berant

Sederhananya kita sedang saling menunggu. Rumitnya kita tidak pernah saling tahu kapan bertemu
— 

Dear tuan..

Apa kabar mu hari ini? apakah baik-baik saja. Sudah berapa lama kita tidak berbicara? kau yang terlalu sibuk atau aku yang selalu mencoba menyibukkan diri ? atau kita terlalu berjarak ?

Tahukah kau, ketika menyusuri jalan beberapa hari lalu aku menemukan sebuah rindu. Dia aku bawa ke sebuah kota dan mengajaknya berbicara pada angin secara diam diam. Lalu aku pendam rindu di dekat sebatang pohon yang beranting pilu. Aku membisu dengan mata-mata berkaca.

Maka aku temukan sepi yang bisa kutuang kapan saja sepenuh hati. Lalu bergulung gulung melewati garis jalanan aspal dan merangkum jejak jejak kita.

Tahukah tuan? ku rapal baik-baik sebuah doa untukmu.

Dear tuan

Apakah kau juga merindukan aku? Jika tuan tanya aku, iyaa maka aku menjawabnya. Aku merindukanmu.


Bukan sekedar rindu untuk menggenggam tangan mu. Tapi rindu sekedar untuk bercerita bahwa sepatu ku rusak kena hujan kemarin sore. Lalu bertanya pada mu sepatu atau sandal mana yang cocok untukku? bercerita tentang rencana membuat kamar depan untuk menjadi rumah baca lalu membantuku memilih rak buku dan menatanya di kamar depan. Nanti aku akan mengajakmu mrlipat dan membuat burung bangau dan kita rangkai di pintu dan jendela. Atau meminta bantuanmu untuk membeli tanah pupuk untuk menanam lombok di belakang rumah.

Dear tuan,

Jika suatu saat kau bertanya dan aku diam tidak menjawab tapi hanya menggenggam tanganmu dengan erat. Maka percayalah saat itu aku ingin mengatakan jika aku takut kehilanganmu. Sungguh.

Seperti menunggu hujan di Desember seperti ketika kau mengajakku merapal mantra memanggil hujan dan bermain di derasnya air menyusuri jalanan

… tentu saja mengenang hal ini merupakan sesuatu yang berharga umtukku, semacam perasaan hangat kala hujan turun dengan derasnya tak perduli sekuyup apapun aku…