balutan

Emang Kamu Nikah Buat Senang-Senang Doank?

Nikah kok ngajak susah? Maaf akhi, ayah dan bunda ana berjuang mati-matian untuk membuat anaknya bahagia. Lalu kamu datang meminang hanya untuk ngajak susah? Belajar lagi akhi, belajar untuk menghargai keringat orang tua yang membesarkan anaknya. Tapi lain halnya kau mengajak berjuang, ada tujuan perjuangan tersebut. Maka denga izin Allah akan ana meridhoinya.


Speecheless  juga baca ending tulisan ini.

Agaknya paradigma ini perlu diluruskan. Jika mau menelisik perkataan; “Ukhti maukah saya ajak susah jika ukhti menjadi istri saya kelak?” Sebenarnya itu bukanlah ajakan secara langsung untuk ngajak hidup susah, melainkan tantangan kepada seorang calon istri; apa dia siap sekiranya datang masa susah saat bersama suami? Apa dia masih tetap setia menjadi pendamping saat kondisi terpuruk?

Coba tanyakan pada setiap lelaki di dunia ini, apakah mereka rela mengajak orang yang mereka cintai dalam keadaan susah?

Jika kamu seorang istri, tanyakan pada suamimu; apakah dia mengajakmu untuk hidup menderita?

Jika kamu seorang anak, tanyakan pada ayahmu; apa dia mengajak ibumu untuk hidup sengsara?

Duhai istri, lihatlah tetesan keringat yang terjatuh dari dahi suamimu; pergi pagi, pulang petang. Itu untuk kebahagiaanmu.

Dan kamu, sebagai anak … coba lihat rauh wajah ayahmu yang sudah mulai menua. Lalu raba tangannya. Apa kau masih mengira umur yang dia habiskan untuk ibumu adalah warsa-warsa lara?

Tidak ada seorang lelaki pun yang rela untuk mengajak istrinya dalam kesusahan. Melainkan ia akan berusaha menghilangkan kesusahan itu.

Tapi, apakah kamu mengira menikah itu kesenangan belaka?

Apa kamu mengira pernikahan itu seperti di film-film? Penuh romantisme. Indah nian menatap purnama bersama sang pujaan hati.

Saya tidak menampik pentingnya materi dalam bahtera rumah tangga. Tapi itu bukanlah jaminan bahwa hidupmu akan senang. Itu bukanlah jaminan kamu akan terbebas dari hidup susah.
Berapa banyak orang kaya yang tak bisa menikmati rumah tangganya.

Atau, dalam perkara jabatan? Apakah itu bisa menjamin dari terbebas hidup susah?
Berapa banyak orang-orang yang memiliki jabatan tinggi, tapi biduk rumah tangganya karam.

Bahkan popularitas, itu tidak mampu menjamin hidupmu akan baik-baik saja. Akan senang-senang saja.

Salah satu hal yang paling penting dalam pernikahan adalah kesiapan mental. Percuma banyak harta, jabatan tinggi, memiliki popularitas, tapi tak memiliki mental untuk menjadi suami atau istri.

Lelaki yang bertanya kepada wanita dengan pertanyaan; ”Siap hidup susah nggak, nanti?” Bukan ajakan untuk hidup susah. Melainkan untuk mengetahui, apa si wanita sudah siap mentalnya jika masuk ke dalam zona itu.

Kamu pasti paham tentang pasang surut kehidupan. Tentu saja kamu dan suamimu merencanakan hal-hal yang indah setelah menikah. Tapi jangan lupa, Dia sang pembuat rencana berhak atas segalanya. Termasuk mengubah rencanamu.

Ngajak hidup susah itu bukan syarat, melainkan seorang lelaki tahu bagaimana kedudukannya dalam rumah tangga. Ibarat medan perang, seorang panglima yang menghadapi masa kritis dengan pasukannya akan berusaha sekuat mungkin agar mereka bisa keluar dari zona itu. Dan tentu saja, itu tak bisa dilakukan oleh sang panglima seorang diri. Melainkan perlu peran pasukan untuk bahu membahu agar tujuan itu tercapai.

Begitulah yang diinginkan suami; jika nanti “kita” dalam keadaan susah, apa kamu siap tetap berada di sampingku? Apa kamu masih setia menemani perjalananku? Menjadi bahu tempat bersandar. Menjadi kemudi, agar tak hilang arah.

Saya sendiri pernah berkata kepada calon istri saat akan menikah;  ”Apa kamu siap menderita? Saya seorang mahasiswa, dan saya masih belum bekerja (ketika itu masih pengangguran). Jika kamu siap, kita langsungkan pernikahan ini. Jika tidak, silahkan berpikir ulang.”

Saat itu dia menjawab; ”Saya siap memulai dari nol.” 

Menikah itu mudah; tapi kehidupan setelahnya yang perlu diperjuangkan.

Menikah itu bukan hanya menyatukan dua hati. Bukan hanya menyatukan dua pemikiran. Tapi menyatukan dua buah keluarga. Menyatukan adat, budaya dari masing-masing pihak. Menyatukan selera, se-iya, se-kata, satu dalam harmoni. Mendayung bersama dalam biduk rumah tangga.

Menikah itu menyelaraskan visi dan misi. Agar satu tapak. Agar satu langkah. Agar satu jalan. Semusim dalam balutan senyum. Se-payung dalam gerimis lara. Dan senampan dalam pesona surga.


Surabaya, 09:53 WIB
22 07 17


Yuk baca; Menikah Muda: Antara Terkompori atau Tuntuntan (Sebuah Paradigma

Taaruf itu bukan “Nembak”, atau sesi pedekate. Pun bukan pacaran dalam balutan islam. Taaruf itu berkenalan. Kalau gak cocok, gak usah dipaksain. Kalau cocok, gak usah dilamain.
Hanya Sudah Tak Seirama

X: Mengapa orang yang pernah begitu mencinta bisa memutuskan untuk meninggalkan, memungut benci lalu memeluknya dalam-dalam?
Bagaimana bisa sudah bertahun-tahun hingga terhitung sekian dasawarsa yang ada menjadi nihil tiada?
Manusia itu aneh, untuk apa dulu keras memperjuangkan, lama mempertahankan, kemudian dengan mudah melepaskan?

Y: Mereka itu dipertemukan dengan kebahagiaan, bersama dalam balutan kenyamanan, hingga pada satu masa langkah mereka sudah tak mau lagi seirama. Ada yang terlalu cepat, namun enggan menunggu yang lain. Ada yang terlalu lambat, tapi tak berkeinginan memperlebar langkah agar kembali seiring. Mereka hanya tak bisa lagi menyamai. Yang terbesit hanya pergi, lari, pergi, lari.

Kamu Cantik

Kamu cantik dengan menjadi versi sederhana sebagaimana kamu menjaga sikap, Kamu cantik dengan balutan sederhananya penampilanmu, Kamu cantik dengan segala upayamu menjaga diri, Kamu cantik dengan santunnya akhlakmu dan Kamu cantik sekalipun tersembunyi dan tak dikenal dunia.

Cantik bukan tentang bagaimana agar disukai orang lain, atau agar mendapat penerimaan dari orang lain.

Percayalah cantik adalah bagaimana kamu mampu mensyukuri segala kebaikan juga kekurangan yang Allaah berikan padamu hingga membuat semangat untuk terus menjadi bermanfaat di jalan kebaikan.

Karena segala kecantikanmu berawal dari hatimu yang baik, kamu bersinar dengan cantiknya hatimu

Salam dariku,
Diyah Maya Lestari.

Percakapan yang Menyadarkan

Apapun itu diniatkan sebagai Ibadah kepada Allah, dan diniatkan berdakwah. Seperti yang aku lakukan dulu dari muda hingga sekarang. Karena dakwah tidak selalu harus dari perkataan, bahkan dakwah yang lebih baik bisa datang dari terinspirasi dirimu, karena prestasi, karena akhlakmu, karena keseharianmu.” Kata ayahnya kepada si Pemuda. 


mereka sudah diwisuda, sudah hafal 30 juz, tadz” katanya.

Alhamdulillah hebat, saya aja lagi memulai lagi, mengumpulkan lagi yang berceceran. Mencoba istiqomah juga ditengah kesibukan, tapi seringnya jadi ga fokus pikiran kemana mana. Enak banget kalo di pesantren terkondisikan sepertinya makanya cepet” kata pemuda itu.

Memang gimana program, antum?” tanya ustadz tersebut.

saya spare 30 menit ba’da ashar dikantor untuk hafalan, tapi progressnya lambat karena sering kepikiran kerjaan, udah pusing duluan mikir hal dan amanah lain ataupun udah dikejar meeting.” kata pemuda agak mengeluh.

Bukan begitu, bisa jadi terasa “sempit” karena dosa dosa kita sendiri perbanyak istighfar. Kedua bukan karena pekerjaan atau amanah amanah antum. Karena itu juga bagian dari amalan ibadah antum membantu masyarakat banyak menebar kebermanfaatan. Itu jalan perjuangan antum yang memang ilmu, tenaga, waktu dan pikiran antum dibutuhkan disitu. Bagaimana Islam memuliakan orang yang mencari nafkah untuk keluarga dan kehormatan dirinya, bagaimana sebagai seorang muslim kita dituntut untuk berkontribusi untuk masyarakat. Ini bukan perkara jika menjadi Ustadz seperti saya maka dia lebih baik di sisi Allah, sementara yang bekerja dikantor kurang baik disisi Allah dan dicap “hanya mengejar dunia”, juga bukan perkara sebaik baik manusia yang menceraikan dunia dan hidup hanya didalam masjid. Kita berjuang di koridornya masing masing.” Jawabnya sambil tersenyum.

Lamunannya melayang beberapa minggu yang lalu, ada yang mengganjal di batin pemuda tersebut. Si pemuda dengan murobbinya kemudian melanjutkan diskusi terkait keresahan si pemuda. Kemudian pembahasan ba’da dzuhur di masjid memanjang dari pembahasan takziyatun nafs, tasawuf, dan beberapa bahasan lain. Dan tiba - tiba si pemuda terpikirkan seandainya hidup di jaman Rasulullah apakah problematika dan tingkat kompleksitas kehidupan jauh lebih rendah dibanding saat ini? Karena manusia manusia modern disibukkan dengan berbagai macam tuntutan kehidupan.

Sepertinya menyenangkan hidup pada jaman Rasulullah, dia berandai andai sebagai pemuda masuk ke dalam pasukan perang dan hanya berangkat perang hingga antara  dua takdir yang ditemui (hidup mulia atau mati syahid) dan begitu terus bergulir dalam balutan waktu. Tapi ternyata tidak juga, setelah dia ingat bagaimana Abu Bakar tetap menjadi saudagar dalam kesibukannya, Utsman tetap bersedih atas kematian istrinya, Ali pejuang tangguh yang rumah tangganya sangat sederhana sehingga pernah disibukkan menimba air agar keluarganya bisa makan, Khalid yang pada akhirnya bisa meluangkan waktunya mempelajari dan membaca quran setelah hidupnya sebagian besar dihabiskan untuk berperang di Jalan Allah. Ya, bahkan para sahabat Rasulullah yang sudah after-life oriented dan levelnya jauh diatas manusia jaman sekarang juga disibukkan dengan masalah masalah dinamika kehidupan di dunia. “Masalah dalam kehidupan itu pasti ada, itu yang membuat hidup itu ya hidup. Sunatullah” tambah sang murobbi.

                          ***

Seorang kawan membangunkan lamunannya. Si pemuda sibuk dengan pikirannya dan  “Fokus bro, satu satu dulu. Gak masalah ini bukan tentang main banyak banyakan kuantitas tapi kualitasnya yang bakal menentukan, bukan terkait hasilnya tapi prosesnya.”

kepala ga bisa berenti mikir, dan suka gemes ngeluarin inisiatif ini itu yang kalo menurut gue itu bisa menjawab permasalahan yang ada di depan mata gue.” jawab si pemuda.

iya paham, tapi sebagai manusia juga kita punya batasan, waktu pun terbatas, jangan semua jadi prioritas yang ada nanti ga fokus dan terbengkalai semua. Santai aja, atur ritmenya kapan harus berjalan kapan harus berlari. Ah lo ini susah emang” balas kawannya.

                       ***

Lain lagi, ketika dia berbincang dengan teman - teman yang masik aktif dikampus baru baru ini. Mereka masih senang menimba ilmu serta baca buku dan aktif kegiatan di masjid. Banyak hal yang mereka diskusikan tapi dititk ini sering kali dia menemukan “oh iya kah?” “apa maksudnya itu?” “apa artinya?” “enggak tau” “belum pernah baca bukunya” dan jawaban jawaban semacam itu yang terlontar dari mulutnya. Yang pada titik ini dia merasa apa yang salah ya? dia yang emang makin “payah” dan disbukkan dengan banyak hal? kepalanya semakin tidak ada isinya? atau mereka memang yang berakselerasi dan dia jauh tertinggal?

Keresahan - keresahan ini sebenarnya yang muncul dalam benak pikirannya dan membuat galau untuk berefleksi kembali, apa sudah benar dalam menata jalan hidup yang ditempuh? apa sudah benar dan dilalui dengan baik waktu yang telah berlalu? apa dirinya manusia merugi dan tak menelurkan prestasi? .

Karena setiap pertanyaan akan menemukan jawaban, mereka hanya terpisahkan waktu. Dalam penuh kesadaran dan roda kehidupan yang berputar penting untuknya untuk menyadari selain menjadi idealis hidup pun harus realistis. Penting untuknya untuk terus menjaga niat untuk beribadah kepada Allah dalam apapun aktivitas hidupnya. Penting untuknya untuk terus belajar kehidupan, memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas diri. Penting untuknya untuk menata dan merencanakan dengan matang kehidupannya. Penting untuknya untuk terus menghasilkan manfaat, qona’ah dalam banyak hal dan tetap rendah hati. Penting untuknya untuk menyadari bahwa jalan hidupnya sudah diskenariokan oleh Yang Maha Pengasih.

No amount of guilt can change the past, and no amount of worrying can change the future. Go easy on yourself, for the outcome of all affairs is determined by Allaah’s decree. If something is meant to go elsewhere, it will never come your way, but if it is yours by destiny, from it you cannot flee.” - Umar bin Khatab


Bandung, 3 April 2017.

Sepertiga Malam adalah sebuah pertemuan spesial antara penghuni langit dan bumi dalam balutan malam yang begitu syahdu
—  02.00 a.m

Masjid Al-Lathif Bandung
Bersama para pemuda yang berharap dapat berbagi surga bersama para syuhada

Waktu akan terus bergerak maju. Tak akan mundur ke belakang. Dan apapun yang telah terlewati tak akan terulang lagi, tak akan sama persis. Bilapun terulang lagi, mungkin tak akan sama persis dan itu dalam balutan yang berbeda.

Perihal menunggu dan ditunggu atau menanti dan dinanti, waktu memang tlah mengajarkan demikian. Ada cemas dalam harap dan ada resah dalam kebimbangan. Itu semua tak pernah lepas dari apa yang kita rasakan di dalam hati.

Perjalanan hidup selalu mengajarkan banyak hal. Tentang kesungguhan, pencapaian, kegagalan, kesedihan pun kebahagiaan. Kita sebagai insan yang berhati tentu akan faham dimana letak lemah dan rapuhnya kesabaran.

Dan atas apapun yang pernah hadir dalam kehidupanku, kuucap terimakasih. Masa  yang pahit serta kenangan yang kadang membuat mata enggan terpejam , tlah kusimpan kau pada tempat yang semestinya. Mungkin sesekali akan ku kunjungi, sebagai cermin untuk terus bagiku memperbaiki diri.

Dan untuk hati yang tlah begitu sanggup menjalani semua fase sampai hari ini, semoga kau teguh dalam menjaga dan terus meningkatkan kualitas diri.

Kepada apa apa yang tlah membuatku bahagia dan tertawa semoga Allah senantiasa memberimu bahagia yang semestinya.

*cuma tiba-tiba ingin menangis saja,,,

Untukmu, kemarinku..

Sebentar, sepertinya ada yang salah. Benarkah kau masa kemarinku? Lalu mengapa sampai sekarang namamu masih berkeliaran di kepalaku?

Lupa adalah satu-satunya tugas hatiku jika menyangkut perihal kamu. Tapi luka menjadi satu-satunya pengingat, bahwa kamu pernah dan masih menjadi pemberi pengaruh terbesar soal rasa. Debar, detak, jantung, dada, masih senantiasa menjadikanmu raja. Aku masih merinding jika tak sengaja melihat namamu. Entah apa yang membuatku begitu betah menahanmu dalam kepala. Padahal manismu bisa kuhitung dengan jari tangan satu. Aku lelah menghindarimu. Berulang-ulang memaksa kaki menjauhimu. Tapi sekali rindu, aku rela menghancurkan seluruh dinding yang kubangun sendiri. Aku berputar-putar di sini saja. Di pusaran kenangan indah yang kubingkai lebih indah lagi dengan balutan delusi-delusi tentangmu. Aku kesakitan, sungguh sakit luar biasa. Bukan karena aku tak akan bisa menahanmu dengan lengan-lengan kecilku, bukan juga karena aku tak bisa meminta satu kecup panas di bibirku. Tapi karena kamu sudah berhenti dari menginginkanku.

Cinta, jangan pernah merasa bersalah. Aku yang terlalu jatuh cinta, sedang kau hanya ingin bermain semata. Segala rindu, damba, perih, dan sisa kasih biar menjadi urusanku saja. Kau tak perlu tahu. Berbahagialah, aku baik-baik saja.

Aku, pemanismu.

Perihal Ruang Angkasa

Karena langit tidak pernah mengenal senyap. Malam tidak hanya sekedar pekat. Di dalamnya banyak hal bercumbu dalam sinar dan binar. 
Selamat menikmati persembahan semesta, perihal ruang angkasa dalam balutan aksara

Bagian 1
Tentang Bintang: Ibu

Bintang, kerlip penghias langit malam. Meski kadang tak tampak ditutup awan, percayalah ia selalu mengiringimu. Sama seperti doa ibu yang selalu mengiringi setiap langkah kakimu. Ibu adalah bintang paling terang; tanpa hadirnya, hidupmu akan kelam seperti langit malam tanpa bintang.
@iimfauziyah

Bagian 2
Tentang Matahari: Arti Hadirnya

Hadirnya kau keluhkan karena menjadi pertanda bahwa kau harus bangun dan bergegas untuk meninggalkan rumah. Hadirnya kau celotehkan karena teriknya membuat keringat membasahi tubuhmu. Kepergiannya tak pernah kau hiraukan karena ingin cepat kembali kerumah; beristirahat di indahnya malam yang gelap nan dingin. Ia yang selalu setia menyinari tanpa diminta,datang dan pergi dan tetap selalu kembali meskipun hadirnya tak banyak diinginkan.
@langkahbercerita

Bagian 3
Tentang Nebula: Dia

Dia adalah deburan kabut dibelantara langit hitam. Kabut yang rongganya hanya berupa gumpalan awan yang berdebu. Dia adalah peristirahatan terakhir bagi gemintang. Karena hadirnya tercipta dari kisah kematian bintang. Dia terlahir tanpa arti, tapi dilahirkan untuk menjadikan yang lain lebih berarti.
@utyraa

Bagian 4
Tentang Asteroid: Untuk Sebuah Nama

Kau adalah yang utama. Seperti Ceres, Iris, Vesta, atau Eunomia dalam rengkuhan tata surya; dari jarak jutaan mil masih dapat kulihat rupanya. Bagaimana jika kita tak berada pada galaksi yang sama? Kurasa tak apa, kau dan aku adalah bola-bola angkasa yang terbang bebas tanpa peduli cibiran semesta. Mungkin kelak jika bukan berada diantara Mars dan Jupiter, kita akan bertemu di Bumi dalam keadaan paling manusiawi.
@missklise

Bagian 5
Tentang Komet: Miskonsepsi

Pijaran gas dan debu yang membeku — yang kau sangka bintang — itu, sejatinya adalah komet. “Bintang berekor.”, katamu. Sekarang aku bertanya, adakah kau rela langit malam hanya berhias cahaya tiap 76 tahun sekali? Masihkah kau percaya ia adalah bintang jatuh yang memberimu harapan? Nyatanya harap itu ia tebarkan untuk lebih dekat pada mataharinya.
@andinest

Bagian 6
Tentang Lubang Hitam: Kenyataan

Lubang hitam adalah akhir — menarik tiap benda yang mendekat. Seperti kenyataan — menarik tiap angan sebelum sempat mencuat. Kenyataan menarik setiap harapan yang lewat dengan gravitasi yang kuat menuju ketiadaan; gelap. Tak ada yang bisa lari dari lubang hitam ataupun kenyataan; bahkan cahaya — mengembalikanmu ke titik nol; keadaan tanpa harapan.
@capekngetik

@kitakalimantan @tumbloggerkita

Rindu pandai sekali menyesap dalam balutan angan, menyelinap kala dingin mulai menggenapi malam. Tubuh berkata benci, namun tak bisa berbuat lebih baik lagi. Pelariannya hanyalah kenangan, setidaknya dari situlah harapannya muncul untuk sebuah kehangatan. 

 Namun, senja sudah jadi saksi kepergian seseorang yang pernah ia begitu cinta. Terang sudah jalan cerita yang rumit itu berakhir, bercampur pula selaksa cita dan duka dalam setiap tapaknya. Ternyata, janji sebaris kata saja tak cukup untuk mengikat rasa lebih lama. Ibarat matahari tak pernah terbit di titik yang sama, maka aminkan saja kalau hati manusia pun bisa berlaku sama. 

Ah. 

Sementara bulir dingin berjejal turun dari angkasa , berbanding terbalik pada bulir hangat yang turun dari kedua pelupuk matanya. Kiranya, tak terukur lagi bagaimana sesak dadanya.

SELFIE2 #1 – Apakah Aku Hadir Tiba-Tiba?

Suatu sore, saya sedang duduk-duduk di kantin fakultas bersama teman-teman dan seorang dosen yang membimbing kami melakukan penelitian. Di meja kami tersaji sepiring makanan berupa berbagai jenis gorengan: ada tahu isi, bakwan, pisang goreng, cireng, dan yang lainnya. Makanan seperti ini memang sangat mudah dijumpai di Bandung dan saya yakin setiap orang pasti pernah memakannya. Selesai membahas penelitian, kami pun mulai membicarakan hal lain. Tiba-tiba, Ibu (dosen saya) bertanya kepada saya, “Nov, dari semua gorengan yang ada di piring ini, apa yang paling kamu suka?” Saya tersenyum dan tertawa kecil seraya tidak langsung menjawab, sebab saya yakin bukan itulah maksud pertanyaannya. Lalu, Ibu bertanya lagi, “Jangan senyum aja. Ini saya serius lho nanyanya.” Tanpa mengerti apa sebenarnya yang ingin ditanyakan, saya pun menjawab, “Tahu dan bakwan, Bu.” Kemudian, Ibu pun menanyakan pertanyaan yang sama kepada teman-teman saya, disusul teman-teman saya yang juga menjawab sambil tertawa.

Sambil mengambil satu tahu goreng dari piring, Ibu bertanya lagi, “Menurut kalian, mungkin engga sih kalau tahu ini tiba-tiba ada di meja kita sekarang tanpa ada teteh (panggilan untuk perempuan dalam bahasa Sunda) yang membuat adonannya, mengolah bumbu, menggoreng, dan seterusnya hingga akhirnya tahu ini bisa kita makan? Aha! Saya mulai mengerti arah pembicaraan, sekaligus semakin bertanya-tanya apakah yang akan disampaikan Ibu selanjutnya. Saya dan teman-teman saling melirik lalu kompak menjawab, Tidak mungkin! Dengan gayanya yang khas, Ibu tersenyum dengan lembut lalu melanjutkan penjelasannya, “Nah iya, begitupun dengan kehadiran kita di dunia ini. Kita tidak mungkin tiba-tiba terlahir ke dunia tanpa ada Allah yang menciptakan kita. Memangnya kalian pikir kalian tiba-tiba turun dari langit atau keluar dari tanah? Hmm, iya sih lahir dari perut Ibu, tapi apakah itu pun terjadi secara tiba-tiba tanpa Allah yang membuatnya terjadi?” Saya dan teman-teman mengangguk perlahan, di otak kami sedang terjadi turbulensi, sebab masing-masing kami sepertinya memang sedang menyadari hal yang sama, “Iya ya, kok saya engga pernah memikirkan ini sih? Kok saya engga sadar sih kalau muara semuanya adalah Allah?”

Bagaimana denganmu, apakah kamu juga baru menyadari hal ini setelah sebelumnya tidak pernah memikirkan dari mana asal usul keberadaanmu?

“Bukankah pernah datang kepada manusia waktu dari masa, yang ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu kami jadikan mereka mendengar dan melihat.” (Q.S Al-Insan (76) : 1-2)

Begitulah firman Allah dalam Al-Qur’an tentang dari asal keberadaan kita. Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan tentang ayat tersebut, yang mohon maaf tidak bisa saya jelaskan dengan mendetail karena keterbatasan ilmu yang saya miliki, tapi saya memahami dari sana tentang ayat ini bahwa kita semua semula memang tidak ada, lalu Allahlah yang menciptakan kita.

Sekarang, coba pandangi dirimu sendiri: kedua mata yang bisa melihat dan merekam memori dengan jauh lebih dahsyat daripada sebuah kamera, hidung yang dengan cerdasnya memfilter udara yang masuk ke tubuh kita, fisik dengan balutan kulit yang entah bagaimana bisa melindungi organ-organ di dalamnya, tangan yang bisa menulis dan bergerak dengan koordinasi sepuluh jari yang luar biasa, kaki yang kuat menopang tubuh, aliran darah yang tidak perlu kita rasakan desirnya, kedip mata dan detak jantung yang tidak perlu kita atur sendiri geraknya, dan masih banyak lagi. MasyaAllah, betapa sempurnanya Allah menciptakan kita. Tabaarakallah. 

Apakah kamu masih ingin berpikir bahwa semua itu adalah hasil rekayasa ciptaan manusia yang bahkan tidak mungkin bisa menciptakan dirinya sendiri?

Sahabatku, kita tidak tiba-tiba ada di dunia ini karena turun dari langit, muncul dari genangan air, atau keluar dari tanah. Allahlah yang menciptakan kita dengan sempurna dan istimewa sedemikian rupa. Kalau kita masih enggan bersyukur, tidak mau nurut pada apa yang diperintahkan-Nya, dan hidup sesuka hati dengan aturan-aturan sendiri, kita tidak boleh protes dong kalau pada akhirnya kita disebut manusia-manusia yang tidak tahu diri? Astaghfirullah. Kita tentu tidak ingin seperti itu, bukan? Semoga Allah senantiasa memudahkan kita untuk menjernihkan hati dan pikiran, agar bisa merasa lapang untuk menerima kebenaran.

Let’s look into yourself!

_____

Tulisan ini adalah bagian dari rangkaian #30daysramadhanwriting yang saya tuliskan selama bulan Ramadhan 1438 H dengan tema “SELFIE 2 - Let’s Look Into Yourself!” Setiap harinya, tulisan-tulisan dengan tema ini akan dimuat di novieocktavia.tumblr.com pada pukul 16.30 WIB. Untuk membaca tulisan lain dalam project ini, klik disiniSerial ini bermula dari #30daysramadhanwriting dengan tema yang sama di tahun sebelumnya. Untuk membaca serial selfie di Ramadhan 1437 H, klik disini.

Bumi: Ulan

Word came through in a letter,
One of us changing our minds.
You won’t need to guess who
Since I usually do not send letters to me
That are mine

I told him I saw this coming,
That I’d practically packed up my things.
I was glad at the time that I said I was fine
But all honesty knows, I wasn’t ready, no

Lantunan Bluebird dari Sara Bareilles merenggut telingaku yang senyap, di hadapan malam. Malam ini, tubuhku terdampar di pesisir keresahaanku yang samudera, bersama dengan kepalaku yang gamang oleh khayalanku yang terlalu tinggi.

“Lan, besok pesawat jam berapa? Safe flight, ya” Gawaiku bergetar, ketika pesan dari laki-laki yang kukenal setahun ini, masuk.

“Jam 14.00, see you.” Aku pun membalasnya.

Sudah dua tahun aku meninggalkan Jakarta; 10 besar kota yang paling dibenci di dunia, menurut berita CNN. Namun di Jakarta lah, aku menemukan satu buah cerita dari 9,9 juta kesempatan yang mungkin bisa dari mana saja aku dapat.

Bumi, laki-laki yang tak berhenti membuatku kagum dengan sudut pandanganya. Dua tahun lalu, aku pergi dari kekaguman itu. Tapi tidak seluruhnya. Sebab sampai saat ini, aku masih melihat apa yang kami lihat dua tahun yang lalu.
Bumi pernah mengatakan bahwa, pertemuan Bumi dengan Bulan seperti sinetron, berawal dengan tabrakan. Aku tertawa saat itu. Tapi Bumi masih dengan wajah yang serius mengatakan, “sebuah kejadian yang mungkin jika dipikir dengan rasional adalah sebuah akhir, namun ternyata menjadi sebuah awal.” Aku tertegun menatap mata Bumi kala itu.

“Yang dipikir akhir, bisa jadi sebuah awal.” Kataku lirih. Malam ini, aku terseret dalam ingatan masalalu, di meja belajarku. Remang-remang bulan di balik awan, masih terlihat lebih terang, dari pikiranku yang masih menerawang. Dan setan di kepalaku berbisik, jika esok beranjangsana sesaat, mungkin tidaklah menjadi kesalahan yang harus diperdebatkan.

Namun menemui Bumi masih menjadi keputusan yang berat. Seberat debar yang mesti kutanggung untuk mempertahankan peran Bumi di cerita ini. Peran yang begitu berarti, dilihat dari sisi mana pun. Mungkin, Bulan memang hanya perlu sekali menabrakan dirinya ke Bumi, agar apa yang sudah tersusun dengan rapih, tak perlu dibuat berantakan. Aku yakin, jika Bumi mendengar ini, dia pun menyetujuinya.

#
Pagi, bersama dingin dan secangkir teh hangat bertemu dalam balutan degup jantung yang mengetuk dada kiri. Iramanya senada dengan degup jantungku, di malam ketika perpisahan itu dimeriahkan dengan secarik kertas yang dinodai sekelumit kata yang tak sempat terucap, di dua tahun kesempatan yang kupunya.

Dan pagi, menjadi lebih ramai dari suara-suara burung gereja di atap rumah, yang entah untuk sebuah pertemuan atau perpisahan. Tak ada beda. Sebab ditelingaku, keduanya tetap terdengar ramah.

Kurang dari tiga jam lagi, akan ada cerita baru, dan setelahnya, menjalani cerita seperti yang diinginkan, mungkin tak terdengar buruk. Memang sejak SMA, aku sudah mulai mencintai dunia photography. Aku mulai mencintai ketika Shutter Speed-ku tak terlambat menyelamatkan ingatan. Dan mendapat kesempatan untuk bekerja di Negara tetangga dan melanjutkan kuliah di sana, jauh membuatku menghargai masalalu. Sebab seperti kamera, Bumi butuh cahaya, dan aku, bukan lah sumbernya.

#
Bandara menjadi tempat yang kubenci dari cerita ini. Tempat yang menceritakan pertemuan sekaligus perpisahan dalam satu waktu, dan aku telah menjadi bagian dalam ceritanya. Aku sudah sering mendatangi bandara sejak usiaku menginjak lima tahun. Sejak itu juga, aku sudah menemukan banyak pertemuan dan perpisahaan.

Namun Bumi benar, “Yang dipikir akhir, bisa jadi awal.” Kataku lirih, sembari berjalan memasuki kabin pesawat.

Bumi, 2017
andhikahadip

gegara fenomena anak gantengnya ustad nikah umur 17 tahun, fitur explore instagram gue dibanjiri akun-akun (katanya) dakwah pada nyuruh nikah muda, yang di-like entah siapa di list following gue. this is why I do not follow those (katanya) dakwah accounts. baik di line ataupun ig sebagai socmed aktif gue. bukannya mengajak perempuan untuk produktif agar lebih berguna bagi sesama, ini malah kontennya bikin galau dan mendorong perempuan agar buru-buru menikah. meh. apa bedanya akun yang (katanya) dakwah itu sama akun-akun abege labil yang isinya galauin cowok? beda bungkus aja sih. satu pakai bungkus agama, satunya enggak. tapi isinya sama. ngebet pengen berdua-duaan sama lawan jenis.

I mean, yes I believe marriage is completing half of our deen, tapi nikah bukan balapan yang harus diburu-buru kan? kenapa nggak lebih mengarahkan perempuan untuk mengejar pencapaian-pencapaian mereka? karena toh kalau memang yakin dengan takdir Allah, tulang rusuk yang hilang juga akan dipertemukan dengan pemiliknya at the right time, kan? bukannya maksain buru-buru minta dihalalin biar bisa saling pegangan, ciuman, dan ena-ena dengan dalih ibadah. marriage is so much more than making sex halaal.

output gerakan si akun-akun (katanya) dakwah ini bikin jadi banyak perempuan muda ngebet nikah karena ingin segera dihalalkan (duh, tapi kamu kan bukan babi?!?!?) dan ngebet minta dikhitbah. seolah pilihan hidup perempuan muda cuma dua: nikah muda atau pacaran. pacaran (katanya) mendekati zina. jadi daripada dosa mendingan nikah muda.

like… hell-o, man……

picik sekali rasanya kalau para penggerak (apa yang mereka yakini sebagai) dakwah ini berpikir perempuan kalau nggak nikah muda, ya pasti bakal buang-buang waktu dengan pacaran gak ada juntrungan. entah darimana sesat pikir macam ini berawal. mereka kayak lupa perempuan itu adalah madrasah pertama anaknya, yang pastinya seorang perempuan butuh banyak mengeksplor ilmu pengetahuan dan pengalaman supaya anaknya bisa dididik oleh sosok ibu cerdas dan berwawasan luas. jadi apa kalau nggak nikah muda, perempuan pasti akan menghabiskan waktunya cuma buat pacaran? emang otak perempuan isinya cuma lelaki doang?

duh!

gue bisa dibilang super jarang melihat akun (katanya) dakwah yang mendorong perempuan mencari ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya atau memperluas pergaulan sampai ke kancah global sebagai bekal untuk mendidik anak masing-masing di masa depan nanti.

isi akun itu melulu cuma: ayo nikah, ayo halalin aku, ayo kasih aku kepastian…

dengan balutan agama.

buat saya efek yang diciptakan akun-akun (katanya) dakwah ini sama mengerikannya dengan (apa yang mereka yakini sebagai) konspirasi yahudi. sudah banyak perempuan yang “teracuni” untuk ngebet dihalalkan, meskipun bisa jadi secara mental belum siap. padahal anak butuh keluarga harmonis dan orangtua yang tidak labil.

all in all, mau nikah umur berapapun, itu pilihan masing-masing individu. tapi mbok ya janganlah menggencarkan nikah muda dengan cara-cara yang salah. dibalutkan agama dan membuat perempuan jadi galau menunggu pangeran berkuda putih datang meghalalkan (padahal si perempuan bukan babi peliharaan). ujung-ujungnya karena ngebet nikah tapi masih labil, banyak juga yang minta cerai karena nggak kuat menerpa badai rumah tangga. gue baca di artikel pikiran rakyat, angka perceraian di Indonesia bahkan mencapai 1000 per harinya, dan sekitar 40 kasus per jamnya. nggak bisa dipungkiri dari angka sebanyak itu banyak mereka-mereka yang menyesali kelabilan akan kengebetan mereka yang dulu ingin buru-buru minta dihalalkan. contoh masalah yang terjadi akibat fenomena ini adalah masalah keuangan. yes. doo-eet. (sumber: buku The Alpha Girl’s Guide by Henry Manampiring)

padahal masa-masa muda itu bisa dipakai dengan melakukan banyak hal di dunia ini. terlalu banyak ilmu pengetahuan, terlalu banyak jenis orang, dan terlalu banyak tempat untuk dieksplor. so please, jangan mendoktrinkan sesat pikir “nikah muda biar lekas halal”. karena kamu bukan babi. eh bukan deng, karena nikah bukan cuma menghalalkan pegangan tangan, ciuman, dan seks. kalau memang sudah siap dengan segala konsekuensinya, oke, itu pilihanmu. tapi gak usah “meracuni” perempuan lain yang merasa belum siap untuk mengikuti jejakmu juga.

karena yang diekspos akun-akun (katanya) dakwah itu juga cuma bagian enaknya nikah muda doang. macam gunung es aja. di bawahnya jelas banyak masalah dan justru malah itu yang esensial tapi nggak pernah dibahas mendalam. entah kenapa. padahal masalah basic seperti problem finansial atau emosi kedua belah pihak yang masih mirip bocah merupakan hal krusial yang penting dibahas kalau mau menikah muda.

jangan berdalih dengan cuma punya modal nekat aja ngelamar dan atau menerima lamaran anak orang. ini pernikahan, bukan mau terjun buat sky diving. nekat doang gak bakal bisa beli susu bayi atau bayar listrik. kecuali situ mau nekat menodong kasir minimarket atau kasir pln buat memenuhi kebutuhan-kebutuhan rumah tangga. yakali banget kan?

buat kamu-kamu yang sudah menikah dalam usia yang terbilang muda: selamat! kamu sungguh sangat berani menempuh hidup baru yang isinya kamu dan pasanganmu (dan juga anak-anak kalian), bukan cuma dirimu sendiri lagi. gue paham, meskipun dua orang yang hidup bersama akan lebih menggandakan masalah daripada satu orang, tapi jelas kebahagiaannya juga berlipat ganda dibandingkan dengan kami-kami yang masih hidup untuk diri sendiri. gue berdoa semoga kalian selalu diberkahi hidup dan pernikahannya.

buat kamu-kamu yang galau-galau pengen dikhitbah: yakinkan hati, beneran udah siap? atau cuma disiap-siapin, padahal sebetulnya cuma pengen bisa punya pasangan halal buat pegangan tangan dan enak-enakan? kalau beneran udah siap, selamat! semoga pangeranmu lekas datang. kalau ternyata belum, ya santai cyin, hidupmu masih panjang. di Pakistan sana, dulu Malala Yousafzai sampai ditembak taliban karena memperjuangkan hak-hak perempuan untuk bersekolah. lah kamu sudah hidup di negara yang tidak mempermasalahkan sekolah bagi anak perempuan, masa galau berkepanjangan hanya karena Allah belum memberi sang pangeran? malu atuh ih sama Malala. padahal akses kamu untuk mendapatkan pendidikan dan memperluas pengetahuan gak sesulit saudara-saudara kita di pakistan. ingat an-nuur 26 laaah. pastinya perempuan cerdas juga untuk lelaki cerdas juga kan?

buat kamu-kamu yang masih ingin mengeksplor banyak tentang dunia sebelum menikah: selamat! anak-anak berhak terlahir dari rahim ibu yang cerdas dan suamimu berhak mendapatkan pasangan hidup yang mampu menopang keutuhan rumah tangga dengan pengetahuan dan pengalamannya.

buat kamu-kamu lainnya yang kebetulan baca tulisan gue sampai disini: ini suara hati gue dan beberapa netizen di ask.fm Om Manampiring yang lelah dengan fakta kalau tren nikah muda tapi modal nekat semakin dikuarkan oleh akun-akun (katanya) dakwah. beberapa dari kalian mungkin nggak setuju dengan opini ini dan beberapa mungkin berpikir “liberal amat sih lu jadi cewek”. it’s okay, kita punya sudut pandang masing-masing. saya hargai pendapat kalian bila berbeda dari saya. and i hope you guys do the same thing too.

depok,
9 agustus 2016

-RRF-

sumber gambar: ask.fm/manampiring
sumber artikel: Pikiran Rakyat Online
sumber buku: The Alpha Girl’s Guide by Henry Manampiring. milik pribadi penulis. worth to read.

#opini

Tak akan terasa sama, tentang apa-apa yang sempat menjadi hal yang paling disuka, lalu tanpa merasa berdosa pergi meninggalkan begitu saja. Sekalipun ia hadir kembali dengan balutan dan aroma yang sama, saat kita teguk tak akan sama rasanya dengan yang pertama kali kita sesap kedalam rongga dada.
Sepertinya Kau...

Dadaku tak kadung lagi gemuruhnya, detaknya sudah dalam nada yang lain. Sikapmulah yang sejak tadi menarik perhatianku, meski aku sendiri hanya diam membeku. Hari ini, kau adalah dokterku, pun aku adalah pasienmu. Aku ikuti kau dalam ketidakberdayaanku. Dalam lalu lalang banyak orang, tak banyak yang kuperhatikan selain dirimu. 

Sebentar ya mas, bisa ditunggu dulu disini,” ucapmu sopan.

Iya, ngga apa-apa kok,” sekedar meyakinkanmu. 

Aku kagum sekaligus khawatir denganmu. Balutan jas putih prestisius yang panjangnya lebih dari setengah badan, jilbab hitam yang melingkar anggun, juga dengan rok panjang yang hampir menyapu lantai itu… bagaimana kalau kau terjatuh ketika setengah berlari seperti itu? Pun, dengan belasan berkas yang kau dekap itu, tidakkah kau merasa kerepotan? Rasanya ingin membantu, tapi aku sendiri kaku karena merasa bukan urusanku. 

Tahukah, yang kurasakan betapa bayangmu seperti memenuhi koridor panjang ruangan radiologi itu. Tapi, kenapa bisa-bisanya kau menarik perhatianku? Tak kutampik, betapa banyak rekan seprofesimu yang parasnya jauh lebih cantik dengan tampilan yang lebih menarik semenjak tadi berlalu-lalang memanjakan mata, tapi kiranya hanya sosokmu jua yang bisa sampai mengetuk lubuk jiwa.

Tak lain, rasanya aku jatuh pada caramu memperlakukanku, meski aku hanyalah ribuan dari orang yang bukan siapa-siapamu yang harus kau periksa setiap hatinya. Membayangkan kalau aku berada di posisimu, tentu saja ini bukan bualan kalau sikap tirus bukan hal yang mengagetkan. Aku sudah puluhan kali mengunjungi dokter sepertimu, tak perlu heran kalau sering dilayani tanpa perlu banyak basa-basi. Tapi kau berbeda. 

Aku masih ingat betul setengah jam yang lalu kau menanyakan perihal rekam medisku. Dari nama lengkapku sampai pada gejala penyakitku, kau tulis tuntas dengan tatapan mata yang membuatku kalang-kabut. Sebisa-bisanya, akupun membalas tatapan mata itu, setidaknya tak mau terlihat lemah dihadapan perempuan kuat sepertimu. Nyatanya, akulah yang duluan tertarik ke dalam citra yang kau pendarkan sehingga aku hanya bisa banyak mengangguk saja.

… 

“Mas, silakan masuk ke ruangan radiologi, biar bisa diperiksa dokter ahli,”

“Terus abis itu saya kemana, mbak?”

“Oh tenang aja. Saya tungguin disini kok, biar nanti saya sekalian bawa resep obatnya,” Ucapnya dengan berbinar.

“Serius mbak mau nunggu?” 

“Iya, mas, hehe. Silakan masuk ya,” jari jempolnya menunjuk ke pintu ruang radiologi yang berlapis dan penuh dengan kertas larangan masuk itu.

… Ah,

Aku suka sekali dengan kesopananmu, lain tidak. Bagaimana hal itu menjadi begitu mahal karena kau mau sedikit “menginjak tanah” ketika balutan busanamu yang kadung prestisius itu bisa saja membuatmu tak perlu berbasa-basi membuang banyak waktu. Tetapi, beruntungnya, kurasa tak ada yang berbeda dari caramu berbicara, layaknya kepada sesama manusia biasa tanpa ada jurang yang menganga. 

Ya, sepertinya kau. Perempuan seperti kaulah yang kucari. Kemilau yang jujur dari hati yang terawat baik. Urusan soal rupa tentu semua akan beda persepsinya, tetapi urusan kebaikan hati pasti semua manusia akan sama-sama setuju juga. Aku jadi berpikir kalau ternyata bukan sosokmu yang nantinya kudapatkan, maka perempuan yang mirip karakternya sepertimulah yang kucari mati-matian. 

Dan benarlah, kau masih menunggu di kursi tunggu itu dengan sebungkus obat yang sejak tadi kau tekuri. 

“Maaf lama, mbak, eh dok,”

“Saya belum jadi dokter tetap kok mas, hehe” timpalnya. “Ini resep untuk perawatan, diminum dua kali sehari ya, trus antibiotiknya diminum sampe habis,”

“Udah gitu aja, mbak?”

“Iya udah kok, semoga kalau minum obat jadi cepat sembuh ya mas,”

Aku meragu. Seperti ada harapan yang seketika membuncah sekaligus tergugu.

“Ngga ada kontrol berkala atau apa gitu?”

“Ngga ada mas, scan radiasi cukup sekali kok. Kebanyakan scan malah ngga bagus,” senyumnya dengan meyakinkan.

“Iya deh kalau gitu, terima kasih mbak, eh, dokter,” ucapku gagu, seperti hilang fokus. Membawa diriku ke ambang pintu yang dingin

“Terima kasih kembali mas,”

Derit pintu yang cukup keras berbunyi semakin membuatku jadi gamang. Bahkan di menit yang sama, hatiku bersemi sekaligus gugur. Seperti tak ada lagi kesempatan untuk kembali bertemu denganmu. Haruskah aku kembali dengan menyengaja untuk sakit? Sepertinya itu bodoh, tapi… bukankah jatuh cinta memang membuat kurang akal?

Tapi.. apa hanya perasaanku saja? Bagaimana kesanku padamu juga dimiliki oleh orang lain yang kau layani? Ah, dengan paras dan sikap yang begitu baik bukan tak mungkin siapapun akan terpikat. Barangkali, buatmu itu adalah hal biasa. Beratus kali bertatap dengan pasien bukan jadi soal baru untukmu. Sedang aku? Ah, kiranya takkan mau kau tanggung akibat dari senyum manismu itu. 

Aku tak punya lagi alasan untuk kembali kesini. Tapi kalau harus kuputar setirku suatu hari, maka dengan segala alasan aku akan datang lagi. Sesumbar aku berjanji, akan melunasi tuntas ucapanku yang tadi terganggu oleh gagu. 

Karena yang kucari sepertinya kau. Ya, sepertinya kau.


Flash Fiction,

Perjalanan Melupakan Lara

Sebelumnya sudah aku ceritakan kisah laki-laki bernama Langit yang mencari perempuan bernama Lara. Dan kini ia berada pada titik jenuh sebuah penantian, sebab sudah sangat lama pencarian dan penantiannya tak juga menemukan titik terang. Ia memutuskan untuk mencari awal yang baru, berharap menemukan pengganti Lara—perjalanan melupakan perempuan yang bernama Lara.

Dari ketinggian 3175 meter di atas permukaan laut, terlihat ada dua pasang tatap sedang menikmati indahnya ciptaan Tuhan. Senja warna jingga yang begitu amat sempurna, ditambah dengan balutan kabut tipis yang menyelimuti rumput dan dedaunan, sungguh indah ciptaan Tuhan sore itu. Perempuan yang saat itu duduk di samping Langit tak henti-hentinya berdecak kagum. Mereka berdua terlihat begitu amat serasi, mereka berdua sedang menjadi Adam dan Hawa dari keheningan dan ketenangan 3175 MDPL.

Namun siapa nama perempuan itu dan bagaimana Langit bisa bertemu dengannya? Semua itu terjadi karena campur tangan semesta, semua itu terjadi selama perjalanan pendakian menuju puncak.

Saat itu Langit sedang berjalan dengan rombongannya, tanpa sengaja ia bertemu dengan perempuan itu, dia terlihat sangat kelelahan. Lalu Langit menghampirinya. “Kau sepertinya sangat kelelahan, Nona?” kata Langit sembari menaruh carrier yang berisi persediaan logistik selama perjalanan pendakian.

“Aku tertinggal dengan rombonganku dan sekarang aku kehabisan persediaan air, maukah kau membagi persediaan air yang kau bawa itu, Tuan?” peluh telah berjatuhan dari wajah perempuan itu. Lalu Langit memberikan sebotol air segar untuknya.

“Kau, nona, dari mana kau berasal? Jarang sekali aku menemukan perempuan sepertimu di tempat seperti ini.”

“Aku berasal dari negeri seberang, Tuan, yang tinggal di desa seberang. Kau sendiri berasal dari mana? Jarang sekali aku menemukan laki-laki baik sepertimu di tempat seperti ini.”

Langit pun tersenyum kepada perempuan itu. “Aku berasal dari desa yang amat jauh, butuh jarak ratusan kilometer yang ditempuh untuk sampai di tempat ini.”

“Apa tujuanmu ke sini, Tuan?”

“Tujuanku ke sini adalah untuk melupakan, menempuh perjalanan demi perjalanan, mencari awal yang baru untuk cinta yang lebih mulia. Mungkin dengan berada di sini luka yang sedari dulu menganga di hati dapat terobati.”

Perempuan itu matanya berkaca-kaca saat mendengar jawaban yang keluar dari mulut Langit. “Boleh aku ikut serta dalam perjalananmu, Tuan? Setidaknya untuk kali ini, biarkan perempuan ini menjadi teman perjalananmu untuk menggapai puncak gunung ini.”

Lalu mereka berdua kembali berjalan menuju puncak gunung, selangkah demi selangkah, pelan tapi pasti. Berkali-kali beristirahat untuk memulihkan tenaga, lalu harus berjalan lagi untuk tujuan yang sudah disepakati dari awal.

“Tinggalkan aku saja, Tuan. Nanti akan kususul kau saat aku sudah sampai di puncak.”

“Sebentar lagi senja dan hari akan gelap. Tak mungkin aku meninggalkanmu sendirian di sini, Nona. Kau tahu, perjalanan mendaki butuh kata saling, bukan? Saling menemani, saling membantu dan saling menjaga.”

Lagi-lagi mata bening perempuan itu harus berubah menjadi nanar ketika mendengar jawaban dari Langit. “Maafkan perempuan yang terlalu merepotkanmu ini.”

“Tak ada yang harus dimaafkan, Nona. Kita harus bergegas dan tiba di puncak sebelum gelap menyapa.” Perlahan Langit mebantu perempuan itu berdiri dan megandeng tangaannya, berjalan lagi untuk menuju puncak.

Cukup lama, bahkan sangat lama. Hingga pada akhirnya mereka berdua sampai pada puncak gunung itu, tepat pada saat hari sudah mulai senja. Sudah banyak orang-orang yang mendirikan tenda, mereka saling bercengkrama dengan amat bahagiannya. Ada rasa bangga tersendiri dalam hati, ada perasaan aneh yang juga timbul di dalam hati selama perjalanan pendakian itu—rasa itu bernama cinta.

Hari sudah mulai gelap, tenda sudah berdiri, api unggun sudah menyala, makan malam dan minuman hangat sudah siap untuk disantap. Sungguh nikmat yang tiada duanya. Dari kejauhan terdengar orang-orang yang sedang berseru-seru bernyanyi, mencoba memecah keheningan malam.

“Ada yang tertinggal, Tuan.”

Langit bingung saat mendengar perkataan perempuan itu. Hingga pada akhirnya ia sadar dengan apa yang tertinggal selama perjalanan tadi. “Kamu benar, Nona, ada yang tertinggal. Perkenalan kita. Aku belum tahu siapa namamu dan kamu belum tahu siapa namaku.”

Perempuan itu tersenyum kepada Langit. “Namaku Lintang, perempuan yang sedari tadi merepotkanmu ini namanya adalah Lintang. Dan nama kau sendiri siapa, Tuan?”

“Panggil saja aku Langit.” Lalu Langit merebahkan diri di atas tikar dengan diikuti perempuan yang bernama Lintang. Tatapan mereka berdua tertuju pada jutaan konstelasi bintang yang menghiasi langit malam.

“Ada laki-laki bernama Langit yang sedang memandang langit. Lucu sekali kau ini, Tuan.” Tawanya memecah keheningan malam.

“Ada perempuan bernama Lintang yang sedari tadi mengaggumi jutaan bintang di langit malam. Kau juga tak kalah lucu, Nona.”

Betapa bahagianya mereka berdua malam itu, ada rasa yang diam-diam menyulut keluar dalam hati—tanpa mereka berdua sadari. Mungkinkah lara yang ada di dalam hati Langit akan segera sembuh dengan hadirnya perempuan yang bernama Lintang? Entahlah, semesta selalu sulit untuk ditebak.

“Setelah ini, bolehkah aku menemani dalam setiap perjalananmu, Tuan?”

Bukankah jarak langit dan bintang selalu berdekatan? Tanpa perlu aku jawab pertanyaanmu, tentu kau sudah tahu jawabannya sendiri, bukan?”

Mereka berdua kembali tersenyum, menikmati malam yang bertabur bintang. Lampu-lampu rumah penduduk terlihat dari ketinggian 3175 MDPL. Udara dingin semakin menabah kehangatan yang tercipta.

Mungkin ini adalah awal baru untuk Langit. Ia sudah lama terpuruk dalam luka karena cinta. Mungkin setelah ini bisa jadi Lintang menggantikan sosok Lara—perempuan yang meninggalkan bekas luka yang amat mendalam pada masa lalu Langit. Semoga… doa-kan saja.



Terima kasih...

Kita pernah saling menemukan ketika kita saling merasakan patah, Katamu menemukanku ibarat menemukan sebuah harta setelah sekian lama mencari tempat untuk menaruh lelah. Membuat semangat yang sekian lama tidur menjadi kuat, menjadikan kenangan pahit digantikan perjalanan manis yang perlahan dijahit. 

Yang dulu memberi sumpah serapah kepada semesta, saat itu saling berterima kasih karena akhirnya dapat saling memberi harapan untuk bisa menyematkan senyum kembali. Yang dulu membenci malam datang karena kenangan suka hadir tanpa diundang, sekarang selalu menanti malam karena dapat saling berebut manja tentang siapa yang akan mematikan telepon dari seberang. Yang dulu menutup hari dengan tangisan, sekarang dapat menikmati rembulan dengan ucapan selamat tidur sayang yang membuat senyum kepayang.

Namun, perjalanan kita memang tidak mudah, (bukankah memang seperti itu?) Banyak kisah yang datang dari masa lalu menjadi cambuk yang meremukkan perjalanan. Serpihan-serpihan masa lalu yang pecah, menggerus hingga menjadi bernanah.

Mencabik setiap langkah, merongrong luka menjadi sebuah panah yang menusuk ketika berusaha berlari bersama menuju satu arah. Menutup setiap celah asa untuk memutih berdua. Memalingkan angan untuk bergandengan dibawah senja dengan rinai hujan. Begitu pilu, karena bersamamu adalah candu. 

Kupikir kita bisa saling menguatkan ketika lelah memburu membelah, nyatanya ketika kau dulu bilang bahwa aku adalah harta, sekarang katamu aku hanya seorang peluka. Yang terjadi adalah kau pergi dengan alasan yang menjadikan “kita cukup sampai disini saja” menjadi sebuah sudah. Menghujam apa yang sudah kita bangun, menjadi hancur tanpa ampun.

Apa yang kutakutkan setiap malam akhirnya berulang. Meratapi langit-langit hitam dengan pandangan kosong tanpa tujuan, memaksa kelopak mata untuk terpejam tanpa berharap senyumanmu hadir memporak-porandakan pikiran.

Apa kabarmu sekarang? Apakah kau baik-baik saja? enang mendengarmu baik-baik saja karena disini aku-pun sedang berusaha untuk baik-baik saja walau kelihatannya tidak baik-baik saja.

Aku merindukanmu dalam diam, dalam lantutan puisi yang selalu kutulis setiap malam, dalam balutan amin yang kupanjatkan dalam-dalam setiap malam, dan dalam untaian barisan kata-kata diatas, puan.

Terima kasih karena pernah menemukanku, walau akhirnya berlalu. Yang kutau, dicintaimu adalah suatu bahagia yang terlalu, meski sekarang hanya menjadi kisah pilu

Bandung, 19 September 2017


Francesco Satria

Semesta mampu memedihkan hati dalam sekejap saat berharap lebih kepada manusia dan melupa kepada pemberi kebahagiaan yang sesungguhnya.

Ternyata semesta menghadirkanmu hanya untuk menunjukkan. Bahwa ada duka dalam balutan bahagia.

Requiem

Aku tahu mata coklatmu tak banyak gunanya, selain untuk memikatku tentu. Disamping itu, terlalu banyak bualan dan omong kosong lahir dari bibir—yang walaupun dengan warna merah muda dan terasa manis—sebenarnya tetap saja tidak menjanjikan apa-apa.

Kau bilang aku cantik, tapi bola matamu lebih liar ketimbang anak anjing hutan. Siapapun yang kau tatap, pasti bukan aku lagi. Kau juga suka pura-pura tersenyum legit atau tertawa seperti hendak menghabiskan jatah oksigen milik umat, seakan aku sudah mendatangkan kebahagiaan melebihi yang bisa ditanggung semesta. Padahal dibalik itu, ada kebohongan tentang pertemuan diam-diam.

Kalau saja kau sadar, dibalik punggung pun aku bisa menyaksikan kenakalanmu. Entah tidur dengan siapa, hingga kau perlu berdalih kerja rodi di kantor sendiri lantas jadilah alasan untuk tidak pulang. Tidak mengapa. Aku jadi bisa menghemat pengeluaran untuk beli alat kontrasepsi. Mungkin lebih baik kau punya keturunan dari rahim perempuan jalang.

Tapi, kadang aku tidak tega. Aku lebih suka melihatmu tidur panjang di dalam kotak kayu, dalam balutan jas hitam dengan alas kain beludru. Aku juga lebih senang mata coklatmu itu dikeluarkan dari rongganya supaya tidak jelalatan kemana-mana. Jadi maaf ya, obeng ini harus menancap, menembus kelopak. Tolong, kau jangan teriak, karena itu bisa mengganggu proses pengeluaran isi perutmu. Aku perlu berkonsentrasi. Jadi, tetaplah tenang selagi gerendanya bekerja.

Nah, selesai juga akhirnya.

Sekarang tak ada yang bisa mengganggumu, tidak pula perempuan yang kau beri kecupan dari pesan singkat rahasia yang lupa terhapus. Tidak perlu ada misa arwah, karena matipun tak akan membawamu dalam damai, sebab terlalu banyak luka yang kau semai.