arsip lama

Angin Utara (eps.4)

Dan Tisha yakin pasti, angin utara perlu bantuannya untuk memberi tahu cenna, ada satu buku yang ditulis khusus untuknya.

***

“Cen, lo tahu angin utara?”

Tisha menulis pesan tak sabaran. Ia tahu kecil kemungkinan pesan itu dibalas. Ini sudah pukul setengah satu dini hari, dan Tisha dibuat kagum pada kekuatan rasa penasaran.

“Tahu tish. Kenapa?” Balasan singkat yang terlihat seperti titik terang.

“Beneran kenal? Dmn? Tmn kuliah?” Tisha mengetik cepat. Dalam hati ia berikrar, kalau tebakan dan rencananya berjalan mulus, ia akan menyelesaikan semuanya malam ini juga. 

Balasan yang kedua datang agak lama. “Bukan kenal tish, tp tau. Gw pnya bukunya hee. Pasti lo pikir tokoh Cenna itu gw ya? Anda blm beruntung :P”

Sebuah pukulan telak. Ternyata Cenna sahabatnya bukan Cenna yang dimaksud Angin Utara. Ada berapa banyak nama Cenna, sih, di dunia? umpatnya.

Ia mengonsep pesan balasan. “Ini, gw dikirimin bukunya, sama Angin Utaranya langsung” lalu dihapusnya. Ah, cerita sama Cenna berkemungkinan besar malah nambah masalah. 

‘Tishaaa… menyerah sajaa…. ayo tiduur’, bantalnya memanggil syahdu. Tisha menimbang-nimbang dan memutuskan untuk membaca satu lembar lagi. Janji! Satu lembar. Lalu esok pagi, ia akan menelepon penerbit. Ya, kalau-kalau buku ini dikirimkan ke rumahnya sebagai hadiah karena dia pernah mengisi kupon undian di toko buku.

Selama ini dalam bayangan gue, Cenna adalah tipe cewek penyendiri, yang temennya paling banyak lima, yang kalo ngumpul membahas hal-hal yang bikin ngantuk, dan kalau makan tak bersuara. Dia juga dipastikan belum pernah pacaran, dan, errr, kayaknya gue meng-under-estimate gebetan gue sendiri ya?

Ini lah salahnya. Gue dan dia belum pernah bicara!

Sore itu gue beranikan diri mengantar pesanan rutinnya, roti bakar kosong. “Silahkan mbak”, gue basa-basi bego. Cenna mengalihkan pandangan dari buku, mendongak, dan mata kami bertemu (cuih). Gue tersenyum bodoh. Apakah dia akan muntah? Untungnya tidak. Dia nyengir dan berujar, “Thanks, MAS.”

Penyakit berkhayal gue justru kambuh disaat-saat seperti ini. Seandainya nanti kami berpacaran, maka kami akan saling memanggil dengan sebutan itu. ”MAS dan MBAK”. Aih, romantis (minta digaplak).

“Nggak nyobain roti bakar selai stroberi, MBAK? Atau coklat gitu? Kenapa tawar?” Gue tidak percaya ada keberanian ekstrim yang tiba-tiba menyelimuti gue. 

”Nope. My life is plain, anyway. I like it that way”, dia menjawab dengan penuh kemisteriusan. 

Plain life? Don’t worry baby, I’ll color them. Dalam hati gue, setan-setan cekikikan. 

Gue mengangguk dan undur diri. Sempat-sempatnya gue melirik ke arah buku yang sedang dia isi.

Didalam buku itu, pasti ada petunjuk, tentang kedataran hidup yang dia alami (halah). Ya, kali-kali kalau gue tahu masalahnya, gue bisa bantu kasih saran, kasih perhatian, uuuuw. Ayo dong cenna, tinggalin bukunya sekali lagi… semaleeem aja.  

***

Cenna yang menurut dugaan cuma punya lima teman itu, akhirnya terbongkar identitasnya. Biasanya dia ke warung bang amin jam 3 sore, pulang jam 5-an, dijemput mobil chevrolet lama warna biru terang.

Tapi hari itu, dia baru muncul jam 8 malam, disertai sepasukan cewek-cewek gaul nan cantik, dan cowok-cowok tajir bermobil.

Menjelang pukul sembilan, mereka masih mengobrol, satu persatu anggota lain dateng. Cenna tampak cair, tertawa-tawa santai, melunturkan imej kupernya selama ini.

Menjelang pukul dua belas, mereka belum juga pulang. Ini nggak mungkin! Nggak mungkin Cenna anak geng motor! Gue gimana?? Naik motor aja oyong.

Puncak dari segala keganjilan malam ini terjadi tengah malam. Teman-teman Cenna serentak keluar dari warung, dan Cenna berjalan cepat mendekati gue, membawa si buku cokelat.

“Hari ini saya ulangtaun mas. Saya udah tau apa yang bakalan menimpa saya. Saya takut buku ini kena tumpahan telor. Tolong jagain ya”.

JDUGER. Cenna herself gave that sacred book to me. Life is magic…

Tisha ikut bahagia untuk keberhasilan kecil Angin Utara. Ia ingin mengingkari janji 1 halaman yang dibuatnya dalam hati tadi, tapi matanya menolak kompromi.

“Jurnal cenna, Angin Utara, beserta semua teka-tekinya… sampai jumpa besok.”

Secuplik

Kita ini anak muda yang merasa tahu banyak.

Padahal banyak tidak tahu.

Jangan mengelak. Dan jangan pura-pura tidak tahu.

Kita tahu bahwasanya kita tidak tahu.

Tetapi kita enggan mendengarkan yang tahu,

karena kita khawatir mereka hanya sok tahu.

Kankinkun,

22/10/10

Hujan

Hujan wujud dalam rintik-rintik riang,

jatuh setetes di rambutnya yang terbiar berantakan,

lalu mengalir melalui daun telinga,

terus turun ke jaket biru pudar kesayangannya.

***

Tidak ada yang tahu,

dibalik badan yang kokoh itu,

dibalik tangan yang terkepal kuat-kuat,

dibalik air muka yang keras, mata yang awas,

dibalik wajah rupawan yang nyaris tanpa ekspresi,

ada hati patah yang susah payah disembunyikan.

***

Hujan dan hatinya malam ini,

tidak satu suasana.

Angin Utara (Eps. 1)

Prakata: Angin Utara adalah #arsiplamakankinkun. Serial ini pertama kali ditulis dan di-publish pada hari Senin, 25 Oktober 2010, via Facebook Notes. Sejauh ini sudah ada empat episot, tapi.. (seperti yang sudah-sudah) ditinggal kabur sama sutradaranya yang kebelet menggarap proyek baru :P

Hari ini sebuah paket dikirimkan ke Tisha. Alamatnya, nomor rumah, gang, rt, rw, semuanya sudah pak pos periksa. Tapi Tisha menandatangani tanda terima dengan tanda tanya besar. Nama pengirimnya seratus persen samaran: Angin Utara. Di zaman modern ini, nama Angin Utara kedengaran konyol dan enak ditertawakan.

Tak sabar, Tisha merobek sampulnya ganas. Menyembul potongan buku, sampul biru kuning abu-abu, “Journey to the center of her heart”.

Pengarangnya? Tisha mencari-cari. Berharap mengetahui motif di balik pengiriman buku yang seingatnya, tak pernah ia pesan. Tercetak di bagian bawah, font size 32, dengan tinta hitam, kokoh, tajam-tajam: Angin Utara.

*** 

Tisha seorang gadis berprinsip. Kalau diberi makanan, ia takkan makan sampai tahu betul asal-usul pemberi. Ditawari tumpangan, tak akan begitu saja naik kalau bukan teman dekat. Friend request, diteliti dengan seksama, kenal atau tidaknya. Meng-ignore ratusan orang, ah, biasa.

Apalagi ini? Buku. Tanpa pengirim yang jelas. Judul melankolis. Pengarang ber-identitas kabur. Tisha menolak dikalahkan rasa penasaran. Sambil berjalan ke arah kamarnya, buku itu ia letakkan begitu saja di atas televisi ruang depan. Siapa tahu besok ada yang mencari.

***

Namun sepertinya buku itu memang minta dibaca. Malam harinya, Adit, adik bungsu Tisha, tiba-tiba masuk kamar tanpa mengetuk.

“Kak, buku lo kan? Jangan ditaro di atas tivi dong. Sampe panas nih sampul depannya,” bersungut-sungut Adit mengembalikannya.

“Bukan punya gue,” Tisha malas membuka mata. Ia balik kanan, tidur lagi.

“Lha? Punya siapa lagi? Gatau ah ni punya anaknya mbak Las kali. Lo kembaliin ya besok. Gue taro di meja," Adit tak mau peduli. Ia ngantuk, habis bermain PS sampai tengah malam.

"Buat lo aja,” gumam Tisha.

“Ah ngapain? Ga bakal dibaca, mubazir. Ini kan buku cewek. Udah ya kak, noh bukunya di atas meja. Terserah mo diapain," Adit kabur sebelum urusannya semakin panjang.

Begitu Adit menutup pintu, Tisha terduduk cepat. Ia memang pura-pura tidur. Waktu pintu dibuka, ia kira ayahnya patroli malam. Gawat kalau beliau tahu tengah malam begini Tisha masih internetan.

Mengumpulkan sisa-sisa angin rajin, Tisha mengambil buku yang kini tergeletak manis di meja belajarnya. Ia memandangi sampul depan buku itu. Membalik dan memindai sampul belakang. Kelihatannya aman. Bukan cerita horor, teror, porno, maupun teenlit labil.

"Yaaa, liat doang kan nggak dosa,” pikirnya mengalah.

Diari Bersama

Hari ini saya ingin bercerita mengenai Diari. #eaa

Saya yakin, dahulu kala di zaman SD atau SMP beberapa dari kita pasti pernah punya buku Diari. Kita tulisi ia dengan rajin, kita catat setiap kejadian yang berkesan (bahkan kita buat deskripsi-deskripsi mendetail mengenai gebetan baru kita MHAHAHA kelakuan ckckck). Meskipun, –bak kata Deichanela dan Raditya Dika– semangat menggebu-gebu untuk mengisi Diari itu biasanya luntur sebulan kemudian.

Beberapa tahun berlalu. Kita masihlah individu yang doyan mencurah. Bedanya, kita tidak lagi bercerita dalam Diari. Fungsi buku tulis tebal nan cantik yang biasanya dilengkapi kunci+gembok tersebut mulai tergantikan dengan wujudnya Media Sosial: Notes Facebook, Status Twitter, Text Post Tumblr, juga Blog.

Curahan kita pun sudah tidak disembunyikan di bawah bantal :p Kita memilih membaginya kepada teman, komunitas, dan strangers –orang-orang yang kebetulan ‘lewat’ dan membaca–.

Rajin mengisi Diari, baik Diari Tradisional maupun Diari Modern, ternyata mempunyai manfaat tersendiri. We can keep track on what we’ve done and experienced. 

Misalnya ketika kita tiba-tiba iseng membuka lembar lama –atau dalam kasus Diari Modern–browsing-browsing notes dan tumblr post lama, kita menemukan pemikiran kita dahulu kala, puisi kacang, ide-ide yang terbengkalai, tulisan yang kacau balau namun punya potensi jika digarap ulang dan dipercantik, momen lawak tersesat di tempat baru atau momen haru berbuka puasa bareng di Mesjid.

And since we let people to see what we write or what we think, as well as welcome them to comment and share, kita seperti punya Diari Bersama.

Begitu bukan? :) 

Jadi, mari menulisi Diari.

Pendek Saja

Begitu pintu ditutup, Stefi beringsut ke arah meja plastik biru muda. Laptop, tujuannya laptop. Memang betul kata para peneliti komunikasi masa kini, internet adalah tempat pelarian ideal karena menyediakan aneka ragam distraksi. Setidaknya distraksi yang cukup untuk melupakan ribut besar malam ini.

Ternyata laptopnya kehabisan baterai. Terlalu malas untuk bangkit ke sudut dimana charger biasa ditempatkan, Stefi memilih duduk menganggur, memandangi langit-langit kamar yang dicat dengan warna monoton.

Saat itulah ia tiba-tiba dihantam kenangan.

Orang-orang itu adalah orang-orang favoritnya. Humor konyol dan obrolan tak bermutu di antara mereka adalah konten utama laman sosialnya. Orang-orang itu yang paling sering datang di malam hari membawa perbekalan ke kamarnya, lalu pulang keesokan pagi meninggalkan sampah air mineral di kolong tempat tidurnya. Orang-orang itu yang bisa dengan instan membuatnya panas tinggi setelah perang emosi, tapi juga bisa dengan romantis membawakan hadiah atau memasakkan sesuatu bukan di hari ulangtahunnya. Orang-orang itu adalah salah satu alasan utamanya untuk bersyukur, karena ia ditakdirkan mengenyam pendidikan berkilo-kilo meter dari kampung halaman, lalu secara ajaib bertemu mereka, menjadi dekat, menjadi hampir melekat. Orang-orang itu ia kenali tabiatnya, ia baca anginnya.

Lucu, bagaimana satu hantaman berhasil menghabiskan persediaan tisunya.


Kankinkun,

3 november 2011

Angin Utara (eps.3)

Tapi kisah Davin dengan siapa?

Kenapa harus dikirimkan dan diberitahu ke Tisha?

Apa karna, janji monyet Davin kelas dua SMA?

Waktu mereka putus “baik-baik”, di depan kantin, sebelum jam olahraga berakhir?

***

Tisha melirik jam meja, menimbang-nimbang. Tidak sopan mengirimi pesan pukul dua  belas malam begini. Jadi lebih baik ditelfon saja. Lihat, rasa penasarannya telah mengontrol akal sehat.

“Halo?”, Tisha ragu-ragu. Saat ini tidak ada kata mundur. Hanya ada tiga kemungkinan: Davin mengumpat, Davin mengigau, atau Davin menutup telepon.

“Halo Tisha! Gilaaaa udah lama ya,” tanpa diduga jawaban Davin segar bugar.

“Eh, belom tidur vin?”

“Hahaha, ini mah masih sore. Kenapa tish?”

“Kenal angin utara gak vin?”

“Angin siapa?”

“Angin utara.”

“Nama orang tuh? Purba amat hahaha.”

“Bukan nickname lo?”

“Hiyah ngapain juga? nickname ym gue drg anderskor davin, Tish”

“Dih sombong banget dih pak dokter.”

“Gigi.”

“Hahaha iya pak gigi.”

“Tish balikan yok tish?”

“Males.”

“Yah padahal kangen kan lu?”

“Amit.”

“Nah nih kenapa nelpon?”

“Sudahlah davin. Hentikan.”

“Jangan begitu tisha. Akui saja.”

“Ya ampun!”

“Apa? Kenapa?”

“Pulsa gue!”

Call ended.

Tisha terkekeh. Kasihan Davin. Di kepalanya pasti berputar-putar jutaan pertanyaan. Apakah Tisha masih mencintaiku? Siapa Angin Utara? Adakah itu alasannya agar dapat menghubungiku lagi? Masih ingatkah ia dengan janji kami dulu? Janji untuk saling menulis nama masing-masing sebagai cinta pertama jika suatu hari menerbitkan autobiografi?

Tisha menggeleng takjub. Ternyata ia kenal Davin sampai sebegitunya. Biarlah. Saat ini, dapat dipastikan Angin Utara sama dengan coret Davin Aldian. Tisha memutuskan untuk lanjut membaca chapter satu. 

Angin Utara… semoga aku bisa cepat mengungkap identitasmu. Kalau begini terus aku akan kurus, dan kurang tidur, Tisha memelas.

Buku itu. Jurnal butut yang selalu dia bawa-bawa itu pasti mengandung banyak informasi. 

Karena gue pemalu nggak ketulungan, gue nggak bakal berani ngajak ngobrol sok kenal, dengan resiko dicuekin atau dia pindah tempat tongkrongan. Semua info aja gue peroleh dari tanya temen sana-sini.

Kalau sehariii aja gue bisa nyulik buku itu, maka dunia aman tenteram. Tapi gimana?

“Love is like handing someone a gun, having them point it at your heart, and trusting them to never pull the trigger”

Michael Gardner

Here, Cenna. Here, take the gun.

Eh, Cenna!

Tisha merasa dibodohi. Selama ini dia punya sahabat se-geng bernama Cenna, dengan ciri-ciri mirip tokoh cewek di buku itu, dengan jurusan yang sama walau beda semester, dengan obsesi diet tingkat kalut sehingga rela minum teh tawar setiap hari. Oh, suspeknya sudah di depan mata!

Tisha yakin pasti, Angin Utara perlu bantuannya untuk memberi tahu Cenna, ada satu buku yang ditulis khusus untuknya.

Angin Utara (eps. 2)

Mengumpulkan sisa-sisa angin rajin, Tisha mengambil buku yang kini tergeletak manis di meja belajarnya. Ia memandangi sampul depan buku itu. Membalik dan memindai sampul belakang. Kelihatannya aman. Bukan cerita horor, teror, porno, maupun teenlit labil.

“Yaaa, liat doang kan nggak dosa,” pikirnya mengalah.

***

Lembar pertama. Hampir kosong. Hanya ada deretan angka yang memusingkan. 08.15.08. Tanggal delapan bulan lima belas? Nggak mungkin. Tisha membalik halaman cepat.

Lembar ke-dua, judul ukuran besar. Masih sama, Journey to the center of her heart. Angin Utara.

“Oke, iya. Udah tau”, keluh Tisha. Sekarang level penasarannya meningkat. Tidak sedikitpun ada klu mengenai siapa penulisnya, siapa yang bersembunyi dibalik nama pena Angin Utara.

Lembar ke-tiga, sejenis “sekapur sirih”. Cuma ada empat kata ambigu, 'HALO, KAMU. SELAMAT MEMBACA!’ Tisha mendesis lagi. "Kamu siapaa? Ini kenapa bisa nyasar ke gue? Ditulis buat gue? Siapa yang nulis? Rajin amat sampe jadi novel??“

Lembar ke-empat. Daftar isi.

- Catatan Ambisi

- HARUS. HARUS. HARUS

- Indomi Telur Kornet

- Hujan, jangan berhenti

- Bagaimana jepang?

- Hujan, tolong berhenti

- Motor sundung

- Kapal pompong

- Sembilan puluh derajat

Lembar ke-lima. Akhirnya! Chapter pertama.

CATATAN AMBISI

Gue tau dia beda. Setiap sore numpang duduk di warung bang Amin, tenggelam dalam buku tebal, tentang dunia, tentang diplomat-diplomat hebat Indonesia jaman dulu. Selalu mesen menu yang sama, roti bakar kosong dan teh tawar. Orang kayak gitu kok ada ya? Apa enaknya roti bakar kosong? Teh tawar lagi! Main ke warung tapi baca buku. Poninya turun-turun, kacamata melorot, tapi nggak peduli. Seolah-olah, waktu dia baca buku, presiden pun nggak boleh ganggu,

Suatu hari bukunya ketinggalan. Entah kenapa dia lari-lari setelah henfonnya bunyi. Dua puluh menit kemudian, dia balik, nanyain.

"Mas, buku saya liat nggak? Yang cokelat polos, udah lecek”.

Sialan gue dipanggil mas. Nggak liat apa mahasiswa kedokteran gigi semester tiga kece gini? Mentang-mentang gue part-time di warung bang Amin, seenaknya dikira Mas-mas.

“Diambil orang kali, dek”.

Gue sengaja mo ngerjain dia. Sekali-sekali, biar nggak teledor lagi. Tiba-tiba dia nangis dan menyebabkan kepanikan instan. Mampus, anak orang!

“Itu catatan ambisi saya, Mas. Kalo hilang, saya harus bangun ambisi dari awal”

Gue kaget banget. Dibalik muka nangisnya yang onyo itu, gue melihat sesuatu yang lain. Cewek, semester satu, jurusan hubungan internasional –hebat gak gue bisa tau sedetail ini– yang selama ini diem-diem gue perhatikan, punya ambisi sampai satu buku??

Catetan itu gue balikin. Gue ngakunya, tadi keselip di bawah meja kasir. Matanya berbinar-binar. Bener-bener kayak dapet emas tujuh batang. Dasar anak kecil. Ck ck.

Gue sadar dari hari itu gue bertambah bodoh. Menambah beban hidup… dengan jatuh cinta.

Tisha larut. Sekilas info yang berhasil dikumpulkannya tentang Angin Utara adalah: lelaki, mahasiswa kedokteran gigi, semester sekian, part-time di warung Bang Amin.

Dimana warung Bang Amin? Ini kisah nyata, atau karangan belaka? Yang jelas cewek ambisius dalam cerita itu bukan dia. Tisha mahasiswi jurusan desain komunikasi visual. Semester empat. Sedikitpun tidak punya impian muluk, apalagi ambisi sampai satu buku. Cita-citanya hanya ingin menikah dengan lelaki tampan, punya anak dua, hidup cukup dan bahagia.

Hm, dokter gigi ya? Dokter gigi? DOKTER GIGI? Ya ampun! Davin!

Tapi kisah Davin dengan siapa? Kenapa harus dikirimkan dan diberitahu ke Tisha? Apa karena, janji monyet Davin kelas dua SMA? Waktu mereka putus “baik-baik” di depan kantin, sebelum jam olahraga berakhir?

tiga langkah

“Akan kutunjukkan padamu kekuatan mimpi! Hiyaaak!”

Ages berteriak dengan mulut tersumpal potongan roti, suara agak parau, dan intonasi bangun tidur. Pagi itu, di warung Sudi Mampir, ia mendeklarasikan sebuah janji: menggapai London. Di hadapan Dito yang tercengang, susah payah menahan tawa. Teman kecilnya ini memang bebal.

“London itu jauh, Ges! Biaya hidup mahal! Beasiswa dapetinnya susah! Udahlah Bandung aja, bareng gue.”

“Sejauh apa sih, kalau film Harry Potter aja distribusinya nyampe kesini. Semahal apa kalau Om Danang aja bisa ngajakin keluarganya liburan dua minggu disana. Tapi soal beasiswa lo bener. That’s the only way.”

“Harry Potter itu bikinan Amrik,” bantah Dito.

“Tapi Daniel Raddclife orang Inggris.”

“Om Danang itu punya kebun sawit.”

“Tapi nggak banyak, cuma beberapa hektar.”

“Realistis dong Ageees. Ada berapa juta pelajar brilian yang memperebutkan beasiswa yang lo mau itu?”

“Siapatau semua orang yang harusnya jadi saingan gue, pola pikirnya kayak elo. Mundur teratur karena takut kalah saing. Ya untung kan! Peluang gue jadi lebih besar! Hahahaha.”

Dito menaikkan alis dan memalingkan muka, memilih menghabiskan bubur kacang hijaunya daripada berdebat sama manusia yang kalau sudah bilang A, niscaya akan A selama-lamanya. Orang macam Ages memang harus tumbuh kembang dengan mimpi. Supaya ia tahu apa yang dikejar. Supaya bangun pagi dengan semangat maksimal. Dan supaya sering-sering meneraktirnya sarapan, seperti pagi ini.