arah

6

Here’s my complete submission to @living-in-tyria-rp‘s Halloween costume contest! I really had fun getting outfits together for these awesome themes! Pictures on the left are the “action shots” for presentation, and the ones on the right showcase the armor skins and dye colors I used.

Deities: Raven- “I come for all who grow, crawl, and walk. I am the perfect hunter and in the end, I am the victor. I am Death.”

Dragons: Glint- “Prophecy is not always a gift. Often I see things I wish I hadn’t. But when the vision is clouded, I am most uneasy.”

Dungeons: Arah- “Foolish fleshlings! You will wither before the might of Zhaitan!”

Cara menjilat Faraj

Mulakan pemanasan

Mulakan pemanasan pada bahagian tubuh badan isteri yang lain, dan jangan terus menuju ke arah faraj isteri. Sebelum mula menjilat faraj isteri, lalukan lidah anda pada bahagian berhampiran alat sulit isteri. Contohnya paha, kelangkang, punggung dan sebagainya.

Setelah isteri mula berasa ghairah, dan farajnya telah mula basah, barulah anda mulakan menjilat faraj beliau.

Seperti yang telah saya tegaskan di dalam artikel-artikel sebelum ini, bahagian yang paling sensitif pada kemaluan wanita ialah klitoris, atau biji kelentit. Walaubagaimanapun, terdapat wanita yang amat sensitif pada biji kelentitnya.

Oleh itu lihat dahulu reaksi isteri anda ketika anda mula menjilat biji kelentit beliau. Jika beliau seperti kegelian dan berasa tidak selesa, larikan lidah anda ke bibir farajnya terlebih dahulu. Tunggu sehingga beliau benar-benar bersedia sebelum anda menghisap, menjilat atau mengulum kembali biji kelentit beliau.

Apabila si isteri secara tidak sedar membuka luas-luas kaki beliau, maka itulah tandanya beliau telah menyerahkan faraj beliau sepenuhnya kepada anda. Menjadi tugas anda untuk membuatkan isteri anda puas dengan jilatan anda. Anda harus pandai melarikan lidah anda ke setiap bahagian kemaluan beliau, dan jangan hanya bertumpu kepada biji kelentit sahaja.

Berikan perhatian kepada bibir farajnya, bibir luar dan dalam. Sesekali jolok lidah anda ke dalam lubang faraj beliau dan lihat reaksinya. Jangan lupa untuk menunjukkan kepada isteri anda yang anda sedang menikmati sepenuhnya faraj beliau. ❤🇵🇱

Keluarkan sedikit desahan, atau kata-kata yang seperti “hmm.. sedapnya..” atau puji kecantikan faraj isteri. Secara tidak langsung ini akan membuatkan beliau lebih ghairah dan bernafsu, dan memudahkan beliau klimaks, atau orgasme.

Peraturan penting yang perlu anda tanam di dalam minda anda ketika menjilat faraj isteri ialah jangan tergopoh-gapah. Lakukan dengan perlahan-lahan.

Nikmati faraj isteri anda dengan tenang dan tertib. Kemaluan isteri anda adalah organ seks yang amat sensitif dan mudah cedera. Oleh itu berhati-hati dan jangan sesekali menjilat faraj isteri dengan terlalu kasar sehingga boleh menyebabkan kecederaan.
👅👅👅 selamat mencuba

Cikgu salina milf

Tentang Rezeki

Barangkali banyak yang bertanya, bagaimana bisa seorang mahasiswa semester akhir yang sedang mengerjakan skripsi dapat tiba-tiba memutuskan untuk menikah dengan mahasiswa ko-ass kedokteran yang hampir setiap semester mengajukan keringanan UKT. Barangkali banyak yang bertanya pula, bagaimana bisa mereka berdua bertahan hidup terpisah dari orangtua tanpa dibiayai orangtua kecuali untuk biaya pendidikan saja. Barangkali banyak yang bertanya pula, bagaimana mereka bisa haha-hihi, makan-makan, dan ke sana ke mari tanpa kekhawatiran akan rezeki.

Beberapa orang mengira Fahmi tidak bekerja. Padahal tidak mungkin Fahmi dulu berani datang ke rumah kalau ia sendiri masih bergantung sepenuhnya pada orangtua. Fahmi mengajar tahfidz di sebuah rumah tahfidz di daerah Sleman. Mungkin gajinya tidak seberapa. Tapi hari ini, sebuah kemewahan yang tak terkira rasanya, jika tempat tinggal dan makan sudah tidak perlu ditanggung oleh diri sendiri. Apalagi kalau jam kerjanya hanya setelah subuh dan setelah maghrib, sehingga kuliah dan kegiatan akademik lain hampir tidak terganggu sama sekali. Inilah yang dulu Fahmi tawarkan untuk ia bagi dengan saya. Jauh dari bermewah-mewah mungkin, tapi tidak bisa dibilang kurang.

***

Ada satu pelajaran yang orangtua kami sama-sama tekankan kepada kami. Bahwa rezeki itu sudah dijamin oleh Allaah. Allaah sendiri yang bilang, bahwa ‘tidak satu makhluk pun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin oleh Allaah rezekinya’ (Hud:6). Kalau dalam bahasa Abah, beliau sering katakan, ‘nggak usah khawatir masalah rejeki, nanti Allaah yang cukupi’. Dalam ayat yang lain Allaah bahkan dengan spesifik katakan, ‘dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allaah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allaah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui’ (An-Nur: 32). Orangtua kami memegang betul janji Allaah itu, sehingga besarnya gaji tidak menjadi kekhawatiran sepanjang ada ikhtiar untuk terus mencari rezeki.

Karena Allaah sudah jamin rezeki masing-masing orang, maka sebetulnya menikah itu bukan berarti membagi dua rezeki suami dengan rezeki istri. Suami memiliki rezekinya sendiri, sedangkan istri memiliki rezekinya sendiri. Itulah mengapa ada yang bilang bahwa banyak anak banyak rejeki. Karena rezeki anak itu bukan literally dari rezeki orangtuanya, tetapi setiap anak akan membawa rezekinya masing-masing. Meski, yang kemudian perlu dipahami adalah, bahwa rezeki itu tidak melulu berbentuk rupiah, tapi dapat berupa kesehatan, kesempatan, rasa kenyang, rasa senang, dll. Karena bahkan rezeki sendiri definisinya adalah semua kebaikan dan maslahat yang dinikmati oleh seorang hamba.

Setelah menikah, kami betul merasakan apa yang Allaah janjikan itu. Saya dan Fahmi menggunakan aplikasi di smartphone untuk mengatur keuangan keluarga. Aplikasi itu memungkinkan kami mendapatkan laporan keuangan dengan kategori pemasukan atau pengeluaran yang begitu detail. Misal gaji tetap adalah X, tapi setelah kami lihat laporannya ternyata arus uang yang keluar-masuk bisa mencapai 4 kalinya X. Ada saja rezeki tambahan yang Allaah beri selain dari gaji. Fahmi sendiri bingung bagaimana bisa begitu, karena sebelum menikah belum pernah arus keuangannya sebesar itu. Begitulah rupanya cara Allaah menjamin rezeki kami.

***

Ada satu hal lagi yang kami selalu pegang terkait jaminan rezeki oleh Allaah ini. Bahwa besarnya rezeki kita, hanya Allaah yang tahu. Misalnya gaji Fahmi adalah X. Namun belum tentu rezeki yang Allaah tentukan itu adalah sebesar X, bisa jadi lebih atau kurang. Kalau rezeki yang Allaah tetapkan lebih, maka Allaah akan tambahkan rezeki kami dari sumber yang lain.

Kalau rezeki yang Allaah tetapkan kurang dari gaji Fahmi, maka Allaah akan keluarkan rupiah yang diterima sampai besarnya sebesar rezeki yang Allaah tentukan. Cara Allaah untuk mengeluarkannya bisa jadi dengan cara yang tidak mengenakkan seperti diberi sakit sehingga harus berobat, kecopetan, kerusakan sehingga harus mengeluarkan biaya servis, kecelakaan, dll.

Kenapa bisa begitu? Karena Allaah bilang, ‘dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya’ (An-Najm:39). Misalnya seseorang mendapat gaji sebesar X dengan melakukan A, B, C, dan D. Tapi dalam prakteknya, orang tersebut hanya mengerjakan pekerjaan A dan B saja, sedangkan gajinya tetap X. Maka sebetulnya sebagian dari gaji sebesar X-nya itu bukan hak orang tersebut. Di sinilah Allaah akan paksa untuk keluarkan rezeki orang tersebut sehingga keluarlah apa yang bukan haknya dengan cara yang tidak mengenakkan.

Konsep inilah yang kemudian menjelaskan kenapa sedekah dapat menolak bala. Misalkan gaji seseorang adalah Rp 1.500.000,00, tapi rezeki yang Allaah tetapkan adalah Rp 1.000.000,00. Orang tersebut kemudian menyedahkan Rp 700.000,00 dari total gajinya. Maka, Rp 700.000,00 yang ia sedekahkan itu menjadi pahala sedekah untuknya, sedangkan Rp 200.000,00 yang merupakan bagian dari rezeki Allaah untuknya yang ia sedekahkan akan dikembalikan lagi kepadanya karena sudah merupakan ketetapan Allaah untuk menjadi rezekinya. Rp 500.000,00 yang bukan merupakan hak orang tersebut sudah hilang tanpa Allaah perlu memaksanya hilang. Berarti orang ini sudah menghilangkan potensi ‘musibah’ yang akan menimpanya, sekaligus menambah catatan pahala karena bersedekah.

Untuk itu, kita perlu sekali memenuhi apa yang diamanahkan kepada kita, terlebih perihal pekerjaan yang menjadi sumber nafkah. Karena bisa jadi apa yang kita terima bisa jadi jauh dari yang ‘seharusnya’ kita terima akibat dari kekurangamanahan kita. Untuk itu pula, kita perlu rajin-rajin sedekah untuk membersihkan harta sekaligus menolak bala.

***

Dua konsep di atas jika dipegang dan dilaksanakan mungkin sudah cukup untuk membuat orang survive tanpa kekhawatiran akan harta. Tapi ada dua lagi janji Allaah untuk menambah nikmat hambanya, yakni dengan syukur dan taqwa. Banyak orang di luar sana mati-matian mencari uang dengan dalih supaya kaya. Tapi ternyata setelah kaya, mereka tetap tidak puas dan terus saja mencari kenikmatan dunia. Mereka rupanya kehilangan apa yang Allaah janjikan tadi. Mereka lupa untuk bersyukur, dan mungkin mereka luput untuk bertaqwa. Karena sungguh, Allaah berfirman, ’sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’ (Ibrahim:7). Dan di ayat yang lain, 'Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu’ (At-Tholaq:2-3)

Semoga kita termasuk dalam golongan yang senantiasa bersyukur dan bertaqwa. Semoga, Allaah lapangkan dan berkahi rezek kita serta menjauhkan kita dari bala.

Rabbi auzidni an asykuro ni'matakallatii an'amta alayya….

Jadilah penyeimbang perjalananku. Seseorang yang belajar mengerti kelemahanku. Kau yang mau memahami kekalahanku. Juga yang tersenyum kala aku mampu mengalahkan rasa takutku. Jangan berjarak terlalu jauh, agar aku tetap bisa berjalan dengan melihatmu utuh. Jangan mendekap terlalu erat, agar aku masih bisa bernapas untuk segala yang aku ingat. Bagiku, kau adalah arah pulang. Persimpangan mana pun yang kutempuh padamu juga aku akan datang.

–boycandra

Day 13: Teeming

Orr has always been one of my favorite zones, but I also have a thing for tragic stories. Beyond that I choose Orr for Teeming because it is full of undead of nearly every race. When you stop and consider it, it has the problem of all Zombie laden settings… it may have started with the former denizens of the country and the city of Arah, but as the pact forces fell, the enemy ranks swelled with “new recruits”. Trig spent a lot of time on the front line in Orr. She still has nightmares about the place.

Abg din kaki pancing

Tak leh nak memancing lah kalau hujan terus begini, Man,“ Abang Din tetiba bersuara. Aku terkejut dari lamunanku dan menoleh ke belakang ke arah Abang Din. 
"Nak wat cam mana, bang. Takde rezeki Man,” jawabku sambil melemparkan senyuman. Abang Din membalas senyumanku. Senyumannya begitu manis sekali. Walaupun dah berusia 45 tahun, Abang Din masih nampak segak dan tampan. Pada hari itu daya tarikannya lebih terserlah. Aku mula rasa berdebar-debar apabila memikirkan yang aku hanya berdua dengannya di pondok itu, jauh di tengah hutan dan dalam cuaca hujan. 
“Dah pukul tiga sekarang, Man,” sambung Abang Din. “Abang nak baring-baring dulu,” ujarnya sambil merebahkan badannya ke atas lantai beralaskan tikar rotan. 
“Baik, bang,” ujarku. Abang Din berbaring mengiring membelakangi aku. Mataku rakus melihat punggung Abang Din yang pejal di sebalik seluar trek biru yang dipakainya. Aku jadi tak keruan. 
Sebelum ini pernah terjadi beberapa insiden di antara aku dan Abang Din. Aku pernah dipeluk oleh Abang Din sewaktu kami memenangi perlawanan badminton peringkat cawangan. Sukar digambarkan perasaan aku pada masa itu. Buat pertama kalinya dipeluk oleh seorang lelaki dewasa. Dadanya yang bidang, lengannya yang sasa… dan meskipun perutnya nampak sedikit boroi, kurasakan bahagian perut Abang Din itu sebenarnya keras berotot. Saat yang paling sukar untuk aku lupakan ialah apabila dia mengangkat tubuhku, bahagian sulitnya bergesel dengan bahagian sulitku. Walaupun tidak keras, tapi bonjolan itu dapat kurasakan. 
Aku selalu teringatkan peristiwa itu. Aku mula tertarik kepada Abang Din secara seksual. Abang Din yang selama ini aku anggap macam seorang pak cik, seorang teman sekerja dan seorang sahabat. Aku mencari peluang untuk selalu mendampanginya. Walaupun begitu, aku buat dengan cara yang tidak tampak ketara agar orang tidak perasan, termasuk Abang Din yang sudah mula menganggap aku sebagai adiknya. 
Abang Din dah lama bercerai. Hidupnya tak bahagia dengan bekas isterinya. Dua orang anaknya dijaga oleh ibu mereka. Memang bekas isterinya adalah pilihan keluarga tetapi kalau jodoh dah tak ada nak buat macam mana kata Abang Din. Kebelakangan ini Abang Din banyak menceritakan kisah hidup rumahtangganya dulu. Bagaimana dia telah dilayan buruk oleh bekas isterinya dan keluarga bekas isterinya itu sehingga dia terpaksa menceraikan bekas isterinya itu. Aku menjadi pendengar setia. Aku sememangnya suka mendengar cerita Abang Din; daripada cerita politik, sukan, bisnes, hiburan ke cerita hantu. Abang Din ada banyak pengalaman yang menarik untuk didengar. Bagaimanapun, Abang Din selalu mengelak untuk berbicara mengenai seks dengan aku. Mungkin sebab jurang usia di antara kami menyebabkan dia tidak selesa. Pernah aku terlihat Abang Din dari jauh sedang bergelak ketawa bersama rakan sekerja yang lain dan seusia dengannya sambil membuat aksi sedang melancap… Aku tak tahu apa yang diceritakannya tapi aksi Abang Din itu telah membuat aku teruja sampai dibawa ke tidurku. Aku bermimpi yang Abang Din melancap di depanku. Walaupun tak pernah melihat susuk tubuh Abang Din tanpa seurat benang, dalam mimpiku itu Abang Din berbadan tegap dan mempunyai zakar yang panjang. Abang Din melancap sambil tersenyum memandangku dengan kakinya mengangkang dan batang zakarnya dituju ke arahku. Aku tidak perasan yang aku pun telanjang sama. Aku yang tidak tahan dengan pemandangan indah di depanku terus memusingkan badanku dan membongkok. Tangan rakus menarik badanku ke belakang dan aku dapat merasakan objek keras dan panas di celah bontotku… 
“Man!… Termenungkan apa tu?” tiba-tiba suara Abang Din mengejutkan aku. Aku dapat merasakan batang zakar aku sedang mengeras, terus aku memalingkan tubuh agar Abang Din tak perasan. “Baring-baring lah dulu,” sambungnya kemudian. Abang Din bangun dari tempatnya dan berjalan menuju tempat aku sedang duduk di depan pintu. Hujan masih lebat seperti tadi. Terasa sejuk dan nyaman. Aku berdebar-debar apabila Abang Din duduk di sebelahku sambil menyalakan api rokok. Aku memerhatikan bibir Abang Din menghisap rokok. Bibir yang sungguh seksi. Inginku lekap dengan bibirku… 
“Eh Man… kau ada masalah ke?” Abang Din memulakan perbualan. “Tak ada lah bang. Man jarang pergi hutan jadi rasa lain sikit kat tempat macam ni,” jawabku memberi alasan. “La… rilek la. Bukan ada apa-apa yang bahaya kat sini. Cuma kita berdua aja…”. 
Aku dan Abang Din senyap seketika. Aku tak tahu apa yang difikirkannya tetapi aku rasa lain macam aja. Horny. Keadaan yang selesa begitu membuat aku jadi tak selesa. Aku membaringkan diri dengan sebelah kaki di sebelah Abang Din kuangkat agar bonjolan pada bahagian sulitku terlindung daripada pandangannya. Aku menutup mata cuba untuk tidur tapi fikiranku masih nakal. 
Tiba-tiba Abang Din merebahkan badannya tidak jauh dariku. Aku menahan nafas. Aku takut untuk bernafas sebab jantungku berdegup kencang. Aku menutup mata rapat-rapat. Walaupun hujan di luar, kurasakan dahiku mula berpeluh. Kupasang telinga. Nafas Abang Din kedengaran normal. Aku memalingkan muka ke arahnya. Abang Din berbaring terlentang. Mataku tertumpu ke bahagian sulitnya. Ada bonjolan kecil. Tidur macam tuannya, bisik hatiku… 
Apa yang harus aku lakukan? Tubuh badan Abang Din terasa semacam magnet yang menarik badan aku agar lebih rapat kepadanya. Tiada perkara lain yang hendak aku lakukan pada saat ini melainkan memeluk tubuh Abang Din dalam keadaan telanjang. Aku menghulurkan kaki kiriku menghampiri kaki Abang Din. Masih lagi tidur, bisik hatiku… 
Sengaja aku rapatkan tapak kakiku begitu hampir dengan tapak kaki Abang Din. Aku tak berani menyentuhnya sendiri. Biar kaki Abang Din ‘tersentuh’ kakiku. Aku nak tau bagaimana reaksinya nanti. Perlahan-lahan aku sorongkan juga tangan kiriku agar rapat dengan badan Abang Din. Manalah tahu kalau-kalau Abang Din mendepakan tangannya mesti akan kena tanganku. Tapi tiada apa-apa yang berlaku walaupun sepuluh minit dah berlalu. Tanpa aku sedari, aku dah terlelap. 
Sebenarnya aku dah nekad untuk mencuba hubungan seks dengan lelaki. Selama ini aku hanya mampu berimaginasi dan melihat melalui vcd mahupun di internet. Secara teori aku tahu bagaimana caranya melakukan seks dengan pasangan sesama lelaki. Aku dah tak dapat membendung keinginan nafsuku terhadap seseorang lelaki. Pada tika ini sememangnya aku mengharapkan lelaki itu adalah Abang Din. 
Aku terjaga apabila tiba-tiba aku merasakan tangan kiriku kena tindih. Dengan sereta-merta aku diselubungi oleh perasaan ghairah yang teramat sangat kerana aku tahu Abang Din yang menindih tanganku dengan badannya. Aku masih memejamkan mata dan menahan nafas seolah-olah masih tidur. Kaki Abang Din telah menyentuh kakiku. Aku tak dapat menahan perasaan gementarku pada ketika itu. Gementar tetapi seronok. Batang zakarku dah mula mengembang dan mengeras. Begitu juga dengan objek yang menindih tapak tanganku. Fikiranku mula tak tentu arah. Adakah itu bahagian alat sulit Abang Din? Terasa hangat, keras dan memanjang di atas tapak tanganku walaupun berlapik dengan kain seluar. Aku tak bergerak. Aku takut untuk bergerak. 
Objek itu tiba-tiba mengembang kucup dan semakin keras seolah-olah meminta untuk diramas. Namun aku masih takut untuk berbuat apa-apa. Kedengaran bunyi nafas Abang Din makin laju dan hembusannya terasa di cuping telingaku. Rupa-rupanya Abang Din dah berbaring sangat dekat denganku. Aku cuba memberanikan diri untuk berbuat sesuatu. Aku cuit kaki Abang Din. Abang Din membalas. Hatiku melonjak gembira. Ada respons. Giliran Abang Din pula mencuit kakiku. Aku juga membalas. Kali ini aku dah semakin liar. 
Objek di tapak tanganku terasa berdenyut-denyut. Semakin mengembang dan mengeras. Aku menggerakkan jari-jemariku dan meraba-raba permukaan objek itu. Terasa bentuknya bagaikan pisang. Objek itu bergerak-gerak dalam tanganku. Aku semakin melupakan perasan takutku. Aku menarik tanganku. Terasa badan yang menindih tangan aku itu terangkat sedikit membolehkan aku menggerakkan tanganku. Aku tidak menarik tanganku keluar, sebaliknya terus menyelinap masuk ke dalam seluar dalam Abang Din. Abang Din membiarkan sahaja. 
Sememangnya jangkaan aku tidak salah. Batang zakar Abang Din memang bersaiz besar, terasa penuh dalam genggamanku. Tanganku semakin galak meramas batang Abang Din dan kerandut zakarnya. Abang Din memberi kerjasama yang baik walaupun masih buat-buat tidur. Bagaimanapun, aku masih belum puas. Aku belum puas selagi belum memasukkan batang zakar Abang Din ke dalam mulutku. Aku nak hisap batang zakar Abang Din. 
Aku cuba menarik tanganku keluar tapi Abang Din seolah-olah tak mahu melepaskannya. Makin berat ditindihnya. Aku memberi isyarat dengan jari-jemariku agar Abang Din mengangkatkan badannya. Agak lama juga aku cuba memujuk. Akhirnya Abang Din mengalah lantas memusingkan badannya dan terlentang. Masih lagi berpura-pura tidur. 
Kini bonjolan objek pada bahagian sulit Abang Din jelas di pandanganku. Nampak garisan batang keras di dalam seluarnya. Mata Abang Din masih lagi pejam dan ditutupi oleh lengannya. Aku tahu Abang Din pun berdebar-debar dan takut sepertimana aku tetapi dia biarkan sahaja. 
Aku memulakan perbuatanku sekali lagi. Aku mengusap-usap bonjolan bahagian sulit Abang Din. Dapat kurasakan yang zakar Abang Din kembang kucup di dalam seluarnya itu. Perasan ghairahku semakin melonjak-lonjak dengan tindakbalas yang diterima daripada Abang Din sebegitu. Aku merapatkan mukaku kepada bonjolan objek sulit Abang Din dan membenamkannya di situ. Aku jadi khayal mencium bau jantan Abang Din. Rasanya air maziku dah mula menggenangi lubang zakarku. 
Tiba-tiba Abang Din mengangkat punggungnya ke atas. Akupun mengangkatkan mukaku. Abang Din melondehkan seluar treknya dan hanya seluar dalam putih sahaja yang menutupi alat sulitnya. Tanganku ditarik oleh Abang Din dan diseluk ke dalam seluar dalamnya. Pun begitu, Abang Din masih memejamkan mata. Bagaikan diarah, aku terus meramas-ramas batang zakar Abang Din. Tapi aku tak puas. Dengan rakus, aku tarik seluar dalam Abang Din ke bawah. Bagaikan mengizinkan, Abang Din mengangkat punggungnya agar mudah bagiku membogelkannya. 
Kini di depan mataku, terpacak batang zakar Abang Din. Batang konek Abang Din. Kote Abang Din. Butoh Abang Din. Padaku zakar Abang Din sudah cukup panjang, tapi yang menarik perhatianku ketebelannya yang agak luar biasa. Kugenggam dengan tangan dan kugoncang dengan gerakan atas bawah, manakala tangan sebelah lagi menjalar masuk ke dalam baju Abang Din, meraba-raba perutnya dan mencari puting teteknya. Kepala konek Abang Din kini membentuk cendawan, mengembang dan bersinar. Aku tak pedulikan air mazi yang telah membasahi kepala konek Abang Din dan terus memasukkannya ke dalam mulutku. Kedengaran bunyi Abang Din sedang mendesah. 
Aku mengulum kepala konek Abang Din dan kuhisap puas-puas. Sekali-sekala aku cuba untuk memasukkan keseluruhan batang konek Abang Din ke dalam mulutku. Aku tak peduli dengan air mazi Abang Din. Malah setiap kali aku terasa air mazinya keluar, aku menjadi semakin ghairah menghisap koneknya. Aku tidak puas dan ingin merasakan air mani Abang Din pula. 
Aku semakin ligat melancap batang konek Abang Din. Aku guna jari, aku guna mulut dan aku guna lidah. Inilah masanya aku praktikkan apa yang aku lihat selama ini. Aku bermain-main di bahagian takuk koneknya dengan lidah dan kukulum. Aku buat gerakan keluar masuk dengan mulutku dan kukulum. Kuhisap. Tanganku menggoncang batang konek Abang Din di bahagian pangkal dan sekali-sekala jari-jemariku bermain-main di bahagian telurnya. Kujilat juga. 
Abang Din memberi respons yang baik. Walaupun masih memejamkan mata buat-buat tidur, kutahu Abang Din tengah bergelumang dengan nikmat. Setiap sentuhanku mendapat gerakan tindakbalas daripada Abang Din dan sedikitpun dia tidak menghalang malah merelakan aku berbuat apa saja ke atas dirinya.
Aku pula semakin seronok melancap Abang Din sehingga dia keluarkan mazi. Aku jilat air mazinya dan aku berasa puas. Setiap kali aku memasukkan batang konek Abang Din jauh ke dalam rongga kerongkongku, Abang Din akan mengeluh kesedapan. Tatkala itu juga aku dapat rasa air mazi Abang Din keluar. Aku sedut. 
Entah berapa lama masa dah berlalu, mungkin dah dua puluh minit aku melancap, mengulum, meramas dan menghisap batang konek Abang Din. Aku sendiri dah terpancut banyak air mazi. Tapi aku masih belum puas selagi Abang Din belum memancutkan air maninya. Aku menarik baju Abang Din ke atas sehingga mendedahkan bahagian perut dan dadanya yang berotot. Sungguh cantik. Aku menjilat bahagian perutnya dan mencari pusat Abang Din. Tangan kananku masih bermain dengan konek Abang Din. Lidahku menjalar ke atas dan berhenti di bahagian dada kiri Abang Din. Aku mencari-cari puting tetek Abang Din. Abang Din bagaikan terkena renjatan elektrik apabila lidahku terkena puting teteknya yang sudah menegang. Aku menjilat-jilat di situ. Abang Din mendesah lagi kuat. Aku mencari puting tetek yang lagi satu dan memasukkannya ke dalam muncung mulutku. Aku main tarik-tarik dengan mulutku. Aku sedut, aku jilat, aku gigit ringan-ringan. Abang Din jadi tak tentu arah. Kepalanya dipalingkan ke kiri dan ke kanan walaupun matanya masih lagi pejam. Sebelah tanganku melancap koneknya, sebelah yang lagi satu menggentel-gentel puting teteknya sebelah kiri manakala puting sebelah kanan dinyonyot oleh aku. 
Tidak lama kemudian aku merasakan air mazi Abang Din keluar lagi. Walaupun kerap keluar tapi kuantitinya sedikit, mungkin hanya setitik dua sahaja setiap kali ianya keluar. Jari dan lidahku dapat mengesan cecair mazi yang jernih, licin dan rasa mineral setiap kali ianya keluar. Aku terus mendapatkan konek Abang Din. Aku jilat lubang koneknya lalu kumasukkan koneknya ke dalam mulut. Kuhisap puas-puas. Kali ini aku masukkan konek Abang Din dalam-dalam. Aku puas mendengar Abang Din mengeluh resah menahan kesedapan. Tanganku masih lagi menggentel-gentel puting teteknya. Aku dapat rasakan Abang Din suka dikerjakan di situ. Aku semakin selesa menyonyot konek Abang Din. Abang Din pula semakin ganas memberi tindakbalas. Punggungnya bergerak-gerak ke atas dan ke bawah mengikut iramaku. Abang Din sudah pandai menujah-nujahkan batang koneknya ke dalam mulutku. Tidak lama kemudian, Abang Din mengangkangkan kakinya dan punggungnya terangkat ke atas. Tangannya memegang mukaku dan menolaknya ke atas. Abang Din cuba menarik batangnya keluar daripada mulutku. Aku tahu itu maknanya Abang Din sudah hampir mencapai klimaks dan bersedia untuk memancutkan air mani. Aku memang menunggu saat ini. Mana mahu kulepaskan sahaja. 
Aku melawan Abang Din daripada mengangkatkan kepalaku ke atas manakala kedua-dua belah tanganku menarik punggungnya agar koneknya masuk semula ke dalam mulutku. Abang Din dah tak dapat nak buat apa-apa kerana klimaksnya dah datang. Punggungnya terduduk semula di atas lantai. Tangannya sekadar memegang kepalaku. Tiba-tiba badannya kejang seperti terkena renjatan. Tatkala itu air mani Abang Din terpancur di dalam mulutku. Aku nekad untuk menelan kesemuanya. Kurasakan cecair hangat menerjah dinding tekakku. Lima, enam kali pancutan. Aku tidak pedulikan rasa geli tetapi terus menghisap dengan penuh bernafsu. Kutelan air mani Abang Din dengan rasa puas. Kusedut lagi agar tiada lagi yang tertinggal. Rasanya tidak jauh berbeza dengan rasa air maniku sendiri. 
Aku melepaskan batang zakar Abang Din yang telah mula mengendur. Aku terus membenamkan mukaku pada bahagian alat sulit Abang Din dengan perasaan puas. Abang Din menarik badanku ke sebelahnya. Matanya masih bertutup. Tiba-tiba badanku dipeluknya erat-erat. Aku terkejut. Perasanku bercampur baur, antara terkejut, gembira, seronok dan sayang. Agak lama juga kami berdua dalam keadaan begitu sebelum Abang Din ke bilik air membersihkan diri. 
Hujan berhenti sepuluh minit sebelum pukul 6 petang. Kami berdua beredar pulang sejurus selepas itu dengan menaiki motosikal Abang Din. Sepanjang perjalanan aku mengelak untuk bersentuhan dengannya. Fikiranku berkecamuk. Abang Din tidak bercakap banyak selepas peristiwa di pondok tadi. Itupun sekadar mempelawa aku minum air dan mengajak aku balik selepas hujan berhenti. Aku tak tahu apa yang sedang difikirkannya. Yang pasti aku tahu dia tak marah kepadaku. Aku pula sudah mula menyimpan perasan sayang terhadapnya. 
“Terima kasih, bang,” ujarku selepas sampai di pintu pagar rumah. “Abang yang perlu berterima kasih dengan Man,” jawab Abang Din dengan penuh makna. Matanya tak berkelip memandangku. Aku tunduk malu dan melemparkan pemandangan ke tempat lain. “Abang minta maaf ya kita tak jadi memancing”. “Tak mengapa, bang. Ada hari lain”. “Esok Ahad boleh pergi lagi. Nak tak?” tanya Abang Din. Aku terdiam seketika, “Boleh gak, bang.” jawabku gembira, “Nak gerak pukul berapa, bang?” “Kita pergi awal sikit dalam pukul 8.30 pagi. Nanti abang call”. “Ok,” jawabku ringkas. 

Tulisan : Kesempatan

Kemarin saya bertemu dengan adik kelas saya di SMA dan juga ketika di ITB. Kami tak sengaja bertemu saat check in di Bandara Yogyakarta dan ternyata kami punya tujuan yang sama dan akan berangkat dengan pesawat yang sama pula, waktu check in pun kami duduk di nomor yang berdekatan. Takdir.

Sambil menunggu boarding, kami ngobrol banyak hal. Maklum, kurang lebih sudah hampir tiga tahun tidak bertemu sejak saya lulus dan pindah ke Yogyakarta.

Obrolan standar. Sedang apa di sini? Sekarang kerja dimana? Dsb. Dia baru menikah dua bulan yang lalu dan sekarang bekerja di sebuah BUMN Migas di negeri ini. Obrolan kami tetap kehidupan pasca kuliah, pekerjaan, aktivitas, keluarga dsb.

Salah satu yang menarik adalah ketika kami membahas tentang pekerjaan. Ia menyinggung soal lowongan CPNS yang sekarang ini sedang dibuka. Bahkan diberbagai group whatsapp, into tersebut dibagikan berkali-kali oleh teman-teman yang lain.

“Mas, gak minat daftar CPNS? Lagi banyak banget itu dibuka.”

“Yah mau gimana, gak ada minat. Daripada coba-coba terus mengambil jatah rezeki orang lain yang mungkin lebih ingin. Alhamdulillah sudah manteb dan mau menekuni bidang kerja yang sekarang.”

“Iya juga ya. Jalan rezeki setiap orang memang beda-beda.”

“Iya banget. Ini juga mau rencana sekolah lagi soalnya.”

“Wah, aku juga pengin sekolah lagi Mas. Tapi, mungkin kudu nyari cara kan soalnya kerja di BUMN.”

Kami ngobrol ngalor ngidul tentang banyak hal. Sampai pesawat kami boarding.

Dulu, kedua orang tua saya ingin sekali saya menjadi PNS. Sewaktu lulus SMA pun sempat disuruh daftar sekolah kedinasan. Tapi apa hendak dikata, hati tidak ada kecenderungan ke arah sana. Hingga sampai di titik ini, sudah menjadi keputusan bulat bahwa saya mau berkarir di sektor swasta. Bismillah.

Dan lowongan CPNS pun tidak berhasil menggoyahkan tekad tsb. Meski memang tawarannya sangat menjanjikan. Saya punya tujuan, ada visi. Dan saat ini, jalan yang sedang saya tempuh guna mencapai tujuan tsb.

Kata seorang seniorku. “Kalau kita tahu betul apa tujuan kita, kita tidak akan mudah tergoda oleh hal-hal lain yang mengalihkan kita dari tujuan tsb. Memang ketika kita menempuh jalan untuk ke tujuan itu, kita akan banyak melewatkan kesempatan lainnya. Tapi percayalah pada tujuan dan kata hatimu.”

Bismillah.

Untuk teman-teman yang mau berjuang untuk mengambil kesempatan (CPNS) yang saat ini dibuka. Semangat. Doa, niat yang tulus, dan proses yang jujur selalu menjadi senjata yang tak tertandingi. Dan semoga menjadi rezekimu, kalau bukan. Jangan bersedih. Berbanggalah, karena kamu sudah berikhtiar.

Medan, 7 September 2017 | ©kurniawangunadi

What is 'Work'?

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat melakukan interview kepada salah seorang calon karyawan yang melamar kerja di perusahaan yang saat ini sedang saya bangun, sebutlah namanya Shinta. Di awal interview Shinta memperkenalkan dirinya dengan baik, dan sepanjang berjalannya interview juga menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan singkat, padat, lugas, it’s obvious she was being well-prepared.

Hingga sampailah pada satu pertanyaan terakhir, pertanyaannya sederhana:

“Menurut kamu, kerja itu apa sih? What is ‘work’?”

She look surprised.

Kali ini, dari ekspresinya kita tahu, bahwa Shinta tak menduga akan mendapatkan pertanyaan demikian. Sambil coba menjawab, Shinta terlihat lebih gugup, jawabannya tidak relevan, susunan kalimatnya berantakan, tanda otak dan mulutnya sedang bekerja bersamaan, namun terpisah satu sama lain.

Well, it’s not about Shinta. I never blame her. It’s all about the question, and what should be the answer. Right?

But, why does it matter?
Menurut saya, penting banget. Bayangin aja, kalau dipikir-pikir, dari 24 jam yang kita lewatin dalam sehari, let say kurang lebih 8 jam kita pakai buat tidur, dan 8-9 jam kita gunakan untuk bekerja (asumsi kita kerja 8 to 5). Itu kalau kerjanya ‘teng-go’ alias pulang tepat waktu, kalau lembur? bisa 10-11 jam kita bekerja. Itu belum sama waktu yang kita habiskan untuk transport berangkatnya ke kantor. Let say di Jakarta, yaa standard-nya kira-kira 1-2 jam lah sekali berangkat, pulangnya sama segitu juga, dengan kondisi harus menguras hati karena harus dempet-dempetan di KRL, atau macet-macetan di jalan. Berapa tuh totalnya? Minimal 12 jam! Bahkan kalau lembur bisa sampai 14 jam dari 24 jam yang kita punya dalam sehari. Gila ya?

Nah tapi faktanya, banyak banget orang-orang di dunia ini yang mengalami stress, bahkan depresi, karena kerja. Sampai ada yang sampai males banget ke kantor, menunggu-nunggu weekend datang dan terbeban ketika Senin tiba, sengaja berlama-lama di waktu istirahat, banyak yang menantikan hari libur, dan banyak lain hal. Buat yang sudah menikah, bahkan gak jarang karena kerjaan, gara-gara ada masalah di kantor, masalahnya hingga dibawa-bawa ke rumah tangga, komunikasi jadi gak berkualitas.

Bayangin tuh, the reason we woke up in the morning adalah untuk melakukan repeatable-action kayak yang saya sebutin di atas. Beberapa bahkan benar-benar ngelakuin itu berulang-ulang dari lulus kuliah sampai pensiun setelah puluhan tahun bekerja. Nah, pertanyaan besarnya adalah: Is that all worth it? Do we really spend our life, or waste our life? If it’s not worth it, so why do we do it?

For some reason, emang gak bisa munafik, “Ya kalau lo gak kerja ya lo gak hidup, there’s no free lunch!”. Sadly, it’s true. Nah, ini sebenarnya ya pilihan hidup masing-masing, kalau mau tetap begitu ya nggak apa juga. Tapi ya coba ditanya aja ke dalam diri sendiri: “Is that worth it?”. Jika jawabannya tidak, so there must be something wrong with you.

Trus apa tuh yang salah? Well, in my opinion, yang salah adalah cara kita memandang ‘kerja’ itu sendiri. Bagi kebanyakan orang, kerja itu ya bertahan hidup, kita kerja hanya untuk makan. Waktu yang banyak kita habiskan itu, ya sekedar untuk survive. Apa implikasinya? Buat sebagian orang, jadinya meaningless. Gak ada purpose-nya, hilang arah, sehingga yang dirasakan ya hanya berlelah-lelahnya saja, berangkat ke kantor jadi beban. Kalaupun dapat gaji, ya toh gaji akan selalu habis juga tiap bulannya, gak peduli seberapa besar gaji yang didapat (btw ini bener lho).

Menurut saya, definisi 'kerja’ yang seharusnya, adalah #berkarya. Gimana tuh maksudnya? Coba sekarang bayangin, kalau seandainya di dunia ini semua orang dapat gaji yang memadai, tiap orang sudah bisa menghidupi dirinya masing-masing, urusan survive nya sudah selesai. Lalu? Apa yang akan kita lakukan? What would you do? Jalan-jalan sepuasnya? Shopping? hang out sama temen dan keluarga sepuasnya. Oke, tapi saya jamin gak akan lama. Paling sebulan dua bulan. Or let say setahun lah. Then what?

Kerja yang membuat kita bahagia, adalah kerja yang merupakan panggilan hidup kita, based on apa yang ingin kita tuju, kerja yang sesuai dengan life mission kita. Saya jamin, berapapun gajinya, kita akan lebih bahagia. At the other side, kalau kita bekerja sesuai dengan life mission kita, maka orientasi kita pun otomatis akan berubah, yang tadinya salary-oriented menjadi accomplishment-oriented. Hidup yang kita habiskan, jadi berharga. Meaningful.
Ia Tidak Merindukanmu, Apalagi Menginginkanmu Kembali.

Ada yang suka menghubungimu di tengah malam. Berbasa-basi menanyakan kabarmu. Seorang yang pernah ia tinggalkan dulu.

Ada yang sengaja meninggalkan jejak di media sosialmu. Sekadar memastikan, kau akan menghubunginya lagi. Meski hanya berkata ‘Hai’.

Ada yang demikian bersusah payah, melakukan segala upaya untuk membuatmu dekat kembali dengannya.

Kau tahu mengapa?

Ia bukan sedang merindukanmu. Tentu saja, ia ingin kau berpikir demikian.
Namun tidak. Nyatanya ia tidak merindukanmu.
Mungkin ia hanya kesepian. Mungkin orang yang menjadi alasannya meninggalkanmu, sedang menabuh genderang perang dalam hubungan mereka. Mungkin saja.
Yang pasti, itu semua bukan perihal kau.

Ia pun bukan menginginkanmu kembali lagi padanya. Berhenti berpikir terlampau jauh ke arah sana.
Ia hanya ingin memiliki teman bicara. Mungkin juga, ia ingin bermain dengan rasamu. Membuatnya merasakan diinginkan kembali olehmu.

Jangan tertipu. Jangan jatuh lagi ke sakit yang sama. Kau harus belajar untuk tidak peduli pada yang sejak lama sudah pergi.

-

© Tia Setiawati | Palembang, 14 Agustus 2017

Tulisan : Lakukan

Kita tidak perlu menjelaskan tentang siapa kita dan bagaimana kita. Tentang kita yang (mungkin) baik, bekerja keras, penuh toleransi, bertanggungjawab, dan segala hal yang menurut kita adalah yang terbaik dari diri kita sendiri. Orang lain akan mengenal kita bukan dari penjelasan tersebut, tapi dari apa yang kita lakukan.

Dan seperti itulah sebenarnya diri kita. Saya mengenal beberapa orang yang cukup “keren” di negeri ini. Bagaimana saya mengenal mereka mungkin berbeda dengan orang-orang yang kenal hanya dari apa yang mereka tampilkan di media sosial. Mengenal mereka dengan lebih detail dan menyeluruh, bukan hanya satu arah seperti kita membaca mereka di media sosialnya.

Dan bukankah memang seperti itu diri kita? Orang yang “mengenal” kita bisa dihitung jari. Dari segala hal pencapaian kita selama ini, dan mungkin orang lain menganggap kita luar biasa dengan pencapaian organisasi, prestasi, dan segudang hal lainnya. Yang benar-benar mengenal kita hanya sedikit. Dan kita tidak pernah menjelaskan tentang diri kita kepada mereka yang sedikit itu.

Sebab mereka tidak memerlukan penjelasan apapun, sebab mereka mengenal siapa diri kita dan siapa sebenarnya. Barangkali orang lain di luar sana terkagum-kagum denganmu, mereka tidak.

Lakukanlah apa yang kamu yakini dan percayai bahwa itu baik dan benar. Benar yang tidak hanya dalam definisi kita sendiri, tapi kebenaran yang berasal dari sumber-sumber utama. Baik yang tidak hanya baik menurut kehendak kita sendiri, tapi kebaikan yang berasal dari tuntunan-tuntunan utama.

Kita tidak perlu menjelaskan, cukup lakukanlah.

Yogyakarta, 12 Februari 2017 | ©kurniawangunadi

uneg-uneg tentang selfie

Introvert adalah pribadi yang hidup dalam pikiran. Setiap hari berkontemplasi. Setiap hari berasumsi. Ada yang perlu kita waspadai. Bahwa seorang introvert itu sangat rawan terjebak dalam asumsi dan kacamata berpikirnya sendiri.

ini gue rasain banget ketika ada begitu banyak orang menulis tentang ‘keharaman’ selfie bagi wanita. Gue sebenernya bukan orang yang ngedukung wanita untuk berbondong-bondong selfie. Setiap orang harus punya rasa malu. Wanita harus menjaga dirinya dengan tidak membuka aurat, dan laki-laki harus menjaga dirinya dengan menundukkan pandang plus tidak banyak mengumbar kata mesra yang mengandung fitnah. Tapi dibalik semua kewajiban itu, hukum selfie tetap mubah. Nggak bergeser menjadi haram.

Pentingnya apa memahami bahwa selfie itu mubah?

agar kita lebih punya hati dalam memperingatkan para muslimah yang banyak memasang foto di sosial media. Biar kita nggak dengan kasar menggunakan logika bahwa selfie = tabarruj, tabarruj = dosa, dan yang dosa itu haram dilakukan jadi selfie itu haram. Tidak semua selfie termasuk tabarruj. Jika ia dilakukan sesuai adab serta dengan frekuensi yang sesuai ukuran, semua orang diizinkan untuk melakukannya. Wajah itu pada dasarnya cuma identitas. Jika di instagram kita ada satu dua foto, itu nggak masalah. 

Jangan semua dibawa ke arah tabarruj. Tabarruj itu bermakna dengan sengaja untuk membuka sesuatu yang seharusnya di sembunyikan. Sementara nggak semua orang memasang foto dengan niat ‘sekedar untuk menampakkan diri’. Gue mungkin keseringan memakai sudut pandang introvert yang melakukan hampir semua hal dengan menata niat terlebih dahulu. Berbeda dengan orang ekstrovert yang kadang melakukan sesuatu ya sekedar ngelakuin aja. Tanpa ada niat apapun. Buat lucu-lucuan doang.

Jangan dipahami kalau gue mendikotomi manusia cuma jadi dua jenis. Introvert sama ekstrovert doang. Manusia itu banyak. Sudut pandangnya juga amat sangat banyak sekali. Dimana masing-masing sudut pandang jauh banget bedanya. Jadi nggak semua orang itu melakukan sesuatu dengan dasar atau niat seperti yang kita pikirkan.

Intinya, nggak semua wanita itu memasang foto demi mencari perhatian. Kalau toh frekuensinya terlalu banyak, kita bisa ngingetin dengan bahasa yang santun. Bukan hanya dengan nada yang lembut tapi ujung-ujungnya dijudge tabarruj.

Wanita menutup auratnya itu lillah. Bukan sekedar untuk menjaga diri dari mata yang jelalatan. Laki-laki menjaga pandang pun mestinya juga lillah. 

Menutup aurat dan menjaga pandang adalah urusan dan tanggung jawab masing-masing. Nggak ada ceritanya laki-laki jadi punya hak buat nyalahin wanita karena kegagalannya menjaga pandang. Dan nggak ada ceritanya wanita jadi bebas dari kewajiban menutup aurat ketika semua laki-laki lulus dari ujian menjaga pandang.

inget guyonan dua orang teman:

“Eh itu instagram penuh banget sama selfie nggak apa-apa?“

“Emang kenapa. Kan mubah?“

“Yaa nggak apa-apa sih. Cuman lucu aja. Tiap ngelihat newsfeed yang muncul, muka kamu semua. Berasa lagi jalan di dunia nyata terus ngelihat pohon, eh ada foto kamu. Ngelihat gedung, ada foto kamu lagi. Ngelihat menu makanan itu lho, ada foto kamu juga. Berasa kamu tuh jadi duta segala macam produk ~XD. Overdosis akunya“

si teman langsung ketawa. Esoknya, ada banyak foto yang dihapus. 

Setiap orang punya bahasa masing-masing dalam mengingatkan. Hanya saja, nggak semua hal bisa dikaitkan dengan tabarruj seolah menjadi wanita itu kerasa susah. Gerak dikit aja salah. Gerak dikit aja disangka cari perhatian. Endingnya pemahaman tentang tabarruj menjadi berlebihan. Padahal semua yang dipahami secara berlebihan itu tidak baik. 

Wanita memang harus belajar tentang rasa malu dan tentang definisi tabarruj. Tapi biarkan mereka belajar secara utuh lewat kata-kata yang baik. Bukan lewat nasihat judgemental di muka umum yang menuduh mereka berbuat yang tidak-tidak. Padahal selfie itu mubah.

Selfie berpotensi ke arah tabarruj seperti potensi pisau yang bisa dijadikan alat untuk membunuh. Tapi nggak semua selfie itu tabarruj, sama halnya kayak pisau yang nggak semuanya dipakai untuk membunuh.

Silahkan menampakkan diri kita secukupnya saja. Sebatas orang tahu bahwa akun kita tidak anonim. Sebab di era ketika banyak orang tidak bertanggung jawab berpendapat secara anonim, memperlihatkan identitas ketika beropini adalah bentuk tanggung jawab.

Jikapun kamu memilih untuk tidak menampakkan diri sama-sekali, itu hak masing-masing. Setiap orang bisa menggunakan kacamata yang berbeda. Menjaga diri dari fitnah itu amat baik. Tapi memaksa semua orang menggunakan kacamata yang sama sehingga yang pasang satu dua foto dituduh nggak mau menjaga diri, kita perlu memeriksa hati kita masing-masing.

Biarkan para akhwat belajar tentang kehati-hatian dengan prosesnya masing-masing. Yang mubah biarlah tetap menjadi mubah. Kalaupun kita mengurangi frekuensi untuk melakukan yang mubah, semoga semuanya dilakukan atas dasar yang benar.

seperti kita yang berkomitmen mengurangi makanan berlemak yang meskipun itu nggak haram, tapi lebih baik dihindari karena nggak baik untuk kesehatan jantung.

seperti kita yang berkomitmen untuk mengurangi makanan pedas yang meskipun itu enak, tapi nggak bisa dimakan banyak-banyak karena bisa membuat perut kita sakit dan mengurangi produktifitas.

mengurangi frekuensi selfie harus dimaknai demikian. agar kita bisa lebih santun lagi dalam menasihati dan tidak serampangan menebak niat orang.

Wallahu a’lamu wal musta’an,

Berumah Tangga

23 September 2016 - 3 Mei 2017

Baru beberapa bulan, belum ada setahun. Tapi, perjalanannya terasa panjang. Mengingat berumah tangga, pada semua hal di dalamnya membutuhkan komitmen, juga konsistensi.

Kita konsisten pada apa yang pernah diikrarkan sejak awal. Menjaga perasaan agar tetap pada tempat yang tepat, yaitu kepada pasangan. Juga bagaimana menjaga ritme rumah tangga agar tetap stabil ditengah perjalanan.

Mengapa kehidupan rumah tangga, kalau dalam masyarakat kita sering diberi istilah dengan “bahtera rumah tangga”. Karena memang barangkali “kapal” ini adalah kiasan yang paling tepat untuk menggambarkan sebuah kondisi rumah tangga, dibanding dengan kendaraan lainnya seperti mobil, motor, pesawat, kereta api, apalagi KRL.

Jalannya tidak pernah mulus seperti aspal, atau tidak juga terus berlubang seperti aspal (lagi). Laut adalah analogi yang paling bijaksana untuk menggambarkan kondisi perjalanan sebuah bahtera rumah tangga, ada tenangnya, ada badainya, ada ombak kecil, ada ombak besar, ada hujan, ada terik. Dan satu hal yan paling bijaksana dari gambaran ini, adalah bahtera itu sendiri. Bahtera menjadi pagar yang membuat orang-orang di dalamnya, mau tidak mau, harus berada di dalamnya. Bekerja sama agar kapal tetap berlayar, tidak tenggelam. Bahu membahu untuk saling berbagi peran. Juga semua yang berada di kapal dituntut untuk saling percaya satu sama lain.

Tidak menyenangkan kan kalau ada satu saja awak yang berkhianat, melubangi kapal, atau ketika badai tidak bertugas menurunkan layar, atau membelokkan kapal ke arah yang keliru. Saya pikir, masyarakat kita benar-benar bijaksana ketika mengkiaskan rumah tangga sebagai bahtera.

Memang tepat kalau dikatakan, ilmu sebelum amal. Untuk menjalani perjalanan jauh, dengan peran-peran yang penting, dan setiap peran memang penting. Perlu ada ilmunya. Penting untuk mempelajarinya, terutama bekal-bekal utama. Meski nanti di tengah perjalanan kita juga bisa sambil belajar, tentu saja ada modal pertama yang harus dimiliki. Minimal ilmu-ilmu dasarnya. Berumah tangga pun demikian, penting untuk memiliki ilmu-ilmu dasarnya.

Kalau kita paham. Kita tidak akan buru-buru menaikan jangkar, melaut. Padahal cuaca masih badai, atau arah angin masih berbalik. Kita akan tahu, kapan waktu terbaik kita untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Untuk itu, jangan buru-buru. Pahami betul tentang kapan waktunya, karena kalau kita tahu ilmunya, kita akan siap kapan pun untuk berlayar seketika kesempatan itu tiba.

Selamat belajar, memperbanyak pengetahuan. Lupakan tentang apa kata orang. Karena bahtera mu nanti itu ada dalam tanggungjawabmu. Mereka tidak akan bertanggungjawab bila nanti bahteramu tenggelam, atau salah haluan.

Pahamkan itu baik-baik :)

Yogyakarta, 3 Mei 2017 | ©kurniawangunadi

Tips Murah-Meriah Terbiasa Bahasa Inggris dalam Satu Bulan

Hey, guys! I would like to share something good this time, some kind of advice for those who are interested to improve their English in a rather short period.

Sebagian kita khawatir dengan kemampuan (proficiency) bahasa Inggris kita yang tidak berkembang di bangku kuliah. Kekhawatiran ini muncul karena kita tahu betapa pentingnya kemampuan ini di masa mendatang. Entah itu untuk mengejar karir atau memperoleh kursi di jenjang pendidikan pascasarjana.

Untuk itu, saya ingin berbagi tips agar kamu sudah terbiasa dengan bahasa Inggris sebelum memulai persiapan yang lebih serius untuk mendapatkan sertifikat IELTS atau TOELF. Tips ini penting diamalkan sebelum mengambil les intensif berbayar di lembaga formal karena dapat meningkatkan efisiensi investasi kamu buat masa depan yang gemilang. Sekali tes IELTS atau TOEFL iBT bisa 2,5 juta rupiah sekarang!

Vocab adalah hal yang penting dalam komunikasi. Makin banyak tahu vocab, makin fleksibel kita mengkomunikasikan ide yang ada di kepala. Banyak yang stuck dalam percakapan atau menulis esai karena tidak tahu ekspresi yang cocok untuk suatu keadaan. Untuk memupuk vocab, kamu perlu banyak membaca dan mencoba menggunakan vocab barumu.

Selain vocab, tentu kita perlu paham struktur penulisan yang baik. Grammar bukan hanya soal benar/salah tapi bagaimana pesan yang disampaikan exactly persis dengan apa yang kita mau.

A: Are you eating? (Kamu ga makan sekarang?)
B: Sorry, I don’t eat. (Maaf, saya ga makan.) *maksudnya lagi ga makan*
A: What? Are you kind of an angel or what? (Apa? Maksudnya kamu semacam malaikat gitu?)

Mulailah belajar grammar dari hal-hal yang paling sederhana. Kamu bisa membuka kembali formula grammar yang biasanya ada di sisipan sebuah kamus. Sebagai awalan, kamu mulai membiasakan diri dengan kalimat-kalimat sederhana seperti yang ada di buku cerita anak-anak. Setelah terbiasa dengan kalimat-kalimat ringan, mulailah membiasakan dengan tulisan dengan struktur yang lebih serius dan kompleks, seperti koran harian berbahasa Inggris atau novel.

Terakhir, tentu saja yang penting melatih mengobrol dan menulis dalam bahasa Inggris. Dengan kemudahan internet zaman sekarang, latihan mengobrol dan menulis bisa dilakukan kapanpun, dimanapun. Yang terpenting adalah punya teman seperjuangan atau yang mau sukarela jadi your chatting buddy.

Untuk mempermudah gambaran fase-fase pembelajaran yang saya akan sarankan, saya coba membaginya dalam 4 tahap, alias 4 minggu. Gampangnya, daftar poin di bawah bisa diberi nama “Tips Murah-Meriah Terbiasa Bahasa Inggris dalam Satu Bulan”. Here you go!

Minggu pertama:
1. Bulatkan tekad dan PERJELAS MENGAPA kamu ingin mulai memperbaiki bahasa Inggrismu. Silakan menyusun reward-punishment (R&W) jika kamu merasa perlu. R&W membuat sesi sebulan ini lebih seru.

2. Beli sebuah kamus saku jika belum punya. BACA ARTI KATA-KATA BARU TIGA LEMBAR PER HARI. Walaupun cara ini terkesan kuno, tapi sangat membantu memperkaya khazanah vocab-mu.

3. Tunjuk dan sepakati satu-dua orang teman belajar (English buddy). Orang ini boleh jadi orang yang punya niat belajar yang sama atau teman yang sudah jago bahasa Inggrisnya. Lebih baik lagi jika orang ini dapat kamu temui cukup sering. Dia juga bisa seorang yang jauh di sana, tapi bisa meluangkan waktu meladeni kamu mengobrol. Pastikan selalu kalian mengobrol dalam bahasa Inggris, baik via tulisan maupun lisan (face to face atau videochat). *awas bahaya laten #salahfokus jika buddy-mu berpotensi jadi prospek teman hidup*

Minggu kedua & ketiga:
4. TONTON TIGA FILM IMPOR PER MINGGU, dengan subtitle bahasa Inggris. Kamu tidak belajar mengartikan kali ini, melainkan mencocokkan apa yang kamu dengar dengan apa yang sebenarnya diucapkan. Menonton juga dapat menggambarkan kapan sebuah ekspresi atau istilah digunakan dengan tepat. Jangan malu menggunakan kamus atau Google Translate sebagai alat bantu. Pastikan film didapat dari sumber yang murah-meriah. Jika kamu merasa menonton film kurang bermanfaat, kamu dapat menggantinya dengan menonton video-video di TED.com yang keren abis. 3 film = 15 video TED atau TEDx.

5. BACA SATU NOVEL YANG RINGAN–tidak tebal, temanya keseharian/fabel, dan relatif tidak kompleks kalimatnya–PER MINGGU. Kamu bisa memulai dengan Totto-Chan (Kuroyanagi), The Tale of Despereaux (DiCamillo), Charlotte’s Web (White), atau Animal Farm (Orwell). Cari referensi buku-buku lain bergenre “children literature” atau sastra anak di internet. Buku-buku ini membantu kamu terbiasa dengan tulisan yang naratif dan deskriptif. Cerita sastra anak biasanya kaya akan vocab yang spesifik untuk sebuah kegiatan, ekspresi, atau nama benda. Untuk berhemat, pinjamlah buku-buku ini di perpustakaan atau dari teman.

6. Membaca koran berbahasa Inggris seperti Jakarta Post atau Jakarta Globe membantu membiasakanmu dengan tulisan yang runut dan argumentatif. BACA SATU ARTIKEL PER HARI, di internet, membantu memperkaya vocab-mu terutama untuk istilah-istilah umum yang agak serius. Selain itu membaca koran membantu kamu updated dengan hal-hal yang sedang terjadi di sekitarmu ataupun di belahan dunia lain.

Minggu ke-empat
7. Tweet your thoughts. Apa yang kamu dapatkan dari bacaan atau obrolan harianmu sama si “English buddy” bisa kamu share dalam bahasa Inggris via Twitter. Jika kamu lebih nyaman menulis dengan platform lain seperti Wordpress atau Tumblr, silakan saja. Start simple and short. Usahakan tidak menulis di Facebook atau Path yang sifat komunikasinya “dua arah” karena rawan mendapat komentar yang malah mengolok dan mendemotivasi. Hehe.

8. Mulailah BACA TULISAN YANG LEBIH KOMPLEKS seperti artikel sains populer seperti yang ada di popsci.com, Natgeo, atau artikel ekosospol di The Economist dan Time. Jika kamu suka fiksi, cerpen mingguan di The New York Times bisa jadi alternatif “bacaan berat”.

That is all! Oh ya, apa yang dilakukan di minggu sebelumnya harus terus dilakukan sampai akhir bulan. Jadi “tugas”-nya bertambah bukan diganti.

Tentu tiap dari kita sudah punya bidang minat masing-masing. *kalo belum segera dicari* Setelah treatment ini berakhir, mulailah membaca buku-buku yang relevan dengan bidang minatmu. Jurnal dan buku teks, by this time, sudah manageable dibaca. Kamu juga bisa menguji tips ini dengan mengambil course online gratis di Coursera atau EdX. Please give feedback jika tips ini gagal atau malah sukses besar.

Pada akhirnya, TOEFL atau IELTS hanya tes terstandardisasi yang bisa dipelajari dengan latihan soal. Tapi yang terpenting adalah membiasakan berpikir–membaca, mendengar, merespon–dalam bahasa Inggris sebagai modal berkompetisi di masa mendatang. Ingat selalu bahwa kita bisa karena terbiasa and practice makes perfect.