baikan

drama

jauh sebelum ika natassa nulis antologi rasa, kalimatnya David Foster Wallace yang “…this is water” udah nancep di otak gue. Jadinya pas ngelihat orang yang drama banget, atau pas gue sendiri kejebak ikut-ikutan drama, pas suasana udah tenang pasti bakal ngebatin…”ini apaain sih”, “ih lu apaan sih de, nggak penting”

even gue sebenernya pemikir yang misalnya dijebak dalam drama itu gampang banget kepancing. Tapi makin kesini gue mikir, memperpanjang dan memperluas masalah dengan drama itu esensinya apa sih? selain bikin proses perbaikan hubungan tambah susah? selain bikin kita sama temen kita jadi semakin canggung satu sama lain?

menjadi orang dewasa itu susah.

anak kecil rebutan mainan, habis nangis udah langsung bisa baikan. Orang dewasa? dunia orang dewasa butuh banyak kecerdasan. Kecerdasan buat manajemen waktu lah, manajemen emosi lah, manajemen konflik lah ~XD

gue nggak tau…

kenapa pas kecil dulu, manusia gampang ngasih maaf, gampang banget mengutarakan keinginan dengan polos…

pas dewasa? kecerdasan buat ngasih maaf dan mengutarakan keinginan udah ganti jadi kecerdasan bermain drama yang nggak kelar-kelar….ah manusia…

Cerita sedih

Ini kayanya udh seminggu dr aku mulai meriang minggu lalu. Ssbenernya sekitar 3 hari stlh sabtu kemaren te udah sempet baikan udh ga demam, eh tp hbs itu ternyata emang masih belum fit betul badan teh habis itu akhirnya bedrest lagi dan menyimpulkan “inimah biar disuruh istirahat doang”. Dan dr sejak itu ku dirumah terus ga kemana2 paling annter ade doang sm waktu itu ngasprak sekali.

Tp realizing kesini2 naha ga sembuh2, kemaren si masuk anginnya alhamdulillah dah sembuh setelah makan banyak lol im sorry, tp dr kmrn2 sisa pusing, sakit kepala sampe mata blur sama batuk pileknya, terutama hariini brkali2 aja kl liat leptop ended up pusing akhirnya merem. Dan akhirnya hariini aku menyimpulkan jigana ini sinus kambuh lagiT______T padahal lg semangat2nya ngerjain TA omgggg dan pgn beres sblm maret. Gimana cara ngerjainnya kl liat layar laptop aja pusing hiks cobaan macam apa ini???😭😭😭😭

Sekian cerita sedihnya ku bingung gatau mo gimana masa ngobat lg baru juga oktober lalu masa skrg lg hue tp ntar gmn ga sembuh2. Jangan di judge tukang ngeluh ya, jrg2 kan!!:( Lagian juga gara2 udah lama bgt ga ketemu siapa2 hiks bntr lg jadi makhluk purba lg😞😞 maafkan sekian wassalamualaikum wr.wb.

#32

Kamu tidak harus menerima perpisahan ini. Bahkan kamu boleh berharap bahwa perpisahan ini tidak terjadi. Yang tak boleh kamu lakukan adalah memaksanya kembali. Ia sudah bahagia, dengan atau tanpa dirimu, toh ia baik baik saja.

Benarkah kamu ingin kembali? Benarkah keinginanmu itu didasari oleh perasaan cinta? Jangan jangan ia hanya rasa iba atas kesalahan yang kamu buat. Jika kamu iba, betapa jahatnya kamu? Bukankah tiap tiap perasaan semestinya diberikan kesempatan untuk jujur? Lantas kamu merasa perlu memberinya iba, kembali untuk mencintainya atas dasar rasa kasihan.

Tentu saja kamu merasakan kesepian. Tentu kamu merasa pedih. Merasa bahwa kamu telah membuat kesalahan yang demikian gawat. Tapi bukankah itu sudah terjadi? Ia sudah kamu lukai, lantas ia perlahan berdiri, perlahan mengobati hatinya sendiri. Ia kini sudah bisa menghadapi hidupnya sendiri tanpamu. Lalu apa hakmu untuk merusak itu semua?

Kamu berharap bisa melupakannya. Kamu berharap bahwa ia akan memanggilmu kembali, menghubungimu, kalian baikan dan memulai segalanya dari awal lagi. Tapi kamu tahu itu mustahil. Tidak dengan segala kedunguan yang kamu perbuat. Tidak dengan segala kesalahan yang masih saja kamu ulangi. 

Kamu hampir tidak pernah belajar. Kamu masih saja menyakiti orang lain, menyakiti orang yang menyayangimu dan menyakiti dirimu sendiri. Kamu merasa hanya dengan menyakiti diri sendiri kamu akan terbebas dari rasa bersalah. Tapi perasaan bersalahmu selalu ada, ia selalu ada, akan selalu ada selama kamu belum memaafkan dirimu sendiri.

Kamu berusaha melupakan dia dengan berbagai hal. Alkohol, musik, film, seks dan banyak hal. Tapi kamu tahu itu tidak berguna. Setiap malam, ketika kamu terbangun dini hari, dengan keringat membasahi baju, hal pertama yang kamu ingat adalah senyumannya. Kamu menangis perlahan, tapi kamu sadar, tangisanmu tidak akan mengubah apapun.

Kamu berpikir kamu telah mengahiri semuanya. Selesai berharap dan mengemasi setiap perasaan yang ada. Itu semua omong kosong. Kepala dan ingatan mengkhianati usahamu untuk melanjutkan hidup. Pelan pelan ketika lagu Silampukau diputar kamu mengingatnya. Ketika kamu naik transjakarta, ingatanmu tentangnya muncul. Pelan pelan kamu dijajah kenangan, dipaksa menyerah oleh dirimu sendiri.

Tapi bukankah hidup perihal melupakan dan dilupakan? Kamu berusaha melupakan dan kamu telah dilupakan. Ia telah bahagia dan kamu disiksa kebencianmu sendiri. Kemarahan yang kamu pelihara tanpa alasan. Hingga akhirnya kamu membusuk. Berubah menjadi monster yang menyakiti siapapun yang berusaha menyelamatkanmu dari penyesalan.