barkeley

Business Strategy » "Sonita Lontoh: Srikandi Indonesia di Lembah Silicon"

Sonita Lontoh dikenal oleh dunia lewat kiprahnya di bidang green tecnology, khususnya tentang Smart Grid. Fokusnya saat ini adalah mengedukasi keuntungan yang didapat dari Smart Grid untuk mempercepat adopsi global. Perempuan yang memiliki darah Manado-Padang ini memang menduduki posisi eksekutif di Trilliant, sebuah perusahaan berkonsep ‘green tecnology’ cukup ternama bertempat di Silicon Valley, US, yang produk utamanya adalah Smart Grid.



Sonita Lontoh

Peraih Master of Engineering dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang juga cross registered di Harvard Business School ini juga rupanya sadar betul tentang pendidikan. Di waktu yang sama ia juga berhasil meraih gelar MBA dari Kellogg School of Management di Northwestern University, serta gelar sarjana teknik industri dan operasi di University of California Barkeley.

Sonita tercatat sebagai mentor profesional untuk Program TechWoman pimpinan HillaryClinton yang mengimplementasikan visi Presiden Barack Obama tentang peningkatkan hubungan baik antara Middle East dengan pemerintah AS di bidang energi. Sonita juga aktif dalam Clean Energy Education & Empowerment (C3E), sebuah program inisiatif Departemen Energi AS dan MIT untuk memajukan kepemimpinan profesional perempuan dalam clean energy. Istri dari Adam Skargard ini juga tercatat sebagai penerima penghargaan Diaspora untuk Kewirausahaan dan Keunggulan Korporasi, yang diberikan sendiri oleh Pemerintah Indonesia untuk diaspora yang luar biasa dan telah diundang untuk bertemu dengan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.

Pengalaman profesionalnya di bidang energi dan teknologi ramah lingkungan memang terbilang sudah cukup mumpuni yaitu lebih dari 10 tahun. Ia pun pantas digelari pakar yang cukup dikenal di Amerika. Lewat kompetensinya itu, wanita berambut pendek yang senantiasa selalu menampilkan senyum ramahnya ini berkeinginan untuk menambah jumlah pemimpin wanita di bidang yang sekarang banyak didominasi oleh kaum pria ini

Seperti apa kiprah, wanita luar biasa ini lebih jauh? Berikut wawancara ekslusif Gustyanita Pratiwi dan Ario Fajar dari SWA dengan peraih Global Emerging Leader Under 40 in 2012 dari National Association of Asian MBAs di AS, yang tatkala diwawancara sedang cuti selama 1 minggu untuk liburan ke kampung halamannya di Indonesia:

Read more > http://swa.co.id/business-strategy/sonita-lontoh-srikandi-indonesia-di-lembah-silicon

6th Mass Extinction for Earth?

From fish to tigers, species are going extinct. Some scientists believe that Earth is on the way to a mass extinction like those that have happened five times within the past 540 million years. Each of these extinction more than three-quarters or more of the animal species went extinct.

A study that was published in a March 3 issue of the journal, Nature, University of California, Berkeley, paleobiologists assessed where mammals and other species stand today in terms of possible extinction, compared with the past 540 million years. 

“If you look only at the critically endangered animals - those where the risk of extinction is at least 50 percent within three of their generations - and assume that their time will run out, and they will be extinct in 1,000 years, that puts us clearly outside any range of normal, and tells us that we are moving into the mass extinction realm,” Anthony D. Barnosky says, who is the principal author, as well as UC Berkeley professor of integrative biology, a curator in the Museum of Paleontology and a research paleontologist in the Museum of Vertebrae Zoology. “If currently threatened species - those officially classed as critically endangered, endangered and vulnerable - actually went extinct, and that rate of exinction continued, the sixth mass extinction could arrive within as little as 3 to 22 centuries." 

"So far, only 1 or 2 percent of all species have gone extinct in the groups we can look at clearly, so by those numbers, it looks like we are not far down the road to extinction. We still have a lot of Earth’s biota to save. Its very important to devote resources and legislation towards species conversation if we don’t want to be the species whose activity caused a mass extinction.” Barnosky continues.