atributes

Yang Paling

Orang yang paling sedih saat tahu kita bersedih adalah orang tua kita. Yang lebih khawatir saat kita khawatir. Yang sangat bahagia saat kita bahagia. Bukankah sebenarnya sederhana bagi kita untuk berbakti? Hanya saja, kita terjebak pada gaya hidup, tren, pada hal-hal kekinian yang membuat kita resah karena sibuk membandingkan pencapaian, penampilan, kekayaan, dan atribut lainnya.

Kita bingung pada diri kita sendiri dan orang tua lebih bingung pada anaknya yang tidak bisa menjelaskan hidupnya. Seakan mereka merasa gagal mendidik kita padahal kita yang gagal mendefinisikan diri sendiri, kita gagal meletakkan sumber-sumber kebahagiaan dan rasa syukur. Kita menjadikan cita-cita orang lain menjadi cita-cita kita tanpa kita sadari bahwa kapasitas kita berbeda. Kita sibuk merawat penampilan tapi lupa merawat akal sehat.

©kurniawangunadi

Ada masanya aku mengagumi orang karena kualitas pribadinya; aku ingin seperti si Fulan dalam kematangan, kebijaksanaan, kesalehan, dan berbagai atribut yang hanya bisa dicapai melalui proses pembelajaran hidup. Lalu media sosial datang, menawarkan berbagai standar penilaian baru: likes, followers, viewers, comments. Kesampingkan substansi, kini keren adalah tentang popularitas. Anda bisa punya kepala kosong atau hati kotor, dan orang-orang tetap mengikuti Anda. Ya Allah, dan diri ini dalam sebagian besar waktunya sering teryakinkan dengan standar-standar palsu itu. Ampuni hamba yang lupa dan bodoh. Bukakanlah mata hatiku agar tak terjebak dalam kepalsuan dunia.
Tulisan : Taatnya Perempuan

Bismillah ar rahman ar rahim.

catatan : tulisan ini bersifat subjektif dan merupakan hasil dari pengamatan dan pengalaman pribadi, ditambah dengan beberapa cerita dari teman sebaya.

Semasa masih lajang beberapa waktu yang lalu. Saya belum begitu memahami secara benar tentang definisi perempuan yang baik, atau yang salehah mungkin kata teman-teman yang belajar agama lebih dari saya. Bagi saya, yang masih seperti ini; kacau, ilmu agamanya cetek, bacaan qurannya terbatas, dll. Tidak ada dalam keberanian saya untuk mempersunting kesalehahan seperti yang didefinisikan dalam buku-buku, pengajian, atau yang dipropagandakan oleh akun-akun di media sosial. Bagi saya, perempuan baik adalah perempuan yang baik, cukup itu.

Kecantikan yang ada dalam benak saya pun hanya sanggup menjangkau dari apa yang dilihat dan dengar, seperti bagaimana ia berpakaian, pakaian seperti apa yang ia kenakan, bentuk parasnya, bagaimana ia berinteraksi dengan orang lain, bagaimana ia bebicara, dan hanya sebatas itu.

Sampai kemudian, suatu hari saya datang ke kajian di salah satu Masjid. Bahwa hal yang paling sulit bagi perempuan yang nantinya menikah adalah ketaatan terhadap suaminya. Apalagi ketika ketaatan itu berpindah dari orang tua kepada suaminya, dan hal-hal yang mengikuti setelahnya.

Rasanya, ilmu itu hanya sampai pada sebatas pengetahuan kala itu. Sampai akhirnya saya menikah dan memahami betul maksud dari ilmu yang dulu pernah saya dapatkan.

Bagi orang-orang yang merindukan kebebasan yang tidak berbatas, mungkin menikah akan menjadi halangan yang luar biasa. Khususnya bagi perempuan. Bagaimana tidak, sebab setiap hal yang nantinya perempuan ingin putuskan seperti keluar rumah, berpakaian, dan hal-hal krusial lainnya nanti harus melalui izin dari suaminya. Tidak hanya urusan seperti itu, bahkan urusan untuk puasa sunah pun kalau suaminya tidak mengizinkan, ia tidak boleh melakukannya.

Sebagai laki-laki saya pun merenung, berpikir lebih banyak, sambil memandang istri saya hari ini. Betapa “ridho” suami itu benar-benar jadi sesuatu yang amat berharga. Dan sebagai laki-laki saya menjadi mengerti tentang makna-makna yang selama ini abu-abu dalam kehidupan berumah tangga.

Menikah itu harus bisa mengendalikan ego. Saya berusaha untuk meredakannya dan dalam sekian bulan pernikahan ini, saya merasa cukup berhasil. Saya tidak ingin mempersulit istri saya demi melihatnya merasa cukup lapang dalam menjalani kehidupan berumah tangga. Tidak mengekangnya, saya berusaha memberi pilihan-pilihan yang lebih luas dan leluasa. Saya juga selalu berusaha mendukung setiap pilihan-pilihannya yang baik.

Dan saya pun menjadi paham bahwa ketaatan seorang istri itu tidak bisa kita tuntut, ia lahir dari kepercayaannya kepada kita (laki-laki). Dan saya pun menjadi paham bahwa kecantikan yang hakiki dari seorang perempuan adalah ketaatannya. Ia menyadari bahwa setelah menikah, dirinya tidak lagi bebas. Ada suami yang menjadi pertama dan utama. Ada keputusan-keputusan yang dulu ketika masih sendiri, ia bebas memilih, kini harus melalui izin suaminya. Dan berbagai hal lainnya.

Dan ketaatan itu sungguh akan mengalahkan seluruh atribut kosmetik yang menghiasi wajah, jilbab lucu yang ditawarkan di online shop, dan gamis-gamis panjang yang warna-warni yang melekat di tubuh para model dan endorser. Maka, beruntunglah bagi laki-laki yang mendapatkan perempuan yang memahami tentang ketaatan. Dan beruntunglah perempuan yang mendapatkan laki-laki yang tidak semena-mena dalam menjalani kehidupan rumah tangga.

Ketaatan perempuan itu bisa menjadi jalan surga bagi perempuan. Juga bagi laki-laki. Dan kini, kami sama-sama belajar untuk memaknai ketaatan kami kepada Tuhan sebagai jalan kami dalam menjalani rumah tangga ini. Bismillah :)

Yogyakarta, 15 Maret 2015 | ©kurniawangunadi

I think I’ve figured out why Ed saying to Oswald “Love is about sacrifice” bothered me so much.

He’s right, of course. Sacrificing something willingly is one of the deepest and truest ways to prove one’s love for another. 

Asking or expecting someone to sacrifice something for you to prove their love is abusive.

I’m a slut for Nygmobblepot as much as the next person, and I love Ed dearly…and of course, I don’t think Ed was intentionally being toxic, but kids…Nygmobblepot is not the poster-child for a functioning, healthy relationship. This is Gotham.

anonymous asked:

I'm so confused as to who the prince is in your new art. It could be Keith, but I thought Keith switched with Lance and I think Shiro switched with Keith?? Also Sunshine is ssososososoos cute in this ok thank you the art is amazing.

I’m confused as well why so many people thought Prince is Keith, it looks so Shiro for me. Probably because of reddish markings? Hair? Idk I feel like I broke so many minds with it, I’m sorry guys  x)

I answered about all their roles here (x)

The Survivor is not Shiro as Keith (or Shiro as Shiro), it’s Keith as Shiro. He has galra arm (left, not right one), scar and grey strands because he “took” Shiro’s role and some his atributes.
The Prince is Shiro as Allura. He wasn’t prisoned by Galra so he has no the scar, both of his arms are real and his hair is naturally black and smooth. Red markings are just aesthetically pleasing and remind me about original!Shiro’s scar.

I changed a little their clothing style, but you can see I left their original pallete (Brain!Allura for example). So Survival!Keith is still in red and Prince!Shiro is in black/grey + altean details. Same for their titles: it’s red “Survivor” and dark violet “Prince”. Something like that.

Sorry again for misunderstanding, anon. And thank you! ;)

Cerpen: The Way I Lose Her

Hai gaes..
What up~

Awalnya gue nggak pernah nganggep bahwa tumblr ini adalah sebuah blog, karena dari segi fitur dan efisiensitas, tumblr kayaknya lebih cocok disebut sebagai sosial media dan lebih menarik ketimbang blog dan wordpress.

Tapi, berhubung dulu gue sempet iseng menulis sebuah cerita pendek perihal latar belakang tumblr ini dalam sebuah cerpen yang berjudul, “My Beautiful Mistake” akhirnya gue jadi agak senang menulis tentang apa yang telah gue laluin semasa SMA hingga Kuliah kemarin.

Nggak berhenti begitu saja, gue yang emang pada dasarnya cuma iseng ngisi waktu sambil nulis akhirnya memotong beberapa kejadian-kejadian kecil di masa SMA dan Kuliah pada satu kesatuan cerita yang nggak terlalu spesifik. Seperti pada cerpen “Hujan Kala Itu” Dan “Sedekat Detik dan Detaknya”

Namun, entah kenapa rasa-rasanya jadi asik aja nulis kembali pecahan-pecahan cerita yang emang sebenarnya lucu kalau gue inget-inget lagi. Betapa tololnya gue yang dulu, betapa nggak pekanya gue yang dulu, betapa sering patah hatinya gue yang dulu, dan masih banyak lagi.

Maka dengan hadirnya cerpen “The Way I Lose Her” ini, semoga itu bisa menjadi penghubung cerita cerpen-cerpen sebelumnya. Dan semoga juga bisa menjawab dari beberapa pertanyaan-pertanyaan perihal Geby, Laras, Nala, Ikhsan, dan seluruh peran yang pernah datang, berteduh, lalu kemudian pergi lagi. 

So, this is “The Way I Lose Her” index..

  1. [TWILH: Tulisan Satu] -> Pilot: Im Adult
  2. [TWILH: Tulisan Dua] -> School At First Sight
  3. [TWILH: Tulisan Tiga] -> Ibu
  4. [TWILH: Tulisan Empat] -> Gue Bosnya Di Sini
  5. [TWILH: Tulisan Lima] -> Judgment Day
  6. [TWILH: Tulisan Enam] -> Happy Hunting
  7. [TWILH: Tulisan Tujuh] -> Gue Salah Apa Kak?!
  8. [TWILH: Tulisan Delapan] -> Atribut Seragam
  9. [TWILH: Tulisan Sembilan] -> Perihal Dada
  10. [TWILH: Tulisan Satu Nol] -> Boys Talk Part 1
  11. [TWILH: Tulisan Satu Satu] -> Boys Talk Part 2
  12. [TWILH: Tulisan Satu Dua] -> Ular Tangga
  13. [TWILH: Tulisan Satu Tiga] -> Mrs. Curiosity
  14. [TWILH: Tulisan Satu Empat] -> I Hate Her So Much!
  15. [TWILH: Tulisan Satu Lima] -> Is That You?

I know sometimes people said that’s my life is full of surprise and so fantastic. But you know? That’s bullshit.. it’s not easy to be me.

Ok but can we please talk about Ravenclaw Wen Junhui?   

 • Wen Junhui, who was raised in a family of slytherins 

 • His mother was a half blood though so he has a very good grasp of how the muggle world works 

 • Wen Junhui who somehow always managed to win everything as a child 

 • His parents atributed this to him being a wizard 

 • But really Jun is such a hardworker it’s ridiculous 

 • Wen Junhui, who spent all of the train rides since first year with Wonwoo, Woozi and Hoshi 

 • Except for second year when he and Woozi managed to convince the conductor to let them into the cabin 

 • Wen Junhui who expected to be sorted into slytherin as the rest of his family 

 • But above ambition and cunningness the hat sensed something else… 

• Intelligence, wit and individuality 

 • And so, even though Jun loves to win and can be incredibly ambitious sometimes, the hat decided on ravenclaw 

 • Wen Junhui who loves the ravenclaw common room above any other place in the castle 

 • Maybe even the world 

 • Because it’s quiet, and everyone is nice and blue is also his favorite color so there’s that 

 • Wen Junhui, who spent his whole life being dead scared of space 

 • Like he finds it so unsettleling and he spent most of his life hating the idea of space 

 • Wen Junhui, who is afraid of things until he understands them and that’s why he has such an affinity for astrology 

 • Wen Junhui who learned to map out every single star in space 

 • Wen Junhui who learned the meanings of every planet, who knows constellations like the palm of his hand 

 • Wen Junhui who turned one of his greatest fears into his greatest strength 

 • Wen Junhui who got into the quidditch team second year  

• He and Minghao grew up together and used to play as beaters 

 • So when I say he was a good beater, that is an understatement 

 • Also he resents Minghao entirely for not being a ravenclaw 

 • “We were supposed to be a team!” 

 • “It’s not my fault I wasn’t sorted into ravenclaw!” 

 • “Keep on lying to yourself Minghao.” 

• Wen Junhui who is really shy and this earned him the brooding bad boy reputation 

 • Until he gets comfortable and people notice that he is, in fact, an absolute dork 

 • Wen Junhui who doesn’t show up to class often but still has perfect grades 

• People don’t really know how he does it 

 • But really when he’s not in class he’s studying in the dorm rooms because he learns better on his own 

 • Wen Junhui who was the habit of saying whatever is on his mind 

• this gets him in trouble often 

• Because yes he’s quiet 

 • But he also doesn’t have a filter 

 • So comments that might seem innocent to him naturally land him on detention 

 • Wen Junhui who helps Wonwoo with potions often

 • Although Wonwoo doesn’t know Jun is helping him 

 • “Wonu, can you please hand me the glass you are holding?” 

 • “Yes why?” 

• “Nothing special, just your glass is prettier that mine, pour this into your potion instead.” 

 • “Is this the same fairy tear extract? It looks different.” 

 • “Yeah, sure it is! Now just pour it in and stir lightly for exactly thirty seconds.” 

 • Wen Junhui who takes care of everyone quietly 

 • To the point where everyone thinks he’s indifferent 

 • But really he probably saves someone’s life at least once a day 

 • Wen Junhui who doesn’t like to make profesors angry often but thrives at making Snape angry 

 • “Mr. Wen I said to do an essay on felix Felicis, what is this?” 

 • “Your essay on Felix Felicis, sir.”  

• “Why is it in Chinese?” 

 • “You didn’t specify language sir, so I had to guess.” 

 • Wen Junhui who can’t go to Hogsmade without buying something outrageously unnecessary and expensive 

 • He’s a shopaholic basically 

 • Wonwoo and Soonyoung follow him arround to make sure he isn’t buying anything outrageous 

• “You don’t need this broom!” 

 • “But Hosh look at it!” 

 • “It’s from the 1800’s” 

 • “It’s an antique!” 

 • “It’s 200 galleons Jun!” 

 • “It’s one of a kind!” 

 • Wen Junhui who surprised everyone at the Yule Ball when he started waltzing 

 • Because boy is as graceful as they come 

• Wen Junhui who was elected president of the dueling club 

 • He refused though, said he had other responsibilities 

 • Wen Junhui who once dyed his hair blue for a bet and loved it 

 • Wen Junhui who was dead scared of not being smart enough, or good enough but soon enough realized he was  

• Wen Junhui, who reminds everyone in the ravenclaw dorms constantly that they are enough 

 • Wen Junhui, who is smart, yes, but is also incredibly creative and acceptive 

 • RAVENCLAW WEN JUNHUI PEOPLE

Ravenclaw Wonwoo   Hufflepuff Seungkwan   Slytherin Minghao  Ravenclaw Jun   Gryffindor Hansol   Hufflepuff Seokmin  Ravenclaw Jihoon   Hufflepuff Jisoo   Gryffindor Chan   Hufflepuff Mingyu   Gryffindor Hoshi   Slytherin Jeonghan

I feel like I don´t even hide how much of hoe I am for Jun anymore. Also masterlist is comming soon I swear! 

Dunia itu sementara. Begitu pula nikmatnya. Makanan yang awalnya sangat menggoda, begitu nikmat terasa di awal. Tetapi kadang tak perlu waktu lama untuk berkurang getar rasanya di lidah dan hati kita.

Menunya sama, bahkan belum ada yang berubah sejak awal dimakan. Tetapi begitu perut merasa kenyang, nikmatnya mulai berkurang. Ketika rasa kenyang bertambah, nikmatnya semakin berkurang. Hingga sampailah pada puncak kebosanan ketika orang sudah kekenyangan, dipaksa pun akan berusaha mengelak.

Apakah ia merupakan keburukan?! Tidak. Padanya kita mengambil pelajaran. Dunia ini memang nisbi dan sementara. Bosan pada makanan, tak apa. Bosan pada kopi specialty pun bukan musibah selama kita tak bosan mengerjakan amal shalih untuk menuju kehidupan abadi.

Mudah bosan sama istri? Wajar. Sangat wajar bahkan jika engkau memilihnya karena kecantikan semata atau atribut dunia yang melekat padanya. Tetapi jika engkau memilihnya demi meraih ridha Allah Ta'ala, seiring bertambah tua usianya, bertambah pula rasa ini kepadanya manakala taatnya kian bertambah. InsyaAllah. Kecuali jika imanmu tergerus syubhat di saat umur semakin uzur. Na'udzubiLlahi min dzaalik.

Sungguh wajarlah jika seseorang memilih karena sesuatu yang tidak membawa pada keabadian, lalu bahagia dan rasa cintanya mudah pudar. Karena itu, pilihlah atas sebab yang membawa pada kebaikan akhirat. Semoga dengan itu kita termasuk yang kelak diseru oleh malaikat dengan seruan:

ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُونَ

“Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan.” (QS. Az-Zukhruf, 43: 70).
—  Mohammad Fauzil Adhim
Mylog: Aliran

Ketika sholat berjamaah ke mesjid, terkadang aink liat ada hal- hal yang menarik. Bukan bermaksud mencemooh, tapi suka lucu weh kalo liat tipe-tipe jamaah yang ada di mesjid. Trend hijrah sekarang merebak dimana-mana, setiap orang pergi ke mesjid dengan ‘style’nya masing-masing. Beberapa diantaranya yag pernah aink liat adalah sebagai berikut

aliran kuplukiyyah- aliran jamaah yang menggunakan kupluk sebagai pengganti kopeah

aliran muzammiliyyah- aliran jamaah yang menggunakan kain sejenis syal sebagai pengganti sorban

aliran Evi’iyah- aliran jamaah yang pede pake kaos ke mesjid

aliran-aliran diatas ga bener-bener ada, aink iseng aja namain kayak gitu. Jadi kalo lagi solat bareng temen di mesjid trus ada yang pake kupluk otomatis suka ada yang nyahut “itu aliran kuplukiyyah” atau “eh, ada jamaah hananattakiyyah”.

Gitu. Iya, somplak emang.

Menurut aink sih selama yang dipakai suci, nutup aurat dan ga bermotif aneh yang bisa bikin orang lain ga khusyu it’s okay. Cuman yang lebih anehnya lagi, kadang aliran yang macem macem itu tuh ga cuma berdasarkan atribut doang. Kadang dalam praktek ibadahnya juga ada yang aneh-aneh.

Aink bilang aneh disini karena aink emang jarang lihat di tempat lain dan ga pernah denger tentang hadits yang jadi dasar hukumnya. Aink bukan pakar fiqh atau ahli hadits. Jadi besar kemungkinan yang aink bilang aneh adalah sebenarnya sesuatu yang umum dan emang ainknya aja yang kurang gaul. Ilmunya seuprit.

Beberapa aliran aneh yang pernah aink lihat diantaranya

Aliran solat daud - aliran jamaah yang sehari solat, sehari engga. Biasanya yang baru hijrah atau baru belajar solat.

Aliran solat the flash - aliran jamaah yang solatnya cepet banget. Aink pernah jamaah taraweh di sebuah mesjid yang solat isyanya jam 7, trus tarawehnya beres sebelum setengah 8. Tarawehnya 23 rakaat, fyi. Bakar kalori banget ibadahnya.

Aliran takbir akrobatik – aliran jamaah yang kalo takbir tangannya muter dulu sebelum bersidekap di dada. Guru ngaji aink dulu kayak gitu, heran banget kok aink yang dulu ga pernah nanya itu ngapain. Shame on you, little me!

Aliran pendahulu – aliran jamaah yang gerakannya lebih cepat dari imam. Aink kadang agak ke-distract kalo jamaahan trus sebelahan ama penganut aliran ini.

Anyway, penamaan diatas ga ada sumber hukumnya, murni penamaan dari aink aja. Jangan dianggap serius. Tapi aink serius waktu nulis ini. Kadang jamaah tuh aneh aneh. Entah emang aink nya aja yang kurang gaul di mesjid.

Trus tadi beres dhuhur, ketika aink mau keluar mesjid aink liat seseorang yang solat rawatib seusai jamaahan dhuhur. Nothing seems weird until dia ngangkat tangannya seusai ruku (i’tidal), trus ngangkat tangannya dan berdoa layaknya baca qunut.

Dalem hati aink nyeletuk “ieu aliran naon deuiiii?”

Ah, positif thinking aja, mungkin beres dhuhur dia baru inget kalo tadi pagi belum shalat shubuh. wassalam

anonymous asked:

bro, imma test your patience with me. now idk shit about politics buuut i need to learn a little more than the basics of whats happening to brazil, you know? its hard since its a hole different country so im kinda limited, i understand portuguese but really need a politics for dummies to know whats happening and what will probably happen due to the hell thats going on in BR. help me and get a smile (pls??)

Man this is hard because I have no idea what you already know or not or where you’re from so I can’t really make comparisons?? but i’m gonna try to give you a general??? hold tight

so I guess first thing is understanding the system, right?

Brazil has a… multi-party presidential democracy. Ish. Hasn’t always been like that tho, in fact, brazilian history is filled with coups and not so democratic republics. It’s our thing. But right now we have a President, in charge of the executive power, then there’s the upper and lower houses of congress (Senate and Chamber, we call them, basically), and the Supreme Court, I guess just like in the US. There’s a president to the Senate, a President to the Chamber, and a few more important figures in each part of the government, like the ministers, or cabinet leaders, that hold, well, cabinets, like the one for Education or Health or Culture, etc, or the Government Leader in congress that isn’t really a formal title but also kinda is a job. 

So, our parties. There are so many of them. SO MANY. Y’all wouldn’t believe how many. Ok, about 30-40 of them. But really, who the fuck knows all of them? I don’t, so we’re gonna stick to the most important ones. But for that, quick history lesson: 

Remember when I said we haven’t always been, uhm, this? Yeah, up until the late 80′s Brazil was on a Dictatorship (not the first we had, but the worst we had, arguably) (and I have to control myself not to tell you the whole thing cause I just love brazilian history???? but imma stick to what’s important) THE POINT IS: during those years, only two “parties” were allowed to exist, the… pro-dictatorship party and the… consented opposition party (we like to call them the “yes” and the “yes, sir” parties cause of the obvious). Consented opposition party was called MDB (founded in 65′). When dictatorship ended, they turned into PDMB (in 1980). You’re gonna have to get used to the acronyms because we only use them here. Sometime later, in 88, some people left PMDB to found PSDB, and at the time the plan was to have it a bit more to the left than PMDB that was a pretty center-right wing party. More to the left of both of those, also in the 80′s, our Workers Party is founded, PT. Not a socialist/communist party, whatever some may think until today. You might be wondering what happened to the dictatorship supporters party, right? They’ve changed names a few times through the last decades, nowadays they’re DEM, a right wing party (ironically enough, their acronym comes from Democrats).

Nowadays you can say PSDB is a center-right wing party, PT is center-left, and PMDB is wherever it pleases (mostly center-right, though). “Isn’t there a REAL left wing then????” there is, but it’s not exactly the most powerful thing in existence, so most people atribute the “left” nearly entirely to PT, cause up until a couple of years ago, it was majorly powerful. We’ll get to that. Anyway, some left wing parties are PCdoB and Psol and a shit ton of other small ones.

Back to history. When dictatorship was ending people made an awful lot of deals to get one dude (Tancredo Neves) into the presidency (not popular vote yet, some sort of electoral college) but cause we’re in Brazil and shit just can’t be simple HE DIED before taking office then his vice president (who had just kinda changed parties to make the run) became the first post-dictatorship president. This dude is called Sarney and he’s alive until today and we like to call him The King of a state because his family basically owns it. And it’s a big state and in pretty bad condition (if you want we can come back later to why so many families are so powerful and so entirely into politics and basically owners of whole states and how Oligarchies have always been a thing BUT in another post). He’s a senator now. Yeah, cause that’s a thing, you don’t have to end your career after being president here. Oh, both of those were like, from PMDB.

Then we finally got to vote and we elected this one young unknown dude who was promising to end corruption (I mean, they all do, but, big time), his name was Collor, and he got impeached for corruption a couple of years later. Yes, you’re allowed to laugh. He was from PRN, we’re not gonna talk about this party here, no relevance. His vice president took over, Itamar Franco, and if you guessed it you probably got it right: he was from PMDB. The country was still in a big ass crisis coming all the way from the dictatorship years and Collor had just screwed up massively too so when Itamar KINDA got things under control his economy cabinet leader got big time praise…… and got elected president a couple of years later for PSDB. His name is Fernando Henrique Cardoso (we like to call him FHC) and he’s still alive too. 

So we got a few years of PSDB there cause they approved reelection in congress at some point there - let’s be honest, it’s because they were scared of the increasing popularity of somebody else that had been running in the past elections too: Lula, the big leader of PT - and they were right to, cause Lula would get elected finally in 2003 and reelected after, staying until 2011, and would hand pick his successor and get her elected: Dilma Rousseff, who would also get reelected. As you might have heard, she got impeached last year, leaving office to her vice president, Michel Temer, from… PMDB. 

For the past couple of decades, our political scenario pretty much got divided into PSDB and PT running against each other (and against a ton of minor parties that didn’t quite make it) in every election, with PT winning all of the ones mentioned above. But in any and all of the governments, deals had to be made to get - you guessed it - PMDB support. If there’s one thing you have to know about these last years of Brazil is that no one, no one can govern without PMDB. And the reason to that is on it’s historical basis: it’s basically the oldest and biggest party we got. So EVERYWHERE there’s someone from there, so they get plenty of space in government, they make most of congress, they make most of the senate, they make most of the local powers, etc. And like that, unelected, they got to the Presidency quite a few times. When I said before that they go wherever they want to, is because they’ll lean to whichever side can grant them power, and not even collectively - you can see some of them aligning to left wing politicians in some parts of the country while others get allied to right wing politicians in another part in the same election, since there are no rules against that. Today, since they hold the presidency and most of the other important roles, their main ally is PSDB, but a few years back they were the main supporters to PT, so, really, the rule should be “don’t trust them and expect anything and everything”. 

I think… this kinda covers the basics. Very basics. Roughly. It would be important for you to understand the whole Impeachment mess of the past couple of years. I have a couple of posts on that here and here and here and here and you can always go to my politics tag to search for more comments on everything. Idk, bring me objective questions or just what more you want to know after this so I can help more??? i’m really kinda lost on what to tell you and there’s sooo much to brazilian history that is important, but I think this post is way too long already x) I like telling the stories though, so ask away

Berikan Porsi yang Tepat Pada Simbol-Simbol Islam

Bismillah

Saya termasuk muslim yang tidak begitu hobi menggunakan simbol-simbol yang lekat dengan Islam.

Misalnya saja peci. Tentu setiap orang bisa punya alasan yang berbeda untuk mengenakan ataupun tidak mengenakan peci, dan saya menghormati itu.

Tetapi, bagi saya, peci memiliki dua fungsi:

1. Sebagai benda fungsional, yaitu untuk menutupi rambut yang mungkin acak-acakan, agar terlihat lebih sopan dan layak–terutama ketika shalat shubuh, di mana rambut kita sedang berada dalam kondisi paling tidak beraturan karena baru saja bangun dari tidur.

2. Sebagai benda simbolik, yaitu untuk (a) menciptakan experience pribadi bagi si pengguna bahwa “Saya sedang dalam mode bertakwa/super Islami/sholeh”; (b) juga sebagai alat identitas yang membuat si pengguna merasa nyaman ketika berinteraksi di dalam kelompok muslim (perasaan I belong to this group), atau merasa puas dengan menunjukkan identitas keislamannya di hadapan khalayak umum (look, I am a muslim!).

Saya masih mau menggunakan peci untuk memenuhi fungsi pertama, tetapi tidak untuk memenuhi fungsi kedua.

Masalah Dengan Simbolisme

Islam bisa mengubah dunia dan mencapai kejayaan karena mengamalkan konsep/substansi ajarannya.

Itu juga yang terjadi dengan Dunia Barat. Mereka menguasai dunia hari ini karena mengamalkan substansi. Bedanya, substansi mereka bukan berasal dari agama mereka, tetapi dari ilmu pengetahuan.

Namun, ketika para pemimpin Islam di era kekhalifahan menjadikan Islam hanya sebagai label/simbol semata–mereka bermewah-mewahan, berebut kekuasaan, di bawah bendera “khilafah”, maka yang terjadi adalah kemunduran hingga keruntuhan.

Jika demikian, perlukah kita meninggalkan simbolisme Islam?

Sama sekali tidak, sebab sebagian ajaran Islam pun berbicara tentang simbolisme. Misalnya, anjuran Nabi untuk memanjangkan janggut dan mencukur kumis, dengan maksud menyelisihi/membedakan diri dari kaum Yahudi saat itu.

Simbolisme menjadi masalah ketika energi kita begitu terfokus kepadanya, sementara kita membiarkan substansi ajaran Islam tergeletak seperti tak bertuan.

Salah Prioritas

Ada masa saat saya masih duduk di bangku kuliah, saya dan sejumlah aktivis Islam di kampus begitu serius memelihara “budaya Islami” dalam organisasi kami.

Rapat selalu di masjid, pakai hijab/pembatas, dibuka dengan tilawah, tak ketinggalan taushiyah, bahasa “ane-ente”, tepuk tangan diganti takbir.

Tetapi giliran kerja, performanya medioker. Kedisiplinan buruk. Kreativitas payah. Budaya permisif tinggi. Nilai tambah dari program-program minim. Kalau bikin acara, yang hadir ya orang-orang kita juga.

Tentu dua hal tersebut–budaya organisasi dan performa kerja, sebenarnya tidak perlu tarik-menarik. Yang terbaik adalah yang menjaga budaya organisasi dan produktif mengelola program-program yang berdampak.

Hanya saja, kalau saya pikir-pikir sekarang, saat itu kami salah dalam memahami prioritas.

Kalau kita sebegitu seriusnya menjaga “ritual-ritual” simbolik, mestinya kita juga memberikan porsi keseriusan yang lebih besar untuk hal-hal yang bersifat substantif.

Mestinya, Islam yang kita pahami tidak hanya direalisasikan secara serius untuk urusan manajemen rapat, tetapi juga direfleksikan secara serius melalui dampak dari program-program yang kita kerjakan.

Membaca Qur’an Namun Diperangi Rasul

Saya teringat sebuah hadits, yang redaksi lengkapnya sebagai berikut:

“Akan muncul di akhir masa ini nanti sekelompok orang yang umurnya masih muda-muda dan lemah akalnya. Apa yang mereka ucapkan adalah perkataan manusia yang terbaik. Mereka suka membaca al-Qur’an, akan tetapi bacaan mereka tidak sampai melewati pangkal tenggorokan mereka. Mereka melesat dari agama seperti halnya anak panah yang melesat dari sasaran bidiknya. Apabila kalian menjumpai mereka maka bunuhlah mereka. Karena sesungguhnya dengan terbunuhnya mereka maka orang yang membunuhnya itu akan mendapat pahala di sisi Allah pada hari kiamat kelak.”

(HR. Bukhari dan Muslim dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, ini lafaz Muslim)

Konteks hadits itu, menurut sebagian ‘ulama, membahas tentang kaum khawarij. Tetapi mari kita fokus melihat salah satu perilaku yang digambarkan dalam hadits tersebut.

“Mereka suka membaca Al-Qur’an, akan tetapi bacaan mereka tidak sampai melewati pangkal tenggorokan mereka”

Bagaimana bisa suatu kaum rajin membaca Al-Qur’an, tetapi diperangi oleh Rasulullah? Bisa, jika mereka membaca Al-Qur’an sebagai sebuah ritual belaka, sebagai sebuah tindakan “simbolik” semata.

Hari Ini

Banyak sekali fenomena kekinian yang bisa kita letakkan dalam kacamata “simbolik - substantif”.

Misalnya, ada saudara-saudara muslim dari sebuah kelompok–lengkap dengan atribut peci dan baju koko putihnya, terlihat cukup sering mengadakan aksi yang keras nuansanya, bahkan terlibat vandalisme–sehingga kelompok ini dilabeli sejumlah media dan sebagian masyarakat sebagai kelompok intoleran.

Ada juga saudara-saudara muslim dari kelompok lainnya, mereka senang mengadakan pengajian bersama habib-habibnya di Ibu Kota. Sayangnya, sebelum dan sesudah pengajian, mereka juga punya “ritual” berkonvoi sepeda motor, dan biasanya terjadi di jam-jam pulang kerja, saat kemacetan sedang memuncak. Rata-rata mereka tidak menggunakan helm. Hanya peci “sakti” yang melindungi kepala, ditambah baju koko atau jaket majelis, juga sarung.

Saudara-saudara muslim dari kelompok yang lain konsisten menggemakan “tegakkan syariat Islam, tegakkan khilafah”, namun tidak mau ambil peran saat ada pertarungan politik antara kandidat yang mewakili kepentingan ummat Islam dengan kandidat yang punya masalah dengan ummat Islam.

Khusus yang terakhir ini mungkin perlu saya utarakan lebih jelas maksud saya.

Logika Bodoh Saya tentang Khilafah

Khilafah adalah nama dari sebuah sistem yang tidak memiliki referensi baku, sebab Al-Quran maupun hadits tidak menjelaskan detail-detailnya, seperti mekanisme pemilihan khalifah atau struktur pemerintahannya–misalnya (mohon koreksi dan beritahu saya jika saya salah).

Jika demikian, maka manusialah yang berijtihad merumuskan sistem kekhilafahan (maka argumen “demokrasi = sistem buatan manusia = sistem thaghut” kurang baik, sebab khilafah pun dirumuskan detail sistemnya oleh manusia, meskipun secara prinsip dibangun dalam koridor Islam).

Bayangkan, khilafah berdiri sejak zaman Abu Bakar menjadi khalifah pertama di tahun 632 M, hingga kekhalifahan Turki Utsmani runtuh pada tahun 1924 M. 13 abad jaraknya!

Dalam waktu yang sangat lama itu, kompleksitas masalah yang ditangani dari waktu ke waktu pasti  mengalami perkembangan yang luar biasa, yang menuntut penyesuaian dan perubahan pada sistem kekhilafahan.

NKRI yang usianya baru 0,72 abad saja sudah mengalami sekian banyak penyesuaian dan perubahan dalam tata kelola negara.

Artinya, sekali lagi, pasti ada ijtihad manusia di dalamnya untuk menghadirkan suatu sistem yang bisa kompatibel dengan realitas yang dinamis, sambil tetap melandaskan diri pada sumber-sumber hukum Islam. Nah, inilah kurang lebih “substansi” dari kekhilafahan, tanpa bermaksud oversimplifikasi.

Sementara itu, struktur pemerintahan, bahkan istilah “khilafah” itu sendiri, adalah metode dan “simbol”-nya, yang menurut saya mestinya bersifat fleksibel dan adaptif.

Saya bukan pembela dan pecinta demokrasi. Demokrasi punya kelemahan, disamping punya kelebihan, seperti halnya semua bentuk pemerintahan–termasuk kekhilafahan.

Namun jika ternyata hari ini bentuk pemerintahan yang paling kompatibel dengan realitas adalah demokrasi (hadirnya transparansi, adanya check and balance, disepakati masyarakat secara masif, dll), maka yang lebih produktif menurut saya adalah membuat kepentingan-kepentingan ummat Islam terakomodasi di dalamnya (ini termasuk menyelaraskan hukum Islam dengan hukum negara).

Penutup

Tulisan bodoh ini lahir secara spontan karena dinamika yang terjadi belakangan: ummat Islam seperti sedang dipojokkan. Dilabelisasi. Distigmatisasi. Diseret citranya sedemikian rupa, di rumah kita sendiri.

Ini sangat menyedihkan dan membuat saya geram, namun alih-alih “menyatakan perang”, saya rasa kita perlu mencurigai diri kita sendiri terlebih dahulu. Jangan-jangan, kita yang memulai?

Kita gemar memamerkan simbol-simbol Islam, namun seolah tak pernah diajarkan ajaran-ajaran inti Islam. Kita lantang mengatakan “Saya bersama Islam”, namun malah membuat citra Islam tenggelam bersama buruknya akhlak kita.

Bagi saya pribadi, ini adalah lonceng untuk bekerja, membuktikan bahwa Islam dan ummat Islam bukanlah the bad guy.

Ini adalah babak untuk kita bekerja dengan cara yang keren dan cakep, berfokus untuk membumikan substansi Islam dan menempatkan simbolisme Islam sesuai porsinya masing-masing.

Sehingga, suatu hari kita tidak perlu berdebat dengan orang-orang demi meyakinkan mereka bahwa Islam adalah yang terbaik, karena mereka akan mengambil kesimpulan itu dengan sendirinya setelah mereka melihat-mendengar-merasakan Islam dari realitas yang mereka alami.


PS: Saya meminta maaf kepada siapapun yang merasa tersinggung dengan kata-kata saya, dan saya memohon ampun kepada Allah atas hal itu. Saya tidak bermaksud menyinggung perasaan siapapun, apalagi perasaan saudara sesama muslim. Mohon dibukakan pintu maaf dan ingatkan saya jika ada hal yang tidak pada tempatnya.

SELFIE2 #2: (Terlambat) Mencari Jati Diri

Psikologi sosial adalah salah satu mata kuliah favorit saya saat kuliah karena pembahasan-pembahasan di dalamnya yang menarik, terutama tentang bagaimana pola interaksi individu di dalam kelompok atau masyarakat. Salah satu yang masih saya ingat, saat itu kelas Psikologi Sosial yang saya ikuti pernah membahas tentang perilaku individu ketika memperkenalkan diri kepada orang lain. Uniknya, baik individu yang tinggal di negara-negara timur ataupun di negara-negara barat, selalu menyandingkan atau mengikatkan dirinya terhadap sesuatu yang lain yang ada di luar dirinya. Ketika diminta untuk mengenalkan diri, jawaban paling standar pasti tak jauh dari, “Saya berasal dari kota X, lulusan fakultas Y di universitas Z. Anak dari Bapak A dan Ibu B, sekarang sudah menjadi isteri dari C dan ibu dari D …” dan begitulah seterusnya.

Tapi, tidakkah hati kita tergelitik untuk mulai mempertanyakan tentang siapakah kita sebenarnya?

Jika pertanyaan dilanjutkan dengan, “Iya, kamu yang berasal dari kota X, lulusan fakultas Y di universitas Z, anak dari Bapak A dan Ibu B, sekarang sudah menjadi isteri dari C dan ibu dari D, dan seterusnya itu siapa? Siapa sebenarnya kamu di dunia ini?” apakah kita akan mampu menjawabnya dengan tepat? Coba dipikirkan, jika pertanyaan itu terlontar dari seseorang kepada kita, akan seperti apakah kita menjawabnya? Jika semua atribut dunia dilepas, jika semua yang sebelumnya melekat dalam jawaban kita dihilangkan, akan dengan jawaban apakah kita menjawab pertanyaan tersebut? Hmm, ternyata, pertanyaan yang jauh lebih mendalam ini tidak bisa dijawab dalam tataran Psikologi Sosial yang memang tidak membahasnya.

Hampir satu setengah tahun yang lalu, pertanyaan tentang ‘siapakah sebenarnya kamu di dunia ini?’ tanpa diduga terlontar dari seseorang kepada saya. Dengan idealisme khas mahasiswa tingkat akhir, saya menjawabnya dengan sederetan hal yang terikat pada diri saya. Kemudian, betapa malunya saya ketika menyadari bahwa bukan itu jawaban sebenarnya sampai akhirnya lawan bicara saya berkata, 

“Nov, kita ini hamba Allah lho. Udah titik. Repot amat cari jawaban panjang lebar kayak lagi ujian lisan. Haha.” 

Saya pun merah padam, lalu memilih menjadi gelas kosong untuk mendengarkan penjelasan lawan bicara saya itu selanjutnya hingga saya menjadi paham.

Ketika kita merasa sudah tau tentang siapa diri kita, apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan kita, apa misi tujuan jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang yang kita miliki, serta apa saja yang ingin kita lakukan di hidup ini, mungkin kita akan merasa telah menemukan jati diri. Tapi ternyata, kita hanya GR alias gede rasa saja. Sebab, nyatanya pencarian jati diri tidak hanya membahas hal-hal sederhana semacam itu. Lebih dalam lagi, pencarian jati diri adalah juga tentang mengetahui siapa sebenarnya kita di dunia, yaitu hamba yang diciptakan-Nya dengan bertujuan untuk beribadah kepada-Nya.

Sekarang, coba bayangkan sebuah analogi tentang seorang khadimah atau asisten rumah tangga. Kira-kira, apa yang harus dilakukannya di rumah? Tentunya mengerjakan apa yang diperintahkan oleh tuannya, bukan? Jika tidak, tentu tak salah jika tuannya marah. Selanjutnya, bayangkanlah juga analogi tentang seorang pesuruh di sebuah kerajaan besar. Apa yang sangat penting untuk dilakukannya di kerajaan? Mengerjakan apa yang diperintahkan oleh raja, bukan? Jika tidak, wajar saja jika pada akhirnya sang raja menjadi naik pitam. Begitupun dengan kita di dunia ini, sebab kita adalah hamba Allah yang diciptakan-Nya, maka tak ada yang lebih penting bagi kita selain menghamba kepada-Nya dengan sebaik-baik penghambaan. Jika tidak, bukan tidak mungkin jika Allah menghukum kita dengan cara apapun yang dikehendaki-Nya. Naudzubillahi min dzalik.

Dulu, ketika pertama kali mengetahui bahwa saya adalah hamba Allah, saya sangat sedih karena merasa terlambat menemukan jati diri yang sesungguhnya. Lalu saya pun tergelitik untuk mulai menyalahkan keadaan, “Mengapa orang-orang terdekat tidak pernah ada yang memberi tahu ini sebelumnya kepada saya? Mengapa saya tidak tergerak untuk mempelajarinya di majelis ilmu? Mengapa baru sekarang dan bukan sejak dulu?” begitulah, penyesalan memang menyedihkan. Tapi, saya kemudian semangat lagi ketika seseorang yang menjadi teman belajar saya mengatakan, “Nov, engga apa-apa, semua sudah ditetapkan Allah dengan sangat baik sedemikian rupa. Tentang yang sudah berlalu di belakang, biarkanlah berlalu dan maafkanlah. Sekarang, ketika kamu sudah tahu bahwa ternyata kamu adalah hamba Allah, lakukan perbaikan terus-menerus kedepannya. InsyaAllah, Allah akan memudahkan.”

Bagaimana, apakah kamu baru mengetahui hal ini sekarang? Tidak masalah, jangan sedih, jangan merasa terlambat menemukan jati diri dan meratapi apa yang telah terjadi di masa lalu. Sebab, Allah tentu bermaksud baik atas segala sesuatu, mungkin Dia ingin kamu belajar dari masa lalu dan mulai memperbaiki diri dari sekarang. Semangat! Ayo kita upayakan upaya terbaik agar kita bisa menjadi sebaik-baik hamba yang taat dan patuh kepada-Nya.

Let’s Look Into Yourself!

_____

Tulisan ini adalah bagian dari rangkaian #30daysramadhanwriting yang saya tuliskan selama bulan Ramadhan 1438 H dengan tema “SELFIE 2 - Let’s Look Into Yourself!” Setiap harinya, tulisan-tulisan dengan tema ini akan dimuat di novieocktavia.tumblr.com pada pukul 16.30 WIB. Untuk membaca tulisan lain dalam project ini, klik disini. Serial ini bermula dari #30daysramadhanwriting dengan tema yang sama di tahun sebelumnya. Untuk membaca serial selfie di Ramadhan 1437 H, klik disini.

People always say to me that my dislike for dany is rooted in sexism and that if jon were to do the same, i wouldn’t complain. But this episode highlighted their differences way better than i could have ever put into words. book!dany can actually be speared from this criticism, however on today’s episode the Mereenesse plot (that is taking forever in the books) was solved in like, ten minutes, bc DrAGoNS™. Dany, on the show, has no real dangers, everything comes easily to her: the ships she needs, the men she needs, the support from the houses of westeros (asha and theon are the first, dorne will probably follow soon after and we know everyone will most likely bend the knee in KL), even Tyrion’s advice and support is quite literally introduced in an episode called ‘The Gift” jfc. 

But with Jon and Sansa and the North in general, nothing comes easy: they do have to fight for what they have. Fight for Winterfell and Rickon, and that has a price. Rickon was the price, Rickon was what was at stake. They can -and they did, several times- lose something they hold most dear. The starks have been paying for their mistakes since Bran was pushed from the tower: ned pays in KL for catelyn’s mistake at the inn (taking tyrion), sansa pays for her mistakes being held captive in the capital, robb and jon pay theirs with their lives. 

the point is, dany makes no mistakes on the show. and the mistakes she makes on the book are ignored (Quentyn Martell), deemed unimportant (slavery back on Yunkai and Astapor, the sons of the Harpy), or atributted to Tyrion (failing negotiations with the Masters, Mereen’s siege).

And that’s not even getting into the fact that dany’s biggest problem on the books is that her dragons don’t obey her commands. But on the show, her dragons do whatever she wants them to do. need some help with the fighting pits? drogon’s here to help. need some help boosting the dothraki’s morale? drogon’s here to help. need to burn enough ships as to release the -very timely- siege in mereen? drongon’s here and, look, rhaegal and viserion are totally cool following you even though you kept them in chains for months. 

It’s frustrating, and it is boring as hell.

and i cannot understand how people who like her cannot see that. Her role has been reduced to “looking fucking cool on a dragon”. I cannot understand why people who actually like her are not fucking furious.