bara yang

Shalat

“Aa, Abang, Kaka. Masuk kamar!” suara Ayah tegas dengan nada dan volume cukup tinggi namun bermimik wajah lembut.

Ada apa gerangan? Ayah hampir tidak pernah sekeras ini saat berbicara. Terakhir ia berucap keras, itupun tidak sekeras orang-orang di sekitar rumahku yang gemar sekali bertengkar untuk mempersoalkan hal sepele, sekitar 3 bulan lalu saat Ayah beradu mulut dengan Ibu yang berujung perginya Ibu dari rumah. Meninggalkan 3 orang anaknya yang menangis tak berdaya. Dan kembalinya Ibu setelah seminggu lamanya pergi menghadirkan keharuan dan ucapan maaf dari Ayah.

Kami bertiga masuk ke kamar, menuruti perintah Ayah dengan kepala tertunduk. Peluh masih membasahi sekujur punggung, kami baru pulang bermain bola di kampung sebelah saat adzan Isya telah berkumandang. Memang kami terlalu larut bermain.

Kamar itu sebenarnya sebuah garasi yang disulap menjadi tempat tidur bersama dan ruang serbaguna dengan penerangan lampu seadanya. Aa bersila diantara aku dan Kaka yang juga ikut bersila. Kami sering disebut ‘Tiga Serangkai’ oleh tetangga karena selalu bertiga kemana-mana. Ayah pun bersila di hadapan kami. Wajahnya mempertontonkan kekecewaan yang semakin membuat kami ciut.

“Kenapa pulang selarut ini?”Ayah mulai menginterogasi kami.

Aa sebagai kakak lelaki pertama memposisikan diri sebagai juru bicara dan mulai berkilah panjang tentang alasan kenapa pulang larut malam. Mulai dari sendal Kaka yang hilang sebelah karena dijahili anak kampung sebelah hingga diajak main Playstation setelah main bola oleh Dodi, tetangga sekaligus teman karib kami bertiga.

“Sudah shalat maghrib?”

Sebuah pertanyaan yang mencekat. Aa diam membeku. Apalagi aku, Apalagi Kaka yang paling muda. Kami betul-betul lupa waktu saat itu. Hanya menundukkan kepala yang bisa kami lakukan. Mungkin karena ini wajah ayah begitu kecewa.

“Bu, tolong matikan lampu”, suara Ayah lembut kepada Ibu.

Ibu yang semenjak awal ternyata mendengarkan di balik pintu kemudian masuk dan mematikan lampu lalu duduk di samping Ayah. Kamar seketika gelap gulita.

“Apa yang bisa kamu lihat sekarang?”

Hening.

“Semua gelap. Lihat sekeliling kamu, hanya ada hitam. Tapi ulurkan tanganmu ke kanan dan ke kiri. Kamu akan merasakan genggaman tangan saudaramu dan Ayah Ibu.”

Kami saling menggenggam.

“Tapi tidak lagi saat nanti di alam kubur. Karena kamu akan sendirian dalam kegelapan. Tidak ada saudaramu. Tidak ada Ayah Ibu. Hanya sendiri. Sendiri dalam kegelapan dan kesunyian.”

Aku tercekat. Semua terdiam. Genggaman tangan di kanan kiriku mengerat. Lalu terdengar suara korek api kayu dinyalakan, sesaat tergambar wajah Ayah, Ibu, Aa, dan Kaka akibat kilatan cahaya api pada korek yang dinyalakan Ayah. Semua berwajah sendu. Korek itu membakar sebuah benda yang menghasilkan bara berbau menyengat. Bau obat nyamuk.

“Siapa yang berani menyentuh bara ini?” Suara Ayah masih mendominasi.

Semua diam. Masih diam.

“Ini hanya bara. Bukan api neraka yang panasnya jutaan kali lipat api dunia. Maka masihkah kita berani meninggalkan shalat? Shalat yang akan menyelamatkan kita dari gelapnya alam kubur dan api neraka.”

Terdengar suara isak tangis perempuan. Itu Ibu. Genggaman kami semua semakin menguat.

“Tolong Ayah. Tolong Ibu. Ayah Ibu akan terbakar api neraka jika membiarkan kamu lalai dalam shalat. Aa, usiamu 14 tahun, paling dewasa diantara semua lelaki. Abang, 12 tahun. Kaka, 10 tahun. Bahkan Rasul memerintahkan untuk memukul jika meninggalkan shalat di usia 10 tahun. Apa Ayah perlu memukul kamu?”

Suara isak tangis mulai terdengar dari hidung kami bertiga. Takut. Itu yang kurasakan. Kami semua saling mendekat. Mendekap, bukan lagi menggenggam.

“Berjanjilah untuk tidak lagi meninggalkan shalat. Apapun keadaannya. Sekarang kita shalat Isya berjamaah. Dan kamu bertiga mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”


Sebuah cerpen pengingat.

Senin, 17 Oktober 2016, 0:01 WIB

Nanti kalau udah siap bilang
—  Kemudian kau tampak rikuh. Pipimu merona, memerah seperti bara yang dipeluk apinya. Pikiranmu berlarian menyusuri lorong-lorong. Berusaha mencerna kata-kataku yang tak pernah menempati tong-tong sampah bernama ragu.
"ANA INGIN KELUAR DARI JAMAAH"

“Ustadz, dulu Ana merasa semangat dalam Dakwah. Tapi belakangan rasanya semakin hambar. Ukhuwah makin kering. Bahkan Ana melihat ternyata banyak pula yang aneh-aneh.”

Begitu keluh kesah seorang santri kepada ustadznya di suatu hari.

Sang Ustadz hanya terdiam, mencoba menggali semua kecamuk dalam diri santrinya.

“Lalu, apa yang ingin Antum lakukan setelah merasakan semua itu?” sahut sang ustadz setelah sesaat termenung.

“Ana ingin berhenti saja, keluar dari jamaah ini. Ana kecewa dengan perilaku beberapa teman yang justru tidak Islami. Juga dengan organisasi Dakwah yang Ana geluti, kaku dan sering mematikan potensi anggota-anggotanya. Bila begini terus, Ana mendingan sendiri saja…” jawab santri itu.

Sang ustadz termenung kembali. Tidak tampak raut terkejut dari roman wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan jawaban itu memang sudah diketahuinya sejak awal.

“Akhi, bila suatu kali Antum naik sebuah kapal mengarungi lautan luas. Kapal itu ternyata sudah amat bobrok. Layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang keropos bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu, apa yang akan Antum lakukan untuk tetap sampai pada tujuan?” tanya sang Ustadz dengan kiasan bermakna dalam.

Sang santri terdiam berpikir. Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam melalui kiasan yang amat tepat.

“Apakah Antum memilih untuk terjun ke laut dan berenang sampai tujuan?” Sang ustadz mencoba memberi opsi.

“Bila Antum terjun ke laut, sesaat Antum akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasakan kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan ikan lumba-lumba. Tapi itu hanya sesaat.

Berapa kekuatan Antum untuk berenang hingga tujuan?

Bagaimana bila ikan hiu datang?

Darimana Antum mendapat makan dan minum?

Bila malam datang, bagaimana Antum mengatasi hawa dingin?”

Serentetan pertanyaan dihamparkan di hadapan santri.

Tak ayal, Sang santri menangis tersedu. Tak kuasa rasa hatinya menahan kegundahan sedemikian.

Kekecewaannya kadung memuncak, namun Sang ustadz yang dihormatinya justru tidak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya.

“Akhi, apakah Antum masih merasa bahwa jalan Dakwah adalah jalan yang paling utama menuju ridho Allah?” Pertanyaan menohok ini menghujam jiwa Sang santri. Ia hanya mengangguk.

“Bagaimana bila temyata mobil yang Antum kendarai dalam menempuh jalan itu ternyata mogok?

Antum akan berjalan kaki meninggalkan mobil itu tergeletak di jalan, atau mencoba memperbaikinya?” tanya Sang ustadz lagi.

Sang santri tetap terdiam dalam sesenggukan tangis perlahannya.

Tiba-tiba ia mengangkat tangannya, “Cukup Ustadz, cukup. Ana sadar. Maafkan Ana. Ana akan tetap istiqomah. Ana berdakwah bukan untuk mendapat medali kehormatan. Atau agar setiap kata-kata Ana diperhatikan…”

“Biarlah yang lain dengan urusan pribadi masing-masing. Ana akan tetap berjalan dalam Dakwah ini. Dan hanya Allah saja yang akan membahagiakan Ana kelak dengan janji-janji-Nya. Biarlah segala kepedihan yang Ana rasakan jadi pelebur dosa-dosa Ana”,

Sang santri berazzam di hadapan ustadz yang semakin dihormatinya.

Sang ustadz tersenyum.
“Akhi, jama'ah ini adalah jama'ah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan.

Tapi di balik kelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang mereka miliki. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan Allah untuk berDakwah. Dengan begitu, mereka sedang berproses menjadi manusia terbaik pilihan Allah.”

“Bila ada satu dua kelemahan dan kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaan Antum. Sebagaimana Allah ta’ala menghapus dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuslah kesalahan mereka di mata Antum dengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap Dakwah selama ini. Karena di mata Allah, belum tentu Antum lebih baik dari mereka.”

“Futur, mundur, kecewa atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah jalan yang masuk akal.

Apabila setiap ketidak-sepakatan selalu disikapi dengan jalan itu, maka kapankah Dakwah ini dapat berjalan dengan baik?” sambungnya panjang lebar.

“Kita bukan sekedar pengamat yang hanya bisa berkomentar. Atau hanya pandai menuding-nuding sebuah kesalahan. Kalau hanya itu, orang kafir pun bisa melakukannya. Tapi kita adalah Da'i. Kitalah yang diserahi amanat oleh Allah untuk membenahi masalah-masalah di muka bumi.

Bukan hanya mengeksposnya, yang bisa jadi justru semakin memperuncing masalah.”

“Jangan sampai, kita seperti menyiram bensin ke sebuah bara api. Bara yang tadinya kecil tak bernilai, bisa menjelma menjadi nyala api yang membakar apa saja. Termasuk kita sendiri!”

Sang santri termenung merenungi setiap kalimat ustadznya. Azzamnya memang kembali menguat.

Namun ada satu hal tetap bergelayut dihatinya.

“Tapi bagaimana Ana bisa memperbaiki organisasi Dakwah dengan kapasitas Ana yang lemah ini?” sebuah pertanyaan konstruktif akhirnya muncul juga.

“Siapa bilang kapasitas Antum lemah?

Apakah Allah mewahyukan begitu kepada antum?

Semua manusia punya kapasitas yang berbeda. Namun tidak ada yang bisa menilai, bahwa yang satu lebih baik dari yang lain!” sahut Sang ustadz

“Bekerjalah dengan ikhlas. Berilah taushiah dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang kepada semua yang terlibat dalam organisasi itu. Karena peringatan selalu berguna bagi orang beriman.

Bila ada sebuah isyu atau gosip, tutuplah telinga Antum dan bertaubatlah. Singkirkan segala Ghil (dengki, benci, iri hati) Antum terhadap saudara Antum sendiri. Dengan itulah, Bilal yang mantan budak hina menemui kemuliaannya.”

Suasana dialog itu mulai mencair. Semakin lama, pembicaraan melebar dengan akrabnya.

Hari itu, Sang santri menyadari kekhilafannya. Ia bertekad untuk tetap berputar bersama jama'ah dalam mengarungi jalan Dakwah. Pencerahan diperolehnya.

Tirah dalam Darah
: Wing Kardjo Wangsaatmadja (1937 - 2002)

siasat duri-duri
masih cerdik memburu
telapak kaki hewan buas
yang kehilangan jejak darah
di padang tak bermusim

sejak purnama wajahmu
bayang yang merah-merah itu
menggelayuti keriput pipi
ada yang belum selesai
beristirah

“maka beri lagi aku
lilin yang tak leleh
dibakar api-api usia
juga bara yang tak hangus
jadi arang dosa-dosa.”

2017

I’m still in AWE. I got like 6 hugs from Gray & Kerry right now. 

Gray is like. Really dreamy when you talk to him. He stares at you with these puppy dog eyes & huge ass smile on his face. HELL he was even leaning on his booth while talking to me. 

oh god that man is great. 

Even Bara said my yang cosplay was awesome. When I show her it. and told me from now on to tag her in them on twitter/ instagram

Kremasi

Tungku itu penuh abu
Kekar kayu bakar yang dulu terkapar
Dan bisik bara yang sedang lapar
Memilih jadi abu dengan diskusi mereka yang samar

Sudah tidak ada beban
Abu menari mengajak hembus bermukim
“Kalian tidak tahu rasanya dielu-elukan angin”
Sahut abu pada ranting, batang, akar yang dikibuli bumi

Geming berdoa pada desir abu yang terbang hari ini
Sebelum esok mereka menggosok piring dengan lidah lapar yang lain


21 April 2017

YANG PERNAH DAN AKAN TERUS KITA SAJAKKAN

: Ra

1

Mataku api yang takpernah bisa menyelesaikan kobarnya:
maka tutup matamu.

Mari kita bayangkan: sepasang lengan kita —
bakal pohon angsana yang saling melilitkan akar.

Kelak kaubisa menebaknya:
apa yang terbakar dan siapa yang terkapar;
apa yang menjadi bara dan dari dahan sebelah mana
terdengar teriakan burung-burung yang berabad lalu
membuat sarang di tubuh kita.


2

Suatu malam aku bermimpi:
aku melihat sekawanan badai nakal;
jerat gelombang yang membungkus sampan nelayan;
juga mercusuar yang meneteskan airmata.

Kurahasiakan darimu,
kusimpan lanskap mengerikan itu
di jantung laut dalam.

3

Tapi puisi masih menuliskan dirinya sendiri
di lembar-lembar tubuhku dan tubuhmu:
buku-buku yang saling mengasihani
di rak-rak berdebu sebuah perpustakaan.

Kau bertanya kepadaku:
“kata apa yang menurutmu paling puisi?

Aku menjawab pertanyaanmu dengan pertanyaan:
“apakah engkau lupa, sejak kapan kita berhenti menjadi puisi?”

“Selain langkah, benarkah sajak pernah meninggalkan jejak?”

4

Akar tidak mampu melawan gravitasi.
Seperti cinta:
ia tidak mampu melawan dirinya sendiri.


Solo, Oktober 2016

Belum Pernah

Aku merasakan cinta
Yang selama ini aku tak tahu
Aku sunyi diatas kehampaan
Tanpa sebuah ujung

Aku mendamba kasih tak biasa
Dan aku seorang yang tersesat
Lalu menemukanmu di tengah
Bara cinta yang membakarku

Belum pernah aku merasakan
Cinta seperti ini, seperti darimu
Buatku tak ingin kehilangan
Akhirnya aku mengerti ini cinta sejati

Kau merenda kata harapan
Menuangkan dua gelas cinta
Dan kita bagi menjadi dua jiwa
Untuk diteguk bersama

Belum pernah aku pahami
Sebelumnya jika ada kasih
Yang menyayangi segenap jiwa
Layaknya kini kurasakan darimu

Ayu Tyasti poetry 2017
5 Maret 2017

Karena pada akhirnya sosok yang kamu butuhkan bukan yang hanya sekedar selalu bisa membuatmu tertawa, bukan yang selalu mengalah ketika kamu marah, apalagi dengan kalimat ‘terserah’. Tetapi kelak yang kamu butuhkan adalah sosok yang bisa kamu genggam tangannya ketika dunia sedang tidak bersahabat, disaat sebelah tanganmu yang lain memegang teguh ajaran agama layaknya memegang bara api.

Sosok yang kamu rela dipimpin olehnya. Seseorang yang ia percaya, bahwa kamu dapat dituntunnya menuju surga Allah.

—  4.25 pm
Biasa Saja

Sedari awal aku menyadari bahwa kita ada untuk sementara saja. Kita berdua diciptakan dari kelemahan, digerakkan kepedulian dan disempurnakan oleh penerimaan. Bukankah menerima baik dan buruknya seorang manusia adalah setinggi-tingginya perasaan? Walaupun hal itu sulit untuk dicerna isi kepala, namun nyatanya kata hati punya kekuatan untuk melakukannya.

Sedari awal aku berusaha mengerti bahwa kita ada bukan untuk saling menyempurnakan. Aku dan kamu tak perlu repot-repot untuk menjadi pelengkap bagi satu sama lain. Sebab, menjadi lengkap dan sempurna adalah tugas kita masing-masing. Kita diciptakan berbeda agar masing-masing belajar memahami serta saling memberi penghargaan atas segala ketidaksamaan ini.

Semenjak awal aku tahu bahwa pertemuan adalah episode pertama dari sebuah perpisahan. Tolong ajari aku untuk memandangmu dengan tatapan yang biasa saja. Kelak, kedua mata indah itu akan tertutup selamanya dan aku harus mulai belajar menerima sebelum semuanya terlambat.

Semenjak awal aku harus belajar untuk melepaskan. Kita sama-sama mengetahui kebersamaan ini bukan untuk waktu yang lama. Suatu hari nanti aku harus menggenggam erat sebuah kehilangan. Buat aku agar mencintaimu dengan biasa saja, dengan begitu kita bisa mudahkan jalan untuk saling berpamitan. Sebab, mencintaimu dengan keterlaluan hanya akan menjatuhkan sepasang manusia ke dalam kubang ratapan yang berkepanjangan. Aku tak mau kita menjadi buta.

Begitu pula dengan sebaliknya. Ada saat-saat di mana kita akan saling menyakiti satu sama lain. Tentunya tidak akan ada terbesit niatan untuk melakukannya. Namun, keterbatasan kita sebagai manusia membuat aku dan kamu bergerak ke arah sana. Ketika menghadapinya, semoga aku akan membencimu dengan kadar yang biasa saja. Kita yang terluka akan dengan mudah meruntuhkan semua kebaikan. Yakinkan aku untuk tidak memakan hidangan benci yang berlipat ganda hanya untuk menahan lapar ego yang luar biasa.

Kita adalah wujud ketidaksempurnaan yang nyata. Aku dan kamu tak perlu saling memuja atau menciptakan luka dengan bara yang menyala-nyala. Semoga kita akan saling mencintai dan mencaci dengan kadar yang biasa saja, sewajarnya agar kelak saat kehilangan nampak di pelupuk mata, ia tidak akan merenggut segalanya.

Surabaya, 24 November 2016

@menujusenja

Semangkok Cuanki dan Sejumput Masa Lalu

Meski sudah sejauh ini. Seasing ini, aku masih mencoba diam-diam membuat kesepakatan dengan Tuhan tentang sebuah pertemuan singkat denganmu.

Di kedai kopi sepi atau di taman-taman rindang jam dua belas siang. Nyanyian hentakan kayu rujak tumbuk yang kita pesan akan menjadi lagu pengiring, atau juga kau boleh memilih ditemani kepulan asap dari ibu-ibu tambun yang mengipas arang agar ketannya matang.

Aku akan memesankan satu porsi untukmu. Kita akan sangat menikmatinya. Bahkan hingga di setiap titik pecin dari rasa lezat jajanan taman yang luruh di kedua lidah yang dulu pernah saling berpelukan erat dalam satu rahang. Desir-desir angin serta oksigen yang jatuh dari pohon di sekitar kita membuat bara yang selama ini menyala panas di salah satu hati diam-diam kian meredam padam.

Apa kabarmu? Bagaimana studimu? Sudah menentukan akan kerja di manakah setelah gelarmu rampung? Juga bagaimana kabar ayahmu? Sehatkah beliau? Masih ingatkah beliau tentang aku yang pernah dengan bangganya dititipkan mandat untuk menjagamu?

Aku pasti akan berbicara banyak; Perihal hal-hal di luar tentang masalah-masalah yang melibatkan hati kita berdua. Sejujurnya aku masih sering khawatir. Apakah kau makan malam itu? Sakitkah kamu? Bagaimana kabar asmamu? Lupakah kau menanak nasi? Masih ingatkah untuk selalu mencabut stop kontak setrikaan?

Juga jika kau izinkan, aku ingin bercerita tentang semua hari yang kulalui setelah dengan brengseknya kau memilih pergi.

Perihal bukuku, perihal tempat-tempat yang dulu selalu kita datangi; yang sudah tutup maupun yang kini makin bertambah besar.

Tentang adikku, tentang tukang ojek genit di ujung komplek, tentang usahaku, tentang pekerjaanku, dan tentang rencana-rencana baruku yang banyak berubah setelah kau memaksa mendobrak pintu dulu.

Ditemani semangkok cuanki, aku ingin pertemuan kita benar-benar sedamai itu. Damai dari segala luka masa lalu, dari dendam, dari sakit hati, dari semua salah paham, juga dari amarah dan benci. Aku ingin kita berdua sehari saja bisa lepas dari itu semua.

Saling berbagi cerita sebelum kemudian aku membayar makanan yang telah kita pesan, lalu kita berdua pergi saling memunggungi dengan gegas di jalan masing-masing tanpa tahu apakah nanti masih ada kesempatan bertemu lagi.

Ya, seperti itulah.
Meski sudah sejauh ini. Seasing ini, aku masih mencoba diam-diam membuat kesepakatan dengan Tuhan tentang sebuah pertemuan singkat denganmu.



Yang entah akan Tuhan kabulkan kapan. Atau bahkan mungkin tidak akan.
Mimpi Saya untuk Pendidikan Indonesia

Berbicara tentang Indonesia, sebenarnya kita sudah berbicara tentang lahan emas, lahan kekayaan, lahan kemakmuran, dan lahan dimana mestinya setiap penduduk menikmati penghasilan, dari segala anugerah alam negeri ini.

Indonesia kita ini sangat kaya akan alam, baik itu dari sektor hutan, lautan, sampai tambang. Kita kaya akan ragam sumber daya energi, baik itu minyak bumi, gas, sampai batu bara. Kita punya statistik yang mencengangkan dari kekayaan bumi: Emas Indonesia berkisar 2,3% dari cadangan emas dunia, timah 8,1% dari cadangan timah dunia, tembaga 4,1% dari cadangan tembaga dunia. Pastinya masih banyak lagi kekayaan yang tak bisa saya sebutkan lebih detailnya.

Lihat! Semua jenis sumber kekayaan kita lengkap. Tapi yang masalah apa? Bukan Indonesianya, tapi sumber daya manusianya.

Maka mimpi saya sejak dulu untuk Indonesia hanya pada pendidikan. Bidang pendidikan ini adalah bidang yang akan menentukan, apakah sumber daya manusia yang dicetaknya betul betul berkualitas, atau hanya sekedar formalitas?

Menurut saya, pendidikan Indonesia masih sekedar formalitas. Kenapa? Karena anak anak Indonesia masih lebih senang ketika guru tidak masuk kelas, daripada menerima ilmu dengan bersungguh-sungguh. Berarti, tujuan dari pendidikan itu sendiri tidak bisa diterapkan dengan baik kepada pelajar pelajar Indonesia.

Kalau dari pandangan saya, pendidikan dikatakan sukses ketika para pelajarnya menganggap belajar sebagai bermain. Karena bermain adalah belajar dengan suka rela. Sebab otak dapat maksimal digunakan potensinya, ketika kita melakukan sesuatu dengan dorongan dari diri sendiri. Artinya, setiap anak menganggap proses belajar sebagai proses yang ia senangi, tanpa tekanan apa apa.

Saya punya cerita menyedihkan saat sekolah.

Waktu itu pengumuman nilai ujian kimia. Dan kebetulan saya adalah siswa yang tidak begitu rukun dengan pelajaran perhitungan. Dan sialnya adalah, nama yang diumumkan Bapak Guru hanya dua nama. Pertama siswa dengan nilai ujian tertinggi, kedua siswa dengan nilai ujian terendah. Iya, kau pasti sudah tau saya berada di kategori mana. Benar sekali, saya ada di kategori siswa yang tidak ikut ujian. Eh bukan. Saya ada di kategori siswa dengan nilai terendah.

Lalu di depan kelas, dan di depan teman teman. Bapak Guru Kimia ini memanggil nama saya, lalu berkata “Kalau Ahdar bisa (siswa dengan nilai tertinggi), kenapa kamu tidak? Sama sama makan nasi juga kan?”

Kalau kau pelajar, kau pasti sering mendengar kalimat ini, “Kalau orang lain bisa, kenapa kamu tidak?”

Kata kata ini sering sekali kita dengar di bangku sekolah. Saya bahkan selalu mendapatkannya dari banyak guru yang kata mereka, “Itu adalah motivation sentences”.

Tapi di sini saya mau bilang, bahwa saya tidak pernah setuju dengan kalimat ini sejak pertama kali saya mendengarnya.

Saya selalu merasa paling buruk ketika disuapkan kalimat seperti itu. Sejak SD, SMP, SMA, sampai pada akhirnya saya muak mendengarnya, dan menjelaskan semuanya di bangku SMA, tepat saat Bapak Guru Kimia itu melemparkan kalimat tersebut ke saya.

Kita lihat sekali lagi apa perkataan sang Bapak Guru ke saya; “Kalau Ahdar bisa (siswa dengan nilai tertinggi), kenapa kamu tidak? Sama sama makan nasi juga kan?”

Seketika saya langsung berdiri, dari bangku, “Boleh saya menceritakan, dan menjelaskan sesuatu, Pak?”

Ok, saya lanjut karena dipersilakan.

“Suatu hari, saya bertemu dengan seekor kambing. Lalu saya bertanya pada kambing itu, “Hai kambing, kenapa kamu tak bisa berlari kencang sambil menunggangi gerobak berpenumpangkan banyak manusia seperti layaknya seekor kuda? Bukannya kalian sama sama hewan herbivora? Masa kuda bisa, kamu tidak? Sama sama makan rumput juga kan?”.“

“Pak, saya ini dekat dengan guru BK. Kebetulan saya sekertaris di organisasi yang dibimbingnya. Saya juga dekat dengan seorang uztad, kebetulan uztad itu tetangga saya. Saya bahkan punya seorang paman yang berprofesi sebagai dokter. Dan mereka semua mengatakan hal yang sama, bahwa setiap orang dianugerahi kemampuan yang berbeda-beda. Jadi sesuatu yang orang lain bisai, belum tentu kita bisa. Pun sesuatu yang kita bisai, belum tentu orang lain bisa. Kenapa? Karena kita, selain dititipkan kelebihan, juga dilekatkan kekurangan.”

“Kalau misalnya semua orang kemampuannya sama saja. Takkan ada keseimbangan dalam hidup. Contoh; semua orang ahli di bidang kedokteran. Lalu yang buat rumah sakitnya siapa? Yang bikin alat-alatnya siapa? Yang menjahit baju dokternya siapa? Yang jadi pasiennya siapa?”

“Albert Einstein, pernah bilang, “Semua orang itu jenius. Cuman ketika kau menilai seekor ikan dari kemampuan memanjatnya di sebuah pohon, ikan itu akan merasa mahluk tergoblok seumur hidupnya.” Ketika kau menilai seekor monyet dari cara ia berenang, monyet itu akan terlihat paling bodoh selama hidupnya.“

“Saya selalu mengagumi, dan menganggap hebat Bapak. Kenapa? Karena saya menilai bapak dari cara bapak menganalisa, menghitung, dan memecahkan kasus-kasus soal perhitungan, khususnya soal-soal kimia. Sebab saya selalu sadar, bahwa setiap orang berhak untuk dinilai sesuai dengan kelebihannya, Pak.”

“Saya jujur Pak, mungkin di bidang hitung menghitung saya sangat bodoh. Karena dari zigot saya memang tidak pernah suka dengan perhitungan. Tapi coba di bidang lain. Bodoh juga. Tidak tidak becanda, di bidang lain pasti ada kemampuan saya. Terimakasih.”

Jadi menurut saya, kalimat “Kalau orang lain bisa, kenapa kamu tidak” adalah kalimat yang hanya membatasi kreativitasan seseorang. Dan juga kalimat yang hanya menuntut seseorang untuk melakukan sesuatu di bidang yang tidak sesuai dengan minat, dan kemampuannya.

Kalimat ini juga membuat seseorang takut untuk menjadi berbeda. Di Indonesia kita takut sekali untuk berbeda. Kenapa? Karena dari kecil kita diajarkan bahwa beda itu artinya tidak patuh, tidak patuh itu artinya melanggar, melanggar itu artinya salah, dan salah itu artinya bodoh, dan tidak berpendidikan.

Saya sedikit setuju dengan kata Deddy Corbuzier, bahwa sekolah itu tidak akan menentukan kesuksesan kita di dunia profesi nanti.

Sepintar apapun kita di sekolah, tidak akan jadi jaminan untuk memenangkan kita bersaing melawan orang paling bodoh sekalipun waktu sekolah dulu di dunia kerja nanti.

Saya kasi bukti. Saya punya teman namanya Fadli, peringkat terakhir di kelas saya waktu SMA dulu. Mulai dari kelas satu sampai kelas tiga, dia rangking paling bawah terus (karena selalu saya ajak dia main PS di jam sekolah). Tapi dia pengen jadi polisi. Mungkin dia malas sekolah karena memang tidak ada guru yang mengajarkan ilmu kepolisian. Mungkin saja, saya tidak tau.

Akhirnya beberapa bulan sebelum pengumuman kelulusan, dia bahkan langsung mendaftar polisi. Bayangkan gobloknya dia, belum dapat ijazah sudah ngeluarin duit buat daftar polisi. Padahal belum tentu lulus SMA.

Di hari kelulusan, dia tidak datang. Dia sibuk ngejalanin tes dan sebagainya di kepolisian. Tapi dia beruntung dinyatakan lulus sekolah. Kemudian di hari keluarnya ijazah, saya sudah mendengar kabar bahwa dia sudah diterima menjadi polisi, dan mulai mengikuti pendidikan wajibnya.

Lalu saya punya satu teman lagi. Perempuan paling cerdas, dan paling tekun di kelas saya. Dari kelas satu sampai kelas tiga, dia selalu rangking paling atas. Bahkan terhitung juara umum, sebab kelas saya adalah kelas unggulan namanya waktu itu. Dia juga ternyata pengen masuk kepolisian, tapi mungkin karena alasan terlambat, jadi dia mengundur pendaftarar dirinya di tahun depan.

Tahun pertama setelah lulus SMA dia menjadi mahasiswi di sebuah universitas. Saking cerdasnya dia, dua semester IPKnya nyaris A semua. Tapi setelah itu, karena memang dia ingin masuk di kepolisian. Akhirnya tahun kedua setelah kelulusan SMA, dia berhenti kuliah, dan mendaftar masuk kepolisian. Alhamdulillah dia dinyatakan lolos.

Lihat sekarang ini, yaitu sudah tahun ketiga kita ketika berpisah dengan teman teman SMA. Saya lihat di group chat, si cewek tadi, tiap manggil Fadli, dia memanggilnya dengan sebutan SENIOR.

Itulah mengapa mimpi saya sejak dulu untuk pendidikan Indonesia ada beberapa:

1. Bukan guru yang hebat, tapi guru yang tepat.

Ketika ada seorang anak yang terlihat bodoh di hadapan gurunya, bukan anak itu yang bodoh. Tapi kemampuan yang ia miliki tidak sesuai dengan keahlian guru yang ia dapati.

Jika ada seekor tapir, mendapati guru sehebat singa sang raja hutan sekalipun. Tapir itu tetap tak akan bisa mengaung. Anak tapir yah harus diajari oleh ibu tapir. Ibu singa ya mengajari anak singa.

Ketika ada seorang anak yang memiliki kelebihan di bidang sastra, mendapati guru hebat di bidang matematika, anak itu tetap tak akan bisa menyelesaikan kasus kasus soal perhitungan dengan maksimal. Maka inti dari masalahnya adalah; bukan seberapa bodoh pelajarnya, atau seberapa hebat gurunya, tapi seberapa sesuai antara keahlian guru dan kemampuan pelajar yang dibimbingnya. Sehingga kelebihan yang dimiliki pelajar akan terasah dengan matang, sebab ditangani oleh pendidik yang ahli dibidang itu juga.

2. Bukan bidang yang bergengsi, tapi bidang yang sesuai.

Jaman sekarang ilmu psikologi makin canggih. Maka tak ada alasan lagi untuk tidak dapat mengelompokkan kemampuan setiap anak. Bahkan lebih mudahnya dapat dilihat dari jenis bidang yang ia sukai, dan minati.

Jujur waktu saya sekolah, saya masuk jurusan IPA, padahal kemampuan saya di IPS. Tapi kenapa saya lebih memilih jurusan IPA? Karena IPA masih dianggap jurusan yang bergengsi. Buktinya; siswa dengan nilai dibawah rata rata akan dimasukkan ke jurusan IPS meskipun pilihannya bukan IPS. Artinya, jurusan IPS adalah jurusan “Pengalihan”. Bahkan teman teman nakal saya memilih jurusan IPA, dengan alasan, “Paling juga nilai tak mencukupi, dan akhirnya dimasukkan juga di jurusan IPS”.

Maka jadikan qualifikasi tiap bidang dengan meratakan status kualitasnya. Tentu lagi lagi disesuaikan dengan kemampuan setiap penghuni bidang itu.

3. Bukan ujian nasionalnya, tapi ujian kemampuan bidangnya.

Saya adalah salah satu orang yang tidak setuju dengan ujian nasional. Ketika setiap anak memiliki keahlian di bidang yang berbeda beda, kemampuan setiap siswa di mata pelajaran berbeda beda. Tapi ketika ingin lulus, harus diratakan semuanya dengan mengujian nasionalkan beberapa mata pelajaran saja, yang menurut saya tidak akan bisa mewakili keseluruhan mata pelajaran untuk mengevaluasi, dan menentukan apakah anak yang lulus adalah anak yang cerdas atau berbakat? Dan anak yang tidak lulus adalah anak yang bodoh, atau tak punya bakat?

Banyak kok pemuda pemudi indonesia yang mengibarkan bendera merah putih di mata dunia, walaupun mata pelajaran kesukaannya tidak di ujian nasionalkan. Susi Susanti peraih gelar Dunia Badminton Grand Prix berturut-turut lima kali. 

Sandhy sandoro pemenang kontes menyanyi New Wave 2009 di Latvia. 

Ada tidak ujian nasional penjaskes, atau kesenian? Tidak ada? Jadi kenapa beberapa mata pelajaran diambil sebagai penentu kelulusan, yang belum tentu menunjang keberhasilan di masa depan? Ketakutan saya adalah; jangan sampai ada seseorang yang kesuksesannya terhambat sebab tidak lulus ujian nasional, hanya karena semua mata pelajaran yang di ujian nasionalkan yaitu mata pelajaran yang tak ia sukai. Padahal ia punya bakat di bidang lain.

Maka jika setiap anak memiliki kemampuan berbeda beda, kenapa cara pengujiannya sama? Sehingga menurut saya, yang paling penting bukan ujian nasionalnya, tapi ujian kemampuan setiap bidang kelebihannya yang nanti akan menunjang masa depannya.

4. Bukan jurusan yang tinggi prospek kerjanya, tapi jurusan yang mendukung bakat dan minatnya.

Bukan hanya pendidikan di sekolah yang bermasalah. Tapi juga di perguruan tinggi yang seharusnya menjadi tahap yang benar benar menyaring orang orang yang sesuai dengan bakat yang dibutuhkan.

Kita tidak asing lagi dengan wacana “Sarjana teknik, bekerja di perbankan. Sarjana ekonomi bekerja di otomotif. Sarjana pertanian bekerja di perpajakan”. Ini membuktikan bahwa pendidikan kita belum bisa menyinkronkan antara kebutuhan jurusan, dengan penempatan kemampuan setiap orang.

Semua kesalahan kesalahan itu kembali lagi dari point awal. Mulai dari setiap anak tak yakin untuk bisa berbeda, karena guru yang ia dapati hanya mampu menyamaratakan semua siswa. Bidang yang ditekuni pelajar bukan sesuai kemampuan otaknya, tapi karena sesuai kemampuan biaya orangtuanya. Ujian nasional membuat mental anak rusak, sebab ujian nasional membuat mereka belajar ekstra keras untuk beberapa bidang yang belum tentu menjadi bidang yang sesuai bakatnya. Hingga akhirnya ketika berhadapan dengan perguruan tinggi, mental mereka dituntut untuk memilih jurusan dengan prospek kerja yang tinggi. Sebab bekerja dengan penghasilan tinggi lebih penting, dibanding bekerja pada sektor yang sesuai keahlian. Sehingga para pendaftar perguruan tinggi tidak akan menjadikan kemampuannya sebagai pertimbangan berarti untuk menentukan jurusan yang akan dipilih.

Sekali lagi setiap orang tidak diakui perbedaannya di Indonesia, dalam hal ini perbedaan kemampuan, dan kelebihan. Buktinya selain karena adanya ujian nasional, juga pada seleksi jurusan perguruan tinggi yang lagi lagi menyamaratakan ujian masuknya. Padahal jurusan atau bidang yang akan di ambil berbeda-beda. Ada apa?

Maka harapan sederhana saya untuk Indonesia. Buatlah setiap anak untuk yakin bahwa mereka bisa berbeda. Bahwa mereka berhak untuk memilih bidang yang ia suka. Bahwa mereka percaya bisa sukses lewat jurusan yang sesuai dengan kemampuan otak, dan pilihan hatinya. Tanpa ada tuntutan, atau pemberatan dari pihak manapun ketika mereka ingin menentukan sektor apa yang ingin ia tekuni.

Dengan begitu, sekolah akan meluluskan anak anak berbakat dari berbagai bidang. Perguruan tinggi dapat mencetak sarjana berkualitas dari berbagai jurusan. Setiap perusahaan, lembaga, atau swasta akan mengolah setiap sektor yang ada dengan sumber daya manusia paling profesional. Sehingga seluruh kekayaan Indonesia dapat dimaksimalkan oleh pemiliknya sendiri, oleh orang orang yang mengabdi pada negara sendiri. Pada akhirnya kita tak butuh lagi para pengelola perusahaan luar, beserta para pekerja asing untuk memanen kekayaan yang ada dalam negeri kita. Sebab kemampuan terbaik dari berbagai sektor yang dibutuhkan Indonesia, sudah tersedia di dalam negeri tercinta kita ini.

Salam pelajar indonesia.

Sekian.

*Karena semalen habis lihat project nulisnya Mas @malesngetik sama Mbak @memilihmu. Saya jadi merasa berdosa jika tidak memosting tentang pendidikan juga di minggu peringatan pendidikan nasional ini. Terimakasih😊.

Cinta yang tak terkatakan, tersimpan rapat dalam hati seperti bara api yang dilempar ke dalam setumpuk sekam. Pada mulanya semua terasa baik-baik saja, tapi pelan-pelan ia membakar habis apa saja yang ada di dekatnya. Merambat menghabisi sampai tepi. Hingga kemudian, kita akan menyadari bahwa kita tak punya apa-apa lagi selain ketiadaan.

Akan habis semua asa. Sementara rasa akan dipaksa menyerah pada masa.

Dan kutetap bisu menahan kata.

Pada akhirnya, aku memang manusia tak berdaya yang terlalu akrab berkawan dengan rasa sepi. Laki-laki yang gemar berlari dari kerumunan untuk mencari tempat menyendiri. Di sana aku menulis puisi, atau surat untukmu.

(Cinta Adalah Perlawanan, dalam Bab Jumpa Pertama)

Habis sudah lucuku tuk buat kau tertawa,
setelah kupaksa membeli marahmu yang bara api.
Masih ada hati yang namun sayang tak kauindahkan.
Kini untukmu,
yang tersisa tinggal kebebasan.

MeetUp & Gathering KITA Jateng - Tumblesem

“Tiada kesan tanpa kehadiranmu” Dulu banget jaman ngerayain ulang tahun temen pas masih kecil, pake undangan meskipun jarak rumah cuman kebates pager doang pasti akan ada kalimat ini di akhir undangannya. Kalimat ini mungkin yang bakalan selalu keinget  terus sama kita kalau dapet undangan buat acara ngumpul dan efeknya bakalan kerasa ketika acara udah selesai, pas semuanya pada balik ke rumah masing-masing.

Nah, weekend kemarin KITA Jateng & DIY dan Tumblesem ngadain MeetUp bareng di Camp Mawar Umbul Sidomukti, Semarang, dalam rangka gathering rutin sekalian silatuhrahmi. Acara Camp yang diikuti oleh temen-temen KITA Jateng & DIY sama anak-anak Tumblesem ini berlangsung seru banget meskipun hujan sempat mengguyur beberapa saat, namun teme-temen semua tidak kendur semangatnya untuk mengikuti setiap acara yang dibikin sama tim panitia. Buat yang ngerasa kangen atau yang sekedar pengen tahu kita semua ngapain aja waktu MeetUp kemarin, nih liputan singkatnya buat kalian.

Setelah semua personil berkumpul di pintu masuk Camp pada hari Sabtu, 16 Januari 2016 sekitar pukul 2 siang, semuanya bergegas buat langsung menuju tempat untuk berdiriin tenda yang ternyata suprisingly lokasinya paling ujung dari kawasan Camp dan jalannya nanjak *super sekali*. Sudah sampai di ujung terlihat beberapa temen-temen yang nafasnya cuman sejengkal mulai mencari oksigen dengan duduk terus rebahan terus mangap-mangap biar oksigen yang ketangkep lebih banyak *nggak ding bercanda*. But, buat kalian yang emang jarang olah raga dan boros oksigen kayak saya musti sedikit tabah dan ikhtiar karena perjuangan untuk mencapai sesuatu tidaklah mudah, hasilnya nggak ngecewain sama sekali karena pada saat malam hari kita semua bisa melihat pemandangan kota Semarang dan Bandungan dari atas seperti bintang-bintang bertaburan.

Setelah selesai beristirahat dan mencari oksigen *sambil mangap-mangap* waktunya pembagian tugas, bagi *yang merasa* anak laki-laki ditugasi mendirikan tenda dan sisanya ditugaskan untuk memasak, ya masak. Meskipun kegiatan memasak di sini hanya mengasapi ayam yang sudah di bumbui sempurna oleh Mamahnya Mbak April (@elmoelmooo​) yang rasanya super endeus ditambah dengan sambelnya yang juga  rasanya  ngangenin *kayak orangnya*, sekali lagi terimakasih untuk Mbak April sekeluarga yang sudah mau direpotin meski kita sempet dikira kelompok rekrutmen Gafatar sama mamahnya.

Pengalaman memasak di alam terbuka ternyata memberikan banyak sekali pelajaran buat kita, salah satunya adalah bahwa tutup panci itu ternyata lebih efektif untuk dijadikan pengganti kipas sate dibandingkan kertas HVS yang masih baru atau kipas cantique princess a la a la anak SD dengan warna feminin yang cuman bikin kesel.

Sebelum mulai membakar, tim masak mengalami kesulitan untuk menyalakan bara api yangmana kesulitan yang dialami setara dengan menyalakan bara api cinta di antara dua hati yang tak saling bersatu ini menyisakan banyak sekali kepedihan. Salah satunya adalah terlalu banyaknya asap yang di produksi membuat mata pedih dan bau badan seperti ndas manyung, serta satu lagi bagi tim pengipas kalian hebat sekali karena sudah mau berkorban lengannya berubah jadi berotot seperti Agung Hercules.

Tepat setelah ayam trakhir dibakar, hujan turun dengan binalnya. Semua masuk ke tenda dan untungnya hujan cuman mampir lewat.  Acara dimulai kembali setelah semua personil melaksanakan sholat maghrib dan isya kemudian setelah itu kami semua berkumpul melingkar di sekeliling api unggun untuk mulai menyantap makan malam bersama yang romantis.

Setelah perut kenyang dan hati senang, mulailah acara sharing soal penulisan bersama Mas JS dan musikalisasi puisi oleh Mas Narasibulanmerah yang dipandu meriah oleh Dimsky dan @fatamorgananyata. Semua memperhatikan setiap materi yang disampaikan, pertanyaan-pertanyaan dari teman-teman juga menghiasi sesi sharing ini dengan indahnya sampai-sampai momen sharing ini tidak sempat terabadikan dalam sebuah foto. Setelah materi yang di sampaikan sudah disampaikan dan pertanyaan sudah tidak bermunculan dari teman-teman MC Baso memberikan tantangan kepada pemateri malam itu juga. Tantangannya adalah Mas Narasibulanmerah menulis puisi dalam waktu tiga menit dengan tema tower dan Mas JS yang akan membacakannya, penasaran? bisa di cek kok di sini.

Malam semakin larut, langit penuh bintang, api unggun yang masih hangat dan *saya yang jomblonya kelamaan* kabut yang menutupi tower membuat suasana menjadi semakin syahdu. Saat sore sebelum hujan datang tadi Dimsky sempat membagi teman-teman menjadi kelompok kecil berisikan 5 orang dan saat inilah waktunya kelompok-kelompok tadi menampilkan sebuah persembahan sebagai penutup acara pada hari itu. Penampilan pertama dibuka dengan kembang api yang secara mistis tiba-tiba muncul dari belakang latar kami disusul dengan pembacaan puisi tentang hujan, kemudian dilanjutkan dengan dialog dua orang yang mengisahkan sebuah kegundahan diteruskan dengan musikalisasi puisi dan diakhiri dengan drama improvisasi yang spektakuler.

Acara malam itu pun selesai dan semuanya tidur karena besok paginya acara tracking menuju kebun teh pada pukul empat pagi sudah menunggu.

Tracking dimulai pada pukul 5 pagi karena satu dan lain hal yang bersifat ke-Indonesiaan, beberapa yang sudah siap mulai menyiapkan diri untuk menempuh perjalanan panjang penuh rintangan, bebatuan serta bayang-bayang mantan untuk menuju titik akhir tracking yaitu, kebun teh!

Ketua umum KITA regional Jateng dan DIY (@menjalin​)

*sesi sepik*

sesi karaoke bersama

*karena untuk alasan keamanan jadi saya pribadi dan beberapa teman yang merasa butuh ada penjaga tenda menawarkan diri untuk tetap berada di camp*

Sekian liputan acara MeetUp dan Gathering teman-teman KITA Jateng & DIY bersama Tumblesem yang awesome!

penulis: @rgagastya