bants

Freeday: Pengecut Yang Dipaksa Hidup.

Mungkin pergi sendiriku bukan yang seperti itu. Selain karena minimnya kesempatan beserta segala tetek bengek brengsek yang membuatku enggan melangkah, pergi yang seperti itu bagiku tak ayalnya seperti seorang pedagang di pasar minggu. Menjajakan dagangannya agar laku, merayu ibu-ibu, atau bahkan berani banting harga hingga hampir tutup modal kala waktu sudah memasuki senja.

Atau dalam pengertian lain; Rumpun serta ucapan yang masih bisa dimengerti membuatku merasa pergi yang seperti itu tidak benar-benar membuatku Tertempa dan tersiksa. 

“Siksalah hidupmu sekeras-kerasnya. Melaratlah. Merangkaklah. Jilatlah kaki orang lain. Itu akan membuatmu kuat dihadapan bangsat kelas kakap sekalipun.”

Pergilah yang jauh hingga orang-orang tak mengetahui asal-usulmu, tak juga mengerti segala yang lidahmu julurkan, kau hanya bermodal nekat, gerak tubuh, serta pengetahuan singkat mengenai bertahan hidup di tempat yang jauh lebih keras dari tempat di mana kau dilahirkan.

Udaranya membuat kulitmu memutih, bersisik. Perih ketika tergesek kain perca yang menutupi tubuh. Anginnya berhembus kencang, membuat pandanganmu kabur, telingamu penuh ruam karena dingin yang mencekam, tanganmu sulit digerakan, kuku kakimu patah karena beku dan sol sepatumu terbuka lebar karena tergerus perjalanan dari waktu ke waktu, tenggorokanmu kering, dan kakimu sudah lelah berdiri dengan darah yang sudah terlanjur membeku di sekitar kuku.

Ingin duduk, tapi peraturan mengatakan kau tak boleh duduk di situ. Ingin bertanya, tapi tak ada satupun yang mau membantu kala mereka sama sekali tidak mengerti semua yang keluar dari mulutmu.

Belum lagi, tidak ada makanan untuk ditelan. Dengan mata uang yang keparatnya sangat mahal itu, perutmu dirajam oleh lambungmu sendiri. Untuk makanan biasa, kau harus merogoh kocek sebesar 2 hari biaya makan di rumahmu sendiri. Dan itupun rasanya tidak begitu enak untuk lidah bangsamu.

Satu-satunya yang murah adalah daging yang agamamu larang. Yang harus rela kau telan bulat-bulat karena menghemat beberapa keping untuk perjalanan pulang yang jauhnya luar biasa. Kau mengkhianati kepercayaanmu sendiri, kau dipaksa rendah menjilat kaki agama tempat kau dibesarkan dulu di sekolah.

Lain dari hal itu, doamu dianggap menakutkan oleh mereka. Kau dianggap sama dari mereka-mereka yang menggorok leher reporter negarawan di timur tengah. Mereka menilik, menyuruh melepas kain suci yang melindungi rambut wanitamu. Atau mereka sama sekali tak mengizinkanmu pergi bahkan untuk sekedar sembahyang sendiri di hari Jumat pertengahan pagi.

Direndahkan? Itu jauh lebih nikmat daripada tersesat di suatu tempat yang begitu asing. Orang-orangnya enggan membantu, bertanya hanya membuatmu dicibir, udara di bawah 0 derajat membuat pikiranmu lemas. Hidungmu berdarah, tanganmu lebam, bahkan ingus yang keluar dari hidung tak ayal harus kau telan demi sekecap rasa di lidah.

Kudengar, orang-orang sepenanggunganku justru jauh lebih tersiksa dariku. Ketika harus dihadapkan dengan begundal-begundal yang mengambil uang receh mereka. Uang seharga sekitar 15ribu rupiah yang hanya mampu membeli tak lebih dari 2x suap nasi di negara itu.

Jika dibandingkan dengan pergi dengan kesamaan rumpun; Kau bisa merendah meminta menginap, merendah membantu kerja demi sepiring nasi, memainkan alat musik dari tutup botol untuk mendapatkan ongkos pulang, menumpang, atau bahkan tidur hangat di sebuah surau; Pergimu itu bagiku– saat itu— seperti tamasya di binaria. 

Aku tak merendahkan pergimu, tidak. Bahkan bagiku kalian yang berani pergi adalah kalian yang jauh lebih berani dari seorang pengecut seperti aku; yang dipaksa keadaan untuk tersesat; yang menggigit bibir hingga berdarah menahan tangis di kereta perjalanan pulang. Merasa ingin menyerah, ingin memilih untuk secepatnya pulang. 

Namun setelah memilih bertahan sebentar sebelum benar-benar akhirnya waktu pulang datang,
Kini aku tak lagi menjadi aku.

Seonggok besi rongsok yang pergi, ditempa habis-habisan, disiksa, dibakar, dipukul, dan dihina itu, kini kembali pulang menjadi sebilah pedang dengan ketajaman dari ujung hingga pangkal.

Itulah pergiku.

Maka jika suatu saat ada kesempatan untuk disiksa, ditempa, dan tersesat di rumpun yang berbeda, dengan begitu senang hati aku akan melaksanakannya sekali lagi.

Kepada siapapun yang pernah seperti aku, yang enggan melangkah, yang begitu malas melangkahkan kaki di tempat-tempat baru, bacalah tulisanku di atas. 

Berdoalah untuk tersesat. 
Selain kau akan belajar menemukan jalan untuk bertahan, 
Kau juga akan belajar menemukan siapa dirimu yang sebenarnya ketika tak punya apa-apa.

anonymous asked:

Do you think that Wizards would mix the tri-colors? I only ask because to me the Amonkhet deities look: Bird-Esper; Crocodile-Jund; Snake-Bant; Jackal-Mardu; and the Cat confuses me but maybe Abzan? (It has those tall walls behind it so???)

I don’t find it likely, especially because this configuration is majorly unbalanced between the colors.

youtube

Here is the video of me singing. Sorry it’s so late but I couldn’t upload it straight to Tumblr. Here we are though. Enjoy my cheeky bants with my sibling and a guy who doesn’t know how to sing. Don’t mind the part where I sang the wrong words. Anyway thanks for 300, and check out my sibling @seethingballofhatred. They held the camera and helped make conversation.

anonymous asked:

Putting Amonkhet aside for a few seconds: i'm kinda lost to the timeline of the multiverse, but there's a chance that Elspeth and Gideon have met in Bant? Like they could've been there at the same time but not knowing of each other or something like that?

Theoretically, yes - but we don’t have definite dates for either of their stays. 

By the approximate timeline of Alara Unbroken, Gideon would already be off with the Order of Heliud on Regatha. Very, very roughly speaking.

Tagged by: @centurion-alex

How old are you? 20 ☺☺

Current job/Dream job: right now I’m a waitress, but my dream job is to be an artist.

What are you talented at: Artsy stuff.

What is a big goal you’re working towards: completing my studies, stop being so shy, save for New Zealand

What are your aesthetics: anything sparkly, bohemian style, beaches at night, incense smelling rooms, plants and flowers everywhere, chill vibes

Do you collect anything: pressed flowers

What is a topic you’re always up for talking about: makeup, hair, typically ‘girly’ stuff, politics, bants

What’s a pet peeve of yours: fuckin, noisy eaters. They seriously make me want to scream. Like if I hear people’s lips smack while they’re eating, I will hate them until they’re finished.

Good advice to give: If you think your skin is gross when you’re looking close in a mirror, and you take a step back and you can’t really notice it anymore, neither can anyone else when they’re looking at you. (Like unless they’re in your face, then whatever)

Recommend three songs:
Beloved-Elijah Blake (such a fukin sad song but so good)
Don’t Tell Em-Jeremih (throwback song)
Love on the Brain-Rihanna (just like, belt that shit out)

I tag: anyone who wants to do this! ❤❤

youtube

new danisnotonfire video! the countdown of the year is finally here.. 

The Top Dan Memes of 2016 pls reblog! 👦🏻✨

youtube

‘BUT DAN’ i hear you cry 'WE WANT MORE!!’
calm down then strap yourselves in for - Impossible Quiz #4 💫⁉️

So this has been nagging me...

Ever since Mark started talking about Dark on the charity stream (which is great by the way watch it) (also I was super hyped to learn more about this great, interesting character) I’ve been questioning my theories about Darks a bit. At first I thought, since Mark and Dark were supposedly the same entity, that Dark hijacked Mark’s subconscious but shared the same desires as him. And that was why I thought he (Dark) had fallen for the character in some way.

But Mark said he and Dark were separate entities, so that couldn’t be right. So you have Mark, taking you on a date, supposedly for romantic themes (cause that’s what a date is right?). And Dark shows up (from his alternate timeline/multiverse…?) and takes control of it. But that got me thinking. 

Mark said Dark is all about manipulation right? So he’s a demon (or something else) pretending to be human to gain your trust. Mark also said Dark wants to take advantage of you for his own reasons. Another thing he talked about was how Dark takes pride in Mark’s achievements and somewhat envies him.

But what I’m really getting at here is, why would Dark need your trust? To gain power of some sort like Anti? No, Mark said he wasn’t like Anti. So there must be some other reason to keep you around. 

I think Dark wants to keep you around because you mean something to Mark. Love is a long time thing. If Mark cared enough to take you out on a date you must mean something to him, right? And Dark wants to “take” you so he can, not necessarily use you for evil, but to take love off of Mark’s achievement list.

But hey, that’s just me writing a long Tumblr post while concentrating on multiple other things. A YOUTUBE THEORY.

youtube

new gaming video! if you’re feeling LOLRANDOM and want to say ‘xD' 
strap yourselves in for.. IMPOSSIBLE QUIZ #3 💣⁉️