babs 1

OKAY SO THERE WERE A LOT OF ARTISTS AND I ONLY REMEMBER A FEWW

but if you were there and see something you did reblog it and say what you diD

the ones i remember are @purrsiacat @scrumptiousbagel @snazzylime @bumble-bunny mYsElf and i think that’s all i remember- (EDIT: I COUKD HAVE SWORN I TYPED @lavender-sans WHAT THE HECK- but yeahH that IS ALL I REMEMBER NOW)

if there’s one thing i love about snipperclips, it’s the expressions

Riset 6. Bijak di Fase Penulisan Tesis/Skripsi

Menulis laporan bukan hal mudah untuk proyek yang berbulan-bulan lamanya. Saat mulai menulis di penghujung proyek, mungkin kita sudah lupa sebagian dari apa yang pernah kita kerjakan di awal. Untungnya, setiap proyek tesis dimulai dengan sebuah proposal atau rencana riset.

Biar satu frekuensi, sebelum membaca lebih lanjut, ini kerangka laporan saya:
Bab 1 Introduction
Bab 2 Literature Review
Bab 3 Methodology
Bab 4 Results and Discussion
Bab 5 Conclusion
Bab 6 References

*

Banyak yang mengamini pameo ini “palingan juga ntar tesis lo beda ama yang di proposal”. Tapi tidak begitu bagi saya. Proposal saya tidak berbeda dari eksekusi, tapi… tapi… proposal saya jauh dari predikat “detail”. Saya menyadari hal ini saat membuka kembali bab Literature Review dalam file MS Word proposal saat ingin menulis laporan akhir. Proposal saya, akibatnya, tidak bisa plek dimasukkan ke dalam file laporan. Saya panik, karena saya kira saya telah selesai bagian Introduction dan Literature Review. 


Jika saya bagi waktu yang saya punya untuk menulis laporan akhir, i.e. 28 hari, dalam beberapa bagian, tiga hari pertama saya habiskan hanya untuk menenangkan diri, seminggu pertama untuk memperbaiki Literature Review, seminggu kedua menata data, seminggu ketiga bikin analisa, melengkapi Methodology, dan kemudian kembali ke Literature Review. Sisanya untuk proofreading dan melengkapi tetek bengek laporan seperti pernyataan copyright, plagiarism, abstact, daftar isi, dsb..


Panik tiga hari pertama dimulai saat membuka kembali file proposal. “Beuh… Poposal gua nggak ada isinya!” Terasa sekali bahwa proposal ini kurang niat dan merupakan karya seorang deadliner, hahaha. Tapi, yang paling jauh adalah masa lalu jadi ini tidak perlu disesali. Saya akhirnya merombak Bab 2 dan sekalian membangun kerangka baru untuk keseluruhan laporan. Sisa waktu di fase ini saya pakai untuk menata folder di Dropbox dan harddisk berisi pdf artikel jurnal/review dari riset terkait dan file data yang sudah diolah maupun yang belum. Sayapun siap menulis. Saya masih punya cukup waktu. #sugesti


Ada dua tipe orang, tipe bensin dan tipe diesel alias solar. Tipe bensin mesinnya cepat panas, tapi lebih boros karena butuh energi lebih untuk menjaga mesin tetap panas. Sebaliknya, mesin diesel itu untuk panasnya makan waktu, tapi sekalinya panas mesinnya irit dan bandel. Kurang lebihnya, saya menilai diri saya tergolong tipe diesel. Saya butuh waktu untuk tuned in ke satu kerjaan. Tapi pas sudah tuned in, bisa tancap gas dan tidak gampang jenuh.


Salah satu tips agar waktu penulisan lebih efektif adalah bikin kerangka yang lebih detail, mulai dari subbab, sub-subbab, sub dari sub-subbab, bahkan sampai ide utama setiap paragraf. Walaupun pekerjaan ini terlihat remeh, pendetailan ini akan memudahkan kita menulis nantinya dan meminimalisir apa yang disebut “The Writer’s Block”.


Tips berikutnya adalah berpikir retro atau terbalik. Karena data sudah kita pegang pada fase penulisan laporan akhir, kita sudah bisa memperkirakan laporan kita akan seperti apa. Seperti yang pernah saya sampaikan sebelumnya, bahwa hipotesis kita bisa dijawab dengan argumen, argumen dibentuk dari kumpulan informasi, dan informasi bisa diperoleh dari data yang bisa dipercaya. Maka dari itu, bepikirlah mundur dari Bab 4 Results and Discussion lalu ke bab-bab sebelumnya. Bikin struktur Bab 4 ini, baru sesuaikan dengan bab sebelumnya.


Terakhir, ada orang yang bekerja dengan alur yang tidak teratur dan ada yang harus teratur. Jika kamu tipe tidak teratur, pendetailan sub yang dibahas di atas sangat membantu karena kamu bisa menulis per sub dari kerangka yang sudah ada, terserah mulai darimana. Bagaimanapun, pastikan kamu punya waktu untuk menjahit laporanmu terhubung dan koheren nantinya. Sedangkan orang yang teratur tidak perlu memusingkan soal menjahit laporan, melainkan perlu kelenturan dalam pengerjaan tulisan, yaitu kalau mentok jangan dipaksakan, lanjut saja dulu. Saya sendiri ada di antara dua ekstrem ini, yaitu orangnya lebih enak bekerja serial (teratur) tapi moody dan picky (tidak teratur) dalam hal mau mengerjakan yang mana dulu.


Satu hal yang saya syukuri betul adalah aturan main yang sudah ditentukan oleh dosen pembimbing saya, yaitu harus presentasi tiap dua minggu untuk setor perkembangan terbaru, kritik dan saran, serta konsultasi teknis antaranggota grup. Kami menyebutnya “Surgery” alias pembedahan. Dari laporan setiap pembedahan ini, saya sudah punya data yang sudah diolah menjadi pundi-pundi informasi yang saya cicil selama pengerjaan eksperimen. Sehingga saya hanya butuh satu minggu untuk menuangkan semua data dan menjahitnya menjadi Bab 4. 

Hal lain yang saya syukuri adalah kebisaan saya menggunakan peranti lunak pembuat referensi otomatis yang saya pelajari di bangku sarjana. Di kalangan mahasiswa Indonesia di Manchester, sebagian menggunakan Mendeley dan sebagian menggunakan Endnote. Saya sudah nyaman dengan yang kedua. Buat kamu yang belum terbiasa dengan software ini, silakan dipelajari mulai sekarang. Bayangkan saja kalau kamu mensitasi puluhan bahkan ratusan sumber dalam mahakaryamu di akhir program studimu dan harus menulis manual satu-satu?

Terakhit banget, yang tidak kalah penting adalah piknik selama proses pengerjaan karena tekanan dari tenggat waktu, dosen pembimbing, dan bahkan dari teman sejawat juga besar (bakal banyak nanyain soal laporan tesis daripada nanyain kabar lo! Pffft). Piknik bikin pikiran segar dan syukur-syukur memberi inspirasi. Jadi jangan lupa piknik! 

Skripsweet

HeyYo!

Jadi, pada tanggal 16 Maret 2017 yang lalu akhirnya aku resmi menyandang gelar Sarjana Ekonomi. Setelah 3,5 jam diuji aku pun dinyatakan lulus sidang skripsi. Seketika itu juga, beban 3 tahun 6 bulan 15 hari terbayarkan dengan hasil yang memuaskan. Aku lulus dengan ipk 3,96 dan nilai 88 untuk hasil absolut sidang. Dan bagiku mencapai hari itu, bukan melalui proses yang mudah.


Keep reading

consideration:

•Rapid Reload takes a feat to let me reload my dual wield crossbows quickly

The alternative?

•Carry like 12 crossbows

•With Two-Weapon Fighting and a BAB of +1, i can retrieve two hand crossbows at once as part of a move action, making it essentially a free action to drop bow 1 and 2 and grab 3 and 4

•Fuck you I’m medieval Reaper.

•I can retrieve discarded crossbows post-combat

As Barbara Kean, actress Erin Richards plays one of the most transformative characters on Gotham, a drama that has literally resurrected dead people and given them different personalities. On the opposite end of the spectrum from where she was in Season 1, Babs has sparked a lot of comparisons to Harley Quinn, the gum-chewing cataclysm whose Suicide Squad inclusion was one of 2016’s biggest pop culture bullet points.

Erin:“There have been conversations. I think something major would have to happen to Barbara for her to fully become Harley Quinn. Because Harley Quinn is kind of…she doesn’t, to me, have the motivation that Babs has. Harley Quinn seems to like destruction for destruction’s sake, and that’s wonderful, but I feel like Barbara has more of a plan. She’s a little bit more intellectual in her approach toward climbing the ladder and taking over the underworld. And I think if she was to then morph into Harley Quinn, there would have to be something that happened that sort of stripped away that kind of scheming side of her so that she would just become, I guess, unhinged in the world. That, to me, is what Harley Quinn represents. That madness and mayhem that comes along with The Joker, because obviously they’re a team.“

“I think Barbara had her moment of madness and mayhem early on in Season 2 after the Ogre, and then she went to Arkham and she sort of lost herself a little bit and just wanted to be this dark being. And then after she fell out of the church window and went into the coma and came back out and remembered her attachment to Jim as sort of a loving attachment, and didn’t really remember the murdering of her parents and that kind of stuff. So she’s like another being now, and I think that being is not so close to the Harley Quinn character, even though she’s still obviously a little crazy, but she now has more of a ruthless nature to her.“

John Stephens, executive producer on the Fox drama, did say relatively recently that a precursor for Harley Quinn will show up on Gotham at some point, but perhaps we would be wise to look for her influences showing up with someone else.

Source X

10

Sam’s forehead wrinkle (/^▽^)/ (for denugis, because I know she likes it)