bague design

Sisi negatif era milenialis: Adu pendapat yang tidak terarah

Ditulis tiap habis sahur, Insya Allah setiap hari sampai tanggal 20 ramadhan.

Sebenernya hari ini saya mau menulis tentang Syumuliyatul Islam. Tapi karena beberapa buku referensi saya tertinggal di Surabaya, akhirnya hari ini saya isi dengan sharing sedikit hasil pengamatan saya tentang dunia kita sebagai muslim milenialis. Anyway sebagai bocoran, saya lagi punya projek riset kecil-kecilan tentang muslimah milenialis. Jadi mungkin beberapa bulan ke depan, saya bakal mewawancara teman-teman di tumblr secara acak. Insya Allah kalau riset ini selesai, hasilnya bakal saya susun menjadi buku.

Sebelum mengerjakan projek ini, saya melakukan study literatur dan wawancara pendahuluan tentang marketing dan lifestyle generasi milenial. Di antara buku-buku yang saya baca, saya merekomendasikan buku Generation M: Young Muslims Changing The World karya Shelina Janmohamed. Buku ini menarik. Isinya tentang gambaran gaya hidup muslim milenial global. Meskipun nggak semuanya sesuai dengan kondisi di Indonesia, tapi buku ini sangat layak dijadikan referensi bagi aktifis dakwah yang sedang mendapatkan amanah untuk menangani marketing dakwah.

Zaman sekarang kan era terbuka banget. Sosial media menjamur. gaya hidup masyarakat urban kelas menengah sangat konsumtif. Reaksi kita pun bermacam-macam. Ada yang happy banget karena bisa punya peluang jualan online. Ada yang ngerasa jengah kalau kejebak drama sosial media yang entah itu isinya gegalauan anak usia dua puluhan ato jenuh lihat gaya hidup zaman sekarang yang gemerlap dan bikin lupa akhirat.

Saya sendiripun kadang galau. Iman suka naik turun. Saya memang introvert. Tapi pada dasarnya, saya suka berpetualang. Bukan petualangan dalam artian travelling. Saya itu suka random banget nyobain hal-hal baru, plus suka ngikutin isu-isu kekinian. Positifnya sih, saya jadi tahu kabar ummat. Negatifnya, kadang saya juga ikut-ikutan keseret gaya hidup yang berlebihan. Konsumtif, nggak zuhud dan suka mubadzirin barang. Huft…semoga nggak selamanya begini ya :D

Kita nggak bisa ngelihat zaman ini dari sisi negatif doang ato sisi positifnya doang. Setiap hal itu datang sepaket dengan sisi positif dan negatifnya. Nah di tulisan ini, saya pengen ngebahas satu sisi negatifnya dulu. Besok Insya Allah akan disambung dengan ulasan yang lain. Soalnya pas saya coba breakdown semua sisi positif dan negatifnya, tulisan di Microsoft Word jadi sekitar dua puluh halaman A4. Panjang banget. Nanti belum dibaca, udah bosen duluan.

Well, ini sisi negatif yang pertama.

Adu pendapat yang sangat ramai dan tidak terarah di media sosial

Hari ini banyak orang jengah membaca twitwar di twitter atau berita-berita hoax yang bertebaran di timeline. Setiap orang merasa berhak berbicara, berhak memaki-maki orang yang tidak mereka kenal, dan kadang banyak juga orang yang nggak nyadar keseret ke perbuatan penghinaan agama atau ras tertentu.

Di dunia maya, ada banyak sekali artikel yang terbit di setiap harinya. Sementara di dunia nyata, ada banyak buku baru yang terbit setiap hari. Sayangnya, banyaknya informasi yang tersaji dalam bentuk buku maupun artikel di media sosial ini menjadikan dunia kita terlihat sebagai semacam paradoks. 

Banyaknya informasi yang tersaji tidak berbanding lurus dengan penambahan wawasan karena ternyata generasi zaman ini lebih doyan bersuara dan berbicara dibandingkan membaca. Akibatnya sesuatu yang mereka tulis rata-rata memiliki penalaran yang dangkal dan hasil asumsi pribadi. Bukan sebuah pemikiran yang melalui studi literatur dan proses nalar yang matang. Sayang banget, padahal topik yang dibahas cukup menarik dan kekinian. Tapi kalo nggak kegarap dengan matang, ujungnya malah menghabiskan waktu untuk membaca tapi tidak menambah life skill si pembaca.

Kalo dulu buku dan bacaan sering digambarkan sebagai jendela dunia, sekarang buku dan tulisan kadang malah bikin pikiran kita jadi sempit kalau kita ngebaca judul yang salah dengan niat yang tidak tertata pula.

Berat sih pas nulis paragraf di atas. Saya sendiri jadi ngerasa kalo diri saya sinis gara-gara tulisan ini. Tapi insya Allah, saya nulis ini buat nyoba jujur tentang kondisi yang saya temukan dan siapa tahu kita bisa nemu treatment yang tepat terkait masalah ini. Hijrah berjamaah dari media sosial, jelas tidak efektif. Ini mungkin dapat menyembuhkan kejenuhan kita. Tapi tidak bisa menjadi pencerahan bagi yang lain. Sebab akar masalahnya bukan terletak pada adu pendapat. Ramainya adu pendapat ini hanyalah salah satu efek keterbukaan informasi. Mau menutup keran informasi untuk mengurangi adu pendapat? Adanya malah bikin rugi karena kita tak juga siap menyambut keterbukaan.

Kita harus memandang keramaian ini sebagai proses yang harus kita kelola. Bukan sebagai sumber masalah yang harus kita benci.

Generasi zaman sekarang mendewasa dengan internet. Hampir semua informasi beredar di sana. Dari yang kualitasnya baik sampai yang hoax pun ada. Saking banyaknya informasi, untuk mendapatkan informasi yang bagus, kita nggak cukup cuma scrolling layar, Kita harus menyelam dalam dan membandingkan banyak sekali artikel. Terlebih ketika algoritma mesin pencari zaman sekarang ngasih rekomendasi berdasarkan preferensi, kita harus bekerja keras untuk mencari banyak sekali informasi agar informasi yang masuk ke otak kita bukan cuma informasi yang ‘sesuai dengan keinginan kita’ saja.

Hal lain yang menjadi dampak banjir informasi di internet adalah terbukanya peluang bagi semua orang untuk belajar banyak hal secara otodidak. Saya termasuk orang yang terobsesi untuk bisa memberi peluang sebanyak-banyaknya bagi masyarakat untuk belajar secara otodidak dan gratis. Namun saya juga memahami potensi negatif dari metode belajar otodidak melalui internet ini. 

Penyedia materi pembelajaran memang banyak. Tapi sebagian besar hanya menyajikan materi tanpa ada kurikulum. Sehingga pembaca membaca artikel dan informasi secara random. Mereka pada akhirnya nggak bisa ngelihat body of knowledge dengan jelas. Padahal untuk mempelajari sesuatu, kita butuh tahapan yang harus diatur sedemikian rupa agar pemahaman kita utuh. Nggak berlubang di sana-sini. Bayangin aja ya, sekarang ada banyak orang yang belajar perbandingan pendapat sebelum belajar akhlak. Akhirnya banyak yang secara serampangan mengkritik ulama. Ini kalo yang dipelajarin ilmu agamal. Kalo yang dipelajari ilmu teknik seperti teknologi informasi? Disiplin ilmu teknik itu berkembang dengan pesat. Tutorial berserakan di internet. Kalo mau belajar otodidak gampang banget. Tapi efeknya, banyak orang yang skill kodingnya bagus tapi design thinkingnya amburadul minta ampun.

Dulu sempet ada kolega yang nanya ke saya: “Kalo semua informasi tersedia di internet, apa gunanya kampus?” Awalnya saya bingung menjawab pertanyaan ini. Tapi akhirnya saya nyadar bahwa kampus berfungsi untuk menjaga pengembangan sebuah bidang keilmuan agar memiliki kurikulum yang mendukung mahasiswa untuk memiliki pemahaman utuh dan sesuai dengan zaman.

Tanpa itu, proses pembelajaran akan berantakan. Akibat penyerapan informasi yang acak banget, akan ada banyak sekali orang yang baru membaca puluhan artikel tentang suatu topik tiba-tiba merasa menjadi pakar dan berhak bicara tentang topik tersebut. Padahal meskipun artikel yang dibaca banyak, bisa jadi ia hanya mewakili sebagian kecil dari sebuah topik atau disiplin ilmu. Belum mewakili secara keseluruhan. 

Saya nyoba survey kecil-kecilan ke beberapa netizen di twitter yang mengadakan kuliah tweet tentang beberapa topik random dengan menanyakan buku yang mereka baca, background akademik mereka serta background profesi. Lebih dari 60% memberi gambaran bahwa sebenarnya mereka tidak punya bekal yang memadai tentang apa yang mereka tulis selain hasil googling di internet. 

Konyol sih sebenarnya kalo ada orang yang nggak pernah baca tafsir tiba-tiba menulis tafsir Al Kafirun dan Al Maidah. Ada orang yang background akademik dan profesinya di bidang ekonomi tapi bicara perkara Telematika atau Keamanan jaringan. Tapi realita kita hari ini seperti itu. Lebih parah lagi bahkan, banyak orang yang baru dua atau tiga menit membaca artikel hasil googling lalu tiba-tiba merasa pakar di bidang itu.

Hal seperti inilah yang membuat dunia kita hari ini menyedihkan. Semua orang merasa pakar, semua orang merasa berhak bicara dan didengarkan. Lha kalo semua bersuara, pendengarnya siapa? :p

Saya mencoba merangkum gambaran solusi jangka panjang untuk permasalahan ini. Actually, solusi ini masih gambaran general dan belum detail. Saya masih berusaha memperdalam lagi. Tapi tetap saya share, siapa tahu saya bisa dapat feedback dari pembaca.

Pertama, membangun kembali budaya ilmu di generasi kita.

Dunia kita hari ini memang belum seimbang. Informasi tersedia banyak namun budaya ilmu belum terbangun dengan baik. Ada beberapa pondasi budaya ilmu yang tidak hadir di tengah-tengah kita.

Salah satunya adalah pemahaman dasar tentang konsep ilmu dan ulama. Di dalam islam, ilmu itu dipelajari untuk diamalkan. Ia tidak hanya selesai sebagai judul penelitian di dalam seminar saja. Memahami ilmu sebagai sekedar teori tanpa perlu diamalkan akan mencetak generasi-generasi ensiklopedi yang tahu banyak hal namun kepribadian mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka ketahui. Menanamkan pengetahuan sebagai sesuatu yang perlu diamalkan itu sangat penting. Sebab tanpa penanaman ini, semua akan berantakan.

Di era sahabat dan tabiin, kita mengenal konsep ulama yang bermakna orang yang berilmu. Orang yang berilmu di zaman itu memahami suatu perkara secara mendalam lalu mempraktekkan ilmu tersebut dalam kesehariannya. Maka tak heran bila pencari ilmu di zaman itu memenuhi sebagian waktunya dengan mengamati keseharian sang guru (ulama). Karena keilmuan sang guru benar-benar tercermin dalam akhlak sehari-hari.

Sekarang? Ijazah seseorang tidak benar-benar mencermintkan tindakan. Bagaimana tidak? Ada banyak sarjana agama yang justeru mengkritik Al qur’an, merokok, mengolok-olok orang shalih dan masih bangga menyebuat diri sebagai muslim scholar karena merasa sudah mempelajari sesuatu padahal belum mempraktekannya secara tuntas. Tidak semua muslim scholar demikian. Tapi keberadaan orang-orang yang demikian tidak bisa ditutupi. Akibatnya, ummat bingung untuk mencari siapa saja yang bisa diteladani. Otoritas ulamapun turun. Setiap orang jadi merasa berhak bicara apapun tentang Al qur’an dan hukum islam meskipun hanya dengan sedikit bekal.

Pondasi lain yang mulai hilang dalam budaya ilmu adalah menjaga kelurusan niat dalam belajar serta menjaga kejujuran di setiap proses. Dalam membahas ini, saya tidak membatasi bahwa istilah mencari ilmu adalah belajar mengajar di sekolah formal. Mencari ilmu yang dibahas di artikel ini mencakup semua ikhtiar kita dalam menambah wawasan termasuk di antaranya membaca buku, membaca artikel di internet, melihat video di youtube atau berinteraksi dengan expert.

Niat dalam belajar adalah mencari kebenaran. Niat ini harus terus menerus diperiksa dan diluruskan agar kita tidak terjebak pada nafsu yang mempengaruhi kita untuk mencari pembenaran. Menjaga keadilan dalam setiap proses pembelajaran juga penting. Yang dimaksud adil di sini adalah berani menerima informasi dan mengakui kebenarannya bila memang informasi tersebut benar meskipun ia tidak sesuai dengan selera kita. Generasi salaf adalah generasi yang tunduk pada dalil. Mereka membedah ayat Alqur’an untuk dibreakdown menjadi SOP yang dapat diimplementasikan tanpa pandang bulu. 

Hal lain yang hampir saya lupakan dan merupakan hal yang penting adalah budaya sanad. Yang saya kagumi dalam khazanah keilmuan islam adalah keistiqomahan para ulama untuk menjaga budaya sanad sehingga setiap informasi bisa ditelusuri sumbernya dangen jelas dan lengkap. Dalam dunia keilmuan islam tidak dikenal informasi yang bersumber dari anonymous. Hal ini yang dulu memotivasi saya untuk mengganti nama tumblr dari littleschwan menjadi deamahfudz.tumblr.com. Agar tumblr ini tidak anonim dan sebagai deklarasi juga: dengan menulis identitas asli, saya bertanggung jawab dengan apa yang saya tuliskan.

Dalam ulumul hadits bahkan terdapat beberapa kitab yang khusus membahas biografi perawi hadits. Sebab hal ini penting untuk memverifikasi keabsahan hadits. 

Di dunia akademik sebenarnya budaya ini tidak pudar sama sekali. Sebagai contoh, untuk mendapatkan pendanaan penelitian, seorang peneliti harus bisa dipastikan background penelitiannya. Untuk menulis paper, referensi juga harus benar-benar jelas.

Namun di dunia pembelajaran di luar sekolah dan kampus, budaya ini mulai ditinggalkan. Kita tidak lagi terbiasa memverifikasi background dari seorang penulis ketika ia membahas sesuatu. Akhirnya, setiap hal yang menurut kita masuk akal dan mengagumkan, langsung kita amini. Padahal yang mengagumkan belum tentu benar :p Dan terkadang baik kita atau penulis buku tidak mengenali kesalahan sebuah pendapat karena wawasan yang kita punya belum sampai untuk memverifikasi kebenaran pendapat tersebut.

Kalau budaya sanad dibangun lagi, setidaknya kita bisa memverifikasi sebuah pendapat dengan membandingkan pendapat dari beberapa pakar. Budaya sanad memudahkan kita untuk melacak keilmuan seseorang serta melacak para pakar di sebuah bidang ilmu.

Saya sempet mikir sih, langkah awal untuk membangun budaya sanad adalah dengan mengurangi budaya anonim dalam bertukar opini, serta mempublikasikan kepada khalayak tentang buku apa saja yang sudah pernah kita baca. Setidaknya dengan modal ini, para pembaca blog kita bisa memverifikasi tentang sejauh apa tulisan kita dapat dijadikan landasan. Anyway, yang mau tau buku apa saja yang pernah saya baca, id goodreads saya littleschwan (masih belum ganti) :D

Sejujurnya saya masih belum punya gambaran tentang bagaimana caranya mengkampanyekan budaya ilmu ini secara massive. Selama ini yang sudah pernah saya lakukan adalah membentuk kelompok belajar untuk membedah buku secara bergiliran. Paling tidak, dengan membedah buku bergiliran, kita belajar membedah background penulis, plus merangkai penjelasan beberapa buku dengan daftar pustaka yang jelas.

Kedua, selain membangun budaya ilmu, langkah yang perlu kita lakukan untuk memperbaiki sisi negatif ini adalah dengan belajar fiqih jurnalistik. Di era sosmed, semua orang dapat menjadi penyalur dan penyaji berita. Sesuatu yang dulunya hanya dapat dilakukan oleh jurnalis.

Oleh karena itu, fiqih jurnalistik yang dulunya nggak begitu populer, sekarang bisa dibilang menjadi kebutuhan pokok generasi milenial. Dalam fiqih jurnalistik, kita diajarkan untuk memverifikasi informasi serta bagaimana menyikapinya. Dalam tingkat yang lebih tinggi lagi, kita diajarkan untuk menyaring informasi apa saja yang bisa kita bagikan dan bagaimana cara mengemas informasi tersebut agar bisa sampai ke ummat tanpa menghadirkan kegelisahan, ambiguitas atau kontroversi. Belum banyak buku yang membahas fiqih jurnalistik. Satu-satunya buku yang pernah saya temukan adalah buku Fiqih Jurnalistik yang disusun Faris Khairul Anam dan diterbitkan oleh Pustaka Al Kautsar.

Demikian sharing saya tentang salah satu sisi negatif era milenialis hari ini. Semoga bermanfaat.