arkanhendra

Kematian Seorang Murid Tak berguru

Sebuah lapangan terhampar di dekat pintu gerbang kerajaan parang gelung. Sinar bulan menjadi satu-satunya lampu sorot disana. Tampak 2 bayangan manusia sambil menenteng gandewa masing-masing. Lengkap beserta seikat anak panah yang siap mewarnai tanah lapang menjadi merah. Semerah darah.

“Ada apa dengan tanganmu hai Ekalaya?” tanya Arjuna penasaran.

“Bukan urusanmu.” jawab Ekalaya singkat.

“Akan menjadi urusanku ketika dikumandangkan kemenangan Arjuna melawan seorang cacat.” seru Arjuna arogan.

“Cukupkan bicaramu, Arjuna! Kini tarik gandewamu atau engkau akan menyesal karena telah memberi kesempatan orang cacat ini untuk memangkas lehermu.”

Hanya membutuhkan waktu sekejap mata kini kedua sosok itu telah saling mengancam dengan gandewa masing-masing.

Di pihak Arjuna dengan mantab panah-panah tajamnya terukur dengan pasti. Sedang di pihak lawan, gandewa yang pada pertempuran sebelumnya tangkas menangkis ketajaman panah-panah Arjuna, tampak gemetar.

“Apa engkau yakin menantang sang panengah Pandawa dalam keadaan seperti itu? Pulang dan rawatlah dulu lukamu, anggap ini sebagai kemurahan dari sang permadi.”

“Kemurahan atau ketakutan wahai Permadi? Takutkah kau pada gandewa-ku yang bergetar ini?” seru Ekalaya sambil tersenyum mengejek.

“Dasar kau pemburu bodoh! Rasakan ini!” jawab Arjuna dalam kemarahan.

Dan seketika itu juga dilepaskan sebuah anak panah dari pihak Arjuna yang menjelma menjadi ribuan kali lipat di angkasa malam. Tidak mau kalah, Ekalaya menyambut ribuan anak panah dengan serangan yang tidak kalah dahsyat. Suara ledakan terdengar di setiap anak panah yang saling beradu.

Pada pertemuan sebelumnya hampir semua anak panah Arjuna berhasil dimentahkan oleh Ekalaya, namun sayangnya tidak kali ini.

Tampak beberapa panah menghujam tubuh lemah Ekalaya yang memang sudah terluka harga dirinya.

“Kini engkau rasakan kekuatanku Ekalaya, kekuatan sang Permadi.” seru Arjuna pongah.

“Kau salah wahai sang panengah pandawa,…” jawab Ekalaya terengah-engah menahan luka.

“Apa maksudmu?”

“Kekuatan yang memenangkanmu bukanlah berasal dari sejatinya dirimu, tetapi dari pusaka Mustika Ampal milikku. Pusaka turun temurun yang kupersembahkan kepada guruku Resi Dorna.”

“Apa maksudmu?” tanya Arjuna penasaran.

Sayang, karena luka yang diterima Ekalaya sangat parah, hanya sebuah senyuman kepuasan menjadi jawaban pertanyaan sang Permadi. Senyuman kepuasan karena pada hakikatnya Bambang Ekalaya bukan kalah atas Arjuna, namun kalah akan rasa hormatnya kepada guru yang belum pernah sekalipun menganggapnya murid.[]

-Arkanhendra, suatu masa di medio November-

-Premonition-

   ***

Suasana kerajaan Paranggelung hari itu cerah ceria. Tidak ada satu awan mendung pun yang mampu menghapus senyum para manusianya. Sebuah Bumi Manusia yang mendamaikan. 

Pagi itu seperti biasa Raja Kaum Nisada, Bambang Ekalaya berkunjung keluar istana. Sembari menyapa para masyarakatnya yang sebagian besar pemburu bersama sang Paramesywari Dewi Anggraeni. 

Keep reading