nak. setiap masalah yang datang dari dalam harus benar-benar selesai, sebab dalam perjalanan menikah, ada sangat banyak masalah yang datang dari luar. mungkin, sama seperti saat kita hendak menikah ya. kalau dulu eyang, papanya Ibu, bertanyanya kepada Ayah: kamu sudah selesai dengan dirimu sendiri belum?


nah, kalau kamu ingin keluargamu menjadi keluarga yang bisa bermanfaat, menyelesaikan banyak masalah umat, kamu dan suamimu nanti harus selesai dengan masalah-masalah internal keluarga kalian. dan itu artinya, kamu dan suamimu nanti, harus selesai secara sendiri-sendiri pula–dengan diri sendiri.”


“Yah, menurut Ayah, seperti apa orang yang selesai dengan dirinya sendiri itu, Yah?”


“damai, Nak. orang yang selesai dengan dirinya sendiri, hatinya selalu damai bagaimanapun di luar sedang badai. keluarga yang selesai juga sama. selalu damai di dalam keluarga tersebut, meskipun di luar badai sedang berkecamuk.”


kamu mengambil tempat tepat di belakang Ayah, lalu mulai memijiti punggungnya.


“Nak, syarat menjadi keluarga yang hebat itu adalah menjadi keluarga yang kuat. syarat menjadi keluarga yang kuat itu adalah menjadi keluarga yang sehat. syarat menjadi keluarga yang sehat itu adalah terpenuhi kebutuhannya. menyelesaikan masalah itu bagian dari kebutuhan loh, Nak. sifatnya harus karena memang perlu.


ingat, Nak. di luar sana ada banyak sekali sumber masalah. bahkan, tanpa kita datangi sekalipun, masalah hidup itu akan datang silih berganti dengan sendirinya. maka, jadilah seseorang yang selalu siap menemani pasanganmu dan anak-anakmu dalam menghadapi dan menyelesaikan itu semua. jangan beri kesempatan masalah itu ikut meretakkan yang ada di dalam. jangan beri kesempatan sampai ada orang lain yang berperan lebih besar untuk menyelesaikan masalah–itu sungguh sumber masalah yang lebih besar lagi.”


“siap, Yah. besok-besok kalau sudah menikah, pokoknya kalau tidur aku cuma peluk suami, bukan peluk masalah. hahaha…”


“hahaha… beruntung sekali ya suamimu itu nanti. dipeluk, dipijiti enak pula. Ayah pasti kangen jempol kamu.”

selalu ada yang lebih baik.

Mungkin dulu kamu berpikir, dialah yang tak tergantikan. Meski sudah ditinggalkannya, kamu enggan melepaskan jiwanya. Kamu masih menahan dirinya di dadamu. Memenjarakan diri dengan perasaan sendu. Kamu berpikir tidak akan ada yang bisa menggantinya.

Namun nyatanya, bulan berganti, tahun berlalu. Kamu bisa kembali menemukan seseorang yang tepat untukmu. Mungkin memang bukan dia, tidak sama dengan dia. Namun, kamu paham orang baru juga mampu memahami dengan cara yang baru. Hingga kamu menyadari; kenapa tak dari dulu membebaskan diri? Padahal, setelah ditinggalkan sendiri, kamu hanya perlu menemukan lagi. Menemukan yang lebih baik, lagi.


–boycandra

Dan teruslah berbaik sangka, karena kalimat “Kenapa hidup gini gini amat” akan berganti “Oh ternyata.. untung aja dulu gitu” pada waktunya. Maksud Tuhan selalu baik, tapi terkadang kita perlu waktu untuk bisa paham.

Here comes June.

1. Tak ada bahagia di masa lalu. Yang ada cumalah keindahan dalam kenangan yang takkan berulang lagi. Move on.

2. Kehilangan adalah untuk menemukan. Bila kita kehilangan sesuatu inshaallah Tuhan akan menemukan kita dengan yang lebih baik. Redha.

3. Yang terlepas dari kita itu mungkin bukan yang terbaik. Kerana yang terbaik itu tak boleh diganti. Terima kehilangan inshaallah akan ada yang lebih baik berganti. Sabar.

4. There’s no undo button in life. We can only learn, so we can change to be better.

5. We can’t take back what we’ve done. We can’t undo the past, cause the future keeps coming at us. We can only move forward.

6. Keep the past in the past. Move on. Learn from it, from our mistakes. What’s done is done, and the future is our to choose now, for better or worse.

7. Fight for the right cause. For the right person. Or else you gonna get hurt.

8. People can fail us. So don’t depend on them too much.

9. We hurt. We break. We bleed. But sometimes, going through all of that will make ourselves right. And change us to be better. So keep going. Don’t give up.

10. Just because things go wrong, it doesn’t mean we can’t fix it. It’s on us to take everything that wrong, and make it go right. It’s on us to try.

11. Our regret and frustration can rot us from the inside, if we decide to let it. Don’t let that happen to you.

12. We can start over. Every day, we get second chances to become better. We can decide. It’s never too late to change.

13. We can leave our past behind or we can learn from it.

14. No one wants to be left out in the loneliness, rejected and alone. That’s why you have Allah. He always listen to you. So make a du'a.

15. You can’t be scared of what’s next. Have faith that Allah will give you what is best. If you get hurt, you don’t have to go through it alone.

16. Think before you act or you will get into trouble.

17. Memories, no matter how painful it is, it is our most valuable possessions. Learn from it. They made us who we are.

18. Nobody is perfect or complete. That’s why we need Allah. That’s why we need to build up good relation with people.

19. Yang berlalu tak berulang, tapi tak semestinya kita tak boleh dapatkan yang lebih baik di masa hadapan. Masa kita memang singkat, tapi dalam masa yang singkat itu inshaallah kita boleh buat sesuatu yang baik dan bermakna.

20. Berikan masa pada doa dan takdir. Seduka mana pun kita, bahagia akan hadir juga - jika hati dan iman tetap berpaut pada-Nya.

21. Kadang-kadang tempat yang baik untuk memulakan sesuatu yang baru adalah pada penghujung / pengakhiran sesuatu. Tapi tak ramai yang nampak perkara tu, sebaliknya masih cuba membaiki perkara yang dah berlalu, yang dah tak boleh diubah.

22. Yang terbaik itu dalam rahsia Allah. Maka minta pada DIA, bukan merayu pada manusia.

23. Accept who you are. Accept your mistake. Then inshaAllah you’ll be better.

24. We have to accept everything, either good or bad, either smile or tears, either happiness or sorrow. Why? Because there’s lesson in everything.

25. Kadang Allah menjarakkan kita daripada orang tertentu, supaya kita tak terluka lebih dalam. Jangan bersedih kalau ditinggalkan, diabaikan, dijauhi. Kerana Allah tak pernah meninggalkan kita, tak pernah mengabaikan kita, tak pernah menjauhi kita. Carilah DIA, cuma DIA.

26. Time heals. And ending could be a good place to start something new.

27. Save your heart and yourself for yourself.

- sederhanaindah

p/s : Salam ramadan dan selamat melaksanakan ibadah berpuasa. Stay good!

Untuk setiap patah yang pernah singgah, terima kasih sudah memberikan pelajaran bahwa yang terbaik tak pernah datang dengan terburu-buru. Untuk setiap jatuh yang berulang kali singgah, terima kasih sudah membuktikan bahwa segala hal akan berganti juga terganti.
— 

Hujan Mimpi

Jangan bimbang tentang kenangan. Manusia akan matang seiring waktu & kenangan lama akan berganti dengan kenangan baru yang lebih baik.

Yang memilih untuk pergi, lepaskan. Yang masih ada, hargai. Walau yang masih ada tu cuma diri sendiri. The strongest person is the one who being left but still keep smiling & moving forward.
Nothing can be undone with the past. Accept it.

kebahagiaan akan lebih dihargai oleh mereka yang terluka, kerana mereka telah tahu betapa tidak patut sebarang kebaikan disia-siakan. ada seseorang ALLAH simpan untuk kamu, tapi dirahsiakan waktu. maka demi waktu, bersabarlah. jika tidak kamu akan kerugian.

actually feelings tak la complicated. yang complicatednya, kita takut untuk menghadapi sesuatu yang bukan terjadi mengikut impian kita. yang jadi tetap jadi. dan hidup perlu diteruskan.

dah nama pun luka, ia pasti sembuh. kerana ini dunia. tiada yang kekal di dunia. cinta ALLAH jangan ditunggu, tapi dicari. cinta manusia jangan dicari, tapi bersabarlah menunggu.

kerana Allah itu selalu ada, maka bertahanlah walau dalam duka. kan Allah yang cipta hati kita, mesti DIA tahu nak rawat bila patah. jadi serah pada DIA saja.

- ingatkan diri, jangan merindui manusia, melebihi rindu kepada Rasulullah SAW yang bakal memberi syafaat.

- ingatkan diri, jangan mendoakan orang lain, melebihi dari doa kepada kedua ibu bapa.

- ingatkan diri, dahulukan Allah kerana Allah pemilik dunia, akhirat, syurga dan neraka

- ingatkan diri, dahulukan ibu bapa sebelum orang lain, kerana redha mereka adalah redha Allah.

- ingatkan diri, jangan mencintai kerana rupa, harta, pangkat dan kata-kata. cintailah orang kerana imannya.

- ingatkan diri, jangan tenggelam dengan angan-angan, kerana orang yang panjang angan-angan akan melupakan mati.

- ingatkan diri, jika ada seseorang melangkah pergi, Allah masih sentiasa di sisi.

- ingatkan diri, jodoh itu inshaAllah, sedang mati itu pasti.

- ingatkan diri, jangan mudah melafaz cinta, kerana ada tanggungjawab pada keluarga yang belum terlaksana.

- ingatkan diri, jika orang tak mahu didekati, hormatilah dia, kerana dia sedang menjaga batas agama.

- ingatkan diri, rindu itu sia-sia, jika merindukan sesuatu yang belum pasti masa depannya.

- ingatkan diri, dakwahi diri sendiri sebelum bisa mendakwah orang lain

yang broken tu hati, bukan nyawa. teruskan hidup. teruskan berdoa. teruskan mencintai DIA. bertahanlah walau dalam duka. bersyukur kerana Allah sentiasa sayang kita.

Tuhan lebih tahu, apa yang terbaik buat iman kita. jadi jangan mengeluh atas takdir-Nya. hidup ni cuma sekali. buatlah yang terbaik.

DIAM DIAM MENGHANYUTKAN

Kok gak punya IG sih?

Kok jarang update status?

Kok fotonya itu mulu?

Zaman sekarang, sudah menjadi urusan yang mudah sekali bagi kita untuk mengetahui kesibukan serta kehidupan orang lain.

Untuk mengetahui apa yang dilakukan hari ini, liat saja di storynya.

Untuk mengetahui apa yang dilakukan minggu ini, liat saja feednya

Untuk mengetahui apa yang dilakukan bulan ini, liat saja untaian wallnya

Dengan adanya fitur ini, dengan mudah kita bisa memahami apa yang dikerjakan orang lain.

Ada orang-orang yang saya kenal, dia punya sosmed, dia mengurusnya dan mengisinya dengan berbagai karyanya. Hampir setiap karya yang dia buat, dia upload di sosial medianya. Orang seperti ini, menjadikan sosmed sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena dari sosmednya, ia bisa menjalani hidup.

Ada orang-orang yang saya kenal, dia punya sosmed, dia mengurusnya, bahkan merapihkan feednya. Foto-fotonya berkelas, caption-captionnya super bijak, jikalau kamu tidak mengenalnya, sudah pasti kamu akan menganggap bahwa kehidupannya sempurna. Orang seperti ini, menjadikan sosmed sebagai alat untuk menunjukan gaya hidupnya. Walau sebagian dari mereka yang saya kenal, sebetulnya hanya membuat-buat “seolah” ia punya kehidupan tersebut, padahal dia hanya pandai dalam membuat-buat kondisi yang dia tidak miliki.

Ada lagi tipe orang yang menurut saya juga cukup menyita perhatian, yakni orang-orang yang membiarkan sosmednya atau bahkan tidak memiliki sosmed sama sekali. Kadang kala, fotonya itu tidak berganti dari zaman dia bikin akun sampai bertahun-tahun lamanya. Postingannya tidak segar, ceritanya basi, bahkan kadang tanpa cerita apapun. Mungkin, dia memiliki akun tersebut, hanya sekedar untuk memenuhi syarat agar dianggap sebagai masyarakat kekinian.

Tapi yang keren dari tipe orang terakhir, yakni dibalik sepinya sosmed beliau, ketika akhirnya saya mengobrol secara langsung, ternyata banyak sekali pencapaian yang ia dapatkan yang tidak pernah orang lain tahu. Mulai dari menjadi juara kompetisi, membuat sebuah gerakan, membantu masyarakat, dan lain sebagainya. Melihat sosmednya tentu membuat anda malas untuk melihatnya, tapi mendengarkan kisah serta pencapaiannya, membuat anda enggan untuk beranjak walau untuk ke wc sekalipun, saking serunya.

Ya, di zaman sekarang, terkadang ada orang-orang yang menggembar-gemborkan sesuatu secara berlebihan di sosial medianya, ada juga orang yang tidak pernah terdengar sama sekali tentang kabarnya, tapi ada kesamaan dalam keduanya, kehidupan nyatanya tidak sesuai dengan kehidupan mayanya.

Dan saya pribadi, kadang merasa kagum dengan mereka yang selalu diam-diam, namun ternyata karya-karya mereka sudah jauh menerjang kami-kami yang disibukkan dengan “bagaimana kami harus terlihat di sosmed?”.

Yah, itulah zaman sekarang. Semoga kami tidak termasuk yang menggembar-gemborkan secara berlebihan. Walaupun diri ini memang sudah sulit untuk menjadi orang yang “diam-diam”, semoga kami menjadi orang yang “koar-koar menghanyutkan”, ribut iya, bermanfaat iya. Semoga yah, semoga.


DIAM-DIAM MENGHANYUTKAN
Bandung, 15 Mei 2017

suatu hari, saya membaca poster pengumuman yang sangat unik di kampus: semacam panduan bagaimana cara menghubungi dosen yang santun. sampai ke rumah, saya membahas hal ini dengan ayah dan ibu.

ayah dan ibu yang keduanya adalah dosen ikut tertawa dengan cerita saya. keduanya mengiyakan. “Bu, kira-kira kapan Ibu bisa ketemu saya?” kata salah seorang mahasiswa bimbingan ibu melalui pesan singkat. “Bu, saya tadi nitip berkas skripsi di satpam. kalau sudah dikoreksi kabari ya Bu,” kata yang lain. “Bu, skripsi saya udah dibaca?” yang lebih parah lagi, “Bu, saya nggak bisa kalau ketemunya di kantor ibu soalnya kejauhan dan nggak tau tempatnya. di kampus aja gimana Bu?” hehe. saya yang pernah jadi asisten dosen saja garuk-garuk kepala setiap dapat pesan serupa. apalagi ayah dan ibu, tentu bingung harus membalas apa.

saya jadi teringat masa-masa saya pertama kali boleh memiliki handphone sendiri. karena saat itu masih SMP kelas 3, tentu saja kebanyakan pesan-pesan di dalamnya adalah dari ibu dan ayah. teman-teman saya sering heran, si Mutia kalau ngobrol sama ibunya kok pakai bahasa baku sih? nggak kayak ibu dan anak kebanyakan. demikianlah, ibu dan ayah memang membiasakan kami berbahasa baku di rumah. ibu bahkan mengajarkan kami SOP menjawab telepon (dengan bahasa baku), menerima tamu (dan bertamu)–yang berkembang menjadi SOP berkirim pesan. dulu rasanya aneh, tetapi sekarang saya berterima kasih sekali kepada ayah dan ibu karena mendapat pendidikan itu.

menurut ayah dan ibu, literasi itu banyak sekali tingkatannya. melek aksara belum tentu melek bahasa. melek bahasa belum tentu melek etika. menurut ayah dan ibu, perkembangan zaman sudah hampir pasti menjadikan anak-anak melek aksara, tetapi belum tentu melek bahasa dan melek etika. tugas orangtua tidaklah hanya mengajarkan membaca–atau menulis dan berbicara–tetapi juga berbahasa, terutama yang santun.

tentang berbahasa ini, bisa panjang sekali buntutnya jika dianggap sepele saja. di media sosial, kita sering menemukan “perang” kata-kata. di grup-grup chat, kita kerap menemukan seseorang “dikeroyok”–entah dalam konotasi baik atau buruk–juga dengan kata-kata. padahal, kalau bertemu langsung, belum tentu sang pejuang “perang” berani. padahal, kalau berbicara satu-satu, belum tentu yang “mengeroyok” punya nyali. menurut ayah dan ibu, semua itu karena banyak anak-anak (generasi kita maksudnya, milenial katanya) yang melek aksara tapi buta bahasa, apalagi etika.

kita mah jangan. yuk ah belajar lagi bagaimana berbahasa yang baik: berbicara yang baik, berkirim pesan yang baik, berkirim surel yang baik–apalagi jika dalam ranah profesional. dalam ranah sosial pun sama, mengunggah yang baik-baik, berkomentar dengan kata-kata baik, berbagi dengan baik-baik. menghilangnya batas-batas ruang dan waktu karena teknologi tidak berarti menghilangnya batas-batas tatakrama. meleburnya kecanggungan kita dengan seseorang karena kedekatan tidak berarti meleburnya norma-norma kesopanan dan kesantunan.

pada setiap generasi selalu ada nilai-nilai yang bergeser, berubah, bahkan berganti. namun, kebahasaan adalah nilai yang tetap. saya yakin bahwa orang-orang besar di dunia ini adalah orang-orang yang kecerdasan berbahasanya luar biasa. berbahasa yang baik tidaklah harus bersayap-sayap dan bermanis-manis, berbahasa yang baik pada dasarnya adalah berbahasa yang jujur namun mengenal batas-batas.

Memesona itu Berani Bermimpi Tanpa Batas

Saya selalu terpesona dengan orang-orang yang tahu apa yang di-mau, melihat mereka yang berhasil berdiri dengan tegaknya di atas mimpi sendiri. Sungguh suatu hadiah diri paling luar biasa atas keringat dan air mata yang jatuh di setiap langkah menuju ke sana. 

Wanita pertama yang membuat saya langsung jatuh hati dan terinspirasi adalah @perempuanthicka. #Memesonaitu melihatnya bercerita bagaimana pekerjaannya sebagai penulis tentang kopi membawanya terbang ke mana saja. #Memesonaitu kilatan bahagia yang terlihat jelas di matanya, membuat saya percaya, bekerja sesuai dengan passion tak hanya akan membuat dompet mengembang, semangat dalam jiwa pun akan terus kenyang.

Tidak Ada Kata Terlambat

Dari kecil, kita sudah biasa ditanya tentang cita-cita. Dokter, pramugari, polisi dan banyak profesi keren yang lainnya. Namun, dengan bertambahnya usia, passion akan membawa kita ke tempat yang diinginkan. Kamu mungkin akan tersesat lebih dulu dengan salah jurusan atau pekerjaan yang hanya membuatmu mengutuk di setiap pagi. Tak pernah ada kata terlambat untuk berganti haluan, mengejar mimpi yang selama ini pura-pura kamu ikhlaskan. Di usia menjelang 30 tahun, saya masih terkungkung di rumah. Bekerja seadanya. Lowongan kerja kantoran bahkan meminta usia di bawah 26 tahun, bukan? Hobi menulis pun cuma jadi ajang curhat di blog. Sampai akhirnya tawaran bekerja sebagai content writer datang. Saya yang seorang Sarjana Teknik Pertanian, dengan tulisan acak adul yang mostly cuma puisi ala-ala? Serius? Tentu saja saya ambil! Apa sih yang tak bisa dipelajari? 

Keliling Diri dengan Vibe Positive

Bertemanlah dengan orang-orang yang punya energi positif. Mereka akan menulari kita dengan pikiran-pikiran optimis. Bagaimana mereka tetap semangat menghadapi hidup yang kadang kejam, atau tentang taktik menjauhkan diri dari penyakit hati. Belajar mendengarkan juga perlu. Karena setiap menyediakan telinga untuk mendengar, ada ilmu baru untuk dipelajari. Dari seorang teman, Titasya, saya belajar bahwa apapun bisa diraih asal terus berusaha. Sahabat yang juga bos saya ini mengajarkan bahwa penting untuk terus berkembang. Dari kawan lainnya, @tetavaganza saya belajar, bahwa terus berpositive thinking baik untuk kesehatan jiwa. Teman akrab ini juga membuat saya sadar, berbagi tidak akan pernah membuatmu kekurangan.

Berani Mendobrak Keluar dari Zona Nyaman

Keluar dari zona nyaman dan aman yang hangat memang sedikit menakutkan. Ratusan ‘bagaimana jika’ menghantui kepala dan memberati kaki untuk melangkah. Namun, kita tak tahu harta karun apa yang ada di luar kalau melangkah keluar saja tak berani. Ingat pepatah yang mengatakan, ‘Jangan mengharapkan hasil berbeda kalau masih melakukan usaha yang sama’, kan? Pertama kali menulis artikel, saya dapat tugas untuk membuat berita artis. Butuh waktu satu tahun bagi saya hingga akhirnya bisa menciptakan artikel yang enak dibaca dan paham bagaimana memilih tema yang menarik. Lalu, tawaran lain muncul. Bagaimana kalau menulis bidang baru? Traveling, misalnya? Sedikit menakutkan, memang. Tahu apa saya tentang traveling? Jalan-jalan juga paling jauh ke Jogja. Mendaki gunung pun belum pernah. Namun, sekali lagi saya tertantang menaklukkan bidang baru ini. Dan lagi, apa sih yang tak bisa dipelajari?

Tidak Berhenti Belajar

Berteman dengan berbagai macam orang dengan watak yang bervariasi, mau tak mau membuat saya banyak belajar tentang hal asing. Buat saya, hidup adalah sekolah sepanjang masa. Tempat di mana saya memberi makan otak dan hati dengan hal-hal baru setiap harinya, selama masih bernapas. Ilmu pun juga begitu. Saya memang sudah menyelesaikan pendidikan resmi, namun pelajaran hidup tak akan ada habisnya. Salah satu yang akhirnya saya pahami adalah ketika mengerjakan sesuatu sesuai passion, rasa haus akan ilmu di bidang tersebut tidak akan hilang. Contohnya, karena menulis tentang jalan-jalan, saya jadi semangat belajar memotret, bikin video pendek tapi informatif dan tetap seru. This is so much fun.

Bermimpi Tanpa Batas

Tak ada batasan untuk bermimpi. Kecintaan saya pada kopi pernah membuat saya bercita-cita untuk memiliki sebuah coffee shop agar tak perlu lagi membayar mahal untuk setiap gelas minuman surgawi yang saya minum. Kini, impian saya makin tinggi. Dalam jangka waktu 5 tahun ke depan, saya ingin menikmati kopi di kafe sendiri yang tak jauh dari rumah, menulis buku ke 2 atau ke 3 untuk diterbitkan, dengan anak-anak yang bisa mengganggu saya kapan saja. #Memesonaitu ketika kamu berani bermimpi tanpa batas.

Tetap Menginjak Bumi

Manusia bisa berubah karena harta dan derajat. Sombong nggak sih kalau belum apa-apa saya sudah khawatir tentang ini? Menurut saya, penting untuk mewanti-wanti diri agar tidak keblinger dan untuk terus membumi sejak dini. Saya ingat pesan sahabat lainnya, sekaya-kayanya manusia adalah ia yang bisa bermanfaat bagi orang lain. 

Jangan takut untuk bermimpi. Kalau terlalu menyeramkan berjalan sendiri, ajak saja teman yang punya passion sama. Pancarkan pesonamu dengan semangat menggapai impian!

Berani?

Menikahlah dengan orang yang mampu kau ajak berbicara. Bukan sekedar berbicara dengan biasa, tapi bercakap. Bertukar ide. Gagasan. Mau mendengarmu dan mau berbagi cerita denganmu.

Sebab pada hakikatnya menikah adalah kompromi. Ketika nanti semua hormon hormon jatuh cinta itu menipis, yang bisa dilakukan adalah bercakap dan kompromi.

Ketika masalah datang silih berganti, yang bisa membuat bertahan adalah kompromi.

Dan untuk berkompromi, butuh dua orang yang mampu merawat percakapan. Butuh dua orang yang sama sama mau mendengar.

Pernikahan manusia dengan manusia akan melahirkan manusia. Sedang pernikahan jiwa dengan jiwa akan melahirkan karya.

Jika yang patah tumbuh dan yang hilang berganti, untuk apa kita berhenti pada kesedihan yang tak berempati? Langkah hati haruslah tetap maju. Sebab di depan menanti hari-hari baru.

Here comes July.

1. You can’t buy your time back so don’t waste it on something that is not important.

2. Belajarlah untuk mengucapkan selamat tinggal kepada masa lalu dan hal-hal yang tidak betul.

3. Refrain yourself from hoping too high because too many times it will hurt you & let just live with what we have.

4. Try to change to be better or else we will stuck on the past and get left far behind.

5. Stop missing & dreaming & longing to something we didn’t had.

6. Don’t expect or hope for unrealistic things like “jangan pernah berubah”. Things always change. Be prepared.

7. Heavy hearts weigh us down so let it flow.

8. God doesn’t do coincidence. Good or bad, there must be a reason. He always have plan for us.

9. Carilah kebaikan walau dalam perpisahan sebab mencari keburukan takkan mendatangkan apa-apa malah bakal merosakkan hati sendiri.

10. Nak hati baik, kena selalu mencari dan melihat kebaikan. Jadi carilah kebaikan walau apa keadaan pun, walau sedang menangis dan kecewa.

11. Cinta tak selalu tepat waktu, kerana cinta itu selalu tepat dengan takdir.

12. Life is about two things, to hold and to let go. When the time comes to hold it, hold it. When the time comes to let it go, let it go.

13. Berdamailah dengan kenangan. Jangan memaksa apa yang telah terhapus sebelum ini menjadi satu realiti.

14. To be rejected by someone doesn’t mean you should also reject yourself. Please, move on.

15. Anything that might hurt you would just make you stronger in the end. Please, move on.

16. You have your own happiness to think about. Please, move on.

17. It is true that love cannot last forever. But it is also true that heartbreak is soon forgotten. You just need to accept reality.

18. It hurts when it hurts, but the aching will pass. No pain last forever. Ia akan sembuh seiring masa seiring doa.

19. Please know who you are and be that person.

20. Please accept and love yourself.

21. Have courage to let go of the things that are not meant for us.

22. Don’t love too fast because the worst case scenario is to love someone so much only to realize, you should not have fallen in love.

23. Time can erase both joys and pains. I just hope whatever it erase, it is the best for us.

24. People always change. Knowing that mean you should keep changing too. That’s what being alive means. That you should not stay behind.

25. We are human. We screw up. We lose our way. still, we need to move forward. Force ourselves to keep learning. To keep trying. To be better.

26. Manusia akan matang seiring waktu dan perkara-perkara yang berlalu akan berganti dengan yang lebih baik, inshaAllah. Tabah dan kuatlah.

27. Time passes and feeling changes. But please, please, please, always make a du'a ; for you. For yourself. For your heart. For your life.

- sederhanaindah

p/s : i’m not writing for you to like me. I write so that you would like yourself more. Stay good, okay? You will be alright.

Luka yang Dipenuhi Rindu

Ada luka yang kemudian menyeruak dari sebuah peristiwa
Ada duka yang kemudian menyapa dari sebuah pilihan
Ada penyesalan yang silih berganti hadir sebab keputusan
Dan aku menjadi kacau atas seluruh rasa yang hinggap

Kau pernah merasakan rindu dengan teramat?
Aku sedang, namun mengucapnya aku begitu enggan

Kau pernah merasa sakit sebab sebuah pilihan?
Aku sedang, tapi masih tak percaya dengan keputusan

Kau pernah menjadi kecewa hanya karena sebuah laku yang berulang?
Aku sedang, dan pedihnya menjalar memenuhi seluruh relung

Aku mengaku rindu namun aku tak bisa untuk menurutinya. Sebab ternyata, luka dan duka yang dibuat sama kuatnya dengan perasaan rindu itu.

Hujan Mimpi

Cerpen : Aku Meracau Lagi.

Apa orang yang sedang patah hati suka meracau? Apa cuma aku yang begitu?

Pagi ini adalah pagi yang berjalan paling lambat dalam hidupku. Setidaknya dua puluh lima tahun ini. Detik demi detik terasa begitu lama berganti. Baru kali ini aku merasa kehilangan yang sebegininya. Kehilangan itu bernama perpisahan. Perpisahanku dengan perasaanku sendiri. Dan entah keberanian macam apa yang merasukiku, aku justru menantang perpisahan itu. Aku datang menghadapinya.

Klasik. Sebenarnya kisahku klasik. Mungkin kamu yang sedang mendengar racauanku akan berkata demikian karena kamu tidak mengalaminya. Ini memang seperti drama-drama kemarin sore yang diseruput bersama teh manis hangat berlatar hujan dan suaranya yang mengguyur tanah serta pepohonan sekitar.

Perpisahan itu memiliki nama lengkap : Aku Ditinggal Menikah oleh Perempuan yang Aku Sukai. Dan entah hatiku ini terbuat dari apa, aku justru datang di akad nikah dia-yang-beberapa-bulan-lalu-kuajak-menikah. Ternyata aku saja yang terlambat datang. Tidak tidak, maksudku aku saja yang terlambat menseriusi ajakanku.

Nafasku berat, tidak sekali dua kali. Tak tahu sudah keberapa kali pagi ini. Aku datang. Hari ini aku datang. Hari ini, di hari aku merasa lebih rapi, lebih tegap, dan lebih berani dari biasanya, aku justru merasa rapuh di luar biasanya. Sebenarnya aku sudah mencoba merelakan tiga bulan terakhir ini, tapi nyatanya tak semudah itu. Ikhlas itu susah bukan main, pantas saja dijanjikan-Nya balasan yang berlebih.

Aku sudah menyibukkan diri, aku sudah lanjut bekerja, aku sudah berhenti memikirkan dia. Hanya saja ada retak yang takhenti disini. Sepertinya lara itu terus berdegup. Ah! Potongan-potongan kenangan itu hilir mudik di ingatanku. Persis seperti arus mudik lebaran. Padat merayap. Mungkin ini karma, karena aku terus mengelak bahwa sejak kudengar kabar darinya bahwa dia akan menikah dengan orang lain…aku sedih, sedih sekali :)

“Tapi yang berjuang bukan cuma kamu saja Dit.” Katanya tempo hari saat aku bilang aku benar-benar ingin menua bersamanya. Nah kan, percakapan itu datang lagi, mondar-mandir di benakku. 

“Mmm..tapi aku nggak papa kan berjuang?”

“Cuma aku nggak berani menjanjikan apa-apa”

“Nggak papa, aku cuma perlu membuktikannya. Bukan ke kamu. Tapi ke orangtuamu.” Dan aku termakan omongan sendiri. Ada yang lebih dulu membuktikan keseriusan ini pada ayah dan ibunya.

Aku tak tega bilang dia jahat. Karena tidak ada yang jahat disini. Memang jalannya saja yang belum bertemu. Tapi dia jahat. Ya Tuhan, sekali ini saja aku bilang dia jahat. Setelah ini nggak lagi. Perasaanku apakah sama sekali tidak menjadi pertimbangannya? Kehadiran dan kedekatanku selama ini apa sama sekali tidak masuk hitungan? Apa dia nggak sadar kalau aku tengah memperjuangkannya? Terus siapa laki-laki itu? Dan kenapa dia? Kenapa?

Ya…

Memang jalannya yang sudah harus begini. Mungkin bukan aku yang muncul di kemantapan hatinya setelah ia istikharah berkali-kali. Mungkin bukan aku pula yang dipilihkan ayah dan ibunya. Mungkin aku hanya harus lebih cepat menerima kenyataan bahwa kami tidak berjodoh. Dan mungkin racauan ini harus segera disudahi.

Sudah sah kan? Barusan ku dengar dia sudah sah. Dan kini aku turut mendoakannya.

Selamat ya. Selamat menua bersama. 

Salam dari yang sempat ingin menjadikanmu istrinya,

Radit.

Rejeki dari ALLAH itu pasti CUKUP UNTUK HIDUP tapi TIDAK akan CUKUP UNTUK MEMENUHI GAYA HIDUP

Kenalan saya seorang perencana keuangan di Jakarta punya banyak klien dari kalangan artis, dia cerita waktu itu pernah dicurhati seorang artis yang tiap hari nongol di tv, terkenal dimana-mana, tapi buat bayar cicilan mobil 5 juta saja tidak punya.. Gaya hidup akhirnya meremukkan hidupnya.

Saya pernah kenal seorang presenter TV nasional, kalo sedang tampil rapi pakai jas rapi sekali, hanya sekali ketemu di seminar, dia minta nomer HP. Sebulan kemudian dia SMS..
“Mas, saya pinjam uangnya 1 juta bisa? Minggu depan saya kembalikan..”
Walaaah..

Tahun 2009 malah ada vokalis band terkenal, saya kenal sejak 2003 ketika dulu masih kerja di EO sering saya ketemu waktu saya jadi stage manager. Lagunya ngehits di semua radio, satu sore ngajak ketemu.. Ujung-ujungnya pinjam uang dengan alasan ini itu.. Dan sampai hari ini tidak pernah dikembalikan hingga tahun-tahun berlalu..

Kisah Ustad Luqmanul Hakim gak kalah unik, waktu masih kuliah S2 di Malaysia dia diundang makan di sebuah restoran mewah oleh salah satu kawannya. Ustad Luqman bahkan diminta memindahkan parkiran motor bututnya agar tidak menggangu pemandangan di halaman depannya. Usai makan, kawannya justru curhat dan minta nasehat, sambil menunjuk mobil mewah di halaman depan yang sudah 6 bulan cicilannya belum terbayar..

Betul kan, rejeki dari Allah itu PASTI CUKUP untuk hidup, tapi TAK AKAN CUKUP untuk gaya hidup..

Kisah nyata sebaliknya dari Ustad Luqman,
Seorang ibu tua dengan kain jarik datang ke sebuah masjid usai jumatan, panitia dan takmir sedang berkumpul sambil duduk menghitung uang hasil infak jamaah hari itu. Ketika ibu itu datang dengan baju sangat biasa dan berkain jarik, salah seorang dari mereka berdiri, mendekati ibu itu sambil berkata, “maaf bu, disini tidak menerima sumbangan..”
Ibu itu membuka lipatan kain jariknya, mengeluarkan uang berwarna merah, biru, merah, biru, merah, biru.. berlembar-lembar banyaknya, sambil berkata
“Maaf nak, saya mau ikut bersedekah untuk pembangunan masjid ini.. Ini uangnya mohon diterima..”
Seketika para takmir itu menunduk, tak ada yang berani memandang wajah ibu itu.. Salah tingkah dan menahan malu…

“Suatu malam, Ustadz Muhammad Nazhif Masykur berkunjung ke rumah. Setelah membicarakan beberapa hal, beliau bercerita tentang tukang becak di sebuah kota di Jawa Timur”

Ustadz Salim melanjutkan, “Ini baru cerita, kata saya. Yang saya catat adalah, pernyataan misi hidup tukang becak itu, yakni:
(1) jangan pernah menyakiti
(2) hati-hati memberi makan istri.“

“Antum pasti tanya,” kembali Salim melanjutkan ceritanya sembari menirukan kata-kata Ustadz Muhammad.
"Tukang becak macam apakah ini, sehingga punya mission statement segala?”.
Saya juga takjub dan berulang kali berseru, “Subhanallah,” mendengar kisah hidup bapak berusia 55 tahun ini.

Tukang becak ini Hafidz Qira’at Sab’ah! Beliau menghafal Al-qur’an lengkap dengan tujuh lagu qira’at seperti saat ia diturunkan: qira’at Imam Hafsh, Imam Warasy, dan lainnya.
Dua kalimat itu sederhana. Tetapi bayangkanlah sulitnya mewujudkan hal itu bagi kita.

Jangan pernah menyakiti. Dalam tafsir beliau di antaranya adalah soal tarif becaknya.
Jangan sampai ada yang menawar, karena menawar menunjukkan ketidakrelaan dan ketersakitan.

Misalnya ada yang berkata, “Pak, terminal Rp 5.000 ya.“ Lalu dijawab,“Waduh, enggak bisa, Rp 7.000 Mbak.”
Itu namanya sudah menyakiti. Makanya, beliau tak pernah pasang tarif.
“Pak, terminal Rp 5.000 ya.” Jawabnya pasti OK. “Pak, terminal Rp 3.000 ya.“
Jawabnya juga OK. Bahkan kalau,“Pak, terminal Rp 1.000 ya.” Jawabnya juga sama, OK.

Gusti Allah, manusia macam apa ini!

Kalimat kedua, hati-hati memberi makan istri. Artinya, sang istri hanya akan makan dari keringat dan becak tuanya. Rumahnya berdinding gedek. Istrinya berjualan gorengan. Stop! Jangan dikira beliau tidak bisa mengambil yang lebih dari itu. Harap tahu, putra beliau dua orang. Hafidz Al-qur’an semua.

Salah satunya sudah menjadi dosen terkenal di perguruan tinggi negeri (PTN) terkemuka di Jakarta. Adiknya, tak kalah sukses. Pejabat strategis di pemerintah. Uniknya, saat pulang, anak-anak sukses ini tak berani berpenampilan mewah. Mobil ditinggal beberapa blok dari rumah. Semua aksesoris, seperti arloji dan handphone dilucuti. Bahkan, baju parlente diganti kaus oblong dan celana sederhana.

Ini adab, tata krama.

Sudah berulang kali sang putra mencoba meminta bapak dan ibunya ikut ke Jakarta. Tetapi tidak pernah tersampaikan. Setiap kali akan bicara serasa tercekat di tenggorokan, lalu mereka hanya bisa menangis.

Menangis. Sang bapak selalu bercerita tentang kebahagiaannya, dan dia mempersilakan putra-putranya menikmati kebahagiaan mereka sendiri.

Ustadz Salim melanjutkan, “Waktu saya ceritakan ini pada istri di Gedung Bedah Sentral RSUP Dr. Sardjito keesokan harinya, kami menangis.

Ada banyak kekasih Allah yang tak kita kenal.”
Ah, benar sekali: banyak kekasih Allah dan “manusia langit” yang tidak kita kenal.

Kawanku.. Hari terus berganti, matahari datang pagi ini, dan menghilang sore nanti..
Usia kita terus bertambah, tanpa sadar banyak hal yang begitu saja kita lewatkan hanya untuk mengejar dunia yang sementara..
Padahal esok pada waktunya, kita semua saat pulang ternyata hanya dibungkus kain kafan tak bersaku.. Tak ada bekal uang yang berlaku..

Semua harta yang selama ini kita kejar habis-habisan, ternyata semu belaka.. Pangkat, jabatan, kemewahan yang selama ini dibanggakan akan berakhir ditimpun tanah kuburan..

Banyak orang yang mengejar label kaya dengan menggadaikan dunianya, harga diri sudah musnah entah kemana..
Sementara, banyak orang yang diam-diam ternyata kaya raya, dan lebih suka mencari muka hanya pada Tuhannya..

Benar kata kawan saya Mas Arief Budiman..
ORANG KAYA adalah orang yang selalu merasa cukup, sehingga dia terus berbagi..

ORANG MISKIN adalah orang yang selalu merasa kurang, hingga dia terus meminta-minta…

Salam,
@Saptuari

Jodohmu Adalah Ujian Hidupmu

“Aku ingin bertemu jodohku dan menikah dengannya”. Setiap manusia pasti menginginkan hal itu, pertemuan dengan jodohmu kelak adalah bagian dari rentetan cerita indah yang Tuhan tuliskan untuk hidupmu dan dia (tulang rusukmu). 

Namun tahukah kau, bahwa sebenarnya jodoh dan pernikahanmu itu adalah sebuah ujian Tuhan yang akan terus menerus kau nikmati? 

Mengapa bisa jodoh dan pernikahanku sebenarnya adalah sebuah ujian dari Tuhan? 

Kau akan menghadapi perbedaan yang mungkin sangat mencolok antara dirimu dengannya, kalian berdua akan bertumbuh setiap hari dengan perbedaan pendapat, pemikiran dan selera.. Dan itu semua adalah ujian kesabaran serta penerimaan yang harus kalian berdua lewati bersama. 

Pelajaran seumur hidup yang hanya akan berakhir ketika salah satu diantara kalian di jemput oleh kematian. Kau akan menjalani pernikahan yang tak selalu berjalan mulus, pertengkaran, air mata dan tawa bahagia yang datang silih berganti, setiap waktu. Ujian tentang komitmen, ketabahan hati, membangun cinta dan solitnya kerjasama akan ada di setiap langkah pernikahanmu, namun itu semua akan menjadi cerita indah ketika kalian berdua mampu melewatinya dengan tabah dan tetap berpegangan tangan dengan penuh cinta dan keimanan. 

Jodohmu adalah ujian bagimu, dan begitupun sebaliknya, kau adalah ujian untuknya. Semoga Allah, senantiasa menjaga hati dan iman kita. 

- Satria Utama