bara yang

YANG PERNAH DAN AKAN TERUS KITA SAJAKKAN

: Ra

1

Mataku api yang takpernah bisa menyelesaikan kobarnya:
maka tutup matamu.

Mari kita bayangkan: sepasang lengan kita —
bakal pohon angsana yang saling melilitkan akar.

Kelak kaubisa menebaknya:
apa yang terbakar dan siapa yang terkapar;
apa yang menjadi bara dan dari dahan sebelah mana
terdengar teriakan burung-burung yang berabad lalu
membuat sarang di tubuh kita.


2

Suatu malam aku bermimpi:
aku melihat sekawanan badai nakal;
jerat gelombang yang membungkus sampan nelayan;
juga mercusuar yang meneteskan airmata.

Kurahasiakan darimu,
kusimpan lanskap mengerikan itu
di jantung laut dalam.

3

Tapi puisi masih menuliskan dirinya sendiri
di lembar-lembar tubuhku dan tubuhmu:
buku-buku yang saling mengasihani
di rak-rak berdebu sebuah perpustakaan.

Kau bertanya kepadaku:
“kata apa yang menurutmu paling puisi?

Aku menjawab pertanyaanmu dengan pertanyaan:
“apakah engkau lupa, sejak kapan kita berhenti menjadi puisi?”

“Selain langkah, benarkah sajak pernah meninggalkan jejak?”

4

Akar tidak mampu melawan gravitasi.
Seperti cinta:
ia tidak mampu melawan dirinya sendiri.


Solo, Oktober 2016

Karena pada akhirnya sosok yang kamu butuhkan bukan yang hanya sekedar selalu bisa membuatmu tertawa, bukan yang selalu mengalah ketika kamu marah, apalagi dengan kalimat ‘terserah’. Tetapi kelak yang kamu butuhkan adalah sosok yang bisa kamu genggam tangannya ketika dunia sedang tidak bersahabat, disaat sebelah tanganmu yang lain memegang teguh ajaran agama layaknya memegang bara api.

Sosok yang kamu rela dipimpin olehnya. Seseorang yang ia percaya, bahwa kamu dapat dituntunnya menuju surga Allah.

—  4.25 pm

Cinta yang tak terkatakan, tersimpan rapat dalam hati seperti bara api yang dilempar ke dalam setumpuk sekam. Pada mulanya semua terasa baik-baik saja, tapi pelan-pelan ia membakar habis apa saja yang ada di dekatnya. Merambat menghabisi sampai tepi. Hingga kemudian, kita akan menyadari bahwa kita tak punya apa-apa lagi selain ketiadaan.

Akan habis semua asa. Sementara rasa akan dipaksa menyerah pada masa.

Dan kutetap bisu menahan kata.

Pada akhirnya, aku memang manusia tak berdaya yang terlalu akrab berkawan dengan rasa sepi. Laki-laki yang gemar berlari dari kerumunan untuk mencari tempat menyendiri. Di sana aku menulis puisi, atau surat untukmu.

(Cinta Adalah Perlawanan, dalam Bab Jumpa Pertama)