berduri

Dear kamu...

Mungkin kamu lelah, hilang arah. Kecewa. Bertubi-tubi impianmu patah. Apa yang kamu usahakan dengan gigih, menguap begitu saja. Jerih. Sampai kepayahan.

Bagimu kamu gagal.

Aku mungkin takbisa menenangkan barang separuh pedihmu itu, tapi izinkan aku mengatakan ini agar kamu tahu bahwa kamu sudah jatuh diantara bintang-bintang. Kamu sudah berpendar dengan hebat! Poinnya, ada di perjuanganmu. Kamu sudah mencoba, itu jauh lebih baik dan melegakan ketimbang kamu tak pernah menempuh jalan ini. Jalan berduri yang katamu perih ini.

Gagal adalah hal biasa dalam hidup, jangan biarkan semuanya menghentikan langkahmu. Kamu sendiri yang bilang padaku, lelah boleh, tapi henti? Jangan. Pejuang sejati tak pernah membiarkan dirinya dinodai oleh kata menyerah.

Katamu, sudah habis energi. Kamu sudah ada di titik terujung usahamu, plan A-Z sudah kamu coba. Tapi masih ada plan 1,2,3,4, dan seterusnya yang belum kamu coba.

Memang rumusnya, kita diizinkan jatuh, agar bersyukur saat bisa terbang. Agar kita sadar, kita ternyata selemah ini tanpa kuasaNya. Allah sedang menguji kita. Fainnama'al usri yusron.

Sayapmu itu hanya luka, sebentar lagi juga sembuh. Yang sabar ya. Selalu ada akhir bahagia atas semua usaha. Mungkin tak sekarang, mungkin tidak dengan jalan ini, selalu ada esok dan seterusnya.

Usahamu itu, jangan pernah disesali. Hari ini, beri selamat pada dirimu, karena atas izinNya kamu bertambah kuat lagi, lagi, dan lagi.

Karya Terbaik Seorang Perempuan

Jadilah perempuan yang berkarya. Berkarya dengan mendidik anak-anaknya. Menjadikan mereka hasil karya terbaik dari tangan kita. Mereka akan tumbuh dalam sebuah proses mahakarya, hasilnya awet dan mengabadi. Dapat kita lihat dimasa depan ketika anak-anak itu tumbuh dan memberikan kontribusi terbaik untuk orang lain.

Karya terbaik seorang perempuan adalah anak-anaknya. Karir terbaik bagi seorang perempuan adalah pengabdian kepada rumah dan seisinya. Sarana terbaik untuk berkarya adalah keluarga. Pengharapan terbaik bagi perempuan adalah Dia. Sandaran letihnya ada pada hati yang menyamudera, luas dan mampu menampung segala.

Bila sang “pencipta” karya miskin ilmu dan kering iman, karyanya nampak hampa tanpa isi. Karya itu bertumbuh ditempat tandus. Bisa jadi bebal berduri, nyaris tanpa bunga dan buah. Tak beraroma bahkan berasa pahit.

Bila kita mampu mempersiapkan segalanya untuk sebuah karya dalam perlombaan atau kompetisi, kita berusaha hasilkan karya terbaik dalam dunia kerja, ataupun bersusah-susah menelurkan karya super rumit untuk sebuah proyek, mengapa enggan mempersiapkan segalanya dalam menghasilkan karya sejati sebagai seorang perempuan?

Memilih menjalani jalan takdir ini. Meski harus tertatih, meski harus menapaki jalan berduri, dan meski harus berurai air mata setiap hari. Jalan ini harus tetap dilalui. Biarkan waktu mengantarkan ku, entah itu pada takdirku yang baru, atau menjalani takdir ini tanpa mu

Maafkan aku waktu

[kontemplasi] Kau Tidak Tahu Bagaimana Ayahku

Perempuan yang hari ini berdiri tepat di depanmu, yang baru saja hatinya kau buat terluka; tahukah kau siapa dia?

Mungkin sudah lama kau mengenalnya, tapi tahukah kamu bahwa dia adalah putri sulung dari sebuah keluarga kecil sederhana yang tinggal di desa–yang untuk sekolah tinggi saja harus merantau ke kota tetangga dengan ditangisi ibunya? Oh ya, kau belum tahu itu? Sebaiknya kau mengetahui bagaimana dia dibesarkan dengan lindungan dan limpahan kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Kau tahu itu? Tidak?

Tentu tidak, karena kau malah memutuskan untuk menyakiti ‘gelatik’ yang selama ini telah didomestikasi untuk dilindungi di sarang yang nyaman. Ketika pada akhirnya ia mendapat kebebasan untuk mengepak sayap dan menemukanmu, ia sudah sepenuhnya percaya pada sepasang pundak tempat ia bisa hinggap–itu pundakmu.

Tapi, lihat bagaimana kau berusaha mematahkan sayapnya.

Perempuan yang hari ini dan tempo hari kau buat meneteskan airmata; tahukah kau bagaimana dia menjadikan airmata sebagai pencuci lukanya?

Dia dulunya adalah perempuan kecil yang begitu dicintai ayahnya. Yang tak akan pernah dibiarkan menangis, karena jika demikian maka hati ayahnya lah yang akan teriris. Ah, kau belum paham? Sebaiknya kau belajar menghargai perempuan dengan memandang bagaimana dia dibesarkan.

Kau bisa mengerti? Tidak?

Tentu tidak, karena kau tak tahu bagaimana ayahnya siang malam berusaha menjaganya tumbuh indah dan bersemi, agar laksana mawar berduri.

“Kenapa aku harus jadi mawar berduri, Yah?” tanya gadis mungil itu suatu ketika.

“Kau tahu, Nak, betapa cantiknya anak gadis Ayah ini. Sama seperti mawar, ia sedap dipandang, tapi tak pelak ia berduri. Bukan sebab ia ingin menyakiti, melainkan untuk menjaga diri.”

Demikianlah, pada akhirnya mawar itu mematahkan durinya sendiri. Berharap dapat dengan nyaman kau genggam, percaya bahwa kau lah yang akan menjaga keindahannya. Kau tahu betapa besarnya pengorbanan untuk melakukan itu? Betapa setangkai mawar telah menanggalkan pertahanan agar tak melukai jemari, agar dapat leluasa kau nikmati indah dan wangi.

Tapi, lihat bagaimana kau menggugurkan kelopaknya satu per satu–mahkota kebanggaannya.

Burung gelatik yang patah sayapnya, mawar yang tak lagi berduri dan bahkan kehilangan mahkota; ialah aku yang kau buat terluka dan tak kau hiraukan adanya.

Kau tidak tahu bagaimana ayahku bersimbah peluh, menggadai waktu, dan menjulangkan doa-doa terbaiknya demi memastikan kebahagiaanku.

Kau tidak tahu bagaimana ayahku–laki-laki yang kini mulai usang dimakan jaman dan tak lagi mampu merengkuhku dengan lengannya yang kekar–ia telah bersumpah hidup dan mati ingin putrinya tumbuh jadi mawar berduri. Berharap kelak ditempatkan pada Taman Firdaus dan senantiasa indah terurus.

Kau tidak tahu bagaimana ayahku mengajarkanku untuk jadi perempuan kuat dan hebat, menangis dalam diam, dan bertahan untuk tegak dengan lutut gemetar.

Kau tidak tahu bagaimana ayahku telah melakukan semuanya selagi menungguku tumbuh dewasa, lantas hari ini kau memperlakukanku tak ubahnya barang yang sia-sia.

Aku jadi ingin bertanya, sebenarnya kau itu lelaki macam apa?


99% fiksi | Purbalingga, 7 Juli 2015. Disaat aku merasa payah, betapa aku merindukanmu, Ayah.

Katamu, jatuh selalu menyisakan sakit. Tetapi, sesakit apapun itu, aku akan tetap memilih jatuh. Jatuh hati kepadamu, berkali-kali. Selamat mendengarkan! :)

Aku Terjatuh

Ada yang terjatuh, serupa hujan rindu. ia mengalir pada anak-anak ingatan yang mulai gersang, tak lagi menjelma airmata sebab mengering bersama musim yang digugurkan:
serupa itulah aku mencintaimu yang garing.

Dik, Februari kembali merona namun ia masih menyisakan perit gigil yang menjerit. Seperti hangat yang terabaikan, atau justru seperti aku yang diam-diam kaudiamkan.

Barangkali, kita tak pernah dengan sengaja menabur benih-benih rindu, menyemainya dalam pot-pot cemburu, yang kelak tumbuh mekar mewangi sekalipun berduri, atau kita tak lebih dari mimpi-mimpi yang sebenarnya kerap menanggung gelisahnya sendiri. Meski imajiku mulai merayu–mengajakmu bercengkrama di antara rerimbun bait-bait paling sunyi.

Kadangkala, aku ingin berlari mencarimu, kemudian menghadiahi ciuman pada leher-leher resahmu, menyeduh kecupan di rebah dadamu yang patah, atau meniduri apa-apa yang tak semestinya kita sebut saling menyakiti.

Sementara, reput-reput ini kembali membeli retak: serupa musim-musim gelisah, beberapa sisa resah yang menggigilkan, atau justru rasa yang tak lagi kauhiraukan.

Dik, jika kelak kau kembali setuju, jalan pulang begitu mudahnya kautemukan, atau jika aku harus menjemputmu kembali, berikanlah beberapa kedip di salah satu kelopak matamu. Agar aku pun tak memberi ragu pada langkahku untuk memelukmu.

Bekasi, 2016

- ditulis oleh @tehjeruk

- dibacakan oleh @symphonykalbu & @narasibulanmerah

- cover oleh @filosofihujan

- mixing & mastering oleh @narasibulanmerah

Made with SoundCloud
dempet

Pagar mangkok lebih aman dari pagar tembok. Pagar piring lebih aman dari pagar beling

Pepatah itu disitir minggu lalu dari kajian seorang ustaz muda yang tengah naik daun. Di depan puluhan orang yang duduk bersila, ia mengetengahkan manfaat berbagi dengan para tetangga sebagai saudara yang ditakdirkan dekat karena kerapatan tempat tinggal.

“Distance is a bad excuse for not having a good relationship with somebody”. Lucunya, kita gampang mengingat hubungan yang jauh namun melupakan hubungan yang dekat. Selucu mengkhawatirkan masa depan untuk luput menikmati masa kini. Kita lalai dengan kenyataan bahwa yang menjauhkan silaturahmi bukan tembok luar bangunan, melainkan tembok dalam diri yang dibangun dari keengganan.

Ada cerita tentang seorang rekan yang merintis mata pencaharian sebagai pedagang alas kaki. Sebagai awalan, ia mengontrak sepetak rumah mungil untuk gudang penyimpanan. Dalam hitungan bulan, bisnisnya melesat dan perputaran barangnya bertambah cepat. Sayangnya semakin seru berbisnis, semakin ia malah mengabaikan hubungan dengan penduduk sekitar.

Di suatu malam yang melelahkan selepas memenuhi persediaan barang, ia kontan terlelap di ruang tengah. Betapa kagetnya saat ia terbangun di keesokan pagi dan mendapati tumpukan barang yang sebelumnya tersusun rapi di ruang penyimpanan, ludes enggak bersisa. Jelas, terjadi pencurian. Namun pihak pemasok enggak menerima dalihnya dan kerugian puluhan juta rupiah harus dibayarkan.

Musibah itu membukakan matanya. Susah menelusuri peristiwa lewat lingkungan sekitar karena pondasi hubungan enggak diletakkan dengan baik sejak awal. Rasa sesal timbul belakangan lantaran enggan membaur dengan warga. Rugi pendapatan, rugi pergaulan. Ia berserah pada urusan takdir-Nya walau timbul secuil kecurigaan pada pelaku kejahatan yang hidup enggak jauh dari rumah kontrakan. Terlihat dari waktu, metode dan jejak kejahatan yang penuh pengamatan.

Karena waktu kecil saya pernah tinggal dengan nenek, baru saya paham sekarang kenapa dulu beliau rajin sekali mengirimi kerabat dekat dengan masakan atau buah tangan hasil bepergian. Enggak heran kalau mereka membalas hal itu dengan perbuatan serupa. Kebiasaan baik yang menggejala. Akhirnya, lingkungan terkecil kami enggak pernah kekurangan makanan karena mangkok dan piring selalu terisi.

Kita sering menjumpai rumah-rumah asri dengan pagar tinggi, pos patroli, anjing pemberani, kamera pengintai dan kawat berduri yang disiapkan jadi pengaman properti. Tapi, perlukah? “We build too many walls and not enough bridges. The walls we build around us to keep sadness out also keeps out the joy”. Saat kita hidup untuk menjaga keluarga dari marabahaya, ada mereka yang mengakrabi marabahaya supaya keluarganya tetap hidup - salah satunya dengan terpaksa berbuat jahat. Kita sibuk meninggi, lupa menjembatani.

Berbagi enggak sekedar membagikan, tapi juga mencukupkan. Mencukupkan enggak sekedar mengurangi apa yang dimiliki, tetapi juga mengamankan. Berbagi jadi muara untuk mereka yang ingin saling menjaga. Ada kekurangan yang diselesaikan bersama, ada jembatan yang dihubungkan dengan sesama. 

Rukunkan yang rapat. Rapatkan yang dekat. Dekatkan yang jauh. 

Seanggun Mawar

Suatu malam kau datang membawa tangis. Mengadu hati sakit teriris. Tentang dia yang berpaling ke seorang gadis. Lupakan janji yang dulunya manis.

Saat itu aku tertawa geli. Bukan kejam tak peduli. Namun dari dulu sudah aku nasehati. Agar tidak bermain dengan hati.

Lelaki sejati berani menghadap wali, bukan bergombal ria di japri-mu. Atau mengarungi cinta bermandikan nafsu, yang kalamnya semanis madu, padahal untuk nafsu yang memburu.

Jika dia berani maksiati Tuhannya, hianatimu bukanlah apa-apa. Jika dia padamu berani menggoda, pada wanita lain tentu juga bisa.

Hati, jadilah mawar anggun nan indah. Yang berduri tak mudah disentuh. Untuk pengeran yang berani berjuang peluh. Datang dengan hati dan cinta yang utuh. Menghadap wali dengan tekad yang sungguh.

Belajarlah dari masa lalu. Kembalilah ke jalan Tuhanmu. Menyesallah sepenuh qalbu. Dan bukalah lembaran baru. Kemudian berjanjilah tak akan mengulangi. Bukan padaku. Tapi pada Dzat yang menciptakanmu!

Jakarta, 1437 H || Sen @SenyumSyukur

Seringnya, kita melanggar sesuatu yang kita tahu jelas bahwa hal itu adalah salah. Kenapa kita senang sekali membuat susah diri sendiri?! Sebab, bahagia tak kenal tempat, ia bahkan ada di antara yang berduri.
Engkau yang sedang tersesat dalam cinta, cobalah kau jawab tanyaku ini …

Jika yang kau genggam itu berduri dan menyengat, mengapakah engkau masih bertahan menggenggamnya?

Jika kau yakini jodohmu itu ada di tangan Tuhan, mengapakah engkau tak membebaskan tanganmu untuk mengambil belahan jiwamu itu dari tangan Tuhan?

Kecerdasan apakah yang sedang kau gunakan, untuk membiarkan tanganmu terluka oleh duri yang sesungguhnya bisa kau buang itu?

Tegaslah.

“Hati yang sedang sibuk mengemis cinta palsu, tak dapat menerima cinta yang sejati dan setia.”
—  Mario Teguh - Loving you all as always
Jangan berusaha melupakan. Karena melupakan orang yang pernah kamu cintai sama seperti berusaha mengingat orang yang tidak pernah kamu kenal. Ikhlaskan dan kumpulkan retakan hati yang tercecer berantakan. Susun dan tempel kembali dengan lem taqwa. Dan perhatikan agar tak pernah jatuh di tempat yang salah lagi. Karena hati ibarat gelas-gelas kaca, bila terjatuh pastikan tetap utuh. Nanti sewaktu kamu udah pulih, akan tiba masa kamu akan diuji. Dia akan kembali dengan mawar berduri dengan sulur yang siap melukai.
—  Nasehat Ustadz Zizan :D

Untukmu Ukhty ^^

Suatu malam kau datang membawa tangis. Mengadu hati sakit teriris. Tentang dia yang berpaling ke seorang gadis. Lupakan janji yang dulunya manis.

Saat itu aku tertawa geli. Bukan kejam tak peduli. Namun dari dulu sudah aku nasehati. Agar tak bermain dengan hati.

Lelaki sejati berani menghadap wali, bukan bergombal ria di japri-mu. Atau mengarungi cinta bermandikan nafsu, yang kalamnya semanis madu, padahal untuk nafsu yang memburu.

Jika dia berani maksiati Tuhannya, hianatimu bukanlah apa-apa. Jika dia padamu berani menggoda, pada wanita lain tentu juga bisa

Ukhti, jadilah mawar anggun nan indah. Yang berduri tak mudah disentuh. Untuk pengeran yang berani berjuang peluh. Datang dengan hati dan cinta yang utuh. Menghadap wali dengan tekad yang sungguh.

Ukhti, belajarlah dari masa lalu. Kembalilah ke jalan Tuhanmu. Menyesallah sepenuh qalbu. Dan bukalah lembaran baru.

Kemudian berjanjilah tak akan mengulangi. Bukan padaku. Tapi pada Dzat yang menciptakanmu!

***

Tapi, akhirnya kau datang lagi. Dengan perut terisi. Mengadu tentang dia yang telah pergi. Tinggalkanmu menangis sepi.

Aku pun terdiam lama, tak tahu harus jawab apa. Hanya doa terlantun lirih, agar hati tak bersedih

***

Ukhti, hidup ini ceritakan banyak kisah dan sejarah, agar hati belajar dan mengambil hikmah.

Untukmu aku susun ‪#‎eBookUkhti‬. Sebuah kumpulan suara hati, para pelaku, korban, dan pemuda kahfi. Agar kau bisa jaga diri atau obati apa yang telah terjadi

Karena, Kalau bukan kau, siapa lagi wahai ukhti? ^^

***
Minat atau mau tanya2?
Invite pin sen 549A7D08 atau 087845001025 (SMS Only)
Bisa juga lewat line : senyumsyukur

Tulisan terkait #eBookUkhty

Baru selesai melihat katalog kaktus gradesi, aku akan membawa pulang yang paling berduri, memberikannya padamu nanti, memintamu memeluknya tanpa perduli nyeri, agar kamu tau rasanya merindukanmu sendiri.
—  Sakitpun, aku seperti tak perduli.
Cinta itu kadang semacam tumbuhan. Jangan salahkan ia yang menanam, atau ia yang tak sengaja membuat benihnya terbenam. Adalah keputusan kita untuk memupuknya, atau membunuhnya dengan kejam. Kalau tahu hanya akan jadi duri, buat apa terus dipelihara dalam hati?
—  Tapi perempuan suka mawar yang berduri-duri. Jadi gimana dong? Hahaha.