bandeles

Black Authors Rec List

Originally posted by leslieodomjr-vevo

YA Novels

“Children of Blood and Bone” by Tomi Adeyemi

“Dread Nation” by Justina Ireland

“Finding Yvonne” by Brandy Colbert

“Tyler Johnson Was Here” by Jay Coles

“The Hate U Give” Angie Thomas

History

“The New Jim Crow” by Michelle Alexander

“Incidents in the Life of a Slave Girl” by Harriet Jacobs

“Freedom Dreams” by Robin D.G. Kelley

“The Common Wind” by Julius S. Scott

Auto/Biography/Memoir

“The Autobiography of Malcolm X” Malcolm X

“Assata: An Autobiography” Assata Shakur

“Between the World and Me” Ta-Nehisi Coates

“This Will Be My Undoing” by Morgan Jerkins

“Born a Crime” by Trevor Noah

Fantasy/Sci-Fi

“Skin Folk” by Nalo Hopkinson 

“Mumbo Jumbo” by Ishmael Reed

“Who Fears Death” by Nnedi Okorafor

“Dark Matter” by Sheree R. Thomas

“The Kishi” by Antoine Bandele

Comics

“Bingo Love” by Terrence Sage

“Rise of the Black Panther” by Ta-Nehisi Coates

“Spider-Man” by Brian Michael Bendis

“Abbott” by Saladin Ahmed

“The American Way” by John Ridley

LGBTQ+

“Zami” by Audre Lorde

“Brother to Brother” by Essex Hemphill

“Under the Udala Trees” by Chinelo Okparanta

“Burnt Men” by Oluwasegun Romeo Oriogun

“The Color Purple” by Alice Walker

Poetry

“Helium” by Rudy Francisco

“Bestiary” by Donika Kelly

“How Much We Must Have Looked Like Stars to Stars” by Alysia Nicole Harris

“The Weary Blues” by Langston Hughes

“The Black Unicorn” by Audre Lorde

Authors

Toni Morrison

Zora Neale Hurston

Ta-Nehisi Coates

Octavia E. Butler

Ralph Ellison

Personal Favorites

“Dear Ijeawele, or A Feminist Manifesto in Fifteen Suggestions” by Chimamanda Ngozi Adiche

“Go Tell it on the Mountain” by James Baldwin

“We Were Eight Years in Power” by Ta-Nehisi Coates

“The Bluest Eye” by Toni Morrison

“Things Fall Apart” by Chinua Achebe

Honorable Mentions by People in the Notes

“The Skin I’m In” by Sharon G. Flake

“Jazz” by Toni Morrison

“A Mercy” by Toni Morrison

“The Warmth of Other Suns” by Isabel Wilkerson

Jesmyn Ward

“All American Boys” by Brendan Kiely and Jason Reynolds

Editor’s Note:

If you want me to add one of your favorites, just message me!

Today’s history is our present and future as we celebrate political prisoners for Black Futures Month. This powerful poster was created by Kendrick Daye @kendrickdaye . Also find him at  http://www.instagram.com/kendrickdaye & http://www.twitter.com/kendrickdaye

The accompanying article was written by Asha Bandele and can be read here: http://www.huffingtonpost.com/asha-bandele-/black-panthers-are-still-fighting-for-freedom_b_9247294.html

#BlackFutureMonth #BlackLivesMatter #VisionsOfABlackFuture

10

Half of a Yellow Sun (2013)

Director - Biyi Bandele, Cinematography - John de Borman

“My point is, the only authentic identity for an African is his tribe. I am a Nigerian because the white man created Nigeria and gave me that identity, and I am black because the white man constructed black to be as different from his white as humanly possible. But I was Igbo before the white man came.”

the big screen adaptation of Chimamanda Adichie’s ‘Half of a Yellow Sun’ really didn’t do justice to it’s source material, sharing it stil

Semesta Sudah Tahu, Kalau Aku Mencintaimu

Jika kelak, aku berubah menjadi perempuan yang menyebalkan, tolong peluk aku kuat-kuat. Aku mungkin akan menangis atau memarahimu, tapi tetap diamkanlah aku; dalam pelukanmu. Diamkan saja.

Perlu kamu ketahui, bahwa aku memilihmu karena aku dianugerahi keyakinan bahwa kamulah tempat terbaik untuk memulangkan resah dan melabuhkan rasa. Jangan pernah berniat pergi. Yakinkan aku, hingga bara dan amarahku menyeruak menuju awan.

Ada masanya, kita hanya perlu rajin-rajin bersabar dan paham tentang satu hal, yaitu: mau dipandang dari penjuru mana pun, cinta adalah tentang saling–tidak membiarkan salah satu merasa lebih banyak berkorban dan berusaha.

Kamu selalu tahu, aku bisa saja berubah dari perempuan yang manis menjadi perempuan egois, lalu detik berikutnya menjadi menyenangkan kemudian berubah mengerikan. Tapi, pada akhirnya di antara konflik perasaanku sendiri, aku tetap ingin memandangmu sebagai rumah.

Aku selalu ingat perkataanmu yang satu ini: “kamu tuh bocah paling bandel yang selalu senang bermain-main dengan asumsi sendiri. Tolong, berhentilah menyakiti perasaanmu sendiri.” Iya, aku memang terlalu rumit, maafkan aku, karena aku selalu butuh sosokmu yang sabar.

Dulu, aku selalu tidak yakin bagaimana mungkin bisa; kita memercayai segenap hidup kita kepada seseorang yang dalam hatinya saja kita tidak tahu seperti apa. Tapi sepertinya, kini, prasangka itu tak berlaku padamu.

Rasa-rasanya, aku harus banyak-banyak bersyukur karena kamu masih bersedia memberikan kehadiranmu hingga detik ini padaku. Izinkan aku, di setiap hariku, aku ingin menengadah dan menyamakan pandangan matamu pada mataku, demi memberitahumu sesuatu, bahwa;

Semesta sudah tahu, kalau aku mencintaimu.

Terkadang salah satu hal yang membuat pagimu begitu menenangkan dan harimu menjadi menyenangkan adalah karena shalat shubuhmu yang tidak kesiangan
— 

Allah itu membagi-bagikan rizki kepada hambaNya di antara shalat shubuh dan terbitnya matahari. Rizki apa aja! Iman, istiqomah, kesehatan, kelapangan hati, dan berbagai nikmat yang tak mampu kita kalkulasi.

Nah, coba bayangin deh kalau kesiangan? Jadi telat kan dapat rizkinya. Ehe.
Allah mah Maha Baik atuh, kitanya aja yang suka banget bandel.

Boomerang dalam ingatan.

“Kirana, sayanglah sama Ibuknya…”

Itu cuplikan dari salah satu video Kirana, saat Kirana ditanya kalau Mbak No lagi marah itu kayak gimana.

Ngeliat bagaimana Mbak No bermain dan bicara ke Kirana, agak-agak mirip dengan bagaimana Ibuk bicara dengan kami, anak-anaknya.

Ibuk jarang marah menggunakan vokal. Atau berbicara dengan nada tinggi.
Ibuk lebih memilih diam, kemudian mendudukkan kami dan bicara panjang lebar tentang kehidupan wkwkwk.

Kalau misalnya, anaknya bandel, gak mau makan, kayak aku, Ibuk bilang, “Adek ni, kok gak sayang sama Ibuknya? Kok gak mau dengerin Ibuknya?” atau “Adek, sayanglah sama Ibuknya…” atau “Ibuk tu suka sedih kalau adek gak mau makan. Kalau gak makan tu kasian badannya. Kasianinlah badannya tu.” kemudian walaupun dengan muka kesal, akhirnya makan. Hahaha.

The power of “Ibuk sedih kalau…” mayan ampuh juga. Karena ga ada anak yang pengen Ibuk Bapaknya sedih kan ya?

Jadi sadar bagaimana Ibuk selalu bisa bermain dengan kata-kata. Ketika air galon dispenser habis, dan Bapak akan berangkat kerja, terjadi sedikit drama,
Aku : “Buk, air galon habis.”
Ibuk : “Iya dek? Coba tanya Bapak dek, Bapak haus dak?”
Aku :“Pak, Bapak haus pak?”
Bapak : “Kenapa?”
Ibuk: “Kalau haus Hana mau ngambilin minum Pak. Cuma air galonnya habis.”
Bapak: “Oalah, mau minta ganti air galon aja kok panjang kali ceritanya.”

Kemudian air galon diganti. Wkwkwk. Padahal bisa aja langsung bilang minta ganti galon, tapi perasaan yang tertinggal setelah itu mungkin agak berbeda.

Eh, kok malah cerita galon.

Ya gitu, jadi dulu waktu Bela seumur Kirana, juga pernah nangis gitu, sama Ibuk dicuekin, Ibuk malah nyapu. Bela ngikutin terus. Aku kasian sama Bela, aku tanya, “Buk, ngapa Bela buk?” terus kata Ibuk, “Gak tahu, gak jelas ngomongnya, soalnya sambil nangis.” dan ketika agak tenang nangisnya, baru Ibuk dekati Bela, baru digendong, baru disayang-sayang.

Setiap Ibu pasti punya caranya sendiri dalam mendidik anak. Semua punya gaya sendiri. Bagaimanapun caranya, pasti untuk kebaikan anaknya. Pasti.

Aku gak yakin bisa mendidik anak dengan sabar dan penuh trik persis kayak Ibuk dulu. Tapi yang jelas, cara Ibuk akan menjadi contekan di masa yang akan datang.

Eh, kok udah ngomongin mendidik anak pulak ni? Ngasih makan ikan aja kebanyakan, mau ngomongin mendidik anak pulak.

Mendidik Anak di Era Cyber*

Bersama :
👳🏼 Ustadz Bendri Jaisyurrahman
(Penggiat Komunitas @SahabatAyah)

📅 Ahad, 22 November 2015
⏰ 07.00-08.30 WIB
🏡 Aula Utama Masjid UI Depok

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang

📜Dalam mendidik anak tantangan setiap zaman itu berbeda, zaman dahulu dan sekarang berbeda. Dahulu tantangannya tidak begitu dahsyat. Segalak-galaknya orang tua ketika marah, anak masih memiliki keinginan untuk pulang. Karena dulu hiburan tidak banyak, televisi pun ada tapi tidak banyak, jika adapun tidak banyak stasiun televisinya. Dulu lingkungan masih banyak kebun, sawah, belum ada mall, bioskop, dsb. Sehingga dulu orang tua yg tidak punya bekal dalam mendidik anak masih bisa mengatasi permasalahan anak dan membuatnya untuk ingin pulang. Sebab ketika di luar rumah anak pun juga bingung mau melakukan apa. Namun seiring berkembangnya zaman, teknologi pun juga berkembang, zaman berubah. Jangan sampai ketika kita memiliki anak, menjadikannya anak yg lemah. Hendaklah kita khawatir, kita takut meninggalkan anak-anak kita dalam keadaan lemah. Anak-anak yg lemah inilah yg mudah tergerus oleh arus zaman. Anak-anak yg lemah yg tidak siap menghadapi perkembangan zaman. Anak menjadi mudah ikut-ikutan. Dan jangan sampai kita  menjadi generasi yg ikut-ikutan, jika orang lain baik ikut baik, jika orang lain buruk ikut buruk. Hal ini terjadi karena akarnya tidak kokoh.

📜💎Dalam Q. S. Ibrahim : 24-27 terdapat pelajaran yg sangat berharga untuk bisa kita renungkan dan diambil hikmahnya

💎Ayat 24

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,

💎Ayat 25

تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.

💎Ayat 26

وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْأَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ

Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun.

💎Ayat 27

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.

📜Anak yang lemah, akan mudah roboh, mudah galau, dan mudah stres. Ciri anak yg lemah dia mudah sekali putus asa. Inilah zaman yg akan kita hadapi, zaman Cyber, maka  diperlukan bekal ilmu yang baik dalam mempersiapkan generasi yg tangguh. Agar tidak menciptakan generasi yang mudah ikut apa yg dikatakan orang.

📜📌Generasi Cyber :
📌 disebut juga dengan I-Generation, generasi Z, generasi Net, generasi Internet.
📌 Lahir pada tahun 1995 keatas dan identik dengan era digital.
📌 Ciri-ciri : 
🔹 Fasih teknologi
🔹 Jaringan sosial via media
Pada zaman ini sulit kita temukan anak yang tidak memiliki sosial media. Minimal pasti punya facebook, twitter, ataupun path.
🔹 Punya jaring sosial
🔹 Multitasking
Akibatnya membuat anak tidak fokus.
👉🏻 Naik motor sambil balas sms,
👉🏻 Setelah shalat yang dicari HP, dzikir sambil buka whatshapp.
Yg mana jika hal ini dibiarkan akan sangat membahayakan.
🔹 Instan
Apapun inginnya selalu instan, makanannya instan. Dan orang tua pun terbawa dalam situasi ini. Dalam mendidik anak maunya juga instan,  apapun yang instan tidak akan bertahan lama dan tidak baik. Orang tua ingin menyulap anaknya menjadi baik dalam seketika, padahal untuk membentuk karakter yang baik pada anak itu diperlukan proses. Karena terbawa situasi ini, akhirnya orang tua tidak mau melewati proses tersebut. Anak bandel sedikit, langsung ingin dimarahi ataupun di-pesantren-kan. Padahal orang tua sangat berperan penting dalam proses pembentukan karakter anak. Dan dalam melewati proses ini orang tua harus sabar dan sangat diperlukan ilmu.

🔅Fenomena saat ini yang sering terjadi seorang ibu tidak siap utk menyusui anaknya. Belum 2 tahun sudah ingin disapih, atau diberikan susu melalui botol sehingga hubungan batin ibu dan anak kurang dekat. Padahal saat menyusui anak itulah moment yg sangat penting untuk menjalin hubungan batin antara anak dan ibu.

🔅Orang jadi lebih suka mendapat gelar yang banyak dengan waktu yg cepat daripada mendapat ilmu yg banyak. Kalau perolehan tersebut diiringi dengan  proses yang bagus tidak masalah. Artinya dalam mendapatkan gelar tersebut kita menjalani prosesnya dengan baik tidak hanya asal cepat. Sehingga dengan perolehan tersebut membuat kita semakin bermanfaat.

🔅Dalam menghafal Al Quran pun juga tidak bisa instan, karena Al Quran diturunkan secara berangsur-angsur. Al Quran bukan hanya untuk selesai dihafalkan, namun untuk dipelajari, ditadabburi, dan dijadikan sebagai sarana untuk belajar akhlak. Sehingga akhlak kita mencerminkan seorang penghafal Al Quran.  

📜📌Dampak kualitas generasi Cyber
📌 Menjadi Asosial
Ada kejadian mengelak, karena cuma diajari untuk ‘ngelike’ dan komentar. Kurang peka dalam tindakan.
📌 Terburu-buru dan menjadi tidak teliti
📌 Tidak tangguh dalam proses, gampang putus asa
👉🏻 Karena terbiasa di gadget jika tidak suka tinggal hapus, tidak suka group langsung left.
📌 Techno Junkies
Lebih takut kehilangan gadget daripada orangtua
👉🏻Kalau dulu sandang, pangan, papan. Sekarang menjadi sandang, pangan, pulsa, paket data.
–> Rela lapar demi pulsa
📌 Konsumtif
Mengikuti pola perkembangan teknologi, namun tidak mengukur gaji orang tua.
Ketika orang tua tidak mampu memberikannya, maka dia rela untuk menjual diri.
Naudzubillah..😱

“Anak menjadi takut sendiri dalam kebenaran daripada beramai dalam kemaksiatan.”

“Islam asal mulanya asing, sampai akhirnya pun akan asing.”

📜Kita harus menyiapkan anak untuk menghadapi tantangan. Jangan membiarkan anak dengan yg manis karena dia akan mengalami stroke jiwa : tidak siap menghadapi realitas. Collapse, yaitu ketika realitas tidak sesuai dengan harapan.
📌 Ikut-ikutan dan mudah dipengaruhi

📜📌Mendidik anak tangguh : belajar dari Yusuf AS
📌 Kisah yusuf adalah kisah terbaik
💎Q. S. Yusuf : 3💎

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَٰذَا الْقُرْآنَ وَإِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ

Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui.

📌 Disebut terbaik selain karena kisahnya yg paling lengkap dalam satu surat juga memiliki unsur drama yg tinggi
📌 Memiliki pesan yg kuat akan kemampuan seorang hamba dalam melewati ujian

📜📌Seseorang dikatakan tangguh, apabila mampu menghadapi ujian dalam 3 hal (Merujuk kisah Yusuf AS) :
📌 Ujian dalam situasi sulit, yaitu ketika hampir dibunuh oleh saudara kandungnya, karena merasa iri. Saudaranya cemburu karena Yusuf AS paling disayangi oleh ayahnya.
📌 Ujian syahwat, yaitu ketika digoda oleh Zulaikah
📌 Ujian kemarahan, saat bertemu kembali dengan saudaranya, yang dulu pernah ingin membunuhnya, namun beliau tidak membalas dan mencacinya. Hal ini menunjukkan kematangan emosional.

📜📌Yusuf Pemuda Tangguh
📌 Tangguh dalam melewati Ujian Syahwat
💎Q. S. Yusuf : 24💎

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ ۖ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَىٰ بُرْهَانَ رَبِّهِ ۚ كَذَٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ ۚ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.

📜Yang dialami oleh Yusuf AS adalah ujian yg paling berat. Bukan hanya ujian berupa beratnya penderitaan. Namun juga tentang perjuangan menjaga kesucian dari melawan syahwat yang menggoda.
📜Yusuf AS asalnya dari Palestin, kemudian dibuang oleh saudaranya, yang kemudian terbawa ke Mesir.
📜Di negeri orang , ketika orang ingin berbuat maksiat, itu bebas, lebih mudah, karena merasa tidak ada yang mengenalnya. Sedangkan ketika di negeri sendiri pasti mikir, karena malu terhadap orang yg mengenalnya.

📜Seseorang dikatakan tangguh saat menghadapi ujian justru bukan saat dirumah ataupun di pesantren. Namun ketika dilingkungan yg heterogen, kita bisa menghadapi atau tidak.

📜📌Nabi Yusuf AS, menghadapi ujian syahwat yg berat, karena ia digoda:
📌 Di negeri orang, jauh dengan keluarga, orang di sekitar tidak ada yg mengenalnya.
📌 Oleh wanita yg sangat cantik, Istri pembesar yg punya otoritas. Jika tidak dituruti maka akan dibunuh atau dipenjarakan.
👮🏻👍🏻 Ciri pemuda tangguh : Tidak mudah memakai fikih darurat ketika terdesak dalam suatu masalah/ujian.
📌 Dalam keadaan terdesak dan terpaksa
📌 Digoda di ruangan yang sepi dan dikunci.
📌 Yusuf AS pun memiliki gejolak nafsu, ia menyukai wanita tersebut. Hal ini membuktikan bahwa Yusuf AS, normal.

👉🏻Kelima hal tersebut tentu saja tidak mudah untuk dilalui oleh seseorang. Banyak kita mendengar dan menyaksikan anak muda terjerumus dalam perilaku seksual yang diharamkan. Pacaran dijadikan sarana untuk menyalurkan syahwat kepada lawan jenisnya. Tidak hanya dilakukan dalam ruangan yg sepi, terkadang mereka pun tanpa malu melakukannya di tengah keramaian.
👮🏻👉 Yusuf AS, adalah manusia pilihan. Ia memiliki wajah yang tampan diatas rata-rata dan mempesona banyak wanita. Namun ia tidak menjadikannya sebagai  sarana untuk memperdaya wanita demi kepuasan syahwatnya. Ia begitu sungguh-sungguh dalam menjaga kehormatan dirinya.
Keren 💎✨

📜📌Bagaimana cara Yusuf AS membebaskan dari ujian ini?

Mendapat petunjuk Allah SWT,

💎Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, Abusy Syekh meriwayatkan dari Qotadah dalam ayat yang berbunyi {لَوْلا أَنْ رَأى بُرْهَانَ رَبِّهِ } ia berkata : Yusuf melihat tanda kekuasaan Rabb-nya, yang dengan izin-Nya, Allah SWT jauhkan ia dari maksiat; telah disampaikan kepada kami bahwa muncul wajah Ya’qub yang sedang menggigit kedua jarinya seraya berkata: Yusuf! Apakah kau hendak mengerjakan amalnya orang-orang yang bodoh, padahal dirimu telah tercatat sebagai salah satu Nabi! Maka itulah petunjuk yang dimaksud dan Allah SWT mencabut setiap syahwat yang ada di setiap persendiannya

Muhammad bin Sirin berkata: Ya’qub alaihis salam terlihat sedang menggigit kedua jarinya sambil berkata: Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim Khalilur Rahman (Kekasih Allah yang Maha Rahman), namamu tercatat di antara para Nabi, sementara kamu sekarang melakukan perbuatan orang-orang bodoh.

Keterangan diatas memberikan gambaran kepada kita bahwa sosok Ya’qub sebagai seorang ayah memiliki hubungan yg sangat dekat dengan anaknya. Bahkan dalam situasi darurat ia masih menjadi pengingat bagi anaknya untuk menjaga kesucian dan kehormatannya. Nasehat yang diberikan begitu membekas dalam ingatan sehingga terpancar dengan jelas di depan Yusuf  AS sosok wajah ayahnya. Padahal sang ayah terpisah jauh darinya. Yusuf berada di Mesir sedangkan ayahnya berada di negeri Syam.

📜📌Peran AYAH dalam membentuk anak tangguh :
📌 Kedekatan hubungan di masa kecil-ikatan batin yg kuat AYAH dan anak
📌 Ditandai dengan cerita akan mimpi yg sifatnya privat
💎Q. S. Yusuf : 4💎

إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ

(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku”.

👉🏻Yusuf memanggil ayahnya : yaa Abati,
Kenapa memakai kata Abati ?
Dalam bahasa arab Abi adalah panggilan untuk ayah dalam jarak dekat, sedangkan Abati untuk jarak jauh, yg menandakan sangat rindunya.
Lalu dalam kisah Yusuf tersebut terjadi dalam jarak dekat, namun kenapa memakai kata Abati?
Hal ini menunjukkan bahwa sangat rindunya Yusuf AS dengan ayahnya, walaupun dalam jarak dekat. Masya Allah, sosok AYAH yg dirindukan walaupun jaraknya dekat, hal ini menunjukkan begitu dekatnya seorang Ya'qub AS dengan anaknya.

📌 Ada cerita mimpi. Sejatinya ketika anak cerita mimpi, berarti tidak ada privasi antara AYAH dan anak.

📜📌Tugas orang tua di era Generasi Cyber
📌 Menjebol privasi remaja
📌 Privasi di kalangan remaja sejatinya membunuhnya
📌 Anak remaja butuh bimbingan meski merasa sudah dewasa karena masih minim pengalaman
📌 Menjalin kedekatan sedini mungkin

📜📌5 masa krisis seorang anak, dimana masa-masa ini sosok seorang AYAH sangat berperan :
📌 Awal sekolah
📌 Menjelang pubertas
📌 Pubertas
📌 Persiapan nikah
📌 5 tahun pertama usia pernikaan
   –> AYAH berperan penting sebagai penyelamat.
   –> Nasehat seorang AYAH akan membekas hingga anak beranjak remaja. AYAH akan dijadikan rujukan pertanyaan. Ayah yang tidak dekat dengan anaknya maka siap-siap mendapatkan menantu yg menyesakkan hati.

📜📌Peran IBU dalam era Generasi :
📌 Memberikan rasa nyaman, sebagai magnet yang membuat anak ingin pulang sedangkan AYAH sebagai pemandu dan pagar dalam menghadapi tantangan dunia luar
📌 Petaka pertama pengasuhan : ketika ibu tidak lagi dirindukan
📌 Tugas ibu : dirindukan oleh anak
📌 Miliki skill agar dirindukan

📌 Ikatan ibu dan anak kurang dekat : ditandai dengan ibu yg salah dalam memberikan ASI. Disapih ketika belum waktunya, jarang dipeluk, memberikan susu melalui botol.

💎✨ Menjadi ibu yang dirindukan, harus memiliki 3 skill :
🔹 Bisa memasak
🔹 Bisa memijat
Memberikan sentuhan kehangatan kepada anak, karena dengan memijat ini bisa dijadikan sebagai jalan untuk bercerita antara anak-ibu, momen menjalin kedekatan.
🔹 Bisa menjadi pendengar yg baik

Wallahu a'lam bishshawab

✨Karena kami tidak sekedar memberi informasi tapi senantiasa untuk selalu menginspirasi😄

Wassalaamu'alaykum Wr Wb

🌏 : mesjidui.ui.ac.id
📹 : bit.ly/mesjidui
🐤 : @masjidUI

-mari sebarkan-

Kami dan Al-Qur’an Kami

Selemah-lemah iman kami, seburuk-buruk kualitas ibadah kami, Al-Qur'an sudah jadi bagian tak terpisahkan yang diam-diam kami cintai sejak kecil.

Memang tak setiap waktu kami membaca Al-Qur’an.
Memang sebagian kami tidak setiap hari atau bahkan tidak setiap bulan membaca Al-Qur’an. Bahkan bagi sebagiannya lagi, tidak sengaja mendengarkan lantunan Al-Qur’an saja sudah syukur.

Kami dibesarkan dalam keseharian dengan Al-Qur’an. Dulu kami sampai dicari-cari dan dimarahi kalau absen menghadiri taman pendidikan Al-Qur’an.

Al-Qur’an punya tempat tersendiri dalam kenangan kami. Ketika kami berlarian atau ramai sendiri saat orang dewasa khusyuk shalat tarawih, sebenarnya memori kami sedang merekam kenangan lantunan Al-Qur’an sang imam.

Atau ketika dulu pernah berhasil mendapat mainan baru saat berhasil menghapal satu surat pendek karena sudah dijanjikan sebelumnya, rasa kebanggaannya masih terselip di hati sampai sekarang.

Sekarang kami hanya sedang nakal saja. Kami hanya sedang bandel saja. Memang, diperintah kami tak bersegera, dilarang kami malah lakukan. Tapi bukan berarti kami mengingkari. Kami tidak benar-benar berpaling dari Al-Qur’an.

Maka siapapun yang berusaha memadamkan cahaya Al-Qur’an, kami tak pernah sepakat. Maka siapapun mencela Al-Qur’an, kami tak akan pernah sepihak dengannya.

Uniknya generasi kami, kami punya kenangan dengan Al-Qur’an dan kenangan itu akan terus hidup. Seburuk-buruk kami, kami tetap ingin anak kami dekat dengan Al-Qur’an lebih dekat daripada kami hari ini.

Sebenarnya hanya tinggal menghitung waktu saja bagi kami untuk kembali mengakrabi Al-Qur’an. Karena kami sudah terlanjur cinta. Bisa sehari, seminggu, setahun, atau sepuluh tahun lagi.

Sekarang saja kami pun masih bermimpi saat mati kelak semoga kami sedang akrab-akrabnya dengan Al-Qur’an.

Iya, kan?

Setiabudi, 6 April 2017 | @taufikaulia

anonymous asked:

Sblm nanya, aku ijin dulu ya. Boleh aku panggil ayah aja? Soalnya ga mungkin kan aku panggil kakak atau mas?😶 Yah, aku siswi kls xii. Catatannya berantakan, mood belajar juga berantakan. Kadang kalau pelajaran aku suka ga begitu dengerin. Aku benar2 butuh motivasi, dorongan atau kata2 yg bikin aku bisa buang jauh2 rasa malas aku, buat aku bersemangat belajar lagi🙁

Jangan Panggil Aku Ayah, Jika Malasmu Masih Sama.

Lebih tidak mungkin kamu panggil saya Ayah. Tampang saya masih seperti anak muda yang bacaannya Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 dan 1991. Masih pakai celana jeans skinny dan boots Cat nomor 42 warna coklat. Kalau jalan pakai kaos slim fit antara warna hitam dan putih. Kenapa slim fit? Agar menutupi perut yang membesar semenjak kebanyakan kerja di kantoran dan makan kolesterol sepulang ngantor Pulogadung - Tanjung Barat. Jadi, kamu tidak punya cukup alasan untuk memanggil saya ayah. Panggil saja “kak” dan anggap saya adalah seniormu di Paskibra SMA yang galak.

Pertama-tama, kamu harus bersyukur karena ternyata kamu masih menyadari ada sesuatu di kebiasaanmu itu–sebelum kita menjustifikasi apakah itu baik atau buruk. Ini harus diapresiasi, terutama oleh dirimu sendiri. 

Dulu, waktu SMP dan SMA, bahkan lanjut ke kuliah, saya selalu memiliki buku catatan. Tapi akhir dari buku-buku itu juga seperti kamu: berantakan. Mood belajar? Sama. Saya lebih banyak ke sekolah buat ketemu teman-teman dan aktivitas di ekskul. Pelajaran? Meski sayup-sayup dengar, kebanyakan pelajaran masuk ke kepala juga sih. Jadi alhamdulillah, bisa terserap juga. Mungkin langsung rembes ke hati tanpa melalui telinga. Dulu saya juga malas belajar. Tipikal SKS: sistem kebut semalam. Nilai saya juga rerata. SD selalu juara, bandel juga. SMP masih bisa diperhitungkan, meski Jumat ikut liqoan dan Sabtu tawuran. Terakhir saya ada di chart 10 besar di semester pertama SMA. Selebihnya, saya sudah di luar orbit orang-orang sukses. 

Tapi ada yang membuat saya selalu beruntung; saya merasa, rutinnya ibadah wajib dan sunnah yang saya lakukan, benar-benar berdampak pada takdir. Saya bukan orang yang soleh, juga bukan yang serius belajar. Tapi dari dulu saya yakin, kalau saya dekat dengan Allah SWT, pasti Dia juga akan dekat dengan kita. Dari SMP saya sudah rutin ke masjid setiap waktu. Meski tawuran, misalnya, saya tak melupakan shalat. Haha. Tapi ini serius. Saya berbeda dengan teman-teman yang lain yang bandelnya totalitas. Saya? Bandel yang masih butuh teori. Kalau saya merokok manfaatnya apa? Kalau saya menyontek, apa besar nanti saya mau jadi koruptor? Nyontek pun saya hampir tidak pernah. Mungkin itulah, jika saya boleh menduga-duga, kenapa saya sedemikian beruntung sampai hari ini. Dan, saya ingin membaginya ke kamu.

Saya selalu percaya, motivasi itu bisa dibangkitkan dari dalam diri. Kita bisa melakukannya sendiri. Paling mudah, menurut saya, adalah kamu pergi ke toko buku. Habiskan waktumu di sana, meski sekadar melihat-lihat judul buku. Terkadang, inspirasi dan motivasi terselip di antara ribuan halaman buku menunggu untuk ditemukan. Motivasi itu adalah aha-moment yang perlu diperjuangkan, bukan diminta. Cari! 

Kamu siswi kelas XII? Jalanmu masih sangat panjang. Jika saya bisa kembali ke seumuran kamu, mungkin saya bisa berada di titik lebih jauh dari yang ada sekarang. Dan, jika seandainya kamu sadar, kamu bisa jauh mencapai apa yang orang-orang capai hari ini. Hanya saja kamu belum menyadarinya. Malas itu bukan kebiasaan. Ia tercipta karena ketiadaan cita-cita. 

Spanish Vocabulary: El circo (The circus)

el circo: circus

el número/acto: act

la representación: performance

el domador: animal-tamer

amaestrar (un animal): to train an animal

el/la gimnasta: gymnast

el/la acróbata: acrobat

el/la trapecista: trapeze artist

la banda: band

el payaso: clow

el osito de peluche: stuffed bear

la jaula: barred cage

la fila/cola: line

hacer fila/cola: to stand in line

el boleto/ticket: ticket

la taquilla: ticket booth

el truco: stunt

el truco de magia: magic trick

el mago: magician

el malabarista: juggler

mirasenja  asked:

Assalamu'alaikum bg herri, mau nanya ni, gimana caranya kita berdamai dengan masa lalu? Uda coba motivasiin diri tapi hati dan logika selalu ngeyel. Terimakasih sebelumnya atas jawabannya

Wa’alaikumsalam wr wb.

BERDAMAI DENGAN MASA LALU?

Bagi saya, masa lalu itu tidak untuk dilupakan, tetapi untuk dijadikan pelajaran. Masa lalu itu membentuk kita yang sekarang ini; baik atau buruknya. Jadi hal pertama yang harus kita pahami adalah: jangan pernah lari dari masa lalu. Berikan ruang kepada masa lalu agar kita bisa menjadikannya sebagai guru. Kita yang mengendalikan perasaan, bukan kenangan, ya kan? Sebab itu, bagi saya menganggap masa lalu–terutama yang dianggap buruk–adalah musuh itu keliru. Masa lalu adalah soko guru yang mentransformasi kita menjadi sosok yang lebih baik.

Bagaimana caranya?

Pertama, pahami bahwa ini semua hanyalah perihal waktu dan memori yang berdilatasi di kepala. Soal waktu, masa lalu adalah momentum yang telah berlalu dan titiknya telah kita lewatkan. Artinya, secara hakiki kita tidak lagi hidup di masa itu. Namun, selama memori titik-titik itu masih di kepala kita, artinya ada peluang untuk muncul kembali yang berbentuk kenangan. Di sini yang terkadang orang itu terbawa perasaan. Kala hujan, kala sendirian, kala di kendaraan. Atau ia juga bisa muncul melalui dejavu. Kita harus memahami bahwa ini semuanya hanyalah kenangan.

Kedua, jika kenangan itu muncul, sikapi dengan perasaan bahagia bahwa dulu kita pernah ada di masa-masa itu: entah masa terbodoh, masa terharu, masa terbahagia, masa tersakit, dan sebagainya. Sikapi masa-masa itu dengan senyuman dan tawaan; bahwa kita pernah sebodoh itu, misalnya. Jika perlu ceritakan kepada orang-orang agar ia tidak lagi menjadi rahasia. Kenapa? Sebab ketika sesuatu telah menjadi publik, ia tak lagi istimewa. Kita tak perlu lagi sibuk merasa itu perlu dijaga. Malah menjadi obrolan seru dengan orang yang kita ajak bicara. Saya punya sahabat dekat tempat saya menumpahkan semua cerita-cerita dan kekonyolan. Termasuk di dalamnya soal perasaan. Dia tahu semua, bahkan sampai dia lebih ingat daripada saya sendiri. See? Kita tidak lagi khawatir itu akan jadi memori. Kita telah meninggalkan masa lalu dengan sendirinya. Meminjam istilah kamu: berdamai dengan masa lalu.

Saya itu tidak pernah menyesal sewaktu SMP saya ini sangat nakal. Itu “buku hitam” guru BP isinya nama saya semua. Setiap minggu pasti ada saja masalah. Tiap Jum’at ikutan mentoring, tapi Sabtunya tawuran. Tapi nilai-nilai ujian saya selalu oke tanpa menyontek. Saya punya prinsip: bandel boleh, curang jangan, bodoh jangan. Bandel yang bodoh itu seperti merokok atau mabuk-mabukan. Berantem masih okelah, hehe. Nah, yang seperti ini tidak pernah saya sesali meskipun di fase hidup berikutnya saya menemukan diri sendiri telah tersesat di jalan yang benar bersama anak-anak Rohis. Saya punya banyak pelajaran dari menjadi bandel tadi. Kenangan saat-saat bandel itu sering muncul. Tapi justru saya menikmatinya sebagai sebuah proses pendewasaan.

Soal cinta juga berlaku hal yang sama. Tapi tidak saya ceritakan di sini.

Ketiga, kalau kenangan itu telah menjadikanmu hanyut terlalu mendalam apalagi menyita banyak pikiranmu, itu artinya bukan lagi kenangan, tetapi godaan syaitan. Jika kamu pernah jatuh cinta, lalu kamu tidak sanggup melupakannya, bahkan terus menerus berhalusinasi atau berimajinasi–bahkan semakin liar–perbanyaklah istighfar. Tak ada jalan lain selain memohon ampun kepada Allah SWT atas sesuatu yang telah melalaikan. Percayalah, tidak akan pernah ada kebaikan dalam suatu hal yang melalaikan diri dari ingat kepada-Nya. Sudah pasti itu pekerjaan syaitan.

Posting ini mengandung unsur keluhan keagamaan. Dibuat dalam rangka, —ya kalo ada unek unek; obat buat gue emang nulis atula, gimana harus. Kayak so iyeh gitu sok sok suka nulis parrrah. Jijik. Tapi serius, gue tuh orangnya gabisa dibilangin. Bebal lvl 99+++, bahkan walopun diri gue sendiri yang bilangin, ga akan pernah didengerin. Makanya gue menulis; biar gue sendiri bisa baca. Menulis bagi gue seperti mendengarkan isi kepala sendiri. Rasanya niqmat, kak! hzk

Ah, iya. Posting ini akan full berisi keluhan gue mengenai keagamaan. Kalau gamau baca, gausah. Kalau mau, bagus deh. Siapa tau bisa diskusi, ehe.

Keep reading