berart

Ingat tujuan awal
— 

Mas Anuanu sering mengingatkan saya dengan frase di atas.

Dan ini penting. Seperti kata Brendon Burchard, tetapkanlah tujuan di setiap tindakanmu. Bahkan pada hal-hal sederhana seperti ketika kita akan berbincang dengan seseorang. Apakah tujuannya membuat dia terkesan dengan kemampuan kita, apakah tujuan kita membuat hatinya bahagia, apakah tujuan kita membuat perasaannya hangat. Hal-hal sesederhana itupun butuh penetapan tujuan menurut Brendon. Agar kita fokus dan mengupayakan keberhasilan untuk mencapai tujuan.

 Jadi sudah menjadi habit bahwa ketika saya berkompetisi, saya akan menganggap diri saya akan gagal. Minimal harus mengulang kompetisi untuk bisa berhasil.

Seperti kemarin ketika ujian masuk kampus untuk melanjutkan kuliah (maunya jurusan Creative and Cultural Entrepreneurship yang hanya di ITB kalau di Indonesia). Belum apa-apa sudah merasa gagal, sudah merasa pasti tidak lolos. Hampir frustasi dan memutuskan ikut seleksi lain di UGM apa ya tapi jurusan lain, siapa tahu masih bisa lolos di sana. Toh selama ini saya terobsesi ingin kuliah di UGM.

Lalu kembali ingat tujuan awal, saya mau belajar soal industri kreatif. Saya mau konsentrasi disitu. Mengejar obsesi yang tidak sesuai tujuan juga buat apa? Hanya buang-buang waktu kuliah. 

Lalu kembali lagi pada track awal. Kalaupun tidak lolos kali ini, ya ikut lagi seleksi berikutnya. Yang itu berart kuliahnya harus mundur tahun depan, harus mengeluarkan biaya lagi, harus makan waktu lagi, harus membuat rencana baru lagi. Pokoknya harus beri effort lagi. . 

Kalau hingga diusahakan lagi berkali-kali masih gagal, baru boleh undur diri. Berarti ada jalan rejeki lain. Tapi selama masih bisa mengupayakan, harus diupayakan bukan?

Lebih baik menunggu sedikit lebih lama, mengeluarkan tenaga lebih banyak, tapi berjalan sesuai dengan tujuan. Dari pada mudah menyerah lalu berbelok arah, takutnya nanti akan kemana-mana.

Seperti cari jodoh, lebih baik menunggu sedikit lebih lama tapi bersama orang yang tepat. Dari pada buru-buru tapi lalu salah memilih. Kenapa jadi ke arah sini? 

Bukan berarti tidak fleksibel sih. Tapi kan fleksibel juga butuh perhitungan.

E jadi gimana, maunya gimana Din? Duh, Dininya pusing. Lihat laptop pun dari tadi bingung mau apa, kepalanya sakit lagi. Mau nangis tapi ga ada pundak yang menampung. Gimana sih Din?