bella haris

Writing Journey /kolaborasi?/

Selamat siang. Bandung lagi terik, dan saya punya cerita menarik.

@hujanmimpi sebelumnya sudah membahas cerita kolaborasi dalam sebuah tulisan disini. Saya juga akan berpartisipasi dalam menceritakan bagaimana cara kolaborasi untuk memproduksi karya dalam bentuk tulisan.

Ada yang pernah bertanya,

“kak itu kalian gimana sih bikinnya, kalian kan beda kota, kok bisa nulis bareng?”

Dalam perkembangan teknologi yang semakin canggih, saya kira jarak bukan lagi suatu masalah krusial yang bisa menghambat karya untuk akhirnya dapat tercipta.

oke, jauh sebelum buku KALA terbit, bela dan saya dipisahkan oleh perkenalan. singkat cerita, Teknologi bernama Tumblr ini mempertemukan tidak hanya kami, bahkan  pengguna-pengguna Tumblr lainnya. pertemuan-pertemuan itu banyak sekali melahirkan banyak kesempatan yang luas. Entah pertemuan antara raga-raga yang ada di balik pemilik nama akun tumblr, atau pertemuan tulisan-tulisan yang akhirnya saling cakap dan melahirkan tulisan yang saling tertambat.

Untuk menciptakan karya yang luar biasa, kadang kita tidak bisa untuk melakukannya sendiri, kita butuh orang lain yang dipercaya untuk dapat menyempurnakannya. Bagi kalian, mungkin dulu sudah sering membaca tulisan-tulisan kolaborasi baik antologi puisi, cerpen, dan lainnya.

Kolaborasi, bagi saya bukan sekedar menciptakan karya bersama, namun jauh lebih dalam. Pada pemahaman-pemahaman yang lebih luas tentang bagaimana masing-masing partisipan dapat saling mencukupi, namun masih bisa menumpahkan idealisme atau mimpi dan keinginan dalam sebuah karya kolaborasi. 

Saya dan Bela, sudah cukup sering membuat kolaborasi tulisan di laman Biru tua ini. Hingga suatu hari, bella mendapatkan kesempatan untuk menerbitkan tulisannya, dan Alhamdulillah saya menjadi orang yang dapat dipercaya untuk melakukan kolaborasi dalam menciptakan karya bersamanya. Lihat bagaimana perkenalan dan hubungan baik yang dijaga dapat menciptakan sebuah kesmpatan yang jauh lebih baik.

Ada makna yang cukup penting bagi saya dalam kolaborasi ini, lebih dari sekedar kepercayaan. Bagi beberapa penulis, karyanya akhirnya terbit menjadi buku, adalah salah satu titik awal kesuksesan dari perjalanan menulisnya selama bertahun-tahun. Disini, bella tidak ingin menikmati kesempatan itu sendirian. Kolaborasi, membuat Bella ingin mengajak saya untuk bisa membuka pintu kesempatan bagi saya juga. Bela, ingin membantu saya dalam mewujudkan mimpi saya.

Kolaborasi, adalah salah satu ajang untuk berbagi yang lebih dari sekedar karya, namun berkolaborasi untuk membuka pintu kesempatan yang lebih luas, saling membantu membangun mimpi. 

Hingga tercetuslah KALA, sebuah karya yang lahir tidak dari kemudahan. Saya dan bela juga sering beradu argumen tentang buku yang akan kita garap. Judul, isi tulisan, jenis tulisan, karakter penulis, konsep menulis, menjadi makanan sehari-hari yang sering kita debatkan.

Dalam kolaborasi, masing-masing partisipan pasti akan mempertahankan hal-hal tersebut. Isi tulisan, tidak ingin melenceng dari jati diri masing-masing penulis. Karakter penulis dan tulisan juga tidak ingin membuat masing-masing penulis menjadi seseorang yang bukan dirinya.
Akhirnya, konsep menulis akan menjadi malaikat penyeimbang agar perbedaan saya dan Bela, tetap dapat lahir menjadi satu kesatuan karya yang Indah, yang tidak mengurangi jati diri masing-masing penulis.

Karena konsep kolaborasi sepatutnya dapat menjadi titik tengah perbedaan, Bela tidak ingin saya menulis yang tidak membuat saya nyaman untuk mengerjakannya, begitupun sebaliknya. Akhirnya tercetus konsep tentang sebuah cerita yang didasari oleh dua sudut pandang. Konsep tersebut membuat saya dan bela bisa dengan nyaman menulis sesuai karakter kami masing-masing.

Satu hal yang paling krusial lainnya, adalah Outline.
outline akan membatasi kita untuk tetap menulis pada alur cerita yang telah ditentukan. Lalu judul, pendalaman karakter dan cerita, konsep, alur, dan makna yang ingin disampaikan menjadi perdebatan paling menyenangkan bagi saya dan Bela. Akhirnya, kami dapat mencetuskan KALA dengan filosofi yang cukup untuk mewakili seluruh isi buku.

Hal krusial lainnya juga, adalah Deadline.
Karena, bagi saya Deadline dapat menghancurkan Writer’s block yang senang sekali menghambat pengerjaan tulisan. membuat kita terikat dalam sebuah konsistensi yang membaikkan.

Penerbitan buku KALA, akhirnya membuat kami belajar lebih luas. Bukan hanya sekedar menumpahkan isi kepala dan hati, namun juga harus memperhatikan nilai-nilai lainnya dalam sebuah penerbitan buku.

Apa yang ingin disampaikan, bagiamana membuat cover yang menarik mata para pengunjung toko buku, lalu juga mempelajari apa yang dibutuhkan pembaca namun tetap dengan cara kita. Karena akhirnya, menulis bukan lagi sekedar ajang curhat yang mempunyai keindahan dalam tulisan. Ada proses pendewasaan dalam proses menulis yang tidak berhenti. Kita yang awalnya hanya memikirkan diri sendiri, pun akhirnya harus dapat memikirkan orang lain, pembaca.

Tadi malam saya dapat sebuah pertanyaan di message Tumblr,

“Berarti tulisan yg kita buat adalah pesanan dari pembaca, bukan pesan ingin disampaikan penulis?”

Saya kira, konteks memikirkan pembaca tidak sesempit itu. Karena, bukan karena memikirkan apa yang didapat oleh pembaca membuat kita hanya menulis berdasarkan “pesanan” pembaca. Namun, lebih pada sebuah tanggung jawab yang memang sepatutnya dimiliki penulis. Menulis tidak lagi hanya sekedar menghibur dan berusaha membuat pembaca baper. Namun adanya sebuah kepedulian untuk memberikan makna dan mengedukasi pembaca melalui pesan-pesan yang disematkan dalam sebuah tulisan. 

Beberapa pembaca KALA, pernah mengirimi pesan kepada saya melalui message di Instagram bahwa dirinya bukan tipe orang yang senang membaca. Ada juga salah satu pembaca yang tidak terlalu suka membaca buku bergenre tulisan romance. Namun, (katanya) cover KALA menarik untuk dimiliki, membuat mereka akhirnya membaca KALA. Tidak hanya itu, akhirnya mereka dengan begitu rendah hati mau memberikan apresiasi yang menyenangkan. Mengapresiasi keindahan dalam tulisan dan dari makna yang disampaikan dalam buku KALA.

Apresiasi dari hasil kolaborasi tersebut membuat saya dan bela bisa belajar banyak, yang akhirnya mungkin akan membawa kita pada kolaborasi selanjutnya, 

Karena kolaborasi adalah konsep paling kecil dari sebuah kebersamaan yang berisi perbedaan. Tugas kita, adalah dapat mengemasnya seindah mungkin.