atributes

I think I’ve figured out why Ed saying to Oswald “Love is about sacrifice” bothered me so much.

He’s right, of course. Sacrificing something willingly is one of the deepest and truest ways to prove one’s love for another. 

Asking or expecting someone to sacrifice something for you to prove their love is abusive.

I’m a slut for Nygmobblepot as much as the next person, and I love Ed dearly…and of course, I don’t think Ed was intentionally being toxic, but kids…Nygmobblepot is not the poster-child for a functioning, healthy relationship. This is Gotham.

Allah akan membimbingmu jika kamu memang siap untuk dibimbing.

Allah akan mempertemukan jika kamu memang siap untuk dipertemukan.


Allah akan meneguhkanmu menjadi sebenar-benar Imam jika kamu memang sudah siap dengan atribut yang melekat pada diri seorang Imam.


Begitu juga dengan cita-citamu menjadi madrasah terbaik.
Allah akan jadikanmu salah satu yang terbaik diantara ibunda penerus generasi ulama dan mujahid, jika kamu meneguhkan hatimu untuk senantiasa bersiap, tanpa mencari alasan bahwa esok atau lusa adalah waktu yang tepat untuk bersiap.

—  ©Quraners
Tulisan : Khawatir

Kalau pikiran saya sedang melayang jauh, saya seringkali membayangkan tentang kematian. Kematian selalu berhasil membuat saya merenung, kembali tersadar kalau hidup ini tidak lama. Kematian juga berhasil membuat saya menjadi lebih hati-hati dalam berbuat.

Kekhawatiran saya kali ini adalah tentang “Bagaimana bila apa yang kita kerjakan itu menjadi sesuatu yang memberatkan orang tua kita nanti di hari penghakiman.” Kekhawatiran yang merupakah buah dari pengamatan saya terhadap apa-apa yang terjadi dilingkungan bahkan kawan-kawan dekat saya hari ini.

Disaat ruang privasi semakin hilang, di saat setiap orang rasanya justru ingin selalu “menampilkan” diri. Dan semua bentuk produk buatan manusia seolah-olah ditujukan untuk penampilan tersebut.

Bagaimana kalau apa yang kita kerjakan, foto-foto kecantikan yang kita unggah ke media sosial, suara-suara merdu mendayu kita rekam dan didengar oleh milyaran manusia, juga atribut-atribut privasi yang seharusnya terjaga menjadi terbuka ternyata menjadi sesuatu yang memberatkan orang tua kita nanti di yaumil akhir? Ketika perbuatan kita tersebut dianggap sebagai kelalaian orang tua kita dalam mendidik kita? Mungkin dengan pemikiran “kekinian” kita yang berbeda dengan zaman orang tua kita, membuat kita pandai membenarkan dan pandai memberi alasan kepada orang tua untuk mendukung apa-apa yang kita kerjakan? Bukankah kita sedang mendzalimi orang tua kita sendiri?

Tidakkah kita berpikir sebelum melakukan sesuatu? Apakah ini bermanfaat untuk kehidupan akhirat kita, atau hanya untuk kesenangan kita dan keinginan kita terhadap uang? Uang dari hasil mengekspos kecantikan, mengekspos diri kita sebagai media iklan. Kita dibayar untuk menjadi pengganti banner, spanduk, poster, dan baligho.

Ketika kita berbicara tentang agama, apakah kita berbicara dengan hawa nafsu atau kemurnian jiwa?

Ketika katanya kita ingin mensyiarkan kebaikan agama ini, apakah itu benar-benar untuk agama ini atau untuk hawa nafsu kita? Atau ternyata untuk kepentingan kita, juga kepentingan kelangsungan hidup kita dalam kenyamanan dan ketenaran?

Wallahu’alam, semoga Allah menyelamatkan hati dan pikiran kita, menjaganya tetap dalam iman meskipun rasanya seperti menggenggam bara api.

Selamat berjuang menjadi anak-anak yang berbakti, yang berusaha untuk menjadi alasan dan sebab orang tua kita dimudahkan di kehidupan nanti :)

Malang, 21 September 2016 | ©kurniawangunadi

Baiknya para pemilik modal dan penguasa tidak usah terlalu memaksakan framing kebhinekaan versi mereka. Saya malah menangkap kesan arogan dari aksi atau parade 412 ini. Aksi 212 tidak perlu untuk ditanding-tandingi.

Siapapun donatur dan penyelenggaranya, 412 ini beneran maksa. Malah semakin terlihat kebobrokan dan kebusukan di belakangnya. Mulai dari menabrak aturan CFD yang tidak boleh ada aksi/atribut politik, pengerahan masa PNS, sampai pengerahan masa bayaran yang rekaman lapangannya mulai viral tersebar via media sosial. Masyarakat malah semakin tau siapa orang jahatnya.

Kalau tujuannya untuk apresiasi dan penghargaan bagi kami orang Islam, kami haturkan terimakasih. Tapi lebih baik kiranya kalau memang mau mengapresiasi dan menghargai, kurang-kurangilah framing yang menyudutkan Islam di media-media mainstream yang ada saham kalian disana.

Tapi kalau tujuannya adalah untuk pengalihan isu dan merusak hagemoni 212 dimana peristiwa Jumat kemarin ini benar-benar membakar semangat dan kebanggaan orang-orang Islam, saya katakan 412 ini sedikit berhasil. Faktanya, baru dua hari setelah 212 selesai di timeline saya banyak berseliweran komentar perihal aksi parade lalala 412 ini. Bahkan tulisan ini pun untuk mengomentari 412. Hanya saja, perihal keimanaan dan pembelaan Al-Qur’an bagi kami bukan sesuatu yang dapat dialihkan oleh apapun. Seburuk-buruknya kualitas iman dan ibadah kami, Al-Qur’an sudah jadi bagian tak terpisahkan yang diam-diam kami cintai sejak kecil.

Saran saya, gak apa-apa terusin aja. Supaya makin jelas hitam dan putihnya, supaya masyarakat tau siapa yang harus dibela dan tidak perlu dibela.

Jakarta, 4 Desember 2016
@taufikaulia

Persoalan Sandal Jepit

Tenang rasanya hati manusia, kalau untuk persoalan sandal jepit yang putus saja, ngadunya ke Allah. 

Memutuskan untuk mengadu pada makhluk bisa saja menjadi tepat, ketika bukan solusi yang ingin dicari, tetapi lebih untuk menghargai dan menghormati keberadaannya. Dan itu baik.

Ia yakin, ndak ada yang memiliki kemampuan memahami dirinya dengan akurasi 100% kecuali Rabb-nya, walaupun itu sahabat terbaiknya, pasangannya bahkan dirinya sendiri.

Ia juga sudah paham, persoalan yang datang tidak lagi memiliki atribut besar-kecil atau berat-ringan, karena pertanyaan paling esensial yang perlu ia jawab adalah “kepada siapa ia akan mengadu?” dan “seberapa berpengaruh persoalan tersebut kepada kadar keyakinannya akan kebaikan & pertolongan Allah?”

“وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ”

Jadi gini,

Saya adalah seorang pengguna gojek sejati, apalagi sejak ada promo diskon untuk metode pembayaran gopay, saya makin merasa terbantu dengan gojek.

Waktu saya ke Jakarta tempo hari, saya kemana-mana ngandelin gojek. Gatau deh kalau ga ada gojek di dunia ini nasip saya bakal gimana, mungkin saya udah jadi gelandangan ibukota.

Setelah sekian lama pake jasa gojek, saya menemui jenis driver yang macem-macem. Jenis driver favorit saya adalah driver yang wangi dan ga banyak ngajak ngobrol hehe, karena ngobrol di motor ribet ya raaaabbb, ga kedengeran jadi kadang saya suka iya-iya aja padahal ga kedengeran apa-apa :(

Karena sering pake gojek, saya mulai meninggalkan angkot dan ojek pangkalan. Ya gimana ya, sebagai konsumen saya pasti lebih pilih transportasi yang murah, nyaman dan mudah diakses. Mungkin ini juga yang bikin supir angkot dan ojek pangkalan ngamuk karena kehilangan pelanggan.

Di Bandung, driver gojek belum pake atribut jaket dan helmnya karena mereka takut digebukin ojek pangkalan. Malah kadang saya kalau pesen gojek abangnya suka minta nunggu di tempat yang jauh dari ojek pangkalan karena takut dikeroyok.

Saya juga bingung, kasian juga sama abang angkot dan ojek pangkalan yang mungkin pulang-pulang selalu ngecewain anak istri karena uang setorannya kurang. Emang udah saatnya pemerintah bikin kebijakan baru supaya konsumen senang, penyedia jasa transportasi juga ga kehilangan penghasilan. 

Diluar itu semua, yang terkena dampak dari transportasi online tapi diem-diem aja adalah abang becak. 

Becak saingan sama ojek pangkalan aja udah susah apalagi ditambah saingan sama ojek online. 

Saya kalo berangkat ke kantor ngelewatin pangkalan becak suka sedih karena ngeliat abang-abang becaknya cuma tidur-tidur doang jarang narik. Jadi kepikiran kira-kira sekarang setelah ada transportasi online ini penghasilannya sehari berapa. Belum lagi harus ngantri giliran narik sama temen-temennya.

Abang-abang becak itu mungkin cuma contoh kecil dari dampak kemiskinan struktural. Mereka adalah korban dari bobroknya sistem yang ga bisa ngasih keadilan buat seluruh rakyat. Kalo ada yang mikir, ah itu mah abang becaknya aja kurang kreatif, kurang giat kerja jadinya kalah sama teknologi. Mereka bukan ga kreatif, bukan kurang giat kerja, mereka cuma ga punya akses aja untuk ke arah sana. 

Ini bakal nyambung juga ke urusan pendidikan yang lagi-lagi jadi salah sistem kenapa ga semua orang punya akses untuk merasakan bangku sekolah. Ya walaupun di sekolah juga kita jarang dikasih ruang untuk kreatif dan malah dicetak jadi manusia-manusia textbook, sih. Tapi seengganya saat ini indikator untuk punya kerjaan layak masih tingkat pendidikan.

Jangankan untuk kreatif, mungkin yang ada di pikiran abang-abang becak itu cuma gimana caranya buat menyambung hidup setiap hari. Kaya yang dibilang sama segitiga Maslow, kebutuhan pokok kaya pangan papan dan rasa aman dulu yang harus dipenuhi baru bisa aktualisasi diri.

Saya sebenernya ga pengen cuma ngeluh tapi saya juga gatau harus gimana hehe tipikal manusia basic pada umumnya. hehe.

Tapi sekali-kali coba lah naik becak lagi walaupun ga pengen-pengen banget, Walaupun lebih murah pake gojek tapi ga ada salahnya seklai-kali kasih rezeki buat abang becak.

Lagian ena ko naik becak, adem!

6

Last year Digimon design i made, should finish their evo lines someday~ 

Name: Yamaramon

Atribute: None


Name: Capramon

Atribute: Vaccine


Name: Cornusmon

Atribute: Vaccine


Yamaramon > Capramon > Cornusmon >(Aigikampomon/DNA w/Kampomon)/Faunusmon > Behemon


Name: Chloromon

Level: In-Training

Atribute: None


Name: Pipemon

Level: Rookie

Atribute: Data


Name: Kampomon

Level: Champion

Atribute: Data


Chloromon > Pipemon > Kampomon >(Aigikampomon/DNA w/Kampomon) ??? > Leviamon(Corrupted)/???

anonymous asked:

Assalaamu'alaikum, bu :)) sebagai anak perempuan baiknya mana sih yang harus dipilih antara melaksanakan niat untuk nyantri (di pondok) atau bekerja untuk membantu orangtua ? Alasan nyantri karena si anak berpikir masih banyak ilmu agama yg harus diraih terlebih menjadi hafidzah adalah cita-citanya. Mohon pencerahannya ya bu, syukran ^^

Wa’alaikumussalam adek anon yang manis :p lain kali kalo anon, panggil mbak aja gpp kok. biar saya nggak kelihatan ibuk-ibuk banget :))

saya sering bercerita impian saya S3 ke luar negeri, jadi dosen, punya perusahaan media, tralala trilili…dst…dst…perlu kamu tahu, itu bukan cita-cita pribadi saya untuk diri saya sendiri. Saya bisa sampai punya cita-cita seperti tadi, karena saya pengen ngasih hal-hal yang terbaik dalam diri saya untuk ummat.

kalau kamu tanya ke orang tua saya tentang gimana saya di rumah, mereka pasti bakal jawab….kalau saya di rumah, saya bakal melupakan semua atribut saya sebagai orang yang ambisius. Saya bakal balik jadi anak perempuan kesayangan bapak yang kerjaannya nyapu, metik cabe, metik buah-buahan di belakang rumah, baca buku dan jarang bersentuhan dengan alat komunikasi. Makanya banyak temen saya yang ngeluh kalo saya udah pulang ke rumah soalnya kalau saya udah di rumah, mereka bisa lost contact.

Keinginan pribadi saya sebenernya sederhana. Saya tuh pengen hidup di desa dengan rumah yang sederhana saja. Menghabiskan hari-hari saya buat baca buku sama bercocok tanam terus membagikan buahnya ke tetangga-tetangga. Itu lebih terasa surga bagi saya dibandingin rumah semewah apapun atau duit sebanyak apapun.

Tapi nyatanya, kita lahir bukan untuk menghadapi hidup yang demikian. Seorang muslim harus punya cita-cita besar untuk membangun ummat.

Kita kadang bertingkah seolah bekal akhirat itu cuma di masjid. Padahal, permasalahan ummat yang belum selesai, itu juga ladang amal kita. Masjid, al qur’an, dan dzikir adalah tempat kita mencari tenaga. Setelahnya, kita harus siap kerja keras untu ummat.

kalau yang nulis pertanyaan ini sesuai tebakan saya (mahasiswa semester 2), saya sarankan kamu kerja. Atau kalaupun kamu ke pesantren, yaa maksimal 1 tahun lah. Boleh lama, tapi kamu harus nyantri sambil ngajar di sana :p

Bukan berarti mencari ilmu dan menambah hafalan itu hal yang tidak penting. Tentunya akan membahagiakan sekali kalo kita bisa hafal alqur’an 30 juz. Bisa baca qur’an dimanapun, kapanpun kita mau. Tapi kita kan nggak bisa memaksakan keadaan se-ideal yang di pikiran kita. Kita harus berani menghadapi kenyataan bahwa kita sudah tidak di usia belajar lagi.

kok bisa bilang kita tidak di usia belajar lagi? mm….jadi gini…sebenernya belajar itu wajib dilakukan sepanjang usia. Tapi kalau kamu lulus kuliah dan setelah itu cuma belajar, tanpa menghasilkan amal apapun, itu artinya kamu sudah membuang waktumu yang seharusnya kamu gunakan untuk melayani ummat.

apakah belajar bukan bagian dari pelayanan? iya. Tapi waktumu untuk fokus belajar doang, udah habis. Usia kita usia amal. Dan kalau ada pemahaman kamu tentang agama yang kurang lengkap, kamu harus mau bekerja keras melengkapinya sambil beramal.

Jadi kalau mau menghafal 30 juz plus memperdalam ilmu agama, kamu harus kerja keras juga untuk memanajemen waktu biar kewajiban itu juga bisa berjalan dengan baik seiring dengan kewajiban amal-amalmu kepada orang tua dan ummat.

Kalaupun ternyata setelah membaca ini, kamu tetep milih nyantri di pesantren, kamu harus bisa jadi lebih dari santri. Dalam artian, kerjaanmu di sana nggak cuma menghafal dan belajar. Kamu harus mengerjakan satu ladang amal. Entah mengajar, entah jadi penulis, apapun…yang penting pekerjaan aktif yang bermanfaat buat ummat. Bukan cuma manfaat buat kamu sendiri.

anyway, hafalan dan belajar agama nggak harus di pesantren kok dek. Ya memang kalo di luar pesantren emang agak lama sih. Tapi semua pilihan.

Kalo usia kamu SD sampe SMA, belajar di pesantren emang bagus banget. Tapi kalo udah di usia kerja, 19 ke atas, kamu mestinya udah jadi guru yang juga belajar. Bukan usia santri lagi.

Kalo kamu tinggal di area ITS, manarul sama ma’had aisyah bisa dijadikan alternatif setor hafalan. Kalau mau memperdalam agama, rasanya kita juga sama-sama faham….bahwa di sekitar kita, ada banyak pilihan.

Saya nggak pengen nurunin motivasi kamu jadi penghafal. Insya Allah, kamu bisa jadi hafidzah…..di sini saya cuma mau kamu tahu bahwa bekerja atau menjadi hafidzah bukan pilihan. Dua hal itu bisa kita ambil dengan konsekuensi masing-masing. Butuh effort yang besar. Insya Allah kamu bisa.

3

harry and louis as poetry ♦ untitled by anonymous
Three things cannot be long hidden: the sun, the moon, and the truth. (original pictures)

#33

Kamu tidak harus cantik atau kurus atau seksi. Jika cantik dan seksi itu adalah putih karena memakai lotion kulit, berambut lurus ala model sampo, atau kurus seperti model pakaian dalam. Kamu telah cantik dan seksi dengan segala yang kamu miliki.

Kamu hanya perlu tahu dan sadar bahwa tubuhmu adalah milikmu sendiri. Tak ada manusia yang berhak mengatur bagainana penampilanmu, seberapa kurus kamu atau bagaimana semestinya berpakaian.

Kamu berhak tampak cantik karena kamu sadar akan potensimu sendiri. Bahwa kamu adalah penguasa tubuhmu sendiri. Kamu cantik bukan karena ingin menyenangkan orang lain. Tapi karena kamu punya sikap, pendapat dan selera akan apa itu cantik versimu sendiri yang merdeka serta berdaulat.

Kamu berhak memakai atau tidak memakai atribut keyakinan yang kamu muliakan. Kamu berhak memakai penutup aurat juga rambut karena meyakini imanmu secara merdeka. Tidak ada satu orangpun yang berhak mengatakan kamu direpresi atas pilihan sadarmu. Kamu berhak mencintai tuhan dengan jalan iman yang kamu anggap benar.

Kamu berhak memiliki suaramu sendiri, pendapatmu sendiri dan sikapmu sendiri. Kamu punya target yang ingin kamu capai, pengetahuan yang ingin kamu pahami dan kemampuan yang ingin kamu kuasai. Kamu tidak harus mengalah kepada lelaki lemah yang takut pada perempuan cerdas dan berdaulat. Jika lelakimu lemah barangkali memang ia tak pantas kamu cintai.

Tidak ada laki laki yang berhak dan diperbolehkan menyakitimu. Tidak ada laki laki yang punya otoritas mengatur bagaimana kamu mesti bersikap dan berpikir. Kamu mahluk merdeka yang bisa dan boleh melawan siapapun yang menyakitimu. Kamu berkuasa atas pikir dan tubuhmu sendiri.

Kamu harus berpendapat. Kamu harus bersuara. Tapi kamu berhak memilih untuk jadi pribadi yang santun. Kamu berhak menjadi ibu. Kamu berhak tidak mau menjadi ibu. Kamu berhak untuk menjadi apapun yang kamu kehendaki. Kamu berhak ingin mengabdi menjadi istri dan tentu saja kamu boleh menolak menikah jika itu adalah pilihan sadarmu.

Tentu saja kamu berhak menjadi sensitif. Kamu berhak peduli kepada mereka yang ditindas. Kamu berhak melawan mereka yang menindas. Kamu berhak membela mereka yang jadi korban kekerasan seksual. Tentu saja kamu boleh bersolidaritas kepada mereka yang menyintas. Kamu tidak harus menunggu untuk membantu yang tersakiti. Kamu adalah apa yang bisa kamu lakukan ketika yang lain diam.

Terakhir. Bersenang senanglah. Jangan lupa bahagia.

Dan 17 Agustus hanya menjadi sebuah perayaan basi atas suatu hal yang katamu merdeka itu, mencapai puncak-puncak gunung dengan atribut merah putih, menuliskan kekaguman atas tanah air, tentu lengkap dengan bumbu-bumbu kalimat ultra nasionalis yang tak ada tandingannya.

Lalu ketika kau melihat anak kecil meringkuk lemas di bawah baliho diskon besar-besaran supermall, MCD, KFC dan segala macamnya, anak-anak papua dibantai karena bersuara lantang, dan segala tragedi kemanusiaan atas nama nasionalisme, kalian lebih memilih diam. Tak mau tahu.

Lalu begitu yang kalian ajarkan apa itu nasionalis?

Bedebah kalian.

A spune „Te iubesc” înseamnă a spune „Te voi iubi”, înseamnă să vorbești simultan la prezent și la viitor, să te extragi din curgerea timpului, înseamnă, cum scrie Octavio Paz, `să conferi unei ființe efemere și trecătoare două atribute divine: nemurirea și imuabilitatea`.
—  Alain Finkielkraut, Și dacă dragostea ar dăinui
Atribut Dunia

Kita seringkali terperangkap dalam penilaian dangkal tentang orang lain, di mana penilaian seringkali hadir karena pandangan berlebihan kita terhadap golongan kita sendiri. 

Karena kita lulusan universitas A, lalu menganggap bahwa manusia-manusia terbaik hanyalah orang-orang lulusan universitas A. Kita bekerja di tempat X, lalu menganggap bahwa orang-orang yang tidak berkerja di tempat X tidak memiliki kesamaan visi dan misi dengan kita. Kita berprofesi sebagai Z, maka kita menilai hanya profesi kitalah yang dibutuhkan dunia. Semua itu seringkali terjadi karena alasan sederhana : paradigma banyak orang tentang golongan kita yang dianggap ‘lebih’ dari manusia lain.

Hidup ini terlalu luas untuk kita hakimi sendiri sesuai golongan yang kita ikuti. Hati manusia terlalu dalam untuk kita tebak ketulusannya hanya dengan atribut dunia. Semesta ini terlalu beragam untuk kita sepakati bahwa kitalah satu-satunya golongan paling sempurna.

Barangkali kita perlu memperluas pergaulan untuk tahu bahwa bukan kita satu-satunya yang golongan dengan banyak keunggulan. Barangkali kita perlu memperluas hati untuk tidak main hakim sendiri atas peran orang lain yang terlihat tidak sama dengan yang kita lalui. Barangkali kita perlu memperlembut hati untuk tidak banyak mengomentari pilihan hidup orang lain yang tidak segolongan dengan kita.

Bukankah Tuhan membebaskan setiap manusia berkontribusi untuk dunia ini dengan jalan yang ingin mereka tekuni? Bukankah tempat yang saat ini kita miliki hanyalah sebab kebaikan Tuhan dan bukan karena kehebatan diri sendiri?

Ada ribuan cara menuju Jakarta. Ada jutaan jalan untuk melakukan kebaikan.  

The Gift

Kurt stood in the middle of that big and well decorated room, standing at the spot where he was ordered to stay until someone would come along. After being born into slavery, he knew better not to obey to what was he was told to do. It had been a whirlwind of a day, him making his first trip to the town square where the slave auctions were made. After two days of him becoming of age, it was his destiny to step on that small stage and show his atributes to the rich people there, and who would make the highest bid was the one who got to take him home with him. Surprisingly enough, the person who won the auction didn’t look like a rich person perse, but Kurt wasn’t about to question the reason or means of that man. He knew his place.

Of course, what he wasn’t expecting was to actually arrive to the castle that looked down on all the town at its feet, the house of the man who ruled over all the people there. The King’s Castle. He wasn’t allowed to ask what was going on, so all he could do was to stand there in the middle of the room, his hands held together over his lap while he wore an old robe, and his head low with his eyes looking at the floor, which grew wider as he heard strong steps coming towards the door, then the door itself creaking in its hinges as it was opened.