Tulisan : Taatnya Perempuan

Bismillah ar rahman ar rahim.

catatan : tulisan ini bersifat subjektif dan merupakan hasil dari pengamatan dan pengalaman pribadi, ditambah dengan beberapa cerita dari teman sebaya.

Semasa masih lajang beberapa waktu yang lalu. Saya belum begitu memahami secara benar tentang definisi perempuan yang baik, atau yang salehah mungkin kata teman-teman yang belajar agama lebih dari saya. Bagi saya, yang masih seperti ini; kacau, ilmu agamanya cetek, bacaan qurannya terbatas, dll. Tidak ada dalam keberanian saya untuk mempersunting kesalehahan seperti yang didefinisikan dalam buku-buku, pengajian, atau yang dipropagandakan oleh akun-akun di media sosial. Bagi saya, perempuan baik adalah perempuan yang baik, cukup itu.

Kecantikan yang ada dalam benak saya pun hanya sanggup menjangkau dari apa yang dilihat dan dengar, seperti bagaimana ia berpakaian, pakaian seperti apa yang ia kenakan, bentuk parasnya, bagaimana ia berinteraksi dengan orang lain, bagaimana ia bebicara, dan hanya sebatas itu.

Sampai kemudian, suatu hari saya datang ke kajian di salah satu Masjid. Bahwa hal yang paling sulit bagi perempuan yang nantinya menikah adalah ketaatan terhadap suaminya. Apalagi ketika ketaatan itu berpindah dari orang tua kepada suaminya, dan hal-hal yang mengikuti setelahnya.

Rasanya, ilmu itu hanya sampai pada sebatas pengetahuan kala itu. Sampai akhirnya saya menikah dan memahami betul maksud dari ilmu yang dulu pernah saya dapatkan.

Bagi orang-orang yang merindukan kebebasan yang tidak berbatas, mungkin menikah akan menjadi halangan yang luar biasa. Khususnya bagi perempuan. Bagaimana tidak, sebab setiap hal yang nantinya perempuan ingin putuskan seperti keluar rumah, berpakaian, dan hal-hal krusial lainnya nanti harus melalui izin dari suaminya. Tidak hanya urusan seperti itu, bahkan urusan untuk puasa sunah pun kalau suaminya tidak mengizinkan, ia tidak boleh melakukannya.

Sebagai laki-laki saya pun merenung, berpikir lebih banyak, sambil memandang istri saya hari ini. Betapa “ridho” suami itu benar-benar jadi sesuatu yang amat berharga. Dan sebagai laki-laki saya menjadi mengerti tentang makna-makna yang selama ini abu-abu dalam kehidupan berumah tangga.

Menikah itu harus bisa mengendalikan ego. Saya berusaha untuk meredakannya dan dalam sekian bulan pernikahan ini, saya merasa cukup berhasil. Saya tidak ingin mempersulit istri saya demi melihatnya merasa cukup lapang dalam menjalani kehidupan berumah tangga. Tidak mengekangnya, saya berusaha memberi pilihan-pilihan yang lebih luas dan leluasa. Saya juga selalu berusaha mendukung setiap pilihan-pilihannya yang baik.

Dan saya pun menjadi paham bahwa ketaatan seorang istri itu tidak bisa kita tuntut, ia lahir dari kepercayaannya kepada kita (laki-laki). Dan saya pun menjadi paham bahwa kecantikan yang hakiki dari seorang perempuan adalah ketaatannya. Ia menyadari bahwa setelah menikah, dirinya tidak lagi bebas. Ada suami yang menjadi pertama dan utama. Ada keputusan-keputusan yang dulu ketika masih sendiri, ia bebas memilih, kini harus melalui izin suaminya. Dan berbagai hal lainnya.

Dan ketaatan itu sungguh akan mengalahkan seluruh atribut kosmetik yang menghiasi wajah, jilbab lucu yang ditawarkan di online shop, dan gamis-gamis panjang yang warna-warni yang melekat di tubuh para model dan endorser. Maka, beruntunglah bagi laki-laki yang mendapatkan perempuan yang memahami tentang ketaatan. Dan beruntunglah perempuan yang mendapatkan laki-laki yang tidak semena-mena dalam menjalani kehidupan rumah tangga.

Ketaatan perempuan itu bisa menjadi jalan surga bagi perempuan. Juga bagi laki-laki. Dan kini, kami sama-sama belajar untuk memaknai ketaatan kami kepada Tuhan sebagai jalan kami dalam menjalani rumah tangga ini. Bismillah :)

Yogyakarta, 15 Maret 2015 | ©kurniawangunadi

I think I’ve figured out why Ed saying to Oswald “Love is about sacrifice” bothered me so much.

He’s right, of course. Sacrificing something willingly is one of the deepest and truest ways to prove one’s love for another. 

Asking or expecting someone to sacrifice something for you to prove their love is abusive.

I’m a slut for Nygmobblepot as much as the next person, and I love Ed dearly…and of course, I don’t think Ed was intentionally being toxic, but kids…Nygmobblepot is not the poster-child for a functioning, healthy relationship. This is Gotham.

markhamillz  asked:

Azula would be what's called a Guile Hero, in that she's willing to do dirty things for the greater good. I feel that's how she would function in a superhero au. Zuko shouldn't be Loki, mostly because Zuko was never as cold hearted as Loki. Deep down, Zuko was always a nice person, while Loki wasn't.

Interesting take on her. Nice archetype, suitable for Azula. She wouldn’t mind being seen as a villain when she knows she’s doing good, I think. Anyways, yes, that works.

Zuko shouldn’t be Loki, but not because of the difference regarding cold-heart or niceness. Honestly, I’d rather not break that down because I’m the eternal wielder of controversial opinions about Zuko xD

Still, one of the reasons Zuko shouldn’t be Loki is because despite they do share some traits (Zuko’s pre-redeemed self thinks himself superior to others, at the very least acts like it, thinks he’s entitled to stealing because he’s used to luxury, and so on… not that different from Loki’s most arrogant traits), it’s because Zuko on the most part is what I’d call a believer. He believes in his father during the first season, believes he’ll love him if he does as he is told, so he does anything he thinks his father would approve of because his moral code is dictated (not unlike Azula’s) by what Ozai would like. Once he’s redeemed and changed his ways, he starts believing in the morality he’s learned with Iroh, and behaves accordingly.

In short… Zuko is a straight arrow within the set of principles he’s working with. Loki couldn’t be further from that, instead actively picking to act out and cause mischief for the fun of it. Zuko, causing trouble for fun? Not a chance. Kid wouldn’t break rules unless he convinces himself that there’s a reason to do it.

It’s true that their fundamental characters they differ in enough ways, so naturally Zuko can’t be a sort of Loki for Azula because of that, not entirely. Also, even in their best days, Zuko and Azula seem to have had a more embittered relationship in general (Thor and Loki used to be on mostly good terms despite their usual conflicts… until shit hits the fan, of course), but there’s enough envy and enough daddy issues on both sets of siblings to draw parallels there.

Anyways, Zuko won’t be Loki for fundamental reasons that would never lead him to act as Loki does, but if we follow what @silhouetteofscribe is already working with, Zuko can end up being somewhat in Odin’s role instead. Naturally, this AU would never work 100% the same as Thor’s story does, the characters in general differ in enough ways that there’s no way to translate the story seamlessly. 

anonymous asked:

bro, imma test your patience with me. now idk shit about politics buuut i need to learn a little more than the basics of whats happening to brazil, you know? its hard since its a hole different country so im kinda limited, i understand portuguese but really need a politics for dummies to know whats happening and what will probably happen due to the hell thats going on in BR. help me and get a smile (pls??)

Man this is hard because I have no idea what you already know or not or where you’re from so I can’t really make comparisons?? but i’m gonna try to give you a general??? hold tight

so I guess first thing is understanding the system, right?

Brazil has a… multi-party presidential democracy. Ish. Hasn’t always been like that tho, in fact, brazilian history is filled with coups and not so democratic republics. It’s our thing. But right now we have a President, in charge of the executive power, then there’s the upper and lower houses of congress (Senate and Chamber, we call them, basically), and the Supreme Court, I guess just like in the US. There’s a president to the Senate, a President to the Chamber, and a few more important figures in each part of the government, like the ministers, or cabinet leaders, that hold, well, cabinets, like the one for Education or Health or Culture, etc, or the Government Leader in congress that isn’t really a formal title but also kinda is a job. 

So, our parties. There are so many of them. SO MANY. Y’all wouldn’t believe how many. Ok, about 30-40 of them. But really, who the fuck knows all of them? I don’t, so we’re gonna stick to the most important ones. But for that, quick history lesson: 

Remember when I said we haven’t always been, uhm, this? Yeah, up until the late 80′s Brazil was on a Dictatorship (not the first we had, but the worst we had, arguably) (and I have to control myself not to tell you the whole thing cause I just love brazilian history???? but imma stick to what’s important) THE POINT IS: during those years, only two “parties” were allowed to exist, the… pro-dictatorship party and the… consented opposition party (we like to call them the “yes” and the “yes, sir” parties cause of the obvious). Consented opposition party was called MDB (founded in 65′). When dictatorship ended, they turned into PDMB (in 1980). You’re gonna have to get used to the acronyms because we only use them here. Sometime later, in 88, some people left PMDB to found PSDB, and at the time the plan was to have it a bit more to the left than PMDB that was a pretty center-right wing party. More to the left of both of those, also in the 80′s, our Workers Party is founded, PT. Not a socialist/communist party, whatever some may think until today. You might be wondering what happened to the dictatorship supporters party, right? They’ve changed names a few times through the last decades, nowadays they’re DEM, a right wing party (ironically enough, their acronym comes from Democrats).

Nowadays you can say PSDB is a center-right wing party, PT is center-left, and PMDB is wherever it pleases (mostly center-right, though). “Isn’t there a REAL left wing then????” there is, but it’s not exactly the most powerful thing in existence, so most people atribute the “left” nearly entirely to PT, cause up until a couple of years ago, it was majorly powerful. We’ll get to that. Anyway, some left wing parties are PCdoB and Psol and a shit ton of other small ones.

Back to history. When dictatorship was ending people made an awful lot of deals to get one dude (Tancredo Neves) into the presidency (not popular vote yet, some sort of electoral college) but cause we’re in Brazil and shit just can’t be simple HE DIED before taking office then his vice president (who had just kinda changed parties to make the run) became the first post-dictatorship president. This dude is called Sarney and he’s alive until today and we like to call him The King of a state because his family basically owns it. And it’s a big state and in pretty bad condition (if you want we can come back later to why so many families are so powerful and so entirely into politics and basically owners of whole states and how Oligarchies have always been a thing BUT in another post). He’s a senator now. Yeah, cause that’s a thing, you don’t have to end your career after being president here. Oh, both of those were like, from PMDB.

Then we finally got to vote and we elected this one young unknown dude who was promising to end corruption (I mean, they all do, but, big time), his name was Collor, and he got impeached for corruption a couple of years later. Yes, you’re allowed to laugh. He was from PRN, we’re not gonna talk about this party here, no relevance. His vice president took over, Itamar Franco, and if you guessed it you probably got it right: he was from PMDB. The country was still in a big ass crisis coming all the way from the dictatorship years and Collor had just screwed up massively too so when Itamar KINDA got things under control his economy cabinet leader got big time praise…… and got elected president a couple of years later for PSDB. His name is Fernando Henrique Cardoso (we like to call him FHC) and he’s still alive too. 

So we got a few years of PSDB there cause they approved reelection in congress at some point there - let’s be honest, it’s because they were scared of the increasing popularity of somebody else that had been running in the past elections too: Lula, the big leader of PT - and they were right to, cause Lula would get elected finally in 2003 and reelected after, staying until 2011, and would hand pick his successor and get her elected: Dilma Rousseff, who would also get reelected. As you might have heard, she got impeached last year, leaving office to her vice president, Michel Temer, from… PMDB. 

For the past couple of decades, our political scenario pretty much got divided into PSDB and PT running against each other (and against a ton of minor parties that didn’t quite make it) in every election, with PT winning all of the ones mentioned above. But in any and all of the governments, deals had to be made to get - you guessed it - PMDB support. If there’s one thing you have to know about these last years of Brazil is that no one, no one can govern without PMDB. And the reason to that is on it’s historical basis: it’s basically the oldest and biggest party we got. So EVERYWHERE there’s someone from there, so they get plenty of space in government, they make most of congress, they make most of the senate, they make most of the local powers, etc. And like that, unelected, they got to the Presidency quite a few times. When I said before that they go wherever they want to, is because they’ll lean to whichever side can grant them power, and not even collectively - you can see some of them aligning to left wing politicians in some parts of the country while others get allied to right wing politicians in another part in the same election, since there are no rules against that. Today, since they hold the presidency and most of the other important roles, their main ally is PSDB, but a few years back they were the main supporters to PT, so, really, the rule should be “don’t trust them and expect anything and everything”. 

I think… this kinda covers the basics. Very basics. Roughly. It would be important for you to understand the whole Impeachment mess of the past couple of years. I have a couple of posts on that here and here and here and here and you can always go to my politics tag to search for more comments on everything. Idk, bring me objective questions or just what more you want to know after this so I can help more??? i’m really kinda lost on what to tell you and there’s sooo much to brazilian history that is important, but I think this post is way too long already x) I like telling the stories though, so ask away

SELFIE2 #2: (Terlambat) Mencari Jati Diri

Psikologi sosial adalah salah satu mata kuliah favorit saya saat kuliah karena pembahasan-pembahasan di dalamnya yang menarik, terutama tentang bagaimana pola interaksi individu di dalam kelompok atau masyarakat. Salah satu yang masih saya ingat, saat itu kelas Psikologi Sosial yang saya ikuti pernah membahas tentang perilaku individu ketika memperkenalkan diri kepada orang lain. Uniknya, baik individu yang tinggal di negara-negara timur ataupun di negara-negara barat, selalu menyandingkan atau mengikatkan dirinya terhadap sesuatu yang lain yang ada di luar dirinya. Ketika diminta untuk mengenalkan diri, jawaban paling standar pasti tak jauh dari, “Saya berasal dari kota X, lulusan fakultas Y di universitas Z. Anak dari Bapak A dan Ibu B, sekarang sudah menjadi isteri dari C dan ibu dari D …” dan begitulah seterusnya.

Tapi, tidakkah hati kita tergelitik untuk mulai mempertanyakan tentang siapakah kita sebenarnya?

Jika pertanyaan dilanjutkan dengan, “Iya, kamu yang berasal dari kota X, lulusan fakultas Y di universitas Z, anak dari Bapak A dan Ibu B, sekarang sudah menjadi isteri dari C dan ibu dari D, dan seterusnya itu siapa? Siapa sebenarnya kamu di dunia ini?” apakah kita akan mampu menjawabnya dengan tepat? Coba dipikirkan, jika pertanyaan itu terlontar dari seseorang kepada kita, akan seperti apakah kita menjawabnya? Jika semua atribut dunia dilepas, jika semua yang sebelumnya melekat dalam jawaban kita dihilangkan, akan dengan jawaban apakah kita menjawab pertanyaan tersebut? Hmm, ternyata, pertanyaan yang jauh lebih mendalam ini tidak bisa dijawab dalam tataran Psikologi Sosial yang memang tidak membahasnya.

Hampir satu setengah tahun yang lalu, pertanyaan tentang ‘siapakah sebenarnya kamu di dunia ini?’ tanpa diduga terlontar dari seseorang kepada saya. Dengan idealisme khas mahasiswa tingkat akhir, saya menjawabnya dengan sederetan hal yang terikat pada diri saya. Kemudian, betapa malunya saya ketika menyadari bahwa bukan itu jawaban sebenarnya sampai akhirnya lawan bicara saya berkata, 

“Nov, kita ini hamba Allah lho. Udah titik. Repot amat cari jawaban panjang lebar kayak lagi ujian lisan. Haha.” 

Saya pun merah padam, lalu memilih menjadi gelas kosong untuk mendengarkan penjelasan lawan bicara saya itu selanjutnya hingga saya menjadi paham.

Ketika kita merasa sudah tau tentang siapa diri kita, apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan kita, apa misi tujuan jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang yang kita miliki, serta apa saja yang ingin kita lakukan di hidup ini, mungkin kita akan merasa telah menemukan jati diri. Tapi ternyata, kita hanya GR alias gede rasa saja. Sebab, nyatanya pencarian jati diri tidak hanya membahas hal-hal sederhana semacam itu. Lebih dalam lagi, pencarian jati diri adalah juga tentang mengetahui siapa sebenarnya kita di dunia, yaitu hamba yang diciptakan-Nya dengan bertujuan untuk beribadah kepada-Nya.

Sekarang, coba bayangkan sebuah analogi tentang seorang khadimah atau asisten rumah tangga. Kira-kira, apa yang harus dilakukannya di rumah? Tentunya mengerjakan apa yang diperintahkan oleh tuannya, bukan? Jika tidak, tentu tak salah jika tuannya marah. Selanjutnya, bayangkanlah juga analogi tentang seorang pesuruh di sebuah kerajaan besar. Apa yang sangat penting untuk dilakukannya di kerajaan? Mengerjakan apa yang diperintahkan oleh raja, bukan? Jika tidak, wajar saja jika pada akhirnya sang raja menjadi naik pitam. Begitupun dengan kita di dunia ini, sebab kita adalah hamba Allah yang diciptakan-Nya, maka tak ada yang lebih penting bagi kita selain menghamba kepada-Nya dengan sebaik-baik penghambaan. Jika tidak, bukan tidak mungkin jika Allah menghukum kita dengan cara apapun yang dikehendaki-Nya. Naudzubillahi min dzalik.

Dulu, ketika pertama kali mengetahui bahwa saya adalah hamba Allah, saya sangat sedih karena merasa terlambat menemukan jati diri yang sesungguhnya. Lalu saya pun tergelitik untuk mulai menyalahkan keadaan, “Mengapa orang-orang terdekat tidak pernah ada yang memberi tahu ini sebelumnya kepada saya? Mengapa saya tidak tergerak untuk mempelajarinya di majelis ilmu? Mengapa baru sekarang dan bukan sejak dulu?” begitulah, penyesalan memang menyedihkan. Tapi, saya kemudian semangat lagi ketika seseorang yang menjadi teman belajar saya mengatakan, “Nov, engga apa-apa, semua sudah ditetapkan Allah dengan sangat baik sedemikian rupa. Tentang yang sudah berlalu di belakang, biarkanlah berlalu dan maafkanlah. Sekarang, ketika kamu sudah tahu bahwa ternyata kamu adalah hamba Allah, lakukan perbaikan terus-menerus kedepannya. InsyaAllah, Allah akan memudahkan.”

Bagaimana, apakah kamu baru mengetahui hal ini sekarang? Tidak masalah, jangan sedih, jangan merasa terlambat menemukan jati diri dan meratapi apa yang telah terjadi di masa lalu. Sebab, Allah tentu bermaksud baik atas segala sesuatu, mungkin Dia ingin kamu belajar dari masa lalu dan mulai memperbaiki diri dari sekarang. Semangat! Ayo kita upayakan upaya terbaik agar kita bisa menjadi sebaik-baik hamba yang taat dan patuh kepada-Nya.

Let’s Look Into Yourself!


Tulisan ini adalah bagian dari rangkaian #30daysramadhanwriting yang saya tuliskan selama bulan Ramadhan 1438 H dengan tema “SELFIE 2 - Let’s Look Into Yourself!” Setiap harinya, tulisan-tulisan dengan tema ini akan dimuat di pada pukul 16.30 WIB. Untuk membaca tulisan lain dalam project ini, klik disini. Serial ini bermula dari #30daysramadhanwriting dengan tema yang sama di tahun sebelumnya. Untuk membaca serial selfie di Ramadhan 1437 H, klik disini.

Berikan Porsi yang Tepat Pada Simbol-Simbol Islam


Saya termasuk muslim yang tidak begitu hobi menggunakan simbol-simbol yang lekat dengan Islam.

Misalnya saja peci. Tentu setiap orang bisa punya alasan yang berbeda untuk mengenakan ataupun tidak mengenakan peci, dan saya menghormati itu.

Tetapi, bagi saya, peci memiliki dua fungsi:

1. Sebagai benda fungsional, yaitu untuk menutupi rambut yang mungkin acak-acakan, agar terlihat lebih sopan dan layak–terutama ketika shalat shubuh, di mana rambut kita sedang berada dalam kondisi paling tidak beraturan karena baru saja bangun dari tidur.

2. Sebagai benda simbolik, yaitu untuk (a) menciptakan experience pribadi bagi si pengguna bahwa “Saya sedang dalam mode bertakwa/super Islami/sholeh”; (b) juga sebagai alat identitas yang membuat si pengguna merasa nyaman ketika berinteraksi di dalam kelompok muslim (perasaan I belong to this group), atau merasa puas dengan menunjukkan identitas keislamannya di hadapan khalayak umum (look, I am a muslim!).

Saya masih mau menggunakan peci untuk memenuhi fungsi pertama, tetapi tidak untuk memenuhi fungsi kedua.

Masalah Dengan Simbolisme

Islam bisa mengubah dunia dan mencapai kejayaan karena mengamalkan konsep/substansi ajarannya.

Itu juga yang terjadi dengan Dunia Barat. Mereka menguasai dunia hari ini karena mengamalkan substansi. Bedanya, substansi mereka bukan berasal dari agama mereka, tetapi dari ilmu pengetahuan.

Namun, ketika para pemimpin Islam di era kekhalifahan menjadikan Islam hanya sebagai label/simbol semata–mereka bermewah-mewahan, berebut kekuasaan, di bawah bendera “khilafah”, maka yang terjadi adalah kemunduran hingga keruntuhan.

Jika demikian, perlukah kita meninggalkan simbolisme Islam?

Sama sekali tidak, sebab sebagian ajaran Islam pun berbicara tentang simbolisme. Misalnya, anjuran Nabi untuk memanjangkan janggut dan mencukur kumis, dengan maksud menyelisihi/membedakan diri dari kaum Yahudi saat itu.

Simbolisme menjadi masalah ketika energi kita begitu terfokus kepadanya, sementara kita membiarkan substansi ajaran Islam tergeletak seperti tak bertuan.

Salah Prioritas

Ada masa saat saya masih duduk di bangku kuliah, saya dan sejumlah aktivis Islam di kampus begitu serius memelihara “budaya Islami” dalam organisasi kami.

Rapat selalu di masjid, pakai hijab/pembatas, dibuka dengan tilawah, tak ketinggalan taushiyah, bahasa “ane-ente”, tepuk tangan diganti takbir.

Tetapi giliran kerja, performanya medioker. Kedisiplinan buruk. Kreativitas payah. Budaya permisif tinggi. Nilai tambah dari program-program minim. Kalau bikin acara, yang hadir ya orang-orang kita juga.

Tentu dua hal tersebut–budaya organisasi dan performa kerja, sebenarnya tidak perlu tarik-menarik. Yang terbaik adalah yang menjaga budaya organisasi dan produktif mengelola program-program yang berdampak.

Hanya saja, kalau saya pikir-pikir sekarang, saat itu kami salah dalam memahami prioritas.

Kalau kita sebegitu seriusnya menjaga “ritual-ritual” simbolik, mestinya kita juga memberikan porsi keseriusan yang lebih besar untuk hal-hal yang bersifat substantif.

Mestinya, Islam yang kita pahami tidak hanya direalisasikan secara serius untuk urusan manajemen rapat, tetapi juga direfleksikan secara serius melalui dampak dari program-program yang kita kerjakan.

Membaca Qur’an Namun Diperangi Rasul

Saya teringat sebuah hadits, yang redaksi lengkapnya sebagai berikut:

“Akan muncul di akhir masa ini nanti sekelompok orang yang umurnya masih muda-muda dan lemah akalnya. Apa yang mereka ucapkan adalah perkataan manusia yang terbaik. Mereka suka membaca al-Qur’an, akan tetapi bacaan mereka tidak sampai melewati pangkal tenggorokan mereka. Mereka melesat dari agama seperti halnya anak panah yang melesat dari sasaran bidiknya. Apabila kalian menjumpai mereka maka bunuhlah mereka. Karena sesungguhnya dengan terbunuhnya mereka maka orang yang membunuhnya itu akan mendapat pahala di sisi Allah pada hari kiamat kelak.”

(HR. Bukhari dan Muslim dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, ini lafaz Muslim)

Konteks hadits itu, menurut sebagian ‘ulama, membahas tentang kaum khawarij. Tetapi mari kita fokus melihat salah satu perilaku yang digambarkan dalam hadits tersebut.

“Mereka suka membaca Al-Qur’an, akan tetapi bacaan mereka tidak sampai melewati pangkal tenggorokan mereka”

Bagaimana bisa suatu kaum rajin membaca Al-Qur’an, tetapi diperangi oleh Rasulullah? Bisa, jika mereka membaca Al-Qur’an sebagai sebuah ritual belaka, sebagai sebuah tindakan “simbolik” semata.

Hari Ini

Banyak sekali fenomena kekinian yang bisa kita letakkan dalam kacamata “simbolik - substantif”.

Misalnya, ada saudara-saudara muslim dari sebuah kelompok–lengkap dengan atribut peci dan baju koko putihnya, terlihat cukup sering mengadakan aksi yang keras nuansanya, bahkan terlibat vandalisme–sehingga kelompok ini dilabeli sejumlah media dan sebagian masyarakat sebagai kelompok intoleran.

Ada juga saudara-saudara muslim dari kelompok lainnya, mereka senang mengadakan pengajian bersama habib-habibnya di Ibu Kota. Sayangnya, sebelum dan sesudah pengajian, mereka juga punya “ritual” berkonvoi sepeda motor, dan biasanya terjadi di jam-jam pulang kerja, saat kemacetan sedang memuncak. Rata-rata mereka tidak menggunakan helm. Hanya peci “sakti” yang melindungi kepala, ditambah baju koko atau jaket majelis, juga sarung.

Saudara-saudara muslim dari kelompok yang lain konsisten menggemakan “tegakkan syariat Islam, tegakkan khilafah”, namun tidak mau ambil peran saat ada pertarungan politik antara kandidat yang mewakili kepentingan ummat Islam dengan kandidat yang punya masalah dengan ummat Islam.

Khusus yang terakhir ini mungkin perlu saya utarakan lebih jelas maksud saya.

Logika Bodoh Saya tentang Khilafah

Khilafah adalah nama dari sebuah sistem yang tidak memiliki referensi baku, sebab Al-Quran maupun hadits tidak menjelaskan detail-detailnya, seperti mekanisme pemilihan khalifah atau struktur pemerintahannya–misalnya (mohon koreksi dan beritahu saya jika saya salah).

Jika demikian, maka manusialah yang berijtihad merumuskan sistem kekhilafahan (maka argumen “demokrasi = sistem buatan manusia = sistem thaghut” kurang baik, sebab khilafah pun dirumuskan detail sistemnya oleh manusia, meskipun secara prinsip dibangun dalam koridor Islam).

Bayangkan, khilafah berdiri sejak zaman Abu Bakar menjadi khalifah pertama di tahun 632 M, hingga kekhalifahan Turki Utsmani runtuh pada tahun 1924 M. 13 abad jaraknya!

Dalam waktu yang sangat lama itu, kompleksitas masalah yang ditangani dari waktu ke waktu pasti  mengalami perkembangan yang luar biasa, yang menuntut penyesuaian dan perubahan pada sistem kekhilafahan.

NKRI yang usianya baru 0,72 abad saja sudah mengalami sekian banyak penyesuaian dan perubahan dalam tata kelola negara.

Artinya, sekali lagi, pasti ada ijtihad manusia di dalamnya untuk menghadirkan suatu sistem yang bisa kompatibel dengan realitas yang dinamis, sambil tetap melandaskan diri pada sumber-sumber hukum Islam. Nah, inilah kurang lebih “substansi” dari kekhilafahan, tanpa bermaksud oversimplifikasi.

Sementara itu, struktur pemerintahan, bahkan istilah “khilafah” itu sendiri, adalah metode dan “simbol”-nya, yang menurut saya mestinya bersifat fleksibel dan adaptif.

Saya bukan pembela dan pecinta demokrasi. Demokrasi punya kelemahan, disamping punya kelebihan, seperti halnya semua bentuk pemerintahan–termasuk kekhilafahan.

Namun jika ternyata hari ini bentuk pemerintahan yang paling kompatibel dengan realitas adalah demokrasi (hadirnya transparansi, adanya check and balance, disepakati masyarakat secara masif, dll), maka yang lebih produktif menurut saya adalah membuat kepentingan-kepentingan ummat Islam terakomodasi di dalamnya (ini termasuk menyelaraskan hukum Islam dengan hukum negara).


Tulisan bodoh ini lahir secara spontan karena dinamika yang terjadi belakangan: ummat Islam seperti sedang dipojokkan. Dilabelisasi. Distigmatisasi. Diseret citranya sedemikian rupa, di rumah kita sendiri.

Ini sangat menyedihkan dan membuat saya geram, namun alih-alih “menyatakan perang”, saya rasa kita perlu mencurigai diri kita sendiri terlebih dahulu. Jangan-jangan, kita yang memulai?

Kita gemar memamerkan simbol-simbol Islam, namun seolah tak pernah diajarkan ajaran-ajaran inti Islam. Kita lantang mengatakan “Saya bersama Islam”, namun malah membuat citra Islam tenggelam bersama buruknya akhlak kita.

Bagi saya pribadi, ini adalah lonceng untuk bekerja, membuktikan bahwa Islam dan ummat Islam bukanlah the bad guy.

Ini adalah babak untuk kita bekerja dengan cara yang keren dan cakep, berfokus untuk membumikan substansi Islam dan menempatkan simbolisme Islam sesuai porsinya masing-masing.

Sehingga, suatu hari kita tidak perlu berdebat dengan orang-orang demi meyakinkan mereka bahwa Islam adalah yang terbaik, karena mereka akan mengambil kesimpulan itu dengan sendirinya setelah mereka melihat-mendengar-merasakan Islam dari realitas yang mereka alami.

PS: Saya meminta maaf kepada siapapun yang merasa tersinggung dengan kata-kata saya, dan saya memohon ampun kepada Allah atas hal itu. Saya tidak bermaksud menyinggung perasaan siapapun, apalagi perasaan saudara sesama muslim. Mohon dibukakan pintu maaf dan ingatkan saya jika ada hal yang tidak pada tempatnya.

Cerpen: The Way I Lose Her

Hai gaes..
What up~

Awalnya gue nggak pernah nganggep bahwa tumblr ini adalah sebuah blog, karena dari segi fitur dan efisiensitas, tumblr kayaknya lebih cocok disebut sebagai sosial media dan lebih menarik ketimbang blog dan wordpress.

Tapi, berhubung dulu gue sempet iseng menulis sebuah cerita pendek perihal latar belakang tumblr ini dalam sebuah cerpen yang berjudul, “My Beautiful Mistake” akhirnya gue jadi agak senang menulis tentang apa yang telah gue laluin semasa SMA hingga Kuliah kemarin.

Nggak berhenti begitu saja, gue yang emang pada dasarnya cuma iseng ngisi waktu sambil nulis akhirnya memotong beberapa kejadian-kejadian kecil di masa SMA dan Kuliah pada satu kesatuan cerita yang nggak terlalu spesifik. Seperti pada cerpen “Hujan Kala Itu” Dan “Sedekat Detik dan Detaknya”

Namun, entah kenapa rasa-rasanya jadi asik aja nulis kembali pecahan-pecahan cerita yang emang sebenarnya lucu kalau gue inget-inget lagi. Betapa tololnya gue yang dulu, betapa nggak pekanya gue yang dulu, betapa sering patah hatinya gue yang dulu, dan masih banyak lagi.

Maka dengan hadirnya cerpen “The Way I Lose Her” ini, semoga itu bisa menjadi penghubung cerita cerpen-cerpen sebelumnya. Dan semoga juga bisa menjawab dari beberapa pertanyaan-pertanyaan perihal Geby, Laras, Nala, Ikhsan, dan seluruh peran yang pernah datang, berteduh, lalu kemudian pergi lagi. 

So, this is “The Way I Lose Her” index..

  1. [TWILH: Tulisan Satu] -> Pilot: Im Adult
  2. [TWILH: Tulisan Dua] -> School At First Sight
  3. [TWILH: Tulisan Tiga] -> Ibu
  4. [TWILH: Tulisan Empat] -> Gue Bosnya Di Sini
  5. [TWILH: Tulisan Lima] -> Judgment Day
  6. [TWILH: Tulisan Enam] -> Happy Hunting
  7. [TWILH: Tulisan Tujuh] -> Gue Salah Apa Kak?!
  8. [TWILH: Tulisan Delapan] -> Atribut Seragam
  9. [TWILH: Tulisan Sembilan] -> Perihal Dada
  10. [TWILH: Tulisan Satu Nol] -> Boys Talk Part 1
  11. [TWILH: Tulisan Satu Satu] -> Boys Talk Part 2
  12. [TWILH: Tulisan Satu Dua] -> Ular Tangga
  13. [TWILH: Tulisan Satu Tiga] -> Mrs. Curiosity
  14. [TWILH: Tulisan Satu Empat] -> I Hate Her So Much!
  15. [TWILH: Tulisan Satu Lima] -> Is That You?
  16. [TWILH: Tulisan Satu Enam] -> Do You Remember Me?
  17. [TWILH: Tulisan Satu Tujuh] -> Di Antara 2 Hati
  18. [TWILH: Tulisan Satu Delapan] -> Tanda Tanya
  19. [TWILH: Tulisan Satu Sembilan] -> Game On
  20. [TWILH: Tulisan Dua Nol] -> Pass The Ball!
  21. [TWILH: Tulisan Dua Satu] -> You Hear Me Wisely. I Love It
  22. [TWILH: Tulisan Dua Dua] -> Kamu Dimana?
  23. [TWILH: Tulisan Dua Tiga] -> Who Are We?
  24. [TWILH: Tulisan Dua Empat] -> Shock Therapy
  25. [TWILH: Tulisan Dua Lima] -> Ikhsan
  26. [TWILH: Tulisan Dua Enam] -> Sad-True-Day Night
  27. [TWILH: Tulisan Dua Tujuh]-> Did I Ask Too Much?
  28. [TWILH: Tulisan Dua Delapan] -> I’m Giving Up On You
  29. [TWILH: Tulisan Dua Sembilan]-> Pertanyaanku
  30. [TWILH: Tulisan Tiga Nol]-> Matematika Buku Cetak Hal.17
  31. [TWILH: Tulisan Tiga Satu]-> Choice
  32. [TWILH: Tulisan Tiga Dua]-> Last Hug
  33. [TWILH: Tulisan Tiga Tiga]-> Gentleman Dignity’s
  34. [TWILH: Tulisan Tiga Empat]-> Keluarga Cemara
  35. [TWILH: Tulisan Tiga Lima]-> Fix The Broken
  36. [TWILH: Tulisan Tiga Enam]-> Welcome To My Humble Home
  37. [TWILH: Tulisan Tiga Tujuh]-> How I Met Everyone Else
  38. [TWILH: Tulisan Tiga Delapan]-> Truth or Dare
  39. [TWILH: Tulisan Tiga Sembilan]-> Pickup Lines
  40. [TWILH: Tulisan Empat Nol]-> Big Day
  41. [TWILH: Tulisan Empat Satu]-> Boyfriend
  42. [TWILH: Tulisan Empat Dua]-> Confession
  43. [TWILH: Tulisan Empat Tiga]-> On My Way
  44. [TWILH: Tulisan Empat Empat]-> I’m Belong To You
  45. [TWILH: Tulisan Empat Lima]-> One Special Night
  46. [TWILH: Tulisan Empat Enam]-> Centrum
  47. [TWILH: Tulisan Empat Tujuh]-> Karate. Fight!
  48. [TWILH: Tulisan Empat Delapan]-> Ten Sessions of Cakwe
  49. [TWILH: Tulisan Empat Sembilan]-> Tempur Sepekan
  50. [TWILH: Tulisan Lima Nol]-> Pertempuran Hati
  51. [TWILH: Tulisan Lima Satu]-> Remedial Day
  52. [TWILH: Tulisan Lima Dua]-> Pamer Kebodohan Part 1
  53. [TWILH: Tulisan Lima Tiga]-> Pamer Kebodohan Part 2
  54. [TWILH: Tulisan Lima Empat]-> Hantu Usus Kucing
  55. [TWILH: Tulisan Lima Lima] -> Half Semester, Half Heart
  56. [TWILH: Tulisan Lima Enam]-> Stranger By The Day
  57. [TWILH: Tulisan Lima Tujuh]-> Something Blue
  58. [TWILH: Tulisan Lima Delapan]-> The Hardest Part
  59. [TWILH: Tulisan Lima Sembilan]-> Why We Dont’ Talk
  60. [TWILH: Tulisan Enam Nol]-> Bad Feeling
  61. [TWILH: Tulisan Enam Satu]-> Backstage
  62. [TWILH: Tulisan Enam Dua]-> End of Story
  63. [TWILH: Tulisan Enam Tiga]-> Boys Don’t Cry
  64. [TWILH: Tulisan Enam Empat]-> Escape Plan
  65. [TWILH: Tulisan Enam Lima]-> Transisi
  66. [TWILH: Tulisan Enam Enam]-> Job Description
  67. [TWILH: Tulisan Enam Tujuh]-> Home (not) Sweet Home
  68. [TWILH: Tulisan Enam Delapan]-> Awkward Moment
  69. [TWILH: Tulisan Enam Sembilan]-> Museum Rusuh! Part 1
  70. [TWILH: Tulisan Tujuh Nol]-> Museum Rusuh! Part 2
  71. [TWILH: Tulisan Tujuh Satu]-> Museum Rusuh! Part 3
  72. [TWILH: Tulisan Tujuh Dua]-> Museum Rusuh! Part 4
  73. [TWILH: Tulisan Tujuh Tiga]-> Matematika Buku Cetak Return
  74. [TWILH: Tulisan Tujuh Empat]-> Crazy Afternoon
  75. [TWILH: Tulisan Tujuh Lima]-> Cloudy
  76. [TWILH: Tulisan Tujuh Enam]-> The Woman I Love
  77. [TWILH: Tulisan Tujuh Tujuh]-> Please, Don’t Tell Her
  78. [TWILH: Tulisan Tujuh Delapan]-> Gloomy October
  79. [TWILH: Tulisan Tujuh Sembilan]-> What Men Must Do.
  80. [TWILH: Tulisan Delapan Nol]-> Hujan di Bulan Oktober
  81. [TWILH: Tulisan Delapan Satu]-> Pelangi di Bulan Oktober
  82. [TWILH: Tulisan Delapan Dua]-> Start From Here…
  83. [TWILH: Tulisan Delapan Tiga]-> Dimas’s Boys
  84. [TWILH: Tulisan Delapan Empat]-> 1 Day Before Disaster
  85. [TWILH: Tulisan Delapan Lima]-> She’s On Her Way
  86. [TWILH: Tulisan Delapan Enam]-> Disaster Begin
  87. [TWILH: Tulisan Delapan Tujuh]-> Sibuk Sibuk Sibuk
  88. [TWILH: Tulisan Delapan Delapan]-> Princess Diaries
  89. [TWILH: Tulisan Delepan Sembilan]-> White Flag
  90. [TWILH: Tulisan Sembilan Nol]-> Hanifah’s
  91. [TWILH: Tulisan Sembilan Satu]-> Wrong Side of Heaven
  92. [TWILH: Tulisan Sembilan Dua]-> Promise, I Won’t
  93. [TWILH: Tulisan Sembilan Tiga]-> Ngamen!
  94. [TWILH: Tulisan Sembilan Empat]-> Tim Hura-Hura v.s Tim Tuan Putri
  95. [TWILH: Tulisan Sembilan Lima]-> Countdown
  96. [TWILH: Tulisan Sembilan Enam]-> Final Countdown
  97. [TWILH: Tulisan Sembilan Tujuh]-> Broken Vow
  98. [TWILH: Tulisan Sembilan Delapan]-> Dana Usaha
  99. [TWILH: Tulisan Sembilan Sembilan]-> Filosofi Donat
  100. [TWILH: Tulisan Satu Nol Nol!]-> The Legend of Teh Kotak - Help Him or Help Her
  101. [TWILH: Tulisan Satu Nol Satu]-> The Legend of Teh Kotak - Especially For You
  102. [TWILH: Tulisan Satu Nol Dua]-> The Legend of Teh Kotak - Déjà Vu
  103. [TWILH: Tulisan Satu Nol Tiga]-> The Legend of Teh Kotak - … End in Here
  104. [TWILH: Tulisan Satu Nol Empat]-> The Legend of Teh Kotak - Kembali ke Titik Awal
  105. [TWILH: Tulisan Satu Nol Lima]-> The Legend of Teh Kotak - Nona Teh Kotak vs Putri Aqua
  106. [TWILH: Tulisan Satu Nol Enam]-> Berdua Saja
  107. [TWILH: Tulisan Satu Nol Tujuh]-> A Night To Remember
  108. [TWILH: Tulisan Satu Nol Delapan]-> A Night To Remember (2)
  109. [TWILH: Tulisan Satu Nol Sembilan]-> Almost Is Never Enough
  110. [TWILH: Tulisan Satu Satu Nol]->Stand Tiket
  111. [TWILH: Tulisan Satu Satu Satu]-> Catastrophic Morning
  112. [TWILH: Tulisan Satu Satu Dua]-> Falling In Love With People We Can’t Have

I know sometimes people said that’s my life is full of surprise and so fantastic. But you know? That’s bullshit.. it’s not easy to be me.

Iya. Rumusan manusia tempatnya salah, sampai dunia berakhir selalu benar. Bahwa manusia tempatnya cela, punya sisi kelam dan busuk, adalah sesuatu yang mau tidak mau harus diterima bukan lagi sebagai bagian dari sebuah pemakluman, melainkan kenyataan.

Tetapi, jangan terus-terusan mendengungkan hal itu. Karena ia hanya akan menambah tebal cap penakut dan pecundang pada tiap-tiap kening kita. Tidak perlu mengulang, menjabarkan aib banyak orang, lalu membandingkan satu kesalahan dengan kesalahan lainnya, satu dosa dengan dosa lainnya.

Berhentilah berulangkali mempertegas hal itu. Karena sudah habis waktunya. Saatnya tinggalkan. Lalu mulai menyelesaikan yang harus diselesaikan.

Sekarang ini, di negeriku, ada seseorang yang tengah menjadi alasan banyak orang turun ke jalan. Banyak orang mengirimkan bunga. Alasannya bermacam-macam: iba karena melihat seseorang kehilangan kebebasannya.

Kekasihku, ini bukan soal melupakan kebaikan yang sudah dilakukan, apalagi melupakan hal-hal baik dan positif dan menyenangkan yang sudah diberikan. Bukan juga soal keadilan yang sampai kapanpun, oleh salah satu pihak rasanya tetap tidak. Ini soal seorang dewasa yang harus menyelesaikan masalahnya, seorang dewasa yang harus tanggungjawab atas sesuatu yang sudah dibuatnya. Jika taktega menyebutnya sebagai kesalahan, mari ganti dengan kekhilafan.

Lepaskan atribut keyakinan atau keturunan, karena, pada akhirnya, kita hanya sama-sama manusia yang bisa dan harus menyelesaikan apa pun yang sudah dimulai, kita sama-sama bisa dan harus belajar dari kekhilafan (jika takmau menyebutnya sebagai kesalahan), lega menerima konsekuensinya lalu berbahagia telah dengan baik-baik saja berhasil menyelesaikannya. Tidak mudah dilewati, tapi bukan mustahil selama kita masih manusia.

anonymous asked:

Mas apasih yg membuat para ikhwan berdecak kagum ke seorang akhwat pada kali pertama?

Kalau menurut saya, semacam ini sifatnya mungkin personal dan tidak bisa digeneralisir, tiap orang chemistrynya beda.

Katakan sebagian besar ikhwan kagum dengan yang cantik, syar’i atau bahkan bercadar. Tapi belum tentu juga dengan ikhwan yang lain. 

Cantik, hijab syar’i atau mungkin bercadar tapi sering posting poto cantik, selfinya atau candid ala-alanya di sosmed maka bisa jadi bagi sebagian ikhwan sulit untuk bisa menjatuhkan kata kagum. 

Dan mungkin juga butuh beberapa kali, gak cuma kali pertama bagi sebagian ikhwan untuk bisa kagum meskipun saat itu tau bahwa seorang akhwat itu cantik. Bukan karena soksokan dan terlihat seperti terlalu banyak kriteria, hanya saja mungkin bagi sebagian ikhwan ada beberapa parameter yang punya nilai lebih dari sekedar atribut cantik. 

Pemahaman akan perannya sebagai seorang muslimah, Pemahaman sebagai seorang partner dan keyakinannya terhadap Al-Qur’an misalnya.

reasons why greek was the best show on abc family ever ever ever

  • strong female friendships. i mean, this makes the show a winner already. casey and ashleigh, casey and rebecca… strong female friendships are so important to me man. their friendships were never ruined over stupid things, or over guys. sO GOOD
  • strong friendships in general. greek is a show that puts friendship over relationships and promoting positive platonic friendship is something i can’t ever get enough of because good friendships are incredible things to have and you don’t see that enough in media.
  • calvin, and heath’s sexuality never defined them - they were just normal college guys, looking for relationships too. heath and calvin were kissing at frat parties without a care in the world and i love that. i love that they had LGBT characters who were never defined by their sexuality. they were people above all else - treated the same as all the straight characters.
  • they promoted positive sexual health and positive sex in general - katherine wanted advice on what kind of birth control to be on, rusty realised that he couldn’t be the one to take katherine’s virginity just because she wanted to loose it before law school (i don’t think sex and love come hand in hand don’t get me wrong but i do buy into the idea that your first time should probably be with someone you trust and katherine and rusty barely knew each other) sex was never a shameful thing for girls to be having (OK there was some issues and name-calling but for the most part girls having sex was GOOD and not a problem and girls can be sexual beings too yay)
  • rebecca realising that she deserved better than the way evan was treating her and ending the relationship despite how much she cared for him because she knew it was important to be in a relationship where both parties love equally
  • couples realising they have issues and need to work them out before they can actually be together (cough evan and rebecca cough)
  • calling out shitty behaviour even though its being done by your brothers (the whole calvin vs tripp thing)
  • it was funny and witty and made me laugh way too much
  • actual decent storylines
  • college is fuckin scary man and leaving it will probably be scarier and they didn’t shy away from that (cappie’s storyline basically) 
  • they didn’t magically get jobs and happy after they graduated (final season was in 2011 in the middle of a severe recession and they didn’t shy away from that fact either)
  • can we talk about casey and cappies love story for a second - “its a fairytale” “no other girl in the world compares to you” i mean come on they were such an incredible relationship and they felt almost real because they had issues and problems they couldn’t work through for a really long time
  • they (eventually) dealt with a love triangle far better than any other show i’ve watched to be honest (evan/casey/cappie)

so ok the show had its problems and it wasn’t perfect but it was a really damn good show and it has so many positive things and positive atributes and it was definitely the best show on ABC family they will never top it ever again bye

What if Naga were added as a playable race and not only are they cross-faction like Pandas, but you choose the faction during creation? and you have a different starting zone depending on which one you choose, also with differentiating features and the classes would be: Priest, Mage, Warrior, Rogue, Shaman, and Hunter and racial bonuses are increased swimming speed, underwater breathing, increased fishing skill, and a temp self spell that heals or buffs a certain atribute.

Obviously languages would be Nazja, Common/Orcish (Alliance or Horde), Darnassian/Thalassian (Alliance or Horde)

People always say to me that my dislike for dany is rooted in sexism and that if jon were to do the same, i wouldn’t complain. But this episode highlighted their differences way better than i could have ever put into words. book!dany can actually be speared from this criticism, however on today’s episode the Mereenesse plot (that is taking forever in the books) was solved in like, ten minutes, bc DrAGoNS™. Dany, on the show, has no real dangers, everything comes easily to her: the ships she needs, the men she needs, the support from the houses of westeros (asha and theon are the first, dorne will probably follow soon after and we know everyone will most likely bend the knee in KL), even Tyrion’s advice and support is quite literally introduced in an episode called ‘The Gift” jfc. 

But with Jon and Sansa and the North in general, nothing comes easy: they do have to fight for what they have. Fight for Winterfell and Rickon, and that has a price. Rickon was the price, Rickon was what was at stake. They can -and they did, several times- lose something they hold most dear. The starks have been paying for their mistakes since Bran was pushed from the tower: ned pays in KL for catelyn’s mistake at the inn (taking tyrion), sansa pays for her mistakes being held captive in the capital, robb and jon pay theirs with their lives. 

the point is, dany makes no mistakes on the show. and the mistakes she makes on the book are ignored (Quentyn Martell), deemed unimportant (slavery back on Yunkai and Astapor, the sons of the Harpy), or atributted to Tyrion (failing negotiations with the Masters, Mereen’s siege).

And that’s not even getting into the fact that dany’s biggest problem on the books is that her dragons don’t obey her commands. But on the show, her dragons do whatever she wants them to do. need some help with the fighting pits? drogon’s here to help. need some help boosting the dothraki’s morale? drogon’s here to help. need to burn enough ships as to release the -very timely- siege in mereen? drongon’s here and, look, rhaegal and viserion are totally cool following you even though you kept them in chains for months. 

It’s frustrating, and it is boring as hell.

and i cannot understand how people who like her cannot see that. Her role has been reduced to “looking fucking cool on a dragon”. I cannot understand why people who actually like her are not fucking furious.    

Allah akan membimbingmu jika kamu memang siap untuk dibimbing.

Allah akan mempertemukan jika kamu memang siap untuk dipertemukan.

Allah akan meneguhkanmu menjadi sebenar-benar Imam jika kamu memang sudah siap dengan atribut yang melekat pada diri seorang Imam.

Begitu juga dengan cita-citamu menjadi madrasah terbaik.
Allah akan jadikanmu salah satu yang terbaik diantara ibunda penerus generasi ulama dan mujahid, jika kamu meneguhkan hatimu untuk senantiasa bersiap, tanpa mencari alasan bahwa esok atau lusa adalah waktu yang tepat untuk bersiap.

—  ©Quraners
Different Varieties of Carnists
  • <p> <b>Guilty Carnist:</b> Only buys free range chicken and eggs and grass fed cows because they believe that that actually makes a difference.<p/><b>Lazy Carnist:</b> They would go vegan but, you know, BACON!!<p/><b>Respectable Carnist:</b> Says things like "I'll respect your diet and you respect mine." or "Don't judge my personal choices." Even though their "personal choices" hurt animals and the environment.<p/><b>Hypocrite Carnist:</b> Believes animal abuse is wrong and takes shorter showers because they care about the environment. Fails to realize that eating meat and animal products contributes to the worse type of animal abuse and climate change.<p/><b>Guilty Carnist:</b> Constantly on the defense when you bring up veganism. Feels like you're attacking them just by eating vegan yogurt.<p/><b>Angry Carnist:</b> Randomly starts yelling at you about how you're shoving your beliefs down their throat. Will bring up you being vegan at the most random of times. Constantly harasses you throughout the day about the food you eat. Will commonly say that you going vegan isn't making a difference.<p/><b>Dr. Carnist:</b> Pretends to be concerned about your health by constantly inquiring about your protein intake. Will tell you being vegan is not sustainable and that you'll suffer from malnutrition. Considers raising your kids vegan to be child abuse. Tells you that the hormones in soy are bad for you, all while failing to realize that their meat, eggs, and milk are pumped with way more hormones that soy is. Says being vegan is unhealthy but ignores the fact that heart disease and diabetes are America's number one killers and they are both atributed to meat and dairy consumption.<p/><b>Activist Carnist:</b> Will try and argue that being vegan is a privilege. Will claim that the vegan diet is more expensive and not affordable for everyone, even though they have never bothered to research affordable vegan options. Also will erase vegans of color by suggesting that only white people are vegan and say that we are attacking other people's cultures. All this while not realizing that many poc are vegan.<p/><b>Immature Carnist:</b> Will resort to dumb jokes about vegans eating rabbit food. When animal suffering is brought up they will still say things like "mmmm" or "animal suffering taste great" or "I don't care". They will commonly say that vegan food is gross, even though they themselves eat fruits, veggies, whole grains, etc.<p/><b>Curious Carnist:</b> What most vegans are before they become vegan. A meat eater who is interested in learning more about veganism and is genuinely concerned about their harmful impact on the animals and the environment. Will most likely end up being either vegan or vegetarian.<p/><b></b> Inspired by "Different Varieties of Vegans" by @vegan-confessions<p/></p>
Urgensi Berkah

Frustasi karena merasa sedikitnya energi, waktu, harta dan segala rupa sumber daya yang dimiliki, semata-mata karena tidak dilibatkannya variabel keberkahan dalam hitung-hitungan kita.

Menurutku, keberkahan adalah pelaku eksponen.

Yang sedikit terlihat oleh mata (manusia), bisa memberikan dampak yang sangat signifikan pada hasilnya bila dilibatkan.

Sebagai ilustrasi untuk mempermudah tersampaikannya ide dari tulisan ini, tanpa bermaksud mengkuantifikasi keberkahan.

Ilustrasi pertama, anggaplah harta kita sebesar 2 saja. Alhamdulillah Allah memberikan keberkahan sebesar 1000.000, berapa hasilnya? Membayangkannya saja sulit. Yang jelas itu sangat sangat sangat besar. Mendekati tak hingga.

Ilustrasi kedua, anggaplah harta kita 1000.000, Allah memberika keberkahan sebesar 2, hasilnya 1Triliyun. Masih besar.

Ilustrasi ketiga, anggaplah harta kita 1Triliyun, tetapi Allah memberikan keberkahan sebesar -2 (negatif) saja. Hasilnya adalah satu per 1Triliyun. Sangat sangat kecil, mendekati 0, mendekati tidak ada.

Dari ilustrasi diatas, mari merenung sejenak tentang apa yang kita miliki saat ini. Hmmm…

Berbicara hasil, pada tulisan ini, mari kita sepakati bahwa hasil adalah tentang seberapa ridha Allah terhadap diri kita.

Saya mengasumsikan bahwa kita semua menjadikan Allah sebagai tujuan hidup kita.

Seluruh atribut kehidupan yang melekat dengan diri adalah sarana untuk mencapai hasil tersebut. Termasuk beberapa yang disebutkan di awal: energi, waktu dan harta.

Harta, ilmu dan energi yang sedikit, apa bila benar proses menjemputnya dan membelanjakannya, insyaAllah akan mendatangkan kebaikan-kebaikan berlipat pada orang-orang yang terlibat (mungkin tanpa kita tahu dan sadari). Mudah-mudahan itu yang membuat Allah semakin ridha terhadap diri kita.

Pengingatan sederhana ini, mengajak diri saya dan kita semua untuk berusaha semaksimal mungkin untuk bersyukur dan mengekspresikannya dengan benar. Serta memperhatikan benar-benar faktor apa saja yang menyebabkan keberkahan itu turun dan terhambat untuk turun.


Tangerang, 2611161644

Tulisan : Khawatir

Kalau pikiran saya sedang melayang jauh, saya seringkali membayangkan tentang kematian. Kematian selalu berhasil membuat saya merenung, kembali tersadar kalau hidup ini tidak lama. Kematian juga berhasil membuat saya menjadi lebih hati-hati dalam berbuat.

Kekhawatiran saya kali ini adalah tentang “Bagaimana bila apa yang kita kerjakan itu menjadi sesuatu yang memberatkan orang tua kita nanti di hari penghakiman.” Kekhawatiran yang merupakah buah dari pengamatan saya terhadap apa-apa yang terjadi dilingkungan bahkan kawan-kawan dekat saya hari ini.

Disaat ruang privasi semakin hilang, di saat setiap orang rasanya justru ingin selalu “menampilkan” diri. Dan semua bentuk produk buatan manusia seolah-olah ditujukan untuk penampilan tersebut.

Bagaimana kalau apa yang kita kerjakan, foto-foto kecantikan yang kita unggah ke media sosial, suara-suara merdu mendayu kita rekam dan didengar oleh milyaran manusia, juga atribut-atribut privasi yang seharusnya terjaga menjadi terbuka ternyata menjadi sesuatu yang memberatkan orang tua kita nanti di yaumil akhir? Ketika perbuatan kita tersebut dianggap sebagai kelalaian orang tua kita dalam mendidik kita? Mungkin dengan pemikiran “kekinian” kita yang berbeda dengan zaman orang tua kita, membuat kita pandai membenarkan dan pandai memberi alasan kepada orang tua untuk mendukung apa-apa yang kita kerjakan? Bukankah kita sedang mendzalimi orang tua kita sendiri?

Tidakkah kita berpikir sebelum melakukan sesuatu? Apakah ini bermanfaat untuk kehidupan akhirat kita, atau hanya untuk kesenangan kita dan keinginan kita terhadap uang? Uang dari hasil mengekspos kecantikan, mengekspos diri kita sebagai media iklan. Kita dibayar untuk menjadi pengganti banner, spanduk, poster, dan baligho.

Ketika kita berbicara tentang agama, apakah kita berbicara dengan hawa nafsu atau kemurnian jiwa?

Ketika katanya kita ingin mensyiarkan kebaikan agama ini, apakah itu benar-benar untuk agama ini atau untuk hawa nafsu kita? Atau ternyata untuk kepentingan kita, juga kepentingan kelangsungan hidup kita dalam kenyamanan dan ketenaran?

Wallahu’alam, semoga Allah menyelamatkan hati dan pikiran kita, menjaganya tetap dalam iman meskipun rasanya seperti menggenggam bara api.

Selamat berjuang menjadi anak-anak yang berbakti, yang berusaha untuk menjadi alasan dan sebab orang tua kita dimudahkan di kehidupan nanti :)

Malang, 21 September 2016 | ©kurniawangunadi