bantaran

Masswasting dan sedimentasi

MASSWASTING

Masswasting adalah pemindahan massa batuan atau tanah karena gaya berat. Masswasting dinamakan pula gerakan tanah. Bentuk- bentuk gerakan tanah yang biasa kita jumpai antara lain sebagai berikut:

  • a) tanah longsor (land slide);
  • b) tanah amblas atau ambruk (subsidence);
  • c) tanah nendat (slumping), yaitu proses longsoran tanah yang gerakannya terputus-putus sehingga hasil…

View On WordPress

Cerita dari Plesiran

Kami menyusuri gang-gang sempit itu, sesempit got, kata temanku. Di belokan hampir menuju jalan keluar seorang bapak tua sedang menaiki kursi plastik, menggantung baju basah yang habis dicucinya. Kata temanku, dia adalah orang yang sekali diwawancara untuk pengamatan, maka kami berbalik setelah lewat untuk minta foto.
Badan kurusnya semakin terlihat ceking saat menjinjit menggapai tali jemuran, ia langsung salah tingkah saat kami mendekat. Merasa tidak enak hanya berbaju kaos dalam dan bercelana pendek. Kami menceritakan tujuan kami, dan sepertinya ia memang ingat wajah temanku yang mewawancara.
“Mangga, Neng, duduk dulu,” ia menunjuk dengan ibu jari pada sebuah kursi panjang dengan bantalan merah. Biar saya gambarkan, rumahnya dibangun di bantaran sungai, tepat. Kursi panjang itu berada di samping rumahnya, saya bisa lihat deras sungai itu hanya dengan menengok. Saya berpikir sejenak, untuk duduk di kursi itu saya perlu melewati gantungan-gantungan cucian basah tadi. Sepertinya ia mengerti keraguanku, digesernya sedikit baju-baju itu sembari meminta maaf. Ada beberapa pakaian sekolah diantaranya, mungkin milik anakanya, atau cucunya.
“Tidak usah repot, Pak,” kataku agak bersalah.
“Maaf ya Neng berantakan, habis nyuci,”
Saya balas dengan senyum kecil sembari mengangguk
Saya segera beranjak dari tempat saya berdiri menuju kursi itu, air cucian menetes di kepala saya. Tak apalah, sesekali. Lebih tidak enak hati jika saya tidak mau duduk, tidak sopan. Wajahnya yang ramah tertawa saat ia sadar dirinya mau difoto. Tubuh ceking itu kemudian masuk ke rumah sambil berkata, “nanti ya Neng, Bapak ganti baju dulu,”. Ia kemudian kembali sambil mengacingkan kemeja kotak-kotak yang lusuh, tetap menggunakan celana pendek. Setelah foto kami bersalaman dengannya. Tetap menjaga kesopanan khas orang Indonesia. Ia menawarkan kami untuk minum, basa basi khas Indonesia, tradisi ketulusan yang lama kelamaan menjadi formalitas. Tapi sungguh, matanya itu tulus ditambah dengan senyum yang memperlihatkan gigi-gigi yang tidak rapi. Saya hanya bisa menyambut dengan ‘terimakasih’. Kemudian kami pamitan untuk mencari rumah selanjutnya.
Rumah kedua kami temukan di seberang sungai. Tepat juga di bantaran sungai. Kami bertanya kepada seorang Bapak kuli pasir di sekitar sana.
“Punten, Pak. Ini rumah Bapak?”
“Iya Neng, itu punya Bapak. Bukan rumah, Neng, gubuk,”
Saya hanya mengangguk. Betul, gubuk. Kata Cipta Karya rumah adalah yang permanen kalau saya sederhanakan. Ini jauh lebih buruk dari standar itu. Betul katanya. Biarlah saya sebut itu kini gubuk, tidak perlu mengada-ada itu sebuah rumah. Tidak ada bahan berupa beton, batu bata atau semen dan material-material mahal lainnya.
Namanya Pak Ade, tangan kanannya lebih pendek dari tangan kirinya, ia berjalan tanpa alas kaki. Kuku-kuku kakinya telah menguning, sudah tua. Ia sungguh orang yang ramah. Menyambut kami dengan cerita. Kami dipersilahkan masuk untuk melihat-lihat. Gubuknya dibagi menjadi tiga ruang, hanya beralas tanah dan spanduk-spanduk iklan yang sudah kadaluarsa.
Bapak Bapak ini, orang-orang tua ini, serta keluarganya sungguh memiliki hak yang sama dengan saya. Bisa hidup dengan layak. Tempat teduhnya menjadi beban bagi pemerintah karena bikin kota terlihat kotor dan kumuh. Menjadi sumber-sumber komplain gara-gara merusak pemandangan orang. Namun, di dalamnya ada sekumpulan jiwa yang sama dengan kita. Jiwa yang perlu melanjutkan hidup dengan usaha lebih besar. Hidup di lingkungan yang kumuh asal murah.

10

Bertempat tinggal di kawasan terminal Baranangsiang dan bantaran sungai Ciliwung membuat anak-anak di usia produktif belajar sangat mungkin turun ke jalan untuk menjadi pengamen, tawuran, bahkan drop out dari sekolah. Terminal Hujan merupakan komunitas sosial yang berfokus pada pendidikan anak anak, khususnya anak anak marginal di Bogor.

Sedangkan Peyapeyo adalah penggagas sebuah lingkungan alternatif bagi anak untuk bermain bersama dan berperan aktif dalam edukasi dan gaya hidup yang mendukungnya. Peyapeyo memberikan sebuah pengalaman baru untuk anak-anak terminal, mereka ditantang untuk menyelesaikan beberapa permainan ketangkasan yang hanya bisa diselesaikan dengan bekerjasama dan berkomunikasi.

Minggu kemarin saya diajak kawan saya Herny Purwanti relawan Terminal Hujan berserta Mbak Dieta Hadi & Rhodi Prasetya yang saya kenal dari Kelas Inspirasi Bogor untuk ikut bermain bersama anak-anak terminal Baranangsiang.

Anggota DPRDSU: Pemko Binjai Jangan Hanya Membantu Saat Terjadi Bencana

Medan (SIB)- Anggota DPRD Sumut Putri Susi Melani Daulay SE meminta Pemko Binjai jangan hanya memberi bantuan di saat bencana menimpa warga masyarakat, tapi harus melakukan langkah konkrit secara permanen dengan menyediakan anggaran kota, dalam mengantisipasi dan menanggulangi bencana khususnya banjir yang kerap melanda Binjai.
Hal ini diungkapkannya kepada wartawan di gedung dewan, Kamis (11/2) terkait kunjungan ke Binjai, sekaligus menyalurkan bantuan kepada korban banjir di kota rambutan tersebut.
Putri Daulay menyebutkan, Binjai merupakan salah satu daerah yang sering dilanda banjir dan diminta Pemko segera melakukan langkah-langkah yang diperlukan dalam menghadapi bencana banjir, agar tidak semakin meluas dan memakan kerugian hingga korban jiwa lebih besar.
“Kita berharap Pemko Binjai dalam memberikan pelayanan kepada warganya, jangan hanya sebatas membantu dan peduli saat musibah banjir terjadi, baru bertindak. Sementara upaya melakukan pencegahan tidak dilakukan,” sebutnya.
Menurutnya, salah satu langkah yang harus segera dilakukan yakni, Pemko sudah saatnya memperhatikan dan memperbaiki kualitas bantaran sungai dan saluran drainase di daerahnya. “Menghadapi musim hujan, instansi terkait seharusnya terus menggalakkan perbaikan bantaran sungai dan saluran air warga pada titik-titik potensial banjir, demi mengantisipasi kemungkinan banjir tidak semakin meluas,” sebutnya.
Dalam kunjungan itu, pihaknya memberikan santunan sebagai wujud kepeduliannya terhadap warga tertimpa bencana di  daerah pemilihannya Binjai dan Langkat. “Bantuan ini merupakan wujud kebersamaan, berbagi rasa dengan saudara-saudara kita yang menjadi korban banjir di Binjai sekitarnya. Bantuan ini kiranya dapat meringankan beban para korban banjir,” katanya.
Dia menjelaskan, pemberian bantuan dilaksanakan langsung ke rumah-rumah penduduk, seperti di Kelurahan Setia Kecamatan Binjai Kota dan Kelurahan Limau Sundai Kecamatan Binjai Barat.
Putri Daulay juga menerima informasi, banjir yang melanda sejumlah kecamatan di Binjai tersebut sedikitnya 1000 kepala keluarga terpaksa mengungsi menghindari bencana tersebut. Sedangkan lima rumah penduduk dikabarkan hanyut dan selebihnya hampir sebagian besar rumah penduduk yang terkena banjir khususnya di Kelurahan Setia Kecamatan Binjai Kota dan Kelurahan Limau Sundai Kecamatan Binjai Barat, dalam kondisi rusak dan berlumpur.
Pada kunjungan tersebut, pihaknya juga menerima curahan hati dan kesedihan dari warga yang sebagian besar saat banjir terjadi tidak sempat menyelamatkan pakaian dan peralatan rumah tangga hingga lainnya. “Untuk itu saat ini kalangan warga sangat mengharapkan bantuan dari semua pihak khususnya pemerintah, untuk segera menyalurkan bantuan apa saja bagi para korban,” imbau Putri. (A03/q) http://dlvr.it/KTnMXV

Ahok Bakal Sulap Kalijodo Jadi Taman Pisang

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama memastikan kawasan Kalijodo, Jakarta Barat akan ditertibkan. Lokasi yang berada di bantaran kali itu akan disulap jadi taman.

“Bikin taman dan bikin jalan kan bagus itu, bikin taman pisang,” kata Ahok di Balai Kota, Jakarta, Rabu (10/2/2016).

Menurut Ahok, rencana penertiban Kalijodo sudah ada sejak lama. Hanya, pemerintah memilih menata Waduk Pluit terlebih dahulu.

Namun, begitu peristiwa Fortuner maut, keinginan itu semakin kuat. Terlebih, sopir dan penumpang baru saja pesta miras di Kalijodo.

“Kalau Waduk Pluit selesai kita mau gusur. Tapi pas kita baca berita Fortuner segala macam, wah ini lebih baik kita bongkar sajalah, lebih banyak mudaratnya,” jelas Ahok.

Baca Juga


Saat ini, Pemprov DKI tengah menghitung waktu yang tepat untuk merealisasikan hal itu. Ahok tidak takut ada perlawanan dari warga atau beking lokasi setempat.

“Kita ada aparat, makanya kita mau minta kesediaan polisi dan tentara,” kata Ahok.

Mantan Bupati Belitung Timur itu tidak khawatir dengan penyebaran para PSK setelah tempat tersebut ditertibkan. Mengingat saat ini prostitusi sudah tidak konvensional seperti dulu.

“Kalau dibubarin bingung nanti dia, yang penting jangan dikasih lokasi,” ucap dia.

Bila penertiban dilakukan, seluruh aktivitas termasuk dugaan perjudian dan minuman keras yang ada juga ikut hilang. Lagipula, kata Ahok, para PSK sebagian besar bukan warga Jakarta.

“Semua pendatang. Mana ada orang Jakarta prostitusi, semua impor,” pungkas Ahok.

Tanam Hijau part #2 di Kampung Gulon kemarin telah lancar dilaksanakan bersama bapak2 dan ibu2. Pasar sehat pun juga berjalan dengan lancar, antusias ibu2 thd produk2 sehat dan organik sudah mulai terbentuk. Semoga bibit yang ditanam ini bisa menjadi harapan masa depan bagi kampung Gulon.
.

Selanjutnya kegiatan @naturallivingid akan memantau mendampingi perkembangan pertumbuhan tanaman secara berkala baik bibit buah, sayuran & empon2 di kampung ini.
.

Terimakasih teman2 yang sudah hadir dalam kegiatan ini untuk menyemangati para penduduk bantaran sungai bengawan solo untuk peduli thd lingkungan hidup.
.

Terimakasih juga kepada partner @naturallivingid, untuk bibit buah pertama dari dinas pertanian surakarta dan bibit buah kedua dan sayuran dari Parklight Project dan mbak Wardah scr pribadi yg telah memberikan bibit empon2.
.

Salam Hijau! 🌱🌱🌱
.

#nalico #naturallivingid #nature #tanamhijau #parklightproject #plant #planting #garden #gardening #pasarsehat #farmermarket

Enam Kecamatan di Medan Dilanda Banjir

Sejumlah bocah mengarungi banjir di Jalan Luku, Medan Selayang, Medan, Sumatera Utara, Senin (8/2/2016). (KORAN SINDO/Rahmad Suryadi)

MEDAN - Sedikitnya enam kecamatan di Kota Medan, Sumatera Utara, terendam banjir akibat hujan yang terus-menerus mengguyur,  Senin (8/2/2016). Keenam kecamatan itu adalah Medan Johor, Maimoon, Selayang, Helvetia, Petisah, dan Polonia.

Tidak tertutup kemungkinan banjir juga melanda kawasan lain di luar enam kecamatan itu. Mengingat, guyuran hujan sangat merata.
Banjir itu terjadi akibat luapan sungai dan drainase yang tidak mampu lagi menampung debit air. Mengingat, hujan mulai turun sejak subuh sampai sore hari.

Luapan itu tidak hanya menggenangi permukiman masyarakat yang berada di bantaran sungai, tapi juga jalan raya. Kondisi luapan air sudah terjadi sejak pagi. Sebab, hujan deras terus mengguyur Kota Medan.

Di Kelurahan Beringin, Kecamatan Medan Selayang, sebanyak 50 KK terpaksa diungsikan ke kantor lurah karena air merendam rumah mereka. Selain itu, kawasan tersebut merupakan langganan banjir. Terakhir, November 2015, warga sekitar juga terpaksa diungsikan.

Sekcam Medan Selayang, Odie Batubara, menuturkan, sudah membuka posko penampungan terhadap korban kebanjiran di Kelurahan Beringin.

Salah satu posko yang didirikan adalah Kantor Lurah Beringin dan masjid di kawasan tersebut. Diakuinya, setiap hujan deras kawasan itu sudah menjadi langganan banjir apalagi di daerah pegunungan juga hujan.

Di Kecamatan Medan Petisah, banjir melanda tiga kelurahan, yakni Kelurahan Sei Sikambing D, Kelurahan Sei Putih Barat, dan Kelurahan Petisah Tengah. Ketinggian air mencapai lutut orang dewasa.

“Di Sei Sikambing D dan Petisah Barat air mencapai lutut orang dewasa. Kini mulai surut. Ini disebabkan Sungai Babura meluap. Mereka kan tinggal di kawasan bantaran sungai. Ini Kelurahan Petisah Tengah pula yang mulai meluap, tepatnya Kampung Kubur,” ujar Camat Medan Petisah Rakhmat Adi Syahputra Harahap

Sementara itu, Kepala BPPD Kota Medan Hanna Lore Simanjuntak, mengungkapkan, telah memantau di sejumlah kecamatan yang terkena banjir. Bahkan, pihaknya telah meminta warga Kelurahan Beringin mengungsi dan menyiapkan keperluan yang dibutuhkan.

Sementara itu, Kabid Drainase Kota Medan Yusdartono, mengungkapkan, sangat mengkhawatirkan apabila sungai meluap. Sebab, banjir sulit diatasi.

“Kalau drainase meluap, hanya beberapa saat saja, setelah itu sudah surut kembali. Sungai meluap ini yang sulit. Kami pun tidak bisa menanganinya. Tapi kami terus memantau dan mengantisipasi. Personel dan alat berat sudah kami siapkan. Begitu ada permintaan untuk turun, kami segera langsung ke lokasi. Sejauh ini masih aman,” tandasnya.

Sementara, berdasarkan informasi yang disampaikan Kepala Pusat Data Informasi Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho yang diterima Sindonews, Senin malam ini, pada pukul 18.00 WIB, air sudah mulai surut sekitar 20 cm. Masyarakat yang mengungsi sudah kembali ke rumah masing-masing.

This entry passed through the Full-Text RSS service - if this is your content and you’re reading it on someone else’s site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

Polisi Tertibkan Penambangan Galian C Ilegal di Sungai Cisadane

Polisi Tertibkan Penambangan Galian C Ilegal di Sungai Cisadane

External image

Swaraindo.com – Kepala Kepolisian Sektor Rumpin, Resor Bogor, bersama Kanit Reskrim, Panit Intel, dan tiga anggota Sabhara, melaksanakan operasi penertiban penambangan galian C tanpa dilengkapi surat izin, Jumat (5/2/2016).

Sasaran operasi adalah lokasi Penamanya di Bantaran Sungai Cisadane Kampung Cisentul, Desa Cibodas, Kecamatan Rumpin.
Diketahui, penanggung jawab galian tesebut adalah JD, 58…

View On WordPress

Ahok: Normalisasi Kali Sunter Jalan Terus

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama ‎alias Ahok menegaskan, proyek normalisasi Kali Sunter masih terus berlanjut. Namun, pembongkaran bangunan di bantaran sungai tidak dilakukan secara serentak.

“Jalan terus, ada beberapa bagian kita tahan karena memang rusunnya belum siap. Patokan kita kalau rusun siap, kita langsung bongkar,” ujar Ahok di Balai Kota Jakarta, Jumat (29/1/2016).
 
Pembongkaran bangunan di bantaran sungai itu, lanjut dia, dilakukan seiring dengan pengerjaan rumah susun (rusun) di kawasan tersebut. Sehingga, warga tidak kesulitan mencari tempat tinggal begitu bangunannya dibongkar.

“Jadi mana yang bisa dikerjain, dikerjain. Yang mana mesti dibongkar kita bongkar. Ya gitu saja sudah,” sambung Ahok.

Baca Juga

Mantan Bupati Belitung Timur itu menegaskan, Pemprov DKI tidak akan meminta biaya sewa rusun ke warga. Pemprov DKI hanya menarik iuran bulanan untuk operasional rusun.

‎"Sebenarnya enggak sewa loh. DKI itu enggak pernah nyewain (rusun). Kamu cuma perlu bayar Rp 5 ribu per hari. Kalau yang pakai lift Rp 15 ribu per hari,“ jelas Ahok.

Bahkan, warga Jakarta yang tinggal di rusun ‎mendapat sejumlah fasilitas dan bantuan dari Pemprov DKI.

"Anakmu dapat KJP (Kartu Jakarta Pintar), naik bus (Transjakarta) kagak bayar, sama saja kita yang nombokin kamu sebenarnya tinggal di rusun,” Ahok menjelaskan.

Pria Bertato Ditemukan Tewas di Bantaran Sungai Deli

Pria Bertato Ditemukan Tewas di Bantaran Sungai Deli

External image

tobasatu.com, Medan | Seorang pria diperkirakan brusia 40-an, Kamis (28/1/2016) siang ditemukan tewas di bantaran sungai Deli, Kelurahan Silalas, Kecamatan Medan Barat.

Korban ditemukan dalam kondisi tubuh sudah menggembung, dengan luka dibagian kepala belakang. Belum diketahui secara pasti identitas peri tersebut, hanya saja di sekujur tubuh korban dipenuhi dengan tato.

Diungkapkan seorang warga…

View On WordPress

tobasatu.com
Pria Bertato Ditemukan Tewas di Bantaran Sungai Deli

tobasatu.com, Medan | Seorang pria diperkirakan brusia 40-an, Kamis (28/1/2016) siang ditemukan tewas di bantaran sungai Deli, Kelurahan Silalas, Kecamatan Medan Barat.

Korban ditemukan dalam kondisi tubuh sudah menggembung, dengan luka dibagian kepala belakang. Belum diketahui secara pasti identitas peri tersebut, hanya saja di sekujur tubuh korban dipenuhi dengan tato.

Diungkapkan seorang warga bernama Saut (28), mayat itu pertama kalai mengambang di tepian sungai, selanjutnya temuan itu dilaporkan ke petugas kepolisian Seoktor Medan Barat. Petugas lantas melakukan olah TKP.

“Tadinya saya curiga dengan adanya yang mengambang di pinggir sungai, setelah dicek ternyata mayat seorang pria. Di punggung, lengan dan kakinya dipenuhi tato, kalau warga sini tidak ada yang merasa kehilangan keluarga,” tandas Saut.

Sementara itu, Kepala Polisi Sektor (Kapolsek) Medan Barat, Kompol Victor Ziliwu mengatakan dugaan sementara korban tewas belum dapat dipastikan. Pihaknya masih menunggu hasil visum dri RS Bhayangkara Medan.

“Belum kita ketahui apa dugaannya, jenazah korban sudah kita bawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Medan dan kita masih menunggu hasil visumnya. Kita akan terus selidiki  secara mendalam untu memastikannya kematian korban,” tandasnya. (ts-05)

The post Pria Bertato Ditemukan Tewas di Bantaran Sungai Deli appeared first on tobasatu.com.