atribution

3

harry and louis as poetry ♦ untitled by anonymous
Three things cannot be long hidden: the sun, the moon, and the truth. (original pictures)

Tulisan : Khawatir

Kalau pikiran saya sedang melayang jauh, saya seringkali membayangkan tentang kematian. Kematian selalu berhasil membuat saya merenung, kembali tersadar kalau hidup ini tidak lama. Kematian juga berhasil membuat saya menjadi lebih hati-hati dalam berbuat.

Kekhawatiran saya kali ini adalah tentang “Bagaimana bila apa yang kita kerjakan itu menjadi sesuatu yang memberatkan orang tua kita nanti di hari penghakiman.” Kekhawatiran yang merupakah buah dari pengamatan saya terhadap apa-apa yang terjadi dilingkungan bahkan kawan-kawan dekat saya hari ini.

Disaat ruang privasi semakin hilang, di saat setiap orang rasanya justru ingin selalu “menampilkan” diri. Dan semua bentuk produk buatan manusia seolah-olah ditujukan untuk penampilan tersebut.

Bagaimana kalau apa yang kita kerjakan, foto-foto kecantikan yang kita unggah ke media sosial, suara-suara merdu mendayu kita rekam dan didengar oleh milyaran manusia, juga atribut-atribut privasi yang seharusnya terjaga menjadi terbuka ternyata menjadi sesuatu yang memberatkan orang tua kita nanti di yaumil akhir? Ketika perbuatan kita tersebut dianggap sebagai kelalaian orang tua kita dalam mendidik kita? Mungkin dengan pemikiran “kekinian” kita yang berbeda dengan zaman orang tua kita, membuat kita pandai membenarkan dan pandai memberi alasan kepada orang tua untuk mendukung apa-apa yang kita kerjakan? Bukankah kita sedang mendzalimi orang tua kita sendiri?

Tidakkah kita berpikir sebelum melakukan sesuatu? Apakah ini bermanfaat untuk kehidupan akhirat kita, atau hanya untuk kesenangan kita dan keinginan kita terhadap uang? Uang dari hasil mengekspos kecantikan, mengekspos diri kita sebagai media iklan. Kita dibayar untuk menjadi pengganti banner, spanduk, poster, dan baligho.

Ketika kita berbicara tentang agama, apakah kita berbicara dengan hawa nafsu atau kemurnian jiwa?

Ketika katanya kita ingin mensyiarkan kebaikan agama ini, apakah itu benar-benar untuk agama ini atau untuk hawa nafsu kita? Atau ternyata untuk kepentingan kita, juga kepentingan kelangsungan hidup kita dalam kenyamanan dan ketenaran?

Wallahu’alam, semoga Allah menyelamatkan hati dan pikiran kita, menjaganya tetap dalam iman meskipun rasanya seperti menggenggam bara api.

Selamat berjuang menjadi anak-anak yang berbakti, yang berusaha untuk menjadi alasan dan sebab orang tua kita dimudahkan di kehidupan nanti :)

Malang, 21 September 2016 | ©kurniawangunadi

searchengineland.com
Is It Time For A New Compensation Model For Search And Digital Marketers? ( baby steps, how about fee based compensation first?)

Pay for performance is certainly not a new concept. But a number of digital marketing industry pundits have publically suggested that attribution measurement should drive a new compensation model for publishers and search engines that’s based on the actual contribution they make to each conversion and dollar of revenue, rather than for the credit that would be given using the “last click” method of measurement.

A lot can be said for the wisdom and fairness of such a compensation model given the ability of some attribution platforms to accurately and fairly calculate this credit. But gaining buy-in from all the disparate and competing constituencies affected by it would pose a significant challenge. Perhaps a topic for a future (much longer) column…

External image
However, one area where this same idea makes an awful lot of sense, and is more easily implemented, is in how brands or agencies compensate their own staffs for the success of their efforts.

Attribution done correctly uncovers the true monetary contribution of each channel, campaign and tactic in your organization’s overall marketing success.

As a result, you may be forced to reassess how you compensate the people within your organization or risk failing to capitalize on the efficiency and effectiveness you could be extracting from your marketing spend and from the efforts of your marketing  teams.

Option #1 – Give Compensation Where It Is Due

As a simplistic example, let’s say your digital marketing organization is made up of three separate teams responsible for managing search marketing, display and email.

The performance of each team is measured by the conversions, revenue or ROAS their respective efforts produce – based on the traditional method of attributing 100% of credit for each conversion to the “last act” (often a click) that occurred prior to the conversion.  And the compensation and incentives of each team are tied to certain standards that are calculated by this same method.

But once attribution management is performed, and monetary credit for the conversion is spread across multiple touchpoints and channels, there will be certain channels/teams whose efforts have been undervalued by the traditional way of measuring their performance (such as display) and those whose efforts have been over-valued (such as search). At that point, your organization will have a decision to make.

Do you simply maintain the same standards for compensation, with one or more teams taking a hit in their compensation, and one or more teams getting an unexpected boost or use the output of attribution to create an environment that is more transparent and synergistic based?

As you can imagine, not only may the aforementioned employee revolt occur, but your teams will have no motivation or desire to work together towards the organization’s overall marketing success.

Option #2 – Create Shared Success Goals

In the example above, perhaps a less disruptive and more constructive plan might be to establish a shared set of performance metrics and compensation incentives that all three teams can work towards.

Establishing combined revenue, overall CPA, or total ROAS across all three channels – using your attribution metrics as the basis for this measurement – will motivate all three teams to pull from the same end of the rope. Channel-specific success will cease to be important or rewarded – only overall organizational success.

So when inter-channel affinities are identified by the attribution process – such as online display creative that drives searches on certain high-converting keywords, or the sequencing of certain creatives or channels that produces the highest return, or the maximum frequency of certain tactics before they cease to be effective, or the channels and creatives that serve as the most effective introducers/influencers/closers are discovered – everyone in your marketing organization has incentive to take advantage of those findings.

Optimization of the overall marketing performance will be the one and only objective and channel turf-wars will be a thing of the past. Mind you, in organizations that have multiple product lines and/or Business Units it could be extremely important for the CMO to understand how this complex engine is actually working. For example, is Business Unit 2 actually driving conversions for Business Unit 1?

Search marketing and search marketers have long served as change agents within larger marketing discipline.

Here’s an opportunity for them to lead the way in establishing a truly fair, truly team-oriented approach to organizational success, using attribution management as their enabler and their authoritative scorecard.

9

Caras de la protesta en Altamira este #15F #ccs #venezuela

La mayoría de estas personas estaban tratando de mantener la protesta de manera no violenta, enfrentándose hasta con algunos de sus pares por sus principios; con un mensaje claro que no querían que se viera manchado por violencia.

Hay otros tres albumesde fotos sobre el #15F en andresazp.com

Follow me @andresazp​ on twitter
[Creative Commons: Atributive, Non-derivative]

Atribut Dunia

Kita seringkali terperangkap dalam penilaian dangkal tentang orang lain, di mana penilaian seringkali hadir karena pandangan berlebihan kita terhadap golongan kita sendiri. 

Karena kita lulusan universitas A, lalu menganggap bahwa manusia-manusia terbaik hanyalah orang-orang lulusan universitas A. Kita bekerja di tempat X, lalu menganggap bahwa orang-orang yang tidak berkerja di tempat X tidak memiliki kesamaan visi dan misi dengan kita. Kita berprofesi sebagai Z, maka kita menilai hanya profesi kitalah yang dibutuhkan dunia. Semua itu seringkali terjadi karena alasan sederhana : paradigma banyak orang tentang golongan kita yang dianggap ‘lebih’ dari manusia lain.

Hidup ini terlalu luas untuk kita hakimi sendiri sesuai golongan yang kita ikuti. Hati manusia terlalu dalam untuk kita tebak ketulusannya hanya dengan atribut dunia. Semesta ini terlalu beragam untuk kita sepakati bahwa kitalah satu-satunya golongan paling sempurna.

Barangkali kita perlu memperluas pergaulan untuk tahu bahwa bukan kita satu-satunya yang golongan dengan banyak keunggulan. Barangkali kita perlu memperluas hati untuk tidak main hakim sendiri atas peran orang lain yang terlihat tidak sama dengan yang kita lalui. Barangkali kita perlu memperlembut hati untuk tidak banyak mengomentari pilihan hidup orang lain yang tidak segolongan dengan kita.

Bukankah Tuhan membebaskan setiap manusia berkontribusi untuk dunia ini dengan jalan yang ingin mereka tekuni? Bukankah tempat yang saat ini kita miliki hanyalah sebab kebaikan Tuhan dan bukan karena kehebatan diri sendiri?

Ada ribuan cara menuju Jakarta. Ada jutaan jalan untuk melakukan kebaikan.  

Persetan Demokrasi!

Membanding-bandingkan itu malah bukan menjadikan motivasi, tetapi menghancurkan prestasi. Apa yang sudah didapatkan sekarang rasanya tak berharga sama sekali ketika orang-orang malah membandingkan hasil yang telah dicapai dengan hasil yang orang lain raih.

Dan kau tahu betapa menyebalkannya itu?

Memberikan umpama-umpama buruk jika tidak melakukan sesuatu hal yang kebanyakan orang lakukan malah bukan menjadikannya dorongan, tetapi malah menghancurkan impian. Ketika kita ingin berbeda dan mencoba mengambil jalan yang disuka, kita dikucilkan, dicekok-an statement bahwa hidup di tempat itu tidak berguna sama sekali. Tidak memiliki masa depan. Moneyless.

Dan kau tahu betapa menyakitkannya itu?

Mencoba mengambil pilihan sendiri, dilarang karena tempat itu tidak ‘menghasilkan’ menurut mereka. 

Mencoba berbeda sendiri, dikucilkan karena tidak mau sama.

Mencoba hidup di tempat yang disenangi, dihakimi karena hidupnya terlihat tak lebih dari sekedar leha-leha.

Persetan dengan demokrasi!
Orang-orang hanya akan menilai kita tinggi dari atribut yang melekat. Yang harus berdasi, yang harus bergaji, yang harus pulang sore hari, yang harus bangun pagi, yang diam di belakang meja, yang kacung karena menjilat pantat atasan, yang benci hari senin, yang menjual keringat di perusahaan ternama.

Bagaimana mau berprestasi? 
Jika hendak memulai saja sudah dibunuh oleh ekspetasi orang-orang yang tak pernah bisa menikmati hari?!

allthecolorsinones  asked:

What atribute do you love most about Tris?

It’s hard to rank the things I love about her in any kind of order, but one thing I really love is how fierce she is—how fiercely she loves, and fights for what she believes in, and even how fiercely she lashes out at people who betray or hurt her. Sometimes she’s a little too ferocious in her approach to the world, and it gets her into trouble, but I still love even that, because she doesn’t do anything halfway. She’s like the battering ram of characters, and that’s what made her so much fun for me to write about. 
-Veronica Roth

#33

Kamu tidak harus cantik atau kurus atau seksi. Jika cantik dan seksi itu adalah putih karena memakai lotion kulit, berambut lurus ala model sampo, atau kurus seperti model pakaian dalam. Kamu telah cantik dan seksi dengan segala yang kamu miliki.

Kamu hanya perlu tahu dan sadar bahwa tubuhmu adalah milikmu sendiri. Tak ada manusia yang berhak mengatur bagainana penampilanmu, seberapa kurus kamu atau bagaimana semestinya berpakaian.

Kamu berhak tampak cantik karena kamu sadar akan potensimu sendiri. Bahwa kamu adalah penguasa tubuhmu sendiri. Kamu cantik bukan karena ingin menyenangkan orang lain. Tapi karena kamu punya sikap, pendapat dan selera akan apa itu cantik versimu sendiri yang merdeka serta berdaulat.

Kamu berhak memakai atau tidak memakai atribut keyakinan yang kamu muliakan. Kamu berhak memakai penutup aurat juga rambut karena meyakini imanmu secara merdeka. Tidak ada satu orangpun yang berhak mengatakan kamu direpresi atas pilihan sadarmu. Kamu berhak mencintai tuhan dengan jalan iman yang kamu anggap benar.

Kamu berhak memiliki suaramu sendiri, pendapatmu sendiri dan sikapmu sendiri. Kamu punya target yang ingin kamu capai, pengetahuan yang ingin kamu pahami dan kemampuan yang ingin kamu kuasai. Kamu tidak harus mengalah kepada lelaki lemah yang takut pada perempuan cerdas dan berdaulat. Jika lelakimu lemah barangkali memang ia tak pantas kamu cintai.

Tidak ada laki laki yang berhak dan diperbolehkan menyakitimu. Tidak ada laki laki yang punya otoritas mengatur bagaimana kamu mesti bersikap dan berpikir. Kamu mahluk merdeka yang bisa dan boleh melawan siapapun yang menyakitimu. Kamu berkuasa atas pikir dan tubuhmu sendiri.

Kamu harus berpendapat. Kamu harus bersuara. Tapi kamu berhak memilih untuk jadi pribadi yang santun. Kamu berhak menjadi ibu. Kamu berhak tidak mau menjadi ibu. Kamu berhak untuk menjadi apapun yang kamu kehendaki. Kamu berhak ingin mengabdi menjadi istri dan tentu saja kamu boleh menolak menikah jika itu adalah pilihan sadarmu.

Tentu saja kamu berhak menjadi sensitif. Kamu berhak peduli kepada mereka yang ditindas. Kamu berhak melawan mereka yang menindas. Kamu berhak membela mereka yang jadi korban kekerasan seksual. Tentu saja kamu boleh bersolidaritas kepada mereka yang menyintas. Kamu tidak harus menunggu untuk membantu yang tersakiti. Kamu adalah apa yang bisa kamu lakukan ketika yang lain diam.

Terakhir. Bersenang senanglah. Jangan lupa bahagia.

yang kamu dapatkan

apa yang kamu dapatkan dari pasanganmu sama dengan apa yang menjadi alasanmu mencintainya, menerimanya.

jika kamu mencintai pasanganmu karena kecantikannya, kecantikannya pula yang kamu dapatkan.
jika kamu mencintai pasanganmu karena kebaikannya, kebaikannya pula yang kamu dapatkan.
jika kamu mencintai pasangan kamu karena kecerdasannya, kecerdasannya pula yang kamu dapatkan.
sama halnya dengan keluarganya, pekerjaannya, masa lalunya, masa depannya.

ada orang yang bilang, tidak boleh kita mencintai seseorang karena atribut-atribut yang dimilikinya. itu pendapat yang salah! justru, cintailah pasanganmu karena semua itu. hakikatnya, tidak ada di dunia ini pasangan yang cocok, yang ada hanyalah pasangan yang saling menerima.

menerima apa adanya tidak berarti menerima kekurangan-kekurangan saja, tidak seakan kita berdosa jika kita mencintai seseorang karena kelebihannya. menerima apa adanya berarti juga menerima kelebihan-kelebihan pasanganmu–yang tentu tidak sempurna, dan ada cela.

maka, jadilah yang paling bahagia atas setiap hal yang melekat pada pasanganmu. jika itu adalah sebuah kekurangan, tutupi, bantu dia memperbaiki. jika itu adalah sebuah kelebihan, syukuri, hargai–dan banggakan.

jadilah seseorang yang paling bangga atas setiap pencapaian yang dia raih–seberapapun besar dan kecilnya. sadarilah bahwa dia melakukan semua itu untukmu. namun, buatlah dia melakukan semua itu tidak hanya untukmu, tetapi juga bersamamu.

dan ingatlah untuk selalu mencintai pasanganmu karena amal sholeh, akhlak, dan hatinya–
hatinya pulalah yang kamu dapatkan.

***

disarikan dari berbagai nasehat pernikahan.

Dan 17 Agustus hanya menjadi sebuah perayaan basi atas suatu hal yang katamu merdeka itu, mencapai puncak-puncak gunung dengan atribut merah putih, menuliskan kekaguman atas tanah air, tentu lengkap dengan bumbu-bumbu kalimat ultra nasionalis yang tak ada tandingannya.

Lalu ketika kau melihat anak kecil meringkuk lemas di bawah baliho diskon besar-besaran supermall, MCD, KFC dan segala macamnya, anak-anak papua dibantai karena bersuara lantang, dan segala tragedi kemanusiaan atas nama nasionalisme, kalian lebih memilih diam. Tak mau tahu.

Lalu begitu yang kalian ajarkan apa itu nasionalis?

Bedebah kalian.