berbalas

Berbalas Pantun Mok Cik Senah

Sesi berbalas pantun antara dua kekasih kerana si Lelaki terlewat sampai untuk temujanji..

P:

Dua tiga kucing berlari
Ingin menangkap si ikan sepat
Kuingat sampai di tengah hari
Akan tetapi sampai sungguh lambat!

L:

Sidai kain di atas ampaian
Kain-kain berbagai corak
Maaflah janji tak kesampaian
Kerana tadi motor rosak~

P:

Ikan tenggiri ikan gelama
Tampak sama bila gelap gelita
Nak repair motor begitu lama?
Mungkinkah tertambat pada gadis jelita?

L:

Mencuba-cuba menyala pelita
Dapat dinyala hanyalah satu
Biarlah digoda si gadis jelita
Takkan ku main-mainkan kasihmu itu

P:

Membancuh teh di hari Rabu
Dibancuh oleh si anak gadis
Tidak ku nafi ku memendam ragu
Pada katamu yang teramat manis

L:

Bila Permasuri murka
Dipujuk oleh si dayang
Tak mungkin ku berdusta
Padamu oh sayang

P:

Membeli tembakau satu kati
Beratnya diukur memakai batu
Tak tertampak mata isi di dalam hati
Haruskah kupercaya luahanmu itu?

L:

Bila mengamuk si gajah berang
Maka tercabutlah rumput dan pohon
Terdengar akan nadamu yang garang
Ampun ku pinta maaf ku pohon

P:

Cik Letchumy ke kedai membeli barang
Kaki terseradung pada batu
Biarpun suaraku kedengaran garang
Namun cintaku tetap pada yang satu

L:

Cik Letchumy ke kedai membeli barang
Kaki terseradung pada batu
Tidak kukisah nadamu yang garang
Siapakah gerangan cintamu itu, adakah aku?

P:

Kasut baldu di atas para
Kalau dicuri mengundang maut
Isi hati si anak dara
..for me to know and for you to find aut~

Nemu ini~~~

Mmmm…..mungkin ini alasanku punya cara aneh buat cerita sama temenku. Via apapun itu, kalo masalahnya krusial, sebelum dan selesai curhat selalu mencantumkan “don’t reply” kadang cuma butuh didenger. Ada tanda readpun udah lega.

Karena yang berbalas mah perasaan aja, curhatan kadang gak perlu balesan~~~

Dimana bahagia itu bermula? apakah pada harta yang berlimpah? atau pada cinta yang berbalas? atau pada sanjungan dan pujian?

Padahal kita tahu semua yang senang tak sama dengan bahagia, yang bertumpuk dan banyak belum tentu menenangkan

Tapi bagi yang berpikir dan memahami, dan meyakini adanya kehidupan setelah mati, semua yang fana itu hanya menyenangkan, sedangkan bahagia itu soal lain

Bahagia adalah tentang menemukan Tuhan yang benar, menikmati beribadah pada-Nya, merasakan manisnya beriman pada-Nya, dan indahnya pengorbanan di jalan-Nya

Bagi saya, disinilah kisah bahagia bermula :) :) :)

Yuk dateng di acara #YukNgaji, @YukNgajiID bakal hadir di Jogja, Sabtu, 29 Agustus 2015 besok di Auditorium MM UGM, 08.30-12.00

CP: 0896 7181 0791

Jika azamnya sudah bulat pasti jalan menuju sesuatu itu menjadi jelas..
—  Allah Maha Tahu dengan segala detail dan kejujuran dari azam kita. Allah pasti akan menguji azam sebaik apa pun. Tidak ada suatu amal pun bernilai pahala, apalagi berbalas surga kecuali pasti akan ada halangan dan rintangannya..

(diambil dari Buku “Alhamdulillah Balitaiku Khatam AlQuran)

*copy status mba Nia :)*
[Resensi Pilihan] Tiga — Alicia Lidwina

Ditulis oleh: Runadei

(https://storyofdeika77.wordpress.com/2015/08/16/tiga/)

Blurb:

“Selama seseorang masih memiliki sesuatu untuk diperjuangkan, dia tidak akan bunuh diri. Kecuali jika memang bunuh diri adalah satu-satunya cara mempertahankan apa yang dia perjuangkan.”

Kalimat Hashimoto Chihiro membekas di kepala Nakamura Chidori, bahkan setelah perempuan itu bunuh diri. Apa sebenarnya yang mengubah pandangan hidup Hashimoto sampai dia mengakhiri hidupnya? Mungkinkah karena Nakamura tidak pernah menepati janjinya? Mungkinkah karena Nakamura menyimpan perasaan kepada Sakamoto, yang seharusnya merupakan sahabat mereka?

Setelah tujuh tahun tidak bertemu, Nakamura harus kembali berhadapan dengan masa lalunya. Di antara memori akan persahabatan, janji yang diingkari, impian, dan cinta yang tak berbalas, tersembunyi alasan kepergian Hashimoto yang sebenarnya.

Review:

Perasaan. Hal yang tidak akan pernah bisa dimengerti dengan baik selain oleh si pemilik. Meskipun gerak tubuh dan pancaran mata dapat mengungkap apa yang dirasakan, bukan berarti masalah tuntas sampai di sana. Seperti apa yang dialami oleh seorang Hashimoto Chihiro yang sangat pendiam dan sering mengaitkan tatapan kosongnya di awang-awang. Apa yang ada dalam sikapnya terasa dapat dipahami oleh kedua sahabat karibnya; Sakamoto dan Nakamura.

Tetapi, benarkah demikian? Apakah mereka betul-betul telah mampu melihat kedalaman perasaan Hashimoto? Ataukah apa yang mereka ada di pikiran mereka, pada kenyataannya hanyalah sebatas permukaan?

‘Tiga’ diawali dengan kematian Hashimoto yang melompat dari atap sekolah di malam berhujan di tengah kesendirian. Ia ditemukan oleh Nakamura yang telah berpisah dengannya selama beberapa tahun. Perasaan Nakamura terkoyak, ia merasa kematian Hashimoto masih mengandung misteri yang muncul tiba-tiba. Rasa sesal karena lama tak bertukar kabar dengan Hashimoto pun memaksanya bertemu dengan sahabatnya yang lain, yaitu Sakamoto.

Keduanya yang sama-sama terkejut mulai mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Hashimoto dan kematiannya. Apakah ia betul-betul bunuh diri seperti yang banyak diduga? Ataukah ia sengaja dibunuh oleh seseorang? Mengingat ada sebuah kejanggalan di lokasi kejadian; goresan lisptik yang samar-samar membentuk angka tiga raksasa tergambar di lantainya, dekat dengan permukaan lantai atap terbuka yang berkubang hujan.

Penelusuran Nakamura dan Sakamoto pun menggiring mereka pada kenangan masa lalu yang terjadi saat Hashimoto masih hidup. Dari kenangan yang saling terbongkar itulah mereka mulai terjerat dengan pikiran mereka sendiri. Perasaan yang terlalu dalam tersimpan pada diri masing-masing pun tak jarang membuat mereka tersesat dalam pikiran yang bercabang. Saat mereka mengira telah menjadi sahabat yang sejati dengan penangkup impian bersama-sama dan mengetahui perasaan serta pikiran satu sama lain, nyatanya mereka salah. Salah satunya adalah ego yang membawa Nakamura untuk melepas ikatannya dan terseok sendiri. Ia merasa membawa luka yang besar sementara kenyataannya ada luka lain yang jauh lebih besar terjadi karena kepergiannya. Luka karena janji dan impian yang tak sampai. Juga karena cinta yang memutari ketiganya.

Karakter Nakamura adalah tokoh sentral yang memiliki kelabilan dan di saat yang bersamaan sulit untuk menyampaikan apa yang dirasakannya. Akibatnya ia terus memilih langkah yang benar dalam pikirannya, tetapi tak jarang sama sekali salah menurut sudut pandang orang lain.

Hashimoto sendiri adalah tokoh yang paling berkarakter. Dia dengan angan-angan dan segala filosofinya, serta sudut pandangnya yang sedikit absurd namun memukau, kelak akan membuka mata seorang Nakamura agar tak perlu lagi ragu untuk mengepakkan sayapnya.

“… Tunjukkan kepada mereka sebuah tempat di mana mereka bisa melihat langit dengan lebih dekat. Percayalah kepada mereka. percayalah pada sayap mereka. tunjukkanlah langit, maka mereka akan terbang dan menggapainya untukmu. Aku percaya demikian.” Hal. 308

Satu-satunya karakter pria yang begitu membuat kita (para perempuan) senang membayangkannya dalam kepala adalah Sakamoto. Pria yang begitu indah namun selalu berada di persimpangan yang sulit. Berada di antara dua sahabat perempuan membuatnya serba salah bahkan untuk mengakui perasaannya sendiri.

Begitulah, nyatanya perasaaan hanya bisa dikelupas secara mendalam oleh pemiliknya. Ia seolah punya jalan sendiri untuk tersembunyi bahkan dari sang pemilik. Namun Nakamura dan Sakamoto lantas mengerti apa yang sebenarnya terjadi, tentang Hashimoto yang sering menengadah dan menatap kosong ke langit, ia yang seringkali menggambar hal yang sama sedari kecil, dan ia yang baru akan pergi saat hujan datang.

Dan tentang impian. Terkadang impian seseorang tidak akan pernah terwujud bila hanya seorang diri. Maka dari itu seorang sahabat perlu ada, untuk menyokong dan memahami, tak hanya melihat di permukaan saja.

Alurnya bisa dinikmati meski sebetulnya beberapa lembar terasa membosankan. Tetapi salut, penulisan ‘Tiga’ ini sangat baik terutama untuk novel debutan. Banyak analogi dan makna filosofi terkandung di dalamnya. Selalu ada manfaat yang bisa diambil dari perjalanan pikiran para tokoh. Novel yang cukup kental nuansa psikologisnya dengan pernak-pernik kata dan pengetahuan baru yang melengkapi setting Jepang-nya.

Plot rapi terlihat dari penempatan alur maju ataupun flashback yang sering membuat pembaca tercengang. Dan ending-nya membuat kita seperti merasakan ledakan bombastis dari sebuah klimaks yang kuat. Penyelesaian yang menurut saya pribadi indah dan memukau. Makna angka tiga di atap gedung sekolah pun terjawab di bawah langit malam yang kelam. Mari kesampingkan harapan saya untuk menemukan ending yang ‘gila’ pada kisah ini, secara keseluruhan saya tetap puas.

Hashimoto, hujan telah turun, sudahkah kau pergi?

Karena kurasa Nakamura sudah bisa melihat langit dengan lebih dekat.

Selain memberikan empat bintang untuk cover dan kisahnya, serta minus satu bintang untuk halaman-halaman yang membosankan itu, saya sangat menunggu novel dari Alicia selanjutnya. Terima kasih :)




Judul                           : Tiga

Pengarang                  : Alicia Lidwina

Penerbit                      : Gramedia Pustaka Utama

Terbit                           : Agustus 2015

Harga                           : Rp. 68.000,-

Tebal                            : 320 halaman

Ukuran                        : 13.5 x 20 cm

Cover                          : Softcover

ISBN                            : 978-602-03-1677-2

Dibaringan tempat tidur aku cuma mau cerita. Cengkrama sampah pada diriku sendiri.

:

Aku cuma mau ketemu. Berharap di antara, sebelum, setelahnya aku bisa dapat hangat seperempat dari guyonmu.

dan kau bilang kekurang ajaranku lampaui batas.
Asal kau tahu, rindu juga sekurang ajar ini membelah diriku. Menhancurkan sendi-sendi yang susah kembali.

Aku tidak khilaf atasnya. Aku sadar sepenuhnya.
Ialah berisi ruahan kecewa juga beberapa yang kusulap jadi kata runcing. Hasilnya lebih menyakitkan: Kita seperti di tebing, menunggu lompatan masing-masing.

Aku mau ketemu kamu.
Dan sebenarnya tidak butuh lagi denah lokasi. Peta itu ilusi, ketika dekat malah membuat jarak makin hebat.

Aku mau ketemu. Patah-patah aku temukan pesan berbalas yang tak membalas keinginanku.

Aku tidak juga pernah bilang:
Pilih mamamu atau aku?

Tidak. Dan aku tahu diri.

Aku cuma mau ketemu.
Dengan kekurang ajaran yang kau tapikan.
Dengan kecewa yang kau bilang.
Aku kurang ajar, lalu kau marah.
Rindu juga kurang ajar. Tapi kau diam.

Berbalas cerita denganmu rasanya seperti naik roller coaster
—  Tiba tiba berhenti di tengah jalan bukanlah sesuatu yang kuharapkan

To Zaty, sbnrnya aku masih benci kau. Walaupun aku dah maafkan kau. Memang aku doakan kau bahagia. Tapi aku berharap Allah kasi kau rasa apa yang kau buat kat aku sblm ni. Zaman semester1 kat uni. Aku ingat kau betul-betul nak berkawan dengan aku. Rupanya aku ni sekadar kawan suruhan kau yang teman kau pergi dating, teman pergi makan, basuhkan baju kau, siap pakej jemur lipat dan simpan dalam loker lagi. Masa kau putus ‘cinta’ , aku teman kau. Masa kau curang , aku 'cover line’ . Tapi kau tak hargai aku. Masa tu aku masih remaja yang mentah. Aku tak sedar aku dibuli rupanya. Kini aku dgr kau dah bertunang. Semoga berbahagia. Tapi Allah tu maha adil. Kalau tk berbalas dekat kau, mungkin keturunan kau.

03/08/2015 23:55:59

Submit something #TSMY worthy here.

Layangan

Berjuta kalipun aku meminta maaf

Berbagai hal apapun yang aku lakukan

Agaknya tak cukup untuk membuatmu

Mengampuni kekhilafan yang terjadi

Maaf untuk …

Terus memaksamu terbang terlalu tinggi bersamaku

Terus  memaksamu menerjang kuatnya angin badai

Terus memaksamu beradu dengan gagahnya pohon

Menarik benang terlalu kencang hingga kau kelimpungan

Mengulur terlalu lama hingga terhempas

Tak sempat berbalas

Kini kau rusak

Bagaimanapun usahaku untuk memperbaiki

Membuatmu terbang bersamaku lagi

Rasanya takkan pernah sama lagi

Ich Liebe Dich

“ich liebe dich” hanya untuk satu subject selain orang tua yang mendapatkan kata ini dari saya. Cinta pertama (seumur hidup) diumur 20? hahhaha tidak buruk. Entah berbalas atau tidak, tapi saya akan coba bertandang ke kediamannya bersama orang tua. mencoba menjadikannya pertner hidup dan juga ibu untuk anak-anak saya kelak. Bukan untuk menjadikannya “pacar”.

ich vermisse dich so sehr,
console.log( reverseWord(‘DC’) )

Maukah kau menemani? Sesekali berbalas rindu, menghangatkan kisah yang telah lalu dan sedikit membeku. Meski entah kapan temu menjadi ujung damai dari rindu yang menggantung. Aku menunggu.
—  @saridianti

kicaurancau asked:

Hai abang segelaskopi, kenapa cuma segelas? Padahal kalau dua gelas bolehlah aku menemanimu. Tapi ya sudahlah kalau memang kopimu hanya segelas, asal cintamu jangan sampai tak berbalas. *disiram kopi abang sege* #sebatasiseng

Hai mba kicaurancau kopi saya memang hanya segelas, tapi hati saya luas. kalo kamu sendiri boleh kok menemani, segelas berdua bisa buat yang lain iri :) Tapi..ah sudahlah, bisa makin kacau kalau saya terus berkicau, seperti dirimu.. :p

Kontemplasi

Kembali dengan keakuanku yang kini tak kusangka menghakimi diriku sendiri,
“selalu ada keakuan-keakuan dalam kehidupan manusia yang bisa menghakimi aku” kalimat ini magis, kristalisasi dari perenungan seorang penakluk, seorang pemenang.
Dilihatnya seorang penakluk lainnya, yang menjadi tuan bagi kata-kata tertulis, “waktu adalah fana, kita yang abadi”,
Kesunyian akhirnya pecah dimana hanya tulis berbalas tulis menghiasi malam dia yang kaku dan beku, ini bukan akhir ini bukan inginku serta pintaku. Belum menjadi akhir, semoga menjadi awal baik untuk keakukanku kembali menjadi keakukanku yang dulu bahkan lebih baik dari dulu.

Surat Biru #3

Hai Langit !! kenapa surat kemarin tak berbalas? Biar aku tebak, akhir-akhir ini kau sering terlibat dalam lembaran kertas dan sebuah laptop dengan jari-jarimu yang tak henti menari di atas papan ketiknya bukan?

Balada semester atas memang sedikit mempersempit ruang kita untuk saling bertemu bahkan menyapa pun rasanya begitu sulit.

Namun ini bukan kali pertama kita saling membisu selepas dua tahun lalu saat kita membiasa menyampaikan pesan melalui doa.

Meski saat ini kau belum bisa menyempatkan diri untuk membaca suratku, aku akan tetap bercerita. Bacalah jika sewaktu-waktu kau mau. Bacalah maka aku akan senang sekali menulisnya kembali di lain waktu😃

Hari ini, aku mengajar kelas tujuh materinya suhu lalu agar mereka lebih mengerti aku bawakan beberapa termometer yang kupinjam dari laboratorium. Tiba-tiba salah seorang siswi bertanya dengan polosnya kepadaku, “Bu, kenapa ibu nggak jadi dokter aja?”. Kau tahu langit, aku hanya bisa tersenyum sambil berkata, “kalau ibu jadi dokter nanti yang mengajar kalian siapa?”. Jika saja sedari tadi kau berada diantara kami mungkin kau akan terbahak-bahak menertawakanku karena jelas nyatanya aku begitu paranoid dengan darah, mana berani aku memilih profesi mulia itu meski menjadi seorang guru tak kalah mulianya. Kau tahu itu langit, tapi cara Tuhan sering kali serupa kejutan yang sukses membuat kita terkagum-kagum.

Selain menjadi guru, di sekolah menengah pertama ini aku diberi amanah menjadi seorang yang harus siaga di UKS dan hal ini sedikit banyak memberi pengaruh positif untuk paranoidku, setenang mungkin dan setelaten yang ku bisa harus kulakukan demi mengobati beberapa siswa yang rentan sakit. Obat-obatan, sekarang menjadi kawanan yang menemaniku selain buku-buku.

Suatu hari nanti, saat aku telah menjadi ibu dari anak-anak kita padamu aku berjanji langit akan menjadi menjadi seorang dokter yang baik bagi keluarga kecil kita, segenap ketakutan dan paranoid akan seketika kulenyapkan demi kesehatan mu dan anak-anak kita. Suatu hari nanti, demi kalian akan ku lakukan segalanya.

.

.

.

Salam jingga,

Lembayung