anshel

So… Today is “Sant Jordi” (George) and in Catalonia (Spain) It’s a very special day, a day that talks about a legend of a knight that has to save a princess killing a dragon, but that legend says, that the blood of the dragon transformed into pretty flowers, a flower called rose.

Since that, every 23th of April, boys give Roses to girls as a sign of love and girls give books to boys (this is less frequent).

So, since the girl I love the most it’s a bit far away (wich actually its a lot) and I can’t posibiliy send her a rose, I made this fanart about Karkat (as the knight) Nepeta (as the princess) and Terezi’s Lusus as the dragon. since she hates Terezi and KarNep is her OTP, i hope she liked it (I think she did)

So…yes, Feliç Sant Jordi a tots!

Trans Ham Tho

Ok, so I know I am not the first one to propose this idea, but what if Trans!Hamilton?* I am v interested in this and not just because “trans ham” is so fun to say (although it really is, I strongly encourage you to say it out loud, it is delightful).

I am imagining Laurens finding out and it at first being like that super frustrating scene in Yentl when Avigdor finds out about Anshel and is all “ohhh, great, you’re a woman, so I’m not gay after all!” but then Hamilton is like “UM NO, I have some bad news for you friend, I am very much a man and you are super hella gay, d e a l w i t h i t”, and then Laurens has to figure out how to make amends, and whoops I think I have just mapped out this fic in my head? Ok. *tosses it on the pile of things to maybe write someday*

*hums “In New York you can be a new man”*

*Yes I know he had plenty of bio kids and that this is not particularly plausible irl, so there is no need for you to explain this to me while I’m enjoying headcanon times.

Bagian paling menyenangkan dari membaca tulisan Ayu Utami, kita diberi banyak kejutan perspektif lain yang seringnya terlewatkan di hidup ini. Modernitas, keindahan sejarah, tahayul, bahkan luka kelam negeri ini. Semuanya dibingkai tanpa ada menggurui atau kesan si penulis sok pintar, yang tentu saja selalu membuat saya betah terus melahap tulisannya tanpa henti.

Bangku SMA dan perkuliahan, waktu-waktu mulai saya mencerna bukunya, seperti Bilangan Fu, Manjali dan Cakrabirawa, Saman, Larung, Pengakuan Parasit Lajang, Eks Parasit Lajang.

Sementara dua karya yang gak bisa dibilang baru, Maya dan Lalita malahan baru saya baca dua tahun setelah lulus kuliah. Nyatanya, saya tetap bisa menikmati alur apik Ayu dalam menuangkan pengalaman sejarah yang seringnya bahkan baru saya tahu, ketika membaca karya dia.

Lalita yang awalnya saya kira bagian tersendiri, bukan termasuk ke dalam Seri Bilangan Fu, ternyata sangat mudah dinikmati. Tidak perlu usaha ekstra untuk membacanya, sajiannya ringan. Mungkin ini bisa dibilang jadi penyegar karya-karya Ayu. Penemuan Anshel dengan misteri Borobudur menjadi yang paling saya sukai dari Lalita.

Kalau diperhatikan lebih detail, Ayu saya kira lebih bereksplorasi di Maya. Seusai mengkhatamkan Lalita, saya agaknya kurang terpuaskan dengan teka-teki di dalamnya. Ya, terlalu tersurat. Tetapi ide untuk Lalita menurut saya brilian. Indigo dan Borobudur, satu yang di luar kebiasaan.

Di Maya, saya mendapati lebih banyak ruang kejutan. Seperti saja mendengarkan kisah teman lama. Ya, mungkin karena saya sudah mengikuti kisah sebelumnya, dwilogi Saman Larung juga Seri Bilangan Fu. Yang jelas, saya begitu menikmati kisah padepokan Suhubudi dengan makhluk deformatifnya. Mereka rasanya menyadarkan kita orang modern, yang terlalu legek menjalani hidup. Angkuh. Membesarkan dari yang tidak biasa, jadi luar biasa. Ah. Sampai bagian akhir, saya tetap suka secara keseluruhan Maya. Karena betul, “Bisakah akal budi mencerna keburukan?” ini yang jadi pertanyaan besar dalam modernitas hidup.