apa itu

Patah Hati Biasa Saja

Patah hati itu biasa saja.
Paling-paling telepon genggammu mendadak sepi. Tidak ada pesan yang setiap saat datang. Tidak ada telepon yang masuk bertanya, “lagi apa, sayang?”

Patah hati itu biasa saja.
Paling-paling hatimu terasa sepi. Tidak ada yang memperhatikan keseharian. Tidak ada yang sekedar mengingatkan jangan sampai terlambat makan.

Patah hati itu biasa saja.
Paling-paling kamu bingung mau menghabiskan waktu. Tidak ada lagi yang mengajak makan di luar, atau nonton film-film terbaru di layar lebar.

Patah hati itu biasa saja.
Paling-paling kamu kesulitan tidur setiap malam. Ada beberapa potongan-potongan kejadian menyenangkan, atau suara dan wajah yang sangat familiar mengisi kepalamu. Memaksamu untuk tetap terjaga.

Patah hati itu biasa saja.
Paling-paling kamu gelisah dengan setetes dua tetes air mata, karena ada rasa rindu yang tertahan. Jika biasanya, kalau rindu ya bilang saja. Ingin bertemu ya datangi saja.

Patah hati itu biasa saja.
Paling-paling hatimu sedikit panas dan geram. Kalau tiba-tiba dia memasang foto berdua dengan kekasih baru pada sosial medianya. Padahal sebelumnya, di sebelahnya melekat erat pada bahunya adalah tempatmu.

Patah hati itu biasa saja.
Ia tidak akan membunuhmu. Paling-paling hatimu terasa mati. Sulit terhibur, karena seseorang yang mampu menghiburmu, mematahkan hatimu lalu memilih pergi.

Patah hati itu biasa saja.
Percaya. Nanti juga akan datang orang lain yang mampu memperbaikinya.
Jadi, ya biasa saja.

Ramadhan #2 : Melalui Peran

Sewajarnya remaja, kita senang melihat orang tampan atau cantik. Apalagi ketika kita mendambakan sosok yang menjadi pasangan kita itu yang cantik atau yang tampan. Layaknya artis korea semisal. Sebagai sosok-sosok yang luwes saat kita ajak ke kondangan.

Dan kini, iklan dan barisan newsfeed di instagram pun banjir dengan kecantikan dan ketampanan. Cantik dan tampan dalam definisi rupa. Semulus kulitnya, seputih kulinya, selurus rambutnya, sekeren bajunya, sehitam alisnya, dan berbagai definisi yang tampak sangat lahiriah. Sesuatu yang pasti tidak akan berusia panjang, tapi kita sangat terpesona dan ikut menikmatinya. Beberapa dari kita menjadikannya sebagai kiblat dari definisi itu, karena kita tidak memiliki definisi sendiri apa itu cantik, apa itu tampan.

Dan saya kasih sedikit rahasia. Bahwa sejak dulu, bagi saya cantik (karena saya laki-laki) adalah ketika seorang perempuan memiliki dan menyadari perannya. Perempuan yang mengambil peran secara langsung, secara nyata, terjun ke lapangan, dan memberikan dampak positif. Dan jujur, perempuan seperti itu memang sulit kita jumpai di dunia maya. Sulit menemukan fotonya dengan busana OOTD, apalagi ikutan photoshot untuk ajang-ajang tertentu.

Perempuan yang memiliki dan mengambil peran itulah yang cantik. Setiap peran yang ia ambil, layaknya perawatan kecantikan. Setiap kali ia mengajar, ia sedang merawat hatinya. Setiap kali ia membantu orang lain, ia sedang merawat empatinya, setiap kali ia duduk dalam barisan rapat membahas tentang masalah di masyarakat dan mendiskusikan solusinya, ia sedang merawat akal sehatnya. Dan semakin ia berperan, ia tampak semakin cantik.

Jujur saja, bukankah ada beberapa teman kita yang demikian? Cantiknya terpancar setiap kali ia menjalankan peran kebermanfaatannya. Auranya mengalahkan setiap serpihan bedak dan gincu. Dan arenanya bukan di instagram, tapi di tempat tempat jauh yang sinyalnya mungkin angin-anginan.

Dan pandainya teman-teman laki-lakiku adalah mereka berhasil mempersunting yang demikian. Perempuan-perempuan yang berperan, bukan baperan. Perempuan-perempuan yang berhasil mendefinisikan dirinya sendiri. Perempuan yang sigap, mau berjuang, dan tidak keberatan untuk ikut memikirkan kondisi orang lain. Tidak hanya berpikir tentang kenyamanan dan keamanan diri dan keluarganya.

Dan definisi cantik itulah yang dianut oleh sebagian besar teman laki-laki saya. Satu persatu dari mereka menemukannya. Di organisasi, di komunitas, di lingkungan-lingkungan nyata yang selama ini mempertemukan peran mereka.

Dan kalau kita mau mengukurnya dengan standar kecantikan seperti iklan di televisi, barisan selebgram, dan definisi cantik yang hanya tampak secara lahir. Mereka mungkin kalah jauh. Tapi mereka berhasil mendifinisikan dirinya sendiri, memiliki nilai-nilai yang utuh yang lahir dari dalam diri, bukan dibentuk oleh iklan, oleh dunia maya.

Dan satu hal, mereka berhasil menemukan laki-laki baik yang masih baik akal sehatnya. Sesuatu yang paling dikhawatirkan oleh perempuan di luar sana, adakah laki-laki baik? jangan-jangan laki-laki menyukainya hanya karena kecantikan?

Kalau kamu perempuan, buatlah definisi yang tampan bagimu itu seperti apa. Itulah yang akan membuatmu lebih mudah untuk mengenali, siapa orangnya.

28 Mei 2017 / 2 Ramadhan 1438H | ©kurniawangunadi

Bacalah!

Dia tidak dipermainkan oleh dunia.
Tidak.
Dunia ini adil. Ia hanya dipermainkan oleh dirinya sendiri. Oleh pemikiran-pemikiran buruk yang ia buat sendiri. Oleh prasangka konyol yang ia bangun sendiri.  

Ia juga tidak hidup sendiri.
Tidak.
Banyak yang ingin bersamanya. Banyak yang ingin menemaninya. Banyak yang rela melepas apa saja untuk bisa hidup bersamanya. Ia sendirilah yang tanpa sadar menolak mereka yang datang dan ingin peduli karena merasa mereka semua tidak benar-benar mengerti.

Ia dibunuh oleh pemikirannya sendiri.
Lalu kemudian semesta mengabulkannya. Semua yang terjadi padanya kini sesuai dengan apa yang ia pikirkan. Lalu setelah itu apa yang ia lakukan? Merengek dan berteriak bahwa hidup tidak adil. Meludahi semua orang yang bertanya khawatir dengan alasan mereka semua tidak benar-benar peduli.

Lantas ia merasa yang paling bawah di antara orang-orang yang lain.
Merasa bahwa dirinyalah yang paling perlu dikasihani. Serta menggunjing ke setiap yang datang sebagai kedok untuk meninggalkannya lagi. Membuat yang benar-benar ingin peduli merasa jadi tak dihargai.

Ya.
Hidupmu yang selalu kau rasa sengsara itu tak lain tak bukan adalah doa yang tanpa sadar diam-diam sering kau ucap tanpa cakap; Yang kau lantunkan sejak dalam pemikiran. 

Lalu kau menuduh mereka yang hidup bahagia itu tidak pernah mengerti rasanya menjadi dirimu? Tak pernah benar-benar peduli karena mereka sekarang tidak berada di posisimu?

Oh sayang,
kau munafik sekali.
Mereka semua tentu pernah, tapi pemikiran mereka jauh lebih baik ketimbang mengeluh dan merengek seperti yang kau lakukan sekarang. Mereka lebih sibuk menata dan membangun ketimbang merasa menjadi orang yang paling dizolimi, paling terkekang, paling tersiksa, paling tidak dimengerti di seluruh dunia!

Lihatlah mereka.
Mereka melihat buah yang setengah busuk sebagai rezeki karena masih ada bagian yang dapat dimakan dan dinikmati, sedangkan kau melihat buah yang setengah busuk sebagai kegagalan karena tidak berhasil membuat buah yang sempurna di segala sisi.

Mengertikah engkau?
Bahwa bagi mereka yang selalu kau rendahkan dengan tatapan menghina karena merasa mereka tidak pernah mengerti itu, masalahmu ini tak lebih dari secuil kotoran yang tak berarti sama sekali jika dibandingkan dengan masalah yang sedang–telah mereka derita tapi tak mereka umbar-umbar ke muka dunia.

Dan sekarang kau merasa tersinggung setelah membaca semua tulisanku ini?
Karena ya, semua itu memang benar.

Dan kau terlalu munafik untuk mau mengakuinya.

Dear Samudera,
yang kadang pasang, kadang surut, kadang tenang, kadang bergemuruh karena ombak-ombak yang menggulung.
pernah nggak dalam hidupmu kamu menemui seseorang yang bijak sekali menghadapi semua masalah? yang bijak sekali menghadapi segala suasana?

Orang itu Samudera, nggak ada apa-apanya. orang itu cuma bijaksana aja. belum Yang Maha Bijaksana. kebayang nggak Yang Maha Bijaksana kaya gimana? kebayang nggak seperti apa sikap baiknya itu? nah itu yang dimiliki Tuhan kita.

Segala ketetapan yang Dia atur, pastilah sudah ditetapkan dengan Maha Bijaksana. Jadi, yang semangat ya! Apapun ketetapanNya, pasti yang terbaik. Tetaplah berprasangka baik.

Dear Samudera, yang sabar ;)

Simpan Prasangkamu untuk Dirimu Sendiri

Aufina sedang asyik menikmati es krim. Saya duduk di sebelahnya sambil membaca beberapa ayat Quran. Satu waktu, saya melirik sebentar hanya untuk memastikan ia baik-baik saja.

Namun, seketika saya kaget melihat Aufina ‘mengobok-obok’ es krim dengan tangannya. Padahal sudah saya beri sendok sebelumnya. Tanpa berpikir lebih lama, saya pun menasihati, “Kok makan es krimnya pakai tangan? Tangannya jadi lengket dong. Kan tadi sudah dikasih sendok? Ke mana sendoknya?”

Namun seketika itu pula saya beristighfar setelah Aufina dengan jujur dan apa adanya berkata, “Sendoknya masuk ke dalam (tenggelam 'di telan’ es krim).” Sambil menunjuk lokasi 'tenggelamnya’ sendok es krim itu.

Astaghfirullah.. Saya baru paham kenapa ia mengobok-obok mangkuk es krimnya barusan.

“Oh gitu. Aufina itu tadi mau ambil sendoknya ya?”

“Iya..” jawabnya.

Astaghfirullah. Saya langsung meminta maaf. “Maafin Ibu ya, Ibu ngga nanya dulu ke Aufina. Malah langsung menasihati. Maaf ibu tadi nyangka Aufina ngobok-ngobok es krim. Padahal Aufina mau ambil sendok ya?”

Buru-buru saya bantu ia menemukan sendok yang hilang ditelan es krim itu. Sambil terus berucap maaf dalam hati.

Prasangka buruk.
Alangkah mudah hati ini berprasangka buruk. Bermodalkan ketidaktahuan dan ketiadaan keinginan untuk mencari tahu, prasangka itu tumbuh tanpa hambatan. Subur, bahkan.

Padahal, jika mau menunggu sejenak lebih lama, jika mau bertanya “Apa?” dan “Mengapa?” Prasangka itu tidak perlu keluar dari kepala.

Prasangka mungkin sangat sulit untuk dihindari. Barangkali ini berkaitan dengan kecenderungan naluriah otak manusia yang bekerja dengan salah satu prinsipnya, yaitu : mempertahankan eksistensi.

Dalam prinsip tersebut, prasangka, curiga, dapat diartikan sebagai bentuk usaha untuk mendeteksi ancaman dan bahaya sejak dini. Tentu ini berguna, misalnya ketika kita di suatu malam berhadapan dengan sekelompok orang berpenampilan preman, kebut-kebutan di jalan, sambil membawa cangkul dan arit. Secara refleks kita akan curiga bahwa mereka berbahaya dan akan langsung berpikir untuk segera melapor ke pihak berwajib. Hampir mustahil kita akan mengira mereka adalah sekelompok petani.

Prasangka buruk pada kasus ini tak lain adalah bentuk pertahanan diri. Dan dalam kasus begini tak perlu lagi ditunggu apalagi dipertanyakan, “Anda siapa? Mau apa?” Lari saja agar selamat.

Yang demikian itu (adanya kecenderungan naluriah) menurut saya membuat usaha untuk tidak berprasangka buruk bisa dikatakan hampir mustahil. Ya, kita mungkin tidak bisa mencegah prasangka buruk agar tak hinggap di pikiran kita sama sekali.

Tapi,

Kita punya pilihan untuk tidak mengungkapkannya. Menahannya agar tetap dalam kepala.

Baru-baru ini saya membaca tafsir Ibnu Katsir mengenai ayat 12 Surat Al-Hujurat. Ayatnya berbunyi :

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.”

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa jika muncul prasangka buruk dalam benak, tahan lidah agar tak mengungkapkannya. Ini berdasarkan hadits Rasulullah saw yang menganjurkan kita untuk tidak menyatakan prasangka kita.

“Rasulullah Saw. pernah bersabda: Ada tiga perkara yang ketiganya memastikan bagi umatku, yaitu tiyarah, dengki, dan buruk prasangka. Seorang lelaki bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah cara melenyapkannya bagi seseorang yang ketiga-tiganya ada pada dirinya?” Rasulullah Saw. menjawab: Apabila kamu dengki, mohonlah ampunan kepada Allah; dan apabila kamu buruk prasangka, maka janganlah kamu nyatakan; dan apabila kamu mempunyai tiyarah (pertanda kemalangan), maka teruskanlah niatmu.“
(HR. Thabrani)

Rasulullah saw tidak secara eksplisit meminta kita untuk tidak berprasangka. Namun, jika kita memiliki prasangka buruk, beliau meminta kita untuk tidak menyatakannya.

Dalam ayat tersebut juga dikatakan "Jauhilah kebanyakan dari prasangka.” Bukan “Jauhilah seluruh prasangka,” karena boleh jadi ada prasangka buruk yang memang 'berguna’. Seperti prasangka soal sekumpulan orang bermotor membawa cangkul dan arit yang saya ilustrasikan tadi. Atau prasangka seorang petugas di bandara terhadap calon penumpang yang dicurigai membawa narkoba.

Poinnya adalah, secara manusiawi, kita diberi otak yang darinya kerap muncul berbagai pikiran, termasuk juga prasangka. Dan otak kita tak serasional yang kita kira. Prasangka buruk seringkali muncul karena 'kemalasan’ otak untuk mau bertanya dan berpikir lebih luas.

Meski begitu, prasangka buruk dalam kuadran positifnya dapat disebut sebagai mekanisme alamiah untuk mempertahankan diri dari ancaman dan bahaya.

Mekanisme alamiah ini bukan sesuatu yang mudah untuk dikendalikan. Bahkan mungkin mendekati mustahil untuk dihilangkan sama sekali. Di situlah ada peran akal, yang punya fungsi membedakan yang benar dan salah, baik dan buruk. Akal berfungsi untuk menyeleksi, mana prasangka-prasangka buruk yang perlu diungkapkan, mana yang tidak. Mana prasangka yang harus diikuti, mana yang tidak.

Di sinilah 'pertarungan’ ini menjadi seru. Dorongan kodrat manusiawi kita mesti beradu kuat dengan akal nurani kita. Seperti saat kita menundukkan dorongan kodrat manusiawi kita untuk makan, minum, dan berhubungan suami-istri melalui shaum.

Sebagian prasangka jika diungkapkan sebelum nyata kebenarannya, hanya akan menyakiti, menimbulkan kegaduhan, dan bisa jadi menzalimi seseorang. Dan bukanlah termasuk muslim jika orang lain tidak selamat dari kejahatan lisannya.

“Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ganguan lisan dan tangannya” (HR Bukhari)


Dari sini saya belajar kembali untuk menjadi tuan atas pikiran dan kecenderungan manusiawi saya sendiri. Untuk tidak buru-buru menyatakan prasangka, untuk mau bersabar menunggu, untuk mau mencari tahu, untuk menjaga perasaan orang lain.

Maaf atas kemalasanku untuk bertanya lebih jauh padamu. Maafkan aku jika prasangkaku pernah menyakitimu..

Tulisan : Rezeki itu ada waktu dan tempatnya

Semakin jauh jarak yang ditempuh, semakin panjang waktu yang dijalani, semakin terasa bahwa apa-apa yang dulu tidak dipahami menjadi semakin dimengerti. Melihat bagaimana dunia berputar, bagaimana orang-orang bergerak ke sana ke mari, merasakan bagaimana siang dan malam terasa semakin cepat berganti.

Sebelum lulus dari kuliah, ingin ini dan itu. Banyak sekali. Melihat kepemilikan orang lain dan ingin memilikinya. Melihat teman yang sudah lulus dan bekerja, terasa bahwa apa yang dimiliki saat itu tidak terasa berharga.

Selepas kuliah. Melihat bagaimana teman-teman mulai memiliki perusahaan sendiri, ataupun mulai membeli dan mencicil rumah, juga kendaraan, dan kita masih tertatih-tatih kepanasan dengan sepeda motor dan kos-kosan yang sempit. Terasa bahwa apa yang dimiliki saat itu begitu sedikit.

Selepas itu, melihat teman satu per satu menemukan pasangan hidupnya. Kita pun mulai berpikir bagaimana mencari dan menemukannya, sementara di satu sisi kaki kita masih berpijak di dunia dimana kita masih mengukur seberapa banyak harta yang kita siapkan untuk membina rumah tangga. Dan kita juga menyadari usia yang semakin menua. Juga menyadari kalau menikah tidaklah tepat dengan alasan-alasan seperti itu, tapi tetap saja hati kita terasa kosong dan iri pada apa-apa yang didapati oleh teman-teman yang lain.

Setelah menikah, kita melihat orang lain memiliki bayi-bayi yang lucu. Bahkan beberapa dari mereka, menikah setelah kita dan memiliki bayi lebih dulu. Sementara kita belum juga diberikan. Rasanya kebahagiaan seperti dikurangi setiap hari dan setiap kali melihat foto-foto bayi yang membanjiri linimasa media sosial.

Rasanya, tidak akan pernah ada habisnya jika kita menghitung apa-apa yang tidak dan belum kita miliki. Dan itu membuat hari kita semakin sempit, kebahagiaan semakin sulit ditumbuhkan.

Dan saya menjadi paham bahwa rezeki itu memang ada waktu dan tempatnya. Apa yang saya miliki saat ini, adalah apa-apa yang begitu diinginkan oleh orang lain. Barangkali memang inilah rezeki yang paling tepat untuk saya saat ini. Dan saya pun menjadi paham bahwa mendoakan orang lain itu lebih baik daripada bertanya.

Bertanya tentang; kerja dimana, penghasilan berapa, sudah punya apa, kapan menikah, sudah hamil belum.

Kadang saya khilaf, jangan-jangan saya menjadi sebab hilangnya rasa syukur orang lain karena pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Pertanyaan yang seperti peduli tapi sebenarnya hanya penasaran karena ingin tahu. Keingintahuan tentang orang lain yang tidak bisa kita kendalikan.

Dan saya pun belajar bahwa syukur itu hal yang paling bisa memenangkan dan menenangkan hati. Saya percaya bahwa rezeki itu akan datang di tempat dan waktu yang terbaik. Jangan khawatir.

Yogyakarta, 20 April 2017 | ©kurniawangunadi

Terkadang aku rindu obrolan manis kita dahulu; masa dimana kamu masih senang bercerita perihal apa yang terjadi hari itu. Kamu bergumam menceritakan, sementara aku bergeming mendengarkan.

Kamu dengan cerianya membuka topik perihal apa yang kamu senangi, apa yang kamu inginkan, apa yang kamu benci. Tak jarang kita membicarakan perkara masa lalu, kamu terbuka untuk mempercayakan semua luka dan laramu kepadaku. Pun tak jarang aku terlelap saat kamu tengah bercakap-cakap.

Namun, kita tak seperti dahulu lagi. Entah kenapa atau memang begitu adanya; perpisahan menghempaskan semua perihal itu. Terlarutkan oleh kesunyian yang dibawa sang pilu. Aku terpaksa memeluk kesendirian, aku biarkan hati ini terbawa arus rindu yang menggelisahkan. Sampai akhirnya, aku bisa melupakan semua luka dan semua kesedihan.

—  Arief Aumar Purwanto | 17/02/2017
Takut Mendalami Agama

Beberapa orang takut mendalami ilmu agama, lalu membuat penyangkalan-penyangkalan sebab ia khawatir jika ia mendalaminya ia akan tahu bahwa apa yang dirasanya menyenangkan sekarang sebenarnya tidak selaras dengan apa yang dianjurkan agamanya.

Ia memilih berhenti dan merasa cukup, hingga tanpa ia sadari ia tengah berupaya menjadi Tuhan, sebab ia berupaya membuat agama memahami kebahagiaannya bukan ia yang berupaya memahami agamanya.

***

Takut ah mendalami agama terlalu jauh, nanti diolok-olok teman dibilang fanatik.

Hmm … yang menolongmu kelak di padang mahsyar adalah agamamu bukan anggapan temanmu.

***

Anak-anak kita nanti lebih perlu tahu bagaimana agamanya tumbuh, siapa orang-orang yang memperjuangkan agamanya, seperti apa itu konsep surga dan neraka yang sebenarnya, bagaimana konsep hidup yang berjalan di atas agama. 

Lalu apa yang akan kita ceritakan pada mereka kelak jika agama yang kita akui sekarang hanya tempelan semata, yang kita peluk sebab takut pada keluarga, pada orangtua, pada lingkungan sekitar, atau bahkan hanya sebuah kebiasaan yang sudah terlanjur melekat dalam diri.

Nona, jangan malu pada anggapan manusia selama yang kau lakukan memang benar sebagaimana yang dianjurkan-Nya. Teruslah berjalan, teruslah kuatkan hatimu dan teruslah berdo’a supaya senantiasa diberi keteguhan hati atas agama-Nya.

Nona, jangan takut, Allah bersamamu, aku pun.

Di dalam hidup saya banyak orang yang datang kemudian pergi lagi, banyak orang yang mengaku teman justru tak lama malah lari, banyak pula yang mendekati jika membutuhkan, menjauh ketika saya meminta bantuan.

Namun, lebih banyak lagi yang tetap menemani, saya berhenti, mereka semangati, saya tak berkata apa-apa untuk meminta itu ini, mereka sadar sendiri menawarkan diri.

— 

Alhamdullillah, masih di kelilingi orang-orang baik.

Ini rezeki.

Maka pilihlah olehmu seorang yang memiliki agama, engkau akan beruntung.

Apa itu agama? Bukan seberapa banyak hapalan Qurannya, tapi seberapa banyak dia mengamalkannya. Bukan seberapa banyak dia mengerti hadits-hadits nabi, tapi juga seberapa banyak dia mengikuti sunnah Rasulullah di dalam setiap gerak hidupnya. Bukan hanya seberapa banyak ilmunya, tapi juga bagaimana dia berkomitmen untuk mengamalkan setiap ilmu itu.

—  Ustadz Salim A. Fillah
Tulisan : Merasa Tahu

Kita seringkali merasa tahu tentang banyak hal. Menjawab semua pertanyaan yang datang dengan jawaban yang sebenarnya hanya kita kira-kira. Padahal kita belum pernah mengalaminya sama sekali.

Dan ini saya menginsafi. Seperti perkara pernikahan. Dulu sebelum menikah, saya menulis begitu banyak hal tentang berkeluarga, menjawab pertanyaan tentang hubungan antara suami dan istri, bagaimana membahagiakan pasangan, dan sebagainya. Dan terus terang, segala jawaban atau pikiran itu lahir dari imajinasi saya tentang berumah tangga dan buku yang saya baca.

Kini, selepas menikah saya mengerti bahwa dulu saya hanya “merasa tahu” tapi kosong. Seperti bagaimana membahagiakan pasangan. Bagaimana menyikapi kekecewaan. Bagaimana berkompromi. Bagaimana menyatukan visi.

Bahkan seperti hal-hal sebelum menikah; bagaimana menentukan pasangan yang tepat, bagaimana mencari keyakinan terhadap seseorang, dsb.

Pada akhirnya saya paham, kalau dulu saya hanya merasa tahu. Dan saya malu. Karena ilmu tentang segala hal itu benar-benar baru saya pelajari nyaris seluruhnya ketika saya menikah. Untuk itulah dulu saya sangat sedikit membalas/menjawab pertanyaan teman-teman terkait hubungan rumah tangga/persiapan pernikahan ketika saya belum menikah. Kalaupun ada yang saya jawab, hampir tidak pernah saya mempublikasikannya di sini.

Karena satu hal. Bisa jadi jawaban itu adalah hanya berdasar pada perasaan saya, imajinasi saya, atau hanya karena saya ingin menjawabnya tanpa saya memiliki ilmunya sama sekali. Dan ketika itu dijadikan sebagai sebuah kebenaran oleh teman-teman, itu kemudian menjadi cara berpikir dan perilaku teman-teman. Menjawab sesuatu tanpa ilmu itu berbahaya sekali. Dan saya memegang teguh prinsip itu.

Kita mungkin sedang menerka-nerka definisi kecantikan dan ketampanan. Sedang mendefinisikan saleh/salehah seperti apa. Sedang meraba-raba hati yang luas dan sempit itu seperti apa. Mungkin ada yang sedang dalam fase itu, fase dimana diantara kita belum mengalami tapi sudah berandai-andai. Menerka dengan imajinasi.

Belajarlah ilmunya dari orang-orang yang telah melampaui semua masa itu. Belajarlah dari orang-orang yang telah mengalaminya, carilah definisi itu dengan cara-cara terbaik yang kamu bisa selain membayangkannya. Carilah jawaban itu di balik bilik-bilik buku yang memang layak untuk dijadikan sumber ilmu.

Karena apa yang kita bayangkan sebelum menjalaninya, dan apa yang akan terjadi setelah menjalaninya bisa jadi berbeda sepenuhnya. Dan jangan sampai kamu tidak siap untuk menghadapi kenyataan yang berbeda dengan apa yang kamu harap dan bayangkan selama ini. Ingat, memanjangkan angan-angan itu tidak baik. Dan jangan kamu menjadikan angan-angan itu sebagai kebenaran padahal kefanaan.

Yogyakarta, 23 Mei 2017 | ©kurniawangunadi

4

HeyYo!

Sepotong tulisan yang sudah lama sekali ingin aku buat akhirnya selesai juga dan berhasil di-publish untuk dibaca oleh siapa saja yang berminat untuk tahu. Mudah-mudahan dapat bermanfaat. Ini adalah tulisan yang dibuat untuk menjawab berbagai pertanyaan “kak, bucket list itu apa? gimana cara bikinnya?” yang seringkali muncul di DM Instagram-ku. Sempat bingung juga gimana cara jawabnya karena sulit dijelaskan jika hanya sebatas reply. So, aku pikir cara terbaik adalah menulisnya di Tumblr.


Mari kita mulai.

Bucket List adalah sekumpulan mimpi dan cita-cita yang ingin dicapai serta hal yang ingin dialami, baik dari yang normal-normal saja sampai yang paling liar sekalipun. Aku mulai membuat Bucket List ini dari tanggal 1 Januari 2015. Yang awalnya iseng saja, lama-kelamaan jadi serius menggarapnya. Sampai sekarang, aku sudah menulis 720 impian yang ingin kucapai. Dari rentang waktu itu, sudah 122 impian yang aku ceklis.

Awal mulanya dari membaca postingan bang Alitt tentang Dream Note yang dia tulis lalu ternyata tercapai satu persatu. Dari sana aku mulai merasakan perasaan menuliskan mimpi, impian, dan cita-cita ke dalam sebuah buku itu benar-benar sangat-sangat-sangat menyenangkan. Dan perasaan saat menceklis sebagai tanda mimpi itu telah terwujud ternyata jauh lebih menyenangkan lagi.

Sejak saat itu, aku mulai menulis apa saja hal-hal hebat (versi diriku sendiri) yang sudah kualami, apa saja yang ingin aku capai bulan depan, tahun depan, 10 tahun lagi, 30 tahun lagi, dst. Memiliki bucket list membuat aku merasa jauh lebih hidup. Setiap momen yang terjadi, maknanya betul-betul terasa. Ini seperti pengingat kalau hal itu terjadi bukan kebetulan, tapi karena kita memang ingin mencapainya dengan perjuangan sendiri.

Ada satu impian yang menurutku susah dan tidak mungkin, tapi benar terjadi. Aku pernah menulis “be in 3 cities at one day”. Lantas, tanggal 31 Agustus 2016 aku sudah mewujudkannya. Saat itu, aku sedang berada di Batam, lalu secara impulsif, aku memesan tiket kapal untuk menyebrang ke Singapura, setelah itu sorenya–secara impulsif lagi, terbang ke Kuala Lumpur. Dengan demikian, aku sudah bisa menceklis impian “be in 3 cities at one day” tersebut.

Ketika kita punya mimpi, kita memang tidak pernah tahu kapan dan bagaimana caranya terwujud. Poin pentingnya adalah apakah kita benar-benar berusaha dan berjuang untuk mewujudkannya? Karena kalau kita fokus dan serius menginginkannya, semesta akan turut mendukung walau itu adalah impian paling gila.

Semoga kamu tidak hanya berhenti pada titik membaca saja, tetapi kamu juga mau membuatnya mulai dari sekarang. Dan jangan lupa beritahu aku jika kamu membuatnya, kita bisa saja berdiskusi, sharing, dan saling memberikan saran. Ditunggu ya bucket list versi kamu :)

Terserah kau punya ideologi apa pun tentang itu, itu hakmu. Tapi ingatlah seseorang yang tengah kau ajak bicara itu, perlu kau jaga juga perasaannya.
—  nasihat mas-mas senior suatu hari lalu.
Jika nikmat dipertemukannya kita dengan Ramadhan tidak menjadi momentum membenahi keimanan dan kehidupan. Terus, Allah mau kita ‘suruh’ apa lagi?
— 

Ramadhan itu hadiah spesial untuk siapapun yang masih diberikan kesempatan untuk merasakannya.

Tau nggak? Rasulullah ﷺ bilang celakalah dan merugilah orang-orang yang telah didatangkan Ramadhan padanya, lalu Ramadhan berlalu namun tidak diampuni dosa-dosanya.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Seriusan Ramadhan ini mau didustakan?

Ayo kawan, 10 hari terakhir! :’)

Menjemput Do’a

Kalau saja mau direnungkan, begitu lucu jika manusia masih saja punya waktu sedetik memalingkan hati hanya untuk sekedar berputus asa. Padahal, Allah mendengar lebih dari yang kita katakan, Allah menjawab lebih dari yang kita minta, bahkan Allah memberi lebih dari yang kita inginkan.

Curahan hati tiada pernah ia berbatas. Sekali ia menjelma menjadi hujan, maka tidak akan pernah habis ia tumpahkan pada bumi hingga matahari yang memaksanya untuk berhenti. Maka tidak pernah ada yang terlalu besar bagi-Nya, tidak pun berkurang apa-apa dari-Nya.

Do'a-do'a itu tidak akan pernah memakan waktu lama untuk sampai pada-Nya. Demi waktu yang bergetar di atas dada, langit ketujuh tidak pernah berjarak lebih jauh dari urat leher kita.

Maka, memintalah. Pada permintaan yang selalu kita sangka mustahil, yang kita lafalkan dengna begitu rumitnya, jadikan harapan itu sebagai temali pada tiap jari-jari di tangan agar mudah menggantungkan impian pada-Nya.

Peluk-Nya dalam keyakinan kita, agar lapang hati dan tidak tercipta semula sekat di antara do'a dan pengabulan-Nya.

Sebab dibelakang kita, ada banyak kekuatan yang tak terhingga. Di hadapan kita, ada banyak kemungkinan tanpa batas, di sekitar kita ada kesempatan yang tiada akhir.

Dan lebih dari itu, ada Allah yang selalu hadir tanpa kita harus meminta.

Sebab satu ketukan lembut di pintu-Nya, begitu anggun kasih-Nya sampai ke bumi.

Bogor, 11 Maret 2017 | Seto Wibowo

Just Blabbering : Biar Apa?

Orang tuh, ada loh yang sudah mati - matian melawan dirinya sendiri supaya ga mengeluh; supaya ga teringat kenangan buruk; supaya ga muncul perasaan - perasaan negatifnya lagi.

Sayangnya, kadang - kadang ada aja orang lain yang entah dengan niat apa mengulik luka orang itu. Bukan mengulik biasa, tapi seakan tidak percaya bahwa luka itu sudah sembuh. Biar apa sih? 

Seperti makanan basi yang sudah dikubur dalam - dalam, lalu kita mengorek - ngorek lagi hingga makanan basi itu kembali berbau. Tidak bisakah dibiarkan saja orang itu mengubur dan berdamai dengan lukanya?

Kita tidak tahu loh, seberapa dalam luka itu. Kita tidak tahu seberapa banyak trauma yang ditimbulkannya. Kita tidak tahu barangkali karena luka itu dia tak lagi bisa percaya pada orang lain. Lalu orang itu sudah belajar dan melapangkan dada, akhirnya menjadi baik - baik saja. Benar - benar baik - baik saja. Lalu sekonyong - konyong kita mengingatkannya lagi, meyakinkan bahwa dia tidak baik - baik saja.

Lalu dia jadi teringat lagi pada lukanya, pada traumanya, dan kebencian yang sesungguhnya sudah menjadi kerelaan itu kembali hadir. 

Biar apa bertanya - tanya jika tak ada perlunya? Alih - alih beralasan ‘untuk kebaikannya’, coba tanya diri sendiri. Sebenarnya, untuk dia atau untuk kebaikan kita sendiri?

Ah sudahlah, lelah sudah menghadapi orang - orang yang tidak percaya bahwa saya baik - baik saja. Bebas, kumaha maneh.

Khadijah atau Aisyah?

17. Khadijah itu lembut, penyabar, penuh pengertian, & dukung penuh perjuangan. Tapi tak semua lelaki mampu beristeri jauh lebih tua.

18. ‘Aisyah: cantik, cerdas, lincah, imut. Tapi tak semua lelaki siap dengan kobar cemburunya nan sampai banting piring di depan tamu

Yang mana? Khadijah atau Aisyah?

ada yg memilih Khadijah. Jadi yg memilih Khadijah, Seperti apa, Khadijah itu?

Lembut, Penyayang, Keibuan, Pegertian, Penuh dukungan, rela mengorbankan harta jiwa untuk menyokong perjuangan suami, terpercaya mengurus rumah ketika ditinggal suami pergi. LUAR BIASA.

“Mau yg begitu? mau ya??” - tanya ustadz salim

“Baik. saya doakan antum benar2 mendapatkan yg seperti Khadijah. YANG LEBIH TUA PUN TIDAK MASALAH :D” “ya Kalau minta sesuatu itu kan yg lengkap ya?!” tambahnya. 

Atau mau seperti Aisyah?

Cantik,  Cerdas, Pinter, Lincah, Imut2, Sporty..

Oiya, sporty, kenapa?

Cerita sama Khadijah, gak ada ceritanya Rasulullah lomba lari sama Khadijah, gak ada. Adanya lomba lari sama Aisyah. Pergi ke fitnes bareng gak ada itu ceritanya sama Khadijah, adanya sama Aisyah. Pergi nonton, gak ada ceritanya sama Khadijah, adanya sama Aisyah. Nonton tari tombak di masjid. Saling bersandaran menempelkan pipi sama pipi. berdua. (Jangan itu yg dibayangkan!!!)

Mau yg seperti Aisyah?

Saya do'akan. (Kok jd gak mau? “pasti belakang ada tapinya ini..”)

Iya. Siapkah dengan sifat pecemburunya Aisyah.

Banting piring di depan tamu. Oiya, bagaimana suatu ketika Rasulullah sedang menjamu tamuya dengan piring2, kemudian tamu itu baru makan, baru mengambil makanan di atas piring itu, tiba-tiba Aisyah datang, mengambil piring itu dibating di depan tamunya, “PRAKKKK….”

Siap-siap piring plastik kalau begitu.

Kenapa? Tapi antum bayangkan Rasulullah, ada orang sedang menerima tamu, datang istrinya membanting piring di depan tamu, biasanya ingin menyelamatkanharga dirinya sendiri dengan caranya memarahi istri. iya kan?Tapi Rasulullah apa yg dikatakan? Senyuuum aja sambil mengatakan “Maaf ya, ibu kalian sedang cemburu”.

CUMA BEGITU.

biasanya gak ada rumah tangga ikhwah yg istrinya mengatakan ke suaminya ,“Kamu itu cuma ngaku-ngaku ….(titik2) )

Tapi Aisyah, sampai membuat para ahli hadits bingung, karena ada di riwayat rumah tangga Rasulullah itu Aisyah pernah berkata kepada Nabi,

“Kamu itu cuma ngaku-ngaku Nabi!”

itu kan ulama bingung. Ini maksudnya bagaimana? Orang istri sendiri kok meragukan keNabi-an suami. Mana mungkin Aisyah meragukan kenabian Muhammad saw, suaminya. Maka untungnya dijelaskan oleh pakar psikologi kalau “Bahwa itu kalimat yg diringkas”. Jadi orang itu kalau marah kalimat aslinya bukan begitu. Kalimat Aisyah bunyinya adalah “Aku tau kamu Nabi, tapi kenapa hari ini aku tidak merasakan kasih sayang, cinta, keadilanmu, dan semua perilaku kebaikanmu yang mencerminkan bahwa kau Nabi. Knapa hari ini aku tidak merasakan itu?”

Nah, itu kalimat kalau buat marah kan kepanjangan.

Loh, kita ini kan cenderung suka meringkas ya. memang di dunia wanita kecenderungannya ada yg membuat kalimat tidak langsung yg diringkas. itu kadang2 berbahaya. kalau suaminya tidak faham. Tapi tenang saja Nabi waktu itu mengatakan, “maafkan aku.”

Nah, siap dengan Aisyah yg seperti itu? Saya doakan.

Nah, artinya apa teman-teman? saya ingin mengambil ibroh,

Nabi saja yg sempurna, laki-laki paling baik, mendapatkan istri yg juga tidak sempurna. Maka yg kita cari bukan yg sempurna, tp yg TEPAT.

Dan tepat itu tdk harus sama. “saya itu beda jauh sama dia. karakternya gak mungkin cocok kayaknya.”

Siapa yg bilang? Rumus kecocokan itu macam2. Ada rumus kecocokan itu kesamaan, memang ada. Ada yg kemudian disebut sebagai keseimbangan. Panas yg sangat tinggi ketemu dgn kebekuan yg sangat  menggigilkan, jadinya kehangatan. itu namanya keseimbagan. Jadi anda jangan heran kalau ada “Ih..itu karakternya bumi dan langit lho. kok bisa ya nikah?” gitu. BISA SAJA.

atau ada juga yg beda, bukan beda berlawanan tp yg satu seperti hujan yg turun, yg satu seperti tanah yg subur. maka tumbuhlah buah2an. Itu kegenapan.

Bukalah ruang seluas-luasnya. Jadi jika anda jatuh cinta hari ini, jangan jatuh cinta pada satu orang tapi pada yg banyak sekalian.. :D

Jangan bilang “Aku tidak mungkin jatuh cinta pd org yg demikian!”

Kalau anda memang harus jatuh cinta, saya sendiri menyarankan anda untuk bangun. Tapi jika harus mengalami proses jatuh dulu, jatuhnya yg banyak sekalian..

jd ada yg tanya, “istikharah itu jawabannya pedomannya apa?”

saya juga tidak tau. “Apa mesti mimpi?”

Jadi kata Imam Syafi'i: selisihilah hawa nafsu.

Maksudnya apa?

Kalau memilih setelah istikharah, selisihilah hawa nafsu. Kalau ada biguung saking bingungnya selisihilah hawa nafsu.

disadur dari kajian pranikah ustad Salim A Fillah 

MATIKANKU DI SAAT TEPAT

“Ya Allah, matikanlah aku di saat yang tepat”

Seringkali kita berdoa untuk kehidupan kita, entah minta dipanjangkan, minta agar penuh kesuksesan, minta agar bahagia, tapi pernahkah kita berdoa tentang kematian kita?

Jika kita diberikan kebebasan untuk memilih cara kita untuk mati, maka pertanyaannya, cara mana yang kita minta pada Allah SWT? Apakah mati dengan sakit? Apakah mati dengan musibah? Apakah mati dengan kelalaian mengendarai kendaraan? Apakah mati ketika kita sedang beribadah? Sesungguhnya, ini tidaklah penting, bagaimanapun caranya, semua rasa sakit yang dialaminya sama, yakni rasa sakaratul maut.

Jika kita diberikan kebebasan untuk memilih waktu untuk mati, pertanyaan inilah yang justru lebih penting kita pikirkan, “kapan?”.

Kita, adalah manusia biasa, bukan Nabi yang keimanannya terus menaik setiap hari, pun bukan malaikat yang keimanannya terus stabil, pun bukan syetan yang keimanannya terus menurun, kita hanyalah manusia biasa yang keimanannya naik turun kapanpun kita mau.

Bisa jadi, hari ini iman kita naik, kita rajin ibadah, solat sunat, ngaji, puasa. Eh, tiba-tiba, besok iman kita turun, jadi males, jadi suka maksiat, zina, tidak menutup aurat, dsb.

Yah, keimanan manusia itu, naik turun, bisa turun terus, lalu tiba-tiba naik, atau naik terus, tiba-tiba turun. Pertanyaannya, jika kita diberikan kebebasan untuk memilih waktu, kapankah kita akan memilih? Ketika iman kita turun, atau ketika iman naik?

Saya selalu berdoa, agar saya dimatikan di saat yang tepat. Yang ketika dosa menumpuk, lantas saya mati setelah bertaubat, bukan ketika rajin ibadah, lantas saya khilaf dan lalu dicabut nyawanya.

Ya, waktu yang tepat, yang ketika iman sedang naik, yang ketika iman dijaga naik, yang walaupun turun, bukan karena disengaja, tapi karena kekhilafan kita yang segera kita perbaiki pula.

Ya, mati di waktu yang tepat, yang saya sedang berusaha menjadi baik di hadapan Allah, bukan sedang berusaha asyik di depan manusia sampai meninggalkan perintah-Nya.

Makanya, beberapa sahabat nabi, justru senang menyambut kematian ketika imannya sedang naik, hingga mereka menyebut “Marhaban ya maut”, selamat datang kematian, sambil tersenyum, karena tahu, setelah mati, orang-orang beriman tinggal menantikan syurga dan bertemu dengan para Nabi dan Rasul.

Sedang orang-orang yang imannya kurang, mereka takut sekali jika membahas kematian, mereka berpaling sambil berkata “kalem aja kali, masih lama”, sesungguhnya mereka berpaling karena mereka takut, takut tidak punya cukup tabungan untuk keluarga, mereka takut bisnisnya hancur, mereka takut meninggalkan dunia, takut urusan duniawi mereka tidak sempat diselesaikan.

Hati-hati, takut akan kematian, adalah tanda bahwa kita terlalu mencintai dunia, dan memang tidak siap menghadapi akhirat, dan kita memang tidak mempersiapkan bekal apa-apa untuk kesana.

“Ya Allah, matikanlah aku di saat yang tepat”

Tulisan ini bukan ditujukan untuk menakut-nakuti, namun hanya mengingatkan, bahwa mengharapkan kita mati dalam kondisi keimanan seperti apa, itu bisa membuat kita lebih berhati-hati dalam bersikap dan menjalani hari-hari kita.

 

MATIKANKU DI SAAT TEPAT
Bandung, 4 Maret 2017