berebut

Roma dan Liverpool Berebut Talenta Divisi Dua Spanyol-JPNN.com

ITALIA – Liverpool dan AS Roma akan bertarung berebut remaja 19 tahun Dani Ceballos dari Real Betis.

Ceballos kini merupakan anggota tim Spanyol U-21 meski usianya baru menginjak 19 tahun minggu lalu. Dilansir dari laman Football Italia, kontraknya dengan Betis akan berakhir pada Juni 2016 dan tak ada tanda akan diperpanjang.

Liverpool memimpin perlombaan karena telah mengajukan penawaran sebesar…

View On WordPress

Serunya Berebut Tumpeng di Makam Syekh Jumadil Kubro, Mojokerto

Serunya Berebut Tumpeng di Makam Syekh Jumadil Kubro, Mojokerto

External image

Mojokerto – Mojokerto punya objek wisata religi yaitu makam Syekh Jumadil Kubro, kakek para Wali Songo. Setiap peringatan hari wafatnya ramai dengan wisatawan peziarah berebut tumpeng agung. Peringatan Haul atau hari wafat punjer Wali Songo, Syekh Jumadil Kubro yang ke-640 di kompleks makam Troloyo, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Mojokerto berlangsung meriah, Selasa (27/10/2015) sore…

View On WordPress

Memilih Buah Pir Terkecil

Kong Rong adalah anak ke 6 dari 7 bersaudara, yang tinggal di kota Taishan pada masa Dinasti Han Timur. Ayahnya bernama Kong Zhou. Sejak kecil Kong Rong cerdik, sopan, pintar dan berpengetahuan luas. Pada suatu hari, datang seorang teman Kong Zhou memberikan sekeranjang buah Pir. “Anak-anak ayo makan buah Pir,” kata Kong Zhou kepada anak-anaknya. […] Related posts:

* Tao Qian http://to.tionghoa.com/5vsKRl

Rintik Pertama

Kepada kamu yang sering buatku cemburu

Aku sudah tiba di Yogyakarta. Kota yang memancarkan damba, kota yang membawaku kepadamu kali pertama. Di kotamu itu, kujelajahi semesta, ke semua arah yang senantiasa bermuara, ke matamu. Sepasang berbunga manakala menyimakku bercerita. Kubuat jejak, tempat di mana puisi-puisi kita akan berpijak. Kemudian hendak kulayari satu-satu, gemeretak detik di antara detak-detak itu.

Malioboro tidak pernah sepi, sama seperti pikiranku. Bertumpuk-tumpuk hal berebut sisi. Berjubel sampai bingung cara mengemasi. Ajaibnya, kamu selalu mendapatkan ruang, tidak peduli seberapa banyaknya kalut berdesakan. Konon, pertemuan adalah sebuah perayaan. Bagaimana dengan kehilangan? “Aku tidak ingin mengenalnya,” kamu berbisik suatu ketika. Kurasa, melepas dan memiliki hanyalah kesepakatan yang banyak orang buat sendiri. Nyatanya, tidak banyak yang pernah benar-benar mengerti.

Aku tidak tahu terjebak di antara yang mana, yang aku tahu aku bohong jika aku bilang aku tidak butuh kamu saat ini. Aku bilang saat ini bukan nanti. Tetapi dalam kata semenjak, kamu seakan mengarak pendar-pendar nanti yang (sebenarnya) tidak kupercaya pasti. Ya, semenjak kamu mengatakan akan selalu memboncengku nanti, semenjak aku mengatakan aku tidak bisa mengendarai motor sendiri.

Sudah Februari. Sudah hujan. Sudah rindu. Sudah bertemu. Meski saat berada di kotaku, aku sering cemburu. Aku cemburu pada rintik yang sanggup menyentuh tanganmu lebih dulu. Aku cemburu pada rerintik yang kautulis lebih dulu.


Ditulis saat sedang hujan dan cemburu.

Irawati Ningsih
05 Februari 2016

Festival Buah di Banyuwangi Diwarnai Aksi Berebut 'Tumpeng' Durian

Festival Buah di Banyuwangi Diwarnai Aksi Berebut ‘Tumpeng’ Durian

External image



Banyuwangi – Festival buah asli Banyuwangi resmi dibuka bersamaan dengan festival nasi tempong. Pembukaan festival buah itu diwarnai aksi berebut ratusan buah durian yang disusun menyerupai tumpeng.

Ratusan warga yang menyemut kontan menyerbu ‘tumpeng’ durian serta aneka buah yang dipajang di depan lokasi festival di sudut Taman Blambangan, Sabtu (28/3/2015).

Pengunjung yang juga terdapat…

View On WordPress

Penyesalan pertama.

Oma, Luli kangen. Umur Luli sudah 22 tahun, mau 23 tahun ini. Terakhir lihat Oma umur delapan tahun. Sudah lebih dari 10 tahun yang lalu. Lama sekali. Renal sudah 21 tahun, 22 Mei nanti. Devi dan Dea sudah besar juga. Astrid pun. Oma, kita semua kangen. Mama, Om Taufik, dan Tante Uni pun pasti kangen.

Luli belum bisa cerita apa-apa. Luli belum punya anak. Haha. Suami saja belum. Padahal Oma menikah di umur 13. Luli umur 22 masih begini-begini saja. Jadi malu hehe. Tapi Luli juga sedang berusaha kok, Oma. Sabar, ya? Akan ada masanya Luli bercerita tentang hidup Luli yang akhirnya bisa Luli banggakan.

O ya, maaf Oma, Luli nggak pernah lagi membacakan al-fatihah banyak-banyak setiap hari Jum’at untuk Oma. Bukan karena Luli lupa atau sibuk. Hanya saja Luli sudah tidak beragama Islam lagi. Luli Kristen, ikut Eyang. Semoga Oma nggak kecewa. Ini pilihan Luli.

Luli kangen berebut sama dek Renal untuk duduk di pangkuan Oma, menonton film India kesukaan Oma, sampai daster Oma sobek-sobek. Dek Renal masih suka nonton film India, Luli nggak begitu. Memang ya, dek Renal itu cucu kesayangan Oma.

Mama sekarang sudah nggak suka marahin Luli dan dek Renal lagi. Mungkin Luli dan dek Renal sudah terlalu tua untuk dimarahin Mama, mungkin Mama akhirnya menjadi dewasa. Kalau Luli sedang bantu Mama masak-masak, Mama sering bercerita tentang Oma. Bagaimana Oma mendidik anak-anak Oma dengan keras, betapa didikan Mama nggak ada apa-apanya. Tapi hidup Oma memang keras, hidup Mama pun. Kalian berdua wanita terhebat yang pernah Luli kenal. Wanita kuat. Wanita perkasa. Semoga kekuatan dan kehebatan kalian menurun ke Luli.

Luli baru tahu nama lengkap Oma lama setelah Oma meninggal. Hasnah Darise. Nama yang cantik dan menggambarkan Gorontalo, Luli rasa. Entah. Luli tidak tahu banyak menyoal tanah kelahiran Oma. Luli ingin tahu. Sebenarnya banyak yang ingin Luli tahu tentang Oma. Rasanya cerita Oma menarik, Luli hanya menangkap sepenggal-penggal dari cerita Mama. Luli ingin mendengarnya dari sudut pandang Oma, menelusuri jalan hidup sosok yang memberi jalan untuk Luli hidup. Luli ingin tahu apa yang membentuk Oma dan belajar dari situ, seperti Luli tahu apa yang membentuk Mama dan belajar dari situ.

Maaf Luli nakal dan cenderung jahat di masa-masa terakhir Oma. Belagak kuat, belagak tak acuh. Padahal Luli menangis saat tahu Oma meninggal setelah lama dirawat di Rumah Sakit. Luli ingat betul langsung memeluk Papa, terisak, “Luli nggak punya Oma lagi.” Duh. Mengingatnya saja bikin sakit sendiri. Luli sungguh kangen dan menyesal tidak banyak menghabiskan waktu untuk memijat kaki Oma. Tapi Luli masih kecil waktu itu, Oma. Tidak tahu bahwa kematian bisa menyapa kapan saja. Tidak akan pernah ada yang benar-benar siap untuk menyambut tangan dinginnya yang terulur, menjemput. Sekali lagi, Luli minta maaf.

Terima kasih sudah pernah ada, Oma. Terima kasih juga warisan gen rambut keriting dan hidung mancungnya. Meski sering jadi bahan olokan teman-teman, Luli tetap suka. Terima kasih. Semoga Luli bisa menjadi sehebat Oma dan Mama, bahkan lebih lagi. Yang tenang ya, Oma. Luli sayang Oma.

Bahagiaku

Bahagiaku adalah ketika aku mulai berkenalan dengan kalian lima setengah tahun yang lalu di sebuah momen yang tak pernah akan kulupa. Momentum dimana kita sering berjumpa di pagi, siang, ataupun sore. Jalan setapak dan bangunan megah pinggir danau itu menjadi saksi setiap pertemuan-pertemuan kita. Betapa syahdunya pagi hari di tepi danau, kita bertemu, ruh kita saling menyapa, memastikan stamina iman masih baik-baik saja dan ibadah semalam senantiasa menyejukkan jiwa.

Bahagiaku adalah ketika pertemuan demi pertemuan kita susun untuk membicarakan agenda kebaikan, juga untuk melaksanakan kegiatan demi kegiatan dalam rangka berbagi kebaikan dan kebahagiaan. Kita merajut ukhuwah bersama, dalam indahnya kebersamaan, dalam bingkai keimanan dan ketaqwaan.

Aku jadi rindu masa-masa dimana kita makan bersama dari nampan yang sama. Tak ada yang berani memulai makan jika masih ada teman yang belum siap, pasti kita akan menunggu hingga semua siap. Makanan apapun terasa nikmat dan mengenyangkan, terkadang kita bercanda saling berebut lauk atau saling memaksa teman untuk menghabiskan makanan jika diri sendiri sudah kenyang tetapi makanan di nampan masih banyak, semua harus dihabiskan agar tidak mubadzir. Kapan lagi ya kita akan makan senampan bersama? Mungkin nanti jika kita reunian bersama keluarga kita ya kita makan pake nampan lagi biar seru, hehe.

Aku juga rindu masa-masa kita saling bertukar pesan untuk saling jumpa, dari rapat ke rapat berikutnya, dari mabit ke mabit selanjutnya, dari fakultas ke fakultas lainnya, dari satu dauroh ke dauroh yang lain. Kini perjumpaan kita telah bertransformasi, lebih sering saling sapa dalam do'a dan dunia maya, beberapa kali setiap bulan berjumpa tatap muka pada yang masih bisa terjangkau jarak.

Obrolan kita di grup juga sudah melesat jauh, selain parade “Barakallahulakuma…“, "Barakallah atas garis duanya semoga bunda dan dedeknya sehat”, kemudian “Barakallah atas kelahiran putera pertamanya”, “Barakallah atas diterima beasiswa dan LoA nya”, juga “Barakallah atas project barunya, dbest deh…” di room chat setiap harinya, kita juga saling menasihati & berbagi informasi, saling berkabar tentang proyek kebaikan apa yang sedang digarap, juga membahas tentang bagaimana membangun bangsa, mengkolaborasikan kebaikan-kebaikan yang kita rintis di bidang masing-masing dengan proyek-proyek rekan yang lain. Dan yang pasti kita masih selalu merencanakan akan berguru pada siapa bulan ini dan bulan depan, ah lagi lagi aku bahagia bersama kalian, kita benar-benar tumbuh bersama!

Alhamdulillah. Bahagiaku adalah memastikan kita masih baik-baik saja, masih bersama-sama, di jalan cinta para pejuang. Semoga kan selamanya seperti ini.

© Istiqomah Nur Khasanah

Perjalanan menuju Depok, 8 Februari 2016

02.56 WIB

Dek sini dek.. Coba liat diatas sana, banyak harapan harapan manusia berterbangan.. Mereka saling berebut untuk masuk ke gerbang seleksi sang pencipta. Ada yang lolos tapi tidak sedikit yang jatuh. Jangan takut berharap dek, jangan takut kalau harapan itu tidak terwujud karena percayalah Dia Sang Maha Tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan manusia. Happy long weekend 🌴

#djiglobal #iamdji #dronepilot #djipilot #djiphantom #djiphantomindonesia #droneindonesia #aerials #folk #quadcopter #outdoors #multirotor #dronesaregood #instadrone #flysafe #aerialphotography #travel #beach #folkplace #goodvibes by montanamalang http://ift.tt/20L1g8K

Teluk Sumbang, 18 Januari 2016

ku tulis catatan harian ku di bawah sinar putih lampu rumah ini. Listrik dari mesin domping tidak lagi membanjiri sebagai energi, berganti energi tenaga matahari. Bila kau perhatikan, aku menulis sembari beradu dengan remang, berebut cahaya. Bahkan bulan tak masuk cahayanya ke dalam ruang ini.

Mereka masih saja luarbiasa, masih sama, bahkan lebih hebat dari saat terakhir kali aku tapakkan kaki di teluk ini. Mereka masih saja, mengagumi semua petualang rimba, masih sangat merindukan petualang rimba. Khayalan mereka semakin tinggi, hingga nanti bisa bertemu kembali di luar teluk ini. Candaan, tawa, bahkan obrolan malam ini dengan bunda, dengan mas-mas, tak lepas dari 6 petualang yg jasadnya tak hadir bersamaku. Hanya saja, semangat mereka hadir bersamaku, semoga itu bisa mengobati rindu kalian. Malam ini, mereka dirundung rindu. Kupastikan, 6 kepala itu juga rindu. Ku pastikan, mereka mendengar apa yang kalian ucap, apa yang kalian harap. Hingga satu waktu, kami datang dengan lengkap di sepotong hari.

“Kemana perginya yang lain? Mengapa tak ikut kembali?”

Pertanyaan yang selalu saja kudapat, dan enggan sekali ku jawab. Siasat seperti apapun yang ku siapkan, aku tidak bisa bila tidak berkata yang sejujurnya. Bahwa mereka tidak datang bersamaku, hanya semangat dan ruh mereka yang menemaniku, pun matahari.

Itu adalah pertanyaan yang menyedihkan, mengingatkan aku selama 60 hari tinggal di pondokan. Berjalan dengan 7 personil lengkap di batas jalan, dengan candaan mereka. Apa yang paling mereka rindukan? 6 petualang rimba kalimantan, penguji tanah etam, borneo kecil.

Bagaimana bisa aku hadir kedalam ruang kelas ketika mereka tidak ada, itu sulit.

Bagaimana bisa aku terbangun di pagi saat tak ada mereka yang bangun lebih pagi, itu sulit.

Hanya semangat dan matahari, yang membuat aku bisa melewati semuanya. Terutama matahari, ia adalah aku dan aku adalah ia, kami satu. Menurutku.

Demam, hari ini suhu tubuhku tidak seperti biasanya. Hangat matahari bersamaku, ketika kau sentuh dahi ku, maka kau rasa hangat matahari masuk kedalam sukmamu.

Pil-pil besar dan kecil sisa aku berobat kemarin masih ada, semoga itu bisa ku andalkan. Segelas air kapur yang matang, ku tenggak dengan mantap bersama obat-obatanku. Sembuh adalah satu-satunya cara agar aku bisa bergerak bebas esok hari. Hei, matahari, doakan aku ya!

Dari sini, matahari terlihat lebih menakjubkan. Asal kau tahu, lembayung senja, mendayu mengiringi langkah ku di setiap sudut teluk ini. Ia mengajarkan ku untuk bisa berjalan di terik matahari. Ah, aku teringat dengan sepotong rindu dan sebuah titik. Dimana aku sangat ingin menghadirkan temu, di sebuah titik sebagai kata ganti dari akhir.

Andai saja matahari melihatku saat ini, apa kah ia masih mau menjenguk dan menengok keberadaanku? Hei, aku semakin memburuk tanpamu.

Kembali

Yah.. dan akhirnya ku putuskan untukk kembali ke tempat itu lagi. Aku ingin kembali, oh salah, bukan ingin. Aku tak apa jika kembali. Baiklah, aku tak apa kembali tapi jangan perintah aku untuk kembali dalam waktu dekat ini. Aku belum sanggup lagi menerimanya setulus dulu. 

Biarkan saja nanti hujan membasahi luka yang mengering ini. Dan biar waktu menjawab .. 

Aku ingin kembali jika nanti kerinduan ku untuk tempat itu kembali muncul. Rindu untuk menjalani rutinitas hidup di sana. Rindu berebut mencari antrian mandi pagi dan sore. Rindu mengisi muhadharah dan halaqah taklim. Rindu panggilan hangat dari orang-orang terkasih di sana. Rindu menanti jam setengah sembilan untuk membaca kitab. Rindu duduk di maktabah (bc:perpustakaan). Rindu dibully teman-teman sana. Rindu makan di warteg spesial nomer satu di ssana. Rindu tidur di kasur tipis yang sudah lapuk usia. Rindu hari-hari Maqliyyat (bc:gorengan) datang, hari selasa dan sabtu. Rindu kamarku, lantai dua ku. 

Yah, dan rindu si Nuril, best friendku, rindu teman halaqah maktabah, Hanan, Marfu’ah, Luluth. Rindu Ocy, mba Halim, dan semua kelompok piket memasakku. Dan bila nanti, aku rindu semuanyaa..

Tolong beri aku waktu.. aku mohon.. aku janji aku kembali. 

Kepada : Kau Yang Kupanggil Kakak

Iya ini surat untukmu, Kak. Ah rasanya aneh memanggilmu Kak, aku lebih terbiasa memanggilmu Mas. Baiklah mari kita mulai, izinkan aku menyita waktumu yang berharga. Bagaimana kabarmu hari ini ? Kemarin ? Dan kemarinnya lagi ? Adik macam apa aku. Iya aku jarang menanyakan kabarmu. Tapi aku tahu kau pasti baik-baik saja.

Terlahir menjadi anak pertama, bagaimana rasanya ?  Terlebih setelah mendapati bahwa adikmu ini menjengkelkan ya. Aku ingat, ada masa dimana aku amat menjengkelkan, kau terus mengalah untukku karena hal sepele seperti makanan yang kita sukai atau perkara berebut siapa yang mandi terlebih dahulu. Pun ketika aku merengek rengek minta ini dan itu, saat buah apel kesukaanmu kuambil dan kumakan dengan teman-temanku, kau tidak sedikitpun marah, pohon pisang belakang rumah yang rusak menjadi saksi bisu, bekas kau tendang dan kau pukuli sebagai pelampiasan kekesalanmu, aku ingin selalu menang setiap bermain denganmu dan kau selalu memberikannya, setiap siang saat muka jengkelmu muncul karena ibu menyuruhmu mencari aku yang senang bermain hingga lupa waktu. Saat kita main banteng-bantengan aku tahu kau selalu sengaja mengalah, karena melihat wajahku meringis ringis menahan sakit saat kita beradu kepala. Jarang sekali aku melihatmu melampiaskan kemarahan, padahal aku sangat menjengkelkan. Kau mengetahui kesukaanku, saat uang sakumu pas-pas an tapi aku merengek minta dibelikan permen karet, tak apa kau tidak bisa membeli jajan yang kau sukai, katamu. Terlahir menjadi anak pertama telah berhasil membentuk pribadi yang menyenangkan, hangat, dan menenangkan. Terima kasih untuk masa masa yang menyenangkan. Terima kasih telah rela mengalah.

Sebagai anak pertama, aku mengerti beratnya beban yang akan dan sedang kau tanggung. Kau hanya tersenyum dan lebih banyak menikmati keheninganmu. Sepi yang kau rayakan sendiri, dan betapa aku ingin ikut merayakannya bersamamu. Jika langkah kakimu terasa terlalu berat, istirahatlah barang sejenak. Berbagilah cerita denganku. Dan jika penatmu sudah berkurang,  lanjutkan perjalananmu. Aku akan tersenyum dan menyemangatimu. 

Kau tahu aku menyayangimu.

Hari ke-6 di bulan Februari.


Tertanda 

Adikmu (yang menjengkelkan tapi manis)