begos

10 Things I Hate About You (1999) by Gil Junger

Book title: Like Mother, Like Daughter: How Women Are Influenced by Their Mother’s Relationship With Food-And How to Break the Pattern (1997) by Debra Waterhouse

Ten Stupid Things Men Do to Mess Up Their Lives (1998) by Laura Schlessinger

Dancing in the Street: Confessions of a Motown Diva (1994) by Martha Reeves and Mark Bego

The Rolling Stone Book of Women in Rock: Trouble Girls (1997) by Barbara O'Dair

Film Fatales: Independent Women Directors (1997) by Judith M. Redding and Victoria A. Brownworth

MTVS Epic Rewatch #156

BTVS 6x07

Obligatory soundtrack to make your reading expeerience better :)

Stray thoughts

1) I have to be honest, this was probably the most difficult recap I’ve written so far (other than The Body, which I skipped altogether and asked for submissions instead.) OMWF was the episode I was most looking forward to rewatching. It’s my favorite BTVS episode. It’s my favorite episode of anything/everything ever, period. I’ve watched it probably more than 50 times (I watched it three times just as part of this rewatch, just so you know.) And as much as I love this episode, I was really clueless about how to write a review about it. Like, what can be said about one of the most talked and written about episodes in the history of television? What can I say about it? How can I honor my love for it and what it means to me in my review? Do I write my recap in a different format? What am I bringing to the table? The truth is, I didn’t have the answers to any of these questions so that’s why I’ve been kind of quiet on Tumblr lately. I just couldn’t get around to writing this recap. At the same time, I wanted to move forward and I wanted to rewatch this episode again and gif the hell out of it. So I said fuck it. Let’s just write a regular recap and be done with it. Anywho, I tried to break down the episode by scenes/songs but you’ll also find fun quotes and the usual stupid things I do with screenshots and whatnot. 

So on with it!

TL;DR: I love this episode a whole lot and I didn’t know how to write a recap about it. 

2)  Opening Credits

When watching TV, there are certain clues that let the viewers know they’re about to watch something different, if not special or momentous. The first of these clues is very straightforward: if a TV episode starts with a “previously on” clip, you know something’s about to go down. If the storyteller is purposefully reminding you of events that have transpired in the show, there must be and there usually is a good reason for it. It typically means that said past events will bear a certain relevance to the episode’s plot. It may also serve to remind you exactly why everything is going to shit at present? Either way, as a TV viewer, whenever I start watching an episode that begins with a “previously-on”, it kind of makes me go “Oh oh, something’s up.” A second clue is the lack of a teaser (i.e. that short clip before the opening credits that literally teases what’s to come and makes the viewers want to continue watching the episode) because that breaks the standard structure of a TV episode and it kind of raises a red flag: if the writer didn’t want to tease anything about what I’m about to watch, then it must be huge. There’s also a third clue: the opening credits may be somewhat altered, which has written “special episode” all over it. And if that weren’t enough, the episode may get a special title card just to finally hammer the point home that this is not your typical episode. These techniques serve to raise the viewers’ expectations. OMWF implements all of these, and it succeeds not only in raising the viewers’ expectations but also in exceeding them. Suffice to say, when I first watched this episode I was pretty much freaking out by this point (even though I watched the show as it originally aired, or rather a few months after it originally aired because that was when it aired in my country, I didn’t consume any media about Buffy other than what I watched on my TV, so I wasn’t privy to the fact I was about to watch a musical episode.) But I hadn’t lost it yet, that was just a couple of minutes away… 

Keep reading

Entah, kalo lagi ngga bego karena jatuh cinta, mereka yang berusaha sendirian, mendapatkan perhatian atau sekedar mempertahankan seseorang yang memang udah bosan dan udah ngga ada perasaan, itu terlihat m.e.n.y.e.d.i.h.k.a.n.
Bagaimana mungkin aku lupa padamu, kita bersama bukan perkara sehari dua hari saja, melainkan bertahun-tahun. Setelah meninggalkanku tanpa alasan lalu menghilang, kini kau sapa aku dengan kalimat “masih ingat aku?”
—  Bego. Seamnesia itukah aku? atau kamu yang tak pintar mencari kalimat basa-basi.
“Otome Games/Dating Sims/Romance Visual Novels... can’t deal with problematic topics and/or show scenes where there’s no consent between the characters blah blah blah”

Except they do. In A LOT of cases.

Remember DRAMAtical Murder? Specifically this sweet baby here?

Originally posted by yakumocchi

Love yourself. Literally.

Best route though.

But I know what you want to comment:

“Hey, Bego, that’s a bad comparison because that’s a game for adults, etc.”.

COOL, BUT THAT’S NOT ALL (And I must say I don’t 100% agree with that argument for shutting down the comparison, because even if the sex scenes were censored or didn’t even exist the story still has pretty fucked up stuff)

HERE’S A LIST OF HATOFUL FUCKING BOYFRIEND’S TRIGGERS:

HATOFUL BOYFRIEND

“NOT CANNIBALISM BUT KIND OF IN THE BALLPARK”

thE GAME WITH THE PIGEONS…


And meanwhile hald of the Eldarya fandom is complaining about a kiss. A kiss that’s portrayed as something wrong and bad. And the game gives you the option to slap the character right after that. I see.

Looks like cheap excuses to me.

You didn’t like it? Sure, complain about the kiss, stop playing if it seriously hurt you that bad, but stop exaggerating and trying to turn the game into something “Problematic and Evil” when it’s 105% vanilla and harmless.

Cinta boleh, bego jangan
— 

Dulu gue penganut banget itu kata-kata seribu bangsa. Meng-iya-kan kalo cinta jangan cinta cinta banget, biasa aja. Kontra kalau ada seseorang yang terlalu, -hingga lupa kepentingan perasaannya sendiri seperti apa.

Tapi semuanya berubah ketika jatuh cinta menyerang…..

…ada teori berlafadzkan pasangan-sentris. Dimana sebaik-baiknya kebenaran ada pada ucapan pasangan. Kebahagiaannya, tawa, canda, manja, apa apa tentang dia…

…ada logika orang jatuh cinta, –yang entah bagaimana– tidak akan pernah dipahami oleh orang yang tidak.

Kemarin, paman datang gue menemukan pasangan gue berselingkuh dengan keisengan keisengan fatal yang melukai perasaan. Menangis sejadi-jadinya. Memilih untuk pergi dan tidak bersama lagi. Mengeja perpisahan dan menyusun penjelasan saat mungkin kelak ia mempertanyakan, –kenapa gue meninggalkan. 

As I said before, kesalahan apapun bisa dimaafkan. Tapi kecurangan merupakan pengecualian. 

Jadi, bulat gue bertekad, ini akhir dari kisah yang gue bangun dengan indah. Sebagaimanapun sakitnya, dicurangi jauh lebih menyakitkan. Membayangkan ia sebenarnya membagi hati atas apa yang dengan utuh kuberi, gak ada toleransi.

Tapi ganjal, ada perasaan menggelitik. Ingin tau langsung dari mulutnya, mendengar maaf jika benar dia khilaf, memberikan telinga untuk sekedar memberi kesempatan agar dia merasa didengar, menghargai untuk terakhir kali. 

Belum mendengar penjelasan, masih dalam se-sakit-sakitnya keadaan, luka masih jelas lebam memar, emosi, gerah, geram, marah. Ada juga satu perasaan aneh yang seolah berkata “memang kamu siap, tanpa dia?”

Lagi,

Bendungan air mata pecah, menganak sungai dari mata hingga pipi, semua basah. Lautan kecewa tercipta, hujan dilema melanda, dari yang asalnya bahagia, pada akhirnya, –seorang yang terlampau cinta – menjelma laiknya manusia paling nestapa.

Ngga, gue gak bisa. Kenangannya terlalu banyak. Kalo dia nggak ada, hampir semuanya rusak. 

Karena cinta, gue menjilat ludah sendiri, memaafkan kefatalan paling gue benci. Tanpa atau dengan penjelasan, semuanya gue terima; semoga dengan lapang dada. Gue gak jadi pergi. Gue gamau udah, gue gamau pisah

Cinta boleh, bego jangan

Orang-orang yang nalarnya tidak mengalami gangguan, pasti mengumpat kata kata demikian. Menghardik seolah gue melakukan kesalahan keputusan. Katakanlah itu salah, I do prefer called that kiat kiat agar tidak berpisah

Kenapa?

Sebab, ada logika orang jatuh cinta, –yang entah bagaimana– tidak akan pernah dipahami oleh orang yang tidak. Sesederhana itu

Gue ketemu. Gue peluk. Erat. Mungkin dia menerka-nerka, gue kenapa. Ga ada angin ga ada ujan, tiba tiba melontarkan peluk paling bertenaga se-alam raya. “Kenapa?” katanya. Gue beranikan diri jawab. Gue jelasin. Gak lupa pake gaya drama nangis sesegukan + meler kemana-mana. 

Dia jelasin

Endingnya udah dari awal kentara, pasti gue terima. Make sense juga, sih. Even gak make sense pun, as I said before. Udah gue maafin. 

Yang gue kagum, kenapa bisa bisanya gue maafin, bahkan sebelom dia jelasin. Kenapa bisa bisanya gue bahkan rela disakitin, asal nggak ditinggalin. Kenapa gue bertahan dengan anggapan, -kemarin- rasanya dia gapapa ditinggalkan. Kenapa? 

Sebab, ada logika orang jatuh cinta, –yang entah bagaimana– tidak akan pernah dipahami oleh orang yang tidak. Sesederhana itu

ada manusia yang hanya ingin didengar tanpa mau mendengar
— 

ada, padahal kupingnya ada 2, tapi pemikirannya dianggap paling benar.

Golek benere dewe

Yah, beda intelligence sama wisdom sih.

Aku sih bodo amat. 

Dengerin aja jangan masukin ke hati.

Pura-pura bego aja.

*malah jadi ngomong sendiri hehe

Saya punya cukup dasar etika untyk tidak mengatakan mendikbud itu bego atau goblok. Saya tidak akan bilang itu, saya cuma mau bilang ide full day school (menjadi kebijakan penguasa) adalah konyol. Ide itu adalah ide yang muncul dari malasnya orangtua perkotaan kelas menengah ngehek yang mengabdikan dirinya diperkantoran. Hal tersebut tak berlaku buat anak di desa dimana pulang sekolah adalah bermain dan membantu orangtua sebagai nelayan atau petani. Kaum-kaum elitis kelas menengah ngehek yang menjadi pondasi ide tersebut menunjukan betapa indonesia diurus dengan gaya urban yang jauh dari desa. Hal ini mengurung anak disekolah dan pasti mengurung huru disekolah, anak harusnya punga waktu bermain dan bersosialisasi dengan masyarakat dan sesekali tawuran atau sekedar mancing di sungai/laut. Terlepas ada yang tawuran atau memilih pacaran itu persoalan individu, bahkan yang nyolong juga ada. Kedua adalah guru, memang guru tidak punga keluarga yang harus diajaga dan rawat, guru juga punya tetangga dari sekedar arisan ibu-ibu pkk hingga bapak-bapak yang ronda.
—  Jika presiden dan wapres setuju mereka sama gilanya.
Mahluk Paling Ribet (Just Kidding)

Sesuai pengalaman, menurut gue perempuan itu mahluk paling ribet kedua yang ada di muka bumi ini. Yang pertama, cewek. (sama aja, Malih!)

Gimana ribetnya?

Cewek kalo melakukan sesuatu, banyak pertimbangan. Kita cowok.. kalo kita laper, kita makan. Cewek mau makan, takut gendut. Mau keluar, takut item. Mau sunat, tapi cewek. Wadaw.

Dan ribetnya lagi, Kalo ke mall.. apa yang dibeli, nggak sesuai sama tujuan awal. mau beli tas, yang dibeli sepatu. Mau beli sepatu, yang dibeli baju. Mau beli baju, yang dibeli…. Ijazah palsu. Ada lagi ke mall niat nggak beli apa-apa, pulang-pulang bawa 10 kantong. Ribet memang.

Hidup cewek banyak diribetin oleh hal-hal seperti dandan, make up, catok rambut, pinsil alis, bulumata palsu, senyum palsu, air mata palsu…
Dan cewek selalu ngeluh, “enak ya jadi cowok… cowok nggak ribet. Cewek mah ribet.” Yes, kita para cowok, kita mahluk yang simple. Yang bikin ribet kita cuma satu: elu! :))

Let me tell you something.. kenapa cewek itu ribet. Ini mungkin rahasia, rahasia yang selama ini disimpan dalam-dalam oleh para cewek. Dan gue akan membukanya. HAHA!
Cewek menjadi ribet itu strategi, my friends… strategi supaya kita mengucapkan satu kata: YA. Semakin sering kita bilang ya, semakin dekat kita dengan tujuan akhir cewek. Apa tujuan akhirnya? CEWEK SELALU BENAR.

Gue jelasin polanya.

Pertama cewek akan menunggu suasana yang tepat untuk bertanya satu hal…. Kalo pertanyaan ini udah keluar, HATI-HATI… Pertanyaannya adalah.. “Kamu sayang aku, nggak?”
Dan lo pasti jawab: iya…
Dan di situlah lo mulai masuk ke dalam pencucian otak (haha), dan setelah itu semua pertanyaan bahkan permintaan cewek lo bakal jawab ya.. Contoh:

“Sayang, ujan nih.. jemput aku ya..”
“Iya..”

“Sayang,  aku mau iPhone 6..”
“Iya..”

“Sayang,  aku mau iPhone 7..”
“kan belum keluar?”
“buat dong..”
“iya..”

Lalu strategi berikutnya, cewek akan membandingkan dirinya dengan keseharian lo. Pas lo mau futsal, dia akan bilang, “oh kamu lebih mentingin futsal daripada aku? Kamu sejak main futsal, kamu nggak pernah ada waktu buat aku. Mulai sekarang, jauhin yang namanya futsal.”
Dan lo nggak sadar, kian hari larangannya akan makin ekstrim. Bahkan lo mau napas aja mesti minta izin.
“Sayang, aku mau napas aja.”
“Oh kamu lebih mentingin napas daripada aku? Kamu sejak bernapas, kamu nggak pernah ada waktu buat aku. Mulai sekarang, nggak ada napas-napas lagi.”

Wadadaw.

Nah, di fase ini…. Lo akan kejebak! Saat dia menjadi yang terpenting, maka dia akan membuat lo serba salah. Biasanya dia punya kata pamungkas; “Terserah.” Saat sesuatu menjadi terserah lo, maka dia akan mengkritik segala keputusan lo.

“Sayang, kita mau makan di mana?”
“Terserah.”
“Makan di café itu aja, ya..”
“Kejauhan..”
“Oh kalo gitu, café ini..”
“Ah di situ sumpek.”
“Berarti café ini aja..”
“Hih.. aku puasa.”

Lo dibikin muter-muter, sampe akhirnya lo lepas kendali. Lalu lo bertanya dengan nada yang keras, “YA KAMU MAUNYA APAAAAA?”

Saat lo kesel, di situ dia akan diem selama 3 detik. Yaa.. 3 detik. 1, 2, 3, kemudian dia menoleh. Dia natap lo dalem-dalem, dan dia bilang satu statement.. statement ini bakal menghantui lo berhari-hari. Dia bilang,
“Aku paling nggak suka dibentak. Asal kamu tau, orang tua aku aja nggak pernah bentak aku. Kamu jahat. Turunin aku sekarang.”

Sebagai cowok, lo nggak suka ditantang… lo bilang, “oh oke, silakan turun!”

Pertama-tama lo santai-santai aja! Lo ketemu temen lo, ketawa-ketiwi.. “tadi cewek gue minta turunin di jalan. Terus dia pulang naek ojek. Padahal rumahnya di Kebumen. Hahahahaha!!!”

Tapi pas sampe di rumah.. kejadian tadi itu bakal menghantui pikiran lo. Lo mulai ngomong sama diri sendiri:
“heh.. gue jahat? Ada juga lo yang ribet. Kok gue yang jahat. Gue jahat apa? Gue ngebentak? Gue nurunin lo di pinggir jalan??
Heh.. heh..
kok gue tega ya? Deh, iya gue jahat. Seharusnya gue nggak ngebentak. Seharusnya gue nggak nurunin dia di pinggir jalan. Mana rumahnya di Kebumen.. jam segini di Pantura kan banyak truk. Entar kalo dia kelilipan gimana.. dia kan nggak bawa masker..
AH GUE BEGO BEGO BEGO!!!”  

Lo ngerasa bersalah, lo nganggep diri lo bego. Lo nyesel. Dan akhirnya lo nelpon..

“maaf, aku salah.”
“Terlambat, aku udah di Kebumen.”

SEE? CEWEK SELALU BENAR.


“Seribet-ribetnya perempuan, dia kekasih kita. Jangan berpikir untuk mengubahnya, karena dia mahluk yang unik. Tetapi berpikirlah untuk melengkapinya, karena dia adalah bagian kita.” 

Pernah bego hingga taraf menyangka bahwa segala yang kau lakukan dan kau tunjukkan kepadaku itu adalah pertanda bahwa kau memang mencintaiku sebesar aku mencintaimu.

@shea-gardienne SAID: BUT I STILL LOVE TO CALL YOU BEGO-NYA HEHEH
shea-gardienne SAID: OHH I DIDN’T KNOW YOUR NAME IS FROM BASQUE ORIGIN!

Well, my full name’s Begoña,  which means “place over the dominant/tallest hill” (there’s a lot of mountains in Euskadi, aka the Basque country). And it IS kind of pronounced like “bego-nya” (not EXACTLY like that, because actually there’s also the name “Begonia”, which IS pronounced like that). The “ñ” sound is just like the french “gn” (for example, the words for mountain in french and spanish are “montagne” and “montaña”, and they are esentially pronounced the same way except the last letter).

There’s also a popular old sanctuary to the virgin of Begoña in a hill (obviously the reason for my name’s meaning). My family and I visited it once, but I don’t remember much about the trip. Apparently sailors have a special reverence towards her. I’m not a christian, so I don’t really care about that.

Actually, I am not basque myself. My father’s side of the family is from Cantabria (province next to Euskadi), and I know that although my grandmother was born in Cantabria as well, her mother (my great-grandmother) WAS basque. And my father is fascinated with euskera (I don’t know if it’s because of that reason or it’s just that he likes the sound of it). So he obviously chose a basque name for me.

Fun fact: Euskera/Basque is the only language from the spanish territory that does NOT come from latin. We literally don’t KNOW where it came from. It was here BEFORE the romans came (actually, there were quite a few different dialects), and it’s the only language that comes directly from the languages spoken by the native peoples living here before the invasions (Simplifying it a lot, celtics in the north, iberians in the south).

The Way I Lose Her: Countdown

Mencintai seseorang yang masih menggenggam dua hati itu seperti mati tenggelam dan tersiksa karena tersedak napas sendiri.

                                                                 ===

.

Bandung di jam delapan malam dengan cuaca yang begitu cerah seperti ini adalah senikmat-nikmatnya malam. Mungkin sama seperti malam-malam di kota Jogja. Di pinggir-pinggir jalan kota Bandung banyak sekali warung makanan sederhana yang selalu penuh dengan muda-mudi yang sedang pacaran. Tempat-tempat nongkrong disertai udara sejuk dan langit yang cerah membuat Bandung selalu ramai dari malam hingga dini hari.

Begitu juga seharusnya dengan malam ini. Malam yang awalnya gue harap bakal seru dan menyenangkan ternyata bisa berubah menjadi malam yang begitu rumit seperti ini. Mobil yang berhenti tiba-tiba dan parkir di pinggir jalan sudah tentu mengundang beberapa mata di sekitar untuk menjadikannya sebagai bahan perhatian.

Kelompok gue dan kelompok Ipeh saat itu kebetulan sedang berdekat-dekatan, namun ketika pacar (udah jadi mantan sih) Cloudy keluar dari mobil, Cloudy langsung pergi memisahkan diri dan pergi menghampirinya ditemani dengan tiga teman cewek Cloudy yang lain lantaran khawatir takutnya Cloudy kenapa-napa.

Sedangkan Ipeh sendiri langsung menarik gue dan Ikhsan agar pergi menjauh karena khawatir akan terjadi perkelahian, mengingat dari dalam mobil pacar Cloudy keluar beberapa teman laki-lakinya. Ipeh menarik gue dan Ikhsan ke pinggir barisan. Dia diam di tengah sambil menggenggam lengan gue dan lengan Ikhsan.

“Malam ini nggak ada acara berantem-baranteman. Yang ngelanggar, berantem sama gue.”

“…”

Karena lebih takut sama Ipeh ketimbang sama si Kembang Tahu, kami berdua setuju untuk tidak memperkeruh masalah. Lagian itu urusan Cloudy, gue udah males mencampuri urusan rumah tangga orang lain.

Entah apa yang mereka bicarakan di depan sana, gue hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Saat itu si Kembang Tahu berbicara serius sama Cloudy, sedangkan Cloudynya sendiri terlihat tidak antusias dan memasang wajah dingin. Dari penglihatan gue sih kayaknya si Kembang Tahu lagi minta maaf, berulang kali dia mencoba menggenggam tangan Cloudy namun langsung dihempaskan begitu saja oleh Cloudynya sendiri.

“Lagi ribut kenapa tuh pak Haji sama Bu Haji?” Tanya Ikhsan.

“Iya, Mbe, tuh pasangan Beauty and The Beast lagi kenapa sih?” Sambung Ipeh.

“Denger-denger sih mereka putus beberapa hari yang lalu.” Jawab gue sambil berbisik.

“WAH?! Terus-terus?” Mereka terlihat semakin antusias.

“Ya begitu, si Kembang Tahu ini cemburuan. Nah si Cloudynya nggak suka dicemburuin. Berantem deh tuh ongol-ongol sama kelapa parut.”

“Pfft lagian siapa suruh. Si ceweknya juga genit kok! Udah punya pacar tapi masih deket sama orang lain.” Kata Ipeh kasar.

Mendengar hal itu, Ikhsan langsung menyeringai, “Lha bukannya situ juga gitu. Udah punya pacar tapi masih nempel aja nih sama si kriting.”

“IH KOK JADI KE GUE?!” Ipeh mencoba membela diri.

“Iya Peh, elu kan udah punya pacar.” Kata gue ikut-ikutan.

“KENAPA JADI PADA NYERANG GUE SIH?! SINI BERANTEM SAMA GUE LO BERDUA!!” Ipeh mengacungkan bogemnya ke depan muka kami hingga sontak membuat kami berdua ketakutan dan langsung sungkem mirip kaya orang lagi lebaran.

“Lagian gue heran deh. Ini si Cloudy apa nggak pernah makan wortel ya selama hidupnya?” Tanya Ipeh lagi.

“Kenapa emang?” Saut Ikhsan.

“Kok dia mau gitu ya sama cowok yang mukanya kaya ketipung gitu.”

“BHAHAHAHAHAHAK GOBLOK LO! MUKA ORANG DISAMAIN SAMA REBANA!!” Ikhsan ketawa ngakak bareng-bareng sama gue ketika mendengar statement yang baru saja Ipeh keluarkan.

Ketika gue, Ikhsan, dan Ipeh masih asik ketawa-ketiwi sendiri di belakang barisan, di depan sana suara keras yang dikeluarkan si Kembang Tahu itu makin membuat banyak orang memperhatikan ke arahnya. Ini berarti hanya tinggal menghitung menit saja hingga kang Acil sebagai ketua keamanan tahu. Namun ternyata perkiraan gue salah, ketika lagi klimaks-klimaksnya tuh Kembang Tahu marah-marah di depan Cloudy, mendadak doi langsung melihat ke arah gue dan langsung menghampiri sambil berjalan cepat.

Sudah tentu gue kaget dong. Gue yang tadi lagi ketawa-ketawa sama Ipeh dan Ikhsan eh mendadak didatengin sama nih Kantong Kresek. Dengan sigap gue langsung memasang kuda-kuda berantem, begitu juga dengan Ikhsan yang langsung mengepal-ngepalkan tangannya bersiap untuk menyerang.

Namun melihat hal itu, Ipeh langsung menjewer kuping kami berdua.

“Diem lu pada. Lu bedua kan udah janji nggak akan berantem malam ini. Udah! Orang kaya gini biar gue aja yang urus.” Kata Ipeh sambil maju selangkah di depan kami berdua.

Melihat hal itu, gue dan Ikhsan cuma bisa saling tatap-tatapan.

Tak perlu lama-lama, si Kembang Tahu kini sudah berdiri menghadap ke arah kami bertiga, diselingi dengan Cloudy yang berlari di belakangnya berusaha untuk menahan agar mantan pacarnya itu tidak berjalan ke arah gue.

Saat itu Ipeh yang lagi ada di depan gue langsung gue tarik ke belakang hingga kini keadaannya gue dan Ikhsan yang di depan sedangkan Ipeh jadi di belakang. Biar bagaimanapun gue nggak bisa ngebiarin Ipeh ada di depan. Gue tahu mana situasi bercanda sama mana situasi serius.

Dengan memasang wajah mirip Potongan Silet, gue dan Ikhsan berdiri songong di depannya tanpa sepatah kata apapun. Hingga kemudian, si Kembang Tahu memulai ceramahnya duluan.

“Heh Anak Anjing! Perusak hubungan orang! Nggak punya harga diri banget lo jadi cowok hah?! Seneng lo sekarang, Njing? Bahagia lo udah buat gue sama Cloudy jadi begini?! Mau lo apaan sih anak anjing?!” Ucapnya lantang sekali hingga kini semua orang memperhatikan ke arah kami berdua.

“Loh, jadi selama ini lo itu anak Anjing, Dim? Kok gue baru tahu?” Kata Ikhsan polos.

“Iya, keturunan CauCau.” Balas gue sambil ikut-ikutan pura-pura bego agar si Kembang Tahu makin emosi.

Ini si Cau-cau. Si gendats nan menggemaskan. 

.

WOI ANJING!! Gue lagi ngomong sama lo Setan!” Si Kembang Tahu menunjuk kasar ke arah gue, lalu kini melihat ke arah Ikhsan. “Lo siapa, anjing?! Nggak usah ikut campur urusan gue sama dia!” Sambungnya lagi.

Ikhsan menaikan dagunya tanda menantang.

“Gue tukang Risol. Mau apa lu?” Balas Ikhsan tengil.

“Heh Selang Aer! Lo ada masalah apa sih sama gue?” Tiba-tiba gue angkat bicara ketika Ikhsan dan si Kembang Tahu lagi hadap-hadapan.

“Jangan belagak sok nggak tahu lo, ngentot! Lo bahagia kan udah ngerusak hubungan orang? Cemen anjing lo, berantem goblok sama gua!” Balasnya kasar.

“Lha apaan? Pacar lu aja yang deket sama gue. Gue mah deketnya nih sama dia, si tukang Risol.” Gue menunjuk ke arah Ikhsan, dan Ikhsan malah langsung senyum-senyum bangga karena gue sebut tukang Risol.

“Nggak usah banyak alasan, goblok! Gue tahu mana orang yang mau deketin cewek gue sama yang temenan doang. Perek lo anjing. Emak lo Perek.”

“EH ANJING NGAPA LU BAWA-BAWA EMAK GUA?!” Gue mendadak naik pitam hingga tanpa sadar mendorong badan si Kembang Tahu sebelum kemudian ditahan oleh Ikhsan dan juga Ipeh.

“Eh setan nggak usah bawa-bawa orang tua lo cemen! Urusan lo ya urusan lo!” Tukas Ikhsan geram.

“Eh bangsat tukang risol nggak usah ikut campur lo, Anjing!”

“EH GOBLOK MALAH NGATAIN GUE TUKANG RISOL!! CARI MATI YA LU TAI?!” Kata Ikhsan sambil teriak.

“…”

Lah bukannya si Ikhsan sendiri yang tadi ngatain dirinya tukang risol? Ya Tuhan kadang gue nggak ngerti sama temen gue yang satu itu. Bagus deh gue jadi temennya, bukan musuhnya. Kalau gue jadi musuhnya yang ada gue udah emosi duluan sebelum ini anak ngomong. Bawaanya pengen nonjok tiap dia mulai buka mulut. Sabar, Dim.. sabar..

Suasana kini makin panas, teman-teman si Kembang Tahu mulai mendekat. Sedangkan Cloudy ditahan oleh teman-teman ceweknya supaya enggak mendekat dan ikut campur. Bagus deh, gue nggak mau ada apa-apa sama Cloudy, takutnya dia malah kena pukul atau kena dorong tanpa sengaja kalau mendekat ke sini. Biarlah masalah ini para kaum cowok yang menyelesaikan.

“Bangsat lo semua! Emang lo sama lo itu anjing ya! Kemarin waktu di ruang rapat ngapain juga lo ikut campur hah?! Tai lo semua, gue tahu kalian dari kelas X-A kan?! Emang kelas Anjing semua itu kelas isinya. Pengencut. Kelas buangan! Isinya kalau gak pelacur ya gigo…”

BUK!!!

Tiba-tiba ada satu pukulan telak menghajar hidung si Kembang Tahu tepat sebelum ia merampungkan seluruh kalimatnya. Pukulan yang benar-benar keras hingga gue bisa mendengar bunyi pukulannya membentur tulang hidung. Pukulan itu melesat cepat dari belakang gue dan Ikhsan.

Setelah terpukul keras, si Kembang Tahu tersungkur jatuh mundur ke belakang. Gue dan Ikhsan yang kaget akan hal ini langsung melihat ke arah belakang, ke arah Ipeh yang lagi mendengus kasar.

Gue dan Ikhsan saling tatap-tatapan sebentar sebelum kemudian menatap Ipeh, namun Ipeh tidak peduli, dia kini maju dua langkah lalu berdiri di depan si Kembang Tahu yang lagi terkapar di atas tanah.

“HEH!! COWOK TAPI MULUTNYA NYEROCOS MULU LO KAYA KENALPOT MOTOR!! JAGA ITU MULUT KALAU NGOMONG!! DARI TADI GUE UDAH BERUSAHA SABAR TAPI LO MALAH MAKIN NGELUNJAK YA!” Kata Ipeh kasar sambil terus memasang muka galak.

Wah kasian si Kembang Tahu, udah hidungnya kena pukul anak juara satu karate antar SMA, eh sekarang dia lagi diceramahin pula. Hidupnya sengsara amat. Setahu gue orang yang kena pukul+ceramahnya Ipeh ini umurnya bakal berkurang 5 taun. Ipeh kalau lagi marah serem abis, beduk magrib yang nyaring aja langsung ganti jadi ke mode getar.

Karena merasa tidak terima dihajar oleh perempuan, si Kembang Tahu langsung berdiri dan protes.

“ELO SIAPA ANJING NGGAK USAH IKUT CAMPUR!!” Bentaknya kasar sambil masih memegangi hidungnya yang berdarah.

“GUE WALI KELASNYA. LO MAU APA HAH?!” Balas Ipeh nggak mau kalah.

Namun belum sempat si Kembang Tahu dan teman-temannya membalas memukul dan semakin membuat onar, kang Acil datang lalu melerai perkelahian. Kang Acil yang badannya tidak begitu besar tapi wajahnya lebih galak dari Gembok WC ini langsung berdiri di antara gue dan si Kembang Tahu.

Dengan wajah galaknya, kang Acil mendorong si Kembang Tahu agar menjauh dengan satu tangan.

“Pergi lo semua Anjing! Ini acara sekolah kita. Lo jangan buat kacau di sini. Baru kelas satu aja udah belagak lo semua. Datengin gue kalau berani. Satu angkatan kalau bisa bawa semua gue siap! Pergi lo! Sekali lagi gue liat kalian ganggu acara OSIS, gue nggak segan-segan bawa masalah ini ke kepala sekolah!” Ujar Kang Acil galak tapi penuh wibawa.

Karena mereka melihat lawannya adalah kakak kelas mereka sendiri, mereka semua langsung pergi menghindar dan kembali masuk ke mobil mereka sebelum dengan cepat pergi meninggalkan tempat para panitia OSIS lagi ngamen ini.

Setelah para begundal itu pergi, kang Acil langsung melihat galak ke arah gue. Malu sekali rasanya, selalu saja gue membuat onar di tiap acara OSIS. Gue langsung tertunduk dan hendak meminta maaf sama kang Acil sebelum kemudian teman-teman di sekitar gue pada menjelaskan hingga pada akhirnya kang Acil mengerti titik permasalahan ini di mana lalu dengan berbesar hati mau memaafkan gue.

Dengan aba-aba dari kang Acil, kini semua orang yang tadi sedang berkerumun karena penasaran ada rame-rame apa sudah kembali ke habitatnya masing-masing. Walaupun sempat terjadi huru-hara, acara ngamen tetap dilaksanakan. Namun tim gue dan tim Cloudy terpaksa harus rehat sejenak untuk menarik napas sehabis rusuh barusan.

Tapi bukannya lebih tenang, gue dan Ikhsan malah jadi lebih rusuh lantaran teriak-teriak kegirangan sambil memeluk Ipeh. Ya bagaimana tidak, ini adalah kali pertama di mana kami melihat Ipeh berantem beneran, di depan mata kepala kami sendiri. Tak henti-hentinya gue dan Ikhsan memuji Ipeh sambil terus memeluk, mengacak-ngacak rambutnya, mencubit pipinya, dan terus saja mengelu-elukan Ipeh.

Ipeh yang saat itu sempoyongan karena dipeluk kami berdua cuma bisa terkekeh.

“Gila lo Peh!! Gila abis!! Hahahahaah gue cinta banget sama elo, Peh!!” Kata Ikhsan sambil mengacak-acak rambut Ipeh.

“Paraaaah!! Ipeh juara!! Ipeh idola kita semua!!” Gue ikut menimpali.

“Ehehehe.. aduh aduh.. Ehehehe..” Ipeh terlihat kewalahan dipeluk kami berdua.

“Tapi, Peh, lo gila ya main pukul seenaknya aja. Kaget gue pas tiba-tiba ada pukulan gitu dari belakang.” Balas Ikhsan lagi.

“Iya, Peh. Parah lo. Tapi diam-diam gue puji lo, Peh. Baru aja gue mau ambil tindakan, eh keburu diserobot elo. Pffftt… nggak jadi Man of The Match deh gue..” Sambung gue.

“Kalian kan udah janji nggak akan berantem.” Kata Ipeh sambil merangkulkan tangannya ke leher kami berdua.

“Kalian tuh emang idiot semua. Tapi kalian itu idiot-idiotnya gue. Nggak boleh ada yang ngehina kalian di depan gue.” Kata Ipeh sambil tersenyum dan masih merangkul kami berdua.

Malam itu gue merasakan lagi apa yang namanya kehangatan persahabatan. Apa yang dulu pernah gue temui di awal-awal semester kelas satu, kini gue dapatkan lagi malam ini. Keceriaan wanita tomboy Ipeh, kegoblokan sahabat gue Ikhsan, dan ketololan gue sendiri; benar-benar membuat malam ini begitu terekam jelas di kepala.

Setelah capek tertawa dan rangkulan bareng, Ipeh melepas tangannya lalu menatap gue pelan.

“Mbe, urus tuh..” Kata Ipeh menunjuk ke arah belakang gue.

Gue melihat ke arah yang Ipeh maksud, dan di sana ada Cloudy. Cloudy menatap gue dan kini berjalan perlahan menghampiri kami bertiga. Wajahnya begitu sendu. Walaupun sekarang sedang malam tapi gue bisa melihat kelamnya cahaya di matanya. Meski bintang tak terlalu banyak muncul di langit, gue masih bisa melihat ada sedikit bulir-bulir air di matanya walau keadaan sekitar sudah cukup gelap.

Dia berdiri di depan gue tanpa menatap ke arah Ikhsan dan Ipeh. Dan gue hanya menatapnya sambil masih tersenyum dan tersenggal-senggal bekas tadi loncat-loncat bareng bersama Ipeh.

Namun gue nggak tahu ada apa, gue nggak mengerti apa yang terjadi, tiba-tiba ada air mata turun dari matanya. Gue terkejut.

“LO JAHAT! GUE KIRA LO BEDA DARI YANG LAIN! TERNYATA LO SAMA AJA! JAHAT LO! GUE NGGAK MAU BERURUSAN LAGI SAMA LO!!”

Ucapan penuh amarah yang dibarengi dengan tetesan air mata keluar begitu saja dari mulut Cloudy. Ia mengatakannya dengan suara yang cukup keras sehingga Ikhsan dan Ipeh mendengar. Cloudy berkata seperti itu sambil terus saja memukul pelan dada gue dan mendorong gue agar menjauh.

Dengan masih terus mengeluarkan kalimat, “Lo Jahat!” tangisan Cloudy pecah di depan gue. Semua pandangan orang-orang kini kembali tertuju ke arah gue. Sebelum kemudian Cloudy mengucapkan kalimat “Jahat lo, Dim!” sekali lagi lalu kemudian pergi berlari meninggalkan halaman mall Plago ini.

Gue terdiam. Gue sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Ini benar-benar di luar kendali gue. Pikiran gue berkecamuk kencang, ini sih judulnya bukan nggak peka, tapi emang benar-benar nggak bisa dimengerti dan di luar akal sehat.

Gue nggak salah apa-apa, gue nggak berbuat apa-apa, gue hanya berbicara dengan si Kembang Tahu, gue tidak memulai perkelahian, gue tidak melakukan apa-apa, tapi dengan tiba-tiba Cloudy marah begitu saja sama gue di depan seluruh teman-teman gue yang tengah menyaksikan.

Gue mencoba mengingat kembali apa yang telah terjadi, tapi semakin gue mengingat semakin juga gue tidak mengerti. Sambil masih memasang muka bego, secara perlahan gue melihat ke arah Ikhsan dan Ipeh lalu menaikan alis tanda bertanya, “INI ADA APA SIH ANJIR?!”

Tapi ternyata bukan gue doang yang nggak ngerti, Ipeh dan Ikhsan pun ternyata merasakan hal yang sama. Mereka menaikkan bahu tanda tidak mengerti juga. Lalu dengan kompaknya mereka menepuk pundak gue bareng-bareng seraya berkata,

“Wanita memang susah dimengerti, Dim..” Kata Ipeh.

“Iya setuju.” Tambah Ikhsan

“Ya Tuhan aku salah apa…” Gue cuma bisa menahan air mata.

.

                                                    ===

.

Karena sudah cukup lama kami ngamen hari ini, kang Ade selaku ketua OSIS memberikan jatah istirahat dulu selama tiga puluh menit. Hal ini gue pergunakan untuk berkumpul sebentar sama temen-temen sengklek gue; Ipeh, Ikhsan, dan Bobby.

“Itu si orang cantik kemana tuh?” Kata Bobby sambil celingak-celinguk mencari keberadaan Cloudy.

“Iya, Mbe. Nggak lo kejar?” Sambung Ipeh.

Gue hanya geleng-geleng pelan di hadapan mereka.

“Lha, tumben lu, Nyet. Biasanya paling semangat kalau urusan si Cloudy. Apa jangan-jangan karena ada Ipeh ya lu jadi malu buat ngejar doi?” Kata Ikhsan nyeletuk tapi keras banget sehingga gue dan Ipeh cuma bisa memandangnya sinis.

“Enggak juga. Gue males ngurusin kehidupan orang lain, apalagi bahtera rumah tangga orang lain. Biar dah, selama gue nggak merasa melakukan salah sih gue nggak akan merasa perlu bertanggung jawab. Lagian lu lu pada liat kan, gue salah apa coba malam ini?” Sanggah gue.

Mereka bertiga geleng-geleng.

Nah, sama gue juga. Udah biarin deh, lagian tadi pas tuh anak ngibrit, gue ngeliat temen-temen ceweknya pada ngikutin.”

“Yaudah deh kalau gitu terserah elu. Bob! Temenin gue beli cingcau yok! Haus nih!” Kata Ikhsan seraya pergi menggandeng Bobby meninggalkan gue berdua doang dengan Ipeh.

Setelah Ikhsan pergi, kini Ipeh menatap gue, “Tapi, Mbe..” Ucapnya memecah lamunan gue.

“Kenapa?” Tanya gue.

“Apa ini karena gue juga?”

“Loh? Maksudnya?”

“Enggak, gue juga jadi kepikiran apa kata Ikhsan. Apa jangan-jangan karena ada gue di sini ya?”

“Kok gitu?”

“Sebenarnya.. Gue.. ngg.. Gue juga nggak berhak untuk ngelarang lo dekat dengan siapa aja. Memberikan lo batasan-batasan padahal kita ini bukan siapa-siapa. Walaupun memang ada sesuatu di antara kita, tapi ada garis juga yang nggak boleh gue lalui sekuat apapun gue ingin.” Kata Ipeh mengelus telapak tangan gue.

“Bukan kok.. Hari ini sebenarnya gue juga senang banget lo bisa datang. Setidaknya malam ini jauh lebih menyenangkan ketimbang apa yang gue pikirkan. Tapi jangan karena gue nggak menyusul Cloudy lantas lo berpikiran bahwa gue sedang menjaga perasaan lo, enggak. Gue juga tahu ada batasan di antara kita berdua. Ya gue sayang sama elo, Peh, tapi gue juga tahu kita tidak bisa lebih dari ini. Gue sudah cukup paham dengan hal-hal itu.” Kini gantian gue yang mengelus telapak tangannya.

“Gue hanya ingin di sini lebih lama. Sama kalian, sama Ikhsan, sama Bobby, dan terutama sama lo. Ini yang gue inginkan. Sekali-sekali gue boleh dong egois untuk diri gue sendiri dan nggak melulu mementingkan perasaan orang lain? Kecuali.. Kalau lo juga memang nyuruh gue buat pergi.” Gue menatap Ipeh.

“Eh.. Enggak kok, gue juga seneng. Lo di sini aja kalau gitu. Bareng sama gue” Jawab Ipeh manja.

“Iya..”

Gue mengelus kepalanya pelan, sebelum tiba-tiba.

“Wah.. Aku juga pengen dong dielus-elus kepalanya..” Mendadak ada Ikhsan nongol dari belakang Ipeh sambil membawa satu cup cingcau hijau.

“Apaan sih elo pake aku-aku-an segala. Makan pake Ikan Teri aja pake ngomong aku segala. Kagak cocok!” Balas gue sambil merebut minuman cingcaunya.

Setelah cukup berbicara sebentar, kini waktu istirahat ngamen sudah selesai. Kami semua oun diharuskan melanjutkan ngamen minimal sampai jam 10 malam. Di putaran kedua ngamen kali ini posisi gue sudah kembali seperti semula, menjadi satu tim dengan Ikhsan, Bobby, dan Ipeh.

Ngamen sesi kedua ini benar-benar menyenangkan. Tidak ada sama sekali muncul di benak gue untuk mengkhawatirkan Cloudy selama gue ketawa-ketawa bareng temen-temen gue. Pendapatan yang dihasilkan pun jauh lebih banyak dari yang bisa gue perkirakan. Kekonyolan Ipeh dan gue di baris depan, dibarengi dengan petikan gitar Ikhsan yang selalu nyambung kemanapun nada Ipeh bernyanyi, juga Bobby yang terus-terusan memberikan ketukan berirama membuat tim ini benar-benar menjadi tim andalan.

Di depan mobil-mobil yang tengah berhenti, gue dan Ipeh bernyanyi dengan ceria tanpa peduli nada yang naik turun ataupun tidak. Padahal dulu gue udah pernah cerita kan tentang betapa kacaunya suara Ipeh kalau lagi nyanyi? Mirip kaya bocah lagi nelen karet, susah nemuin nada yang tepat.

Rasanya malam ini ada yang berbeda, gue dan Ipeh bernyanyi seperti tidak sedang bertujuan untuk mencari uang, namun kami berdua bernyanyi seperti memang ingin bersenang-senang. Ipeh bernyanyi sambil terus gelayotan di tangan gue. Gue bernyanyi sambil terus muter-muterin kepala kaya orang lagi kesurupan. Hanya butuh tiga kali lampu merah agar kami mendapatkan hasil yang lebih besar dari hasil tim-tim yang lain.

Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Kami semua kini sedang berkumpul di halaman mall Plago ini untuk menyerahkan segala hasil ngamen kepada pihak bendahara. Kami duduk berbentuk lingkaran, di tengah kami sudah ada makanan dan cemilan yang sengaja dibawa oleh para pihak panitia sebagai balas budi atas pundi-pundi uang yang telah kami hasilkan malam ini.

Briefing penutupan pun diadakan, kang Ade mengucapkan banyak sekali terima kasih beserta ucapan-ucapan dan rencana kami ke depannya akan melakukan apa. Begitu selesai, kami semua pada berpencar dengan kelompoknya masing-masing. Ada yang lanjut nongkrong di mall ini. Ada yang pulang. Ada yang pacaran. Ada juga yang jajan ke Pizza Hut di sebrang jalan. Sedangkan tim gue sendiri sekarang tengah berkumpul sebelum berpisah.

“Peh, lo pulang gih. Gue nggak enak sama kak Ai dan mbak Afi. Lagian elo kan nggak boleh keluar malem-malem.” Kata gue.

“Iya nih. Gue juga udah di sms-in dari tadi sama mereka.”

“Gue anter ya, Peh.” Tukas gue sambil mendekat ke arahnya.

“Eh nggak usah, Mbe. Ngerepotin.”

“Iya, Dim. Ngapain juga lu nganter orang ini. Dia mah naik kereta dorong yang ada di supermarket itu juga bisa.” Celetuk Ikhsan.

PLAK!
Ada satu keplakan mendarat di kepala Ikhsan.

“Gue sama Bobby aja. Lagian lo masih ada yang harus diurusin kan?” Ujar Ipeh.

“Apaan emang?” Tanya gue heran.

“Jangan belagak bego deh. Sana cariin gih itu si Tuan Putri. Lagian lama-lama gue kasian juga sama dia. Walaupun gue benci banget sama tuh anak, tapi sebagai sesama cewek rasanya gue cukup ngerti gimana nggak enaknya ngejalanin hari-hari pasca putus kaya gitu. Apalagi kalau masih dihantui sama mantan brengsek yang kaya tadi itu.”

“Lha, elo itu cewek toh, Peh?! Kok gue baru tahu?!” Celetuk Bobby mirip kaya Ikhsan.

“EH KASUR AER!! GUE KEMPESIN JADI GANTENG YA LU NANTI!!” Jawab Ipeh Bete.

Gue yang mendengarkan penjelasan Ipeh barusan cuma bisa memasang wajah heran. “Tapi, Peh..”

“Nggak usah tapi-tapian. Gue udah cukup bahagia kok hari ini. Malah rasanya malam ini tuh lebih dari cukup bahagiannya. Gue nggak papa kok, Mbe.”

“Tapi..” Gue masih ragu, mengingat perihal janji yang sempat gue beri juga sama Ipeh dulu di balkon rumahnya ketika hujan-hujan.

“Nggak papa kok. Untuk kali ini anggap aja gue lagi berbaik hati. Tapi cuma sekali ini loh ya. Dan inget nggak boleh ganjen! Awas lo kalau ganjen!” Ipeh mencubit tangan gue.

“Hehehe.. Yaudah deh kalau begitu. Hati-hati di jalan ya, Peh. Bob, titip nih mahluk setengah jadi ya.”

“Santai aja, yaudah gue cabut duluan kalau gitu. San, Dim, gue sama Ipeh caw yak?” Balas Bobby sambil berlalu pergi.

Namun belum juga beberapa langkah, tiba-tiba Ipeh berbalik dan berlari ke arah gue.

“Mbe!!” Katanya sambil berlari.

Gue berbalik lalu melihat ke arahnya, “Loh ada yang ketinggalan, Peh?” Tanya gue.

“Ngg.. Taruhan kita.. Jadi akhirnya siapa yang menang?”

“Waduh..”

“Gue yang menang kan? Tim elo dapet duit berapa coba?”

“Cuma dikit sih, lagian kan si Cloudy juga ngilang sehabis berantem tadi.”

“Nah berarti deal ya gue yang menang?” Tukasnya antusias.

“Iya deh iya. Mau hadiah apaan emang?”

“Ini..” Ipeh menyodorkan kelingkingnya.

“Apaan nih? Lo ngajak suit?” Gue mengacungkan telunjuk.

“SUIT MATAMU SOEK!! Janji dulu. Sini, mana kelingking lu?” Ipeh menarik jari kelingking gue dan mengaitkan jari kelingkingnya.

“Terus? Lo mau hadiah apa ini tuh?” Gue masih tidak mengerti.

“Ada deh. Pokoknya lo harus tahu dulu kalau sekarang lo punya utang sama gue karena kalah taruhan. Suatu saat gue bakal nagih itu utang. Kapan dan di mananya itu terserah gue alias tanpa batas waktu~” Jawabnya ceria lalu ngeloyor pergi begitu aja menyusul Bobby yang sudah ada di dalam mobil.

“Wah asem! Firasat gue nggak enak.”

.

.

.

                                                           Bersambung

Previous Story: Here

Leona (Part 15)

Kutegaskan lagi, kubuka mataku dengan lebih lebar sambil berharap-harap cemas semoga ini hanyalah mimpi. Namun, aku tidak bermimpi. Ini kenyataan. Astaga! Bagaimana hal ini bisa terjadi ketika aku sudah menjadi pacar seseorang? Bagaimana aku bisa berada di atas tempat tidur bersama perempuan lain? Kepalaku kembali pusing, akan tetapi pusingnya lain. Pusing karena perasaan bersalah. Jantungku berdebar-debar, aku juga panik. Kucoba mengingat-ingat lagi apa yang terjadi semalam. Bagaimana aku bisa di sini?

Semalam, semalam aku mabuk. Teramat mabuk, hingga mengangkat tubuhku dari sofa pun aku tak berdaya. Ngggg… lalu apa yang terjadi? Ngggg… ayo diingat! Ronny membantuku bangun, aku dituntunnya berjalan menuju ke sebuah mobil. Iya, Ronny! Ronny yang menuntunku. Sementara saat itu aku sempoyongan. Terus mobil siapa? Errrghh, damn! Mobil Karin. Iya, aku dibawa masuk ke mobil Karin. Kuingat ada yang berbicara. Seseorang berkata kepadaku, “Josh, are you okay?” Suara siapa itu? Itu suara yang lembut dan begitu merayu, dikatakan sambil mengelus-elus pipiku. Itu suara Karin. Dia duduk di sebelahku, di kursi kemudi. Lalu kemudian aku tidur. Sepanjang jalan, aku tidak ingat apa-apa. Ya, pasti aku tertidur. Dan, dan kuingat lagi. Setelah entah berapa lama aku tertidur, kurasakan mobil sudah berhenti. Seorang perempuan membangunkanku. Itu Karin. Dia membangunkanku yang tertidur di mobil lantaran sudah mabuk berat, mataku berat dibuka. “Josh, wake up. Udah sampe.” Katanya. “Oke, oke.” Begitu kataku. Iya, aku pelan-pelan mulai ingat. Dan, dan kemudian aku berusaha sekuat tenaga untuk setidaknya sampai di tempat tidur. Kupaksakan diriku untuk bertahan beberapa langkah. Setidaknya aku tidak terjatuh dan muntah di depan perempuan. Tidak, kan? Iya, seingatku tidak. Aku berjalan, meski dituntun oleh Karin, aku berhasil melangkahkan kakiku hingga ke dalam kamarnya, lalu aku tergeletak, pasrah di tempat tidurnya. Lalu? Lalu apa? Lalu Karin mengambilkanku teh manis hangat. Aku diberikannya teh manis hangat, supaya setidaknya mabukku sedikit reda. Iya, aku minum teh manis hangat. Dan, dan lalu, beberapa menit kemudian kumerasakan gelap. Karin mematikan lampu kamar. Ia sepertinya sudah selesai berberes, entah cuci muka atau mandi. Entahlah, mungkin dia juga mabuk. Lalu aku ingat, Karin bertanya lagi, dia bilang, “Josh, are you okay?” Karin tanya lagi. Kujawab, “cium aku untuk memastikan.” Dan kemudian aku dan Karin berciuman. Kami berciuman dan berpelukan, dan terus begitu, sampai seperti membuat pusingku lenyap dihempas nafsu. Dan ya, terjadi sudah.

Aku merasa sangat kesal. Aku kesal kepada diriku. Aku menyalahkan diriku atas apa yang terjadi ini. Dan aku juga menjadi panik. Aku panik, sebab aku telah berselingkuh. Aku telah bercinta dengan perempuan lain, sementara dengan pacar sendiri saja aku belum pernah.

“Hey, hey, hey, hey.. Karin, wake up.”
“Nggggehhh…. Josh? Jam berapa sekarang?”
“Dunno. Belum lihat jam. Kamu kenapa nggak pake baju?”
“Hehehehe.. males pake lagi.”
“Umm.. aku minta maaf soal semalam, ya.”
“Maaf?”
“Kalau mungkin, aku kurang ajar dan semacamnya.”
“Hehehe.. It’s okay. Kita berdua nakal.”
“Baiklah. Kalo gitu aku balik, ya?”
“Langsung? Nggak mau sarapan dulu?”
“Langsung aja, kayaknya.”
“Well…. Yaudah.”
“Iya.”

Aku turun dari tempat tidur, bersiap untuk meninggalkan kamar yang serba ungu ini. Kubuka HP, ada SMS dari Leona. Aduh, berat sekali mau baca, tetapi aku harus baca.

Leona:
Pagiiiiiiiii sayang akuuuuuuuuuuuuuu……..

Balas tidak, ya? Duh, nanti saja, nanti. Daripada aku balas, tau-tau Leona langsung telepon.

“Karin, lihat jeans aku?”
“Ummm… di balik pintu.”
“O, I see..”
“Hehe.. Joshua, Joshua. Pacarnya nyariin, ya?”
“Jangan ditanya.”
“Ups. Sorry.”
“Hehe.”
“Josh, kamu yakin mau langsung pulang?”
“Iya.”
“Huft. Ya sudah.”
“Hehehe… aku pamit ya, Rin.”
“Okay, Josh. Hati-hati.”

Di taksi, dalam perjalanan menuju rumah, mataku kosong, pikiran berkecamuk. Aku mengingat dua hal yang bertolak-belakang. Yang satu, aku ingat sebuah tubuh indah yang mulus, tubuh seorang Karin. Yang satu lagi, aku mengingat diriku sudah punya kekasih, dan aku dengan sebegini tega, aku masih merasa mencintainya. Aku duduk seperti orang cemas, kaki kananku bergetar. Aku takut Leona telepon, dia tanya aku di mana. “Jangan telepon dulu, Le! Jangan!” Kataku dalam hati, sementara tanganku meremas HP.

RASA BERSALAH

Sampai di rumah, aku menjadi manusia yang paling tidak tahu mau ngapain. Aku hanya di kamar saja, rebah. Aku tumbang oleh perasaan bersalah. Barangkali sudah satu jam aku hanya memandangi langit-langit kamar, sampai kemudian HP-ku berdering.

“Brur! Sehat, lu?”
“Sehat biji lu!”
“HAHAHAHAHAHAHA… GIMANA SEMALEM, BRUR?”
“Ah taek. Galau gue.”
“Galauin Karin? Hahahahahaa…..”
“Bukan. Leona.”
“YAELAAAAAAH…… YAUDAH SIH!”
“Guilty berat, cuy. Semalem kejadian.”
“ANJEEEEEEERRRRR…. GIMANA, GIMANA?”
“Gimana apa?”
“CERITAIN DONG!”
“CERITAIN APEEEE…”
“YA GIMANA? ENAK?”
“Ah, taek.”
“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA.. GIMANA, GIMANA? BAGUS BANGET PASTI YA BADANNYA KARIN. ADUUUUUUHHHHH…”
“Bagus.”
“HAHAHAHAHAHAHA.. BERENGSEK!”
“Duh, gue selingkuh dong nih, Brur.”
“Yaelah… kaku lo.”
“Guilty, Brur.”
“Emang kadang yang enak-enak malah bikin guilty. Hahahahahaha…”
“GARA-GARA LO NIH!”
“Dih, jadi gua! Hahahahaha..”
“Kampret lo ah.”
“Nggak ada yang salah, Brur. Di masa muda itu nggak ada kesalahan, adanya keseruan.”
“AH TAEK. ITU KAN KATA-KATA GUE.”
“HAHAHAHAHA MAMPUS LO GUE BALIKIN.”
“Duh. Ngomong gimana ya, sama Leona?”
“YA JANGAN NGOMONG DONG. BEGO!”
“Bingung, Brur.”
“Dih, lo kayak anak apaan dah, gini aja dipikirin. Kan Leona nggak tau, Brur. Ya jangan dikasih tau lah!”
”Trus gimana?”
“Dibawa santai aja kali…”
“Hmm… pusing gue.”
“Yaelah elu… Trus? Btw lo balik jam berapa dari tempat Karin?”
“Ini sejaman lah gue udah di rumah.”
“Hooo…. Hahahahahahaha, seru nggak semalem?”
“Zzzz… masih ditanya. Yang penting happy birthday ya, sekali lagi.”
“Hahahahahahaha.. love you, brother!”
“Hahaha… udah, ah… gue mau merenung dulu.”
“MERENUNGKAN APA YANG TERJADI SEMALEM, YA??”
“Hahahaha sikampret!”
“HAHAHAHAHA.. YAUDAH YAUDAH… NAJIS LO AH..”
“Haha, daaaaaa…”
“DAAAAAAAAA………”

Sial banget Ronny. Mau bilang gara-gara dia, kayaknya bukan salah dia juga. Memang aku yang salah, aku yang parah. Memang aku saja yang telah kembali seperti Joshua Zani yang Ronny kenal. Seperti inilah aku, Joshua si penakluk. Itu yang Ronny tahu. Di kacamata Ronny, aku telah berhasil menaklukkan seorang perempuan secantik Karin. Dia selalu memandangku seperti itu.

Ya sudah, jangan dipikirkan, Josh. Ada benarnya juga Ronny. Itu semua sudah terjadi, ya sudah. Anggap saja itu pengalaman di masa muda. Memang namanya cowok, sesekali berengsek tidaklah apa. Tak perlulah juga Leona tahu, jangan sampai aku mengaku. Lupakan Karin, lupakan semalam, anggap sekarang hari yang baru. Andai, jalan pikiranku sesantai Ronny.

Kukuatkan diriku melangkah keluar kamar, baru sadar perutku kosong. Kucari makanan di meja makan, lalu aku makan.

“Dari mana lo?” Tanya Kak Freddy.
“Semalem Ronny ultah.” Kataku.
“Mabok lo ya semalem? Lemes banget muka lo. Haha..” Tanya Kak Freddy.
“Parah, Kak.” Jawabku.
“Ya udah, makan sana.” Kata Kak Freddy.

Kakak sepupu yang baik. Menurutnya, memang aku harus bandel. Dia pernah bilang, jangan pernah ngaku orang Manado kalau nggak kuat minum. Entah dari mana dia dapat peraturan itu.

Ronny, Kak Freddy, dua orang ini menganggap bahwa mabuk adalah hal yang biasa. Dua orang ini seperti menyemangatiku untuk, sudahlah, Josh, mabuk dan bercinta dengan perempuan adalah kewajaran seorang laki-laki. Untuk apa merasa bersalah? Jangan sok suci, jangan sok setia. Justru lo harus bersyukur, lo diberikan ketampanan yang cukup untuk menarik perhatian perempuan. Selamat, sudah berhasil menaklukkan Karin. Ah, andai aku bisa berpikir demikian.

Di meja makan, satu piring saja kuhabiskan lama sekali. Sebab sambil makan, aku sambil memikirkan kesalahanku terus. Di dalam kepala, seperti ada suara yang menyorakiku, bahwa aku adalah Joshua Si Penakluk, Joshua Si Berengsek, Joshua Si Playboy, Joshua Si Tukang Mainin Perasaan Cewek. Banyak laki-laki memimpikan bisa tidur bersama Karin, akan tetapi aku bisa, dengan mudahnya. Dulu, hal seperti ini adalah hal yang kuanggap sebagai kemenangan. Dulu, sebelum aku jatuh cinta kepada Leona. Sekarang, hal seperti ini adalah yang membuat hatiku hancur, berantakan. Entah bagaimana Leona bersikap jika dia tahu apa yang kuperbuat semalam. Leona, pacarku, kekasihku. Sungguh tidak mau aku melihatnya bersedih.

Siang hari, akhirnya kuterima telepon dari Leona. Berat rasanya hati ingin bicara dengannya, membuat aku lupa kalau suaranya itu suara yang wajar dirindukan.

“Joooooshhhh.. ya ampun, SMS aku kok nggak dibales?”
“Iya, maaf.”
“Huuuuuuu….”
“Selamat siang, Sayang.”
“Siang, Sayaaaaaang… kamu lagi apa?”
“Baru selesai makan nih.”
“Hooo… semalem gimana? Seru?”

Duh, ditanya soal semalam.

“Seru.”
“Minum-minum deh pasti kamu, ya?”
“Iya.. hehehehe….”
“Huh, dasar.”
“Ya kamu tahulah, namanya di club, Ronny ulang tahun. Hehehe….”
“Banyak nggak minumnya?”
“Lumayan.”
“Ih, Josh… mabok dong? Ih Nana aja belum pernah ngerasain yang namanya alkohol. Nyicip juga belum pernah. Hahahahaha norak banget ya aku.”
“Hahaha, jangan.. bagus begitu dong.”
“Hehehehehe, iya.. emang nggak mau juga.”
“Iya, alkohol dan kamu adalah hal yang berlawanan. Jangan.”
“Kalo ke kamu, enggak ya? Hehehehe…”
“Aku kan Manado. Hahahaha..”
“Hahahahaha ada aja alasannya. Yaudah, yaudah, nggak apa namanya ulang tahun Ronny. Kamu sama dia kan udah kayak anak kembar tuh.”
“Hehehehehe… enggak, lah… ganteng aku.”
“HAHAHAHA DASAR…”
“Hehe…. Btw kamu di rumah?”
“Iya, di rumah ajah…..”
“Nggak ke mana-mana?”
“Entar mau nyalon.”
“Mau diapain rambutnya?”
“Dirawat dong sayaaaaang… biar kamu makin sayang…”
“Oh gitu?”
“Ih nanti kalo aku jelek, kamu berpaling ke cewek lain. Nggak mauuuuu….”

Duh. Kok dia ngomong gitu rasanya hati langsung ditendang. Biasanya kalau kayak gini, aku ladeni dengan menggombal, tetapi entahlah, menggombal saja rasanya enggan. Berat.

“Hehe, bisa aja.”
“Hehehehehehe…. Eh eh, btw aku semalem mimpi, Josh..”
“Mimpi apa?”
“Mimpi kamuuuuu… ih tapi nggak enak banget deh mimpinya.”
“Kok nggak enak?”
“Iya.. aku lihat kamu jalan sama cewek lain. Terus kamu aku panggil-panggil, ih kamu malah nggak nengok. Kamu jalan aja terus sama cewek itu. Nyebelin banget.”
“Waduh. Ada-ada aja mimpinya.”
“Hihihihihi… untung cuma mimpi, ya..”
“Iya…”
“Kayaknya aku kebanyakan mikirin kamu deh, Sayang.. sampe kebawa mimpi. Hahahahahaha…”
“Hahaha, gombal aja siang-siang.”
“Hehehehe…. Eh tapi kamu belum gombalin aku?”
“Hmm.. mau digombalin apa?”
“Apa keeeek…”
“Hmm.. gombal nggak bisa disuruh.”
“Ih emang gitu ya?”
“Iya.. harus spontan.”
“Huuuuuh…. Yaudah deh.”
“Hahaha….”
“Eh Josh, Josh…”
“Hmm?”
“Hari ini mau ketemu, nggak? Aku kangeeeeen…”
“Ketemu? Ini kan minggu, Sayang..”
“Ih, aku kan bilangnya mau nyalon seharian sama mama. Yaudah deh aku nggak jadi nyalon. Biar ketemu kamu aja.”
“Hmm… Nanti kamu pulang, rambutnya nggak dicek mama? Hahahaha..”
“Eh iya ya…”
“Hahahaha….”
“Duh, tapi mau ketemu kamuuuu…”
“Ya terus gimana?”
“Yaudah ketemu ajaaaaaa…”
“Hmm… gimana kalo aku temenin kamu nyalon?”
“Naaaah… iya iya kamu mau kan temenin nyalon, Josh?”
“Mau.”
“Ih asiiiiik…. Yaudah yaudah, siap-siap, nanti aku jemput ya.”
“Umm, mau jemput di rumah, nggak?”
“MAUUUU.. AKU MAU KE RUMAH KAMU… KETEMU MAMA KAMU…..”
“Umm… kayaknya baru nanti sore mama ke rumah.”
“IH MAU DIKENALIN…… MAMA KAMU NGGAK GALAK, KAN?”
“Hahahaha.. itu mah mama kamu, Le.”
“Ihihihihii… yaudah yaudah ih senengnya kalo bisa ketemu calon mertua!”
“Hahahahaha gila…”
“Hihihihi… yaudah mandi sana, Josh…”
“Iya, kamu kabarin ya kalo udah di jalan. Nanti aku SMS alamatnya.”
“Oce oceeee….”

***

Aku sudah mandi, sudah rapi, sudah duduk di teras rumah. Katanya, Leona sudah mau sampai, sempat nyasar sebentar. Ini akan menjadi yang pertama kalinya Leona ke rumahku.

“Mau ke mana, Josh?” Tanya Tante Lisa yang lagi asyik main-main tanaman.
“Jalan, Tan. Sama pacar. Hehehe…” Jawabku.
“Pacarnya jemput?”
“Iya.”
“Wah.. Pake mobil?”
“Iya.”
“Pinter juga kamu cari cewek, Josh.”
“Hahaha, nggak gituuuu…”
“Hehe…”
“Nah itu datang. Pamit ya, Tan.”
“Eeeehhh.. kenalin dulu, Pacarnya.”
“Hmm… oke oke. Sebentar.”

Aku berjalan keluar, menghampiri mobil Leona. Dia membuka kaca, memakai kacamata hitam, sekilas kulihat dia terlihat dewasa dengan kacamata itu. “Turun dulu, kukenali tanteku.” Kataku. Lalu Leona menepikan mobilnya, kemudian turun dari mobil.

“Tan, kenalin.” Kataku.
“Halo… maaf ya nggak bisa salaman, tangannya abis megang tanah.” Kata Tante Lisa.
“Ih nggak apa, Tante. Hehehe…” Jawab Leona, tidak malu-malu.
“Namanya siapa?” Tanya Tante Lisa.
“Leona, Tante. Ih mamaku di rumah juga suka main tanaman. Sama. Hehehe..” Jawab Leona.
“Oya?? Ya maklum ibu-ibu, ya…” Jawab Tante Lisa.
“Yaudah, Josh jalan ya, Tan. Dadaaaaah…” Kataku.
“Daaaa… hati-hati, Josh.” Kata Tante Lisa.

Kulihat Tante Lisa agak tercengang ketika dia memandang keluar, memandangi mobil Leona. Pacarku orang kaya, pasti dia berpikir begitu.

“Kamu cantik, pake kacamata itu.”
“Iya? Hihihihihi, makasih….”
“Kayak dewasa.”
“Ih… kesannya Nana masih anak kecil, ya….”
“Hehehe….. mana kunci mobil?”
“Ini, bos…”
“Hahahaha…”

Aku dan Leona meluncur ke salon. Katanya, salon langganannya ada di daerah Senopati, Jakarta Selatan. Kupikir jauh sekali nyalon mesti ke Senopati, sementara rumahnya di Bintara, Bekasi. Ada-ada saja memang orang kaya itu.

“Kenapa salon kamu jauh banget?”
“Iya, udah langganan. Temen-temen Nana juga di situ kalo nyalon.”
“Mahal pasti.”
“Ih namanya merawat kecantikan, Josh.. mahal.. Lagian di sana enak, aku udah cocok sama salonnya.”
“Oh gitu, ya. Tapi jauh aja menurutku.”
“Hehehehe, iya sih.”

Aku sebisa mungkin berusaha menjadi biasa. Tidak mau seperti orang yang menyimpan sesuatu. Dalam hati, aku deg-degan. Seperti mempersiapkan diri untuk berbohong sebaik-baiknya, kalau-kalau Leona menanyakan hal yang berhubungan dengan semalam. Iya, berbohong terhadap orang yang kita cintai adalah perih yang entah bagaimana bisa digambarkan.

Aku ingin sekali bilang, mengakui kesalahanku dengan sejujur-jujurnya, supaya Leona tahu, seperti apa lelaki yang dia cintai ini sebenarnya. Lelaki yang dia cintai tidak lain adalah lelaki berengsek, tukang selingkuh. Kejujuran yang melukai itu lebih baik daripada kebohongan yang membahagiakan. Yang kubutuhkan adalah nyali, keberanian untuk bersikap adil atas apa yang telah kuperbuat. Namun, tidak, aku bukan orang yang adil. Siapakah aku hingga memahami arti keadilan.

Dalam perjalanan, aku bak orang yang sakit. Aku berkeringat, kutunjukkan semangat yang dibuat-buat.

“Josh, tante kamu asyik, ya..”
“Tante Lisa?”
“Iya. Kayaknya gaul gitu.”
“Hahaha.. Tante Lisa itu peminum. Kalau hari sorean dikit, sudah bau anggur mulutnya.”
“Oyaaaa?? Sumpah Nana nggak percaya ah… Masa’ ibu-ibu masih mabok-mabokan.”
“Alkohol tak pandang ibu-ibu atau anak muda, Sayang. Kalau udah kecanduan, ya mau bilang apa?”
“Hmmmmm ih ada-ada aja, ya..”
“Yaaaa.. begitulah keluargaku, Le. Unik-unik.”
“Aku unik nggak, Josh?”
“Enggak.”
“Ih Josh…. Gitu banget… bilang aja kek ada, biar aku seneng. Kamu ih…”
“Hehehe… lagian pake nanya, kamu tuh. Tiap orang pasti ada keunikannya masing-masing, lah…”
“Ih yaudah, apa keunikan aku?”
“Menurut kamu apa?”
“Apa yaaaa?”
“Nah kan, dia bingung sendiri.”
“Ih, Joshhhh… hahahahahaha….. bentar Nana inget-inget dulu.”
“Hmm.. bisa lupa juga kamu, Le?”
“Aku sibuk mikirin kamu, Josh. Jadi lupa segalanya kan… hahahaha…”
“Hahaha…”
“Ih, btw hari ini aku belum dipeluk.”
“Peluk? Ini kan di mobil, bukan di motor. Di motor tuh, pelukan biar nggak jatoh.”
“Hahahahahahaha…… lucu juga ya pacar aku.”
“Aku bukan lucu. Kamu aja yang murah ketawa.”
“Hihihihihi… aku bukan murah ketawa, Josh.. Sama kamu bahagia tuh kayaknya gampang aja buat aku.”
“Jangan gitu. Itu beban loh, buat aku.”
“Ih kok beban?”
“Ya beban, lah.. kayak yang aku bilang dari dulu, Le. Manusia itu punya bakat mengecewakan.”
“Josh.. aku yakin kamu nggak bakal ngecewain aku.”
“Kenapa kamu bisa ngomong gitu?”
“Karena aku yakin. Ih namanya orang yakin tuh jangan ditanya-tanya…”
“Hahaha.. gitu, ya?”
“Iyah…”
“Hehe…. Well, misal, suatu hari aku mengecewakan kamu. Gimana?”
“Ih enggak, Josh.. kamu nggak akan.”

Percakapan yang biasanya aku nikmati, kini berubah seperti siksaan. Kata-kata sayang yang kudengar terasa seperti tamparan keras. Semakin dia menunjukkan sayang, semakin aku merasa harus terus memendam kesalahan. Tidak ada yang perlu aku akui, atau Tuhan tolong semoga aku bisa melupakan kesalahanku. Bagaimana caranya? Bagaimana caranya melanjutkan hari tanpa harus mengingat apa yang terjadi semalam? Bagaimana??

Sampai di salon, kulihat memang ini salon yang mahal. Pelanggannya pasti anak-anak orang kaya, atau barangkali ada artis dan model.

“Kamu nggak mau ikutan creambath, Josh?”
“Nope.”
“Umm.. facial?”
“No. Aku tungguin kamu aja.”
“Hmmm… yaudah, yaudah. Tungguin ya, Sayang..”
“Iya, Leonaaaaa…”

Leona masuk ke dalam, dan aku duduk di kursi pada ruang tunggu. Kuperhatikan banyak cewek cantik berlalu-lalang, kok pusing aku lihatnya.

***

Sudah setengah jam berlalu, aku mulai merasa bosan. Ah, tunggu di mobil saja, pikirku.

Aku berjalan keluar, menuju ke tempat di mana mobil Leona di parkir, kemudian aku masuk ke dalam mobil. Kunyalakan mesinnya, kuhidupkan AC dan radio, dan tiba-tiba HP-ku bordering. Ah sial, Karin menelepon.

“Halo?”
“Josh? Di mana?”

Ah, kenapa aku angkat sih???

“Di luar, Rin. Kenapa?”
“Ooo.. sama siapa?”
“Kenapa, Rin?”
“Sama pacar kamu?”
“Iya.”
“Ups. Okay, sorry. Baiklah, kalau gitu.”
“Iya, Rin.”
“Kamu mau kabarin aku nanti, kalau udah nggak sama pacar kamu?”
“Sebenarnya kalo ada yang mau kamu sampaikan, sekarang aman, kok, Rin. Ada apa?”
“Ummm.. 3 words.”
“Apa?”
“I miss you.”
“Jangan.”
“Kenapa, jangan?”
“Karin………”
“Josh, pasti kamu bakal menghilang lagi.”
“Jadi maunya kamu aku gimana?”
“Aku butuh sedikit waktumu, Josh. Aku nggak minta banyak. Sedikit aja.”
“Waktu untuk?”
“Untuk kita.. kamu dan aku.”
“Aku udah punya pacar, Rin.”
“Justru itu, makanya aku minta sedikit aja dari waktumu.”
“Rin, itu nggak baik untuk hubungan yang udah aku jalanin sekarang.”
“Lalu semalam kita ngapain?”
“I’m so sorry. Aku lepas kendali semalam.”
“Josh, kamu tega.”
“Memang… aku minta maaf…”
*tut… tut.. tut

Yang aku khawatirkan, terjadi. Karin meminta lebih dari apa yang sedang kusesali. Bagaimana, dong? Aku bingung, dan jadi memikirkan yang tidak-tidak, yang jauh-jauh, yang tidak kuharapkan terjadi, meski kemungkinannya kian membesar. Mungkin saja Karin akan tiba-tiba muncul di hadapan Leona, lalu menceritakan semuanya. Duh, jangan, jangan itu terjadi.

***

Sekitar 2 jam, baru Leona keluar dari pintu salon. Dia terlihat lebih cantik dari sebelumnya, meski memang lumayan cantik dari sananya. Entah diapakan rambutnya itu, bisa sampai hitam berkilau. Memang, dari sekian hal menakjubkan pada diri Leona, salah satu yang membuatku tertarik itu rambutnya. Rambutnya panjang dan tebal.

“Lama nggak, Josh?”
“Lumayan..”
“Hehehehehe.. Ih seneng deh ditungguin pacar nyalon.. komentar dong… bilang bagus kek, Josh, apa kek…”
“Hmm, kayaknya nggak ada yang berubah.”
“Ih nyebelin…”
“Hahahaha, iya iya, cantik.”
“Kamu suka, nggak?”
“Suka.”
“Rambutnya wangi banget, Le.”
“Hehehehe iya dooong…”
“Boleh dipegang, nggak?”
“Ih jangan tangan kamu kotor, Josh..”
“Hahahahaha, segitunya..”
“Hihihihihi….”
“Yaudah, ini kita ke mana. Mumpung belum sore-sore banget.”
“Makan?”
“Boleh.. yuk makan yuk..”
“Yuk..”
“Kamu mau makan apa?”
“Apa aja, terserah kamu…”
“Ayam Betutu yang di Tebet, enak… mau?”
“Ih jangan ayam.. Aku mau sushi..”
“Lah katanya terserah..”
“Ih tiba-tiba kepengen sushi..”
“Bisa tiba-tiba gitu, ya? Yaudah sushi.”
“Asiiiiik….”

Aneh memang cewek. Dia kasih kita memilih untuk dia protes sama pilihan kita. Lucu.

Dalam perjalanan menuju restoran, sebetulnya pikiranku tidak tenang. Aku memikirkan Karin, betapa masalah ini menjadi semakin runyam saja. Apa tadi aku terlalu keras sama Karin? Apa tadi aku menyinggung perasaannya? Apa Karin memiliki perasaan?

“Josh, gimana siaran kamu?”
“Ya begitu. Kadang masih suka bingung mau ngomong apa.”
“Hehehehe.. nggak apa, Josh, belajar. Aku suka kok denger kamu siaran, apalagi kalo udah ngomongin cinta. Ada aja kata-kata kamu tuh.”
“Hehe, iya.. Makasih ya, Sayang. Kamu banyak bantu aku.”
“Ih aku nggak bantu apa-apa kok, Josh.. kamu bisa siaran ya karena kamu sendiri.”
“Iya.. tapi kalo nggak ada kamu, belum tentu aku bisa. Kamu itu semangatku, Le. Kita deket dan pacaran udah begitu lama, dan semakin hari aku sama kamu, semakin aku kenal diri aku sendiri. Aku jadi berani melakukan sesuatu, hal-hal yang tadinya aku mikir aku nggak mampu.”
“Aku cuma bisa nyayangin kamu aja, Josh. Itu aja.”
“Itu mungkin, Le. Sayang yang kamu kasih ke aku berarti banyak buat aku.”
“Hehehehe.. duh jadi malu kamu gituin.”
“Hehe.. makanya, ke kamu aku nggak pernah susah untuk bilang terima kasih. Thanks ya, Sayang. Untuk semuanya. I love you.”

Dengan mengatakan itu, hatiku berkecamuk. Betapa aku merasa aku hanya sedang membual. Apa yang kuungkapkan tidak sejalan sama apa yang sudah kulakukan kepadanya. Dia hanya tidak tahu, aku telah mengkhianatinya. Hati, cinta, perasaan, semua itu omong kosong. Aku merasa aku adalah lelaki yang sungguh egois. Aku membutuhkan kasih sayangnya, tetapi di kesempatan lain, aku bercinta dengan perempuan lain.


*bersambung*

Korelasi Cinta dan Kimia

Cinta itu memahami. Cinta itu bukan sekadar perasaan. Cinta adalah akhlak dan mengerti apa yang harus dilakukan. Cinta itu memberi rasa aman dan nyaman. Cinta itu larutan homogen, jika sudah larut tidak terpisahkan. Cinta itu fluorescein, berpendar cerah. Cinta itu reaksi kimia. Kimia salah satu cabang ilmu mempelajari jenis-jenis ikatan dan reaksi. Termasuk reaksi antara aku dan kamu. Semoga ikatan cinta kita bisa bersatu. SAH! Hehehe.

Yeah, aku menemukan korelasi!

Antara cinta dan kimia.

Aku ingin berbagi sedikit padamu perihal pengetahuanku tentang cinta dan proses kimia nya. Karena kamu harus ingat kalau aku hidup dalam lingkungan ilmiah, maka menjawab segala sesuatu dengan ilmiah pula. Kamu tau darimana datangnya cinta? Udah dari sononya? Atau sudah takdir? Hehe. Fakta ilmiahnya tak sesimpel itu. Proses kimiawi cinta tidak sesederhana peribahasa ‘dari mata turun ke hati’. Karena sebelum turun ke hati, aliran cinta transit dulu di otak melewati proses-proses kimiawi. Dan proses transit ini memerlukan beberapa tahapan. Menarik ya? Cinta memang menarik, Saaangat menarik, dan akan selalu menarik.

Tahap pertama saat kamu jatuh cinta adalah Terkesan. Tahap ini terjadi ketika adanya kontak antara dua orang melalui alat indera. Melalui tatapan, berdekatan, berbicara atau yang lainnya.

Tahap berikutnya adalah Tertarik. Hasil dari kontak kita dengan si do’i menyebabkan timbulnya rasa tertarik. Mungkin kamu tertarik dengan wajahnya, bentuk tubuhnya, sifatnya, sikapnya, kecerdasannya, atau isi dompetnya, atau mobilnya? (weiittss, jangan-jangan itu mobil minjem. hayoloh). Hehe. Pada tahap ini, otakmu terangsang untuk menghasilkan tiga senyawa cinta, yaitu: Phenyletilamine (PEA), Dopamine dan Nenopinephrine.

Dari ketiga senyawa tersebut, senyawa PEA-lah paling berperan dalam proses kimiawi cinta. Phenyletilamine (PEA) atau 2-feniletilamin mempunyai Mr =121,18; titik didih sebesar 197-200 ; berat jenis = 0,965 ; memiliki bidang polarisasi ND 200 = 1,5335. Apa kamu tau? Ternyata senyawa PEA banyak terkandung dalam coklat seperti Silver Queen, Tim-Tam, Magnum, dll. (Whoaa,, Silver Queen, Tim-Tam, or Magnum must endorse me!! Udah di promote-in nih. Haha). PEA-lah yang membuatmu tersipu-sipu ketika berpandangan dengan orang yang disukai. Kamu kaget dan gemetar tatkala berhadapan dengan orang yang dicintai atau tatkala mendengar namanya disebut. Eeaa.. Eeaa.. Eeaa.. (dengan nada Tukul)

Tahap berikutnya yaitu terikat. Hatimu tertambat. Nyangkut. Ingin selalu berdekatan. (Pepeet teruusss!) ck,ck,ck. Pada tahap ini tubuh akan memproduksi senyawa Endropin. Senyawa inilah yang akan menimbulkan perasaan aman, damai, dan tentram. Otak memproduksi senyawa ini apabila orang yang kamu kasihi berada di dekatmu. Kuuyy..

Sampai pada tahapan yang terakhir. Pada tahap ini senyawa Oxyrocin dihasilkan oleh otak kecil. Mempunyai peranan dalam hal membuat rasa cinta itu menjadi lebih rukun dan mesra antara keduanya. Kamu mulai mencintai apapun yang dicintai sang kekasih. Kekasih suka olahraga, kamu juga jadi suka olahraga. Kekasih suka puisi, kamu juga suka puisi. Kekasih suka jazz, kamu juga suka jazz. Kekasih suka cowok lain, kamu suka cewek lain. LOH?!! Hehehe. Senyawa ini bisa membuatmu tunduk kepada perintah orang yang dicintai dan mendahulukannya daripada kepentingan diri sendiri. Do’i nyuruh belajar, kamu pun belajar. Do’i nyuruh tidur, kamu pun tidur. Do’i nyuruh lompat ke jurang, kamu pun lompat. LOH?! Bego’ dong. Lol.

Itulah proses kimia jatuh cinta. Bagaimana pendapatmu setelah mengetahuinya?

Kalau aku sih, ingin segera beranjak menuju laboratorium organik. Meminta bantuan Pak Tjuntjun atau Pak Candra, sang master organik di kampus, untuk mensintesis senyawa-senyawa cinta. Jika aku berhasil, kutraktir kamu minum kopi. Kan kupesankan kopi Vietnam untukmu lalu kumasukkan senyawa hasil sintesis itu. (Terinspirasi dari jessica wongso)

NP : dewa 19_risalah hati

“aku bisa membuatmu
jatuh cinta kepadaku
meski kau tak cinta kepadaku
beri sedikit waktu
biar cinta datang karna racun di kopimu” lol

saat senyawa itu bereaksi dalam tubuhmu , maka saat itulah aku berhasil mematahkan paradigma masyarakat “cinta ditolak, dukun bertindak” berubah menjadi “cinta ditolak, analis kimia bertindak” hehe

Ah, lupakan dulu mimpiku tadi. hehe. Akhir kata haruslah diingat bahwa segala sesuatu, termasuk cinta adalah karunia sang pencipta yaitu Allah swt. sehingga wajar porsi paling besar cinta kita berikan kepadaNya.